Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 118


__ADS_3

“Ga, kamu nggak usah antar aku ke kelas ya. Kamu ke kelas kamu sendiri aja, okay?”


“Emang kenapa?”


“Ya nggak apa-apa, aku bisa sendiri kok,”


“Aku tau, tapi aku pengen mastiin kamu sampai di kelas dengan selamat, nggak ada pingsan-pingsan lagi,”


“Ya jangan sampe dong, lagian aku udah mendingan banget kok,”


“Udah nggak usah nyuruh aku untuk ke kelas aku sendiri. Pokoknya aku pengen antar kamu dulu,” ujar Argantara dengan tegas. Mau setegas apapun Shelina menolak untuk diantar, Ia akan tetap melakukannya supaya Ia merasa tenang. Ia akan bergegas ke kelasnya sendiri kalau Shelina sudah masuk kelasnya dengan keadaan baik-baik saja. Sebenarnya Argantara tahu Shelina belum seratus persen membaik keadaannya. Jadi Ia khawatir bila membiarkan Shelina sendirian ke kelasnya.


“Arnold keras kepala ya ternyata. Udah dibilang nggak usah anterin aku tapi dia masih aja,” batin Shelina seraya melirik Argantara yang berjalan di sebelahnya.


“Shel, nanti pulang bareng ya. Aku kelasnya cuma bentar aja hari ini, aku tungguin kamu pulang ya,”


“Nggak usah nungguin aku, Arga. Kamu pulang duluan aja,” ujar Shelina


“Nggak ah, gue mau nungguin lo. Gue pengen pulang bareng, boleh lah. Jangan nolak napa sih, gitu akat sama gue,” ujar Argantara dengan ketus.


“Tapi aku takutnya lama,” jawab Shelina

__ADS_1


“Ya nggak apa-apa, nanti aku tungguin di kafe kampus ya, aku bakal kasih tau kamu kalau aku udah selesai kelasnya. Aku langsung ke kafe pokoknya, aku nungguin kamu di sana ya,”


“Aku pulang sendiri diam-diam nanti,”


“Lah kok gitu? Sia-sia dong aku nungguin kamu kalau kamu maunya pulang sendiri,”


“Ya abisnya kamu dibilangin nggak mau denger, nggak usah nungguin aku, Arga. Aku mau pulang sendiri aja,”


“Tapi aku pengen pulang sama kamu, Ratu,”


“Ih Arga! Udah dibilang jangan panggil aku Ratu! Kamu nggak paham-paham ya,” Ujar Shelina sambil menatap tunangannya dengan galak.


“Emang kamu nggak ada kegiatan setelah ngampus? Lagi kosong? Kok malah nungguin aku? ‘Kan kerajinan banget itu,”


“Aku nanti sore mau main bulu tangkis, tapi itu sore, aku di kafe nungguin kamu sambil ngerjain tugas lah, biar nggak bosen, dan ada manfaatnya nongki di kafe,”


“Oh ya udah kalau emang kamu tetap pengen pulbar sama aku, cie pulbar. Udah main singkatan aja nih aku,”


“Iya pokoknya aku pengen pulbar sama kamu, kapan-kapan kita mabar ya, kamu aku ajakin mabar nggak pernah mau karena katanya nggak bisa. Ih alasan apa itu? Belajar lah biar bisa,”


“Ngapain belajar main game? Nggak ada manfaatnya tau,”

__ADS_1


“Eh kamu jangan ngomong gitu, game ada manfaatnya lho. Bisa ngilangin stres, menantang diri sendiri, bikin kita jadi nggak insecure, pokoknya ada manfaat deh asal mainnya sesuai porsi ya,”


“Aku nggak jago main-main game gitu, Ga,”


“Aku juga nggak jago, Shel Emang siapa bilang aku jago? Aku tuh cuma sekedar bisa. Pas aku coba main pertama kali tuh, ternyata asyik jadi keterusan deh. Kalau tugas udah kelar, bingung mau ngapain, ya udah aku main game online aja,”


“Kalau aku sih mendingan nonton sama baca novel. Itu aja usah cukup bagi aku, Ga. Nggak bisa aku main game. Pusing yang ada,”


“Iya nggak apa-apa kok, lakuin yang kamu suka aja. Tapi kadang aku pengen mabar sama kamu. Cuma kamu nya ‘kan selalu bilang nggak bisa, jadi ya udah nggak masalah. Lakuin aja apa yang kamu suka, apa yang bisa. Aku nggak akan larang kok, kita punya hobi masing-masing, namanya juga manusia,” ucap Argantara dengan senyumannya.


“Tapi aku juga kadang pengen lho nyoba main game, mabar sama kamu. Cuma aku tuh bingung harus ngapain,”


Mendengar curahan hati Shelina soal game, Argantar tertawa. Shelina memang benar-benar polos soal game. Yang dipahaminya hanya tentang drama, dan juga novel.


“Aku juga pengen mabar sama kamu makanya sering aku ajakin tapi kamu belum bisa. Udah aku ajarin masih juga ngaku belum bisa, belum paham,”


“Akhirnya aku nyerah sendiri,” ujar Shelina seraya tertawa. Beberapa kali Argantara mengajarkan dirinya untuk bermain game namun Ia tetap tidak paham. Kalaupun paham, tapi akhirnya malah kalah, Ia kesal sendiri, dan akhirnya memilih untuk mogok main. Begitulah dirinya kalau dihadapkan dengan game. Daripada makan hati sendiri akhirnya Ia kembali ke dunianya sendiri, kembali ke hobinya sendiri yaitu menonton drama Korea dan juga membaca novel.


“Udah hampir sampai di depan kelas kamu. Semangat ya ngadepin materi dari dosen, ingat nanti pulang bareng aku. Pokoknya aku tungguin di kafe kampus, okay?”


Shelina menganggukkan kepalanya dan mengangkat ibu jari. Ia melambai singkat pada Argantara kemudian melangkah masuk ke dalam kelas.

__ADS_1


__ADS_2