
“Dia tuh bikin aku risih dari pertama kali chat minta nomornya di save. Langsung aja aku blokir,”
“Tapi dia cuma minta save aja, Arga. Aku sama dia juga nggak chat apa-apa. Aku barusan liat daftar kontak yang diblokir dan aku liat ada nama dia,”
“Ya emang aku blokir. Biarin aja, aku senang dia diblokir jadi nggak bisa hubungin kamu lagi,” kata Argantara seraya tersenyum santai.
Shelina berdecak pelan. Ia masih bingung kenapa suaminya sampai memblokir. Argantara pernah jujur kalau dirinya cemburu, tapi haruskah sampai memblokir nomor telepon Defan? Shelina pikir selagi komunikasi tidak berlebihan, Ia tahu batasan, tak masalah Ia menyimpan nomor telepon Defan mengingat Defan juga temannya.
“Aku buka aja blokir nya, Ga,”
“Dih, ngapain sih? Nggak usah lah. Nggak perlu kamu buka-buka. Kamu senang banget kayaknya kalau lancar komunikasi sama dia, Shel,”
“Astaga, nggak begitu. Tapi ‘kan dia teman aku, dan chat dia juga nggak yang aneh-aneh, kamu bisa liat sendiri ‘kan? Jadi kenapa harus diblokir coba? Nggak usah, Ga. Aku juga tau kalau aku ini istri kamu. Sebaiknya kalau cemburu itu jangan berlebihan,”
Perkataan Hsleina membuat Argantara kesal bukan main. Ia tidak senang mendengar ucapan Shelina yang seolah menentang keputusannya untuk memblokir kontak Defan supaya tak ada komunikasi lagi antara Shelina dengan temannya itu.
“Kamu sadar nggak sih kalau dia itu cari perhatian kamu? Aku sebagai cowok bisa liat sendiri lho. Dia tuh cari perhatian sama kamu, ngapain kamu ladenin?”
“Aku nggak ladenin apa-apa kok. Aku cuma balas waktu dia minta nomornya disimpan. Udah sebatas itu aja, Ga,”
“Udahlah pokoknya nggak usah diladenin, biarin aja nomornya di blokir,” pungkas Argantara yang tak mau keputusannya diganggu gugat. Menurut Argantara, supaya hatinya tenang, sudah sepatutnya apapun tentang Defan disingkirkan sejauh mungkin.
Shelina meletakkan ponselnya. Keputusan akhir tak bisa diganggu gugat. Argantara benar-benar tidak mau membuka akses komunikasi antara dirinya dan Argantara. Ia menuruti perkataan Argantara supaya tetap memblokir nomor telepon Defan.
Melihat Shelina meletakkan ponselnya di atas nakas dan hendak masuk ke dalam kamar mandi, Argantara langsung memanggil istrinya.
“Shel,”
“Kenapa?”
“Tetap kamu blokir ‘kan?”
“Kamu yang blokir, bukan aku,”
“Ya aku tau, tapi tetap diblokir ‘kan?”
“Iya, kamu hilangnya begitu tadi ‘kan? Ya udah aku ikutin,” kata Shelina yang langsung membuat Argantara tersenyum lebar.
Dengan cepat Argantara berjalan ke arah istrinya kemudian Ia merengkuh Shelina dengan erat sambil mencium kening Shelina beberapa kali.
“Baik banget sih kamu. Mau nurut apa kata suaminya. Aku senang deh, makasih ya, Ratu Shelina sayang,”
Shelina tersenyum tapi sedikit masam berdasarkan penglihatan Argantara makanya Argantara menghembuskan napas kasar.
“Nggak ikhlas nih nurut sama aku nya?”
“Kata siapa?”
“Lah itu senyumnya agak-agak nggak ikhlas deh keliatannya,”
“Nggak ah, aku senyum ya emang begini bentuknya,”
“Pasti dalam hati lagi ngedumel ya? Iya ‘kan? Jujur aja deh sama aku,” kata Argantara sambil menarik ujung hidung istrinya.
“Emang bisa diliat darimana senyum ikhlas dan nggak ikhlas?”
“Aku tau lah. Aku bisa nilai, Sayang,”
“Kalau kayak gini ikhlas nggak?” Tanya Shelina sambil menunjukkan senyum yang lebar. Argantara yang melihat itu langsung tertawa.
“Kamu ada-ada aja. Ya nggak gitu juga dong senyumnya. Lebar amat, jangan lebar-lebar kalau senyum, nanti banyak yang naksir,”
“Mana ada, senyum lebar udah kayak hantu aja. Nggak ada lah yang naksir. Jadi gimana? Udah keliatan ikhlas belum senyum aku, Ga?”
“Udah, Sayang. Udah keliatan ikhlas kok, kata aku udah keliatan ikhlas sih,”
“Berarti harus senyum lebar dulu baru dibilang ikhlas?”
“Ya nggak gitu, senyum ikhlas itu keliatan dari matanya. Tanpa harus senyum lebar kalau matanya keliatan senyum, ya itu udah ikhlas,”
“Mata aku udah senyum belum?”
“Udah kok, Cantik,”
“Ya udah, aku mau ke kamar mandi. Selesai ‘kan obrolan tentang Defan dan senyuman?”
“Udah-udah, silahkan kamu ke kamar mandi,”
“Ya udah lepas dulu dong pelukan kamu. Gimana aku mau ke kamar mandi kalau kamu nya masih meluk aku kayak begini?” Tanya Shelina sambil menunjuk tangan suaminya yang masih melingkari pinggangnya. Argantara mengizinkan Ia untuk bergegas ke kamar mandi tapi tangan Argantara masih memeluknya.
