Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 65


__ADS_3

“Ih berisik banget,”


Shelina terpaksa bangun dari tidur lelapnya karena ada suara berisik yang diaebabkan oleh kaca jendela kamarnya.


“Kayak ada yang nimouk kerikil ya?”


Mendadak Shelina merinding, Ia langsung menatap jam dinding yang ternyata sudah pukul sebelas malam.


“Ih siapa ya itu? Manusia atau bukan?” Gumam Shelina sambil mengusap tengkuknya sendiri. Shelina takut kalau seandianya yang melempari batu ke arah jendela kamarnya itu bukan manusia melainkan hantu usil.


“Tapi emangnya hantu bisa lempar batu kerikil ya?”


“Kayaknya nggak deh,”


Lagi-lagi ada kerikil yang membentur kaca jendela Shelina yang memilih untuk pura-pura tidak dengar. Ia langsung berbaring lagi membelakangi kaca jendela sambil menutup sleuruh badannya dnegan selinut. Jujur Shelina takut itu adalah hantu. Karena kalau maling, tidak mungkin malah sengaja nembuat tuan rumah bangun dnegan kesuilannya melempari kerikil.


Maling pasti langsung cari cara supaya bisa masuk, slaah satunya dnegan membuka paksa jendela menggunakan senjata tajam. Makanya Shelina tidak curiga kalau itu maling.


“Ih kok makin menjadi sih!”


Shelina tidak bisa pura-pura tidak dengar lagi karena keberisikan dari kaca jendelanya semakin mengganggu. Alhasil Ia beranikah dirinya untuk meninggalkan tempat tiduur dan berjalan mendekati jendela dengan detak jantungnyang benar-benar tidak biaa dikatakan normal. Jantungnya berdegup tidak karuan gara-gara kaca jendelanya dilempari ketikil.


Shelina menghembuskan napas kasar sebelum memberanikan dirinya untuk membuka tirai jendela. Ia harus hentikan sendiri apa yang membuatnya terganggu ketimbang Ia harus laporan pada mama dan paoanya yang membuat mereka hadi terganggu istirahatnya dan Ia tidak mau kalau sampai itu terjadi.


“Satu,”


Shelina ingin berhitung dulu sebelum membuka tirai dengan cepat. Ia berhitung sambil mempersiapkan dirinya sampai benar-benar siap-siap.


“Dua,”


Detak jantung Shelina semakin tidak beraturan dan jendelanya juga masih dibuat berisik. Padahal kalau saja jendela itu tak berisik lagi di hitungan kedua, Shelina sudah mau mendaratkan dirinya lagi di tempat tidur dnegan harapan orang atau hantunyang usul itu sudah selesai mengganggunya. Tapi ternyata tidak, sampai melewati hitungan kedua jendela itu masih saja berisik.


“Ti—-“


“Aduh aku benar-benar takut banget ini,” batin Shelina. Shelina ragu lanjut berhitung atau tidak, lanjut nelaksanakan niatnya atau tidak. Tapi kalau Ia tidka melakukannya, maka akan sampai kalan Ia diganggu? Ia tidka mau tidurnya diganggu, ini masih tengah malam, harusnya Ia masih tertidur lelap tapi malah diganggu.


“Hah! Aku harus berani! Aku harus berhentiin orang atau hantu yang iseng ini. Kurang ajar banget dia gangguin aku,”


“Tiga!”


Shelina selesai berhitung dan langsung membuka tirai jendela. Begitu Ia membuka tirai, satu lemparan baru kerikil mendarat di kaca jendelanya dan Ia benar-benar kaget.


Lebih kaget lagi ketika melihat ada seorang laki-laki melambai padanya. Dan sosok itu tidak asing.


“Astaga, Ganta?! Kok dia bisa—kok dia ada di sini sih?! Kenapa juga harus gangguin aku!”


Shelina langsung membuka jendela kamarnya yang berada di lantai atas untuk bicara pada Ganta yang ada di lantai bawah. Malam ini Ganta sudah benar-bsnar membuat Shelina kesal sekali.


“Kamu ngapain sih ke sini?! Ini udah malam, Ganta! Kamu nggak sopan!”


Shelina langsung menegur Ganta dengan tegas. Shelina tidak senang ketika Ganta seenaknya. Shelina tidak suka dnegan orang yang tidak tau aturan dan sopan santun. Ini sudah tengah malam, harusnya Ganta tidak berada di rumahnya.


“Aku bawa ini buat kamu,” ujar Ganta dengan suara keras sambil mengangkat oaper bag di tangannya.


“Sebelumnya makasih, tapi lebih baik kamu bawa pulang aja,”


“Nggak, kamu terima ya tolong. Aku hubungin kamu taoi nggak aktif,”


“Ya emang handphone aku lagi mati dan dicharge,”


“Ya udah terima ini,”


Shelina berdecak pelan. Supaya Ganta segera pergi dari rumahnya Ia harus sejarang juga menemui Ganta yang datang membawa sesuatu malam-malam.


Melihat Shelina menutup jendela sekaligus titainya, Ganta berharap Shelina mau turun ke bawa menemuinya. Lalu tidak lana kemudian harapannya itu terwujud. Shelina membuka gerbang rumahnya setelah Ia izin dulu pada penjaga rumah. Jangan sampai Pak Jo mengira Ia akan kabur, padahal ingin menemui temannya, maka dari itu Ia harus berkata jujur pada Pak Jo.


“Hai, maaf ya aku ganggu kamu,”


“Kamu ganggu banget, serius. Aku kali ini nggak suka ya sama cara kamu. Aku bukan nggak menghargai kamu, tapi kamu rmang keterlaluan. Amsa kamu nimpukin jendela kamar aku pakai kerikil terus-terusan. Itu ganggu, Ganta, dan aku nggak suka. Lagian ya kalau emang mau ngasih sesuatu kenaoa nggak dari sore aka sih? ‘Kan bisa tadi sore, atau paling nggak jam sembilan lah, nggak kayak gini udah jam sebelas malam, aku udah tidur lagi pulas-pulasnya,”


Ganta menatap Shelina denganw ajah penuh sesal. Ia lagi-lagi meminta maaf pada Shelina atas kesalahannya malam ini.


