Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 96


__ADS_3

Shelina segera membuka pintu rumah untuk segera membuka pagar. Begitu Shelina membuka pintu rumah, Ternyata benar yang sudah di ambang pagar itu adalah Argantara. Shelina juga melihat sudah terdapat mobil berwarna merah yang terparkir di depan pagar rumahnya. Seperti nya itu mobil yang belum lama dibeli karena body mobil itu masih sangat mulus belum ada gores sedikit pun. Shelina melihat Argantara yang tampak sangat tampan menggunakan jas berwarna biru pastel dan di dalam nya terdapat kemeja putih yang tak dikancing di bagian atasnya. Shelina melihat respon Argantara yang sama dengan respon teman-temannya tadi saat melihat Shelina tampil seperti ini. Shelina dipercantik oleh dua orang sahabatnya yang benar-benar semangat ingin membuat Shelina semakin cantik untuk pergi dengan Argantara. Kedua sahabatnya itu sampai datang ke rumahnya setelah tahu Argantara mengajak Shelina pergi malam ini. Shelina yang memang sudah cantik dibuat semakin cantik dengan tangan Lifa dan Tita.


Tampak Argantara tidak berkedip sedikit pun. Dan mulutnya sedikit terbuka. Ini sungguh membuat Shelina salah tingkah. Shelina takut nanti Argantara berpendapat kalau dandanan Shelina ini terlalu berlebihan. Ini membuat Shelina makin ragu menghampiri Argantara. Tapi Argantara sepertinya mengisyaratkan Shelina agar Shelina menghampirinya dengan senyumnya yang manis itu. Shelina yang mengerti isyarat Argantara memutuskan untuk berjalan menghampirinya dengan rasa ragu yang masih menyelimuti diri Shelina. Lalu Shelina membuka gerbang rumahnya.


Argantara masih menunjukkan reaksinya yang tak berkedip itu. Setelah Shelina sampai di hadapannya, Shelina melihat Argantara yang sedang memperhatikan penampilan Shelina dari atas sampai bawah.


"Kenapa? Aneh ya? Dandanan aku berlebihan? Maaf deh kalau menurut kamu dandanan aku terlalu berlebihan,”


Ucap Shelina dengan nada lirih. Tapi tiba-tiba Shelina merasa bibir Shelina di sentuh oleh telunjuk Argantara. Pertanda kalau Shelina harus diam.


"Ssstt. Siapa bilang kamu dandan berlebihan? Ini natural banget. Kamu terlihat sangat cantik menggunakan make up natural ini. Kamu perfect,”


Argantara mengucapkan kalimat itu dengan tulus dan lembut. Sembari telunjuknya masih berada di bibir Shelina. Setelah dia berbicara, Ia tarik kembali telunjuknya.


"Tapi aku ragu deh,”


Ucap Shelina pada nya. Dan Argantara mengernyitkan dahinya heran mendengar ucapan Shelina itu.


"Kenapa ragu? kamu bener-bener cantik malam ini. Kamu sempurna, Shelina,"


Areno kembali berbicara tulus. Dan ucapan nya itu kembali berhasil membuat Shelina Arani bersemu.


"Jadi kamu mau jalan sama aku?"


Argantara bertanya pada Shelina yang langsung menganggukkan kepalanya.


"Menurut kamu? Emang dandanan aku ini nggak bisa jawab pertanyaan kamu?"


Tanya Shelina dengan ketus. Lagipula kenapa harus bertanya lagi. Argantara sudah liat Shelina berpenampilan istimewa malam ini, tidak mungkin kalau Argantara tidak memahami apa artinya. Kalau memang Shelina tidak mau pergi dengannya, sudah pasti Shelina tidak akan menemui Argantara dengan penampilan yang beda dari biasanya.


"Ya udah ayo masuk ke mobil,” ajak Argantara.


Argantara menggenggam tangan Shelina supaya masuk ke dalam mobil. Lalu membuka pintu mobil itu untuk Shelina.


"Tumben bawa mobil. Kenapa nggak bawa motor aja? Ah nggak seru kamu,”


Ucapan Shelina itu membuat Argantara yang sedang membukakan pintu mobil nya untuk Shelina langsung menoleh pada Shelina. Lalu Ia tersenyum mendengarnya.


