Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 94


__ADS_3

Sinar matahari sudah sedari tadi memaksa masuk melalui celah jendela kamar Shelina.


Shelina mulai membuka matanya secara perlahan seiring mengumpulkan kesadarannya. Setelah matanya terbuka sempurna, ia mencoba meregangkan ototnya yang terasa kaku saat ia tidur. Hari ini ia merasa jauh lebih segar daripada hari kemarin. Keadaan nya semakin membaik, usai sakit kemarin. Setelah ia bermalasan di ranjang nya setelah bangun tidur tadi, sekarang ia memutuskan untuk mandi, agar tubuhnya terasa lebih segar.


"Pagi Ma, Pa"


Sapa Shelina pada kedua orangtuanya yang sudah menunggunya di meja makan untuk sarapan bersama. Setelah


Shelina mandi, ia memang memutuskan untuk turun ke bawah untuk sarapan bersama kedua orangtuanya. Karena ia pikir, kedua orangtuanya juga pasti telah menunggu nya. Benar saja, kedua orangtua Shelina telah duduk di meja makan.


"Pagi juga, Sayang."


Balas kedua orang tua Shelina secara bersamaan.


"Gimana keadaan nya? Udah makin baik?"


Tanya Shefia, mama Shelina sembari memberikan nasi goreng buatannya ke dalam piring putrinya itu.


"Udah kok, Ma,” jawab Shelina yang baru saja sembuh dari sakitnya. Mama nya menganggukkan kepala nya sambil mengucap rasa syukur.


"Oh iya, mama sama papa nggak balik lagi ke singapore?" Tanya Shelina pada kedua orangtua nya di sela ia menyantap sarapan nya.


"Nggak, urusan Papa di sana udah selesai,”


Jawab papa Shelina. Ucapan itu sontak membuat raut wajah Shelina menjadi sumringah. Ia menatap kedua orangtuanya tak percaya. Ia tidak tinggal ditinggal lagi oleh orangtuanya.


"Papa sama mama serius?" tanya Shelina meyakinkan.


"Serius dong. Masa papa sama papa bohong."


Balas papa Shelina. Dan lagi ucapan papanya itu membuat Shelina sangat bahagia.


"Yeaayy akhirnya bisa tinggal bareng papa sama mama lagi. Shelina kangen banget sama mama dan papa." Balas Shelina sumringah.


"Kita juga kangen sama kamu, Sayang. Makanya kita nggak mau lagi balik ke singapore. "


Ucap mama Shelina. Senyum bahagia tidak pernah lepas dari wajah Shelina setelah ia mendengar keputusan kedua orangtuanya tadi. Akhirnya sekarang ia tak tinggal sendiri lagi bersama asisten di rumah mereka, karena akan ada mama dan papa nya yang menemani hari-harinya.


Setelah selesai sarapan, Shelina memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Entah mengapa ia sangat malas melakukan aktivitas apapun hari ini.


Tiba-tiba ponsel Shelina berdering. Mata Shelina sangat berbinar, setelah ia melihat siapa yang telah menelepon nya.


"Assalamualaikum, Shel,”


Sapa Shelina pada seseorang yang telah menelpon nya. Ya, orang itu adalah Argantara.


"Waalaikumsalam. Pagi, Shelina cantik,”


"Pagi juga,”


"Gimana keadaan kamu? Udah lebih baik belum?"


"Alhamdulilah udah baikan kok. Oh Iya kenapa pagi udah telpon aku?"


"Ya nggak apa-apa. Cuma kangen aja sama kamu."


Balas Argantara yang berhasil membuat Shelina tersipu malu.


"Oh"


"Gitu doang respons nya? Nggak peka banget."


Ucap Argantara dengan nada kecewa nya. Shelina mengernyitkan dahinya heran. Ada yang salah dengan jawaban nya tadi?


"Terus mau nya apa dong?" Tanya Shelina.


"Kamu nggak kangen aku juga apa? Padahal aku berharap banget kalau kamu kangen sama aku."


Jawab Argantara dengan nada kecewanya lagi. Jawaban Argantara sontak membuat Shelina terkekeh.


"Aku kangen kamu juga kok,”


"Beneran kangen?"


"Iya bener,”


Jawab Shelina meyakinkan Argantara.


"Ya udah kalau gitu nanti malam aku jemput kamu ya. Aku mau ngajak kamu dinner sama aku,” Ucapan Argantara membuat Shelina mengerutkan dahinya bingung.