“Kamu jangan begini lagi. Kamu harus ingat kita ini hidup di dunia yang punya aturan. Di komolek rumah aku tuh nggak boleh ada tamu di atas jam sepuluh malam, terus gimana caranya kamu masuk?”


“Lagi nggak ada yang jaga, engah ekmana jadi aku bisa masuk deh,”


“Tuh, kamu menyalahi aturan. Dan satu lagi, kamu juga nggak sopan. Mana ada tamu datang jam sebelas malam. Alasna kamu datang juga bukan alasan yang genting,”


“Iya aku minta maaf, jangan marah lagi ya, aku benar-benar minta maaf sama kamu. Ini buat kamu, aku tuh bosan di rumah, malam-malam nggak bisa tidur. Terus aku kepikiran pengen dat-‘g nyamperin kamu ngajak pergi tapi nggak mungkin, karena aku tetap pengen ketemu kamu ealaupun nggak jalan sama kamu, akhirnya ya udah aku beli makanan aja deh buat kamu terus aku dafang ke rumah kamu,”


“Ya iyalah aku nggak akan mau diajakin jalan malam-malam, emang aku nggak punya rumah apa?” Sahut Shelina dengan ketus.


Shelina menghargai biat baiknya Ganta yang datang ke rumahnya dengan membawa makanan, tapi cara Ganta salah. Tidak seharusnya Ganta menghampirinya malam-malam seperti ini.


“Aku minta maaf udah ganggu kamu,”


“Ya, makasih udah datang ke sini repot-repot juga bawa makanan,”


“Sama-sama, semoga kamu suka. Aku pamit dulu ya kalau gitu,”


Shelina menganggukkan kepalanya dan langsung masuk ke dalam eumah, sementara Ganta mengamati Shelina dulu sampai Shelina benar-benar tidak terlihat lagi di pelupuk matanya.


“Kamu darimana, Shel? Terus kamu bawa apa itu?”


“Astaga, kaget banget aku, Ma,”


Shefia terkekeh melihat teaksi anaknya yang langsung mengusap dada begitu mendengar suaranya. Shefia niatnya mau ambil minum, tapi Ia melihat pintu tunah terbuka sedikit, dan ada suara bicara juga samar-samar, ketika Ia hendak menghampiri ternyata Shelina sudah terlanjur masuk rumah.


“Barusan Ganta datang terus ngasih makanan ini, nggak tau deh makanan apa,” ujar Shelina sambil mengunci pintu rumah hingga dipastikan aman barulah Ia ke ruang makan diikuti oleh mamanya.


“Hah? Ganta datang malam-malam begini? Kamu yakim, Shel?”


“Yakin, Ma. Emang dia kok yang datang barusan. Dia bawa makanan ini,”


“Ya ampun, kenapa harus tengah malam coba?”


“Ya makanya ktu aku juga bingung, Ma. Dia tuh kenapas ih kerajinan banget datang malam-malam cuma karena mau ngasih ginian, dan mama tau nggak hal nelat yang dia lakuin tadi apa?” Tanya Shelina yang tentu dijawab gelengan kepala oleh Shefia. Karena Shefia tidak tahu jawabannya dan Shefia juga tidak bisa menebak.


“Ganta lemparin kaca jendela lamar aku pakai kerikil terus, Ma. Sampai aku kebangun,” penjelasan Shelina langsung membuat kedua mata Shefia membelalak terkejut.


“Kamu yang benar, Shel,”


“Iya aku benar, Ma. Mana mungkin sih aku bohong, Ma? Aku nggak bakal ngarang, ini aku serius. Dia ngelemparin jendela kamar aku pakai kerikil terus sampai aku kebangun dan aku takut banget. Aku sempat diemin, tapi kok makin berisik. Akhirnya aku mau nggak mau bangun dari tempat tidur, ngumpulin keberanian untuk buka tirai jendela dan aku kaget liat Ganta ada di bawah,”


“Kamu kenaoa hadpain sendiri sih? Kenapa nggak ke kamar Mama Papa aja? Ngomong dulu sama kami,”


“Aku nggak mau ganggu istirahat Mama Papa, jadi ya udah aku hadapin sendiri rasa takut aku tadi, dan ternyata dalangnya di Ganta. Aku pikir ada setan usil. Soalnya kalau maling nggak masuk akal dia malah bikin aku kebangun, malah berisik, kalau maling itu ‘kam kerjanya diam-diam sebisa mungkin nggak ketauan, nah kalau yang barusan tuh aengaja aku nya dibuat kebangun karena suara berisik dari jendela,”


“Ya udah itu makanannya simpan aja dulu di dapur, sini Mama simpan. Kita lanjut tidur, atau kamu mau makan pemberiannya Ganta sekarang?”


“Nggak usah, Ma. Aku nggak nafsu makan tengah malam gini, aku pengen tidur,”


“Ya udah tidur gih, Mama simpan makanan dari Ganta dulu,”


“Iya aku duluan ke kamar ya, Ma,”


“Okay, Sayang,”


Shelina bergegas ke kamarnya untuk lanjut istirahat sementara mamanya menyimpan makanan dari Ganta terlebih dahulu barulah lanjut istirahat juga.


Sampai di kamar, Shelina bisa bernapas lega. “Akhirnya nggak ada gantguan lagi semoga deh nggak pernah ada gangguan apapun, dan dari siapapun,” ujar Shelina sambil berbaring memeluk bonekanya.


“Sampai sekarang aku maish bingung, nggak habis pikir deh sama Ganta. Dia kenaoa senekat itu ya? Apa dia nggak takut disangka orang jahat sama satpam komplek kalau kebetulan ketemu pas satpam lagi keliling? Apa dia nggak takut digebukin warga malam-malan datang ke rumah orang udah gitu caranya nggak baik, pake lempar-lempar kerikil segala. Ya ampun, Ganta…Ganta…aku nggak habis pikir sih sama kamu,” gumam Shelina.


******


“Arga, bangun. Jangan kesiangan, kamu ‘kan ada kuliah pagi, Nak,”


Argantara membuka matanya ketika pipinya ditepuk-tepuk lembut oleh Tina. Argantara sudah bilang kemarin kalau dirinya ada kelas pagi jam delapan dan ini sudah setengah tujuh tapi belum ada tanda-tanda Argantara bangun, makanya Tina bergegas ke kamar anaknya untuk membangunkan anaknya itu.


