
“Aku nyariin kamu lho di kelas, ternyata kamu di sini,”
Argantara lansgung meminta salah seorang teman Shelina untuk memggeser posisinya agar menyingkir dari sebelah kanan Shelina karena Ia yang akan menempati posisi itu.
Argantara sengaja menghampiri Shelina di kelansya namun Ia tidak mensmukan Shelina. Akhirnya Ia diajak oleh teman-temannya ke kantin, barangkali Shelina dis ana dan tenryata benar. Argantara melihat Shelina bersama Ganta dan tiga teman perempuannya. Tanpa pikir panjang Argantara langsung menghampiri meja mereka berlima itu. Setelah Argantara datang, jadi ada enak orang di meja tersebut.
“Ih Arga kan masih ada kursi kosong kenapa nyuruh Ica pindah sih? Ica udah nyaman di sebelah aku,”
“Nggak apa-apa kok, Shel?”
“Dengar ‘kan? Dia aja nggak keberatan kok kalau aku duduk di sini, by the way, makasih ya, Ica,”
“Sama-sama, Ga,”
Ica akhirnya bergeser ke kursi lain karena kursinya ditempati oleh Argantara sekarang. Kedatangan Argantara tidak diundang tapi diterima cukup baik oleh teman-teman Shelina. Mereka tidak masalah ketika Argantara datang ke meja mereka.
Tapi yang kelihatan bermasalah adalah Ganta. Karena raut wajah yang smeula berbunga-bunga alias bahagia mendadak berubah menjadi datar tanpa ekspresi ketika Argantara hadir.
“Kamu nggak ngasih tau kalau udah di kantin. Aku nyariin kamu. Akhirnya aku diajak sama teman-teman aku deh ke kantin, kata mereka munhkin kamu di sini dan ternyata benar ya, kamu lagi di sinis aka teman-teman aku,”
“Iya aku lupa ngabarin, lagian aku pikir kamu lagi ada kelas sih. Jadi ya udah aku ke sini aja setelah diajakin mereka. Terus teman-teman kamu gimana?”
“Ya nggak apa-apa, itu mereka duduk di saam,” ujar Argantara seraya menunjuk teman-temannya yang menempati satu buah meja dan saat ini tampak sedang mengobrol.
“Oh nggak apa-apa kalau nggak sama kamu?”
“Ya nggak apa-apa lah, mereka ‘kan bukan anak kecil lagi dan aku bukan bapaknya mereka juga jadi santai, nereka nggak minta ditemenin kok,“ ujar Argantara sambil terkekeh. Justru teman-temannya itu semangat sekali menyuruh Ia untuk menghampiri Shelina yang sedang bersama Ganta. Mereka tidak ingin Argantara lengah.
“Gue nggak apa-apa ‘kan di sini, guys?” Tanya Argantara pada teman-teman Shelina yang langsung menganggukkan kepalanya menunjukkan bahwa mereka tidak keberatan sedikitpun.
“Serius nggak apa-apa?”
“Iyalah, Ga, santai aja. Lo boleh kok gabung sama kita. Nggak amsalah sama sekali justru snak kalau ramai,” ujar Ica.
“Ganta, nggak apa-apa ‘kan?” Kali ini Argantara bertanya pada sahabat dari tunangannya itu. Jujur Argantara penasaran apa jawaban yang akan keluar dari mulut Ganta.
“Iya dong nggak apa-apa, santai aja,”
“Serius gue nggak ganggu?”
“Nggak sama sekali,” jawab Ganta tanpa ekspresi, dan sibuk dengan makanannya. Itulah sebabnya Argantara sudah bisa menebak kalau Ganta kesal alias tidak terima kalau Ia bergabung di meja.
“Okay kalau gitu, gue happy di sini,”
“Kamu nggak pesan makanan?”
“Udah, bentar lagi siantar kali,”
“Kamu pesan apa?”
“Mie ayam, minumnya es teh,”
“Oh, kok bisa sama sih kayak aku padahal nghak janjian?”
“Ya karena jidoh kali makanya sama,”
Shelina tertawa mendengar ucapan dari tinangannya itu. Ica, Vika, dan Dini terkekeh dan menggoda Shelina yang salah tingkah.
“Cie Shelina terbang,”
“Hahaha jangan gitu, guys,”
Reaksi ketika yang lain ketika Argantara bicara seperti itu adalah terkekeh, artinya tidak keberatan dengan ucapan Argantara, neda h dengan Ganta yang malah makan saja, tidak mau gabung dalam obrolan, tertawa pun tidak.
“Cemburu banget kayaknya tapi berusaha ditahan,” ejek Argantara smabil melirik Ganta sinis dan tersenyum miring.
“Lagian aneh banget. Masa suka ssama tunangan orang? Udah dibilang cuma dianggap sahabat aja eh masih usaha keras aja,” barin Argantara.
“Eh Arga, lo sama Shelina bakal nikah kapan sih?”
“Ntar kalau udah lulus iya ‘kan, Sayang?”
Shelina mengerutkan keningnya dan kedua matanya sedikit memicing setelah mendengar panggilan baru dari Argantara untuk dirinya.
Sebelum ini Argantara tidak lernah memanggilnya dengan mesra negitu, atau Ia saja yang lupa? Tapi yang jelas Shelina senang, sekaligus merasa sedikit aneh.
Sebenarnya Argantara sengaja memanas-manasi Ganta fengan panggilan mesranya untuk Shelina. Ia berharap dnegan Ia memanggil ‘sayang’ Ganta bisa sadar kalau Shelina itu tidak mungkin Ia gapai lagi karena Shelina sudah menjadi mikiknya walaupun mereka belum menikah tapi yang jelas sudah ada cincin yang mengikat mereka. Dan harapan Argantara juga berlanjut sampai ke pernikahan. Jadi Argantara tidak akan membiarkan Ganta macam-macam.
