
“Selamat ulang tahun ya. Semoga di usia yang baru, kamu makin dewasa lagi dalam berpikir, bertindak, dan semoga hidup kamu selalu dipenuhi keberkahan, semangat terus untuk lewatin satu persatu ujian yang bakal datang, Ga,”
Argantara tersenyum ketika perempuan di depannya ini tiba-tiba menyerahkan sebuah kotak berukuran kecil sambil mengucapkan selamat ulang tahun untuk dirinya yang hari ini menjejaki usia baru, dua puluh satu tahun.
“Aamiin, semoga doa baik kamu terkabul. Makasih banyak, tapi kamu kok tau sih kalau aku hari ini ulang tahun?”
Argantara tidak bicara pada Shelina bahwa dirinya berulang tahun. Mereka hari ini pulang bersama, dan Argantara mengantarkan Shelina ke rumahnya seperti biasa. Setelah tiba di rumah Shelina, Ia langsung mendapatkan hadiah dari Kia sekaligus ucapan.
“Tau lah, dari mama aku,”
“Hah? Kok dari mama kamu?”
“Iya, mama aku nggak tau deh kenapa bisa ingat. Ya mungkin karena udah kenal kamu dari dulu kali ya, nah mama ngasih tau aku dari beberapa hari sebelumnya,”
“Wuih, Tante Shefia ingat? Aku senang banget calon mertuaku ingat,”
“Tapi bener ‘kan? Tanggalnya nggak salah?”
Argantara tertawa melihat kecemasan di wajah Shelina. Hari ini memang benar hari ulang tahunnya. Tidak ada yang salah. Ia hanya hanya sedikit tidak menyangka saja kalau mamanya Shelina ingat hari ulang tahunnya.
“Berkat mama, aku jadi tau deh ulang tahun kamu, sekaligus bisa nyari kado,”
“Makasih ya,”
“Iya sama-sama. Semoga kamu suka ya, itu hadiah nggak seberapa sih,”
Argantara tak mengatakan apapun, tapi tangannya membuka kotak yang baru saja Shelina serahkan. Begitu Ia membuka kotak ternyata ada sebuah jam tangan.
“Ya ampun, aku suka banget lho, serius. Ini nggak seberapa gimana maksudnya? Ini bagus banget, Shel. Kamu tau aja aku senang pakai jam tangan, terus tau juga yang aku suka kayak apa,”
“Aku nebak aja, harap-harap cemas juga takutnya kamu nggak suka,”
Argantara tersenyum menatap Shelina yang kelihatan senang sekali hadiahnya diterima dengan baik oleh Argantara yang tidak bohong sedikitpun. Memang Argantara menyukai apa yang diberikan oleh Shelina.
“Asli, ini bagus banget. Seriusan nggak bohong, aku suka,”
“Iya-iya aku percaya kok kamu suka, aku senang kalau kamu suka. Semoga kamu berkenan untuk pakenya ya,”
“Pasti dong, ini pasti aku pake, kalau pelru sekarang aku pengen pake ah,” ujar Argantara seraya melepaskan arloji miliknya yang melingkar di pergelangan tangannya saat ini, kemudian Ia ganti dengan arloji pemberian Shelina.
“Woah, bagus banget nih di tangan aku, elegan gitu keliatannya. Kamu berhasil bikin aku happy,”
“Berarti hadiah dari aku nggak gagal ‘kan ya?”
Argantara berdecak pelan. Entah gagal seperti apa yang Shelina maksud. Yang jelas, pemberian Kia apapun itu tak akan pernah gagal. Ini sangat berkesan bagi dirinya karena baru pertama kali juga Shelina memberikannya hadiah di hari istimewanya.
“Kamu happy ‘kan?”
“Happy dong, masa iya dapat hadiah nggak happy. Aku harus bilang makasih juga nih ke Tante Indah karena beliau yang udah kasih tau kamu kalau aku ulang tahun hari ini,”
“Ya udah aku masuk rumah dulu ya, kamu pulangnya hati-hati,”
“Ayo aku anterin lah kayak biasa,”
Argantara keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Shelina kemudian mengantarkan Argantara hingga ke depan rumahnya.