"Masa malam-malam bawa cewek cantik naik motor? Nanti kalau kamu kenapa-enapa aku kan jadi sedih," jawaban Argantara itu kembali membuat pipi Shelina merona karena malu.


"Silakan masuk, Princess aku,”


Shelina mempersilakan Shelina masuk ke dalam mobilnya sembari tersenyum. Lalu Argantara memutuskan untuk masuk kedalam mobil berwarna merah miliknya itu. Di perjalanan suasana hening tercipta di antara kami. Sesekali Argantara hanya melirik, tapi Shelina sama sekali tak menghiraukannya.


Sedari tadi pandangan Shelina hanya ke arah luar jendela mobil. Shelina ingin melihat pemandangan pada malam hari lewat jendela mobil ini. Jarang sekali Ia bisa melihat suasana jalanan ketika malam hari seperti ini.


"Ayo, Shel, kita masuk udah sampai nih,”


Lamunan Shelina terhenti saat Argantara berkata seperti itu pada Shelina. Shelina melihat keadaan sekitar mobil ini. Sepertinya mobil ini terparkir di sebuah restoran mewah tapi dengan suasana yang klasik. Dilihat dari luar, nampaknya restoran ini sangat sepi sekali. Tak lama Argantara membukakan pintu mobilnya untuk Shelina.


"Selamat datang, Princess,”


Ucap Argantara saat Shelina turun dari mobil. Shelina hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Argantara itu. Lalu Shelina dan Argantara mulai memasuki restoran ini. Ternyata benar restoran ini sangat sepi. Seperti restoran yang sudah di pesan saja. Saat kami sudah sampai di sebuah meja, Argantara menarik satu buah kursi di dekat meja itu dan mempersilahkan Shelina untuk duduk. Diikuti dengan dirinya yang duduk juga. Shelina duduk sambil masih terpesona dengan suasana di restaurant ini. Saat Shelina sedang asyik menikmati suasana klasik di restoran ini Shelina di kaget kan dengan lampu restoran yang tiba-tiba saja mati. Hanya menyisakan satu lampu yang menyala dan terfokus pada sebuah panggung di depan sana. Shelina baru menyadari kalau di restoran ini ada panggung yang lumayan megah dengan desain yang mewah dan klasik juga sama seperti suasana restaurant ini. Shelina mendengar suara alunan piano yang sangat indah yang ternyata bersumber dari piano yang berada di atas panggung itu. Shelina sangat menghayati nada demi nada yang di alunkan oleh piano itu. Shelina sangat penasaran dengan orang yang sudah berhasil membuat dirinya terpikat dengan permainan piano itu. Tapi sayangnya Shelina tak dapat melihat orang yang sedang bermain piano itu dengan jelas. Karena wajah orang itu yang menunduk dan masih fokus dengan permainan piano nya di tambah lagi piano yang besar itu kembali menutup wajahnya. Shelina baru tersadar kalau Argantara sudah tak ada lagi di sampingnya Kini hanya Shelina sendiri yang berada di restoran mewah ini. Tapi entah kenapa, Bukannya Shelina takut dengan suasana yang sepi ini ditambah lampu yang masih padam, Shelina justru menikmati suasana ini. Shelina menikmati alunan musik yang di lantunkan oleh piano itu sampai selesai tanpa takut sedikitpun karena Shelina sendiri. Shelina juga tak begitu memikirkan Argantara yang tidak ada di sampingnya. Karena Ia lebih memilih menikmati suasana ini daripada harus memikirkan Argantara . Setelah Shelina sadar kalau pemain piano itu telah selesai memainkan piano nya dan bangkit dari posisinya. Tapi Shelina masih bisa samar-samar melihat pemain piano itu yang kini sudah berdiri tegap di atas panggung dan dia mulai menunjukkan jati dirinya. Dia tak di balik piano besar itu lagi.


