
“Eh itu motor siapa? Ada tamu di rumah lo, Shel,”
“Iya itu motor Ganta,”
Argantara tiba-tiba berpikir keras, tetap maju, atau justru mundur dan putar balik tidak jadi mengantar kekasihnya ke rumah.
“Shel, main ke rumah gue yuk, nyokap gue nanyain lo mulu,”
“Hah? Sekarang banget?”
“Iya, ayo sekarang aja,”
“Tapi udah hampir sampai rumah aku, tinggal berapa meter doang lho itu,”
“Nggak apa-apa, ntar tinggal gue bilang ke nyokap lo kalau lo main ke rumah gue,”
“Tapi aku belum izin,”
“Nanti gue yang izinin,”
“Ya udah kita ke rumah aja dulu minta izin Mama,”
“Nanti di telepon ‘kan bisa,”
“Nggak ah, sekarang aja. Aku mau ngomong langsung,”
Argantara menghembuskan napas kasar, sambil mencengkram kemudinya. Padahal niatnya mengajak Shelina untuk datang ke rumahnya supaya bisa menghindar dari Ganta yang entah kenapa tahu-tahu sudah sampai di rumah Shelina.
“Urusan kalian apa sih? Tadi udah balikin buku, sekarang dia mau ngapain lagi ini?”
“Nggak tau, aku juga bingung,”
“Dia pinjam barang lo apaan lsgi selain bukuvl
“Nggak ada sih, dia cuma pinjam buku,”
“Apaan lagi nih alasannya datang ke rumah lo. Nggak jelas banget tuh orang,”
“Kamu jangan sewot gitu, Arga,”
“Gue risih,”
“Arga kayak orang yang cemburu deh,” batin Shelina sambil memperhatikan Argantara dari sampaing. Sekarang Ia lihat Argantara fokus menatap ke depan mengemudikan mobilnya.
“Dah sampe nih,”
“Kamu ikut turun ‘kan?”
“Emang lo masih mau ke rumah gue? Itu temen lo ada di rumah, paling dia mau banyak ngobrol sama lo,”
“Ya dia mungkin ada keperluan sebentar aja. Aku ngobrol bentar sama dia terus izin ke Mama aku mau ke rumah kamu, gimana?”
“Ya udah ayo,”
Argantara dan Shelina keluar dari mobil. Dari jarak dekat sugaan Shelina tidak salah. Motor yang sedang terparkir di depan gerbang rumahnya itu adalah motor Ganta.
Karena ada mobil papanya yang ternyata sudah pulang, jadi motor Ganta tidak masuk ke dalam.
“Assalamualaikum,”
Argantara dan Shelina langsung mengucapkan salam begitu masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu ada Ganta dan Shefia yang sedang mengobrol.
“Waalaikumsalam,”
“Ini dia yang ditungguin. Wah ada Arga juga. Ayo duduk dulu, Nak,”
Argantara menganggukkan kepala sambil tersenyum dan Ia duduk di sofa single, alih-alih duduk di sebelah Ganta yang duduk di sofa panjang.
“Ganta, ada apa ke sini?”
“Aku mau ngajakin kamu ngerjain tugas bareng,”
“Oh gitu ya,”
Shelina langsung menatap ke arah Argantara. Shelina sudah mengiyakan ajakan Argantara untuk datang ke rumahnya tapi dengan catatan Ia ingin izin langsung dengan mamanya. Namun ternyata Ganta datang untuk mengerjakan tugas.
“Kalau aku malah pergi ke rumah Arga, terus Ganta yang mau kerjain tuga shareng aku malah berkahir pulang, aku jahat nggak ya?” Shelina sedang menimbang sekarang. Apa yang harus Ia lakukan sekarang? Di satu sisi Ia tidak snak menolek Argantara, tapi di lain sisi tidak tega juga bila tidak mengerjakan tugas bersama Ganta.
“Arga datang ke sini mau kerjain tugas juga?” Tanya Shefia pada calon menantunya itu.
“Nggak, Tante. Aku mau minta izin ajak Shelina pergi boleh, Tante?”
“Kemana?”