“Mama aku kebetulan lagi pergi, Ga,”
“Oh gitu? Berarti kamu cuma sendirian di rumah?”
“Nggak, ada Bibi,”
“Eh iya, okay aku langsung pulang ya. Kamu hati-hati di rumah, salam buat Tante Shefia,”
“Okay nanti aku sampein ya. Kamu juga hati-hati ya,”
“Bye, Assalamualaikum,” ujar Argantara seraya mengusap pelan lengan Shelina kemudian Ia bergegas pergi. Argantara tak sabaran untuk tiba di rumah dan bercerita pada mamanya tentang jawaban Shelina.
Ia sudah membayangkan mamanya pasti senang sekali. Karena hubungannya dengan Shelina sudah semakin rekat saja.
Argantara langsung pulang ke rumah, tidak singgah dulu dimanapun. Kemudian setelah tiba di rumah, Ia langsung menghampiri mamanya yang sedang memasak.
“Assalamualaikum, Ma,”
“Waalaikumsalam, Nak. Alhamdulillah udah pulang,”
“Masak apa, Ma?”
Argantara duduk di meja dapur mengamati mamanya yang sedang menunjukkan keterampilannya dalam memasak.
“Gulai ayam, nanti kita makan sama-sama ya. Kamu nggak kemana-mana ‘kan?”
“Nggak kok, Ma. Di rumah aja aku,”
“Okay, ganti baju sekarang deh kalau gitu,”
“Tunggu dulu, aku mau cerita, Ma,”
“Mau cerita apa?”
Kebetulan Tina tinggal menunggu masakannya matang saja. Jadi Ia bisa mendengarkan cerita anaknya dulu. Ia tinggalkan gulai yang hampir matang. Ia duduk di hadapan Argantara yang katanya ingin cerita.
“Ma, jadi Shelina ngasih kado ulang tahun ke aku. Dan ini sekarang aku pakai,” ujar Argantara seraya menunjukkan jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.
“Wah bagus banget. Alhamdulillah dapat kado ya. Nggak disangka-sangka. Shelina ingat ya?”
“Katanya tau dari Tante Shefia,”
“Oh begitu. Itu bagus banget. Mama aja suka lho liatnya,” ujar Tina seraya menyentuh jam tangan milik anaknya yang baru saja diperoleh dari Shelina.
“Nah terus, aku ada cerita lain lagi, Ma,”
“Wah apa tuh? Kira-kira bikin mama senang nggak? Kamu dapat kado mama senang dengarnya, nah kalau kabar kedua ini gimana?”
“Insya Allah senang juga. Semoga ya, aku duga sih begitu,”
“Okay, apa itu? Buruan cerita,” ujar Tina yang langsung memperbaiki pisisi duduknya menjadi tegap menatap sang anak. Ia bahkan terlalu gemas supaya Argantara cepat cerita, jadi Ia cubit tangan Argantara yang tertawa melihat mamanya semangat sekali mendengar cerita yang hendak Ia sampaikan.
“Bentar lagi lulus, aku mau ngajakin Shelina ngobrolin pernikahan dalam waktu dekat,”
“Senang banget, Ga. Ya Allah, nggak bisa berkata-kata deh, Mama. Semoga dilancarkan semua prosesnya, Aamin,”
“Aamiin, rencananya aku mau ajak mama sama tante Shefia untuk ketemuan di hari minggu ini, aku dan Shelina juga bakal ikut,”
“Oh boleh-boleh. Wah mama semangat nih mau bahas pernikahan,”
Argantara tertawa dan Ia sudah bisa menebak. Mamanya memang pasti semangat dalam urusan mengurusi pernikahannya. Karena sudah pernah dikatakan langsung oleh mamanya. Ketika Ia siap menikah nanti, mamanya akan menjadi seksi sibuk. Maklum saja, Argantara adalah anak satu-satunya, dan kemungkinan besar mamanya Shelina pun akan sama seperti itu karena Shelina sendiri juga merupakan anak tunggal.