"Kamu mau ngajak aku dinner?" Tanya Argantara yang sedikit tidak yakin.


"Iya, Shelina cantik. Kamu mau kan? lagian waktu sebelum kamu sadar aku kan juga udah janji sama kamu, kalau kamu udah sembuh aku bakal ajak kamu makan malam berdua,” Balas Argantara. Memang benar adanya, sebelum Arani siuman dari koma nya, Argantara pernah berjanji pada diri nya sendiri dan Shelina , kalau ia akan mengajak Shelina dinner. Dan ia juga berjanji akan membuat dinner kali ini lebih romantis daripada dinner mereka waktu itu. Tapi Apakah benar Argantara akan menjadikan dinner nya kali bersama Argantara lebih romantis?


"Ya udah, nanti malam aku jemput kamu ya. Jangan lupa dandan yang cantik." ujar Argantara lagi.


"Emang selama ini aku nggak cantik?"


Tanya Shelina dengan mengerucutkan bibirnya. Argantara terkekeh mendengar nada kecewa dari kekasihnya itu.


"Kamu selalu cantik, Sayang. Tapi malam ini harus lebih cantik ya,”


"Oh okay,”


"Ya udah jangan lupa ya Assalamualaikum,”


"Waalaikumsalam."


Sambungan telepon pun terputus. Wajah Shelina tampak sangat bahagia. Ia amat penasaran Argantara akan membawa nya dinner kemana. Apakah akan romantis seperti dinner mereka waktu itu? Atau lebih romantis? Entahlah.


******


"Assalamualaikum. Malam, Om,"


Sapa Argantara pada papa Shelina yang sedang duduk di ruang tamu. Malam ini Argantara datang dengan gagahnya. Ia siap membawa Shelina makan berdua.


"Waalaikumsalam. Malam juga, Ga. Ayo silakan duduk." Balas papa Argantara yang langsung menoleh ke asal suara.


"Iya Om makasih,”


Kini Argantara sudah duduk di sofa ruang tamu.


"Maaf om sebelumnya. Saya mau minta izin sama om untuk mengajak Shelina dinner malam ini,”


Kini Argantara meminta izin pada ayah dari kekasihnya itu dengan nada yang serius.


"Om izinkan kamu. Tapi kamu harus janji bisa menjaga anak om dengan baik,”


Balas papa Shelina sembari menatap Argantara.


"Saya akan menjaga Shelina lebih dari saya menjaga diri saya sendiri “ Ucap Argantara dengan mantap.


"Makasih ya, Om atas izinnya,” lanjut Argantara lagi.


"Sama-sama, Ga,”


Balas papa Argantara sembari tersenyum pada Argantara.


"Ya ampun anak mama cantik banget,”


Ucap mama Shelina pada Shelina saat ia sedang menuruni anak tangga.


"Duh Mamaku nih bisa aja,”


Balas Shelina dengan tersipu malu.


Shelina sangat terlihat cantik dengan gaun berwarna biru pastelnya yang dilengkapi berlian di bagian pinggangnya dengan panjang gaun hanya sebatas lutut. Rambutnya dibiarkan terurai dengan model keriting di bagian bawah dan terdapat jepitan permata pula di dekat telinga nya. Jepitan permata itu membuat nya terlihat anggun. Ditambah lagi dengan make up yang sangat natural membuatnya makin terlihat menawan. Seketika Argantara dan papa Shelina langsung beralih fokus.

__ADS_1


Shelina tampak menghampiri papa nya dan Argantara yang sedang duduk di ruang tamu.


"Ayo kita berangkat." Ajak Shelina saat Argantara bangkit dari duduknya.


"Kamu cantik banget, beneran nggak bohong tau,” gumam Argantara pelan. Namun sangat terdengar jelas oleh Shelina. Seketika wajah Shelina merona saat mendengar pujian dari kekasihnya itu. Shelina hanya melirik papanya yang sedang berada di hadapan mereka saat ini. Papanya hanya melemparkan senyum nya saat menyadari kalau anaknya sangat grogi dipuji kekasihnya di depannya.


"Om, Tante kita pergi dulu ya. Assalamualaikum,”


Pamit Argantara pada kedua orangtua Shelina sembari mencium punggung tangan kedua orangtua Shelina.


"Waalaikumsalam,”


"Ma, Pa, Shelina pergi dulu ya sama Arga,” Pamit Arani pula pada kedua orangtua nya.


