Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 132


__ADS_3

Hari ini Shelina dan Argantara sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Keduanya melangsungkan pernikahan yang cukup meriah, dan dihadiri oleh teman-teman dari keduanya.


Akad nikah saat pagi hari, dimulai pukul delapan pagi. Dan langsung resepsi pada pukul satu siang. Serangkaian acara menuju pernikahan dimulai dari lamaran, pengajian, sampai akad nikah kemudian resepsi sudah mereka lewati dengan baik sesuai harapan.


Malam ini Shelina dan Argantara bisa menghela napas lega karena sudah berhasil melewati serangkaian acara menjelang pernikahan dan puncaknya adalah resepsi yang baru saja dua jam lalu berakhir.


Saat ini Shelina dan Argantara tinggal di rumah yang dipersiapkan Argantara sejak lama. Mereka memutuskan untuk pisah dari orangtua masing-masing yang setuju dengan keputusan mereka yang hendak menjalani hidup hanya berdua.


“Kamu mau teh hangat?”


Shelina menatap suaminya yang ada di tempat tidur berbaring telungkup dengan rambutnya yang masih basah. Shelina lihat suaminya lelah, teh hangat mungkin diinginkan oleh Argantara.


Argantara mengubah posisi berbaring menjadi terlentang menghadap ke langit-langit. Kepalanya menoleh dan tersenyum menatap Shelina.


“Boleh,”


“Okay, aku buat sekarang. Kamu kelihatannya lesu banget,”


“Nggak, capek aja. Kamu capek nggak?”


“Iya, wajar lah kalau capek. Dari mulai persiapan, sampai pelaksanaan pernikahan itu benar-benar nguras energi, iya nggak?”


“Betul, tapi aku senang banget. Kamu gimana? Senang ‘kan?”


Shelina tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Tentu saja Ia bahagia. Jangan ditanya sebahagia apa dirinya. Pernikahan ini diinginkan olehnya dan Argantara, jadi ketika sudah terlaksana tentunya Ia merasa sangat senang.


“Rambut kamu basah, nggak dikeringin dulu emangnya? Kamu bisa ya tiduran tapi rambutnya basah? Kamu nyaman?”


“Nyaman nggak nyaman sih sebenarnya. Tapi sekarang ‘kan ada istri. Aku mau ngelunjak nih. Boleh tolong keringin nggak?” Tanya Argantara dengan senyum manis seperti biasa. Ia meminta bantuan istrinya untuk mengeringkan rambut, padahal biasanya Ia melakukan hal itu sendiri saja kalau memang sedang mau. Tapi kalau malas, Ia biarkan saja rambutnya basah dan langsung istirahat.


“Boleh, aku keringin rambut dulu atau buat teh dulu nih?” Tanya Shelina memberikan pilihan. Kalau suaminya ingin dikeringkan dulu rambutnya baru dibuatkan teh hangat, Kia tidak masalah sama sekali.


“Aku mau dikeringin dulu rambutnya, nggak apa-apa ‘kan?”


“Iya nggak apa-apa, kamu biasanya dikeringin pakai apa? Hair dryer? Atau cukup handuk?”


“Aku pake handuk aja biasanya, malas pakai alat-alat kayak gitu. Ya namanya juga bujang ya ‘kan. Nggak mau yang ribet,”


“Ya udah kalau sama aku pakai hair dryer biar cepat mau ‘kan?”


“Boleh dong, terserah kamu aja, Ratu Shelina. Udah beneran jadi ratu aku nih,”


“Ih Astaga, masih aja manggil ratu. Jangan dong. Nama aku itu Shelina, jangan panggil aku Ratu, tolong deh,”


“Tapi aku pengennya manggil kamu Ratu. Soalnya kamu itu Ratu aku sekarang, bukan calon Ratu lagi tapi udah jadi Ratu kedua aku beneran, selain mama. Jadi Ratu pertama aku itu ada dua sekarang ini. Mama aku sama mama kamu. Nah ratu kedua nya itu kamu, paham ‘kan?”


Shelina menghembuskan napas kasar. Dilarang juga percuma. Argantara punya keinginan sendiri. Dipanggil Ratu karena sudah jadi Ratu kedua dalam hidup Argantara. Sebenarnya itu tak pernah ada dalam bayangan Shelina.


“Boleh ‘kan kalau aku panggil Ratu Shelina?”


“Ya udah deh terserah kamu,”


Argantara terkekeh mendengar jawaban pasrah istrinya yang saat ini sedang berjalan mengambil alat untuk mengeringkan rambut. Shelina juga mengambil sisir suaminya.


Setelah itu Shelina langsung memulai kegiatannya itu. Argantara duduk dengan mata terpejam. Lembutnya Shelina memperlakukan dirinya membuat Ia terpejam tanpa sadar. Di samping itu Ia terpejam karena memang sudah mulai merasakan kantuk.


“Ga, kamu kalau ada butuh apa-apa jangan sungkan ngomong sama aku ya. Aku pasti bantu kok,”


“Iya, pasti aku ngomong,”


“Ngomong-ngomong, rambut kamu tebal banget ya, hitam juga warnanya. Bagus deh, aku senang liatnya,” ujar Shelina sambil sibuk mengeringkan rambut sang suami. Shelina baru kali ini mengutarakan pujian tentang rambut suaminya yang tebal, dan hitam legam.


“Alis kamu juga bagus ya, Ga,”


“Aku mah semuanya bagus deh kayaknya,”


“Ih, langsung muji diri sendiri,”


“Hahaha ya nggak apa-apa dong, Ratu Shelina,”


“Lagi-lagi Ratu, ini serius mau manggil aku begitu?”


