
“Aku bawain sesuatu buat kamu lho, ini titipan mama aku sih sebenarnya,”
Baru juga keluar dari mobil, tiba-tiba Ganta sudah menghampiri Shelina dan menyerahkan satu kotak makan kepada Shelina.
“Hai, Ga,”
Argantara tersenyum singkat dan mengangkat satu alisnya membalas Ganta yang menyapanya.
Kalau tidak ada Shelina mungkin Ia abaikan saja Ganta menyapanya. Tapi saat ini Ia menghargai Shelina karena Ganta adalah sahabat Shelina.
Kalau Ia memasang wajah ketus sedikit saja, bisa-bisa dikomentari oleh Shelina. Padahal seharusnya Shelina tahu apa penyebab Ia memasang wajah ketus.
“Ya ampun repot-repot, makasih banyak ya, bilang sama Mama kamu makasih banyak, ini aku terima,”
“Iya sama-sama, ayo ke kelas bareng,” ajak Ganta pada Shelina yang langsung menatap Argantara dan mengangkat kedua alisnya.
“Kenapa?” Tanya Argantara pura-pura tidak mengerti kalau Ia Shelina sedang izin untuk kelas bersama Ganta.
“Aku ke kelas sama Ganta ya,”
“Hah?”
Tadi pura-pura tidak oaham, sekarang pura-pura tidak dengar. Lengkap sekali akting Argantara.
“Aku ke kelas bareng Ganta nggak apa-apa ‘kan?”
“Ke kelas? Dimana?”
Shelina berdecak pelan. Ia kesal ketika tunangannya itu jadi tidak connect ketika diajak bicara, apdahal biasnaya tidak begini.
“Aku mau ke kelas sama Ganta,”
“Oh ke kelas siapa?”
Argantara sengaja mengulur waktu dan membuat Shelina kesal. Argantara menebak Ganta juga kesal karena Ia sengaja lama-lama tak kunjung memberikan izin.
“Ya ke kelas aku lah,”
“Oh, mau sekarang?”
“Iya, Arga. Masa iya tahun depan? Kamu ada-ada aja sih,”
“Ya udah aku antar ayo,”
“Okay nggak apa-apa, yuk,”
Argantara senang karena Shelina tidak menolak niat baiknya, setelah Ia buat kesal dulu tadi. Argantara yakin yang kesal sekarang adalah Ganta karena pasti Ganta menganggapnya sebagai pengganggu.
“Sorry ya, selagi gue masih nafas, gue nggak akan bairin lo dekat-dekat sama tunangan gue kecuali kalau di kelas. Enak aja lo, pacar bukan, suami bukan, tapi mau deketin Shelina. Padahal udah tau kalau Shelina itu tunangan gue. Sadar diri woy!” Batin Argantara sambil menggertakkan giginya. Argantara dengan tegas meraih tangan Shelina dan Ia genggam dengan erat. Perlakuannya itu membuat Shelina bingung.
“Kenapa sih, dia?” Batin Shelina.
Sekarang shelina ada di antara Argantara dan Ganta, tapi tentunya lebih dekat dnegan Argantara karena Argantara menggenggam tangannya.
“Padahal yang aku liat Ganta biasa aja tuh, kenapa Arga kayak cacing kepanasan?”
Shelina melirik Argantara dnegan ekor matanya. Shelina benar-bsnar bingung tunangannya bisa se-posesif itu.
“Arga beneran udah cinta sama aku ya? Kok dia segininya? Kayak takut banget aku dekat sama Ganta yang padahal sikapnya normal-normal aja tuh,“
“Eh iya, Ganta. Ini mama kamu yang masak? Ini apa ya? Aku penasaran deh,”
“Itu burger, Shel,”
“Oh burger, aku suka banget sama burger,”
“Ya udah nanti dimakan ya,”
“Pasti dong, kamu bawa bekal juga?”
“Iya, sama kayak kamu. Eh iya Mama aku juga nitip salam. Katanya, kapan main ke rumah?”
“Hmm lain kali ya, ntar deh cari waktu yang tepat,”
“Iya dong, kamu main-main ke rumah aku, masa nggak mau sih main ke rumah sahabat sendiri,”
“Bukan nggak mau, tapi belum sempat nih, ntar deh ya,”
“Okay, aku tunggu,”
Sudah tiba di depan kelas Argantara langsung mengusap puncak kepala Shelina dan mengedikkan dagunya ke arah kelas Shelina.
