Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 46


__ADS_3

“Kenapa kamu nggak masuk aja?”


“Nggak ah, gue sungkan. Nyokap lo sama lo lagi asyik ngobrol sama cowok itu. Gue kirain dia pacar lo,”


“Hah? Pacar aku?”


Shelina terperangah bingung mendengar ucapan Argantara. Bisa-bisanya Argabtara mengira bahwa yang datang barusan adalah kekasihnya padahal itu Gante, teman masa kecilnya.


“Apaan sih? Kok kamu mikirnya itu pacar aku? Itu teman aku,”


“Oh ya?“


“Udah aku bilang itu teman aku, perasaan dari tadi aku udah ngomong gitu deh. Dia teman aku, baru datang dari Jepang sama Mama Papanya tapi kebetulan mereka nggak datang, cuma Gante aja. Mamanya Gante lagi kurang enak badan,”


“Ya udah, gue mau ngajakin lo jenguk temen gue, dia abis kecelakaan. Temen kelas gue,”


“Ya Allah, terus gimana keadaannya sekarang? Siapa namanya?”


“Aruna,”


“Perempuan?”


“Iya, temen sekelas gue,”


Entah kenapa Argantara ingin menegaskan sekali lagi kalau yang akan mereka jenguk itu adalah teman sekelasnya padahal Shelina sudah paham.


“Kecelakaan dimana, Ga? Ditabrak gitu ya maksudnya?”

__ADS_1


“Iya sama mobil, dia baik motor sama temennya satu cewek, beda kelas,”


“Musibah nggak ada yang tau. Ya udah ayo kita jenguk,”


Shelina langsung beranjak meninggalkan sofa ruang tamu. Ia menatap Argantara sebentar “Aku ganti baju dulu ya sebentar,”


“Iya okay. Thanks ya lo mau temenin gue jenguk Aruna,”


“Iya sama-sama. Sebenarnya aku bingung sih kamu tumben ngajak aku, tapi nggak apa-apa, aku malah senang dan berterimakasih,” ujar Shelina seraya tersenyum lalu bergegas ke kamarnya meninggalkan Argantara yang juga bingung pada dirinya sendiri. Entah kenapa Ia punya inisiatif untuk mengajak Shelina padahal biasanya kemanapun Ia pergi, Ia tidak pernah mau melibatkan Shelina.


Argantara sedang berkutat dnegan pikirannya snediri lalu tiba-tiba ada panggilan masuk dari Denis. Ia segera menjawabnya.


“Eh Ga lo dimana? Mau jenguk Aruna bareng nggak? Gue udah di depan rumah lo nih,”


“Yah lo nggak bilang dari tadi. Gue udah di rumah Shelina. Gue mau pergi bareng dia,”


“Ya emang kenapa sih? Nggak apa-apa dong jenguk ngajak dia?”


“Mau jenguk apa mau pacaran nih?”


“Ya elah lo sembarangan aja kalau ngomong, Den,”


“Hahahaha canda, bos. Ya udah deh gue ke rumah sakit sendiri,”


“Sorry ya,”


“Okay, gue paham yang udah cinta mah beda,”

__ADS_1


Argantara berdecak mendnegar ucapan Denis yang setelah bicara seperti itu langsung mengakhiri sambungan telepon mereka.


“Cinta? Sok tau amat. Emang dia bisa tau isi hati gue? gimana caranya coba?”


Shelina datang dan mendnegar Argantara bergumam yang Ia dnegar cuma kata cinta saja. Shelina tentu bertanya-tanya.


“Siapa yang cinta siapa?”


“Hah?”


“Iya barusan kamu ngomong cinta? Kamu cinta siapa?”


“Nggak ada, apaan sih? Kok tanya kayak gitu? Nggak jelas,”


“Ya aku dengar kamu ngomong cinta tadi,”


“Itu gue ngulangin apa kata Denis. Dia bilang gue cinta sama lo. Dia sok tau banget. Emang dia tau apa isi hati gue,”


Shelina menganggukkan kepalanya sambil menahan senyum. Dalam hati Ia mengamini kalau memang Argantara adalah lelaki terbaik untuknya. Ia juga ingin merasakan yang namanya dicintai.


“Emang aslinya belum ya? Denis sok tau aja ya?”


“Dia ‘kan nggak tau isi hati gue. Orang masih ada—“


Argantara sadar apa yang akan Ia ucapkan itu tidak baik. Mungkin akan membuat Shelina sakit hati. Argantara sekarang ingin belajar untuk lebih menghargai perasaan Shelina.


Walaupun Ia belum mencintai Shelina dan masih ada sisa rasa untuk mantan kekasihnya. Ia sedang berusaha menghilangkan itu, supaya bisa benar-benar fokus dengan masa depannya saja karena masa lalunya sudah terlalu menyakitkan.

__ADS_1


__ADS_2