
“Kamu kenapa sih? Kok keliatannya aneh?”
Setelah dari supermarket, Shelina perhatikan suaminya jadi diam, tak melontarkan satu patah katapun.
Saat ini mereka sudah tiba di sebuah restoran yang menjadi langganan Shelina bila ingin makan ramen. Biasanya sambil menunggu makanan yang dipesan datang, mereka berdua akan terlibat obrolan, namun kali ini tidak sama sekali. Argantara jadi pendiam. Shelina yang melihat itu tentu saja merasa bingung.
“Biasanya suami aku banyak omong deh, kok mendadak jadi pendiam gini? Kenapa ya? Apa aku buat salah?” Batin Shelina bertanya-tanya. Ia tak pernah melihat suaminya jadi pendiam seperti ini kecuali kalau sedang kesal atau marah.
Shelina ingat-ingat dulu apakah Ia baru saja barangkali Ia sudah melakukan kesalahan yang membuat suaminya jadi pendiam seperti sekarang. Tapi Shelina ingat-ingat, tak ada kesalahan apapun yang Ia lakukan.
“Ga, kok kamu diam aja? Aku barusan tanya lho, kenapa kok kamu keliatan aneh? Apa aku bikin salah?”
Shelina menjawil lengan Argantara yang terlipat di atas meja, dan itu berhasil membuat Argantara menatapnya dengan fokus. Sejak tadi Argantara hanya menatap meja dalam diam.
Ada dua tebakan Shelina. Pertama, suaminya tengah memikirkan sesuatu, yang kedua, suaminya sedang menahan kesal.
“Kamu kenapa?”
“Aku? Nggak apa-apa kok,”
“Bohong ya? Kamu jadi pendiam abis belanja? Kenapa emangnya? Apa aku bikin salah? Atau belanjaan terlalu banyak makanya kamu kesal tapi kamu nggak bisa luapin makanya kamu diam aja,”
“Ya ampun, nggak kok, Kia sayang. Aku nggak marah. Apalagi marah soal belanjaan, ya nggak mungkin lah. Aku ‘kan emang punya tanggung jawab untuk penuhin sebuah kebutuhan kita di rumah,”
“Beneran? Tapi kok kamu diam aja sih? Biasanya kalau diam aja tuh kamu lagi kesal, atau mungkin kamu ada pikiran? Coba cerita ke aku, Ga,” ujar Shelina pada suaminya yang kelihatannya berbeda sekali setelah mereka belanja. Makanya sempat terbesit di benak Shelina, suaminya kesal karena belanjaan mereka banyak.
“Kamu maunya aku lompat-lompat gitu?”
“Ya nggak lompat juga, Ga. Tapi maksud aku, kok kamu beda banget gitu lho? Aku penasaran, kamu kenapa sebenarnya? Jujur aja sama aku. Jangan dipendam,” ujar Shelina yang masih tidak mau langsung percaya dengan kata-kata suaminya.
Diamnya Argantara itu aneh di mata Shelina yang tahu betul bagaimana suaminya. Argantara itu tidak pendiam kalau bersamanya. Setiap ada kesempatan untuk mengobrol, pasti mereka akan melakukannya dan yang memulai lebih sering adalah Argantara.
Setelah belanja di supermarket tadi, Argantara kelihatan beda sekali. Selain jadi pendiam, tatapan mata Argantara juga terlibat tidak fokus. Itulah sebabnya Shelina semakin yakin bahwa ada sesuatu.
“Biasanya kita ngobrol mulu, kalau nunggu makanan datang, juga ngobrol mulu. Kok sekarang kamu jadi banyak diam ya? Makanya aku tebak, aku bikin salah makanya kamu kesal terus akhirnya jadi diam, atau kamu emang lagi kepikiran sama sesuatu,”
Argantara tak lagi menjawab. Entah dengar atau tidak, yang jelas saat ini Argantara mengedarkan pandangan ke sekitarnya. Shelina menghela napas pelan, kemudian menggelengkan kepalanya.
“Ga, ada beban pikiran ya? Kalau kamu nggak kesal berarti kamu lagi ada beban pikiran. Bener nggak, Ga?”