“Iya kalau kamu bolehin,”


“Boleh, terserah kamu aja deh. Suka-suka kamu aja, abisnya kamu tetap aja tuh manggil aku ratu walaupun aku udah sering protes,”


“Karena cocok, Sayang,”


“Eh?”


Shelina tentunya terkejut ketika suaminya memanggil ‘sayang’. Sebelumnya Argantara tidak pernah mengeluarkan kata seperti itu. Makanya Ia kaget ketika mendengar panggilan Argantara untuknya yang cukup manis.


“Kenapa? Nggak boleh juga aku panggil sayang?” Tanya Argantara yang tahu kalau istrinya kaget, dan mungkin tak nyaman mendengar panggilan itu.


“Hah? Nggak, terserah kamu aja,”


“Ya udah Ratu deh, biar nggak geli ya ‘kan. Kalau sayang mungkin kamu geli?”


“Aku nggak bilang gitu. Terserah kamu aja, Ga. Mau dipanggil apa aku nggak masalah, asal jangan dipanggil bagong atau dugong aja,”


Argantara tertawa lebar mendengar ucapan istrinya. Mana mungkin Ia memanggil istrinya dengan sebutan yang aneh-aneh.


“Kamu itu cantik, manis, masa iya aku panggil dugong atau bagong, ya nggak mungkinlah, Sayang,”


“Ya udah okay,”


“Kalau aku panggil bebeb, cinta, honey boleh nggak?”


“Itu apa nggak terlalu—gimana ya? Terserah kamu deh,”


Lagi-lagi Argantara tertawa. Sepertinya Shelina itu tipe perempuan yang nyaman dipanggil dengan nama saja. Mungkin karena belum pernah pacaran, belum pernah dipanggil dengan sebutan manis seperti itu jadi Shelina merasa kurang nyaman.


“Ya udah makanya Ratu aja deh aku panggilnya,”


“Iya terserah kamu, Ga. Sekarang aku mau bikin teh hangat ya. Rambut kamu udah kering nih,”


“Iya, makasih ya, Ratu Shelina,”


“Sama-sama, aku ke dapur dulu ya,”


“Ayo aku temenin, aku mau ikut ke dapur,”


“Ngapain?”


“Ya mau aja jalan-jalan, nggak mau di kamar doang,”


“Boleh, ayo ke dapur,”


Shelina tak masalah bila suaminya hendak mengikuti dirinya ke dapur. Jadi setelah tugasnya mengeringkan rambut Argantara sekaligus menyisirnya sudah selesai, sekarang Shelina bergegas ke dapur diikuti oleh Argantara.


“Ahel, kita belum ada bahan-bahan makanan yang lengkap lho. Besok kita ke supermarket belanja bulanan ya?”


“Iya, kita bisa belanja besok,”


“Kalau sekarang ‘kan udah sore banget nih,”


“Jangan sekarang, kita berdua sama-sama capek,”


“Iya, Ratu. Besok aja, Sayang. Supaya sekarang kita istirahat aja dulu,”


Shelina menganggukkan kepalanya. Ia mulai sibuk membuat teh, sementara suaminya memilih duduk di meja pantry mengamatinya.


“Ada susu kental manis, tambahin ke situ, Ratu Shelina,”


“Okay, jadi teh susu ya?”


“Iya betul. Kamu mau kayak gitu juga?”


“Nggak, aku teh biasa aja,”


Shelina duduk di hadapan suaminya setelah membuat teh. Ia meletakkan cangkir teh di meja pantry, kemudian Ia duduk berhadapan dengan sang suami.


“Silahkan dinikmati,”


“Makasih, Sayang eh Ratu,”


“Sama-sama,”


“Senangnya minum teh ada teman. Biasanya kalau pagi tuh suka minum teh sama Mama Papa aja kadang cuma Mama doang karena Papa lagi ada urusan kerjaan, sekarang ydah sama kamu,”


“Aku juga senang. Ya kurang lebih sama kayak kamu,”


“Makasih udah jadi istri aku ya, Ratu,” ujar Argantara seraya meraih tangan sang istri, kemudian Ia usap dengan lembut. Ia tersenyum menatap Shelina dengan tatapan yang dalam.


“Makasih juga udah jadi suami aku,”


“Kita harus sering ngobrol kayak gini ya. Jangan kurang komunikasi. Kalau kamu ngerasa nggak nyaman sama sesuatu, atau ada yang lagi kamu pikirin, jangan sungkan untuk cerita ke aku ya. Aku ini teman cerita kamu sekarang, aku sandaran kamu. Cerita ya, Shel. Ada masalah sekecil apapun juga jangan sungkan cerita ke aku. Supaya kita cari jalan keluarnya sama-sama. Intinya kita jangan kurang komunikasi ya,”


Shelina menganggukkan kepalanya. Ia akan mulai membiasakan diri untuk terbuka. Biasanya hanya kepada mama dan papanya saja yang selalu menjadi tempatnya berbagi cerita. Sekarang ada Argantara juga yang akan menjadi tempat ceritanya.


“Eh nanti kita habis sholat Maghrib cari makan di luar ya, Shel,”


“Okay boleh, makan dimana? Makan apa?”


Argantara diam sebentar sambil menggerakkan bola matanya. Ia sedang memikirkan menu apa yang sekiranya cocok untuk makan malam.