“Ke rumah aku aja kok, Tante. Mama nanyain Shelina terus, jadi pengen bawa Shelina ke rumah, kalau Tante bolehin,”
“Oh boleh kok. Mau berangkat sekarang? Terus Ganta gimana? Katanya mau ngerjain tugas bareng,”
“Ganta, kalau besok aja gimana? Besok ‘kan kita libur tuh. Nah besok aja ngerjain tugasnya, jadi banyak waktu. Dari jam sembilan kita ngerjain. Kalau ini ‘kan udah mau sore,”
“Oh gitu, ya udah nggak apa-apa. Besok aja, kamu mau pergi ya?”
__ADS_1
“Ya iyalah pake nanya, orang nyokapnya aja udah ngizinin. Lo kalau tetap bertahan di sini sih namanya nggak tau diri,” batin Argantara dengan sinis.
“Iya aku mau ke rumah Arga,”
“Iya nggak apa-apa kok, besok aja kita kerjain. Kalau gitu sekarang aku pamit pulang ya, Tante, Shel,”
“Maaf ya, Ganta,”
“Santai aja, Shel. Aku nggak apa-apa kok,”
“Okay hati-hati kalau gitu, sekali lagi aku minta maaf nggak bisa suku ngerjain tugas bareng kamu,”
“Iya-iya santai,”
Ganta langsung beranjak dari sofa. Sempat ada aksi adu tatap antara Ganta dengan Argantara. Tapi hanya sekilas.
Argantara setengah hati beranjak dari sofa untuk melepas pulangnya Ganta. Dua orang tuan rumah berdiri di depan gerbang melepas kepulangan Ganta, jadi Ia ikuti juga.
“Hati-hati ya, Ganta,”
“Iya, Tante,”
“Salam buat Mama,”
“Iya nanti aku sampein,”
Setelah Ganta pulang, barulah Shelina dan Argantara pamit pada Shefia. “Aku izin bawa Shelina dulu ya, Tante,”
“Mama jangan kangen,”
“Hahaha bisa aja. Orang cuma bentar doang kok. Kecuali kamu udah nikah diboyong sama suami kamu baru deh Mama kangen,”
“Aku cuma ke rumah Arga aja kok, Ma. Abis itu aku pulang,”
“Nanti Arga yang antar Shelina pulang, Tante,”
“Okay, hati-hati ya,”
Argantara dan Shelina masuk ke dalam mobil dan melambai pada Shefia. Setelah mobil Argantara tidak terlihat lagi barulah Shefia masuk ke dalam rumah.
“Pakai seatbelt lo, Shel,”
“Oh iya lupa,”
Shelina tetap harus menggunakan sabuk pengaman sekalipun lokasi rumah Argantara tidak begitu jauh dari rumahnya.
“Gue kira lo bakal ngerjain tugas bareng sama si kunyuk itu,”
“Ya siapapun nama dia, gue nggak peduli,”
“Ih kamu harus menghargai nama orang dong, kalau nama dia Ganta ya jangan diganti-ganti jadi kunyuk. Kalau orangtuanya dengar gimana coba? ‘Kan nggak enak tau,”
“Ya tapi sekarang gue nggak lagi sama orangtuanya. Bodo amat deh,”
“Kamu kenapa ngiranya aku bakal ngerjain tugas sama dia? Aku ‘kan udah iyain mau ke rumah kamu,”
“Ya gue pikir lo lebih tertarik kerjain tugas bareng dia, ketimbang pergi ke rumah gue,”
“Sebenarnya tadi aku bimbang sih,”
“Bimbang kenapa?”
“Soalnya gini, aku udah terlanjur bilang iya mau ke rumah kamu, terus tiba-tiba dia ngajakin aku ngerjain tugas bareng. Kau mau nolak salah satu nggak enak. Tapi untungnya dia paham sih,”
“Gue yakin dia gerutu di dalam hati,”
“Jangan berprasangka buruk sama orang, nggak baik tau,”
“Gue yakin, soalnya dia ‘kan udah berharap nih bisa ngerjain tugas bareng lo,”
“Nggak lah, dia nggak berharap yang gimana-gimana. Udah ah, jangan ngomong gitu,”
“Lo bisa nebak nggak sih?”
“Nebak gimana maksudnya?”
“Dia naksir tuh sama lo,”
“Hah?”