Lagi-lagi Argantara diam. Shelina menggertakkan giginya kesal. Ia langsung menepuk lengan suaminya sulaya menatapnya dengan fokus, dan mendengarkan apa yang Ia bicarakan.
“Apa, Sayang?”
“Tuh ‘kan, kamu nggak fokus sih makanya nggak tau apa yang aku omongin,”
__ADS_1
“Emang kamu ngomong apa?”
“Kamu ada beban pikiran? Cerita aja sama aku. Kalau kamu nggak kesal, ya berarti kamu ada beban pikiran makanya kamu diam aja,”
“Nggak, Astaga. Seriusan deh, aku nggak kenapa-napa, Shelina sayang,”
“Serius nggak sih?”
Argantara menganggukkan kepalanya. Shelina geleng-geleng kepala lagi. Ia tidak percaya. Sungguh, hatinya masih yakin diamnya Argantara pasti ada sebab yang tak mau diceritakan oleh Argantara kepadanya.
“Aku bikin salah ya? Kok Arga aneh banget sih. Tapi aku bikin salah apa? Kalau Arga diam aja karena ada pikiran, kenapa dia nggak mau cerita aja ke aku? Harusnya cerita lah biar nggak kepikiran sendiri, biar nggak stres,” batin Shelina yang bingung dan kesal. Rasa di hatinya jadi campur aduk.
Beruntungnya makanan datang, jadi bisa sedikit mengalihkan Shelina yang sedang bertanya-tanya kenapa suaminya jadi berubah. Yang sebelumnya aktif bicara, mendadak berubah menjadi sosok yang pendiam setelah mereka belanja di supermarket.
“Ayo dimakan, Ga. Jangan diam aja kamu. Percuma pesan makanan kalau kamu nya cuma diam aja kayak patung, nggak ngomong nggak apa,” ujar Shelina setelah makanan dan minuman yang mereka pesan sudah ada di depan mata mereka.
“Iya, Sayang. Ini aku langsung makan kok,”
Shelina amati cara makan suaminya. Kalau kelihatan beda juga, berarti bisa dipastikan memang ada ‘sesuatu’. Argantara selalu kelihatan menghargai makanan apapun yang Ia makan. Argantara selalu makan dengan semangat.
Tapi yang saat ini Shelina lihat, Argantara makan dengan pelan, makannya juga tidak fokus. Shelina akhirnya semakin kepikiran dan ikut tidak nafsu makan.
“Duh, Arga kenapa sih? Kok dia nggak mau jujur aja sama aku? Padahal aku penasaran banget dia kenapa,”
“Harusnya aku yang tanya kamu kenapa? Menurut aku sih ramen ini enak,”
“Tapi kok makannya kayak nggak semangat gitu?”
Akhirnya Argantara menyadari kalau Shelina tidak seperti biasanya. Argantara tahu istrinya sangat menyukai ramen.
“Karena kamu makannya juga nggak semangat, ya aku jadi ikutan deh,”
“Hah? Aku nggak semangat? Orang aku semangat banget kok,”
“Apaan, kamu aja makan kayak ogah-ogahan gitu, mana nggak fokus lagi. Kamu tuh keliatan banget nggak menikmati apa yang lagi kamu makan,”
“Masa iya?”
“Iya, aku video harusnya tadi ya. Biasanya juga keliatan semangat kalau lagi makan, menikmati apapun yang dimakan. Tadi nggak, makan satu suap, terus abis itu diam ngeliatin sekitar, atau natap mangkuk sambil diam juga. Abis itu lanjut nyuap lagi. Aku jadi kepikiran kamu kenapa sebenarnya,” ujar Shelina yang merasa geram karena suaminya terus menutupi, dan malah bertanya kepadanya Ia kenapa? Harusnya Ia yang bertanya seperti itu.