“Apa ya? Aku bingung, Ratu Shelina,”


“Terserah kamu, aku ikut aja. Aku pasti makan,” ujar Shelina seraya terkekeh. Ia tak bisa memberikan saran. Ia membiarkan suaminya berpikir sendiri.


“Bantuin aku cari ide dong, Shel,”


“Aku bingung juga. Terserah kamu aja mau makan apa,”


“Pecel lele mau nggak, Shel?”


“Boleh, terserah kamu aja,”


“Dih kok terserah aku sih, Shel? Bareng-bareng mikirinnya. Kamu cewek sih jadi terserah,”


“Lah, kalau aku cowok berarti kamu nikah sama cowok dong? Nggak normal dong?”


“Eh Astaghfirullah, sembarangan kalau ngomong,”


“Ya lagian bawa-bawa gender. Terserah kamu aja pokoknya,”


“Biasanya yang terserah-terserah kayak gitu adalah cewek. Aku pengen kamu aja yang mikirin mau makan apa, nah aku ngikutin kamu deh,”


Shelina menggelengkan kepalanya. Sungguh Ia bingung harus memilih menu apa untuk makan malam nanti.


“Aku nggak bisa mikir,”


Argantata tertawa seraya bangkit berdiri kemudian meriah kepala istrinya untuk Ia kecup singkat. Perlakuan Argantara itu membuat Kia terkejut, sekaligus hatinya menghangat.


“Bilang-bilang dong kalau mau cium. Jadi udah persiapan, supaya jantung aku nggak kayak digedor-gedor,” batin Shelina seraya tersenyum meringis.


“Pecel lele mau nggak, Shel?”


“Boleh, terserah kamu aja pokoknya,”


“Ya udah pecel lele ya, Shel,”


“Kamu nggak konsisten ya, kadang manggil Shelina kadang manggil Ratu. Terserah kamu sih cuma lucu aja dengarnya,”


“Ya biar beda, aku ganti-ganti. Jadi nggak bosen kamu dengernya hahaha,”


“Oh gitu, iya-iya boleh,”


“Berarti beneran pecel lele ya?”


Shelina menganggukkan kepalanya. Ia menyukai makanan yang disebutkan oleh suaminya itu. Malah sering beli juga.


“Aku suka sama itu, apalagi sambalnya. Uh mantap banget,”


“Tapi kadang ada yang enak kadang ada yang biasa aja ya, Shel. Aku ada langganan yang sejauh ini sih dia masih enak-enak aja, nggak berubah dari zaman aku kecil juga. Padahal itu turun temurun gitu lho kalau dengar dari almarhum papa aku. Jadi awalnya ayahnya dulu yang jualan, terus ayahnya meninggal, ganti ke anaknya, ntar aku rasa bakal turun ke cucunya deh, soalnya udah mulai tuh cucunya bantu-bantu,”


“Namanya apa? Maksud aku nama tempat makannya gitu,”


“Warung pecel lele Mang Khodir,” jawab Argantara yang mulai memperkenalkan salah satu tempat makan langganan yang sering Ia kunjungi baik sendiri, bersama orangtua, ataupun dengan teman-temannya.


“Dari dulu sampai sekarang masih suka ke sana sih, suasana tempat mungkin berubah ya. Tapi soal cita rasanya nggak perlu diragukan lagi. Beneran enak, Shel. Sambalnya enak, mantep pol, nah terus nggak pelit juga lho porsi sambal sama nasinya. Biasa aku pake nasi uduk kalau makan pecel lele tuh,”


“Sama, aku juga sukanya nasi uduk. Kalau nasi putih biasa jadi kurang berasa pecel lelenya, iya nggak sih?”


“Tos dulu dong kita,”


Argantara mengulurkan tangannya mengajak sang istri untuk beradu tangan. Shelina terkekeh dan mengulurkan tangannya juga.

__ADS_1


“Aku sebenarnya banyak tempat langganan makan gitu, Shel. Nanti satu-satu aku kenalin sama kamu ya, kalau sekaligus aku kenalin ‘kan nggak mungkin tuh. Soalnya banyak, Shel. Nanti kamu bingung, bisa-bisa muntah juga ‘kan,”


“Iya, gampang, kalau mau makan sesuatu tinggal cari yang langganan kamu,”


“Kalau langganan aku udah pasti enak deh, kamu nggak bakal nyesal. Tapi makanan yang paling kamu suka tuh sebenarnya apa?”


Shelina diam sebentar untuk berpikir. Sementara Argantara menunggu istrinya itu menjawab sambil menatap Shelina dengan tatapan dalamnya.


“Apa ya? Aku sih semua suka,”


“Nggak mungkin, kamu itu pemilih, ‘kan? Pasangan aja begitu. Makanya nggak pacaran,”


Shelina terkekeh mendengar tebakan Argantara yang tak percaya kalau Ia tipe orang yang tak begitu pemilih soal makanan. Menurutnya semua makanan Ia sukai.


“Aku suka semua, Ga,”


“Aku nggak percaya ah,”


“Aku pemakan segalanya. Omnivora kali ya,”


“Kalau yang aku perhatiin, kamu itu suka yang pedas-pedas ya? Tapi yang manis kurang. Kamu suka yang asin pedas gitu. Bener nggak?”