“Kamu kok kesiangan sih? Nggak nyalain alarm ya?”


“Lupa, Ma,”


“Tidur jam berapa sih emang?”


“Malam,”


“Ya malamnya jam berapa?”


“Jam—dua kalau nggak salah,”


“Ya amlun, pantesan aja. Emnag kenaoa tidurnya sampai tengah malam begitu?”


“Aku nungguin Shelina,”


“Hah? Nungguin Shelina maksudnya? Kamu nungguin Shelina datang ke mimpi kamu gitu?”


“Bukan, Ma,”


“Lah terus?”


“Aku chat dia, eh nggak dibalas-balas. Aku nungguin smabil main game terus nggak berasa udah jam dua,”


Tina berdecak sambil geleng-geleng kepala. Entah kemana hilangnya Argantara yang biasanya sinis dengan Shelina bahkan dengar nama saja kelihatan benci sekali. Sekarang malah hobi menunggu kabar Shelina.


“Dulu kalau dengar tentang Shelina ih sinis banget, nggak mau, seolah Shelina tuh irang jahat sedunia yang bikin kamu kamu emosi, eh sekaranga aj nungguin kanarnya samlai ektiduran kayak gitu,”


Argantara terkekeh mendengar mamanya mengejeknya seperti itu. Kalau ingat yang dulu, dan membandingkannya dengan yang sekarang, Areno memang merasa malu. Tapi Shelina selalu meyakinkannya bahwa masa lalu tidak perlu dibahas lagi. Shelina berbesar hati memafkannya.


“Ya udah sana kamu mandi! Abis itu sarapan ya,”


“Aku nggak usah sarapan deh, Ma,”


“Lho, terus?”


“Aku nggak sarapan, langsung ke kampus aja,”


“Eh nggak jemput Shelina dulu?”


“Oh iya jemout Shelina dulu maksud aku, nah baru ke kampus,”


“Jangan lupa jemput Shelina! Kamu saking buru-birunya nyar lupa lagi,”


“Iya, Ma,”


“Tapi Shelina dmangnya kuliah pagi?”


“Iya dia ada kelas pagi kok,”


Tina menganggukkan kepalanya lantas melangkah meninggalkan kamar sang putra. Tugasnya untuk membangunkan Argantara sudah selesai. Melihat Argantara sudah masuk kamar mandi, Tina baru benar-benar yakin keluar dari kamar Argantara. Karena Argantara itu masih suka mendarat lagi di tempat tidur padahal sudah bangun. Tapi kalau sudah masuk kamar mandi biasanya aman, dia benar-benar mandi.


Kelakuan anaknya itu memang masih seperti anak kecil, tapi itulah yang nanti dirindukan oleh Tina sebagai Ibu yang melahirkannya dan membesarkannya.


*****


“Ini ayam dari Ganta semalam, Shel. Udah Mama panasin, Sayang,”


“Oh iya makasih, Ma,”


“Dia tau kamu suka ayam crispy jadi dibeliinnya ini ya,” ujar Shefia sambil menuangkan nasi ke piring anaknya.


“Segini cukup?”


“Iya cukup, Ma,”


Shelina menerima piring yang sudah diisi nasi oleh mamanya laku Ia mulai makan dengan ayam pemberian Ganta, dan juga kuah sup buatan mamanya.


“Memang Ganta semalam datang jam berapa?” Tanya Ghani pada anaknya. Semalam Ghani tdiak tahu kalau Ganta datang ke rumah.


“Dia datang malam banget, Pa, jam sebelas,”


“Hah? Kok bisa semalam itu? Emang dibolehin masuk sama satpam yang jaga komplek?”


“Katanya sih, dia liat penjaga lagi nggak ada, makanya dia bisa masuk deh,”


“Ya ampun, jangan gitu lagi lain kali. Demi keselamatan dia juga. Takutnya disangka maling sama orang sini,”


“Ya makanya itu, Pa. Mana dia nggak sopan banget lagi, ngelemparin jedela aku pakai kerikil supaya aku bukain pintu,”

__ADS_1


“Hah? Sampai segitunya?” Ghani benar-benar kaget mendengar penjelasan anaknya yang langsung menganggukkan kepala menjawab pertanyaan sang ayah.


“Ya ampun, kok bisa segitunya, Shel?”


“Ya aku kuga nggak tau, Pa,”


“Handphone kamu nggak bisa dihubungi emangnya? Kok dia sampai lempar kerikil gitu?”


“Jadi handphone aku lagi dichare, Pa. Emang dalam keadaan mati karena batre nya udah benar-benar nggak ada,”


“Duh jangan lagi deh, bilangin sama Ganta ya,”


“Iya, Pa, nanti aku bilang ke Ganta jangan nekat lagi kayak semalam. Aku benar-benar takut banget ih. Aku pikir ada hantu usil, ternyata dia. Aku beraniin diri aku untuk buka tirai jendela, aku udah pasrah aja deh entah apa yang bakal aku temuin,”


“Lain kali ke kamar Mama Papa, laporin ke kami berdua. Kamu jangan hadapi sendiri,”


“Aku nggak mau ganggu istirahat Mama sama Papa. Aku berani-beraniin aja, sekalian uji nyali,”


“Eh jangan gitu, kalau kamu kenapa-napa sendirian, ‘kan Mama Papa nggak tau apapun. Jadi harus laporan ke Mama sama Papa biar kami ikut ngecek juga,”


“Iya nanti aku bakal laporan sama Mama Papa deh lain kali,”


“Iya, Shel. Kamu itu anak peremluan, jangan terlalu bernai ah,”


“Justru itu aku lagi belajar berani, Ma, aslinya aku nggak bernai sedikitpun cuma aku paksain auoaya berani. Soalnya aku nggak bisa sepanjang malam digangguin terus sama suara berisik itu,”


Shelina harus kembali bercerita momen menyebalkan semalam kepada kedua orangtuanya supaya mereka tahu lebih jelasnya. Sang Papa bahkan belum tahu apapun. Dan begitu tahu kalau Ganta nekat datang malam-malam, Papanya Shelina tak habis pikir.