“Kenapa nunggu nikah? Kenapa nggak sekarang-sekarang aja?”
Tiba-tiba Ganta batuk setelah salah satu teman Shelina yang bernama Vika bertanya kepada Argantara dan Shelina tentang rencana pernikahan mereka yang sayangnya digelar setelah lulus padahal Vika kira dalam waktu dekat lebih menyenangkan. Argantara terkekeh dalam hati. Semakin kelihatan cemburunay. Argantara senang Ganta merasa cemburu.
“Yang benar aja, Vik. Masa dalam waktu dekat? Nggak mungkin lah, hahaha,”
“Lho emang kenapa nggak mungkin? ‘Kan biasanya kalau udah tunangan ‘kan nikahnya dalam waktu dekat,” ucap Vika.
“Iya tapi kita maunya nanti-nanti aja, santai dulu lah dambil selesain pendidikan,” jawab Shelina.
“Bagus sih, gue setuju kalian selesain dulu pendidikan kalian,” ucap Ica.
“Iya biar ntar pas nikah nggak ribet sama urusan kuliah,” sambung Dini.
“Hmm iya sih, soalnya annti akalu udah nikah udah beda banget situasinya, sekarang mending puas-puasin dulu deh nikmati amsa sebelum nikah,” ujar Vika.
Shelina dan Argantara tersenyum mendengar teman-teman Shelina memahami keputusan mereka.
Makanan Argantara datang dan Argantara langsung mulai mengisi perutnya. Argantara tidak sadar kalau teman-temannya dari meja mereka memperhatikan Argantara, Shelina dan Ganta. Hanya mereka bertiga saja yang menjadi pusat perhatian Denis, Satria, dan Ardan, ajrena tiga teman Shelina itu tidak penting.
Yang terlibat cinta segitiga itu adalah Shelina, Argantara, dan Ganta jadi yang lebih menarik menjadi pusat perhatian tentunya mereka
“Kalau gue liat-liat ya, si Ganta tuh kayaknya udah obsesi nggak sih?”
“Obsesi sama siapa?”
“Ya sama Shelina lah, Dan, masa obsesi sama gue. Ah elah nggak jelas lo!” Denis mencibir Ardan yang bisa-bisanya tidak langsung paham siapa yang Ia perkirakan menajdi obsesinya Ganta. Ya tentu saja Shelina karena Ganta pernah menyatakan perasaannya kepada Shelina, bukan kepadanya jadi tentu obsesi pada Shelina lah yang Ia maksud.
“Wah kalau udah obsesi serem sih, gue takut kalau orang udah obsesi tuh. Soalnya mereka bisa ngelakuin apa aja yang bisa mereka lakuin untuk dapetin orang yang jadi kbsesi mereka itu,” ujar Satria.
“Nah itu dia. Gue takutnya Ganta tuh nekat rebut Shelina gimanapun caranya. ‘Kan kasian ya teman kita,” ujar Denis.
“Ya tapi kalau udah jodoh mah, dipisahin kayak gimanapun tetap nyatu, Deni. Karena udah takdirnya jodoh, nah kecuali kalau takdir Arga sama Shelina buka jodoh, nanti ada aja tuh jalannya yang bikin mereka akhirnya pisah,” ujar Satria.
“Ya tapi gimana ya perasaan Arga kalau misalnya Shelina bukan jodoh dia. Buset apsti dia sakit hati banget deh,”
“Ya kalau nggak ditakdirin jodoh, Arga bisa apa selain pasrah? ‘Kan jodoh, maut, rezeki itu udah ada yang ngatur,” ujar Ardan.
“Tapi ya, entah kenapa feeling gue bilang kalau mereka berdua jodoh sih. Gue yakin kalau Arga sama Shelina tuh jodoh, ya smeoga aja feleing gue bener ya, kalau emang benar berarti menurut Tuhan, yang terbaik untuk Shelina itu Arga dan begitupun sebaliknya,”
“Iya gue setuju sama lo,” ujar Ardan atas ucapan Denis.
“Arga keliatan udah pulih ya dari rasa sakit hatinya gara-gara mantan,”
“Ya iyalah gila. Ngapain coba masih mikirin si Aliya itu,” ujar Denis dengan sinis. Denis lah yang paling tidak senang ketika Argantara belum juga move on dari mantan kelaishnya. Setelah melihat Argantara bahagia dnegan Shelina sekarang, Denis merasa bersyukur dan sennag sekali. Akhirnya Argantara bisa lepas dari bayang-bayang masa lalu mamtan kekaishnya itu.
“Aliya lagian udah bahagia sama pasangan barunya, bunting nya udah makin gede kali tuh,” ujar Ardan.
“Tapi Arga beneran udah move on atau belum ya? Atau dia cuma pengen keliatan baik di depan Shelina supaya Shelina nggak pergi ninggalin dia?” Gumam satria.
“Eh! Gue tuh bisa liat Arga udha kove kn dari mantannya. Kalian ‘kan nyaksiin sendiri dia nggak pernah tuh bahas-bahas si Aliya lagi. Udah keliatan bahagia sama Shelina. Kalau dia pura-pura, ya kenapa mata sama mukanya nggak pura-pura-l juga? Bahagianya Arga tuh nggak bisa ditutupin, Sat. Dia bahagia sama Shelina belakangan ini, tandnaya dia udha nerima kenyataan kalau Aliya tuh bukan jodoh dia dan Shelina lah yang terbaik buat dia. Makanya gue doain yang terbaik aja deh buat mereka berdua kalau jodoh ya syukur kalau jodoh ya udah mau gimana. Berarti emang bukan itu keputusan yang terbaik,” ujar Ardan yang langsung mendapat reaksi anggukan setuju dari Denis. Menurut Denis, Argantara bahagia dengan Shelina dan sudah melupakan mantan kekasihnya itu.