“Yeaayy akhirnya mama bakalan punya mantu. Ya Allah, mama senang banget, seriusan deh, Ga. Jadi tanggal dan lain-lain itu belum ditentukan ya?”
“Belum, Ma. Biar sepakat sama Shelina dan mamanya aja dulu,”
“Okay sip, kita bicarain di hari minggu ya. Eh mamanya Shelina, Tante Shefia udah tau?”
“Hmm nanti aku bicarain sama Shelina deh, semoga nggak keberatan,”
“Ya udah sekarang kamu ganti baju sambil nunggu gulai ayam masakan buatan mama jadi,”
“Okay sip, Mama,”
Argantara segera bergegas ke kamarnya untuk mengganti pakaian sebelum makan bersama mamanya yang sudah membuat menu makanan yang enak dan menjadi salah satu menu istimewa buatan sang mama.
*****
“Ya Allah, Mama. Makanya mama hati-hati, Ma. Sampe jatuh begitu,”
Shelina terkejut begitu membuka pintu, mamanya berjalan masuk ke rumah dengan langkahnya yang kelihatan aneh atau tak biasa. Begitu Ia tanya ternyata mamanya terjatuh ketika hendak naik ke tangga yang ada di depan pintu.
“Nggak apa-apa, Shel. Aman ini, orang cuma jatuh gitu aja,”
“Tapi mama jalannya sampai agak pincang lho, Ma,”
“Aman-aman, Sayang,”
“Ya udah mama duduk dulu ya, aku ambilin minyak urut sama air minum buat mama,”
“Iya makasih, Nak,”
Shelina langsung bergegas mengambil apa yang Ia sebutkan barusan setelah itu Ia kembali lagi ke ruang tamu. Tadi Ia mempersilahkan mamanya untuk duduk sembari menunggunya mengambilkan air minum dan minyak urut.
“Sini aku balur minyak, Ma,”
Shelina langsung berjongkok di depan mamanya. Ia membalurkan minyak sekaligus menekan lembut kaki mamanya.
“Nggak usah diurut, Shelina, dibalurin aja,”
__ADS_1
“Tapi ini juga cuma ditekan halus, Ma. Sakit ya, Ma? Ya udah aku balur aja deh,”
“Kayak nyangkut gitu kaki Mama di tangga,”
“Karena mama terlalu buru-buru kali, makanya jatuh,”
“Iya mungkin, udah kangen sama anak mama ini, kamu baru pulang?”
“Nggak juga, Ma. Gimana me time nya, Ma? Seru? Mama belanja? Terus belanjaan mama mana?”
“Nggak, mama cuma makan aja, abis itu liat-liat doang, nggak beli ah. Baru beli baju juga soalnya,”
“Kenapa nggak beli aja?”
“Yang penting me time nya tetap berasa, Shel. Mama jalan-jalan, terus makan, terus minum kopi. Wuh mama udah kayak anak muda deh ceritanya,”
“Wuidih bukan main mama ya,”
“Mama happy?”
“Happy dong, Sayang. Tadi kamu pulang sama siapa? Sendiri atau Arga?”
“Bareng Arga, Ma,”
“Oh gitu. Emang pulangnya bareng atau gimana?”
“Iya, Ma, aku udah kasih kadonya ke Arga, Ma. Dan dia senang banget katanya. Aku ikut senang liat dia senang, Ma,”
“Alhamdulillah, pilihan kamu ternyata disukain sama Arga,”
“Iya, makasih juga buat mama udah ngasih tau aku kalau Arga ulang tahun,”
“Iya, Sayang. Kamu udah ngomong begitu,”
“Kata Arga tadi, minggu ini kita ketemuan, Ma,”
Shefia langsung menjentikkan jarinya. Ia senang sekali mendengar dari anaknya sendiri bahwa dirinya bersedia menikah dengan Argantara, dan minggu ini akan ada pertemuan dulu diantara mereka.
“Semoga semuanya diperlancar, Aamiin, kamu udah yakin ‘kan sama jawaban kamu, Nak?”