“Dia kok nggak dilarang juga ya sama Mama Papanya?” Gumam Shelina. Itu pertanyaan yang sampai saat ini masih terbayang-bayang di kepala Shelina.


“Ya mungkin Ganta keluar diam-diam sari rumah,” ujar Shefia.


“Iya kakayaknya, Ma. Ya ampun, berani banget ih,”


“Yang kayak gitu jnagan dicontoh. Apapun yang nggak baik dari teman sekalipun sahabat, jangan dicontoh sama kamu. Kalau yang baik-baik silahkan kamu contoh,”


Shelina menganggukkan kspalanya patuh mendengar pesan mamanya. Ia tidak akan mencontoh karena perbuatan Ganta semalam itu termasuk diluar nalar.


“Hanya karena dia bosan di rumah dan dia nggak tau mau ngapain, dia sampai keluar malam-malam dari rumah untuk nemuin aku,”


“Padahal kalau bosan, kalau nggak tau mau ngapain ya mendingan tidur. Kalau Mama sih mending gitu ya daripada ke rumah orang tengah malam ya walaupun emang bawa makanan niatnya baik mau berbagi, cuma ‘kan ngapain harus tengah malam? Rugi di Ganta nya kalau kenapa-napa ‘kan,”


“Iya makanya, dia nggak mikir sampai ke sana,”


“Ya mungkin karena kamu sahabatnya kali ya, jadi dia sampai segitunya,” ujar Ghani pada anaknya. Mereka berusaha maklum walaupun tak masuk akal.


“Nggak, Pa. Dia tuh cinta itu punya perasaan lebih untuk Shelina. Kalau Papa nggak eprcaya, Papa bisa tanya Shelina,”


Ghani mengerjapkan kedua matanya terkejut mendnegar ucapan sang istri. Ia langsung menatap Shelina yang mengangguk.


“Iya dia pernah ngomong sendiri ke aku, Pa,”


“Lho kok Papa belum tau sih? Apa Papa yang lupa ya Mama udah pernah cerita?”


“Nggak kayaknya memang belum ada yang cerita ke Papa deh baik Mama ataupun Shelina, kayaknya ya. Ya udahlah kalaupun udah cerita dan Papa lupa atau nggak ngeh juga nggak apa-apa kok. Yang jelas, Ganta emang nyimpan perasaan untuk Shelina. Dia semdiri yang nyatain itu, di depan Shelina, tapi awalnya Shelina nggak mau cerita sama Mama, yang cerita malah Arga,”


“Ya ampun, Arga udah tau? Waduh jadi rumit gini, Shel,”


“Iya makanya Arga sekarang resek gitu deh,”


“Resek gimana? Cemburu gitu?”


“Iya kali, dia suka sewot kalau aku udah sama Ganta apdahal ‘kan biar gimanapun Ganta itu sahabat aku, Pa. Masa iya aku langsung jauhin dia cuma gara-gara dia suka sama aku,”


“Tapi memang sebaiknya jaga jarak ya, Nak. Maksud Papa, kamu nggak harus jauhin dia tapi buatlah batasan yang menegaskan kalau kamu itu memang anggap Ganta sebatas sahabat dan kamu juga harus menghargai Arga sebagai tunangan kamu. Siapapun nggak suka lah kalau tau pasangannya disukai sama orang lain, apalagi kalau masih punya hubungan yang dekat. Papa tau gimana perasaan Arga, pasti dia risih, dia cemburu. Tapi dia juga harus paham posisi kamu sebagai sahabatnya Ganta yang nggak mau jauhin Ganta,”


“Iya aku udah usaha untuk paham perasaannya Arga kok, Pa,”


Guani menganggukkan kepalanya. Tidak terasa makanan mereka sudah habis. Ghani langsung menyeruput air minum dan membersihkan sudut mulutnya menggunakan tisu, lantas pamit pada istri dan juga anaknya.


“Hati-hati ya, Pa,” pesan Shefia.


“Iya, Ma, baik-baik juga di rumah ya,”


“Iya, Pa,”


“Shel, kuliah yang bener ya,”


“Siap, Pa,”


Shelina belum memghabiskan makanannya jadi dilarang oleh sang papa mengantar sampai ke depan pintu. Akhirnya Shelina tetap melanjytkan makan sementara mamanya yang sudah berhasil memghabiskan makanan bersamaan dengan papanya tadi langsung mengikuti papanya hingga ke depan pintu.


“Hati-hati ya, Pa,”


“Iya, Ma,”


“Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


Mobil Ghani melaju meninggalkan kediamannnya. Saat Shefia akan kembali ke ruang makan menemani anaknya makan, tiba-tiba ada duara motor datang dan Ia mengurungkan niatnya untuk ke tuang makan karena Argantara fatang dengan senyum hangatnya.


“Assalamualaikum, Tante,”


“Waalaikumsalam,”


“Om baru berangkat ya? Tadi aku ngeliatmobilnya sempat diklakson juga sama Om,”


“Iya baru aja, nggak lama dari papanya Shelina bernagkat, kamu datang,”


“Shelina udah siap belum, Tante?” Tanya Argantara pada mamanya Shelina yang langsung menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Argantara.


“Belum, Shelina maish makan. Kamu ikut makan yuk,”


“Nggak usah, Tante, aku udah makan,”


“Yang benar?”


“Udah beneran, Tante,”


Padahal Argantara tidak makan dulu tadi karena takut terlambat. Tapi Ia malu kalau makan di rumah tunangannya itu. Tentu Ia lebih memilih untuk makan di kantin kampus saja nanti kalau memang maish semoat ketimbang harus merepotkan Shelina dan Mamanya.


“Iya beneran, Tante,”


“Mau minum apa?”


“Nggak usah, Tante, aku nggak haus kok,”


“Ah semuanya nolak. Bentar deh Tante ambilin minum dulu,”


Argantara tidak bisa lagi menahan mamanya Shelina karena sudah bergegas ke dapur mengambil air minum untuk Argantara sekaligus memberitahu anaknya itu bahwa Argantara sudah datang.