“Aku sebenarnya nggak kenapa-napa, Sayang,”
“Jujur deh sama aku, jangan bohong. Sikap kamu tuh udah keliatan beda banget, Arnold,”
“Tapi aku baik-baik aja, Sayang,”
__ADS_1
“Kenapa kamu jadi pendiam? Kenapa kamu keliatan nggak fokus waktu aku ajak ngomong? Kenapa kamu makan nya kayak nggak nafsu gitu? Padahal ‘kan kita sama-sama lapar, dan aku tau kamu orang yang suka sama ramen. Kalaupun kamu nggak suka, kamu nggak pernah tuh jadi ngelamun makan nya karena nggak suka makanan, atau kamu jadi diam gara-gara makanan nggak sesuai selera kamu. Aku istri kamu, walaupun masih dalam hitungan bulan, tapi aku udah tau gimana kamu, Ar. Aku bisa tau kalau ada yang aneh dari kamu,”
*****
“Sial! Kenapa sih gue malah nggak bisa ngelupain kejadian tadi?! Gue nggak nyangka bakal ketemu sama Risa. Setelah itu gue jadi kepikiran dia terus. Kenapa tiba-tiba Tuhan pertemukan gue sama dia ya?”
Di perjalanan menuju hotel, pikiran Argantara masih saja belum tenang. Wanita itu tak pergi juga dari kepalanya.
“Ga, kamu mau lilih hotel yang mana ngomong-ngomong? Udah punya rencana ‘kan, Ga?”
Tak mendapatkan jawaban dari sang suami membuat Shelina yang semula menatap ke depan akhirnya menoleh ke arah suaminya yang mengemudikan mobil dalam diam. Setelah makan, Argantara memang masih jadi sosok yang pendiam, bahkan setelah mengantarkan belanjaan ke rumah sekaligus mengambil perlengkapan untuk menginap pun, Argantara masih saja diam. Sampai sekarang Shelina tidak mengerti kenapa suaminya masih menjadi sosok yang pendiam.
“Ga, nggak dengar aku ngomong apa?”
“Hmm?”
“Ham hem ham hem aja kamu nih. Makanya dnegerin kalau aku ngomong, Arga. Aku tuh nanya sama kamu lho tadi, kamu nya malah nggak ada tanggapan, cuma diam aja kayak patung. Aku sampai sekarang masih bingung deh kenapa kamu begitu. Aku tanya, tapi kamu bilang nggak apa-apa terus. Aneh banget sih kamu,” ujar Shelina yang akhirnya melampiaskan rasa kesalnya kepada Argantara.
“Aku ‘kan lagi fokus nyetir, Shel,”
“Ya tapi biasanya kalaupun kamu nyetir, kamu tetap ladenin aku, kamu tetap jawab kalau aku nanya. Lah barusan apa? Antara nggak dengar, atau emang kamu nya masih nggak fokus. Mending jujur aja deh kamu kenapa? Daripada diam-diam aja aku malah makin bingung,”
“Udah dibilangin aku nggak apa-apa. Harus berapa kali sih aku jawab begitu?” Tanpa sadar Argantara menunjukkan kalau dirinya kesal diberikan pertanyaan yang sama oleh istrinya. Kenapa dan kenapa? Padahal Ia sudah menjawab tidak ada apa-apa, dan Shelina tidak perlu mengkhawatirkannya.
“Gue nggak seharusnya mikirin pertemuan gue sama Risa, gue nggak seharusnya bertanya-tanya kenapa Risa ada di Jakarta kagi, kenapa Tuhan temuin gue sama Risa, pokoknya gue harus lupain itu semua,”
“Arga!”
“Apa, Shel?”
“Oh, kirain nggak diladenin lagi aku nya,” sindir Shelina. Barusan Ia memanggil Argantara. Untuk memastikan saja Argantara akan menanggapi atau tidak. Ternyata kali ini ditanggapi dan Shelina senang sekali.
“Kamu kenapa manggil aku?”
“Aku pengen tau aja, kamu jawab atau nggak,”
“Oh, aku pikir kenapa,”
“Aku mau tanya,”
“Mau nanya aku kenapa beda? Kenapa diam? Kenapa begini? Kenapa begitu? Hmm? Semuanya udah aku jawab dari tadi, Sayang,”
“Aku mau tanya, kamu udah ada rencana mau nginap di hotel mana ‘kan? Udah ada gambaran?”
“Oh, udah kok. Aku pernah beberapa kali nginapd is ana sama mama papa aku kalau liburan,” ujar Argantara menjawab pertanyaan sang istri.
__ADS_1