“Udah, Ma. Aku udah mikirin matang-matang,”
Shefia tersenyum sambil mengusap puncak kepala anaknya. Ia tidak ingin ada keraguan dalam diri Shelina, dan Ia tak mendapatkan keraguan sedikitpun dari tatapan Shelina ketika menjawab bahwa dirinya yakin, setelah memikirkan dengan matang.
“Mama senang bentar lagi dapat menantu,”
“Mama beneran senang? Mama setuju ‘kan?”
“Iya setuju, Sayang. Kalau kamu udah ambil keputusan itu setelah memikirkan dengan matang, mama jadi makin setuju dong, sebelumnya ‘kan emang udah setuju tuh. Eh pasti papa kamu dan papanya Arga senang banget kalau liat kamu bersatu,”
“Aamiin, semoga ya, Ma,”
“Ini yang mereka mau. Kamu sama Arga bareng-bareng,”
“Aku udah yakinin diri sendiri dulu. Tadi Arga bilang dia deg-degan selama nunggu jawaban aku. Begitu aku jawab, katanya dia tenang, dan senang banget. Mungkin emang itu jawaban yang dia harapin,”
“Ya iya dong, pasti. Buktinya ngajakin kamu nikah. Ya berarti emang maunya Arga begitu,”
“Aku juga senang karena kado aku diterima dengan baik, dan jawaban aku udah bikin dia dan mama senang, jadi berkali lipat senangnya aku deh “
“Ya udah aku mau ke kamar dulu ya, Ma,”
“Okay sip, Sayang. Istirahat ya, atau kamu mau telponan sama Arga?”
“Hah? Ya nggak, Ma. Ngapain aku teleponan sama Arga, Ma?” Tanya Shelina sambil terkekeh. Ia tak ada kepentingan dengan Argantara.
“Biasanya dia yang hubungin aku kalau emang ada perlu atau mau nanyain sesuatu, Ma,”
“Biasanya kamu sama Argantara itu ngomongin apa sih, Nak?”
“Banyak, Ma. Dia ada aja yang diobrolin, kalau aku jarang,”
“Tapi Argantara itu benar-benar memperlakukan kamu dengan baik ‘kan, Nak?”
“Iya, Ma. Dia baik kok, baik banget malah,”
“Ini penilaian tulus dari hati kamu ‘kan?”
“Iya, Ma. Apa mama nggak percaya?”
“Dia baik, Ma. Perhatian juga orangnya. Ingetin aku hal-hal kecil. Pokoknya gitu deh, Ma,”
“Yang mama liat juga begitu. Tapi ‘kan mama pengen tau gimana Argantara ke kamu kalau nggak di depan mama,”
“Iya dia cowok yang baik. Aku yang belum pernah deket sama cowok dibuat senang pas dekat sama dia,”
“Okay sesi wawancara selesai ya,”
Shelina terkekeh mendengar celetukan mamanya. Setelah menjawab pertanyaan yang dilontarkan sang mama, Ia segera bergegas ke dalam kamar untuk membaca novel yang belum selesai.
Kebetulan novel yang Shelina baca saat ini adalah tentang sepasang manusia yang bekerja di dua kantor bersebelahan karena perjodohan. Kisah cinta yang klasik, alur mudah ditebak, tapi Shelina menyukai itu. Ketika membaca adegan yang manis menurutnya, sontak Ia tersenyum. Seperti ketika si lelaki, atau istri mengantarkan bekal ke kantor suaminya yang bersebelahan dengan kantor istri. Lalu mereka makan bersama. Setelah itu suaminya mengantarkan istrinya kembali ke kantor. Itu momen sederhana tapi berhasil membuat Shelina tersenyum ketika membacanya.
“Kisah cinta orang manis banget ya buat dibaca,” gumam Shelina seraya membalik halaman novel. Ia membaca hampir satu jam lamanya. Kalau sudah membaca novel, Shelina memang tak fokus dengan sekitar. Ia sudah terlanjur tenggelam dalam alur yang dibuat sang penulis novel dan membuatnya terhanyut.