Argantara menganggukkan kepalanya. Shelina harus tahu, kalau menebak perasaan orang lain itu mudah. Apalagi Ganta itu laki-laki, Argantara juga sama. Mudah bagi Argantara untuk menilai bagaimana tatapan kagum, atau suka yang ditunjukkan laki-laki terhadap perempuan. Dan itu ada di mata Ganta saat menatap Shelina.
“Tadi aja waktu lo bilang mau ke rumah gue, alias nggak jadi ngerjain tugas bareng, gue bisa liat kalau dia tuh kecewa,”
“Oh ya?”
“Iya, gue bisa liat dari tatapan mata dia,”
“Kamu cenayang? Kok tau gimana isi hati sama pikiran orang?”
“Ya elah, Shel. Gue nih cowok, dan dia juga cowok. Gue tau gimana tatapan cowok kalau lagi suka ke cewek. Gue ‘kan pernah ngalamin itu,”
__ADS_1
“Oh iya juga ya, kamu ‘kan cowok pasti bisa nilai. Tapi ya udah lah biarin aja,”
“Kok biarin aja sih?”
Argantara menatap sekilas ke perempuan yang duduk di sampingnya saat ini. Ia benar-bsnar tidak paham, kenapa Shelina bisa menanggapi dengan sesantai ini? Padahal Argantara pikir, Shelina akan berucap “Ya udah deh mulai sekarang aku akan jaga jarak sama dia”
Tapi ternyata itu hanya ada dalam bayangannya Argantara saja. Shelina kelihatan santai sekarang bukan malah memikirkan cara supaya Ganta berhenti menyukainya atau memikirkan bagaimana caranya untuk menjaga jarak dari Ganta walaupun statusnya masih berteman supaya Ganta tidak berharap lebih.
“Ya terus aku yarus gimana dong?”
“Menurut lo gimana? Kok malah nanya gue?”
“Menurut aku ya? Biarin aja dia mau suka aku kek, cinta aku kek, yang penting aku sama dia cuma teman aja, aku nggak bisa punya perasaan yang lebih untuk dia,”
“Shel, tapi kalau dia berharap sama lo gimana?”
“Ini ‘kan baru asumsi kamu aja ya. Belum tentu kenyataannya begitu. Karena Ganta juga nggak ngomong apa-apa kok soal perasaan dia ke aku. Dia nggak bilang kalau dia suka atau apa gitu sama aku,”
“Ya belum aja. Mungkin dia pikir waktunya belum tepat. Malah bisa jadi tau-tau dia ngelamar lo, tiba-tiba dia mau nikahin lo. Terus lo bakal gimana?”
“Ya nggak mungkin lah itu terjadi. Aku ‘kan udah tunangan,”
“Ya mungkin aja. Orangtua lo misalnya berubah pikiran, nggak jadi jodohin gue sama lo, terus nyuruh lo nikah sama Ganta aja, terus lo bakal nolak gitu? Lo ‘kan anaknya patuh banget,”
“Aku punya hak untuk nentuin siapa pasangan hidup aku. Jadi kalau aku nggak mau sama dia, masa krangtua aku mau maksa. Waktu dijodohin sama kamu aja, aku nggak dipaksa kok. Aku dmang mau sendiri setelah Mama Papa bicara ke aku. Aku dikasih hak untuk bilang nggak,”
Argantara sedikit bernapas lega. Entah, apa alasan Ia menghela napas lega. Tapi yang jelas Ia sedikit lega ketika dengan tegas Shelina mengatakan didinya punya hak untuk menentukan apsangan hidupnya sendiri.
“Jadi lo waktu dijodohin sama gue nggak dipaksa?”
“Nggak, memang aku mau sendiri kok. Emang mereka kelihatannya sih berharap ya, cuma mereka nggak maksa. Dan aku mau karena pertama aku pengen nurut sama orangtua. Yang kedua aku males cari jodoh sendiri. Kamu boleh bilang aku bodoh atau apa karena dua alasan itu tapi aku nggak peduli. Yang ketiga aku yakin kalau pilihan Mama Papa itu baik untuk aku, dan yang terakhir aku makin yakin mau dijodohins ana kamu karena aku bisa liat kamu itu laki-laki yang baik. Ya walaupun setelah kita tunangan kamu berubah buas banget ya. Tapi sekarang terbukti kok. Kamu itu aslinya baik. Kamu cuma perlu waktu untuk nerima aku,”
“Kalau dia tetap ngejar lo gimana, Shel?”