“Eh iya, maaf aku lupa belum lepas ya ternyata pelukan aku,”
“Iya, gimana caranya aku bisa ke kamar mandi ‘kan?”
“Mau aku temenin nggak?”
“Nggak usah, makasih, Ga. Kaki aku Alhamdulillah masih berfungsi, tangan aku juga begitu, aku masih bisa ke kamar mandi sendiri. Makasih ya tawarannya,”
Argantara tertawa mendengar ucapan istrinya yang menolak dengan halus disertai alasan yang masuk akal. Memang Argantara yang aneh. Tak ada hujan dan badai, tiba-tiba menawarkan diri untuk menjadi pengantarnya Shelina ke kamar mandi.
“Serius nih nggak mau aku temenin, Shel?” Tanya Argantata seraya tersenyum usil menatap istrinya yang saat ini hendak menutup pintu kamar mandi.
“Ih kamu ada-ada aja. Ngapain coba nawarin mau antar aku mulu? Orang ke kamar mandi doang kok,”
Setelah bicara seperti itu Shelina langsung mengunci pintu kamar mandi, dan Argantara tertawa lagi. Bercanda dengan Shelina benar-benar menyenangkan sekali untuknya. Maka dari itu Ia senang melakukannya. Apalagi ketika reaksi Shelina kesal. Shelina akan terlihat semakin menggemaskan kalau Ia kesal.
“Sayang, jangan lama-lama ya. Nanti aku kangen,”
“Nggak tau ah,”
“Dih kok gitu jawabnya?”
“Ya lagian aneh banget. Baru juga pisah sedetik udah kangen,”
“Kita ‘kan pengantin baru jadi masih anget-angetnya,”
“Bercanda mulu kamu,”
“Lah, emang kenyataan kok. Kita ‘kan pengantin baru, jadi masih anget-angetnya, jauh bentar aja tuh nggak bisa,”
Shelina tak lagi mengeluarkan suara, hanya mencibir di dalam hati “Giliran kesal sama Defan aja serem banget keliatannya, sekarang bercanda mulu,”
“Shelina, aku liat handphone kamu ya,”
“Liat aja, aku nggak pernah larang,”
Shelina menyahuti sambil Ia membuka pintu kamar mandi setelah buang air kecil. Argantara meriah ponselnya kemudian sengaja membaringkan badan di atas ranjang.
“Aku mau mantau dulu,”
“Mantau apa?”
“Mantau handphone kamu dong, Sayang,”
“Emang ada apa sama handphone aku?”
“Ya barangkali ada cowok genit yang nyasar lagi. Kalau ada yang chat kamu lagi, aku yang balas,”
******
-Shelina, ini aku Defan. Nomor aku yang kemarin diblokir kah? Kok aku nggak bisa chat kamu lagi ya. Sorry, aku chat kamu pakai nomor baru ini-
Shelina langsung menatap suaminya yang baru saja membacakan pesan dari ponsel miliknya yang saat ini sedang dalam genggaman Argantara.
Karena ponsel miliknya sendiri sedang kehabisan daya, jadi Argantara menggunakan ponsel istrinya untuk sibuk game. Shelina tak mempermasalahkan hal itu. Ia biarkan suaminya meminjam ponselnya untuk game, lagipula Ia juga sedang tak menggunakan itu. Ia sibuk dengan novel.
“Defan chat kamu lagi tuh,”
“Itu dari siapa?” Tanya Shelina dengan polos.
Ia hanya mendengar kalimatnya saja tapi tidak tahu itu pesan dari siapa.
Argantara langsung berdecak pelan. Ia merasa sudah cukup jelas menyebut nama si pengirim pesan tapi sekarang istrinya masih bertanya itu pesan dari siapa. Di matanya itu menyebalkan sekali.
“Dari Defan. Tadi aku udah sebutin nama dia. Emang kamu nggak dengar apa?” Tanya Argantara dengan ketusnya.
Hati Argantara kesal, padahal sebelumnya Ia tak merasa kesal sedikitpun. Hanya karena membaca pesan dari Defan, sekarang perasaannya jadi tak menentu.
“Oh dari Defan? Ya udah biarin aja, nggak usah dijawab. Kalau mau dijawab juga aku harus jawab apa? Kenyataannya ‘kan emang nomor dia diblokir,”
“Jawab aja ‘IYA’ pake huruf besar semua biar dia tau kalau kamu tuh emang blokir dia, dan ada alasannya,” ujar Argantara pada istrinya seraya menekan satu kata yaitu ‘iya’. Argantara ingin istrinya menjawab seperti itu, supaya kesan tegasnya Shelina sampai pada Defan. Barangkali dengan begitu, Defan bisa mundur teratur tanpa harus dihampiri dulu oleh Argantara dan bicara emoat mata guna menanyakan secara langsung maksud Defan gencar menghubungi istrinya itu apa? Mau cari perhatian kah?
“Nggak usah lah, diemin aja,”
“Ya kalau kamu diemin, dia makin ngarep nanti, Shel,”
“Nggak, Argantara. Udah diemin aja. Suka-suka dia deh mau gimana,”
“Nggak setuju kalau aku. Lebih baik dibalas. Aku aja yang balas kalau kamu nggak mau. Lagipula handphone kamu lagi sama aku ini,” kata Argantara dengan nada puas.