“Shel, Arga udah di ruang tamu tuh,”


“Lah udah datang dia? Cepat banget,”


“Iya makanya kamu juga cepetan dikit ya, jangan kelamaan dia nunggu, nanti kalian juga telat masuk kelas,”


“Siap, Ma,”


Shelina menghabiskan suapan terakhirnya setelah itu Ia minum dan membersihkan sudut mulutnya menggunakan tisu sebelum akhirnya beranjak meninggalkan meja makan.


Di ruang tamu Argantara sedang menyeruput air minum yang telah diambilkan oleh Shefia. Saat melihat Shelina datang, Argantara langsung beranjak bangun.


“Ga, ini dibawa rotinya,”


Shefia tidka membiarkan Argantara untuk meninggalkan roti yang sudah Ia sajikan untuk Argantara. Roti dibek lebih telatnya. Berhubung Argantara tidak mau ikut makan, dan bilangnya sudah makan, jadi Shefia ambilkan roti saja untuk dimakan saat waktunya luang nanti.


“Nggak usah, Tante,”


“Eh jangan nolak dong, bawa rotinya, jangan ditinggal pokoknya. Kamu ‘kan bilang udah makan, jaid kamu nggak makan di sini, jadi ya udah bawa roti itu ya, buat iseng ntar kalau lagi nggak ada dosen, nahan lapar sampai jamnya ke kantin,”


“Makasih, Tante, aku terima rotinya,”


“Sama-sama, ya udah gih kalian berangkat, takut terlambat, maaf ya kalau Shelina agak lama,”


“Nggak apa-apa, Tante. Aku sama Shelina berangkat dulu kalau gitu ya, Tan, Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam, hati-hati ya,”


“Iya, Tan,”


Shelina juga pamit pada mamanya. Setelah itu Shelina langsung menaiki motor Argantara dan Ia sempatkan melambai pada mamanya itu.


“Semangat kuliahnya,”


“Iya, Ma,”


Motor Argantara melaju dengan kecepatan yang normal. Ia santai saja karena yakin tidak terlambat. Kalaupun terlambat, Ia pasrah.


“Kamu tumben pakai motor, Ga,”


“Iya, lagi oengen aja sama biar cepat niatnya, karena aku kesiangan tadi,”


“Oh ya? Kok bisa kesiangan, Ga?”


“Pake nanya lagi,” jawab Argantara dengan ketus. Shelina langsung mengernyitkan keningnya bingung. Ia tidak paham kenapa tiba-tiba nara bicara Argantara tidak sehangat sebelumnya. Mendadak berubah jadi ketus.


“Aku salah ya?”


“Gue kesiangan gara-gara apa coba?”


“Nggak tau aku, Ga,”


“Ya coba tebak,”


“Hmm kamu yakin nyuruh aku nebak?”


“Ya iyalah, coba tebak dulu,”


“Gara-gara apa ya? Nongkrong sama teman mungkin? Atau—main ps?”


“Itu ada benarnya. Tapi kurang tepat,”


“Terus yang tepat apa dong?”


“Gara-gara lo gue jadi bangun kesiangan tau,”


“Lho, kok jadi gara-gara aku, Ga?”


“Ya emang gara-gara lo, Shel. Andai aja lo langsung balas chat gue ya, gue nggak bakl tuh nungguin lo smabil main game terus akhirnya nggaks adar deh udah jam dua,”


“Hah? Jadi kamu nungguin—maksudnya kamu nungguin balasan chat dari aku?”


“Iya,”


“Emang kamu bilang apa? Aku belum buka handphone sih,“


“Gue bilang besok gue jemput ya. Biasanya lo ‘kan jawab iya, ini kok nggak? Gue tungguin lama banget nggak balas-balas akhirnya gue main gane tuh. Eh malah bablas sampai jam dua,”


“Ya itu ebrarti gara-gara game bukan gara-gara aku dong. Aku nggak terima disalahin,”


“Ya gara-gara lo lah, Shel. Gue tuh main game karena gue kelamaan nunggu chat lo,”


Shelina tertawa mendnegar jawaban tunangannya itu. Kedengaran benar-benar kesal sekali. Padahal semalam itu Ia memang tidak buka handphone. Setelah berursan dengan Ganta Ia langsung lanjut tidur, alih-alih memagktifkan ponsel genggamnya.


“Aku minta maaf ya, emang semalam handphone aku kehabisan batre terus aku charge, jadi dalam keDaan mati deh tuh nggak aku nyala-nyalain makanya si Ganta hubungin aku juga nggak ada respon dari aku,”


“Hah? Dia hubungin lo?”


“Iya, semalam dia datang ke rumah aku,”


“Ngapain?”


“Dia datang jam sebelas malam, Ga. Awalnya aku nggak tau kalau yang ngelemparin kerikil-kerikil itu ke jendela kamar aku itu dia, aku ngiranya itu hantu usil. Aku beraniin lah buka tirai jendela kamar aku. Aku nggak suka berisik. Suara dari jendela itu ganggu tidur aku Nah setelah aku buka tirai jendela ternyata ada Ganta di bawah. Dia ngelemparin kerikil-kerikil supaya aku nemuin dia. Akhirnya aku turun deh untuk nemuin Ganta. Terus dia ngasih makanan ke aku. Dan aku tegur dia karena nggak sopan datang malam-malam terus pakai lemoarin kerikil segala. Aturan di komplek aku juga di atas jam sepuluh malam tuh dilarang bertamu. Eh ternyata dia masuk diam-diam pas penjaga komplek lagi nggak tau lagi apa. Abis dia ngaish makanan, dia pulang deh. Dia bilang semalam itu dia bosan, nggak tau mau ngapain akhirnya dia datang deh ke rumah aku. Aku nggak larang ya, tapi nggak jam sebelas juga dong. Aku udah tidur masalahnya, mama papa aku juga gitu. Dan cara dia juga salah banget lagi pake kerikil gitu, coba kalau kaca jendela kamar aku pecah. ‘Kan berabe urusannya,”


“Ih gila ya itu orang,”


Argantara menggeleng tak habis pikir mendengar penjelasan Shelina. Sama, Shelina pun tak habis pikir. Ganta bisa dibilang sudah nekat.