“Nantindia capek sendiri ngejar orangnyang nggak mau dikejar,”
“Lo udah bilang kalau lo punya tunangan dan itu gue?”
“Belum, aku belum sempat,”
“Ya elah, kapan sempatnya kalau gitu? Makin lama lo bilang, makin merasa bebas dia. Dia pasti merasa punya kesempatan yang banyak untuk dapetin lo,”
“Kamu kayaknya takut banget kehilangan aku,”
“Iya gue takut, emang kenapa? Gue nggak boleh merasa takut kehilangan? Hmm?”
Shelina menahan senyum bahagianya. Ia senang sekali mendengar ucapan argantara. Tidak menyangka Argantara akan dengan terang-terangan berkata seperti itu.
“Lo pergi jauh-jauh deh dari hidup gue. Gue benci banget sama lo. Jangan berharap kalau gue bakal jadi suami lo. Gue nggak mau nikah sama lo! Nggak ada cocoknya lo jadi pasangan gue,”
“Mati aja lo seklian biar kita nggak jadi dijodohin,”
Di tengah rasa bahagianya karena Argantara tidak malu-malu mengakui bahwa dia takut kehilangannya. Tiba-tiba datang memori saat Argantara menjadi orang yang jahat, yang tidak mau menghargai kehadirannya.
“Shel, kok diam?”
“Hmm? Nggak apa-apa,”
“Lo baik-baik aja ‘kan?”
“Iya, aku baik-baik aja. Cuma lagi ingat kata-kata yang pernah kamu ucapin waktu itu ke aku,”
“Apa?”
“Kamu nyuruh aku untuk mati aja supaya perjodohan kita batal, kamu benci banget sama aku dan kamu nggak bolehin aku untuk berharap apa-apa sama kamu.
Argantara langsung membeku ketika diingatkan tentang bagaimana jahatnya dia waktu itu kepada Shelina.
Argantara merasa bersalah sekarang. Ketika melakukan kesalahan, Ia justru merasa puas karena sudah menyakiti Shelina separah itu dengan kata-kata dan sikapnya.
Argantara meraih tangan Shelina kemudian Ia genggam dengan erat. Tanpa kata, Ia berharap Shelina paham kalau itu bentuk permohonan supaya Shelina tidak lagi mengingat apapun yang menyakitkan untuknya. Meminta maaf sudah sering Ia lalukan, tapi rasa bersalah itu masih belum habis juga karena Argantara tahu sakit hati Shelina juga masih tersisa walaupun selama ini Shelina mengatakan Ia tidak dendam, dan sudah memaafkan.
“Oh iya, nanti aku mungkin nggak lama ya di rumah kamu nya,”
Shelina tidak mau tenggelam dalam rasa sedihnya. Makandari itu Ia alihkan dengan oertanyaan.
Seharusnya yang berlalu memang tidak perlu diingat lagi, tapi sulit sekali untuk melakukan itu. Karena memang membekas sekali semua sikap dan ucapan Argantara yang ditujukan kepadanya saat Argantara masih belum bisa menerimanya. Kesabaran Shelina berbuah manus. Argantara sudah tidak membencinya lagi, Ia tidak sia-sia memberikan wajtu untuk Argantara beradaptasi dengan kehadirannya di hidup lelaki itu.
“Lama juga nggak apa-apa, nanti gue antar kok,”
“Nggak ah, aku nggak enak kalau lama-lama,”
“Kok nggak enak sih? Nyokap gue nggak gigit kok,”
“Iya aku tau, tapi aku nggak enak aja gitu kalau lama-lama di rumah orang lain,”
“Itu bukan rumah orang lain, Shel. Lo emangnya di anggap orang lain sama keluarga gue? Nggak, mereka anggap keluarga. Masa lo anggap gue sama keluarga gue tuh orang lain sih?”
“Ya wajarlah, orang belum nikah. Kalau udah nikah tuh baru jadi bagian dari keluarga,”
“Nggak, nyokap bokap gue dan keluarga gue udah anggap lo jadi bagian dari kami kok,”
__ADS_1