"Iya, Sayang. Kalian hati-hati ya,”


Balas kedua orangtuanya.


Setelah berpamitan pada kedua orangtua Shelina, kini Shelina dan Argantara memasuki mobil Argantara yang sudah terparkir di depan pagar rumah Shelina.


"Silakan masuk, Tuan putri,”


Ucap Argantara sembari diiringi senyum manis nya saat ia membuka pintu mobilnya untuk Shelina dan mempersilakan Shelina masuk ke dalam mobil nya.


"Makasih, Ga,”


Balas Shelina sembari membalas senyum Argantara. Setelah itu ia memasuki mobil Argantara disusul Argantara.


---------


Selama di perjalanan menuju tempat dinner, hanya suasana hening yang menyelimuti mereka. Shelina sibuk memperhatikan pemandangan malam hari dari luar jendela mobil Argantara, Sedangkan Argantara fokus menyetir mobilnya sambil sesekali melirik Shelina.


"Ga,” panggil Shelina yang berusaha memecahkan suasana hening di antara mereka.


"Iya?"


Jawab Argantara dengan nada lembut. Sembari menoleh pada Shelina sejenak.


"Sebenarnya kamu mau bawa aku dinner Kemana sih?"


Tanya Shelina pada Argantara. Sedari tadi, Argantara tidak memberi tahu Shelina kemana mereka akan pergi.


"Nanti juga kamu bakal tau,”


Jawab Argantara sembari mengelus pucuk kepala Shelina.


"Ih ngeselin main rahasia-rahasiaan"


Balas Shelina sembari mengerucutkan bibirnya yang membuat Argantara terkekeh.


************


Kini mobil Argantara terparkir di depan sebuah taman tulip yang sangat indah. Taman itu di penuhi bunga tulip berbagai macam warna yang terhampar luas. Rerumputan segar berwarna hijau menambah kesan rindang di taman ini. Semua ini sungguh indah.


"Aaaaa keren banget."


Pekik Shelina girang saat sudah keluar dari mobil Argantara. Shelina sangat antusias melihat pemandangan di taman ini. Argantara yang melihat antusias dari kekasihnya itu hanya tersenyum gemas.


"Ternyata bunga tulip lebih indah dari bunga mawar ya?"


Tanya Shelina sembari menoleh pada Argantara. Argantara menganggukkan kepalanya, pertanda ia setuju dengan penuturan Shelina. Shelina kembali fokus dengan taman tulip ini.


"Kita mau dinner di sini?"


Tanya Shelina lagi pada Argantara. Argantara hanya menjawab pertanyaan Shelina dengan senyum manis nya. Dan hal itu Membuat Shelina mendengus kesal.


"Ih aku lagi nanya ini. Kok malah senyum-senyum sih?"


Shelina mencibir atas sikap Argantara yang tak menjawab pertanyaan nya.


"Sekarang aku mau tutup mata kamu sebentar ya,”


"Ngapain mata aku ditutup? Aku nggak mau ah. Apaan sih kamu aneh-aneh aja deh."


Balas Shelina yang tak setuju dengan permintaan Argantara.


"Sebentar aja kok, Shel. Plis mau ya?"


Bujuk Argantara dengan wajah memelas nya. Shelina menarik nafas nya pasrah.


"Iya deh iya,”


Balas Shelina pasrah. Shelina hanya tak tega melihat wajah kekasihnya yang memelas itu. Argantara langsung berdiri di belakang Shelina, lalu menutup mata Shelina dengan kain hitam pekat.


Setelah itu ia mengarahkan Shelina untuk berjalan.


"Aku takut,”


Ucap Shelina sembari berjalan atas arahan Argantara.


"Ada aku, Shel. Jadi kamu nggak usah takut,”


Balas Argantara berusaha membuat tenang kekasihnya itu. Shelina menghentikan langkahnya atas arahan Argantara di dekat hamparan bunga tulip yang sangat indah itu. Setelah itu, Argantara membuka kain penutup mata Shelina, lalu ia bergegas pergi. Dan kini hanya Shelina sendiri di taman yang sepertinya private itu.


Shelina membuka matanya karena sudah tak ditutup kain itu lagi. Tapi saat ia membuka matanya ia sangat terkejut. Kenapa Argantara tidak ada di dekatnya? dimana Argantara?


"Argantara,"


Panggil Shelina yang sudah mulai panik.