“Nah tantangan hubungan mereka berdua nih lumayan berat, soalnya oramg ketiga cuy! Nggak main-main,” ujar Satria.
“Semoga nggak ada orang keempat dari pihak Arga yak. Kalau ada, beuh ribet banget deh jadinya,” ujar Denis
“Lo jangan ngomong gitu, bloon! Lo doain hubungan mereka kedatangan orang keempat? Hah?” Tanya Ardan sambil menatap
Denis dengan sangar. Padahal Denis sedang berharap hubungan antara Argantara dan shelina tidak didatangi oleh ornag ketiga tapi Ardan malah salah paham.
“Bukan gitu maksud gue, ogeb! Gue berharap mereka tuh baik-baik aja, nggak digangguin sama setan, jin, iblis dari mana-man, entah itu dari pihaknya Shelina atau dari pihaknya Arga,”
“Oh, gue kira lo doain mereka kedatangan ornag keempat, kalau benar begitu, anjir banget lo,”
“Yah elah, gue orang pertama yang bahagia liat mereka bahagia, masa sih gue doain yang nggak-nggak buat mereka berdua? Lo ingat ‘kan, gue sebenci itu sama Aliya setelah Akiya ninggalin Arga, tapi Arga nya masih aja ngarep sama dia, masih cinta saka dia dan jahat ke Shelina. Gue benci bnaget Arga yang dulu, tapi untungnya sekarang udah berubah sih. Kalau nggak, beuh oengen gue tonjok juga tuh mukanya,”
“Hahahaha sama anjir. Dia kalau udah jahat ke Shelina, pengen gue tonjok mukanya seriusan deh tapi gue rasnaya nggak munglin tega ngelakuin itu karena dia sahabat gue,” sambung Satria.
“Ya semoga aja hubungan mereka baik-baik aja ya. Gue kasian sama Shelina kalau sampai mereka ada masalah. Dia tuh sama Arga sabar banget, njir. Dia baik banget, makanya Arga tuh harus benar-benar sayang yang tulus ke dia karena takutnya nih ya Arga nyesal di kemudian hari nanti. Takutnya dia nggak dapat yang sama baiknya kayak Shelina,” ucap Ardan.
“Gue yakin Arga juga tau itu kok,” sambung Denis.
Mereka berhenti membicarakan Argantara dan Shelina ketika Argantara menghampiri mereka karena ingin bicara sebentar pada mereka. Argantara tidak sendirian. Ia bersama Shelina.
“Eh gue duluan ya, tapi mau antar Shelina dulu,”
“Siap, bos. Silahkan deh, nggak diganggu kok,”
Argantara terkekeh lantas melanjutkan langkah kakinya meninggalkan kantin bersama tunangannya.
“Eh eh, si Ganta ditinggalin yhaaaa hahaha,” Ardan meledek Ganta yang saat ini masih di meja bersama tiga teman perempuan Shelina.
“Lagian itu orang aneh banget ya. Masih aja ngarep, anjir. Padahal udah dibilang sama Shelina, dia nggak bisa anggap lebih dari teman, tapi dia batu banget ya,”
“Ya namanya juga udah cinta. Kalau udah cinta ‘kan bakal susah mau digimanain juga,”
“Udah bukan cinta kayaknya, Dan, tapi obsesi,”
“Oh iya, obsesi maksud gue. Orang-orang yang obsesi itu kadang kelakuannya diluar nalar, anjir. Kadang suka nekat demi dapetin apa yang dia mau, yah semoga aja ya si Ganta nggak segitunya, masih banyak kok cewek di dunia ini kenapa sih harus suka sama cewek yang jelas-jelas udah sama orang lain
“Lah nggak usah jauh-jauh nyari yak, itu di depan dia ada tiga cewek, kenapa nggak pilih salah satu dari mereka aja gitu,” ujar Satria.
“Ya mungkin teman-temannya Shelina itu nggak mau sama dia hahaha,” ujar Ardan dan diakhiri dengan tawanya.
“Shelina aja yang sahabatnya dia nggak mau sama dia, Shelina lebih tertarik sama sahabat kita si Arga itu daripada Ganta,”
“Iya heran kenapa Shelina nggak mau sama dia ya? Padahal dia ‘kan nggak jelsk, ya kalau sama Arga sih kata gue gantengan Arga,”
“Heh jangan muji-muji Arga lo, masih normal ‘kan?” Denis melayangkan tatapan tajam ke arah Satria yang langsung melemparinya dengan seditan dan seditan itu masih ada aur es nya jadi mengenai jaketnya.
“Dasar geblek! Jaket gue basah, bodoh!” Maki Denis pada Satria yang kesal tidak terima dnegan pertanyaan Denis.
“Ya lagian lo kurang ajar bener. Masa iya gue naksir sama dia. Gue maish normal, brody. Ngapain suka sama sejenis? Dih, amit-amit. Hewan aja yang nggak punya pikiran suka sama yang alwan jenis, kenapa manusia ada yang pikih sejenis sih? Sampai sekarang gue nggak habis pikir deh,” omel Satria.
“Ya udah lah biarin itu pilihan mereka, orang kayak gitu nggak bakal berhenti kalau nggak dapat batunya,” ujar Denis.
“Kita mah yang lurus-lurus aja deh,“ ujar Ardan.
“Iya gue nggak mau belok-belok menyalahi aturan deh. Udah aturan dari zaman kapan tau cowok ya pasangan sama cewek bukan sejenis,” tambah Satria.
******
“Makasih udah antar aku ke kelas,”
“Sama-sama, lo kenapa mau je kelas duluan?”
“Ya karena kamu ‘kan udah makan juga jadi mendingan kita ke kelas duluan aja. Eh tapi dmang kenapa sih kamu kok nggak habis tadi makanan nya? Apa nggak enak?” Tanya Shelina yang penasaran dnegan alasan Argantara tidak menghabiskan makanannya di kantin tadi, padahal Shelina saja lapar sekali makanya apa yang Ia makan barusan habis.