"Aku mencintai kamu ,layaknya matahari mencintai pagi. Aku mencintai kamu , layaknya bintang yang mencintai malam. Dan aku juga mencintai kamu layaknya pasir yang juga mencintai pantai. Tapi kamu harus tau, aku selalu mencintai kamu. Aku nggak akan pernah berhenti mencintai kamu. Walau nanti jantungku berhenti untuk berdetak, walau nafasku nggak lagi bisa berhembus dan darahku nggak lagi berdesir. Aku akan terus mencintai kamu sampai bumi berubah bentuk nggak lagi bulat, sampai matahari lelah menemani pagi, dan sampai bintang berhenti untuk bersinar di malam hari,”


Ucapan yang keluar dari mulut Argantara membuat Shelina menutup mulut tak percaya kalau Argantara yang mengucapkan kalimat itu dengan tulus. Mata Shelina tampak berkaca. Shelina tak menyangka kalau Argantara yang ada di panggung itu. Ucapan tulus dari Argantara akhirnya mampu membuat bulir bening yang sudah sedari tadi Shelina tahan keluar juga dari pelupuk mata Shelina. Shelina masih terdiam di posisinya. Shelina masih terhipnotis dengan semua ini. Setelah Argantara selesai mengucapkan kata-kata itu lampu kembali di hidupkan. Kini suasana kembali terang. Shelina melihat Argantara yang berjalan menghampiri Shelina.


"Hei. Kok kamu nangis? Kamu nggak suka ya sama ini semua?”


Tanya Argantara dengan nada lirihnya setelah dia sampai di tempat Shelina. Shelina membalas ucapan Argantara dengan gelengan cepat. Gelengan itu pertanda kalau Shelina tidak setuju dengan ucapan Argantara yang mengatakan kalau Shelina tidak suka dengan semua ini. Semuanya sangat menakjubkan. Sungguh tak bisa digambarkan rasa bahagia Shelina atas semua ini.


"Ini semua kamu yang nyiapin, Ga?” Tanya Shelina sambil menatap Argantara dengan mata yang berkaca dan di balas oleh Argantara dengan anggukan pasti sembari tersenyum, tanpa sadar Shelina memeluk Argantara sangat erat. Shelina menumpahkan semua haru di pelukan Argantara. Argantara mengusap lembut puncak kepala Shelina.


"Kamu jangan nangis. Aku ngelakuin ini, karena aku sayang dan cinta sama kamu. Maaf kalau semua ini nggak sesuai dengan apa yang kamu harapkan,”


Argantara meregangkan pelukan kami dan mengeluarkan ucapan Itu yang terdengar sangat tulus. Shelina mendongakkan kepala Shelina di pelukan Argantara agar Shelina bisa menatap Argantara. Shelina meletakkan telunjuknya di depan bibir Argantara.


"Sstt. Kamu salah kalau menurut kamu, aku berpikir kayak gitu. Aku justru nggak nyangka sama apa yang udah lo persiapkan ini. Aku bahagia banget. Aku kira acara kita malam ini nggak akan seromantis ini. Tapi nggak taunya romantis banget,” Ucap Shelina sambil tersenyum tulus.


"Itu kewajiban aku untuk bikin kamu bahagia,”


Balas Argantara tak kalah tulus.


Ya ampun Shelina baru tersadar kalau Shelina sedari tadi sudah memeluk Argantara.


"Aduh sorry. Aku nggak ada maksud. Tadi aku terlalu senang. Jadi kelepasan deh meluk kamu,"


Ucap Shelina sembari melepaskan pelukan dari Argantara. Argantara terkekeh melihat sikap Shelina yang masih malu-malu ini.


Tiba-tiba ada tangan Argantara yang menarik dagu Shelina dengan lembut.


"Sekarang aku mau tanya sama kamu. Barusan aku udah menyatakan perasaan aku. Kalau aku sangat mencintai kamu. Aku tau ini semua ini terlalu cepat. Tapi itulah yang aku rasakan sekarang ini. Aku sangat berharap kalau kamu bisa menemani hari-hari aku. Kamu mau kan nerima aku apa adanya untuk jadi pelindung kamu? Dan aku siap untuk melindungi kamu dari bahaya apapun,”


Ucap Argantara sangat terdengar tulus yang masih memegang dagu Shelina lembut. Setelah dia selesai berbicara, baru dagu Shelina dilepaskan dari denganlembut. Ia sepertinya sangat menunggu jawaban Shelina. Karena Shelina belum juga menjawab pertanyaannya. Lalu Shelina memutuskan untuk menjawab pertanyaan Argantara dengan anggukan sembari tersenyum.