“Semangat belajarnya,”
“Okay, kamu juga ya,”
“Aku masuk kelas dulu,” ujar Shelina pada Argantara.
“Ga, masuk dulu ya,” kata Ganta.
Argantara kesal sekali kalau ada orang yang jelas-jelas menyimpan kesal padnaya tapi malah pura-pura baik, akrab, dan seolah mereka itu bersahabat.
Setelah Shelina dan Ganta masuk ke dalam kelas, Argantara bergegas ke kelasnya sendiri. Di dalam kelas ternyata sudah ada tiga temannya yang langsung menyambutnya begitu Ia duduk.
__ADS_1
“Itu muka kenapa datar banget kayak jalanan aspal,” ledek Denis.
“Paling abis berantem, atau—“
“Jangan sok tau udah, pada sok tau banget sih,”
Belum sempat Ardan bicara, Argantara sudah menyelak ucapannya itu.
“Hahahaha sewot dia langsung,” kata Satria.
“Shelina ngampus, Ga?” Tanya Denis.
“Iya, kenapa?”
“Nggak apa-apa nanya doang,”
“Nggak usah nanya-nanya deh lo, nggak boleh!”
“Lah, emang kenapa?”
“Lo nanya Shelina, gue jadi keingat sama si Ganta ‘kan, makanya udha nggak oerlu nanta-nanya Shelina deh,”
“Eh emang Ganta kenapa?”
“Gue perhatiin makin caper, anjir,”
“Hah? Seriusan lo? Kok bisa sih? Dia ‘kan udah tau kalau mislanya lo tuh tujangan Shelina,”
“Ya makanya gue juga bingung kenapa tuh orang cape banget. Tadi aja dia ngasih makanan buat Shelina. Katanya sih titipan dari nyokapnya tapi nggak tau deh bener atau nggak,” ujar Argantara sambil melipat salah satu kakinya dan Ia letakkan di atas kakinya yang lain.
Tiga teman Argantara bisa menilai sekarang pengaruhnya Shelina bagi Argantara itu tidak main-main. Lihats aja sekarang, betapa kesalnya Argantara pada Ganta karena menurutnya Ganta semakin sibuk mencari perhatian.
“Lo udah bilangin ke Shelina belum kalau misal lo tuh nggak suka mereka dekat? Biar Shelina jaga jarak gitu,”
“Shelina bilang nggak bisa kalau bsnar-bsnar jaga jarak sama dia karena mereka tuh sahabat. Parah nggak? Jadi gue yang harus latihan sabar, anjir,”
“Nah ini balasan biat lo, Ga. Ingat ‘kan lo pernah jahat ke Shelina? Ini balasannya kali,”
“Ah anjir jangan ngomong gitu dong,”
“Lah makanya jangan nyia-nyiain anak orang waktu itu,”
“Ya ‘kan gue udah minta maaf sama Shelina, gue juga udah sadar kok kesalahan gue,”
“Ya bagus lah kalau gitu, gue harap lo nggak nyakitin Shelina lagi yak. Karena sakit beo rasnaya nggak diajuin jadi tunangan, dicuekin, dikasarin, dih emang lo siapa?! Sok kegantengan lo! Ya walaupun emang lo ganteng tapi harusnya lo hargain lah calon istri lo. Giliran sekarang aja baru deh ngerengek pas Shelina dideketin sama yang lain,” ledek Ardan yang mengundang penyesalan Argantara semakin terasa membebani pundaknya.
“Gue udah nyesal, gue nggak bakal ngulangin itu,”
“Bagus lah kalau lo udah nyesal, fokus deh tuh perbaikin hubungan lo sama Shelina. Jangan mau digocek-gocek lawan. Hantem aja lawannya kalau berusaha gocek, okay?”
“Lo boleh cemburu tapi jangan mau kalah. Dia deketin Shelina, ya lo harus lebih deketin Shelina lagi, paham ‘kan?”
“Yoi, gue laham tanpa lo ajarin. Enak aja dia mau ngambil Shelina. Udah tau Shelina tinangan gue masih aja caper. Gue emang cemburu tapi gue nggak mau kalah,”
Mendnegar ucapan Argantara yang bertekat untuk tidak mau kalah dengan sahabat tunangannya itu, sontak mengundnag tiga teman Argantara tertawa.