“Iya, tapi manis juga suka sebenarnya cuma emang lebih suka makan yang asin, gurih, pedas gitu. Semacam seblak, gorengan, ya macam-macam lah,”


“Tuh ‘kan bener. Soalnya selama deket sama aku ya, aku perhatiin hal-hal kecil tentang kamu. Yang aku bisa liat sih soal selera makanan cuma aku nggak bisa langsung tarik kesimpulan karena kita ‘kan nggak serumah ya sebelumnya, dekat juga nggak dari dulu, dan makan sama kamu juga nggak tiap saat. Jadi aku nebak-nebak dulu,”


“Tapi tebakan kamu benar kok,”


Argantara tiba-tiba bangkit membuka kulkas. Minum teh, sambil berbincang, ada yang kurang bila tanpa sesuatu yang bisa dikunyah oleh mulutnya.


“Kamu cari apa?”


“Belum ada cemilan gitu. Aku pengen nyemil padahal,”


“Keju lembar aja tuh, tadi aku liat ada kok,”


“Eh iya, aku mau ah,”


Shelina baru sadar di kulkasnya ada keju, tanpa menunggu waktu lama Ia langsung mengambil keju tersebut kemudian Ia bawa ke meja pantry.


“Nih, kamu mau nggak?”


“Mau, aku suka keju,”


Tak hanya Argantara, Shelina pun ingin ada yang dikunyah. Akhirnya mereka menikmati keju saja, sambil menikmati teh hangat.


“Aku tuh cuma beli bahan yang gitu-gitu aja, maaf ya, Shel. Makanya besok kita pergi ke supermarket buat beli yang lengkap. Tau nggak sih aku ke supermarket tuh bingung mau beli apaan. Akhirnya cuma beli keju sama soda aja buat isi kulkas. Kayak telur, kecap, saos, margarin, susu, teh, gula, garam itu mama yang beliin buat isi dapur. Kalau nggak ada mama mungkin kita nggak minum teh sekarang nih,”


“Wajar, namanya juga cowok. Pasti bingung apa aja yang biasanya ada di dapur padahal sering ke dapur tapi nggak tau apa-apa aja yang mestinya tersedia,”


“Iya bener banget, kalau nggak ada mama, ini dapur benar-benar kosong nggak tersedia apapun,”


“Besok kita berdua ke supermarketnya? Atau aku aja?”


“Berdua, aku pengen temenin kamu sekalian liat juga gimana sih kalau kamu sibuk belanja bulanan, pasti makin-makin deh,”


“Makin apa?”


“Makin cantik. Kamu kalau lagi serius atau fokus bakal keliatan makin cantik tau,”


“Duh, aku harus gimana nih terima pujian kamu?”


“Tenang, nggak udah ngapa-ngapain, Sayang. Aku emang suka ya muji ‘kan. Jadi kamu jangan heran,”


“Sering-sering dipuji, aku jadi sering malu tau,”


“Kenapa malu? Orang semua pujian aku itu berdasarkan fakta. Misalnya aku puji kamu cantik, ya itu berarti fakta yang nggak bisa dielak,”


“Habisin deh minumannya. Kita siap-siap ibadah abis itu pergi makan,”


“Sip, udah nggak mau dengar kata-kata manis dari mulut suaminya lagi ya? Hahaha kamu mual?”


“Nggak, aku takut terbang,”


“Kok gitu?”


“Ya kamu puji terus takutnya malah terbang tau,”


Argantara berdecak mendengar ucapan istrinya yang terlalu berlebihan. Hanya dipuji seperti itu, memang apa dampaknya? Senangkah? Sampai terpikirkan takut terbang setelah Ia memuji. Padahal pujiannya itu hal yang biasa, dan memang fakta.


“Lebay, masa dipuji suaminya sampe mau terbang,”


“Lah emang iya. Aku serius ini, Ga. Kalau kamu puji, aku jadinya pengen terbang ke awan-awan, melanglang buana,”


“Hadeh omongannya ada-ada aja deh,”


Shelina tertawa melihat ekspresi malas yang ditunjukkan suaminya. Argantara malas mendengar celotehannya padahal Ia memang senang berceloteh.


“Udah adzan tuh, kita sholat habis itu keluar cari makanan ya,”


“Okay, let’s go,”


Shelina membawa dua cangkir untuk Ia cuci bersih setelah itu Ia meninggalkan dapur diikuti oleh Argantata yang malam pertama mereka menjadi suami istri, ingin mengajak Shelina pergi makan malam di luar. Rencananya ingin menikmati pecel lele. Mereka sudah punya kesepakatan seperti itu.


Mereka berdua melaksanakan ibadah sholat Maghrib bersama, setelah itu keduanya bersiap sebelum bergegas pergi.


Mendengar suara gemuruh hujan, Shelina langsung berjalan cepat membuka tirai jendela kamar. Ia melihat rintik-rintik air turun dari awan.


“Ga, itu gerimis di luar,”


“Hah? Beneran? Ya udah nggak apa-apa,”


“Kok nggak apa-apa? ‘Kan kita mau naik motor,”


“Naik mobil aja lah, Shel. Jangan naik motor. Bahaya bawa kamu malam-malam masa iya aku pakai motor,”


“Tapi aku senang pakai motor. Berasa suasana malamnya, Ga. Kalau naik mobil—“


“Ratu, tapi nggak baik malam-malam bawa kamu naik motor. Angin malam takutnya nggak baik buat kamu, aku nggak mau kamu sakit, Sayang,”


“Aku nggak akan sakit, Arga. Aku bakal pake jaket, kalau perlu yang tebal banget. Berasa lagi di salju deh aku,”


“Nggak, naik mobil aja,”


“Emang kenapa sih? Aku tuh lebih suka JJM naik motor tau,”


“Iya, lebih berasa serunya kalau naik motor,” ujar Shelina yang sesekali ingin pergi malam dengan motor apalagi sekarang Argantara itu suaminya, jadi tak masalah kalau mereka pergi berdua dengan motor di waktu yang sudah malam begini, bahkan pulang pagi pun tak jadi masalah selagi mereka menginginkan hal itu. Mamanya tak akan mungkin melarang Ia keluar malam dengan lelaki, selama lelaki itu adalah suaminya.