"Argantara,"


Panggil Shelina lagi yang tak kunjung menemukan Argantara.


Rasa takut menyelimuti Shelina. Bagaimana tidak? Di taman private ini hanya ia sendiri. Tak ada satu orang pun.


Ketika ia berjalan untuk mencari Argantara, ia dikejutkan dengan banyaknya kelopak bunga mawar merah yang bertebaran di rumput taman ini. Sepertinya kelopak bunga mawar merah ini mengarahkan Shelina untuk berjalan ke suatu tempat. Akhirnya Shelina memutuskan berjalan mengikuti arahan kelopak bunga mawar merah itu.


Tapi tunggu dulu. Mengapa di setiap satu meter rumput yang sudah dipenuhi bunga ini terdapat satu tangkai bunga mawar merah dilengkapi juga dengan satu lembar kertas di tangkainya? Shelina berjalan sembari mengambil bunga mawar itu satu persatu.


Di bunga pertama terdapat tulisan di tangkainya.


"Aku suka mata kamu,”


Bunga kedua terdapat tulisan juga di tangkainya.


"Aku suka wajah kamu,”


Shelina kembali melanjutkan langkahnya untuk mengambil bunga dan kertas itu selanjutnya.


Bunga ketiga


"Aku suka hidung kamu,”


Bunga keempat


"Aku suka bibir kamu,”


Bunga kelima


"Aku suka senyum nya kamu,”


Air mata Shelina sudah mengalir sejak membaca tulisan-tulisan di bunga mawar itu. Dan ia mulai melanjutkan langkahnya menuju bunga keenam


Bunga keenam


"Aku suka cantik nya kamu,”

__ADS_1


Bunga ketujuh


"Aku suka baik nya kamu,”


Bunga kedelapan


"Aku suka sabarnya kamu,”


Bunga kesembilan


"Aku suka cinta nya kamu,”


Shelina menghentikan langkahnya sejenak untuk menghapus air mata yang sedari tadi membasahi pipinya saat membaca tulisan-tulisan di tangkai bunga mawar itu. Kini di tangan Shelina telah terdapat sembilan bunga mawar merah dan tulisannya. Di depan sana sudah terdapat bunga ke sepuluh yang sepertinya bunga terakhir. Shelina kembali melanjutkan langkahnya untuk mengambil bunga terakhir.


Bunga ke sepuluh


"Aku suka hidup dengan mu, aku suka mencintai kamu, dan aku suka dengan semua yang ada pada diri kamu,”


"Arga,"


Ucap Shelina lirih. Air matanya tak kunjung berhenti untuk mengalir sejak tadi. Ia sangat tak menyangka atas kejutan yang diberikan Argantara untuknya.


Ya Tuhan. Kini Shelina sangat ingin memeluk Argantara untuk menumpahkan semua haru kebahagiaan yang sudah diberikan Argantara malam ini. Ini semua di luar dugaan Shelina. Semua ini sangat romantis.


Shelina melanjutkan langkahnya untuk mencari Argantara. Tetapi langkahnya berhenti saat melihat laki-laki tampan yang sangat ia kenal sedang berdiri tak jauh dari letak bunga terakhir tadi. Laki-laki tampan itu tampak melemparkan kan senyum manis nya pada Shelina.


"Sini, Shel,”


Panggil laki-laki yang sedang tersenyum pada Shelina. Tanpa berpikir panjang, Shelina langsung berhamburan kedalam pelukan laki-laki itu.


"Makasih ya, makasih banyak,”


Ucap Shelina di dalam pelukan laki-laki tampan itu. Ya, laki-laki itu adalah kekasihnya, Argantara. Shelina memeluk kekasihnya itu dengan sangat erat. Dengan senang hati, Argantara membalas pelukan tak kalah erat dari kekasihnya itu.


"Hei kamu jangan nangis. Aku cuma mau buat kamu bahagia, Shel,”


Ucap Argantara. Kini ia sudah melepaskan pelukan Shelina perlahan agar bisa menatap kekasihnya itu. sembari menangkup wajah Shelina dan menghapus air mata Shelina dengan tangan nya secara lembut.


"Jangan nangis lagi ya,”


Lanjut Argantara lagi sembari masih menghapus air mata yang dari tadi tak kunjung berhenti mengalir dari pelupuk mata kekasihnya itu.


"Ini romantis banget, Ga. Aku bahagia banget. Makasih ya kamu udah buat aku bahagia malam ini."


