Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 130


__ADS_3

Malam ini Argantara mengajak Shelina ke rumahnya untuk makan malam. Sebenarnya yang punya ide ini di awal adalah mamanya Argantara. Dan Argantara menyetujui. Karena menurutnya asyik juga bisa mengajak Shelina makan di rumahnya. Shelina bisa bertemu dengan sang mama dan makin akrab.


“Shel, kalau gulai suka ‘kan?”


“Suka, Tante. Makanan apapun aku suka kok,”


“Semoga aja masakan tante ini cocok ya di lidahnya Shel,”


Menu makan malam yang dibuat mama Argantara adalah gulai ayam, udang balado, dan tahu tempe goreng. Menu makanan yang rumahan seperti ini yang Shelina sering makan juga kalau di rumah.


“Sering-sering ya ke sini main sama Tante, sama Arga. Kami makan berdua terus, sepi juga sebenarnya,”


“Lain kali ajak Tante Shefia juga dong, Ar,” ujar Tina pada anak semata wayangnya yang malam ini mengajak seorang perempuan datang ke rumah untuk makan malam bersamanya. Perempuan ini sudah Tina kenal bahkan sejak kecil. Jadi tak ada canggung lagi. Dan memang sudah akrab, bahkan dengan orangtuanya juga.


“Aku udah ajakin tadi, Ma. Tapi Tante Shefia nggak bisa, soalnya mau ada acara di rumah tetangga dan Tante Shefia mau hadir,”


“Oalah, gitu. Kirain yang kamu ajak cuma Shelina aja,”


“Nggak, Ma. Aku tau mama bakal senang banget kalau Tante Shefia ikut makanya tadi aku ajakin cuma Tante Shefia mau hadir di acara tetangga,”


“Mama lupa pesan ke kamu untuk ajak Tante Shefia, untungnya kamu ingat ya,”


“Ingat, Ma. Masa iya aku cuma ngajakin anaknya doang, aku ajakin mamanya juga lah, soalnya ini mau ada mama juga, eh tapi sayang Tante Shefia mau hadir di acara tetangganya,”


“Iya mama minta maaf nggak bisa gabung katanya, Tante. Soalnya tetangga yang jaraknya dua rumah aja, ngadain acara aqiqah anaknya. Mama diundang. Mama nggak enak kalau nggak datang,”


“Ih bisa pas banget, kemarin juga Tante baru abis diundang sama tetangga ke acara aqiqah,”


“Cocok udah,” ujar Argantara seraya terkekeh. Mamanya dan juga mama Shelina sama-sama diundang ke acara aqiqah oleh tetangga mereka masing-masing. Tina diundang kemarin, sementara Shefia hari ini.


“Cocok apa nih? Cocok jadi besan? Oh kalau itu mah emang udah lama nyadar sih,”


Shelina dan Argantara terkekeh. Mendadak Kia jadi gugup ketika terlontar dari mulut Tina tentang besan. Jujur Ia salah tingkah. “Kenapa jadi bahas-bahas besan nih? Heheh,”


“Kuliahnya gimana, Nak? Lancar-lancar aja ‘kan?”


“Iya lancar kok, Tante, Alhamdulillah,”


“Gimana kamu sama Arga? Ada masalah? Kalau ada, jangan sungkan cerita ya. Arga gimana selama dekat sama kamu? Apa dia nyebelin? Atau—“


“Nggak, Tante. Arga baik kok, nggak nyebelin,”


“Nyaman sama Arga, Shel? Kalau ada yang bikin kamu nggak nyaman, atau gimana-gimana, ngomong aja ke Tante, kita berbagi cerita soal Arga, nggak masalah. Tante pengen tau dia gimana kalau sama kamu,”


“Baik, Tante, baik banget malah,”


“Mama nih curigaan aja ke anaknya. Orang udah dibilang sama Shel. Aku baik, mama nggak percayaan,”


“Bukan nggak percayaan. Supaya Shelina nggak sungkan aja kalau mau cerita ke mama soal kamu. Pokoknya apa-apa tuh cerita ke Tante ya, Shel. Eh jangan panggil Tante deh, udah lama banget kenal kok masih kayak asing ya? Panggil mama aja kalau kamu mau,”


“Iya, Tante, eh Ma. Tapi aku bingung manggil mama ke dua-duanya. Mama aku sama mamanya Arga. Itu gimana bedainnya?”


Pertanyaan polos Shelina tentu membuat Tina tertawa. Benar juga, panggilan mama untuk mamanya sendiri dan mamanya Argantara membuat Ia jadi bingung, sebab tak ada pembeda padahal status mereka beda. Yang satu mama kandung, yang satu lagi calon mama mertua.


“Ya udah panggil mama mertua aja kalau ke tante ya,”


“Astaga, ya kali ujug-ujug aku panggil begitu. Apa nggak aneh,” sahut Shelina dalam hati. Tampaknya itu panggilan yang terlalu lancang menurut Shelina, Ia tak berani memanggil Tina dengan sebutan ‘mama mertua’ walaupun Tina yang meminta.


“Panggil Tante aja dulu, Ma. Nanti kalau Shelina udah beneran jadi menantu barulah panggilan itu berlaku, okay?”


“Ah boleh lah, terserah Shelina deh gimana mau manggilnya. Atau mama punya saran lagi nih panggil ‘mama Al’ juga boleh karena nama Tante Altina, nggak ribet ‘kan?”


“Nah ya udah deh, itu aja,” ujar Shelina seraya tersenyum. Itu lebih wajar menurut Shelina. Daripada sebutan mama mertua, atau mama yang malah membuatnya bingung sebab Ia memanggil mama kandungnya alias Shefia dengan sebutan mama juga.


Selesai makan, Shelina masih terlibat obrolan dengan Argantara terutama mamanya. Sampai kemudian Shelina dipulangkan oleh Argantara pukul setengah sembilan malam.


“Maaf ya kalau seandainya masakan tante ada yang kurang, jangan kapok ya makan di sini, pokoknya harus sering-sering kalau bisa, terus jangan lupa ajak mama, okay?”


“Sip, Tante, eh Mama Al. Hehehe aku masih belum biasa,”


“Nggak apa-apa, Sayang,”


“Aku pamit dulu, makasih banyak udah ajak aku makan malam di sini, semua masakannya enak dan aku suka banget,”


“Iya, hati-hati kalian ya, titip salam buat mama kamu ya, Shel,”


“Nanti aku sampaikan. Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


Shelina masuk ke dalam mobil Argantara yang sudah siap di balik kemudinya. Usai makan malam bersama di rumahnya bersama mamanya juga, sekarang saatnya Argantara mengantarkan Shelina kembali ke rumah.


“Shelina, senang nggak?”


“Senang, malah senang banget,”


“Syukurlah, aku senang dengarnya. Lain kali sering-sering datang ya ke rumah aku, ngobrol sama mama aku. Mama tuh ngomong kesepian mulu,”


“Ya wajar lah, Ga. Mama aku juga begitu kok. Namanya juga udah nggak ada pasangan, anak cuma satu terus udah dewasa juga jadi suka sibuk sama dunianya sendiri tanpa disadari mama ngerasa kesepian gara-gara itu,”


“Mama kamu juga sering ngomong gitu?”


“Iya, kesepian mulu. Kalau udah diundang ke acara aqiqahan kayak sekarang nih, suka ngode-ngode kapan aku bikin acara aqiqah juga, suka berandai kalau udah punya cucu. Ah pokoknya mama aku tuh suka begitu deh,”


“Hahahah udah ditagihin cucu? Orang nikah aja belum ya,”


“Nah itu dia, aku bingung kadang. Kalau udah bahas cucu tuh ngode supaya aku secepatnya nikah, mungkin gitu kali maksud mama,”


“Sama ternyata kayak mama aku suka ngode nyuruh nikah kalau bisa secepatnya. Nggak maksa sih, mama tau kalau nikah tuh harus dari akunya sendiri yang ambil keputusan. Tapi mama suka nyeritain anak temennya nikah terus udah punya anak segini. Itu mungkin cuma cerita doang kali ya? Tapi aku anggapnya itu kode,”


“Iya nggak tau deh itu maksudnya cerita atau malah ngode aku juga nggak paham, emak-enak susah ditebak,” ujar Shelina seraya terkekeh.