"Ya kalau aku nggak nerima, kita nggak tunangan dong, jalanin aja biarin kayak air yang mengalir,”


"Jalani? Jadi maksud kamu, sekarang kita udah berganti status?"

__ADS_1


Tanya Argantara dengan ragu. Lalu Shelina membalas kebingungan Argantara itu dengan anggukan sembari tersenyum. Shelina bisa melihat ekspresi wajah Argantara yang tiba-tiba berubah menjadi sangat sumringah.


“Lah ‘kan emang udah,”


“Ini aku nembaknya serius, Shel,”


“Iya-iya,”


"Aku seneng banget. Bisa menaklukkan hati kamu, semoga hubungan kita ke depannya makin menyenangkan ya,”


Ucap Argantara sembari menjawil dagu Shelina dan tertawa kecil.


"Iya semoga, nggak ada berantem-beranteman aamiin, beneran mau jagain aku? Janji?”


"Aku janji, Shel. Aku janji bakal selalu lindungin kamu dari bahaya apapun. Kalau perlu nyawa aku akan aku serahin untuk ngelindungi kamu. Aku nggak peduli sama nyawa dan diri aku sendiri. Aku lebih peduli sama keselamatan hidup kamu. Kamu tenang aja ya,"


Ucap Argantara dengan tulus sembari mengelus pipi Shelina. Dan membawa Shelina ke dalam pelukannya. Shelina dipeluknya dengan begitu erat.


"Dih modus kamu. Pakai peluk-peluk lagi,”


Ejek Shelina pada Argantara setelah Ia melepaskan pelukannya.


"Biarin pacar aku ini, eh tunangan bahkan,”


Ucap Argantara yang kini balik menggoda Shelina seraya mencubit pipi Shelina.


"Kamu cantik banget. Kamu sempurna. Aku beruntung banget sekarang , kamu udah milik aku. Jadi aku nggak takut lagi kalau kamu bakal di deketin cowok lain,”


Ucapan Argantara membuat Shelina terkekeh sembari mengalihkan perhatian Argantara. Karena Shelina tidak mau kalau sampai Argantara melihat wajahnya yang kini kembali merona.


"Mulai deh gombal nya. Udah ah kamu jangan bikin pipi aku tambah berubah warna lho,”


Tanpa Shelina sadari. Ucapan itu keluar dari mulutnya. Kenapa Shelina bisa mengakui kalau pipinya sedang berubah warna kepada Argantara? Oh Tuhan. Shelina kelepasan mengakui itu pada Argantara.


"Pipi kamu merona ya? Cieee ngaku nih sama aku. Jujur aku senang deh kita ngobrol kayak hini. Udah mulai biasa ya?"


"Nyebelin!! Digodain mulu"


Ucap Shelina pada Argantara sembari memasang wajah cemberut . Dan sikap Shelina itu langsung membuat tangan Argantara terpancing untuk mencubit pipi Shelina pelan karena dia gemas dengan sikap Shelina.


"Mulai sekarang ngomong nya jangan Lo gue lagi dong. Tapi aku kamu aja ya? Nggak romantis kalau ngomong lo gue,” ujar Argantara tiba-tiba, padahal selama ini mereka sudah bicara seperti apa yang diinginkan oleh Argantara.


"Ya ‘kan emang udah gitu. Kamu aja yang masih belum terbiasa. Tapi nih ya kalau mau romantis itu bukan diliat dari cara ngomongnya. Tapi dari gimana cara pasangan itu menciptakan suasana romantis di antara mereka,” Ucap Shelina.


"Cieee tunangan aku bijak banget sih ngomong nya. Jadi makin cinta,”


"Dih kamu mah, dari tadi godain aku mulu,”


Shelina kembali menunjukkan ekspresi kesal.


"Iya deh maaf tunangan plus pacar aku yang cantik. Jangan cemberut gitu dong nanti cantik nya berkurang Oh iya kamu pasti lapar kan?”