“Ya gimana kita mau jalan pakai motor kalau lagi gerimis kayak gitu? Nah kalau pakai mobil ‘kan bakal aman, Shel,”


“Ya udah kita tunggu hujannya reda dulu deh,” ujar Shelina pada Argantara. Shelina bersikeras ingin naik motor. Ia sudah memiliki suami, jadi merasa aman kalau pergi malam dengan motor. Makanya Ia memaksa Argantara karena Ia sangat jarang. Dengan papanya terbilang sering tapi setelah bersama Argantara mulai membiasakan diri. Seandainya Ia punya kekasih, Ia juga belum tentu bersedia jalan malam naik motor dengan kekasihnya itu. Karena jujur sampai detik ini baru papanya saja yang benar-benar bisa Ia percaya. Dengan Argantara dengan mudah Ia percaya.


Setelah Argantara menjadi suaminya, rasa yakin itu berpindah pada Argantara. Tapi sayangnya saat ini sedang gerimis, jadi bahan pertimbangan Argantara bertambah di samping Argantara mengatakan bahwa dirinya merasa khawatir membawa Shelina keluar malam dengan motor.


“Kamu yakin nggak sih? Aku khawatir lho, Shel. Naik mobil menurut aku lebih aman, Sayang,”


“Yakin dong, Ga. Aku pengen naik motor. Aku kangen motoran sama papa, kalau bisa motoran sama kamu, bisa bikin kangen aku terobati,”


Kalau Shelina sudah bicara seperti itu dengan tatapan berharapnya, mana mungkin Argantara menolak. Arganrara tentu tak ada pilihan selain memenuhi keinginan istrinya itu.


“Tapi berhubung sekarang ujan, jadi kita tunggu reda dulu ya, Ratu?”


“Iya nanti kita sakit. Tunggu reda aja dulu,”


“Ini tuh sebenarnya gerimis doang lho, kalau naik mobil juga aman. Cuma kamu lagi pengen naik motor. Jadi ya udah deh aku turutin,”


“Yeayy makasih banyak ya, Ar,”


“Iya sama-sama, aku senang liat kamu senang,”


Shelina sudah mengenakan hoodie kemudian duduk di tepi ranjang untuk menunggu rintik hujan berhenti. Ia tidak mau pergi naik motor bila ada air hujan barang sedikit, mengingat ini sudah malam dan Ia takut sakit. Kalau buru-buru, dan waktunya masih siang mungkin tidak apa. Malah itu sering Ia lakukan.


Argantara duduk di sebelah Shelina sambil memasukkan kedua tangannya di saku hoodie berwarna biru tua yang Ia kenakan.


“Sabar ya, mudah-mudahan gerimis nya cepat berhenti,”


“Aamiin, tapi kalau seandainya malah jadi hujan besar gimana, Ga? Kita nggak mungkin nerobos hujan ‘kan,”


“Iyalah, Shel. Lebih baik jangan. Bahaya, nanti kamu sakit,”


“Ih kamu harus mikirin badan kamu juga dong, Ga, jangan cuma aku aja,”


“Aku sih nggak apa-apa, Ratu. Yang penting itu kamu. Aku nggak mau kamu sakit. Aku pengen kamu sehat terus,”


“Aamiin, aku selalu berdoa untuk kesehatan keluarga kita,”


Argantara mengeluarkan kedua tangannya dari saku hoodie kemudian Ia duduk miring berhadapan dengan Shelina yang masih memandang lurus ke arah jendela yang sengaja tirainya Ia buka supaya deras atau tidaknya hujan bisa Ia lihat.


“Shel, ini bakal jadi momen motoran kita yang pertama ya kalau jadi,”


“Iya makanya itu aku pengen banget,”


“Kalau seandainya emang nggak berhenti-berhenti, atau hujan malah deras, kita batal naik motor ya. Nah kalau naik mobil boleh-boleh aja, cuma kamu nya nggak mau ya?”


“Ya udah deh, kita naik mobil kalau emang nggak berhenti-berhenti. Daripada kita nggak makan ‘kan,”


“Kita tunggu sampai jam berapa nih?”


“Jam delapan?”


“Okay sip,”


Argantara mengusap pipi istrinya kemudian Ia cium singkat. Sementara Shelina yang belum siap mendapat perlakuan itu tentunya kaget, tapi hatinya menghangat.


“Aku cium nggak apa-apa ‘kan? Udah sah nih,”


“Hmm,”


Argantara tersenyum, kemudian malah mengarahkan Shelina yang semula menatap ke depan saja kini Ia arahkan supaya menoleh ke arahnya yang duduk di sebelah kanan Shelina.


Shelina menatapnya bingung. Tiba-tiba wajahnya disentuh dan sengaja diarahkan supaya menoleh ke sebelah kanan. Shelina bertanya-tanya kenapa Argantara menatapnya dengan dalam, sangat dalam bahkan sambil mengusap salah satu aajahnya. Kemudian Argantara menggenggam tangannya begitu erat.


“Belajar ciuman yuk,”


“Hah?”