Ketika sampai di rumah Shelina, biasanya Argantara akan langsung turun membukakan pintu mobilnya mempersilahkan Shelina turun. Akan tetapi kali ini tidak. Argantara malah menahan lengan Shelina yang hendak membuka pintu mobil dan keluar.


“Kenapa, Ga?”


Argantara diam sebentar tapi tatapan matanya dalam mengarah pada Shelina yang mengernyitkan keningnya bingung.


“Oh iya, aku belum bilang makasih. Aku lupa, maaf. Sekali lagi makasih ya udah ajakin aku makan malam, terus antar aku pulang juga seperti biasa, makasih ya,”


“Sama-sama, aku mau ngomong sesuatu makanya nahan kamu supaya nggak keluar dulu. Sebabnya bukan nungguin kamu bilang makasih, Shel,”


“Oh okay, kamu mau ngomong apa emangnya?” Tanya Kia yang benar-benar penasaran. Melihat raut wajah Argantara, Ia menebak hal yang ingin dibicarakan Argantara sepertinya hal penting. Makanya Argantara ingin mereka bicara dulu di dalam mobil.


“Maaf kalau menurut kamu aku lancang nanya ini sekarang. Kamu udah yakin mau nikah sama aku kan? Jujur, aku udah makin nyaman sama kamu, Shel. Kalau ditanya aku udah punya apa sampai berani ngajakin kamu nikah sekarang. Aku punya pemasukan dari diri aku sendiri, mungkin kamu belum tau, aku ada kafe sama bakery shop ya walaupun belum lama merintis sih. Aku bakal berusaha untuk berkembang terus, Shel. Aku yakin bisa cukupi kebutuhan kamu dengan kerja keras aku nantinya. Kalau ditanya soal cinta? Udah pasti jawabannya aku cinta sama kamu, aku bahkan takut banget kehilangan kesempatan untuk milikin kamu. Aku pengen kita sama-sama terus,”


Sejujurnya Shelina terkejut ketika Argantara bicara seperti itu. Ia tidak menyangka kalau Argantara akan membahas pernikahan secepat ini. Keberanian Argantara patut diacungi jempol juga. Ketika Argantara mengaku telah mencintai Shelina, tentang apa yang Ia punya, kemauan untuk bekerja keras dalam menghidupi Shelina, itu semua membuat Shelina tercengang untuk beberapa saat.


“Kalau memang kamu perlu waktu untuk mikirin semuanya, nggak apa-apa, Shel, aku ngerti. Aku bakal kasih kamu waktu untuk benar-benar yakin. Nikah itu ‘kan harus benar-benar dari hati,” ujar Argantara seraya tersenyum tipis memandang ke dalam manik hitam legam milik Shelina yang menatapnya tanpa ekspresi, tapi jantungnya tak aman, dan hatinya menghangat.


“Iya aku semakin yakin deh kayaknya, tapi setelah lulus kan? Kamu terus-terusan berusaha bikin aku yakin, Ga,”


“Iya, karena aku nyaman banget, serius. Rasa pengen memiliki kamu juga besar banget, bukan karena obsesi tapi sebesar itu aku cinta dan sayang sama kamu, aku nggak mau sia-siain. Kamu lagi, Shel,” ujar Argantara pada Shelina dengan nada yang lugas. Sebesar itu keinginannya untuk memiliki Shelina. Cinta sudah datang, sayang pun demikian, Argantara tidak mau menyia-nyiakan Shelina. Argantara ingin memiliki Shelina dan menjaganya dengan sepenuh hati.


“Aku pengen kita jalanin aja kayak air yang mengalir, kan udah sepakat juga kalau kita bakal nikah setelah lulus, jalanin aja dulu boleh nggak usah buru-buru?”


“Boleh banget. Biar kita sama-sama yakin. Karena hubungan pernikahan bakal kita jalanin seumur hidup jadi perlu keyakinan yang besar sebelum melangkah,”


Shelina menganggukkan kepalanya. Kalau menolak, rasanya sulit sekali untuk melakukan itu. Sebab Ia mengakui kalau dirinya juga mencintai Argantara dan nyaman bisa dekat dengan Argantara, dan ada keinginan juga untuk memenuhi keinginan orangtua mereka yang ingin mereka bersama.


“Tapi berarti kamu nikahin aku karena keinginan orangtua kita kan?”


“Jujur awalnya kayak gitu. Tapi seiring berjalannya waktu aku udah lebih mikirin perasaan yang ada di hati aku sih, dan keinginan orangtua jadi nomor dua. Jadi aku ngajakin aku nikah semata-mata bukan karena orang tua kita maunya gitu, tapi karena emang aku merasa nyambung, aku merasa klop sama kamu, dan yang paling penting aku udah cinta sama kamu,”


“Ya udah, aku masuk dulu ya. Kita jalanin aja dulu kayak air yang mengalir aja, sambil kita benar-benar merasa yakin nggak ada ragu lagi, terutama kamu nya karena kamu kan pernah nolak,”


“Iya, tapi itu kan dulu, sekarang nggak dong. Aku justru takut banget kehilangan kamu, Shel,”


“Okay, kalau gitu aku masuk rumah, kamu pulangnya hati-hati,”


“Sip,”


Shelina hampir meraih tuas pintu mobil namun Argantara melarang. “Bentar, aku aja yang bukain,” ujar lelaki itu seraya tersenyum manis hingga matanya saling menarik satu sama lain yang akhirnya terlihat menyipit.


Argantara membuka pintu mobil dan mempersilahkan Shelina keluar dari mobil. Kemudian Ia mengantarkan Shelina sampai di depan pintu rumah dan Argantara yang menekan bel supaya dibukakan dari dalam.


“Assalamualaikum,”


Argantara mencium tangan Shefia yang pakaiannya belum berganti sehabis menghadiri acara yang dilaksanakan oleh tetangganya.


“Waalaikumsalam,”


“Maaf ya, Tan, kalau lama,”


“Nggak kok, gimana makan malamnya?”


“Menyenangkan, mama pengen banget Tante gabung tadi cuma aku udah bilang kalau tante mau hadir ke acara tetangga. Mama titip salam,”


“Iya nanti lain kali ikutan deh. Ayo masuk dulu,”


“Seperti biasa, Tante. Yang penting aku udah anterin Shelina sampai rumah dengan selamat, dna udah nemuin Tante. Aku mau langsung pulang aja ya, Tan,”


“Langsung pulang terus ya kamu kalau udah anterin Shelina pulang,”


Argantara terkekeh. Mau bagaimana lagi? Ia merasa sudah tenang setelah mengantarkan Shelina sampai di rumahnya dengan selamat. Ia ingin langsung pulang ke rumah, supaya Shelina dan mamanya juga bisa istirahat, tak harus meladeni tamu yaitu dirinya.


“Maaf ya, Tante. Lain kali deh aku bakal duduk santai dulu,”


“Iya, duduk-duduk dulu, minum dulu, ngobrol dulu, ‘kan enak begitu,” ujar Shefia yang sudah mulai menyadari kalau Argantara benar-benar sudah yakin dengan keputusannya.


“Udah, sebelum aku bawa Shelina pergi pasti aku duduk dulu ‘kan, Tan. Ada aja yang Tante hidang, nah kalau pas anter Shelina balik, aku duduk lagi ya ngerepotin,”


“Lah kok ngomong begitu sih. Ya nggak lah, kayak sama siapa aja sih kamu. Nggak ada tuh istilah ngerepotin,”


“Tante selalu terima tamu dengan baik, aku nggak pernah kecewa deh kalau udah datang ke rumah, dilayani dengan ramah. Disuruh duduk, dikasih hidangan,”


“Ah bisa aja kamu,”


“Lain kali Tante gabung ya makan bareng sama aku, Shelina, dan mama,”


“Iya Insya Allah,”


“Okay kalau gitu aku pamit, makasih udah kasih izin bawa Shelina, Tan. Selamat malam, Assalamualaikum,”


Shefia tersenyum pada Argantara yang baru saja berpamitan mencium punggung tangannya.