__ADS_1


“Aku juga nggak ngerti deh kenapa dia bisa ngelakuin itu. Barusan Papa aku nyuruh aku bilang ke dia sulaya jangan ngulangin hal kayak semalam lagi, karena bahaya juga buat keselamatan dia. Kalau dia kenapa-napa ‘kan dia yang rugi. Dan Papa tuh takutnya dia disangka maling sama orang dalam komplek, udah gitu kalau satpam luat dia ngelemparin kerikil, bisa aja dia dibawa ke kantor polisi,”


“Biarin aja, biar dia kapok,”


“Ya semoga aja dia nggak ngulangin hal itu lagi


“Kok sampai segitunya sih dia nunjukkin effort ke lo? Maksudnya biar lo senang gitu? Biar lo terharu malam-malam didatengin dibawain makanan pula, dih berlebihan banget caranya


“Boro-boro senang, yang ada aku kesal banget semalam itu. Aku udah nyenyak tidur eh malah dibangunin gara-gara ulah dia. Nyebelin banget si Ganta, ya amlun. Aku sampai nggak habis pikir deh kok dia nekat kayak gitu sih? Orang kalau nggak tau mau ngapain, bosan, biasnaya ‘kan tidur ya? Lah dia datang ke rumah orang, bawa makanan tapi tengah malam udah gitu pakai kerikil lagi buat bangunin orang,”


“Dia caper sama lo,” ujar Argantara dengan ketus.


“Ya udah lah biarin aja dia mau caper, mau apa kek. Terserah dia aku nggak peduli, tapi yang jelas jangan sampai ganggu kenyamanan aku di rumah aku sendiri dong. Yang bener aja datang jam sebelas malam terus lempar-lempar kerikil. Aku emosi deh jadinya,”


“Ya wajar, gue juga kalau digituin bukan senang, malah gue marah. Gila aja kali ngebangunin gue pakai kerikil. Walaupun dia bawa makanan tapi cara dia salah banget lah, nggak sopan, dia masuk komplek pun mggak sopan, nggak taat aturan!”


“Kalau masuk diam-diam karena hal penting atau darurat ya okay lah aku maklum banget. Lah ini datangnya karena bosan di rumah, dan mau ketemu aku terus ngasih makanan,”


Mereka hampir sampai di kampus, tiba-tiba perut Argantara berbunyi. Dan itu semoat didengar oleh Shelina.


“Eh kamu lapar, Ga?”


“Iya,” aku Argantara dengan jujur. Ia nemang lapar, jadi jawab saja begitu. Daripada bohong, lagipula sudah terlanjur Shelina tahu


“Bukannya tadi kamu bilang udah makan di rumah?”


“Sebenarnya belum karena gue oengen bru-buru nyamper lo dan kita berangkat ke kampus. Gue takut telat,”


“Ih terus kenapa nggak makan di rumah aku tadi sama aku?”


“Nggak ah, gue nggak mau ngerepotin. Lagian gue pikir bisa makan di kantin,”


“Ya kalau sempat, coba kalau nggak sempat,”


“Udah dibawain roti sama nyokap lo, Shel, jadi tenang aja,”


Mereka tiba di kampus. Seperti biasa Argantara akan mengantarkan Shelina ke kelasnya dulu barulah Ia yang ke kelasnya sendiri.


“Eh tapi pagi ini Ganta nggakd atang ke rumah kamu ngajakin berangkat bareng ya?”


“Nggak, dia nggak datang, mungkin karena semalam udah datang kali,”


“Awas aja kalau dia datang-datang lagi mau ngajakin kamu berangkat bareng ya,“


“Emang kamu mau ngapain?”


“Aku gebuk,”


“Hahahaha jangan dong, itu anak orang kalau kenapa-napa, kamu yang bakal tanggung jawab lho,”


“Makanya jangan gila dong,”


“Dia waras cuma emang ya—gimana, dia nekat gitu,”


“Emang dari dulu dia gitu?”


“Kayaknya nggak sih, baru semalam aja tuh dia nekat,”


“Dia kayaknya onsesi sama kamu deh, Shel,”


“Obsesi? Bahaya dong?”


“Ya emang, orang kalau idah terkbsesi tuh kadang suka ngelakuin hal diluar nakar, ya kayak dia kah contohnya. Datang tengah malam ke tumah cewek yang dia akui sebagai sahabatnya, terus nanti-nanti apalagi yang bakal dia lakuin? Hmm? Kayaknya makin stres deh, makin nekat,”


“Semoga nggak ya, aku angkat tangan juga kalau dia sampai nekat kayak gitu lagi atau nekat yang lebih gila lagi,”


Setelah tiba di depan ruang kelas Shelina, Argantara langsung menyentuh kedua bahu Shelina dan menatap Shelina dnegan lembut.


“Pokoknya lo tenang aja, gue bakal jagain lo. Gue nggak akan biarin dia ngelakuin hal nekat yang sinting ke lo. Tapi lo juga harus bisa jaga diri, makanya kata nyokap lo, lo harus buat batasan yang tegas. Nah lo harus terapin itu, biar dia nggak ada celah untuk ngapa-ngapain,”


“Iya, Ga. Makasih ya kamu udah baik dama aku, mau jagain aku. Mimpi apa aku dijagain sama pangeran,“


“Ya elah, pangeran dari Hongkong,”


“Hahahahaha kamu emang pangeran kok,”


“Pokoknya lo tenang aja, selagi gue ada di dunia ini, gue nggak bakal bairin diapapun ternasuk dia nyakitin lo. Udah cukup gue aja yang pernah nyakitin lo dan yang lain nggak boleh, gue pun janji sama diri gue sendiri gue nggak mau lagi nyakitin lo. Yang dulu gue minta maaf,”


“Iya, kamu udah keseringan minta maaf,”


“Harus karena kesalahan gue ke lo tuh besar banget, sebesar gunung krakatau,”


“Ya ampun kamu lebay ah. Daripada dengar kamu ngomong lebay mendingan aku masuk kelas sekarang. Kamu jangan lupa dimakan tuh rotinya. Nanti pas dosen nerangin perut kamu bunyi keroncongan, ‘kan kamu yang malu,”


Argantara terkekeh kecil dan menganggukkan kepalanya. Ia mengusap ranbut Shelina dan mengisyaratkan Shelina mausk ke dalam kelasnya.