Ucapan Argantara membuat Shelina terperangah kaget. Mendadak Argantara bicara seperti itu, siapa yang tidak kaget? Maksudnya siapa yang belajar? Hanya Ia atau mereka berdua?


“Belajar ciuman,” ucap Argantara sekali lagi kemudian kepalanya maju, dan tanpa menunggu waktu lama Argantara langsung menautkan bibirnya dengan bibir Shelina. Jadi maksud Argantara, mereka belajar ciuman berdua.


Shelina mulai percaya diri membalas. Akhirnya mereka sama-sama aktif, walaupun keduanya tak handal dalam hal melakukan itu. Setelah kurang dari lima menit mereka beradu bibir, Shelina melepaskan karena Argantara makin menuntut sehingga Ia gelagapan, dan susah bernapas. Melihat Shelina rakus meraup oksigen dan menatapnya dengan mata melotot, Argantara tertawa lebar.


“Lucu banget sih kamu, Shel,”


“Lucu-lucu, kamu agresif ya,”


“Ya iyalah, aku suka sama bibir kamu. Agresif tanda suka, Ratu. Lagi yuk, Shel,”


Argantara hendak memajukan kepalanya lagi, tapi Shelina langsung mundur. Argantara yang melihat itu langsung merengut kesal.


“Kenapa sih? Kok ngejauh dari aku? Nggak mau aku cium,”


“Kamu mah bikin aku kaget,”


“Ya udah nggak bikin kaget deh. Namanya juga cowok, ketemu bibir di usia segini ‘kan udah kelaperan, Ratu,”


“Masa iya baru ketemu di umur segini? Dua satu belum pernah?” Tanya Shelina dengan senyum meledeknya. Maksud Shelina, apa benar Argantara belum pernah bertemu dengan bibir perempuan?


“Beneran,”


“Yang aku ingat kamu punya mantan,”


“Ya tapi belum pernah, Ratu Shelina sayang,”


“Oh gitu ya? Kalau sama teman gitu? Friend with benefit ‘kan sebutannya,” ujar Shelina seraya tertawa. Argantara juga menanggapi dengan tawa, sambil tangannya mencubit hidung bangir Argantara.


“Nggak. Aku nggak pernah friend with benefit, Ratu sayang,”


“Oh gitu,”


Argantara kembali meraih bibir istrinya. Ia kecup mesra dan lembut. Sekitar lima menit lagi, setelah itu Ia lepaskan. Lelaki itu juga berinisiatif mengusap lembut bibir Argantara yang basah, merah di bagian kulit atasnya, dan bibi Argantara juga mengkilap karena ulahnya.


“Ih makin cantik banget lho kamu, Shel,”


“Apaan cantik? Bibir aku kayaknya jontor ini,”


“Hahahaha ya nggak lah, ngaca aja. Malah seksi lho,”

__ADS_1


Argantara mendengus seraya merotasikan bola matanya. Ia beranjak mendekati cermin untuk melihat keadaan bibirnya. Setelah itu Ia geleng-geleng kepala.


“Ya ampun, bibir aku sampe menebal gini ya, Ga,”


“Nggak apa-apa, seksi ‘kan?”


“Dih seksi apaan,”


“Seksi, Ratu. Makin cantik kamu kalau bibirnya kelihatan lebih bervolume,”


“Sering-sering ya, Shel,” imbuh lelaki itu setelahnya.


Shelina kembali ke tempatnya duduk tadi, yaitu di tepi tempat tidur. Sementara Argantara beranjak mendekati jendela untuk melihat apakah gerimis sudah berhenti atau belum.


“Shel, udah berhenti deh itu kayaknya,”


“Emang iya? Coba keluarin tangan kamu dikit. Kalau masih ada rintik-rintik ya berarti belum,” ujar Shelina pada suaminya. Argantara langsung mengeluarkan tangannya dari jendela, Ia diamkan sebentar tangannya dan Ia tak merasakan rintik hujan turun membasahi tangan, yang ada hanya rasa dingin saja. Wajar, ini malam hari, ditambah lagi habis gerimis. Pasti suhunya dingin,


“Nggak ada lagi rintiknya, Ratu. Ayo kita berangkat sekarang aja mumou berhenti hujannya,”


“Kalau seandainya hujan di tengah jalan gimana ya, Ga?”


“Aku ada jas hujan kok, selalu aku bawa kemana-mana,”


“Okay, kita pergi sekarang,”


“Kita bisa berhenti bentar buat neduh juga, Shel. Takutnya kalau maksa terobos hujan, kita berdua sakit. Aku sih lebih mikirin kamu ya, kalau aku bodo amat,”


“Ih kamu juga nggak boleh sakit lah,”


“Cie perhatian,”


Argantara mengulurkan tangannya yang langsung diterima oleh Shelina. Setelah itu mereka keluar dari kamar dengan bergenggam tangan. Keduanya siap untuk pergi membeli makanan.


Keduanya sudah siap untuk berhadapan dengan malam yang cukup dingin. Masing-masing dari mereka mengenakan hoodie yang cukup tebal.


Argantara memberikan pelindung kepala pada sang istri yang hanya menatap saja, tanpa mau menerima helm yang diulurkan oleh sang suami.


“Nggak usah pake helm deh, deket ‘kan?”