“Waalaikumsalam, hati-hati ya,”


“Iya, Tan,”


Argantara menurunkan kaca jendela supaya Ia bisa membalas lambaian tangan Shelina dan mamanya. Ia melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Shelina dengan kecepatan yang normal sambil menghidupkan playlist lagu supaya tidak terlalu sunyi di dalam mobil. Tadi ada Shelina di sebelahnya, sekarang hanya Ia sendiri di mobil, dan takutnya Ia malah mengantuk. Kalau bersama Shelina, rasanya sulit untuk mengantuk karena mereka sesekali akan mengobrol.


“Sekarang sikap nyokapnya Shelina udah balik kayak biasanya semoga deh rasa kecewa itu perlahan mulai hilang. Gue tau gue salah dan susah untuk dimaafin, susah juga bikin orangtua Shelina yakin kalau sekarang ini gue udah benar-benar nerima perjodohan itu, tapi gue bakal berusaha ngeyakinin mereka terus,”


*****


“Kamu sama tante Tina pasti banyak ngobrol ya? Kalau mama boleh tau, ngobrolin apa aja, Shel?”


Setelah Shelina mengganti pakaian, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. Dan begitu Ia membuka pintu ternyata mamanya berdiri di depan pintu kamar dengan baju yang sudah berganti juga.


“Mama pasti mau dengerin cerita-cerita aku yang habis makan bareng sama Argantara dan mamanya ya? Okay aku bakal cerita. Ayo mama duduk di kasur aku,” ujar Shelina sambil menggenggam tangan sang mama dan mengajaknya ke ranjang.


“Mama tuh penasaran kalian ngobrolin apa sih? Ada yang penting gitu nggak?”


“Hmm nggak ada sih, Ma. Cuma ngobrol-ngobrol santai aja, Ma. Tapi Tante Tina minta aku buat panggil beliau mama Tina. Karena katanya kalau Tante kayak masih asing,”


“Oh ya? Terus apa lagi?”


“Malah tadi aku sempat disuruh manggil beliau mama mertua, dalam hati aku langsung nolak. Ya kali aku panggil beliau mama mertua, orang aku belum jadi anak mantunya, apa nggak aneh kalau aku panggil mama mertua? Sungkan aku jadinya, Ma,”


“Hahahah kamu kaku amat sih, Sayang. Tante Tina itu bercanda aja, tapi mungkin itu kode juga sih. Syukur kalau kamu nurutin, kalau nggak ya nggak apa-apa juga,”


“Tapi aku kaget aja gitu, Ma. Tiba-tiba katanya boleh panggil mama mertua. Lah, orang aku sama Arga aja belum apa-apa ‘kan. Eh iya aku mau cerita juga soal Arga tadi,”


“Kenapa tuh?”


Shefia langsung melipat kedua kakinya dna memangku boneka sang anak, Ia nampak siap mendengar cerita dari anaknya soal Argantara. Tadi tentang Tina saja sudah cukup menyenangkan untuk didengar, sekarang Shelina hendak bercerita soal Argantara. Sepertinya lebih menyenangkan lagi.


“Tadi, sebelum turun dari mobil. Argan ngajakin aku ngomong bentar,”


“Ngomong apa?”


“Dia lagi-lagi ngajakin aku nikah, Ma. Aku kaget banget. Nggak nyangka dia bakal bahas itu lagi kayak takut banget kalau aku ragu,”


“Hah? Terus apa kata kamu?”


Tak hanya Shelina saja, Indah pun ikut terkejut mendengar Argantara mengajak Shelina menikah. Tanpa diduga kalau malam ini Argantara kembali memberanikan dirinya untuk meminta Shelina menjadi istrinya.


“Aku bilang, aku udah yakin tapi aku sama dia masih butuh waktu, Ma lagipula kan pas lulus nanti rencananya. Dia nggak keberatan. Katanya dia udah duga bakal ada dua kemungkinan,”


“Bagus jawaban kamu. Memang harus dipikirkan dulu matang-matang, jangan langsung diiyakan atau ditolak. Menikah itu nggak mudah, tapi nggak sulit juga kalau dijalani nya nggak dengan enjoy. Nikmati setiap fase yang ada, pasti nikah jadi terasa menyenangkan,”


“Aku butuh waktu untuk yakinin diri aku sendiri, Ma. Ya biar nggak ada penyesalan, udah yakin sih cuma pengen benar-benar yakin aja gitu kan,”


“Dia cinta sama kamu? Dan perasaan kamu ke dia gimana?”


“Ma, dia bilang udah cinta dan sayang sama aku, dia nggak mau nyia-nyiain aku. Dan aku juga begitu, Ma,”


“Hmm rupanya kalian masih belum saling cinta ya,”


“Iya, itu salah satu alasan yang aku pertimbangkan. Kami udah saling mencintai, ya semoga aja ke depannya dipermudah,”


Shefia tersenyum ketika anaknya meminta pendapat. Ia langsung mengusap lembut pipi Shelina yang menatapnya penuh tanya. Shelina ini masih lugu sekali soal cinta, pengalamannya soal cinta atau laki-laki masih minim sekali.


“Mama doakan yang terbaik ya,”


“Tapi emang bakal baik-baik aja, Ma? Kalau nikah muda?”


“Ya itu tadi, mama bilang. Semua bakal terasa mudah, terasa menyenangkan kalau dinikmati setiap fasenya. Ada banyak pernikahan yang dimulai tanpa cinta tapi akhirnya saling cinta dan langgeng, memang benar adanya, cinta itu bisa datang karena terbiasa bersama. Tapi di realitanya, banyak juga pernikahan yang nggak berhasil karena dimulai tanpa cinta. Tinggal gimana hati kamu memilih aja. Ikutin apa kata hati kamu, Nak. Banyak kok yang nikah muda, saling cinta dulunya nggak, semuanya berjalan baik-baik aja,”


“Iya, Ma. Aku bakal pikirin matang-matang, aku bakal pahami apa kata hati aku,”


“Iya, jangan sampai salah ambil keputusan, dan di kemudian hari malah nyesal. Mama papa memang sempat pengen kamu nikah sama Arga. Terutama papanya, karena papa tuh sahabat baik papanya Arga. Tapi jangan jadikan keinginan kami orangtua ini sebagai hal yang harus kalian penuhi, dan akhirnya nggak ada pikir panjang atau pertimbangan sebelum ambil keputusan. Kalian berhak untuk nentuin mau kemana hidup kalian, mau sama siapa kalian nikah, kalian berhak untuk milih. ‘Kan memang dari awal, kami juga nggak maksa, nggak mau egois. Kami nggak mau ke depannya kamu disakiti karena penolakan, dan lain-lain. Makanya mama papa sempat kecewa sama Arga karena dia seolah nyalahin kamu, dan dia nolak kamu,”


“Iya aku ngerti kok, Ma. Kalau kalian egois mungkin sekarang aku sama Arga udah jadi suami istri, kami nggak dikasih waktu,”


“Iya karena kami tau kalian berhak untuk nentuin masa depan kalian sendiri termasuk urusan jodoh,”


“Makasih udah pengertian ya, Ma. Aku bakal pikirin dulu sebelum benar-benar ambil keputusan,”


“Iya, mama dukung apapun yang nantinya kamu pilih. Nikah sama Arga atau nggak. Semoga Allah tuntun kamu untuk ambil keputusan yang paling baik ya,”


“Tapi kalau seandainya aku nikah sama Arga, apa mama bakal senang?”


“Kalau kamu tanya soal itu, tentu aja mama senang. ‘Kan memang sempat jadi keinginan mama juga supaya Arga dan kamu nikah,”


“Tapi kalau seandainya aku nolak, apa mama bakal kecewa?”


“Nggak, Insya Allah mama ikhlas terima apapun keputusan kamu,” ujar Shefia dengan yakin seraya tersenyum manis. Walaupun sempat ada keinginan supaya Shelina dan Argantara menikah, tapi kalau Shelina tak mau bersama Argantara dan Tuhan juga merestui itu, Ia tak bisa bilang apa-apa. Ia berusaha untuk menerima itu dan yakin bahwa artinya Tuhan sudah menyiapkan laki-laki lain yang lebih baik untuk putrinya.


“Mama, makasih banyak udah ada di sisi aku terus, mama selalu aja pengertian ke aku. I love you,”


Shelina memeluk erat mamanya. Mode manjanya memang kerap datang apalagi di momen-momen seperti ini.


“Ya udah, sekarang kamu istirahat ya. Mama juga mau istirahat,”


“Malam ini tidur sama aku yuk, Ma,”


“Hmm? Beneran?”