“Sekarang bucin banget ya kayaknya,” ujar Denis.
“Bukan kayaknya lagi, anjir. Ini mah udah beneran bucin kebangetan,” sahut Ardan dengan menggebu-gebu.
“Gilirna udah bucin ada aja ya cobaannya. Nggak apa-apa, Ga. Yang penting Shelina lo nggak diambil, dia ‘kan cuma sahabat, dan Shelina anggap dia juga cuma sahabat, ya jela slo lebih unggul lah asal lo nggak nyia-nyiain Shelina. Sekali aja lo sakitin Shelina, dia bakal maju gantiin posisi lo, hati-hati aja pesan gue mah,” pesan Denis sambil menepuk pundak Argantara.
******
“Shef, emang iya Shelina udah tunangan? Kok aku baru tau sih dari Ganta? Kamu belum cerita ke aku deh kayaknya,”
Siang ini Arni mengajak Shefia makan siang bersama. Arni ingin memastikan bahwa yang diceritakan oleh anaknya itu benar. Yang tahu benar atau tidaknya Shelina sudah tunangan pastilah mamanya sendiri.
“Iya, Shelina memang udah tunangan,”
“Siapa tunangannya?”
“Argantara,”
“Oh berarti benar ya apa yang diceritakan sama anakku,”
“Ganta cerita apa ke kamu?”
“Iya sama persis yang kamu omongin barusan. Kata Ganta, Shelina udah tunangan,”
“Iya maaf aku sama Shelina baru sempat. cerita,”
“Nggak apa-apa, semoga sampai nikah dan smapai maut memisahkan ya, aamiin,”
“Aamiin makasih doanya, Ar. Tunangan Shelina ya teman sekampus Shelina, sekampus juga sama Ganta. Namanya Argantara, aku jodohin mereka karena menang aku sama orangtuanya Shelina udah akrab juga. Lengen aja gitu kalau jodohin mereka. Ya udah akhirnya terjadilah pertunangan itu. Kedua anak kami syukurnya menerima,”
“Kamu yakin mereka berdua nerima?”
“Lho kalau nggak jerima ‘kan nggak mungkin tunangan mereka, Ar,” ujar Shefia seraya terkekeh. Jelas Ia mengatakan bahwa Argantara dan Shelina sama-sama menerima. Kalau tidak begitu kenyataanya berarti acara tunangan mereka waktu itu tidak pernah terjadi.
“Semoga langgeng deh ya,”
“Aamiin,”
__ADS_1
“Aku belum pernah liat mana calon suaminya Shelina?”
“Masa sih? Oh iya ya kamu belum kenal kali ya? Orang kamu aja baru di Jakarta lagi setelah beberapa tahun pergi dulu. Ntar deh kapan-kalan aku kenalin ya,”
“Okay makasih. Dia gimana ornagnya? Baik ke Shelina?”
“Sejauh aku kenal dia sih, Alhamdulillah dia baik ya, anaknya sopan, dan gampang akrab juga sama keluarga Shelina. Intinya sih kedekatan dua keluarga udha cumup baik,”
“Kalau aku boleh tau rencana pernikahan mereka kapan?” Tanya Arni pada sahabatnya itu.
“Hmm kata mereka sih setelah lulus kuliah aja, doain ya,”
“Oh masih lama lah ya, santai-santai dulu,”
“Nah iya, mereka lagi mau fokus pendidikan dulu tapi Mama Papa mereka udah, nggak sabar jadi keluarga hahaha. Ya nggak apa-apa sih, terserah mereka aja maunya gimana. Semua diserahin ke mereka kalau mau dalam waktu dekat nggak masalah, tapi kalau mau selesai kuliah dulu juga nggak masalah, suka-sukanya mereka aja deh,”
“Jadi mereka kenal nggak pacaran dong ya?”
“Nggak, sebenarnya mereka itu teman kecil tapi kayaknya mereka udah lupa deh karena emang cuma beberapa kali ketemu aja nggak pertemuan yang intens jadi nggak sering maun bareng. Kesannya aps ketemu udah dewasa ya kayak ketemu sama orang baru,”
“Kamu yakin argantara itu yang terbaik untuk Shelina?”