Ketika Shelina hendak meriah ponselnya, Argantara langsung menatap istrinya dengan sinis sambil menjauhkan ponsel dari jangkauan Shelina.
“Arga, jangan begitu. Nggak enak kalau jawab kayak gitu ‘kan. Biar gimana pun, dia itu masih teman aku. Kamu boleh cemburu tapi jangan kayak gitulah ke teman aku,”
“Masalahnya aku nih udah bisa ngebaca arahnya bakal kemana. Dia tuh kalau nggak ditegasin, bakal ngelunjak, Shel. Aku yakin banget. Modelannya Defan ini nggak bakal berhenti sebelum dikasih pelajaran,”
“Udah-udah nggak usah kesal sama orang. Aku nggak mau ya kamu kesal sama orang apalagi sampai ada konflik. Sama siapapun itu orangnya nggak boleh. Termasuk sama teman lama aku. Biarin aja dia mau chat aku kayak gimana,”
“Tapi dia hubungin kamu pakai nomor lain. Itu berarti nekat sama lancang banget, Shelina. Aku sih kalau jadi dia ya. Kalau udah diblokir sama perempuan yang udah bersuami, aku bakal sadar diri. Tandanya ada yang nggak beres sama aku, makanya sampai diblokir. Aku pasti bakal bercermin salahnya aku dimana sampai teman lama aku blokir aku. Aku bakal sadar kalau aku ini pengganggu. Lah dia apa? Udah tau diblokir, pura-pura nggak tau, terus masih berusaha hubungin kamu. ‘Kan aneh banget kalau kayak begitu,”
“Udah, jangan marah-marah, Arga,”
“Aku nggak marah, aku kesal aja kok, dan kesalnya juga ke Defan,” kata Argantara seraya mengusir tangan istrinya yang baru saja mengusap rahangnya. Ia tak menghempaskan tangan Shelina, melainkan Ia usir dengan lembut. Tapi tetap saja itu membuat Shelina kepikiran.
“Kamu kenapa sih? Defan nggak usahlah dijadiin bahan untuk kita debat,”
“Makanya biar nggak bahas dia mulu dan jadinya malah denat mendingan aku balas aja sekalian,”
Argantara segera menggerakkan jari jemarinya di atas layar ponsel Shelina untuk membalas pesan yang dikirimkan oleh Defan.
__ADS_1
-IYA-
Argantara benar-benar mewujudkan ucapannya barusan. Ia membalas pesan Defan dengan huruf besar semua, dan singkat. Argantara harap, dengan begitu Defan bisa sadar kalau dia salah. Terlalu gencar menghubungi orang yang sudah punya pasangan itu adalah hal yang salah. Mengingat yang dibicarakan Defan juga tak penting.
“Waktu itu udah minta nomornya disimpan, nanya-nanya soal liburan kamu, sekarang pakai nomor lain untuk nanya dia diblokir atau nggak. Keliatan banget cari perhatiannya. Sebenarnya dari cara dia ngomong aja tuh udah bisa aku nilai. Malanya sempat aku pikir, kalian berdua pacaran dulunya, atau dia yang naksir kamu,”
“Dia teman aku, Arga,”
“Mau-maunya temenan sama cowok macam dia,”
“Lho emang kenapa? Yang aku liat dia baik. Aku sih berteman bisa sama siapa aja, nggak harus sama ini atau itu. Selagi aku ngerasanyan berteman sama dia dan dia baik, aku bakal temenan baik,”
“Kamu nya aja kali yang anggap teman, dia mah anggap kamu lebih dari teman,” kata Defan seraya meletakkan ponsel sang istri begitu saja di atas tempat tidur, kemudian pergi begitu saja meninggalkan Shelina yang menghela napas pelan.
“Hadeh, Arga cemburunya udah makin-makin nih. Lagian si Defan ngapain sih hubungin aku lagi?”
Shelina menggerutu sendiri sambil meraih ponselnya yang lagi-lagi bergetar dan ada pesan masuk. Matanya mengerjap melihat Defan kembali mengirimkan pesan.
“Lho, nomor Defan yang ini belum diblokir sama Arga ya? Dia kelupaan mungkin, makanya Defan masih kirim chat,”
Shelina membaca pesan yang dikirimkan Defan sekilas. Kemudian Ia blokir nomor telepon Defan. Ia takutnya sesi pembicaraan Defan malah berlanjut.
-Kenapa? Apa aku ganggu? Aku nggak boleh komunikasi sama kamu ya? Padahal aku senang lho bisa ketemu kamu dan ngobrol lagi sama kamu setelah sekian lama kita sempat nggak saling berkabar ‘kan. Oh iya, aku pengen tanya. Kamu masih liburan ya? Kalau masih, kamu dimana sekarang? Aku mau kasih sesuatu buat kamu, Shel-
Begitu isi pesan Defan yang diabaikan oleh Kia. Makin aneh, tiba-tiba Defan bertanya apalah Ia masih berlibur atau tidak dan Defan juga bilang kalau dirinya mau memberikan sesuatu.
“Ya Allah, semoga aku dijauhkan dari sumber masalah. Aku males banget debat sama Arga hanya karena orang lain yang sebenarnya nggak penting buat hubungan kami. Masa baru nikah udah berdebat karena orang dari luar sih,”
Shelina segera menyusul suaminya yang entah kemana sekarang. Ia harus berusaha menghilangkan kekesalan Argantara, dan mengembalikan suasana hati Argantara yang sebelumnya.