“Emang kamu nggak lapar ya? Aku aja lapar banget lho, seriusan deh. Sampai habis tuh tadi makanan aku,”
“Gue lapar, tapi kapar gue hilangs etelah gue liat Ganta dama lo, di meja kantin,” jawab Argantara dengan ketus.
“Ya tapi ‘kan aku sama dia nggak berduaan, Ga. Kami ada temannya,”
__ADS_1
“Iya gue tau, tapi tetap aja gue nggak suka liatnya, Shel,”
“Masa aku makan bareng-bareng sama teman aku nggak boleh sih? Ya jangan terlalu berlebihan jugalah, aku nggak mau terlalu dikekang,” ujar Shelina dengan ketus.
Argantara menghembuskan napas kasar. Tiba-tiba Ia meriah tangan Ehelina dan membawa Shelina untuk duduk di kursi yang tak jauh dari kelas Shelina. Mereka berdua duduk di sana bersebelahan.
“Jadi menurut lo, gue terlalu ngekang ya? Bukannya wajar ya sikap gue kayak gini karena gue tau si Ganta punya perasaan lebih buat tunangan gue dan gue nggak suka itu,”
“Iya aku paham tapi aku ‘kan nggak berduaan aja, kecuali kalau aku cuma berdua sama Ganta, baru deh kamu boleh kesal,”
Argantara kendengus, jadi kalau nersama teman-temannya, tidak hanya berdua, Argantara dilarang cemburu. Sebaliknya kalau hanya berdua barulah Arganyata diberikan izin oleh Shelina untuk merasa cemburu.
“Ya udah aku minta amaf deh kalau bikin kamu merasa dikekang,” ujar Argantara seraya membuang muka.
“Jadi kamu nggak habisin makanan kamu tadi beneran karena cemburu?”
“Iyalah, selera makan aku jadi hilang gara-gara ngeliat kalian berdua,”
“Ya udah aku juga minta maaf,”
“Aebenarnya aku lapar, malah lapar banget biaa dibilang. Tapi karena harus satu meja sama dia jujur nafsu makan aku langsung hilang nggak tau deh pergi kemana tuh nafsu makan aku,”
“Ya lagian kenapa kamu nggak makan di meja sama teman-teman kamu aja sih? Itu nggak bakal bikin selera makan kamu hilang ‘kan? Kenapa harus satu meja sama aku?”
“Oh jadi lo nggak suka kalau misalnya gue satu meja sama lo? Gitu?”
“Ih bukan gitu maksud aku. Daripada kamu hilang nafsu makan ya mending gitu ‘kan? Kamu makan di meja kamus ama teman-teman kamu, nah kalau udah makan baru deh kamu samper aku di meja aku tadi, lebih baik begitu ‘kan? Daripada kamu jadi nggak bafsu makan karena ada Ganta,”
“Gue mana bisa satu meja sama teman-teman gue? Asal lo tau ya, gue tuh nggak tenang, Shel,”
Shelina menghembuskan napas kasar, lalu Ia tersenyum menatap suaminya itu dan Ia meminta maaf lagi karena sudah membuat Argantara kehilangan nafsu makan. Walaupun Argantara bilang itu gara-gara Ganta tapi tetaps aja Shelina tidak enak hati.
“Ya udha kamu mending beli apa kek gitu, yang bisa dimakan di kantin,”
“Nggak, gue sekarang udah kenyang ko&,”
“Seriusan? Tapi ‘kan makanan kamu nggak habis, emang beneran kenyang itu, Ga?”
“Ya beneran lah, gue beneran udah kenyang,”
“Hmm ya udah deh sebagai permintaan maaf aku, nanti kalau misalnya kamu pulang kuliah duluan tungguin aku ya kita makan bareng tapi aku yang traktir. Nah kalau seandainya aku duluan yang pulang, aku bakal tungguin kamu. Pokoknya kita harus sama-sama deh ke tempat makannya. Tapi ingat lho, aku yang traktir,” uhar Shelina dengan lugas di kalimat terkahirnya, Ia sedang mewanti-wanti supaya bukan Argantara yang membayar tagihan bill mereka nantinya setelah makan.
“Seriusan nggak nih? Jadi gue mau ditraktir?”
“Iyes betul,”
“Ya udah kesepakatan kita barusan yang lo buat diingat ya, jangan cuma bikin kesepakatan doang lo tapi nggak dihafal ntar tau-taunya lo udah balik, dan baliknya sama Ganta pula,”
“Iya-iya aku bakal ingat kok. Nggak bakal lah aku pulang sama Ganta. Ya udah kalau gitu sampai ketemu nanti ya, sekarang aku masuk kelas dulu. Kamu jangan ingat lho sama kesepakatan yang aku buat barusan, jangan sampai kamu pulang duluan ninggalin aku kalau seandainya kamu pulang duluan ya,”
“Nggak, gue belakangan ini ‘kan selamu sama lo, Shel. Masa lo lupa sih?”
“Oh iya ya, udah nggak pernah disuruh mama kamu lagi ‘kan tapi?”
“Nggak, gue udah inisiatif sendiri untuk antar jemput lo senagai tunangan gue,” jawab Argantara sambil mengacak pelan puncak rambut tunangannya itu.
“Ya udah gue masuk kelas dulu ya,”
“Heh ngomong apa?”
“Gue mau masuk kelas dulu,” Shelina sengaja mengulang karena nampaknya tunangan Argantara bingung.
“Apa? Gue nggak dengar, coba dong sekali lagi ngomongnya,” ujar Argantara.