“Janganlah, harus pakai helm biar sehat selamat. Buruan pake sekarang! Nggak boleh ya susah dibilangin,”


“Tapi aku tuh males pake helm, ini helm kamu berat tau,”


“Ini helm udah sesuai standar, nggak ada berat-berat, kamu karena nggak biasa pakai helm aja makanya ngomong gitu. Jangan dibiasakan keluar naik motor tanpa helm, sekalipun cuma pergi dekat. Kita ‘kan nggak tau bakal dapat musibah pas perjalanan jauh atau dekat. Intinya kita harus jaga-jaga, jangan sampai nggak pakai helm. Orang yang udah pakai helm aja, masih suka nggak selamat kalau ngalamin hal buruk di jalan, Shel,”


“Ya udah deh,”


Shelina sudah dinasehati panjang lebar oleh suaminya, mana bisa Ia mengelak lagi. Akhirnya Ia menerima helm yang diserahkan sang suami kemudian Ia gunakan.


“Dipasang kaitannya, Ratu. Jangan dipake aja,”


“Iya ini aku pasang,”


Shelina tadinya hanya ingin meletakkan helm di atas kepala tanpa memasang kaitan, tapi karena suaminya menyuruh, akhirnya Ia pasang kaitan helm itu supaya benar-benar melindungi kepalanya yang hendak jalan-jalan malam bersama sang suami.


“Sini deh aku aja yang pasang, lama kamu ya,”


“Ih susah tau,” ujar Shelina yang tak bisa langsung mengunci pengait helm. Karena jarang naik menggunakan helm, jadi Ia memang kaku ketika harus menggunakan helm.


“Kalau naik ojek online kamu nggak pake helm?”


“Jarang, walaupun pakai ya cuma dipasang doang, nggak dikunci. Aku orangnya terlalu santai,”


“Santai sama bodo amat itu beda tipis banget ya,”


“Bodo amat?”


“Iya, kamu terlalu bodo amat sama keselamatan kamu sendiri, Sayang,”


“Nggak ah, aku—“


“Udah jangan ngomong lagi,”


Argantara mengecup bibir istrinya sekilas. Tak lama-lama karena bahaya. Bisa jadi mereka tak jadi pergi, yang ada malah sibuk bertaut bibir nantinya.


“Naik ayo,” ujarnya setelah mencium bibir sang istri. Ia meraih tangan Shelina membantunya untuk naik ke atas motornya.


“Udah nyaman posisinya, Ratu?”


“Udah,”


“Pegangan ya, kenceng nggak apa-apa, Ratu,”


“Kamu nggak bisa napas kalau aku pegangan yang kencang,”


“Bisa lah, emang kamu nyekek aku? Nggak ‘kan,”


“Nih kencang,”


Shelina melingkarkan kedua tangannya di pinggang Argantara dengan erat, dan itu membuat Argantara terkekeh. “Itu masih wajar, nggak kencang,”


“Udah pas ini, nggak ganggu konsentrasi kamu nyetir,”


“Ya udah, aman ya? Jangan ngantuk pokoknya,”


“Iya aku nggak ngantuk, pengen nikmati suasana malam,”


“Tapi biasanya terbuai untuk tidur karena angin sepoi-sepoi, Shel,”


“Iya sih, aku sering begitu kalau motoran sama papa,”


“Jangan ngantuk kalau lagi dibawa jalan naik motor, Ratu, bahaya kalau kamu ngantuk. Takutnya si pengemudi nggak seimbang oas kamu miring-miring karena ngantuk terus ketiduran. Akhirnya bisa jadi jatuh,”


“Iya tapi yang namanya ngantuk kadang ‘kan nggak bisa ditahan ya, Ga,”


“Makanya ngobrol aja, Ratu. Terserah mau ngobrol apa deh,”


“Hmm, ngobrol apa? Aku bingung mau angkat topik apa,”


“Eh kita liburan berdua yuk, kemana kek gitu. Bali boleh deh,”


“Bali? Kita ke Bali? Liburan cuma berdua aja? Nggak ajak mama-mama kita, Ar? Mereka paling antusias tuh nyuruh kita bulan madu,”


Argantara terkekeh, Ia yakin kedua mamanya tidak akan mau bila diajak pergi ke Bali. Mengingat Ia dan Shelina baru menikah. Pasti kedua ibu itu akan memberikan waktu untuk Shelina dan Argantara berlibur berdua.


Tapi Argantara tentu tak akan lupa mengajak kedua mamanya itu. Hanya saja Ia tak yakin mereka bersedia ikut.


“Nanti aku coba ajak mama ya,”


“Iya, nggak enak kalau nggak diajak liburan juga ‘kan,”


“Aku rasa sih, mama-mama kita berdua nggak akan mau ikut deh,”


“Lho, emang kenapa? Bukannya liburan itu enak? ‘Kan kita mau senang-senang,”


“Iya, tapi mereka kayaknya nggak bakal ganggu kita deh, Shel. Mereka tau kita ini pengantin baru, pasti kita dikasih waktu untuk liburan berdua aja, ya namanya honeymoon gitulah,”


“Oh, mereka ngira kita bakal honeymoon ya? Emang kita mau honeymoon, Ga?”


“Ya kalau liburan cuma berdua, bisa disebut begitu, apalagi baru nikah ‘kan, apalagi ke Bali yang terkenal jadi destinasi honeymoon buat pengantin baru, selain terkenal jadi destinasi turis internasional. Aku belum pernah ke Bali ngajak cewek, Shel,”


“Kalau ngajak cowok pernah?”


“Pernah, sama papa. Pernah juga sama mama papa,”


“Kalau sama teman belum pernah?”