Shelina tersenyum melihat Argantara tengah menikmati teh di tepi kolam renang. Shelina langsung menghampiri suaminya yang sedang menatap lurus ke dasar kolam setelah menyeruput teh hangat.
“Kamu kapan bikin teh nya?“
Argantara menoleh dan menjawab singkat pertanyaan istrinya “Barusan,”
“Cepat juga ya,”
“Barangkali teh bisa bikin aku nggak kesal lagi ‘kan,”
“Udah aku blokir lagi kok nomor Defan,”
“Udah deh nggak usah sebut-sebut nama orang yang cari masalah, males aku dengarnya,”
******
Kehidupan Kia dan Argantara kembali seperti biasanya sepulang dari Bali. Walaupun sudah lulus sarjana mereka memutuskan untuk kuliah lagi, mulai disibukkan dengan tugas, dan jalan-jalan bersama setelahnya sudah menjadi kebiasaan mereka berdua.
Seperti saat ini Argantara sengaja menunggu istrinya di kafe kampus karena Ia yang selesai kelas lebih dulu. Tak lama kemudian Shelina menyusul. Mereka sempat sama-sama pesan makanan dan minuman sambil mengerjakan tugas masing-masing, setelah itu barulah Argantara mengajak Shelina pergi ke mall.
“Kamu ngajakin aku ke mall emang mau ngapain, Ga?”
“Ya terserah kamu mau ngapain. Boleh belanja, boleh main-main di playground, boleh ke salon, boleh ngapain aja, Shel. Suka-suka kamu pokoknya,”
“Hah? Main-main di playground? Emang aku anak kecil?”
Argantara terkekeh melihat istrinya tidak terima diperbolehkan main-main di playground. Qrgantara meraih kepala Shelina untuk Ia kecup singkat.
“Kamu protes nya gemesin banget sih,”
“Ya abisnya kamu ada-ada aja. Masa iya aku main di playground,”
“Lah, ‘kan bisa aja, Sayang. Kadang kita yang udah dewasa tuh kepengen balik ke masa anak-anak. Bener nggak?”
“Iya sih bener, kamu aja masih suka main game di handohone ya,”
“Nah itu salah satunya. Terus kamu, aku liat di kamar kamu yang dulu, masih ada aja tuh mainan zaman kamu kecil,”
Shelina tertawa mendengar ucapan Argantara yang benar adanya. Di kamar semasa Ia kecil sampai usia dua puluh satu tahun masih banyak barang-barang dari zaman Ia kecil, termasuk mainan yang masih terselamatkan alias tidak hilang-hilangan. Argantara pernah menginap di kamar istrinya semasa masih sendiri dan Ia nyaman sekali. Sejak saat itu, Ia jadi tahu bagaimana isi kamar istrinya. Ia menemukan berbagai jenis boneka, buku cerita anak kecil, dan lain-lainnya.
“Jadi mau ngapain nanti di mall? Mumpung masih di mobil, kamu masih ada waktu untuk mikir, Sayang,”
“Lah aku bingung. Kamu yang ngajakin aku ke mall, kamu maunya aku yang mikir,”
“Aku mau kita refreshing, Sayang. Aku jadi bodyguard kamu aja, jadi teman juga. Mau kemana-mana nya terserah kamu aja,”
“Hmm…kemana ya? Aku bingung nih,”
“Ayo kemana ayo,”
“Temenin aku ke salon, kamu mau nggak?”
Argantara langsung menganggukkan kepalanya. Ia tidak keberatan sama sekali untuk menemani istrinya ke salon. Tadi malah sempat Ia tawarkan selain belanja dan ke playground.
“Mau kemana aja, mau ngapain aja, aku setuju, Shel. Terserah kamu, yang penting kamu senang ya,”
“Okay temenin aku ke salon ya,”
“Boleh, aku cuma temenin doang ‘kan?”
“Kamu mau sekalian nyalon?” Tanya Shelina sambil menoleh ke sebelah kanan dimana suaminya sedang fokus mengemudi.
“Ya kali, nggak ah. Aku nggak mau nyalon,”
Argantara berdecak pelan ketika lagi-lagi Kia bertanya boleh atau tidak? Padahal sejak tadi Ia sudah berkata bahwa apapun yang Shelina inginkan, kemanapun Shelina ingin pergi, Ia setuju saja.
“Apa sih yang nggak boleh buat kamu? Selagi positif, selalu aku bolehin, Sayang. Kamu jangan nanya mulu, jadi kesannya aku overprotective banget ke kamu,”
“Yeayy okay makasih ya,”
“Sama-sama,”
“Kalau rawat rambut boleh nggak, Ga?”
“Sebenarnya boleh, cuma kalau kata aku, kamu bagusan kayak gini aja rambutnya. Natural lebih baik, Sayang. Aku suka rambut kamu yang hitam banget kayak gini, kalau bisa nggak usah diapa-apain soalnya udah perfect menurut aku,”
“Ah kamu bisa aja mujinya,”
Shelina mencubit pelan lengan suaminya yang baru saja memuji rambutnya. Ia hendak mewarnai rambut, tapi nampaknha sang suami kurang setuju. Dan sudah diberitahu alasannya juga.
“Tapi kalau kamu tetap mau warnain, ya udah nggak apa-apa,”
“Ya udah deh nggak usah. Aku juga sebenarnya suka rambut aku yang masih virgin ini, tapi kadang aku pengen kayak orang-orang lain,”
“Ya udah boleh, Ratu Shelina sayang. Aku nggak larang, yang tadi itu, aku cuma kasih saran sebaiknya jangan. Diwarnain atau nggak itu hak kamu. Tapi warnainnya juga yang wajar. Jangan kayak anak ayam jadi warna warni,”
“Hahahaha, kamu kenapa sih lawak banget,”
Shelina terbahak mendengar ucapan sang suami. Kalaupun jadi mengubah warna rambutnya, sungguh tak terpikirkan sedikitpun untuk mengubah warna rambut seperti anak ayam yang dimaksud Argantara.