Sampai ponselnya bergetar dengan layar menyala di atas nakas Ia abaikan saja. Setelah bergetar yang ketiga kalinya barulah Ia sadar.
“Eh ada yang nelpon ternyata,”
Shelina meraih ponselnya dari atas nakas kemudian Ia menerima panggilannya yang masuk dari Argantara.
“Halo, Ga,”
“Shel, nanti malam makan bareng mau nggak?”
“Nanti malam?”
“Iya, birthday dinner aku ceritanya. Kamu sibuk ya?”
“Iya, bisa nanti malam,”
“Nggak sibuk ‘kan? Nggak ganggu kamu ‘kan?”
“Nggak-nggak, aku nggak sibuk kok,”
“Okay deh, aku cuma mau ngajakin makan aja. Sekarang kamu lagi ngapain? Kalau nggak belajar nih, ngerjain tugas, atau baca novel biasanya, eh atau nonton?”
“Salah satu benar,”
“Apa itu?”
“Coba tebak,”
“Serius nyuruh aku untuk tebak? Ntar salah lho, aku nggak jago nebak soalnya, Shel,”
“Ya udah coba aja dulu tebak sekali. Kalau salah nanti aku kasih tau yang benar,”
“Hmm… kamu lagi ngapain ya? Lagi baca novel deh, soalnya dari aura-auranya nih bukan lagi pusing tapi lagi happy. Kalau belajar atau ngerjain tugas ‘kan auranya pusing nggak karuan gitu ‘kan. Kalau nggak baca novel ya nonton,”
“Pilih salah satu, jangan dua-duanya,” ujar Shelina seraya tersenyum. Menyenangkan juga bermain tebak-tebakan dengan Argantara yang penasaran dengan kegiatan apa yang sedang Ia lakukan.
“Baca novel deh,” ujar Argantara memberikan jawaban.
“Yup betul! Wah kamu hebat,”
“Seriusan? Padahal aku nebak aja itu lho,”
“Emang aku lagi baca novel,”
“Pantesan aura bahagianya sampai ke aku,”
“Hahaha emang iya? Bisa bedain ya kalau aku lagi kerjain tugas sama aku baca novel?”
“Bisa dong, auranya beda,”
“Duh, ngeri nih main aura-auraan, udah berasa mistis aja,”
Argantara tertawa mendengar celetukan Shelina. Setelah tiga kali menghubungi akhirnya Shelina menjawab panggilannya, dan sekarang mereka bercanda.
“Aku ganggu kamu baca novel dong?”
“Nggak, eh iya deh sebenarnya,”
“Tuh ‘kan, jujur banget emang orangnya. Nggak apa-apa deh, bagus. Ya udah aku tutup ya teleponnya, kamu lanjut baca novelnya,”
“Eh aku cuma bercanda tau. Kamu nggak ganggu kok,”
__ADS_1
“Iya, kamu lanjut aja baca novelnya. Aku lagi main game juga sih sebenarnya,”
“Okay, aku tutup teleponnya, bye,”
“Bye, Ratu. Sekarang nggak apa-apa dong aku sebut Ratu? ‘Kan bentar lagi kamu jadi ratu kedua aku, setelah mama. Boleh ‘kan aku panggil Ratu?”
“Tapi itu bukan nama aku,”
“Nggak apa-apa biar beda, Ratu Shelina,”
“Ih hahaha apaan sih panggilannya,”
“Nggak apa-apa. Bagus panggilan itu buat kamu. Cocok banget, Shelina,”
“Ya terserah kamu deh mau manggil aku apa,”
“Nggak apa-apa ya kalau aku panggil Ratu Shelina?”
“Sumpah aneh banget itu. Hahahah tapi ya udah deh sesuka hati kamu aja,”
“Okay, kalau gitu aku tutup ya teleponnya. Bye Shelina, lanjutin aja nontonnya ya,”
“Okay, bye, kamu lanjut juga main game nya. Kamu nggak ada tugas?”