Tanya Argantara pada Shelina. Dan Shelina langsung menjawab dengan anggukan cepat. Karena memang Shelina sudah sangat lapar. Shelina hanya terkekeh melihat sikap yang seperti anak kecil ini lalu Argantara memanggil satu orang pelayan. Dengan cepat pelayan itu menghampiri kami.


"Silakan mau pesan apa?"


Tanya pelayan itu santun sembari memberi buku menu di restoran ini.


"Saya mau steak dan orange juice,"


Ucapan itu keluar dari mulut Shelina dan Argantara secara bersamaan. lalu Shelina dan Argantara saling menatap. Setelah itu tawa kecil di antara kami pun pecah. Shelina melihat pelayan itu juga tertawa kecil melihat kekompakan Shelina dengan Argantara. Keinginan kami ternyata sama.


"Kompak sekali. Mudah-mudahan kalian berjodoh ya"


Ucap pelayan itu sembari berlalu. Shelina dan Argantara saling menatap lagi mendengar ucapan pelayan itu, setelah itu tawa kami kembali pecah.


"Amin ya, Shel,"


Ucap Argantara sembari melirik pada Shelina setelah tadi tertawa. Shelina hanya mampu menahan senyumnya sambil menampilkan rona di pipinya lagi.


"Kalau mau senyum, senyum aja nggak usah ditahan. Liat tuh pipi kamu merah lagi. Aku jadi makin gemas tau,” Ucap Argantara sembari mencubit pelan wajah Shelina.


"Emang kalau gemas kenapa?" Tanya Shelina pada Argantara.


"Jadi mau peluk,”


Balas Argantara dengan santai sembari tersenyum usil.


"Dih apaan sih kamu. Dasar modus!"


Ucap Shelina pada Argantara sambil mencubit lengan dan pinggang nya. Argantara meringis kesakitan.


"Aww lumayan juga cubitan kamu, Shel,”


Ujar Argantara sembari memegang pinggang dan lengan nya yang baru saja menjadi korban dari cubitan maut Shelina. Tqk disangka walaupun kelihatannya lembut tapi Shelina cukup sakit kalau mencubit.


"Rasain aja! Lagian dari tadi ledekin aku mulu,"


Ucap Shelina pada Argantara sembari menjulurkan lidahnya mengejek Argantara. Argantara hanya terkekeh melihat itu. Kami menunggu pesanan kami dengan bersenda gurau.

__ADS_1


Tak perlu waktu lama, pesanan yang kami tunggu akhirnya datang juga. Shelina menatap makanan itu dengan tatapan lapar.


"Selamat menikmati,”


Ucap pelayan sembari meletakkan makanan kami di meja. Keduanya sudah tak sabar bersantap.


"Makasih ya, Mba,”


Ucap Shelina dan Argantara yang dibalas dengan anggukan oleh sang pelayan kemudian pelayan itu pergi dari hadapan Shelina dan Argantara.


Shelina dan Argantara langsung menyantap makanan lezat ini dengan lahap. Apalagi Shelina yang memang sudah sangat lapar.


"Pelan-pelan dong Shel makan nya," tegur Argantara yang tidak ingin tunangannya itu tersedak.


Ucap Argantara sembari membersihkan noda makanan yang terletak di sudut bibir Shelina. Perasaan Shelina menghangat mendapat perhatian yang besar ini dari Argantara.


“Udah pelan ini, ah kamu komen aja deh.


Eh ngomong-ngomong kok restoran ini sepi banget ya cuma ada kita berdua. Kamu sengaja ya booking restoran ini khusus buat kita?"


Tanya Shelina pada Argantara yang memecahkan suasana hening yang tercipta di antara kami.


"Iya aku sengaja booking restoran ini untuk kita berdua. Aku nggak mau diner kita malam ini ada yang ganggu,”


Ucap Argantara memberi Arani penjelasan. Arani terkejut mendengar Areno sampai mau membooking restoran supaya mereka bisa punya waktu berdua. Seniat itu Argantara mau menghabiskan waktu dengannya malam ini padahal tanpa membooking pun tak masalah sedikitpun.


"Berarti kalau seandainya tadi aku nggak mau kamu diajak jalan, gimana sama bookingan kamu? Nggak mungkin ‘kan kamu batalin gitu aja?"


Tanya Shelina pada Argantara dengan penasaran.