Ucap Shelina tulus sembari menatap mata Argantara sangat dalam.


"Selagi jantungku masih berdetak, nadiku masih berdenyut, dan darahku masih berdesir, Aku akan selalu membuat kamu bahagia. Karena kamu adalah utusan yang di titipkan Tuhan ke aku untuk aku bahagia kan"


Balas Argantara dengan tulus. Dan kembali membawa Shelina kedalam pelukannya.


"Aku akan membuat kamu lebih bahagia dari ini, Shel. Ini belum seberapa,”


Batin Argantara yang masih mendekap kekasihnya itu di dalam pelukannya.


"Ikut aku yuk,”


Ajak Argantara sembari melepaskan pelukannya pada Argantara dengan lembut.


Shelina mengernyitkan dahinya bingung. Argantara akan mengajak nya Kemana lagi?


"Kemana?"


Tanya Shelina yang masih bingung dengan ajakan Argantara.


"Udah ikut aja,"


Balas Argantara sembari menggandeng tangan Shelina. Tak butuh waktu lama, kini Argantara dan Shelina sudah sampai di sebuah tempat yang sangat menenangkan. Deru ombak seperti sedang membuat nada-nada yang indah. Pantai? Ya kini Argantara dan Shelina sudah berada di pantai yang tak jauh dari taman bunga tulip tadi.


"Pantai?"


Tanya Shelina tak percaya. Jadi taman tulip itu sangat dekat dengan pantai? Hanya beberapa meter saja mereka berjalan, ternyata ada pantai di sekitar taman tulip itu.


"Iya, Shel. Sekarang kita ada di pantai. Dan aku pengen kamu liat itu,”


Ucap Argantara sembari menunjuk suatu arah . Shelina mengikuti arah pandangan Argantara yang sepertinya menunjuk sesuatu.


Seketika mata Shelina membulat sempurna, mulut nya sedikit terbuka dengan keajaiban Tuhan yang sangat indah ini. Sunset? Ya, kini Shelina dan Argantara sedang berada di hadapan matahari yang sedang kembali ke peraduannya. Sunset itu sangat dekat dengan mata Shelina dan Argantara.


"Aaaa sumpah keren banget,”


Pekik Shelina sembari melirik Argantara yang sedang tersenyum padanya. Shelina sangat gembira saat melihat matahari yang mulai terbenam. Pantai yang memiliki air berwarna biru, sangat kontras dengan sinar pantulan matahari yang sedang terbenam itu.


"Aku jarang-jarang loh liat sunset,”


Ucap Shelina lagi yang masih fokus dengan pemandangan yang sangat indah di hadapan nya kini. Argantara yang melihat kebahagiaan Shelina hanya tersenyum gemas melihat sikap kekasihnya yang sangat kegirangan itu.


Tiba-tiba saat matahari sudah mulai memasuki peraduannya, mata Shelina kembali membulat sempurna dan ia juga menutup mulut nya tak percaya. Bagaimana tidak? Kini di hadapan nya sudah ada ratusan lampion yang terbang ke angkasa dan membawa spanduk besar bertuliskan "you're the reason, why i still life until right now,”


Bagaimana bisa lampion itu membawa spanduk yang bertuliskan kata-kata indah itu? Kini, langit yang sudah mulai gelap kembali di buat terang oleh ratusan lampion yang terbang ke angkasa itu. Ini sangat luar biasa indah. Ya Tuhan, ini seperti mimpi. Mata Shelina tampak berkaca-kaca saat melihat ini semua. Shelina sangat yakin kalau ini adalah bagian dari surprise Argantara juga. Ia langsung menoleh pada Argantara, namun kini Argantara tak ada di sampingnya.


Tiba-tiba, Shelina merasa ada yang melingkarkan pinggangnya dengan sepasang tangan yang kokoh. Sesaat kemudian Shelina tersenyum setelah ia mengetahui kalau tangan itu adalah milik Argantara. Ya, saat lampion itu terbang ke angkasa, Argantara memutuskan untuk pindah posisi berdiri di belakang Shelina, dan memeluk Shelina dari belakang dengan sangat erat. Shelina mengelus tangan Argantara yang memeluknya itu dengan sangat lembut.