“Eh ngomong-ngomong aku dulu punya anak ayam yang warna-warni gitu lho masih aku masih kecil, terus aku urus sampai anak ayam itu lumayan gede. Eh dia nya ngilang. Nggak tau udah beda alam, apa diambil orang,”
“Kok bisa hilang?”
“Ya karena dilepas. Niatnya biar dia bisa jalan-jalan sesekali di luar kandangnya, Sayang. Eh malah nggak balik-balik,”
Obrolan mereka memang terkadang tidak jelas. Dari pembahasan mewarnai rambut, sekarang ayam yang menjadi topik pembahasan.
“Oh maksud kamu ngelepas dia biar dia bisa hidup bebas bentar gitu ya. Soalnya dia dikandangin mulu awalnya, bener ‘kan?”
“Iya, Sayang. Aku kasian di kandang mulu dia. Aku aja di rumah mulu bosan, jadi dia juga negitu ‘kan makanya aku lepas niatnya cuma bnwtran doang dan aku nggak ikutin. Eh dia nggak balik. Kalau dipikir-pikir aku oneng juga suh, kenapa malah dilepas terus nggak diikutin ya. Jelas aja dia nggak balik-balik. Dia mungkin nggak hafal jalan pulang kali, Sayang,”
“Iya kemungkinan sih begitu. Dia ‘kan nggak kayak burung ya? Hafal jalan pulang, kucing juga deh kayaknya,”
“Emang iya?”
“Kayaknya, aku sok tau aja padahal aku bukan burung bukan kucing,”
“Aku niatnya mau dia ngerasain kebebasan gitu, Shel, eh malah ilang nggak tau kemana. Entah dia udah diambil orang apa udah beda alam, aku nggak paham deh,”
“Tapi kamu urus ayam itu?”
“Urus dong, Sayang. Aku masih kecil waktu itu tapi karena suka ya aku urus. Aku kasih makan, minta tolong bapak yang suka motong rumput di rumah untuk bikin kandang buat si ayam, kadang aku keluarin dari kandang tapi nggak keluar dari rumah, nah dia lari-larian di halaman rumah sampai ke taman mama. Karena dia buang kotoran di taman mama, eh mama ngomel ke aku. Akhirnya ya udah lain waktunya aku lepas aja keluar rumah supaya dia bisa lebih bebas tapi malah nggak pulang-pulang ke rumah, dicariin juga nggak ketemu,”
“Hahahah parah banget taman mama dirusak,”
“Ayam nya yang ngerusak, Sayang. Tapi aku yang diomelin sama mama,”
“Tapi ayam tuh nggak tau apa-apa. Jangan ke halaman, keluarin aja dari rumah. Sekalinya dikeluarin tapi langsung hilang ya. Hahaha lucu banget masa kecil kamu, Ga,”
“Iya emang, pengen melihara kucing udah nggak dibolehin lagi sama mama karena takut ngotorin rumah lagi,”
“Mama kurang suka pelihara hewan mungkin ya?”
“Ya begitulah, tapi kalau ngerawat bunga-bunga di taman gitu mama suka, Sayang,”
“Biasanya perempuan emang lebih suka ngerawat yang hijau-hijau. Apalagi ibu-ibu ya ‘kan. Untuk ngisi waktu luang ya ngelakuin hal yang positif kayak ngurusin tanaman. Daripada ngerumpi ‘kan nggak penting,”
“Aku ngurusin hewan aja bisa lho, ngurusin orang juga bisa deh kayaknya,”
“Hah? Emang kamu mau ngurusin siapa?”
“Insya Allah bisa ngurusin istri sama anak,”
“Kebalik, aku rasa harusnya aku deh yang ngurus kamu sama anak nantinya,”
“Nggak lah, bareng-bareng lebih baik, bukan kamu aja,”
*******
Setelah menemani Shelina ke salon untuk memotong rambutnya, dan juga melakukan perawatan kuku, Argantara dan Shelina langsung singgah ke sebuah kafe untuk menikmati minuman dingin.
Selain memesan jus mangga, keduanya memesan hot dog juga sebagai teman minum jus. Lengkap sudah, minuman ada, dan makanan juga ada. Waktunya mereka mengobrol sambil menikmati apa yang ada di depan mata mereka sekarang.
“Itu si Defan gimana? Dia masih hubungi kamu nggak? Kalau masih, aku samperin dia, terus aku getok kepalanya kali ya biar seru,” kata Argantara sambil menggertakkan giginya.
“Nggak kok, aman-aman aja. Dia nggak hubungin aku lagi. Emang kenapa, Daf? Eh kok Def, Ga maksud aku,”
Mendadak suasana hati Argantara berubah mendengar Shelina salah menyebut nama. Yang seharusnya menyebut sepenggal dari namanya ‘Ga’ ini malah ‘Def’ dan itu diyakini Argantara merupakan nama Defan.
__ADS_1
“Bisa-bisanya salah sebut nama. Yang dk depan kamu sekarang ini, suami kamu sendiri lho. Dan namanya Argantara, siapa Def? Hmm? Maksud kamu Defan? Kok bisa salah sebut? Kok bisa nukar nama aku sembarangan?”