Shelina menganggukkan kepalanya. Ia sudah rindu dengan kebiasaan tidur bersama mamanya. Dulu ketika kecil sering sekali Ia tidur di antara mama dan papanya. Menginjak remaja sampai dewasa mamanya yang sering tidur di kamarnya terutama kalau suaminya sedang melakukan sibuk bekerja alias tak bermalam di rumah.


“Okay, ayo kita tidur,”


“Selamat malam mama sayang,”


“Malam juga, Nak,”


“Eh aku belum pakai skin care, bentar ya, Ma. Cuma bentar doang kok,”


“Iya, lama juga nggak apa-apa. ‘Kan mama nggak tungguin, mama merem aja,” ujar Shefia seraya tertawa. Ia membiarkan anaknya mengurus diri.


Shelina duduk di hadapan cermin, kemudian Ia mulai menggunakan produk-produk perawatan wajah yang jumlahnya tak banyak. Tadi ketika mandi, Ia sudah membersihkan mukanya. Sekarang Ia tinggal menggunakan toner, serum, dan pelembab saja. Setelah itu Ia bergegas ke atas ranjang.


“Lho, mama katanya mau merem, kok belum?”


“Pengen bareng aja sama anak mama yang baru aja abis diajakin nikah,”


“Mama, jangan ngomong begitu, aku malu jadinya,”


“Lho, kok malu? Malah itu tandanya kamu udah dewasa, Shel. Buktinya udah ada yang dengan gentle ngajakin kamu berumah tangga, tinggal kamu pikirin lagi deh itu, mau setuju atau malah nolak,”


“Aku lagi mau timbang-timbang dulu, lagi mau minta petunjuk juga sama yang di atas,”


“Iya, Sayang. Sekarang tidur yang nyenyak aja dulu, okay? Lupakan sejenak ajakan nikahnya Arga,”

__ADS_1


Shefia mengusap kepala anaknya dengan lembut, kemudian merengkuh Shelina dengan erat. “I love you, Sayang,” ujarnya dengan lembut dan diakhiri dengan mengecup kening Shelina.


“I love you too, mama cantik,”


Malam ini mereka tidur dengan saling berpelukan. Shelina merasa tenang setelah bercerita pada mamanya, dan mendengar kata-kata yang terlontar dari mamanya.


******


“Ah elah, kenapa harus ada macet segala sih?! Gue udah telat ini. Gila banget gue tidur ya. Padahal alarm udah nyala masih aja kesiangan,”


Argantara tak henti menggerutu kesal. Ia kesal pada dirinya sendiri yang terlambat bangun hingga akhirnya gagal menjemput Shelina di rumah, padahal niatnya ingin berangkat bersama ke kampus.


“Padahal tadinya pagi ini gue pengen bareng Shelina, eh malah kesiangan. Akhirnya dia berangkat sendiri, gue berangkat sendiri. Untung aja dia nggak bareng gue. Kalau bareng, kasian banget dia bakal telat,”


Argantara macet di sekitar area stasiun kereta api. Ia muak dengan kemacetan yang harus Ia hadapi saat ini tapi mau bagaimana lagi? Salahnya sendiri yang bangun terlambat.


“Ya ampun, lelet banget ini kendaraan pada nggak jalan! Astaga, pengen terbang aja gue jadinya,”


Ia menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangan dan Ia makin gelisah. Sudah bisa dipastikan Ia terlambat masuk kelas.


“Jarang-jarang banget gue telat. Semoga aja dosennya nggak masuk, atau kalaupun masuk ya maklumin gue yang kesiangan ini,”


Kendaraan di depannya mulai bergerak lagi. Setiap ada laju walaupun sedikit, Ia akan senang. Walaupun hatinya makin tidak tenang.


Matanya fokus menatap ke depan, kemudian menatap sekitar. Lalu lintas benar-benar padat di jam seperti ini.


Tak sengaja Ia melihat sekilas seseorang yang Ia kenal, bahkan benar-benar kenal. Ia yang semula bersandar, langsung duduk tegap dengan mata yang membelalak. Tapi ketika Ia ingin menegaskan penglihatannya benar, sosok yang Ia lihat barusan sudah tidak ada lagi.


“Gue nggak salah liat? Kok ada dia?” Gumam Argantara yang masih terus mencari dengan tatapan matanya yang benar-benar fokus. Ia mencari kemana perginya perempuan itu, tapi tidak ada. Ia benar-benar hanya melihat sekilas saja.


“Tapi kalau beneran dia, kok bisa? Sejak kapan dia ada di Jakarta lagi?”


********


“Ryan, pas banget ketemu kamu di sini. Argantara telat ya masuk kelasnya?”


Shelina bersama satu orang temannya ke kafe kampus, dan tak sengaja berpapasan dengan Ryan yang hendak keluar dari kafe. Ia bertanya tentang hal yang membuatnya penasaran.


“Iya bener dia telat,”


“Oh, tapi udah datang berarti ya?”


“Udah kok, Shel. Tapi emang telat. Dia kesiangan katanya,”


“Iya, dia emang bilang ke aku, nyuruh aku duluan aja berangkatnya. Okay, makasih ya, Yan,”


Ryan menganggukkan kepalanya seraya tersneyum kemudian bergegas meninggalkan kafe sementara Shelina dan Dara, temannya, memilih untuk menempati satu meja bundar yang dekat dengan pintu kafe.


“Lo kenapa tiba-tiba nanya Arga?”


“Nggak apa-apa, penasaran aja. Ternyata dia beneran telat dong, Astaga. Bisa-bisanya telat. Untung aku nggak bareng dia sih,”


“Kalau lo bareng dia, kalian bisa telat bareng,” ujar Dara seraya tertawa.


Shelina bertanya pada Ryan, karena Ia ingin memastikan Argantara tetap masuk, meskipun terlambat.


Ahelina merasakan getaran di saku celananya. Ponselnya bergetar dan ternyata ada pesan masuk dari Argantara.


-Aku lagi di kelas, kamu lagi ngapain? Jangan lupa makan kalau belum makan, Shel-


Shelina menggelengkan kepalanya pelan. Argantara masih saja menyempatkan waktunya mengirimkan pesan, di sela Ia fokus mendengarkan materi yang dipaparkan oleh dosen.


-Aku lagi di kafe. Makasih udah ingetin. Fokus dengerin dosen ya, Ga-


-Ok sip. Di kafe sama siapa, Shel?-


-Teman aku, Ga-


Shelina hampir menyimpan ponselnya. Ia pikir jawabannya itu sudah cukup bagi Argantara tapi ternyata Argantara mengirimkan pesan berisi pertanyaan lagi.


-Temen kelas? Siapa?-


-Dara-


-Oh, nggak kenal. Hehe. Ok, udah dulu ya-


Shelina mendengus pelan. Sudah tahu tidak kenal dengan teman-temannya, tapi masih saja bertanya.


“Shel, lo sama Arga beneran belum pacaran?”


“Beneran, Dar. Emang kelihatannya pacaran? Perasaan tadi kamu udah sempat nanya deh,”


“Asli, gue susah percaya sih. Soalnya kalian keliatan deket, sering berangkat bareng, pulang juga bareng,”


“Ya itu karena aku diajak aja sama Arga, kebetulan aja kelasnya barengan, terus abis kelas juga barengan,”


“Tapi kalian cocok tau,”


“Hadeh, jangan mulai deh. Cocok gimana maksudnya?”


“Cocok, kayaknya jodoh,”


Shelina tersenyum menanggapi ucapan Dara. Menurut orang yang sering melihat kebersamaan Argantara dan Shelina, pasti sudah untuk percaya bahwa mereka itu bukanlah sepasang kekasih, tapi bertunangan.


“Aku harus Aamiin, atau gimana nih?”


“Aamiin lah, dia ‘kan ganteng, kelihatannya juga baik. Dia gimana ke lo? Pasti lo punya penilaian sendiri,”


“Ya emang dia baik, ramah, rajin menabung, dan tidak sombong,”


Mendengar jawaban Shelina yang tentu sedang berkelakar, langsung mengundnag decakan kesal dari mulut Dara. Ia bertanya serius, tapi Shelina menjawab dengan candanya.


“Heh, gue tuh tanya beneran!”