“Gue mau masuk kelas dulu,”
“Jujur aku nggak nyaman sih dengar kamu ngomong kayak gitu,”
“Lah ‘kan biar samaan kayak kamu,“
“Yah elah gue ini lagi belajar untuk biasa ngomong yang benar sama lo, kenapa lo malah ganti cara ngobrolnya sih? Nggak usah kayak teman gitu dong,”
“Lho emang kalau ngomong lo gue kayak ke teman ya?”
“Iyalah, masih nanya lagi lo,”
“Oalah gitu ya, okay deh aku kamu aja kalau gitu, balik ke semula. Padahal aku oengen kayak kamu lho, jadi kita samaan,”
“Gue aja lagi berusaha untuk ngerubah, eh lo malah—“
“Omay aku minta naaf ya, tapi nggak dirubah juga nggak apa-apa kok, aku tau susah untuk terbiasa. Jadi jangan dipaksa ya walaupun aku suka sih dengar kamu ngomong aku kamu karena kesannya tuh kita kayak lagi pacaran gitu lho,”
“Ya emang kita pacaran,,”
“Kita bukan pacaran,”
“Lah terus?”
“Kita tunangan, levslnya usah jauh si atas pacaran dong,”
“Ya anggap lah begitu. Prang pacaran, tunangan, nikah ‘kan sering ya ngobrol pakai aku kamu ya? Nah aku suka kayak gitu, tapi kalau kamu susah untuk terbiasa nggak apa-apa kok, aku nggak maksa kamu, Ga,”
“Emang lebih enak kalau aku kamu kok, gue juga sukanya kayak gitu,”
“Oh ya?”
“Iya,”
“Ya udah suka-sukanya kamu aja deh,”
“Shelina,”
Shelina dan Argantara menoleh ketika ada yanh memanggil Shelina. Walaupun yang dipanggil itu Shelina tapi Argantara ikutan menoleh karena penasaran. Suaranya tidak asing, dan benar saja begitu Ia lihat wajah yang memanggil tunangannya itu, Ia langsung memutar bola matanya malas.
“Hmm sejujurnya aku juga nggak tau ya kenapa dia manggil aku,”
“Shelina, kenaoa nggak masuk kelas? Ayo masuk kelas,” ajak Ganta yang menggerakkan kepalanya singkat mengajak Shelina untuk segera masuk ke dalam kelas bersamanya.
Semakin telat Ganta dianggap pengganggu oleh Argantara, karena apa? Bisa-bisnaya Ganta mengajak Shelina masuk ke dalam kelas disaat Ia dan Shelina sedang bersama.
“Dia kayaknya panas deh ngeliat aku saka kamu ngobrol, Shen,”
“Jangan ngomong begitu. Dia cuma ingetin aku supaya masuk kelas biar nggak diomelin dosen,”
“Ya kali ada dosen yang marahin kamu. Ah kamu aneh-aneh aja,”
“Ya ada lah kalau telat,”
“Nggak, dia aja lebay! Ngapain coba manggil-manggil? Caper banget jadi laki-laki. Ih kayak nggak laku aja deh,”
“Astaga, Arga jangan ngomong gitu ah, nggak sopan,” ujar Shelina dengan ketus setelah itu berdiri meninggalkan Argantara yang maish duduk di kursi dengan salah satu kaki dilipat dan ditumpu di ata skaki yang lain, kemudian salah satu yangannya sengaja Ia ulurkan di punggung kursi yang Ia duduki.
Shelina langsung berjalan menghampiri Ganta yang berdiri di depan kelas. Argantara yang melihat itu langsung nenggertakkan giginya kesal.
“Ngapain sihs akpai ditungguin segala Shelina nya? Dia tinggal amsuk aja ke kelas, kenapa harus nungguin tunangan gue segala. Dih makin sinting tuh orang,”
Argantara membatin setelah melihat Ganta masuk kelas beraama Shelina. Ganta benar-banar menunggu Shlina masuk kelas barulah Ia mausk kelas juga, sebelumnya Ganta senpat menatap Argantara dengan wajah datar tanpa ekspresi dan Argantara tidak tahu apa msksud lelaki itu. Tapi Argantara anggap itu sebagai ejekan “Punya lo sama gue dulu” mungkin kurang lebih itu isi hati Ganta yang ingin disampaikan kepada Argantara.
Argantara menggertakkan giginya kesal hingga membentuk rahangnya yang semakin tegas.
“Ganta benar-banar keterlaluan. Mau dia apa sih? Kenapa dia keliatan masih berjarap sama Shelina padahal jelas-jelas Shelina nggak mau sama dia. Nanjir! Nggak tau malu banget sih dia,” batin Argantara.
Argantara bangkit berdiri meninggalkan kursi setelah itu kakinya melangkah ke kelasnya sendiri dengan hati yang bergejolak marah. Tapi Ia tidak bisa melampiaskannya, alhasil hanya Ia pendam, tapi dari wajah tak bisa dibohongi. Gwrak gerik Argantara, ekspresi Argantara kalau sedang dirubdung rasa keala itu sudha pasti beda, dan teman-teman Argantara sudha hafal seklai dengan itu.
Makanya ketika Argantara smapai di kelasnya denganw ajah yang keras menahan amarah, rahangnya semakin terlihat tegas, tiga temannya jtu sudah tahu kalau Argantara sedang tidak baik-baik saja, dadanya panas kebakaran.
“Udah nganterin Shelina ke kelasnya?”
“Udah,”
“Terus kenapa tuh muka ditekuk begitu?”
“Gue emosi ya lama-lama sama si Ganta,”
“Kesal kenapa? Apa yang dia lakuin? Bukannya tadi kalian berdua akur? ‘Kan satu meja pas makan di kantin tadi,”
“Akur pala lo peyang. Asal lo pada tau ya, tadi tuh kami emang satu meja tapi nggak ada obrolan apa-apa, kayak nggak saling kenal, kayak orang asing. Dia arogan banget jadi manusia,”
“Emang apa yang dia lamuin ke lo tadi? Kok lo balik-balik ke kelas mukanya udah ketekuk jadi sepuluh gitu?” Tanya Ardan mewakili ras apenasaran dua sahabatnya yang lain.