“Sejauh ini iya. Selain aku udah kenal dia dari kecil, aku kenala sal usil keluarganya, dam setelah mempertemukan dia sama Shelina lagi setslah dewasa terua ngerencanain tunangan, aku liat dia laki-laki yang baik, bisa sama-sama belajar sama Shelina untuk saling melengkapi,”
“Hmm iya iya, aku paham sekarang kenapa kamu jodohin mereka berdua,”
“Kamu sendiri udah ada calon besan belum nih? Sebelumnya aku benar-bsnar minta maaf ya belum ngasih tau kamu soal pertunangannya Shelina sama Argantara. Kamu ‘kan waktu itu maish belum di sini,”
“Aku belum lah, nanti-nanti aja. Lagian Ganta abis patah hati,”
“Lho, serius? Kenapa? Putus ya sama pacarnya?”
Arni tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Sungkan rasanya untuk mengatakan pada Shefia bahwa patah hatinya Ganta itu ya karena Shelina. Ganta yang emncintai Shelina tapi Shelina bertunangan dengan yang lain. Arni hanya berharap anaknya cepat-cepat pulih dari rasa sakit, dan bisa membuka hati untuk yang lain.
“Semoga bisa dapat ganti yang lebih baik ya si Ganta nya,”
“Aamiin,”
“Putus atau gimana?”
“Hmm ya,”
Arni menjawab dengan ragu, tapi Shefia tidak menyadari itu. Shefia sibuk ikut prihatin juga mendengar Ganta baru saja mengalani patah hati.
“Bilangin sama Ganta, kalau namti udah ketemu sama yang baru jangan terlalu dalam cintanya, jangan ngasih semua perasaan yang dia punya untuk perempuan itu, karena kalau terlalu cinta, begitu disakitin sedikit aja, rasanya bukan main, bisa berpuluh kali lipat dari yang nggak seharusnya,”
“Iya,”
“Aku selalu ngomong kayak gitu ke Shline kalau suka atau cinta ke seseorang nggak perlu keterlaluan, nanti jadi nggak baik akhirnya. Itu ‘kan penyebab kebanyakan orang susah move on, karena cintanya udah terlanjur dalam jadi sekalinya disakitin tuh rasanya sakit banget, terus malah susah move on,”
Sesaat setelah Shefia bicara seperti itu tiba-tiba ada panggilan masuk dari Shelina. Tanpa msnungguw aktu lama Ia izin dulu pada Arni untuk menjawab panggilan Shelina setelah Arni mempersilahkan barulah Ia menggeser panel hijau di layar ponselnya.
“Assalamualaikum, Nak,”
“Waalaikumsalam, Mama di rumah?”
“Nggak lagi makan sama mamanya Ganta mdmangnya kenapa?”
“Oh, nggak, Arga mau mampir sebentar di rumah kalau ada Mama. Nggak enak kalau nggak ada Mama,”
“Hahaha maksudnya kalau nggak ada yang jagain kamu, Arga nggak enak gitu ya?”
“Hmm iya gitu kayaknya, Ma,”
“Mama lagi di kuar, nggak apa-apa sih mampir aja,”
“Ya deh mamti aku sampein. Kalau gitu Mama hati-jati ya pulangnya, Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,”
*****
“Ga, Mamaku lagi makan sama Tante Arni,”
“Siapa tuh?”
“Mamanya Ganta,”
“Oh, dekat banget ya Mama lo sama mamanya si Ganta?”
“Dekat, ‘kan berteman. Eh kata Mama, kamu mampir aja nggak apa-apa. Jangan ngerasa nggak enak gitu santai aja kali,”
“Nggak enak aja sih kalau cuma berduaan,”
“Ada Bibi kok di rumah, ada pak Arif juga yang jagain rumah, lagian kita ngobrol aja di teras rumah,”
“Lagian ada yang mau gue omongin juga sama Mama lo sebenarnya,”
“Wah apatuh?”
“Gue mau bilang kalau si Ganta itu suka sama lo,”
“Eh, jangan! Nanti takutnya ngaruh ke pertemanan Mamaku sama Mamanya Ganta. Jangan ya plis. Aku nggak mau mereka jadi jaga jarak, lagian ‘kan Ganta udah bilang anggap aja aku nggak dengar pernyataan cinta dia,”
__ADS_1
“Shel, terus nyokap lo nggak boleh tau gitu soal perasaannya Ganta?”
“Ya nggak usah tau, Arga. Kenapa Mamaku harus tau coba? Aku nggak mau kalau persahabatannya Mama aku sama Mama Ganta jadi berubah gara-gara itu,”