“Iya beneran, dia baik kok,”


“Terus tadi ngapain ngomong rajin menabung, dan tidak sombong segala? Hah? Jawaban lo aneh bener,”


“Hahahah maaf-maaf, sengaja aku bercanda supaya kita santai dikit dulu,”


“Udah santai, Shel. Tinggal lo jawab doang ribet amat ah,”


“Iya, Arga baik, Dar,”


“Udah pernah ngajakin lo pacaran? Masa iya sih udah pulang pergi sering bareng tapi nggak mau lebih dari teman, tunangan doang gitu ya?”


“Ya itu kan udah lebih dari teman, gimana sih?”


Shelina memijat keningnya sebentar sebelum menjawab. Tidak hanya sekedar mengajak pacaran, Argantara bahkan sudah mengajaknya untuk menjejaki kehidupan pernikahan.


“Eh kok nggak jawab? Wah jangan-jangan kalian tuh sebenernya udah pacaran ya? Tapi masih nggak mau publish?”


“Ih, ngapain diam-diam? Emang nggak pacaran, Dar,”


“Ya udah, pacaran dong,”


Shelina menghela napas pelan. Alih-alih menanggapi ucapan Dara, Shelina malah memesan makan juga minum.


“Kalau lo lacaran, apalagi nikah, jangan lupa undang gue ya, Shel,”


“Iya, tenang aja. Nama kamu nggak akan ketinggalan,”


“Yeayyy okay, nggak sabar banget,”


“Nggak sabar apa?”


“Nggak sabar diundang sama lo, Shel,”


“Aku undang ke acara ulang tahun aku deh nanti,”


“Erghh bukan itu! Diundang ke acara nikah,”


“Nikahan aku?”


“Ya iyalah, Shel. Masa ke nikahan Pak Bastian dosen kita? ‘Kan nggak mungkin. Ngomong-ngomong dosen kita yang ganteng dan masih muda itu mau kawin noh,”


“Iya aku udah dengar kabar-kabarnya. Kamu diundang?”


“Nggak, kayaknya dia nggak ngundang mahasiswa deh,”


“Yah galau, cari yang lain aja, Dar,”


Shelina meledek Dara yang menaruh rasa kagum terhadap dosen mereka yang usianya masih terbilang muda dan memiliki paras yang tampan. Mereka dengar tak lama lagi dosen itu akan menikah. Kia tidak ingin Dara malah gundah gulana. Makanya Ia suruh untuk cari yang lain.


“Iya, nggak demen-demen lagi deh gue sama tu dosen. Udah mau kawin soalnya, ngeri banget macam-macam sama laki orang. Lo kapan nyusul Pak Bastian?”


“Ya udah besok,”


“Besok-besok, di kata nikah tuh mainan kali bisa dadakan mulainya,”


“HAHAHAH,”


*****


Malam ini, Shelina diundang oleh teman semasa SMP nya untuk datang ke acara ulang tahunnya. Shelina sudah sepakat dengan teman-teman SMP nya termasuk Lara teman yang paling dekat dan masih berkomunikasi dengannya sampai saat ini, untuk menghadiri acara ulang tahun Caca.


Shelina dijemput oleh Lara yang berpikir setelah Ia sampai di rumah Shelina, gadis itu sudah siap. Ternyata belum, karena Shelina ketiduran sebentar. Usai menjalankan ibadah sholat Isya bersama mamanya, Shelina masuk ke kamar dan malah terlelap, alih-alih bersiap. Begitulah Shelina kalau diajak keluar malam. Selalu tak ada semangat, bawaannya ingin tidur saja. Ingin menolak, Ia tak enak hati pada temannya yang sedang berulang tahun itu, dan mamanya juga selalu mendorong Ia supaya mau keluar rumah, mengingat Ia memang anak yang kurang bergaul dengan dunia luar. Setiap hari kerjaannya hanya keluar rumah untuk kuliah, selepas kuliah langsung masuk ke dalam rumah, dan menghilang di kamar sibuk dengan dunianya sendiri yaitu belajar atau mengerjakan tugas, membaca novel, ataupun menonton drama.


“Maaf lama ya, Lar. Aku soalnya baru banget siap-siap,”


“Iya nggak apa-apa kok, tapi lo sebenarnya ingat atau nggak kita bakal pergi ke partynya Caca?”


“Ingat, cuma aku tuh sempat ketiduran tadi. Biasa lah, agak malas-malasan kalau mau keluar rumah malam-malam begini, enaknya emang tidur, Lar,”


“Gue nggak akan biarin lo tidur sih. Kalau seandainya tadi sampai sini gue tau lo masih tidur, gue bakal bangunin lo, Shel. Gue gedor pintu kamar lo sampai jebol, Shel,”


Shelina tertawa membayangkan betapa kesalnya Lara bila seandainya Ia belum siap dan malah tidur. Sudah ada dalam bayangannya juga ketika Lara menggedor pintu kamarnya supaya tidurnya terganggu.


“Jangan dong,ara. Bahaya, ntar kalau kamar aku nggak ada pintunya ‘kan repot,”


“Ya udha ayuk buruan kita capcus. Nyokap lo mana? Pamit dulu kita,”


“Di kamar, tadi abis bangunin aku langsung masuk kamarnya. Aku panggil dulu sebentar ya,”


Lara menganggukkan kepalanya. Ia membiarkan Shelina bergegas ke kamar orangtuanya sementara Lara masih bertahan di ruang tamu.


Ketika Shelina membawa mamanya, Ia langsung beranjak berdiri dan tersenyum hendak berpamitan.


“Tante, berangkat dulu ya,”


“Iya, kalian hati-hati ya,”


Shelina dan Lara mencium tangan Shefia yang mengantarkan mereka hingga ke halaman. Indah tak lupa berpesan pada Shelina agar memberitahu dirinya bila Shelina sudah sampai di tempat tujuan, dan Shelina tidak pulang terlalu larut. Walaupun Ia malah mendorong Shelina supaya pergi, tak banyak diam di rumah, tapi Ia ingin Shelina tidak pulang terlalu malam karena itu membuatnya khawatir apalagi mengingat anaknya juga jarang sekali keluar malam hari.


“Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


Shelina dan Lara pergi dengan menggunakan mobil Lara tentunya. Nanti ketika pulang, Shelina akan diantar oleh Lara.


“Lar, ini acaranya dimana sih?”


“Kayaknya kafe deh,”


“Udah banyak yang datang?”


“Iya, udah lumayan rame,”


“Tapi kita nggak telat ‘kan ya?”


“Nggak, mudah-mudahan kita sampai sebelum Caca make a wish dan tiup lilin ya,”


“Iya, nggak enak kalau telat,”


“Lo dandannya cepat sih, Shel. Makanya kita nggak telat, semoga. Walaupun lo ketiduran tapi lo dandannya cepat, njir. Nggak kayak gue bisa sampai satu jam setengah gue dandan,”


“Nggak apa-apa, namanya juga perempuan ‘kan, wajar aja kok,”


“Makanya gue harus cari suami yang sabar, Shel. Soalnya dalam hal dandan aja gue mancing emosi, mesti nunggu satu jam setengah baru kelar lo bayangin dah tuh, kudu sabar emang kalau sama gue,”


“Aku yakin nanti pasangan kamu sabar kok. Emang ada orang yang perlu waktu lama buat siap-siap, ada yang nggak, ada juga yang sedang aja. Ya pokoknya macam-macam lah tipe orang itu,” ujar Shelina yang tak mempermasalahkan kebiasaan temannya yang suka lama bila berdandan. Menurut Shelina itu hal wajar. Karena memang setiap manusia itu punya kebutuhannya masing-masing. Ada yang butuh waktu sebentar untuk berdandan, ada yang lama. Tidak bisa disamakan antara manusia yang satu dengan yang lainnya.


“Itu kalau make up ke acara-acara resmi gitu sih, Shel. Kalau make up daily mah lebih bentar,”


“Iya wajar, kondangan ‘kan jarang-harang ya, jadi mesti perfect, kayak kamu malam ini nih, cantik banget ya ampun,”


Shelina tak segan memuji Lara yang malam ini mengenakan dres cantik yang begitu pas di badan Lara. Dres berbahan satin, dengan tapi kecil yang menggantung di kedua bahunya membuat Lara tampak seksi dan anggun malam ini.