“Lebay lo ah, emang muka gue apaan bisa nekuk-nekuk,” celetuk Argantara.
“Hahaha canda, kenapa sih emang? Apa yang dia lakuin sampai lo kesal banget keliatannya. Buruan cerita dong,”
“Dia sengaja gangguin gue sama Shelina yang lagi ngobrol berdua di kursi dekat kelasnya Shelina. Selain dia manggil Shelina berusaha ngambil perhatian Shelina dari gue, dia sok-sokan ngajakin Shelina masuk kelas, nggak sampai disitu aja, dia nungguin Shelina di depan kelas, njir. Maksudnya apa coba? Shelina masuk kelas, dia juga ikutan masuk kelas, terus dia sempat natap gue gitu pakai dengan tampang datar nggak ada ekspresi. Dia kenapa sih? Aneh banget,”
“Lah kenapa lo maha nanya sama kita-kita? Lo aja bingung, apalagi kita yang nggak tau apa-apaan,”
“Capernya itu, Astaga. Benar-bsnar pengen gue kaish pelajaran banget itu orang ya,”
“Jamgan gegabah kalau mau ambil sikap. Ingat, dia tuh suka sama Shelina, kalau lo macam-macam sama dia, bisa aja dia gunain Shelina sebagai alat untuk nyerang lo. Nanti lo yang nyesal kalaus ampai dibenci sama Shelina. Lo sendiri bilang ‘kan kalau Shelina tuh nganggap dia sahabat banget. Bisa jadi lo tiba-tiba ngaish pelaharan ke dia terus dia laporan ke Shelina dnegan ngelebihin cerita sebenarnya dan Shelina bakal benci sama lo, terus lo bakal nyesek banget dibenci sama Shelina. Jangan sampai itu terjadi, makanya jangan gegabah,” pesan Denis sambil menepuk seklai bahu kanan sahabatnya itu.
“Dan gue ingetin satu hal sama lo ya, Ga. Orang kalau udah obsesi tuh kadang suka gila! Dia nggak mikirin dampaknya apa, yang penting apa yang dia mau itu bisa dia dapat. Nah lo mesti hati-hati di situ,” ujar Ardan pada Argantara yang langsung menganggukkan kepalanya.
“Iya dia kayaknya udah obsesis ama tunangan lo deh, Ga. Bahaya kalau udah obsesi. Segala macam bisa dia lakuin demi dapetin tunangan lo itu,”
Gigi geraham Argantara saling beradu aatu sama lain hingga rahangnya terbentuk semakin tegas. Argantara tidak siap kalau sampai Ganta mengambil alih Shelina. Ia tidak bisa kehilangan Shelina.
“Udah lo tenang aja, Ga. Kalau jodoh pasti nggak kemana, itu si Ganta dijadiin cobaan dalam hubungan lo sama Shelina, tapi gue yakin kok kalian bakal tetap baik-baik aja,“ ujar Shelina.
“Aamiin, tapi tetap lah adanya dia tuh mancing emosi gue banget, asli,”
“Ya karena dia adalah bentuk cobaan dari hubungan lo sama Shelina, jadi harus lo hadepin, Ga,”
“Kalau dia berhasil ngerebut Shelina gimana ya? Itu sih yang gue takutin,” gumam Argantara sambil menundukkan kepalanya mengamati sepatunya dalam diam dan tatapan kosong. Tiga sahabatnya langsung saling menatap satu sama lain kemudian sama-sama menggeleng. Mereka bingung harus bagaimana menenangkan Argantara. Karena Argantara sudha terlanjur khawtair kehilangan Shelina setelah hadirnya Ganta.
“Udah, lo tenang aja, jangan mikir yang macam-macam. Kalau lo jodohnya Shelina, ya gue yakin kalian bakal bersatu gimanapun caranya, apapun cobaannya,”
“Eh Ga, lo harus percaya sama Shelina. Dia bisa jaga hatinya buat lo kok jadi lo harusnya sih tenang aja ya, kalau emang dia mau nih sama Ganta, ya udah dari dulu kali mereka jadian tapi kenyataannya apa? Malah lo yang tunangan sama Shelina. Dari dulu mereka nggak jadian tuh, mereka cuma temen doang,”
“Ya tapi tetap aja lah ada rasa khawatir dalam diri gue gimana kalau seandainya Shelina naksir sama dia terus—“
“Lo jangan pernah ngomong kayak gitu ke Shelina,”
“Lho, emang kenapa coba?”
“Ya karena Shelina pasti kesal kalau dengar lo ngomong kayak gitu,”
“Kesalnya kenapa?”
“Ya dia merasa lo nggak percaya sama dia. ‘Kan udah gue bilang kalau Shelina mau, dia nggak akan mungkin tunangan sama lo, ya harusnya dia tunangan sama sahabatnya itu, bikan lo, Arga,”
“Ga, lo tuh harus siap terima apapun yang bakal yerjadi ke depannya. Misal lo bukan jodohnya Shelina, ya haru lo terima dnegan lapang dada, Ga. Berarti emang bukan lo yang terbaik untuk Shelina dna begitupun sebaliknya. Tapi kalau lo jodohnya Shelina, pasti apapun langkah yang kalian ambil rasanya bakal gampang deh, percaya sama gue,”
“Udah jangan mikir yang macam-macam, Ganta itu cobaan dalam hubungan lo sama Shelina jadi harus dihadapi dengan sabar dan kuat,“ pesan Satria sambil menepuk bahu Argantara tiga kali.
Obrolan mereka berakhir karena dosen mereka masuk ke dalam kelas. Argantara harus menghilangkan segala pikiran buruknya dan fokus dengan materi yang akan disampaikan oleh dosennya.