“Pernah, tapi cowok aja. Itu juga cuma tiga orang kalau nggak salah,”


“Kalau aku baru sama mama papa aja nih, nanti kalau jadi ke Bali lagi, berarti sama kamu ya?”


Argantara menganggukkan kepalanya dan tiba-tiba meraih tangan Shelina yang melingkari pinggangnya. “Iya dong sama aku. Biar kita liburan berdua ‘kan,”


Mereka sudah dekat dengan warung pecel lele yang jaraknya sekitar lima meter lagi. Setelah tiba, Argantara langsung memarkirkan motornya dan Shelina turun lebih dulu, baru disusul oleh dirinya.


“Aku mau ayam goreng, nggak mau lele,” ujar Shelina pada suaminya yang langsung mengangguk dan mengusap punggungnya.


“Kamu cari tempat duduk ya, aku yang pesan,” ucap Argantara yang langsung dilakukan oleh Shelina. Argantara memesan, sementara Shelina mencari tempat untuk Ia dan suaminya duduk.


Shelina memilih meja secara asal saja. Setelah itu Ia mengamati sekitar. Ada tujuh orang yang sedang makan. Kemudian Shelina memperhatikan suaminya yang sedang menyebutkan pesanannya kada sang penjual yang tengah menggoreng.


Setelah memesan barulah Argantara menghampiri istrinya, si perempuan yang mengenakan goodie berwarna ungu muda.


“Sabar ya, Sayang. Lagi dibikin, eh aku pesan sate ususnya juga, sama tahu tempe,”


“Banyak banget, Ga,”


“Ya aku mau, aku doyan, Ratu,”


“Aku doyan juga tuh sate usus, sama tahu,”


“Untung aja aku pesan juga, kamu nggak ngomong kalau kamu suka. Kamu pesannya ayam goreng aja,”


“Ya ayam goreng sama nasi, sambal, lalapan aja udah cukup buat aku sebenarnya, Ga. Udah mantul banget itu,”


“Mantul itu mantap betul?”


“Yup, mantul nasi, ayam goreng, sambal, sama lalapan timun. Woah aku semangat banget kalau makan itu,”


“Aku senang kalau kamu semangat makan. Biar jadi gendutan badannya. Tandanya aku kasih makan.”


“Aku udah pas segini badannya tau, nggak usah gendut lagi,”


“Kurang,”


“Nggak ah udah cukup, udah pas badan aku segini. Nggak kurus nggak gemuk. Berisi lah lebih tepatnya. Aku sebelum nikah udah naikin berat badan aku, Ga. Mama aku yang minta begitu karena kata mama lebih pas kalau dinaikin dikit dan setelah naik, mama senang banget. Katanya aku keliatan lebih pas badannya, apalagi pas pakai baju akad sama resepsi,”


“Kamu sih mau gimana aja juga cantik, Shel,”


“Ya tapi kamu bilang masih kurang,”


“Iya sih, tapi kayak gini juga bagus, pokoknya jangan kurus-kurus, Shel. Kayak nggak bahagia sama aku aja, kayak nggak dikasih makan juga,”


“Berarti kayak gini pas ya? Nggak kurang?”


Argantara bergumam sambil menatap istrinya dari atas sampai bawah. Sebetulnya mau bagaimana Shelina, Argantara tetap menilai perempuan itu cantik. Karena pada dasarnya memang sudah cantik, hanya saja entah kenapa Argantara lebih senang melihat Shelina lebih berisi badannya.


“Bagus, kurang dikit sih, tapi kayak gini udah bagus banget,”


“Ya udah nggak ada kata kurang. Kalau udah bagus berarti udah bagus,”


Argantara tertawa mendengar jawaban istrinya yang sepertinya keberatan kalau Ia minta tambah berat badannya.


“Iya nggak apa-apa kalau kamu nggak mau nambah, Ratu. Kayak gini juga udah bagus, ntar juga gemuk ya kalau udah hamil,”


Shelina yang semula mengetuk-ngetuk tempat tisu langsung diam mendengar ucapan Argantara, dan mendadak Ia canggung.


“Udah ngomongin hamil aja nih,” batin Shelina seraya meringis.


“Ciuman aja masih kaku, mesti dimulai duluan,” batin Shelina.


“Aku nggak sabar kamu hamil deh, Shel,”


“Ssstt udah jangan ngomongin itu dulu, lagi mau makan nih,”


“Cie salting nih,”


Argantara meledek Argantara yang sedang menatap ke depan dimana penjual sedang berjalan ke arah mereka membawa menu yang mereka pesan. Argantara menjawil dagu Shelina hingga Shelina mendengus.


“Arga diam dulu, ini kita lagi mau makan,”


“Aku nggak sabar mau liat kamu hamil anak kita,”


“Ih diulang lagi,”


Alih-alih berhenti, Argantara malah mengulangi ucapannya. Tapi beruntungnya setelah penjual tiba di meja dan menyajikan menu di atas meja, Argantara bungkam.


“Makasih ya, Pak,” ujar Shelina pada sang penjual setelah pesanan semuanya sudah ada di atas meja.


“Sama-sama, selamat menikmati,”


Penjual bergegas meninggalkan meja. Dan Argantara mulai berulah lagi. Ia mencubit pipi Shelina setelah itu mencelupkan tangannya ke dalam wadah berisi air untuk membersihkan tangan.


“Duh nggak sabar makan sama anak,”


“Ya ampun, Arga. Bahas anak bisa di rumah aja nggak? Di kamar deh, jangan di sini,”

__ADS_1


“Salting ya? Cie yang salting,”


__ADS_2