“Lo baju baru ya?” Tanya Lara seraya melirik Shelina. Sebenarnya ketika pertama kali melihat Shelina tadi, Ia menebak dalam hati. Baju yang Shelina pakai sepertinya masih baru.


“Hah? Iya ini baju baru,” jawab Shelina dengan gugup, dan sempat diam dulu tadi sebelum menjawab.


“Serius? Gue padahal nebak aja lho, tapi emang keluatan sih barunya,”


“Iya beneran,”


“Beli dimana, Shel? Cantik lo pakai itu,” kali ini gantian Lara yang memuji Shelina. Malam ini Shelina mengenakan gaun yang lengannya hingga siku. Di bagian dada, ada pita berukuran kecil, dan di pinggang ada tali yang sengaja Shelina ikat sehingga membentuk badan Shelina yang memang ramping.


“Nggak tau beli dimana,”


“Lah, gimana ceritanya lo nggak tau baju yang lo pake sekarang beli dimana. Emang bukan lo yang beli? Atau lo lupa?”


“Ini tuh dikasih orang, Lar,”


“Oalah, pantesan. Gue penasaran, siapa yang ngasih?” Tanya Lara setelah itu terkekeh kecil. Penasaran terhadap Shelina menyenangkan juga ternyata. Ia makin dibuat penasaran karena tadi Shelina sempat gugup tak langsung menjawab.


“Bagus nggak?”


Alih-alih menjawab, Shelina malah bertanya pada temannya yang masih fokus mengemudikan mobilnya itu.


“Ya bagus lah, gue suka dan gue penasaran lo dikadoin siapa? Beneran dikadoin?”


“Iya beneran kok, Lar. Ini emang dikadoin sama Argantara,”


“Oh gitu, dari Arganta? Kenapa nggak langsung ngomong aja sih? Lo mah sengaja bikin orang penasaran aja nih, lo ngomongnya tuh jangan setengah-setengah,”


“Emang aku ngomong setengah-setengah?”


“Iya lah, lo harusnya langsung bilang itu dari Arga,”


“Ya deh, aku agak ragu mau bilang,”


“Lho, emang kenapa?”


“Takut diledekin kamu. Soalnya kamu tuh iseng ‘kan,”


“Iseng gimana maksudnya?”


“Iya nanti aku diledekin, cie-cie dibeliin Arga. Kamu tuh suka nyebelin, Lara,”


“Cie dikasih baju sama Arga,”


Lara langsung mewujudkan apa yang ada di benak Shelina. Akhirnya membuat Shelina tertawa. Ia sudah menduga reaksi Lara akan seperti itu makanya Ia sempat ragu hendak jujur atau tidak.


“Dalam rangka apa Arga ngasih baju ke lo, Shel?”


“Nggak dalam rangka apa-apa sih, dia mendadak ngasihnya. Aku juga bingung, padahal aku nggak lagi ulang tahun,”


“Ya mungkin dia emang pengen aja kasih kejutan buat lo, ngomong-ngomong keren sih bajunya. Cocok buat lo yang karakternya tuh nggak neko-neko,”


“Makasih pujiannya, Lara. Kamu juga cantik banget malam ini. Aku sampai nggak bisa berkata-kata tau,”


“Ah lebay lo mah. Gue nggak ada apa-apanya dibanding lo, Shel. Aku mah apa atuh, aku cuma butiran debu,”


“Ih kamu tuh yang omongannya lebay. Emang aku udah sehebat apa? Setinggi apa sampai kamu anggap diri kamu itu butiran debu? Jangan gitu ah,”


Mobil Lara tiba dengan selamat di area parkir. Shelina mengernyit ketika melihat ke dalam tempat yang menjadi tempat tujuannya bersama Lara.


“Lara, ini sih bar, bukan kafe,”


“Iya ya, tulisannya begitu tuh,” ujar Lara seraya menunjuk nama bar yang benar-benar berukuran besar sehingga dengan mudah mereka baca.


“Kayaknya ramai ya, Lar,”


“Iyalah, bar emang kebanyakan ya ramainya di malam,”


“Kamu yakin mau masuk? Aku jujur mala sbanget tau, mendingan tidur deh tapi nggak enak udah diundang sama Caca,”


“Yakin lah, ayo kita masuk. Udah sampe nih, Ku. Masa iya kita mau balik lagi? Sia-sia aja kita ke sini. Kita cuma bentar aja yang penting udah nampakkin muka, sebagai tanda bahwa kita hargai undangan ulang tahunnya Caca,”


“Okay deh, tapi benerna ya kita nggak lama, cuma bentar aja,”


“Iya, Sayang. Tenang aja, yang penting kita udah hadir diliat sama Caca. Kuy kita masuk,”


Lara membuka pintu mobil setelah melepas seat belt yang mengungkung badannya sejak tadi. Disusul oleh Shelina yang ragu ingin masuk. Tapi kalau dipikir-pikir percuma juga Ia datang kalau seandainya tak jadi masuk.

__ADS_1


“Lar, pelan-pelan aja dong, jangan pisah dari aku,” ujar Shelina pada Dara yang hendak berjalan lebih cepat di depannya. Lara antusias menghadiri acara ulang tahun Caca. Sekentara Shelina sendiri berkebalikannya. Mengetahui bahwa acara berlangsung di bar, malam hari, dengan pengunjung yang lumayan ramai, dan kebanyakan tidak dikenal Caca tentunya membuat Shelina jadi semakin malas, inginnya berbaring saja di atas tempat tidur.


“Cie bucin banget sama gue sampai nggak mau ditinggal, tangan gue dipegang,” ujar Lara meledek Shelina yang menggenggam erat tangannya sebelum berjalan masuk ke dalam bar.


“Santai aja, Shel. Semua aman kok, tenang aja ada gue,”


“Iya okay, makasih ya,”


“Susah emang pergi sama orang yang jarang banget keluar rumah, apalagi malam, udah gitu ke bar pula,”


“Kita langsung cari Caca yuk supaya ngucapin langsung sama dia gitu,” ujar Shelina setelah memasuki bar yang musiknya lumayan keras dan itu cukup mengganggu diri Shelina.


“Caca!”


Caca langsung menolehkan kepalanya. Dan Ia tersenyum lebar melihat kedatangan Shelina dan Lara untuk menyapa mereka.


“Caca, happy birthday ya. Semoga apa yang kamu harapkan di usia yang baru ini tercapai ya,”


“Aamiin, makasih banyak udah datang, Shel, Lar,”


“Yoi, ternyata di bar yak. Tadi si Shelina sempat ragu tuh, masuk atau nggak,”


“Kenapa ragu, Shelina? Aman kok, tenang aja. Sengaja milih ini supaya kita bisa party bareng-bareng dan tempatnya luas gitu,”


“Iya, agak kaget aja ternyata acaranya di bar,”


“Iya, gue ngikutin sukanya teman-temannya aja, Shelina. Ada yang hobi banget party. Nah kebetulan barnya juga besar jadi enak buat party,”


“Lo mau minum apa, Shelina?” Tanya Lara pada temannya yang malam ini pergi ke bar bersamanya untuk menghadiri acara ulang tahun Caca.


“Eh iya, buruan ambil minum, makanan, have fun pokoknya ya,” ujar Caca seraya merangkul bahu keduanya kemudian pergi.


“Aku mau air putih aja,” ujar Shelina.


Pernah diingatkan sekali oleh Argantara mengenai dirinya yang tak boleh sembarangan menyeruput minuman, apa lagi ini lagi ada di acara party.


“Hah? Air putih? Nggak mau nyobain dikit yang bikin nge-fly?”


“Nggak ah, aku nggak mau yang aneh-aneh, aku mau air putih aja, Lar,”


“Ah payah, udah gede belum sih? Masa ke party minumnya air putih?”


Lara meledek Kia terus. Tapi Shelina tetap saja ingin air putih. Lara tertawa dan akhirnya merangkul bahu Shelina yang punya prinsipnya sendiri.


“Okay, gue juga maunya air putih aja,”


“Yeee sama aja kamu nih, segala ngeledekin aku,”


“Iya, nggak demen yang aneh-aneh, eh tapi kalau ada jus gue mau jus,”


“Ya udah, ayo kita ambil minum,”


“Gue aja, lo duduk gih, cari tempat sana,”


“Makasih ya,”


Lara menganggukkan kepalanya. Shelina bergegas ke meja untuk mengambil air minum sementara Shelina mencari tempat.