*****
“Shelina, kita ngerjain tugas besok aja ya, gue lagi nggak enak badan,”
__ADS_1
“Aku juga mau temenin Papa aku hadir ke acara temannya jadi nggak bisa hari ini, atur aja lagi waktunya ya,”
Ahelina menganggukkan kepalanya ketika dua orang temannya mengatakan rasa keberatan mereka bila harus sekarang mengerjakan tugas kelompok. Ganta mau mendmapingi papanya hadir ke sebuah acara, Dini meras apelru istirahat banyak di dumah karena kepalanya sakit sekali dan badannya juga mulai hangat. Shelina paham, dan setuju kalau waktunya siatur ulang, begitupun teman-teman Shelina yang lainnya.
“Atur waktunya lagi kalau gitu,” ujar Shelina.
“Kamu mau bareng aku nggak?” Tanya Ganta pada Shelina yang berjalan di sebelahnya keluar dari kelas usai mata kuliah mereka hari ini telah berakhir seluruhnya.
“Bareng apa?”
“Bareng pulangnya,” ujar Ganta.
“Oh nggak, Ganta. Aku bareng Arga, mau mampir dulu nanti,”
“Mampur kemana kalau aku boleh tau?”
“Dih jangan kepo deh Ganta,” ujar Ica pada Ganta yang langsung berdecak pelan dan menatap Ica dengan sinis.
“Gue nggak nanya sama lo ya, jadi jangan cerewet deh,” ujar Ganta.
“Lagian kepo banget. Shelina mau mampir kemana kek sama tunangannya itu bukan urusan kita, biarin aja udah. Paling mau kencan kali di restoran, nakan bareng ceunah,” ujar Ica.
“Heheh kok Ica tau?”
“Tau lah, udah tau tanda-tandanya ada,”
“Hah? Tanda-tanda apatuh?”
“Ya tanda kalau kalian mau makan bareng,”
“Emang apa tanda-tandanya?”
“Lo mukanya berseri bahagia,”
“Hahaha perasaan muka aku bahagia mulu deh keliatannya,”
“Nggak lah, bahagianya tuh beda, lebih berseri-seri, ceria, dan—-ya intinya beda lah ya,”
“Ya usah aku duluan ya semuanya,”
“Okay hati-hati, sekamat makan berdua,”
Shelina terkekeh sebelum meninggalkan teman-teman satu kelompoknya. Yang lain ceria menggoda Shelina kecuali Ganta yang tidak ada ekspresi apapun di wajahnya.
“Ganta, lo naksir nggak sih sama Shelina tanya Ica yang merasa penasaran saja untuk mengetahui jawaban Ganta. Karena kalau dari gerak gerik Ganta, entah ksnapa Ica merasa kalau Ganta itu punya ras aketertarikan dengan Shelina.
“Apaan sih lo? Kenapa jadi nanya kayak gitu? Nggak penting banget,”
“Ya abisnya gue tuh penasaran banget,”
“Ya nggak lah, Shelina itu sahabat gue. Dan gue nggak mau naksir sama dia,”
Sejauh ini Ganta tahu hanya Ia, Shelina, dan Tuhan saj ayang tahu tentang perasaannya terhafap Shelina, oh satu lagi mungkin Argantara karena setiap melihatnya Argantara selalu kelihatan cemburu.
“Oh gitu ya, okay deh bagus. Soalnya ‘kan Shelina itu punya tunangan. Lagian gue kasian sama lo kalau smapai lo naksir Shelina, pasti lk makan hati deh, soalnya Shelina sama Arga itu saling cinta keliatan banget. Dan mereka udah tunangan, udah mendekati resmi akuas sah jadi suami istri,”
“Iya gue tau kok, gue laham statusnya Shelina apa,”
******
“Ternyata nungguin di mobil,”
“Kamu nggak buka-buka handphone sih, giliran aku telspon baru deh online whatsapp kamu,”
“Aku baru keluar dari kelas langsung ke kelas kamu jadi belum sempat buka handphone deh, ternyata kamu udah selesai duluan ya,”
“Iya dong, aku gitu lho,”
Shelina duduk bersandar dan menghembuskan napas lega. Hari ini terlewati dengan baik dan cukup melelahkan untuknya.
“Kamu capek, Shel?”
“Hmm lumayan,”
“Udah minum air putih? Nih aku ambilin,”
Argantara tak hanya mengambilkan botol air mineral tapi Argantara juga membuka tutup botol barulah Ia serahkan kepada tunangannya itu.
“Yeayy makasih ya,”
Dengan senang hati Shelina menerima minuman dari tunangannya itu sambil mengucapkan terimakasih tentunya.
“Jadi sekarang kita makan dimana nih?” Tanya Argantara pada sang tunangan.
“Terserah kamu, aku ikut kamu aja, dan aku yang traktir ya, jangan lupa lho! Awas aja kalau kamu yang bayar,”
“Hahahaha okay bukan aku yang bayar,”
“Jadi mau dimana nih?” Tanya Shelina.
“Ya nggak tau, terserah kamu aja deh. ‘Kan lamu yang mau traktir.” Ujar Argantara.
“Kamu aja lah,” jawab Shelina.
“Lo aja, Shel. Masa gue sih? ‘Kan lo yang mau nraktir gue,”
“Huh, ya udah deh kita makan di reatoran ayam kentaki favoriti aku ya?”
“Boleh, yang depannya huruf M ya?”
“Nah iya, kok kamu tau sih?”
“Taulah, apa sih yang nggak gue tau,”
“Tau darimana?”
“Orang lo usha pernah cerita,”
“Hah? Serius kamu?”
“Iyalah, lo udah pernah cerita, Shel,”
“Oalah gitu ya,”
“Jadi kita ke sana nih?”