“Maaf aku nggak sengaja, Ga. Aku nggak ada niat nukar nama kamu kok. Wajar ‘kan kalau kadang orang lupa. Itu manusiawi, Ga,”
“Tapi aneh aja gitu. Kok bisa-bisanya ketukar nama aku sama Defan? Itu nama Defan ‘kan yang kamu sebut? Ngaku kamu, Shel. Nama aku sama dia jauh lho padahal. Aku Arga dia Defan. Kok bisa jadi tukeran? Aneh banget, kayaknya nama dia udah nempel banget di kepala kamu ya,”
Shelina tahu itu sebuah sindiran. Argantara tidak terima ketika istrinya salah sebut nama. Apalagi telinganya mendengar nama ‘Def’ hati Argantara mendadak kepanasan.
“Udah jangan debat ya. Kita ‘kan lagi habisin waktu berdua masa debat sih, jangan dong,”
“Lah kamu yang bikin hati aku kesal,”
“Aku nggak sengaja, Ga. Sumpah nggak ada niat untuk salah sebut nama. Aku juga nggak mau lah salah sebut nama suami aku sendiri. Tapi ini ‘kan nggak sengaja, manusiawi dong harusnya,”
“Ntar kebiasaan, makanya aku peringatin dari sekarang. Awas aja ya kalau kamu sampai nukar nama aku sama nama orang lain, siapapun itu. Aku nggak suka dengarnya, Shel. Nama aku Argahtara, coba dihafal dulu deh sana, biar nggak salah-salah lagi,”
“Ih kamu kok jadi sinis gitu sih? Aku ‘kan udah minta maaf. Jangan kesal lagi dong, Ga. Aku janji nggak akan salah sebut nama, seriusan deh,”
“Ya gimana aku nggak sinis. Aku nggak senang istri aku sebut nama orang lain apalagi aku nggak suka sama orang itu. Kamu ‘kan tau sendiri aku cemburu sama Defan, eh kamu malah sebut-sebut nama dia. Aku benci, tau nggak?”
Shelina menghela napas pelan. Suaminya kelihatan kesal sekali, padahal Ia sudah meminta maaf pada sang suami karena mulutnya salah menyebut nama.
“Maaf ya, aku benar-benar nggak sengaja,”
“Lupa, nggak sengaja, atau gimana?”
“Ya gabungan keduanya,”
“Bisa-bisanya lupa nama suami sendiri. Yang ingat nama dia doang ya? Katanya cuma teman, tapi namanya nempel banget di kepala kamu kayaknya,” ujar Argantara yang masih belum puas meluapkan rasa kesal yang memenuhi dada ketika Shelina salah menyebut namanya.
Shelina memilih untuk diam karena Ia mengakui bahwa apa yang Ia lakukan adalah hal yang salah. Kalau Ia menyahuti ucapan Argantara, yang ada malah berdebat lebih panjang nantinya.
“Teman ‘kan? Namanya nempel banget di kepala,”
“Astaga, Arga. Aku ‘kan udah berulang kali bilang kalau Defan itu cuma teman aku aja. Kamu kenapa nggak percaya sama aku sih?”
“Tapi saking dekatnya temenan sampai namanya nempel di kepala ya, terus giliran ngobrol sama suami jadi ketuker gitu deh namanya, padahal jauh banget dari huruf awal aja udah beda banget,”
“Aku minta maaf, udah deh jangan dibahas lagi. Nanti yang ada kita malah berantem. Aku nggak nyangka kamu bisa juga debatin masalah yang sebenarnya tuh kecil, tapi kamu bikin jadi besar,”
“Kamu ngomong apa? Ini masalah kecil ya menurut kamu? Tapi ini bisa jadi masalah besar lho kalau kamu salah terus. Aku khawatirnya nggak sekali kamu begini. Dan kalau udah salah sebut gitj artinya apa? Dia ada di kepala kamu, nama dia nempel di kepala kamu, dan bisa jadi yang kamu liat sekarang di depan kamu ini bukan suami kamu sendiri tapi Defan,”
“Aku nggak segitunya. Aku tau kok sekarang aku lagi sama siapa. Ya ampun, Astaga, cuma karena salah sebut nama sampai panjang gini debatnya,”
Shelina lama-lama jengah juga. Ia tidak kuat bila terus disalahkan. Ia sudah menjelaskan, meminta maaf berulang kali, tapi tetap saja suaminya kesal.
“Aku mendadak badmood hanya gara-gara kamu salah sebut nama aku, Shel, jujur aku,”
“Iya aku minta maaf ya, Ga. Sekali lagi aku benar-benar minta maaf. Aku nggak ada maksud nukar nama kamu sama nama orang lain. Aku harap kamu maafin kesalahan aku,”
“Ya udah nggak usah dibahas lagi, badmood aku makin nambah nanti,”
Shelina menganggukkan kepalanya. Ia tidak akan membahas lagi karena itu permintaan suaminya. Akhirnya ia lanjut makan dan minum. Sebelumnya mereka terlibat obrolan, sekarang jadi diam saja. Jujur Shelina merasa tidak nyaman kalau hanya diam, tapi kalau bicara hanya untuk debat untuk apa? Lebih baik Argantara tenangkan hatinya dan Ia menghargai. Jadi nanti bisa kondusif lagi situasi di antara mereka berdua.
Lima belas menit berlalu, Shelina melirik suaminya yang saat ini sedang sibuk dengan ponselnya, sambil minum. Shelina menghela napas pelan.