Shelina memilih salah satu sudut untuk menjadi tempatnya dan Lara duduk. Shelina mengamati suasana sekitar. Disaat orang sibuk mengobrol, ada juga yang menggerakkan badan mereka seirama dengan musik yang ada.


“Aku malah ngantuk, mereka keliatannya malah semangat banget,”


Shelina menyatukan kedua tangannya di atas meja untuk menjadi tumpuan keningnya. Ia memejamkan mata sejenak. Nampaknya Ia akan bicara pada Lara, setelah minum, Ia ingin langsung pulang saja. Karena rasa kantuknya makin bertambah. Tadi di perjalanan sempat hilang sekarang malah mengantuk lagi.


“Eh Shel, nih air minum sama blackforest cake buat lo,”


Shelina langsung menatap Lara yang baru saja datang membawa dua gelas minuman juga dua piring kecil blackforest cake untuk dirinya sendiri dan juga sang teman, Shelina.


“Woah, makasih ya, Lara,”


“Sama-sama, lo suka sama kue ini ‘kan?”


“Suka kok, makasih udah diambilin,”


“Iya, bilang makasih sekali lagi, gue kawinin lo sama Arga,”


“Heh ngomong apa sih?”


Lara tertawa lebar melihat pelototan tajam Shelina. Tanpa rasa bersalah Lara menyantap blackforest di depannya.


“Ya ‘kan lo sama Arga emang deket, mau nikah malah kayaknya,”


“Ya tapi nikah aja belum, udah ke kawin aja ngomongnya. Kamu kejauhan, Sayang,”


“Duh dipanggil sayang. Seneng bener dengarnya,” ujar Lara seraya mengedipkan kedua matanya bergantian.


“Eh ngomong-ngomong, lo udah bilang Arga kalau lo ke sini sama gue?”


“Nggak, dia lagi sibuk mungkin. Terakhir kali chatingan pas pagi. Dia ngajakin aku berangkat bareng tapi dia nya kuliah pagi, nah aku kuliah siang, nggak jadi deh,” ujar Shelina bercerita terakhir kali Ia berkirim pesan dengan Arga adalah tadi pagi ketika Argantara mengajaknya untuk berangkat bersama ke kampus. Tapi Ia menolak karena kelasnya siang, sementara Argantara pagi. Akhirnya mereka tidak jadi berangkat ke kampus bersama.


“Dia lagi sibuk sama tugasnya kali,”


“Lo nggak chat?”


“Nggak, ngapain? Biarin aja dia fokus, aku nggak mau ganggu,”


“Tapi kalau ternyata dia nungguin lo yang hubungin duluan, gimana?”


“Nggak lah, Lar. Aku nggak mau ganggu Arga. Dia tuh mungkin lagi sibuk ngerjain tugas, atau lagi ada urusan. Kalau dia udah nggak sibuk dan emang ada perlu sama aku, ada yang mau diomongin, pasti dia bakal hubungin aku kok,” ujar Shelina yang enggan menghubungi Argantara karena Ia berpikir Argantara sedang sibuk makanya belum mengirimkan pesan, ataupun menelponnya. Terakhir kali tadi pagi mereka berkomunikasi.


“Kita pulang yuk, aku nggak mau lama-lama, aku ngantuk,”


“Bentar, gue mau abisin kuenya, lo nggak abis?”


“Aku kenyang,”


“Ah elah, lo diet ya? Jangan diet, Shelina. Lo tuh udah perfect, ngapain diet lagi sih?”


“Astaga, aku nggak diet, emang aku udah kenyang. Sejak kapan aku diet? Aku makan apa aja yang aku pengen, jajan ya jajan aja nggak mikirin ini itu,”


“Tapi tetap aja badan lo segitu, nggak berubah,”


“Hai, boleh gabung nggak?”


Shelina dan Lara menoleh ketika dihampiri oleh seorang lelaki yang berdiri menatap mereka berdua dan meminta izin sebelum bergabung di meja yang sama dengan mereka.


Shelina dan Lara saling menatap satu sama lain. Lara yakin temannya itu tak akan menjawab, Ia yang disuruh bersuara oleh Shelina mengingat Shelina orangnya memang tak banyak bicara kalau dengan orang baru, akhirnya Lara yang mempersilahkan.


“Boleh dong, duduk aja,” kata Lara.


“Temannya kuliahnya Caca?”


“Teman SMP, lo sendiri?”


“Teman main aja. Oh iya kenalin, gue Rangga,” ujar lelaki itu seraya mengulurkan tangannya memperkenalkan dirinya kepada Shelina dan Lara.


“Shelina,”


“Gue Lara,”


“Okay, Shelina, Lara. Kalian berdua sama-sama teman smp nya Caca?”


“Yup, betul banget. Llo juga teman sekolah Caca?”


“Gue kenal Caca dari zaman SMP, tapi teman main aja kok,”


“Oh gitu, okay. Udah ketemu Caca nya?”


“Udah kok, kalian baru datang atau gimana?”


“Nggak baru juga sih, ini udah mau balik,”


“Yah, ntar-ntaran aja. Ngobrol dulu, masa gue baru duduk, kalian langsung pulang? Nggak enak nih gue jadinya. Gue ganggu kalian ya?”


“Eh Astaga, nggak sama sekali, lo kok ngomong gitu. Emang kita mau pulang ini,”


Ketika Lara bicara dengan Rangga, Shelina meraih ponselnya yang berdering sekali. Ada panggilan dari Argantara yang sengaja Shelina akhiri. Tapi Shelina mengirimkan pesan. Shelina tidak enak kalau bicara di telepon sementara Ia sedang bersama Lara dan Rangga. Kalau Ia harus menyingkir sebentar untuk menerima panggilan Argantara, Shelina terlalu malas untuk beranjak sendirian. Ia ingin beranjak meninggalkan teman duduk kalau Lara juga melakukannya.


-Ga, aku lagi di acara ulang tahunnya Caca temen aku. Maaf ya nggak bisa angkat telepon kamu dulu- begitu isi pesan yang dikirimkan oleh Shelina kepada Argantara.


-Hah? Kamu ada dimana sekarang? Udah malam nih, hati-hati ya. Baliknya gimana?-


-Aku sama Lara kok. Aku di Nightlife bar, Ga-


-Aku jemput ke sana-


Shelina mengerjapkan matanya ketika membaca pesan itu dari Argantara. Setelah beberapa jam mereka lalui tanpa ada komunikasi sama sekali. Sekarang tiba-tiba Argantara menanyakan keberadaannya kemudian langsung mengutarakan bahwa dirinya akan menjemput Shelina.


Dengan cepat Shelina mengirimkan pesan yang tentunya berisi penolakan. Ia tidak mau Argantara menjemputnya. Seharusnya Argantara istirahat, lagipula Ia akan pulang dengan Lara.


-Eh nggak usah, Ga-


Pesan Shelina itu hanya dibaca saja oleh Argantara yang tak memberikan balasan apapun. Shelina mendengus pelan. Perasaannya mengatakan Argantara sudah bergegas ke tempat ini. Artinya Ia harus menunggu Argantara sampai Argantara datang. Kalau Ia tiba-tiba pulang, dan Argantara sampai sini Ia tak ada lagi, kasihan Argantara. Kedatangannya sia-sia.


-Aku otw-


Shelina menghela napas pelan setelah mendapatkan pesan singkat dari Argantara. Benar dugaan Shelina. Argantara akan datang.


Lara dan Rangga juga kebetulan jadi banyak mengobrol. Shelina malah menjadi pendengar saja. Beberapa menit kemudian Lara baru ingat kalau seharusnya Ia dan Shelina tidak lama-lama di tempat itu. Shelina tadi sudah berkata bahwa dirinya mengantuk.


“Ayo balik, Shel,”


“Serius mau balik?” Tanya Rangga pada mereka berdua.


“Lara, Argantara bilang mau ke sini,” ujar Shelina dengan senyum meringis pada Lara. Sejujurnya Ia tak enak. Sebelumnya Ia dan Lara sudah sepakat untuk berangkat dan pulang bersama, tapi sekarang tiba-tiba Argantara datang hendak menjemputnya.