“Iya-iya, kita ke sana,”
“Okay siap, Nyonya,”
“Yang twrdejat sama kampus aja, jangan yang jauh-jauh ya,” pesan Shelina.
“Iya, tenang aja. Kalaupun jauh juga gue nggak bakL bawa lo kabur kok, Shel,”
“Ih bukan gitu majsud aku, soalnya aku udah lapar nih jadj aku lengen cepat sampai kalau cepat sampai ‘kan otomatis cepat makan juga dong,”
“Iya okay-okay,”
Argantara tentunya juga memilih restoran yang paling dekat dengan lokasi kampus mereka. Yang paling dekat itu waktu tempuh ya sekitar lima belas menit. Begitu sampai dan mobil diparkir, Shelina langsung keluar dari mobil dan disusul eh Argantara.
Setelah mereka pesan menu yang mereka inginkan masing-masing sesuai selera setelah itu mereka mengobrol.
“Tadi lo ditawarin pulang bareng sama Ganta nggak?”
“Bggak sih, enang kenapa?”
“Ah ghe nggak percaya. Lo yakin, Shel?” Tanya Argantara sambil mengangkat salah satu alisnya.
Shelina mengingat-ingat dulu. Barangkali Ia salah jawab barusan, dan ternyata memang benar, Ia lupa kalau sebenarbya Ganta itu sempat mengajak Ia untuk pulang bareng.
“Eh iya ngajakin deh tadi
“Tuh ‘kan, udah gue duga. Nggak mungkin kalau nggak ngajakin,” ujar Argantara.
“Emang kenapa, Ga?”
“Nggak apa-apa cuma penasaran aja,”
“Aku langsung bilang aja ke dia tadi kalau aku mau pergi berdua sama aku. Teman-teman kelompok aku pada ngeledekin aku, godain aku mau pergi sama kamu,”
“Hahaha terus gimana reaksi dia?”
“Reaksi dia ya—kayak kaget gitu aja sih palingan,”
“Benerna cuma ngajak sekali? Nggak lebih dan nggak maksa kamu ‘kan?”
“Nggak kok, Dia nggak maksa. Dia cuma ngajak aku doang tapi nggak sampai maksa,”
“Gue yakin dia pasti kesal banget deh hahaha,”
“Kenala kesal?”
“Ya karena dia cemburu lah liat lo mau jalan sana gue,”
“Oh paham aku. Tapi belum tentu juga sih dia kesal, soalnya tadi ekspresi dia tuh biasa-biasa aja,”
“Biasa aja gimana sih?”
“Ya nggak ada tanda-tanda cemburu gitu lho maksud aku,”
“Mukanya datar?”
“Iya kamu bener,”
“Ya itu mah lagi nahan cemburu. Aduh tolong deh kamu tuh jangan polos-polos banget. Masa kamu nggak tau gimana tanda-tanda orang kalau lagi cemburu tuh kayak apa.”
“Ih mana aku paham sih yang kayak gitu. Yang aku tau ya cemburu itu ya ngomel-ngomel. Lah dia nggak tuh, dia biasa aja,”
“Ya karena dia nahan-nahan, Shelina,”
“Ya udah lah biarin aja dia mau gimana aku nggak peduli. Pada intinya aku tuh nggak suka sama dia, kalau dia masih berharap, cemburu-cemburu kayak gitu ya salah dia sendiri kenapa dia masih berharap sama aku,”
“Eh tapi ya, cara untuk ngelupain susah kadang, Shel. Perlu waktu, apalagi kalau cintanya udah terlalu dalam. Ya nggak mungkin secepat itu dia ngubur perasaannya ‘kan,”
Makanan yang mereka pesan sudah datang dan mereka langsung menyantapnya setelah mengucapkan terimakasih kepada pelayan.
“Aku nggak tau kapan pastinya dia punya perasaan ke aku. Jujur sampai sekarang aku bingung soal jtu. Cuma ya udahlah, aku nggak mau peduli, itu bukan urusan aku,”
Tiba-tiba Argantara meraih tangan Shslina dan Ia genggam dengan erat dan hangat tidak menyakiti sedikitpun.
“Shel, makasih ya udah ada di hidup gue, usah jadi bagian dari cerita gue selama hidup di dunia ini. Gue belum pernah ngomong ini ke lo ya? Okay sekarang gue ngomong ya. Gue beruntung banget ketemu sama lo, gue beruntung bisa kenal sama lo, bisa dekat sama lo bahkan bisa jadi tunangan lo. Gue berharao kita terus baik-baik aja ya. Maafin untuk semua kesalahan gue selama ini ke lo. Gue tau kesalahan gue ke lo tuh banyaknya nggak kehitung. Dan gue minta maaf ya, maaf untuk semua kesalahan yang pernah gue lakuin ke lo,”
Shelina tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Pipi Shelina merona, Ia tidka kenyangka kalau akan diajak bicara empat mata seperti ini oleh Argantara yang kelihatan sangat tulus ketika menyampaikan rasa bahagia dan bersyukurnya karena mereka bisa saling mengenal satu sama lain. Argantata juga merasa beruntung diperkenankan oleh orangtua Shelina maupun Shelina sendiri untuk menjadi pendamping hodup Shelina.
“Aku juga bersyukur dan merasa beruntung punya kamu, semoga kita baik-baik terus ya,” ucap Shelina sambil mengusap punggung tangan tunangannya itu sekilas.
“Ah kebalik, lo tuh dapetin yang bobrok tau nggak? Sedangkan gue—“
“Nggak lah, semua manusia itu punya kelsbihan dan kekurangan jadi kamu jangan merendahkan diri kamu sendiri, okay?”
“Ya, tapi lo banyak nilai plus nya sedangkan gue minus mulu deh,”
__ADS_1
“Ih nggak mungkin, karena pembagiannya itu rata, Arga. Setiap manusia punya sisi positif dan negatif sendiri-sendiri jadi kamu jangan insecure dong,”