Setelah Shelina duduk dan melambai tangan ke arahnya, Argantara tersenyum dan membalas dengan lambaian tangan juga. Setelah itu Argantaran bergegas ke kelasnya sendiri tapi di tengah perjalanan Ia bertemu dengan Ganta. Ia anggap pertemuannya mereka itu adalah peluang untuk Ia bicara empat mata dengan Ganta. Ia gunakan peluang yang ada untuk menegur Ganta secara langsung.


“Semalam lo datang ke rumahnya Shelina?” Tanya Argantara ketika Ganta hampir melewatinya tanpa senyum tanpa tegur sapa? Benar-benar seperti orang yang tidak saling mengenal satu sama lain.


“Iya gue ke rumah Shelina, kenapa emang?”


“Ganta, lo dengar ini baik-baik ya,”


Ganta kini berdiri tepat di hadapan Argantara. Ganta mengangkat salah satu alis sambil menyimpan kedua tangannya di dalam saku celana. Sikap tubuhnya yang seolah menantang itu benar-benar memancing Argantara untuk menegurnya secara fisik juga. Tapi Argantara mengingatkan dirinya sendiri bahwa saat ini Ia sedang berada di dalam kampus.


Kalau Ia bertengkar dengan Ganta, naka akan meningulkan masalah baru, dan itu merugikan dirinya apdahal tujuan awalnya adalah menegur Ganta yang salah. Nama baik ya bisa rusak hanya karena pertengkaran mereka nantinya.


“Lo udah tau kan ya kalau Shelina itu tunangan gue, gue bisa minta tolong nggak sama lo untuk jauhin Shelina. Lo boleh berteman sama dia, bersahabat sama dia tapi nggak perlu berlebihan, tau batasan, tau diri, bisa ‘kan?”


“Gue jauhin Shelina? Mana bisa? Lagian Shelina juga nggak bisa ‘kak kauhin gue karena kami berdua udah bersahabat dari lama bahkan jauh sebelum kenals ama lo. Kalau lo nyuruh gue untuk jauhin Shelina, sorey gue nggak bisa,”


“Jauhin itu bukan dalam artian lo nggak ngobrol sama dia, lo nggak tegur sapa sama dia ya, tapi jauhin dalam artian lo tuh tau diri, tau barasan. Lo ‘kan cuma sahabat jadi ya sewajarnya aja gitu. Ngapain lo semalam datang ke rumah dia? Lo ngelemparin kerikil ke jendela kamar dia? Itu berlebihan. Dan lo kelihatan masih berharap sama Shelina. Padahal dia udah bilang ‘kan kalau dia cuma antgap los ahabat aja?”


“Lo sok tau! Gue nggak berharao apa-apa,”


“Ya terus ngapain lod atang ke rumah dia semalam? Hah? Lo cari perhatian ‘kan sama Shelina? Lo maish usaha untuk dapetin dia. Ih kok nggak tau diri sih? Gue yang ngeliat kelakuan lo aja malu gitu lho, kok lo nggak malu? Apa urat malu lo udah putus?”


“Lo nggak berhak ngatur hidup gue. Terserah gue mau ngapain, jangan ngatur! Karena ini hidup gue, jadi gue bebas ngelakuin apa aja,” ujar Ganta.


“Heh! Kelakuan lo itu bikin tunangan gue nggak nyaman, paham nggak? Lo sebagai sahabatnya harus tau posisi lo itu apa, sajabat? Jadi jangan ngelakuin hal yang nggak seharusnya dilakuin sama sahabat paham nggak?”


“Emang apa sih yang gue lakuin? Hah? Gue cuma datang ke rumah dia kok, bawa makanan, udah cuma itu doang. Emang itu nggak boleh dilakuin sama sahabat?”


“Nggak wajar karena lo ganggu istirahat dia. Gue aja yang calon suaminya nggak pernah ngelakuin itu karena gue tau batasan. Gue sama dia belum nikah, jadi nggak akan mungkin datang tengah malam ke rumah Shelina. Nah sementara lo malah datang dengan percaya dirinya, nggak taat aturan komplek, udah gitu lemparin kaca jendela kamar Shelina pakai kerikil, bisa dibilang wajar? Hmm?”


“Udah deho mggak berhak ngatur gue sekalipun lo calon suaminya dia. Gue ini sahabatnya dan usah lebih lama kenal daripada lo yang orang baru!”


Setelah berkata seperti itu Ganta bergegas pergi meninggalkan Argantara yang menggertakkan giginya hingga rahangnya mengeras, kedua tangan Argantara mengepal. Kalau saja Ia tidak pandai mengatur emosi, sudha sejak tadi Ia meninju mulut Ganta.


Argantara menoleh memperhatikan Ganta tang melenggang dengan santai menuju kelasnya. “Lo pukir lo bisa macam-macam sama Shelina? Hmm? Nggak akan gue biarin. Okay gue ikutin permainan lo, brengsek! Dasar nggak tau malu! Nggak tau diri!” Gumam Argantara.


Argantara menghembuskan napasnya dnegan kasar kemudian Ia melangkahkan kakinya ke kelas. Ia berusaha untuk menghilangkan emosinya selama perjalanan ke kelas. Jangan sampai suasana hatinya jadi berantakan karena sahabat dari tunangannya itu.


“Shelina nggak tau temannya baru ngomong apa aja ke gue. Kalau dia tau gimana ya reaksinya? Ternyata Ganta yang selama ini dia kenal nggak sebaik apa yang dia pikirin,”


Argantara lupa belum membeli minum untuk teman makan rotinya. Ia putar balik ke kantin untuk beli air minum dan makanan yang bisa menjadi cemilannya nanti kalau dosen belum datang. Karena roti sobek pemberian Mamanya Shelina pasti akan berakhir di perut tiga sahabatnya juga nanti makanya Ia perlu makanan lagi.


Setelah membeli air putih dan makanan yang Ia masukkan di dalam ranselnya, Argantara langsung berjalan ke kelas.


Sampai di kelas, Ia bersyukur dosen belum datang. Teman-temannya sedang sibuk dnegan game dan Ia memutusakn untuk mengisi perutnya.