“Dia mau jemput lo, Shel?”


“Iya, kamu pulang sendiri sekarang, nggak apa-apa?


“Oh ya udah, gue tungguin lo sampai dijemput,”


“Serius? Nggak apa-apa kalau mau pulang duluan,”


Sebenarnya Shelina berat sekali bila harus ditinggal oleh Lara. Tapi Ia tak mungkin egois membiarkan Lara di sini bersamanya sampai Argantara datang sementara Lara mungkin sudah ingin pulang ke rumahnya.


“Nggak apa-apa, santai aja. Gue tungguin sama Argantara datang jemput lo,” begitu kata Lara yang membuat Shelina tersenyum. Lara ternyata tetap ingin menemaninya sampai Argantara datang, dan Ia senang karena hal itu.


“Sorry, Argantara siapa?”


“Itu tunangan Shelina,” ujar Lara yang langsung membuat salah satu alis Shelina menukik. Yang ditanya adalah dirinya tapi yang jawab Lara. Tidak masalah setidaknya Shelina tidak perlu buka mulut karena sudah ada yang mewakilkan.


“Oh tunangan. Kirain teman kalian yang mau gabung juga di sini,”


“Nggak-nggak, dia tunangngan Shelina, mau jemput Shelina di sini. Tadinya Shelina mau pulang sama gue cuma kalau cowoknya mau jemput ya nggak apa-apa. Mungkin Arga khawatir kali kalau biarin Shelina pulang sama gue,”


“Ih nggak gitu, Lara. Padahal aku udah bilang sama kamu tapi dia tetap aja,”


“Iya mungkin dia bakal tenang kalau lo dijemput sama dia, lo nggak balik sama siapa-siapa,”


“Shelina satu kampus sama kalian?”


“Sama Shelina,”


“Oh, kenal di kampus sama Arga ya, Shel?” Tanya Rangga pada Shelina yang sedari tadi banyak diam.


“Iya, Rangga,” ujar Shelina menjawab pertanyaan lelaki yang ada di depannya itu.


“Oh, udah berapa lama pacaran, Shelina?”


“Udah mau nikah mereka, Ga, usah nggak usah ditanya lagi kapan pacarannya,” ujar Lara yang tak hanya membuat kaget Rangga, Shelina juga ikut kaget mendengar ucapan Lara. Yang ditanya oleh Rangga adalah dirinya, tapi yang menjawab malah Lara. Lagi-lagi Lara jadi perwakilan. Tadi mengatakan bahwa Argantara itu tunangannya, barusan mengatakan sudah mau menikah padahal kenyataannya masih nanti.


“Oh? Serius udah mau nikah? Wuih selamat ya, semoga lancar,”


“Makasih lho doanya, Ga. Temen gue ini bentar lagi lepas status single,”


“Nah kalau lo sendiri gimana, Lar?” Tanya Rangga lagi, tapi kali ini Ia melontarkan pertanyaan itu kepada Lara.


“Gue? Belum ada tanda-tanda nih,” ujar Lara seraya terkekeh. Rangga menatap dengan dua sorot mata yang tidak percaya.


“Serius nih? Masa iya belum ada tanda-tanda? Tapi pacar udah ada ‘kan?”


“Pacar juga belum ada, Ga,”


Akhirnya mereka lanjut mengobrol sampai kemudian Shelina mendapatkan panggilan dari Argantara yang sudah tiba di tempat tujuan.


Argantara tidak membiarkan Shelina pulang seorang diri ataupun bersama temannya, entah kenapa Ia ingin memastikan sendiri Shelina tiba dengan selamat atau baik-baik saja di rumah.


Shelina langsung menggeser panel berwarna hijau menerima panggilan dari tunangannya yang menurutnya cepat juga sudah sampai.


“Halo, Shel. Aku udah sampe. Kamu di dalam ‘kan?” Tanya Argantara pada Shelina yang kaget tiba-tiba Argantara sudah tiba. Secepat itu, menurut Shelina.


“Arga terbang apa gimana?” Batin Shelina.


“Shel, dengar aku suara aku ‘kan? Musiknya lumayan ganggu ya,” ujar Argantara yang merasa risih dengan suara musik.


“Iya emang lagi ada musik di sini. Ya udah aku aja yang nyamperin kamu. Tunggu di luar aja ya,”


“Eh nggak usah, kamu bilang aja dimana meja kamu?”


“Nggak, aku aja yang keluar. Tunggu ya pokoknya,”


Sudah datang menghampirinya saja, Shelina sangat berterimakasih pada Argantara. Ia tinggal menghampiri Argantara saja, supaya Argantara tak perlu masuk ke dalam bar. Sehingga mereka bisa cepat pulang.


“Udah datang si Argantara?”


“Udah, ayo kita pulang, Lar,”


“Okay, kuy balik,”


“Rangga, gue sama Shelina pamit pulang duluan ya,” ujar Lara.


“Eh bareng, gue juga mau balik aja,”


“Oh gitu? Ya udah ayo, tapi lo balik sendiri ‘kan? Nggak nebeng gue atau Shelina?”


“Ya kali, nggak dong, Lar. Gue pulang sendiri kok, tenang aja. Gue bawa mobil, Lar. Gue nggak bakal nebeng sama lo atau Shelina,”


“Hahahah bercanda, Ga. Jangan baper ya,”


“Nggak, santai aja. Gue nggak baper, cuma ngejelasin soalnya gue pikir lo tuh curiga gue bakal nebeng padahal mah nggak sama sekali. Gue bawa mobil,”


“Kenapa ikutan pulang?”


“Nggak mau lama-lama, apalagi kalian juga pulang. Teman ngobrol jadi nggak ada deh,”


“Lah ‘kan masih banyak orang, Ga,”


“Nggak ah, gue juga niatnya doang nggak mau terlalu lama,”


“Oh mau kencan sama gebetan ya?”


“Sok tau, Lar. Lo tuh sok tau,”


Lara tertawa mendengar sahutan Rangga yang ikut berjalan keluar dari bar bersama Lara dan juga Shelina yang hendak pulang.


Shelina langsung melambai singkat ke arah Argantara yang berdiri di dekat mobilnya. Argantara akhirnya melihat Shelina. Tadinya mau bergegas masuk ke dalam bar, karena takutnya kalau menunggu Shelina keluar bar malah lama. Tapi ternyata tidak, setelah mereka bicara di telepon, tak lama kemudian Shelina keluar dari bar.


“Gue langsung ya,”


“Okay, bye. Ati-ati, bro,” ujar Lara pada Argantara yang membelokkan langkah ke arah mobilnya. Shelina hanya melambai singkat pada Rangga kemudian melanjutkan langkah mendekati Argantara, begitupun Lara yang langsung bergegas ke mobilnya sendiri.


“Siapa itu, Shel?” Tanya Argantara begitu Shelina berdiri di hadapannya.


“Rangga, baru ketemu tadi,”


“Oh bukan teman kamu?”


“Bukan, temannya Caca. Baru ketemu tadi,”


“Ya udah ayo pulang,”


Argantara membuka pintu mempersilahkan Kia untuk masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu Argantara menyusul masuk ke mobil juga. Argantara duduk dibalik kemudi. Tak lupa Ia mengingatkan Shelina untuk menggunakan seat belt.


Setelah itu Argantara mulai melajukan mobilnya meninggal bar. Shelina tidak menduga kalau pulang dari bar Ia malah pulang dengan orang yang berbeda. Awalnya hendak pergi dan pulang dengan Lara tapi kenyataannya Ia malah pulang dengan Argantara.


“Kamu udah lama di sana, Shel?”


“Nggak juga,”


“Aku nggak tau kamu ke sana. Kamu nggak ada cerita mau ke sana,”


“Emang harus cerita?”


“Ya nggak sih, cuma aku kaget aja kamu ke bar,”

__ADS_1


“Caca ulang tahun dan dia ngundang aku sama Lara. Aku juga sebenarnya pengen tidur aja di rumah cuma Lara ngajakin datang bareng ke sana. Jadi ya udah deh aku berangkat. Lagian nggak enak juga sama Caca. Eh ketemu lah sama si Rangga. Aku nggak cerita ke kamu soalnya nggak mau ganggu kamu. Aku pikir kamu pasti lagi sibuk sama tugas atau lagi ada yang diurus,”


__ADS_2