"Aku yakin kamu mau aku ajak jalan. Dan bener kan apa yang aku bilang?"


Ucap Argantara sambil menampilkan senyum percaya dirinya.


"Dih pede banget si kamu. Hhmm coba tadi aku nggak mau kamu ajak jalan. Pasti kamu kecewa kan? Ngaku deh sama aku. Kecewa kan? "


Shelina meledek Argantara sembari menunjuk wajahnya. Tapi dengan cepat tangan Shelina yang Shelina gunakan untuk menggoda Argantara kini malah di genggamnya erat.


"Iyalah pasti kecewa banget. Kalau sampai kamu tadi nggak mau jalan sama aku,”


Ucap Argantara sembari mencium punggung tangan Shelina dengan lembut.


"Udah kamu lanjutin makan nya. Nanti kita terlalu malam pulangnya,”


Ucap Argantara pada Shelina dan Shelina balas dengan anggukan. Lalu mereka lanjutkan menyantap steak mereka lagi setelah beberapa saat akhirnya selesai juga menyantap makanan ini yang sungguh lezat.


"Udah lega perutnya? Kita pulang ya? Biar kamu bisa istirahat,”


Argantara berbicara pada Shelina sembari mengelus rambutnya dengan sangat lembut. Shelina balas dengan anggukan sembari tersenyum. Matanya memang terasa sudah sangat berat. Lalu mereka berjalan menuju parkiran. Argantara membuka pintu mobilnya untuk kekasihnya itu dan mempersilahkan Shelina masuk ke dalam mobilnya. Argantara melajukan mobilnya keluar dari restoran klasik dan mewah ini menuju rumahku. Di dalam mobil hanya keheningan yang terjadi.


"Makasih ya buat malam ini. Kok kamu bisa si romantis kayak gini? Kirain kamu nggak bisa romantis,”


Hingga akhirnya Shelina memutuskan untuk memecahkan suasana hening di dalam mobil Argantara.


"Sama kamu, aku bisa ngelakuin apapun yang mampu bikin kamu bahagia,"


Balas Argantara dengan tulus sembari mengelus pucuk kepala Shelina dengan lembut dan setiap perlakuan lembut lelaki itu akan membuat perasaan Shelina menghangat.


“Aku nggak nyangka kamu bisa romantis juga ternyata, kirain cuma bisa nyebelin doang,”


“Yee enak aja. Aku bisa romantis lah. Jangan salah, aku tuh sebenarnya jago romantis lho,”


“Oh ya?”


“Iyalah, ini buktinya udah romantis ‘kan? Kata kamu romantis nggak apa yang aku lakuin tadi? Jemput kamu, terus booking restoran, cuma kita berdua doang di restoran itu,” ujar Argantara.


“Main piano, ngucapin kata-kata yang manis, ya kali itu nggak romantis,” tambah Shelina.


“Berarti romantis ya?”


“Iya dong, masih tanya,”


“Kamu beberan bahagia nggak malam ini?”


“Ya beneran lah, masa nggak beneran bahagia? Aku tuh bener-bener bahagia tau nggak sih. Karena kamu romantis banget. Nggak nyangka aja gitu Arga yang ketus dulunya ke aku, sekarang bisa romantis,”


“Eh jangan salah, aku bisa bucin juga lho,”


“Hahahaha iya tau, kan aku udah liat,”


“Dan itu karena siapa coba?”


“Hmm?” Shelina bergumam tidak tahu.


“Karena kamu lah. Kamu yang udah bikin aku bucin tau nggak sih, bahkan sampai mau ngelakuin hal-hal yang kata kamu romantis, ya contohnya kayak tadi,”


“Makasih ya, Arga. Aku berharap semoga hubungan kita baik-baik aja ke depannya, kita bisa terus saling eprcaya, saling membahagiakan satu sama lain, saling menjaga,”


“Aamiin, aku juga berharap hal yang sama. Makasih udah mau bertahan di samping aku, Shel. Walaupun aku tau itu nggak mudah untuk kamu. Aku benar-benar beruntung bisa ketemu kamu, aku bersyukur Tuhan menghadirkan kamu di hidup aku,”

__ADS_1


__ADS_2