“Wuidih bawa roti nih tumben, biasanya juga nggak mau bawa bekal kayak anak mamih lah katanya, anak manja lah,”


“Sebenarnya gue nggak bawa. Dan gue belum sarapan juga,”


“Terus itu roti dari siapa dong?”


“Nyokapnya Shelina. Nah kalau air sama biskuit gue beli di kantin,”


“Oalah dari nyokao Shelina,”


“Mau? Ambil aja,”


Argantara menawarkan makanan yang dia punya kepada teman-temannya yang langsung lepas ponsel.


“Giliran gue datang bawa makanan aja lo apda langsung berhenti main game,“


“Hahahaha ya ‘kan ditawarin sama Mas ganteng,”


“Kita ‘kan so sweet, Ga. Sering berbagi makanan satu sama lain, walaupun punya duit tapi nakan bareng lebih mantep,”


“So sweet pala lo peyang!”


“Oh dia nggak mau dibilang so sweet, Dan. Dia maunya dibilang so sweet kalau sama Shelina aja,” ujar Satria ada Ardan.


“Yah elah mulai dah ngeledek banget,”


“Eh gimana sama Ganta? Pergerakan dia selanjutnya apaan?” Tanya Denis.


“Cerita dong, gue juga penasaran,” pinta Ardan.


“Ah malas banget gue ngomongin orang gila itu,”


“Lah emang dia ngapain, Ga?”


“Dia makin gila makanya gue sebut orang gila,”


“Apa yang dia lakuin?”


“Semalam dia datang jam sebelas malam ke rumah Shelina nganterin makanan, terus lemparin kerikil ke jendela Shelina supaya Shelina mau nemuin dia,” jelas Argantara langsung pada intinya saja.


“Anjir, serius?” Tanya Denis.


“Iya lah gue serius mana mungkin gue bercanda. Kalau soal dia gue nggak pernah bercanda,”


“Ih kok dia bisa segila itu, Ga? Ngapain coba dia datang tengah malam ke rumah eprempuan, ih nggak ada sopan santun banget,” tanya Ardan


“Gue juga nggak ngertti deh dimana otak sehatnya. Dia bekat banget, ngelanggar aturan komplek perumahannya Shelina. Jadi aturannya ‘kan di atas jam sepuluh itu udah nggak boleh bertamu, dh nggak tau gimana caranya itu orang bisa lolos dari satpam yang jaga komplek perumahan Shelina,” jelas Argantara.


“Gila gila gila! Nekat banget,” ucap Satria sambil menggelengkan kepalanya tak habis pikir.


“Kalau disangka maling gimana coba? Kalau ditangkap sama warga gimana nasib dia? Atau ketangkap sama satpam misalnya, apa dia bakal bisa lari? Nggak mikirin dampaknya banget ya,”


“Otaknya nggak dipakai, dia udah menomorduakan keselamatan dia sendiri demi ketemu sama Shelina, demi caper ke Shelina,”


“Iya anjir cari perhatian banget. Mungkin dia ngira Shelina bakal senang kali kalau dia unjukkin effort nya,”


“Padahal ya, Shelina kesal banget sama dia,” ujar Argantara.


“Ya iyalah siapa yang nggak kesal anjir. Dia udah keterlaluan masa datang ke rumah tengah malam udah gitu nggak ada sopan santunnya lemparin kerikil ke kaca,”


“Semoga aja dia kapok,”


“Nggak bakal kapok kalau belum kena batunya. Percaya deh sama gue,” ujar Ardan


“Iya sih, dia udah menggila soalnya hahaha. Saingan Arga lumayan berat soalnya status si Ganta tuh sahabatnya Shelina,” ujar Satria.


“Dih nggak berat lah buat Arga. Lagian ya dia tuh bukan saingan Arga! Orang Arga udah menang kok, ‘kan Arga udah jadi tunangannya Shelina,” ucap Denis yang merasa tidak setuju dengan ucapan Satria karena menurutnya Argantara dan Ganta itu tidak dipersaingkan, tapi kalaupun memang bersaing, sudah jelas pemenangnya adalah Argantara karena Argantara selangkah lebih jauh daripada Ganta yang sebatas sahabat sementara Argantara tunangan Shelina.


“Ah ribet banget ya dunia percintaan tuh,”


“Yang bikin ribet si Ganta tuh. Ujug-ujug datang ke dalam hubungan gue sama Shelina padahal nggak diundang. Ih najis banget,”


“Sabar, brow. ‘Kan udah gue bilang, Ganta tuh ujian hubungan lo sama Shelina. Jadi lo hadapin dengan senyum, jangan emosi okay,”


Denis merangkul sekilas bahu Argantara memberi ketenangan untuk Argantara supaya tidak termakan emosinya lagi.


“Iya lo nggak boleh gentar, Ga. Lo harus buktiin kalau lo tuh serius sama Shelina, lo nggak kayak dulu lagi alias lo udah berubah, lo udah bisa hargai kehadiran dia di hidup lo,”


“Gue takut Shelina naksir sama dia,”


“Dih orang ini kenapa negatif thinking kenceng banget yak. Orang udah dibilang kalau Shelina naksir, ya udah dari dulu mereka jadian,”


“Ya kalau dia baru sukanya sekarang ‘kan bisa aja, Dan,”


“Ya udah kalau misal jalan lo berdua untuk bersatu jadi sulit berarti lo sama Shelina nggak jodoh dan lo harus terima itu dengan lapang dada,” ujar Denis.


“Tapi yang gue liat ya, Shelina biasa aja tuh ke Ganta. Dia emang beneran anggap Ganta sahabatnya,” ujar Ardan.

__ADS_1


“Iya sih, gue juga liatnya Shelina biasa aja, yang anggap Shelina nggak biasa itu ya si Ganta nya, kalau Shelina mah nggak gitu. Emang aneh itu orang ya. Dianggap cuma sahabat masih aka suka cari perhatian. Gue harap dia nggak stres beneran sih karena nggak berhasil dapetin Shelina. Kasian ‘kan ganteng-ganteng stres karena nggak bisa milikin cewek yang dia mau,”


__ADS_2