“Ntar paling dikerjain, abis main dulu. Lagi pusing kepala aku, Shelina,”
“Ya harusnya kamu istirahat dong, Ga, bukan malah main game,”
“Nggak apa-apa, pengen main aja dulu,”
“Nggak usah lama-lama, Arga. Lebih baik istirahat,”
“Iya siap, Ratu Shelina. Bye, Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,”
Setelah bicara dengan Shelina, Argantata tersenyum dan geleng-geleng kepala. Ia dan Shelina sudah seperti sepasang kekasih saja yang mengobrol di telepon untuk menyampaikan kegiatan yang sedang dilakukan, kemudian Shelina menyarankan Ia untuk istirahat ketimbang bermain. Padahal mereka belum punya hubungan apa-apa, tapi memang sudah ada rencana untuk ke jenjang yang lebih serius.
Suara ketukan pintu kamar membuat Shelina beranjak meninggalkan tempat tidurnya. Ia juga melepaskan novel yang kembali Ia pegang setelah bicara dengan Argantata tadi.
“Shelina, ada mie ayam nih,”
“Dari siapa, Ma?”
“Dari Arga. Tiba-tiba datang tadi, makan nih, Shel,”
“Hah? Dari Arga? Kok dia ngirimin makanan? Mana tadi nggak bilang-bilang,” ujar Shelina dalam hati sambil Ia membuka pintu kamarnya.
“Ma, dari Arga beneran?” Tanya Shelina pada mamanya setelah Ia berhadapan dengan sang mama yang memberitahu bahwa Argantara mengirimkan mie ayam, dan mamanya itu menyuruh Ia memakannya.
“Dia nggak bilang-bilang ngirim makanan padahal tadi telepon,”
“Ya mungkin lupa ngasih tau kali. Kamu makan gih, nanti keburu dingin jadi kurang enak,” ujar Indah pada anaknya itu.
“Ayo makan sama mama juga, dia nggak mungkin ngirim satu aja ‘kan?”
“Nggak lah, dia nggak pelit kalau ngirim ya nggak nanggung,”
“Ya udah makan sama mama yuk, ajakin bibi juga,”
“Arga suka tiba-tiba gitu anaknya ya, Shel. Mama kaget tadi waktu Pak Idam ngasih itu ke mama. Kata Pak Idam, lagi duduk-duduk sambil minum kopi ada kurir antar makanan, katanya dari Mas Arga,”
“Iya dia suka tiba-tiba gitu. Aku nggak enak, Ma. Udah aku bilang terus ke dia nggak usah kirim-kirim makanan atau apapun, itu ngerepotin dia. Eh dia tetap aja,”
“Emang sukanya ngasih orang, Shel,”
“Padahal nanti malam mau makan malam. Dia ngajakin aku, Ma,”
“Ya udah berangkat, Shel. Makan di luar?”
“Iya, birthday dinner nya dia, Ma,”
“Cie yang mau birthday dinner sama calon suami,”
Kening Shelina mengernyit kemudian terkekeh mendengar ledekan mamanya. “Jangan gitu dong, Ma. Iseng banget nih mama ngeledekin anaknya,”
“Mama seneng ledekin anak, apalagi kalau kamu udah malu-malu,”
“Ih aku nggak malu-malu, biasa aja, belum jadi calon suami dong, Ma. ‘Kan belum ada lanaran atau segala macamnya, lagi mau diobrolin malah,”
“Insya Allah ‘kan bentar lagi, Insya Allah dipermudah jalannya ya, Nak. Abis nikah langsung gas kasih mama cucu nggak nih?”
Shelina langsung menepuk pelan keningnya. Melihat reaksi Shelina, Indah tentunya tertawa. Ia tak bermaksud menekan Shelina supaya cepat punya anak tapi kalau diberikan cepat, Ia akan sangat senang sekali.
“Kenapa begitu? Mau nunda?”