"Malam boleh bangga memiliki jutaan bintang yang menemaninya, pagi boleh bangga memiliki matahari yang selalu hadir untuk menemani pagi, bahkan bunga juga boleh bangga memiliki mahkota yang senantiasa membuatnya terlihat lebih indah. Tapi kebanggaan mereka tak sebanding dengan kebanggaan aku memiliki kamu. Karena kamu tak akan seperti bintang yang meninggalkan malam saat pagi datang, dan kamu juga tidak seperti matahari yang meninggalkan pagi saat malam tiba, bahkan kamu juga tidak seperti mahkota bunga yang akan gugur saat musim kemarau tiba. Kamu adalah kamu, yang selalu bersatu dengan detak jantungku,”


Ucap Argantara dengan sangat lembut tepat di telinga Shelina. Ucapan itu sangat terdengar tulus. Kalimat itu spontan keluar dari mulut Argantara tanpa ia rencanakan. Bahkan Shelina terlihat memejamkan matanya untuk menghayati setiap ucapan yang keluar dari mulut Argantara yang sangat terdengar tulus itu. Shelina membalikan tubuhnya untuk menghadap Argantara. Ia menatap manik-manik mata Argantara. Mata yang selalu membuat nya merasa nyaman. Di genggamnya tangan Argantara dengan sangat lembut.


"Kamu mampu menyempurnakan hariku layaknya matahari yang menyempurnakan pagi, Kamu mampu melengkapi hidupku layaknya bintang yang melengkapi malam, Bahkan kamu juga mampu membuatku merasa berharga layaknya bunga akan mahkotanya. Kamu adalah kamu, yang selalu bersatu dengan nadiku."


Balas Shelina tak kalah tulus. Jawaban Shelina juga secara spontan keluar dari mulutnya tanpa ia rencanakan. Kini giliran Argantara yang memejamkan matanya saat mendengar ucapan yang sangat tulus itu dari kekasihnya. Argantara langsung membawa Shelina ke dalam pelukannya. Sungguh ia sangat mencintai gadisnya itu.


"I love you. Trust me, i Will keep my heart for you,”


Bisik Argantara pada Shelina yang masih di dalam pelukannya itu.


"I love you more,”


Balas Shelina dengan berbisik juga. Shelina makin mengeratkan pelukan nya dengan Argantara.


Semuanya mengalir di temani matahari yang perlahan kembali ke peraduannya. Shelina memeluk Shelina dengan sangat erat. Begitu pula dengan Shelina yang sangat nyaman berada dalam dekapan laki-laki yang sangat ia cintai itu.


Setelah beberapa lama mereka berpelukan dan menyalurkan rasa cinta mereka masing-masing, Argantara melepaskan pelukannya secara lembut dan menatap Shelina sembari tersenyum.


"Sekarang kita makan ya. Kamu udah laper kan?"


Tanya Argantara saat melepaskan pelukannya. Dan di balas oleh anggukan cepat oleh Shelina. Saat ini Shelina memang sangat lapar. Argantara hanya terkekeh melihat sikap kekasihnya itu yang masih seperti anak-anak kalau sedang lapar.


"Ya udah yuk,”


Ajak Argantara sembari menggandeng tangan Shelina.


Shelina mengernyitkan dahinya saat sudah memasuki restoran ini. Kenapa pemandangan laut dapat terlihat jelas di sini? Bahkan semua biota laut dapat dilihat dari dinding restoran ini yang terbuat dari kaca. Seperti restaurant yang berada di dalam laut.


"Ga,"


Panggil Shelina pada Argantara sembari masih terfokus dengan pemandangan indah di restaurant ini.


"Iya?"


Jawab Argantara lembut.


"Restoran ini ada di bawah laut ya? Kok pemandangan laut bisa kelihatan dari sini?"


Tanya Shelina yang masih bingung dengan semua ini. Sungguh ia sangat menyukai pemandangan bawah laut seperti ini. Terdapat Banyak jenis ikan dan biota laut lain yang berenang dengan gesitnya, belum lagi terumbu karang yang tumbuh dengan sangat indah.


"Iya, Shel,”


Jawab Argantara atas kebingungan Shelina. Saat mendengar jawaban Argantara, Shelina langsung beralih fokus dari yang tadinya sedang asyik menikmati pemandangan bawah laut ini, sesaat kemudian menatap Argantara dengan sumringah.

__ADS_1


"Ya ampun, ini keren banget,”


Ucap Shelina lagi dan kembali melihat pemandangan bawah laut ini dengan sangat antusias.


__ADS_2