“Nggak enak diem-dieman kayak begini sama Argantara. Dia masih kesal ya?”
Shelina terus melirik ke arah suaminya yang kini jadi sibuk dengan ponsel seolah-olah Ia tak ada di sisi Argantara. Shelina lebih suka suasana yang cair di antara mereka berdua, bukan dingin seperti ini.
“Ga, aku ke kamar mandi ya,”
Argantara hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan suara. Dari situ Shelina bisa menyimpulkan kalau suaminya memang masih kesal. Tadi Argantara berkata bahwa mereka tak perlu lagi membahas perkara salah sebut nama. Shelina pikir setelahnya mereka bisa mengobrol hangat seperti sebelumnya, tapi ternyata tidak juga.
“Tumben, biasanya dia inisiatif mau antar aku. Lah ini nggak ada tanda-tanda,”
Shelina kembali membatin. Ia tidak mengerti kenapa suaminya langsung berubah seperti saat ini. Rasa kesal sepertinya masih berkumpul di hati Argantara.
“Aku ke kamar mandi ya,”
“Iya, aku ‘kan udah ngangguk tadi,” kata Argantara yang akhirnya mau mengeluarkan suara.
Shelina menghembuskan napas kasar kemudian beranjak meninggalkan kursi. Ia langsung menatap suaminya yang ternyata sedang menatap ke arahnya juga.
“Kenapa muka kamu kayak gitu?”
“Nggak apa-apa,”
“Kayak yang kesal, kamu kesal sama aku?”
“Nggak, kata siapa?”
“Mukanya aja begitu,”
“Biasa aja muka aku,”
Setelah menjawab seperti itu, Shelina langsung bergegas ke kamar mandi. Sebenarnya Shelina tidak ingin-ingin sekali buang air kecil, tadi hanya berharap dengan pamitnya Ia ke kamar mandi, Argantara akan bersedia mengantarnya seperti biasa, atau paling tidak mengeluarkan suara tanpa Ia harus pamit dua kali.
“Kenapa sih dia? Kok jadi dia yang keliatan kesal sekarang? Emang gue salah apaan? Harusnya gue lah yang kesal, orang dia yang salah. Nyebut nama orang pas lagi ngobrol sama gue ‘kan bikin kesal banget,”
******
Entah kenapa Shelina merasa suasana hatinya jadi murung setelah terlibat aksi saling diam dengan sang suami yang sebelumnya merasa kesal karena Ia salah menyebutkan nama.
Dan ketika pamit ke kamar mandi, Shelina malah meneteskan air matanya. Shelina tahu, seharusnya Ia tidak seperti ini. Tapi entah kenapa air matanya datang tanpa diundang.
“Lagi sensi nih aku. Masa kayak gitu aja nangis,” gumam Shelina sambil tersenyum di depan cermin kemudian Ia buru-buru menghapus jejak air matanya sendiri yang mendadak jatuh tanpa diminta.
“Aku ngerasa sedih kalau dicuekin sama Arga. Aku tau aku salah, tapi mau sampai kapan Arga diam aja? Aku paling nggak bisa dicuekin. Aku udah merasa bersalah banget, kalau Arga diam aja, rasa bersalah aku makin-makin nambah walaupun sebenarnya aku udah minta maaf ke Arga,” batin Shelina seraya menghembuskan napas kasar. Shelina sedikit menunduk kemudian membasuh wajahnya supaya tidak terasa lengket usai menangis sebentar tanpa suara, hanya air mata saja yang bicara.
“Arga ternyata kayak gitu ya kalau udah kesal banget. Dibahas terus sampai dia merasa puas, terus diam aja. Aku nggak apa-apa kalau dia mau nenangin diri, makanya nggak ajak aku ngobrol lagi, tapi mau sampai kapan ya? Tadi dia langsung berubah cuek gitu, sibuk sama handphone, dan aku pamit ke kamar mandi aja dia awalnya cuma ngangguk aja. Padahal aku kira dia bakal ngomong lagi setelah diam sebentar, eh aku tungguin sampai lima belas menit lebih dia nggak ngomong-ngomong malah sibuk sama handphone nya,”
Shelina terus bicara dalam hati, dan masih menghadap cermin kamar mandi yang kebetulan sepi. Beruntungnya tak ada orang, jadi Shelina merasa lebih bebas untuk mengekspresikan kekecewaan dan rasa sedihnya atas sikap Argantara.
Shelina menghembuskan napas pelan, kemudian bertolak pinggang dan menengadahkan kepalanya ke atas.
“Udah cukup, Shel. Jangan sensi lagi kayak gini. Kamu harus maklum, mungkin emang begitu sikap Arga kalau lagi kesal banget. Ini pelajaran buat kamu, Shel. Lain kali jangan sampai deh salah ngomong lagi,”
Shelina mengingatkan dirinya sendiri supaya lebih hati-hati lagi dalam berbicara. Jangan sampai kejadian tadi terulang lagi. Ia tidak mau Argantara marah lagi. Memang sebaiknya apapun itu tentang Defan, atau lelaki lainnya dihindari karena Argantara kalau sudah dalam mode cemburu benar-benar membuat Shelina ingin jungkir balik.
Setelah merasa lebih baik, Shelina meninggalkan kamar mandi. Alih-alih buang air kecil, Shelina datang ke kamar mandi hanya untuk menumpahkan kesedihannya saja, setelah itu Shelina kembali lagi ke tempatnya semula yaitu di samping suaminya yang sibuk dengan ponsel, sama halnya seperti tadi sebelum Shelina ke kamar mandi.