“Nggak tau, ‘kan belum bahas itu, Ma. Orang nikahnya aja belum, masa iya mau bahas punya anak,”
“Iya nanti ‘kan pasti kamu obrolin sama Arga. Mama sih nggak buru-buruin kamu untuk punya anak, tapi kalau langsung dikasih, ya Allah mama senangnya kayak apa itu ya, tapi tenang aja, Sayang. Anak itu ‘kan rezeki kalau memang belum langsung dikasih ya nggak masalah,”
“Iya, Ma. Udah jangan ngomongin itu dulu, aku aja belum nikah,”
“Iya, ini ‘kan mama lagi ngayal aja dulu, Shel,”
“Daripada berkhayal punya cucu sedangkan aku nya aja belum nikah, mendingan kita makan aja yuk, Ma,”
“Eh kamu udah bilang makasih ke Arga? Bilang makanan udah sampai dan bilang makasih,”
“Eh iya belum, udah nggak sabaran aja makan mie ayam sampai lupa, untung mama ingetin,”
“Ya udah bilang dulu, ntar dikiranya belum sampai,”
Shelina akhirnya bergegas ke kamar untuk memberitahu Argantara bahwa makanan yang dikirim olehnya sudah sampai sekaligus Shelina ingin mengucapkan terimakasih karena lagi-lagi Argantara mengirimkan makanan.
“Halo, Shel, tumben telepon duluan nih,”
“Kamu kirim mie ayam ya? Udah sampe nih. Makasih banyak ya. Tapi nggak usah ngirim-ngirim makanan lagi, Ga. Kamu kenapa sih mau repot-repot?”
“Nggak tau, pengen aja gitu ngirimin kamu makan,”
“Nggak usah lagi ya, udah cukup. Ngerepotin kamu tau,”
“Nggak lah, kalau ngerepotin ya ngapain aku lakuin. Orang cuma makanan itu aja kok, nggak ada cerita ngerepotin,”
“Nggak usah, Arga,”
“Iya nanti nggak lagi,”
“Kamu pernah ngomong begitu tapi tetap aja tuh ngirimin aku makanan,”
“Kepengen aja gitu, Shel. Kamu sendiri udah makan belum?”
“Udah dong, tenang aja. Kamu makan ya, selamat makan,”
Sekalinya dekat dengan lelaki, Shelina langsung dekat dengan Argantara yang bisa dibilang cukup manis dalam hal bersikap, dan bertutur kata. Jadi Shelina masih harus beradaptasi. Kesannya Shelina cuek padahal Shelina yang belum pernah menjalin hubungan juga bingung bagaimana harus bersikap pada Argantara. Selalu Argantara yang memulai. Seperti menghubunginya, mengirimkan atau memberikan sesuatu.
“Arga tau kamu suka malas makan kali ya, Shel? Makanya sering dikirimin makanan,”
“Aku nggak susah makan, Ma,”
“Heleh, orang sering banget kok harus disamperin dulu di kamar untuk diajakin makan. Kalau nggak gitu ya kamu nggak akan makan,”
“Tapi kalau lagi nafsu makan ya nafsu banget ‘kan, Ma,”
“Nggak pernah kamu nafsu banget, ada juga nafsu aja, makanya badan segitu mulu,”
Shelina mengamati badannya sendiri. Ia merasa porsi badannya sudah tepat. Tapi kata mamanya Ia kerap susah disuruh makan.
“Badan aku segini-segini aja? Tapi nggak kurus ini, Ma. Biasa aja ‘kan,”
“Nggak, itu kurus menurut mama,”
“Udah pas ini, Ma,”
“Gemukin dikit biar makin cakep, perfect. Menjelang nikah gemukin dikit dong, Shel. Menurut mama masih kurang berisi kamu tuh,”
“Duh, Ma. Mau gimana cara gemukinnya?”
“Udah bagus sih sebenarnya cuma masih kurang dikit. Menurut mama kamu tuh tergolong masih kurus,”
“Ntar juga gendut sendiri kalau emang badan aku nya mau melar,”
“Eh ngomong-ngomong, untuk gaun kamu mau dimana pesannya?”
Shelina mengangkat bahunya sebagai jawaban atas pertanyaan sang mama. Ia belum memikirkan hendak menggunakan jasa siapa untuk membuat gaun pernikahannya.
__ADS_1