Shelina ingin tahu, apakah setelah ini Argantara akan mengajaknya berinteraksi, Ia tunggu sampai lima belas menit lagi tapi Argantara tetap saja dingin. Argantara tetap sibuk dengan dunianya sendiri.
“Di mata Arga mungkin aku nyebelin banget. Tapi sumpah, di mata aku Arga nyebelinnya parah banget,” batin Shelina seraya melirik kesal ke arah Argantara.
“Ga, kita mau sampai kapan di sini?”
Akhirnya Shelina mengalah. Ia yang mulai mengajak Argantara untuk bicara. Shelina pikir suaminya tak akan menanggapi dan itu akan Ia anggap bentuk teganya Argantara. Tapi ternyata Argantara menanggapi.
“Ya terserah kamu mau kapan pergi dari sini,”
“Minum sama makan udah habis. Kita pulang aja,”
“Kok cepat?”
“Ya ngapain lama-lama di sini? Orang cuma diem-dieman aja ‘kan. Kalau begitu, mending di rumah aja,” ujar Shelina dengan nada bicara yang masih biasa saja tapi sebenarnya ada unsur menyindir. Barangkali dengan ucapannya barusan, Argantara sadar bahwa sejak tadi mereka diam saja. Kalau ingin saling diam, untuk apa lama-lama di tempat ini? Lebih baik pulang saja.
“Emang diem-dieman?”
“Lah, menurut kamu gimana?”
“Nggak sih, biasa aja,”
“Kamu nggak nyadar dari tadi kita jadi kayak patung nggak ada ngobrolnya. Kamu sibuk aja sama handphone kamu,”
“Ya abisnya kita mau ngobrol apa? Aku juga bingung,”
“Kamu sebenarnya bukan bingung, tapi kamu tuh emang masih nggak mau ngomong sama aku gara-gara kesalahan aku tadi, iya ‘kan? Benar nggak? Kamu masih badmood sama aku. Biasanya banyak ngomong ke aku, kita nggak pernah jadi diem-dieman kayak gini, kayaknya baru sekarang aja deh semenjak nikah. Aku tau aku salah, tapi menurut aku kesalahan aku masih manusiawi. Tapi karena bawaan kamu tuh udah cemburu aja, makanya pas aku salah sebut nama sedikit, reaksi kamu langsung kayak begini,”
“Oh jadi sekarang kamu nyalahin aku? Iya? Hmm? Aku yang salah?”
Shelina menatap suaminya dengan kening yang mengernyit dan tatapan yang memancarkan kekesalan.
“Kenapa?”
Argantara membalas tatapan Shelina. Lelaki itu menatap istrinya dengan sorot mata yang dingin, wajah tanpa ekspresi, tapi kelihatan rahangnya jadi makin tegas. Itu semua sudah menggambarkan bahwa Arganrara kesal. Alias masih kesal karena kejadian tadi, kesalnya jadi bertambah mungkin karena tatapan Shelina sekarang ini.
“Ya udah pulang aja deh,”
“Kamu yakin mau pulang? Nggak mau kemana-mana lagi? Tadi katanya mau beli make up?”
“Nggak usah, aku mendingan di rumah aja. Kalaupun mau beli make up tinggal jalan beli sendiri. Daripada kayak begini. Perginya sih berdua tapi rasanya jadi kayak pergi sendiri karena kita diem-dieman kayak orang yang lagi musuhan,”
Argantara tersenyum tipis dan geleng-geleng kepala. Sekarang bukan hanya suasana hatinya saja yang berubah, tapi Shelina juga begitu nampaknya.
“Ya udah kalau emang kamu maunya begitu, nggak mau ya jalan sama aku lama-lama? Kesal karena aku protes barusan?”
“Tadi aku nggak kesal, tapi karena kamu cuekin aku jadinya aku kesal,”
“Padahal aku emang lagi mau irit ngomong aja,”
Shelina merotasikan bola matanya tidak terima mendengar ucapan sang suami sambil Ia mencibir pelan “Alesan, biasanya juga banyak ngobrol sama aku,”
“Ya udah ayo pulang,”
Argantara menyimpan ponsel genggamnya di saku celana, Ia mengambil kunci mobil dan beranjak bangkit dari kursi.
“Ayo,”
“Ngajak sih ngajak, tapi dia jalan duluan. ‘Kan nyebelin banget,”
Shelina menggerutu ketika suaminya sudah berlalu lebih dulu menuju arah luar kafe. Shelina menyusul Argantara dengan langkah kaki yang lumayan cepat karena di depan sana Argantara juga jalan cepat.
“Ih Arga, kamu nggak bisa jalan pelan apa? Hah? Kenapa harus buru-buru sih,”
“Eh iya lupa, sorry-sorry,”
Argantara langsung berhenti dan menoleh ke belakang. Ia menunggu istrinya yang berjalan sambil menggerutu.
__ADS_1
Tidak sengaja Shelina jatuh karena terlampau buru-buru, dan itu membuat Shelina malu setengah mati. Sakitnya tidak seberapa, tapi malunya itu yang sulit ditutupi.
Argantara langsung tergesa menghampiri Shelina yang menahan tangis. Sekali lagi bukan karena sakit, tapi lebih memikirkan rasa malu. Ditambah lagi Shelina merasa penyebab dirinya jatuh adalah Argantara yang belum habis juga rasa kesalnya, karena Argantara jalan terburu-buru di depannya seolah ingin menghindarinya.