
“Kamu masuk dulu?”
“Nggak, udah malam nggak enak. Lagian gue udah capek plus ngantuk. Gue langsung balik aja ya,”
Shelina malam ini sangat bahagia. Pertama Ia tidak menyangka kalau kelasihnya akan mengajak Ia untuk berdansa, yang kedua karena Argantara mau mengantarkan Ia pulang ke rumah. Bahkan Argantara mengantar sampai Ia tiba di depan pintu rumah. Yang biasnaya tidak pernah keluar dari mobil kalau mengantar Ia pulang, sekarang berbeda.
“Ini kamu disuruh sama Mama kamu juga ya untuk antar aku kayak biasanya?”
“Nggak, nyokap nggak nyuruh gue kayak biasa,”
“Berarti ini inisiatif kamu sendiri atau— gimana?”
“Ya lo pikir aja sendiri,” jawab Argantara dengan datar. Shelina langsung menyimpulkan jawaban Argantara.
__ADS_1
“Jadi kali ini Arga mau nganterin aku pulang ke rumah bukan disuruh sama Mamanya padahal ‘kan biasanya disuruh sama mamanya. Oh pantesan aja aku dianterin juga sampai di depan pintu,” batin Shelina.
“Okay kalau gitu aku masuk dulu ya, Arga. Makasih banyak udah mau repot-repot antar aku pulang,”
“Ya sama-sama,”
Argantara memutar badannya untuk kembali ke dalam mobil namun tiba-tiba Shelina memanggilnya. Otomatis Argantara tidak jadi melangkah.
“Kenapa?” Tanya Argantara pada Shelina yang tersenyum dan itu membuat Argantara bingung.
“Lo nggak lagi ketempelan atau kenapa-napa ‘kan, Shel ?! Gue berani sama apapun tapi kalau sama hantu gue agak payah, gue akuin itu. Tapi agak aja ya, nggak takut banget,”
“Kamu galak banget sih, cocok kalau aku panggil tunangan galak tapi sekarang udah nggak begitu galak ya kayaknya. Apa kamu udah bisa terima aku, Ga?”
__ADS_1
“Udah nggak ada harapan untuk gue balik sama mantan gue, mata gue udah dibuat terbuka sama teman-teman dan orangtua gue soal takdir. Jadi ya….sekarang gue lagi mau berdamai sama takdir aja sih, jujur gue mau belajar nerima lo dalam hidup gue ya walaupun gue nggak tau bisa atau nggak,”
Shelina tersenyum dengan mata berbinar. Ia langsung memegang kedua bahu Argantara lalu berucap “Makasih ya kamu mau belajar untuk nerima aku semoga hubungan kita semakin membaik,”
“Ya semoga,”
“Tapi rencana kamu ke depannya, apa pertunangan kita ini bakal lanjut? Maksud aku, kamu udah ada gambaran atau belum?”
“Kok lo nanya gitu? Bukannya kalau udah tunangan ya udah pasti nikah ya?”
“Nggak juga kok, banyak yang nggak sampai ke tahap pernikahan karena satu dan lain hal. Nah kalau masalah kita ini ‘kan, kamu yang nggak mau nikah sama aku, kita tunangan aja kamu marah-marah,”
“Gue bilang gue lagi mau belajar untuk nerima lo, Shel. Gue nggak bisa jawab sekarang,”
__ADS_1
“Oh gitu ya? Aku serahin semuanya sama kamu. Kalau aku, jawaban aku masih sama. Aku terllau malas cari jodoh sendiri dan aku percaya kalau pilihan orangtua aku itu terbaik untuk aku. Sekarang gimana sama kamu? Aku nggak maksa juga kok, daripada salah satu dari kita ada yang terpaksa untuk jalaninnya lebih baik ya mundur. Kalau kamu mundur, otomatis kamu maksa aku untuk mundur juga. Nggak apa-apa, mungkin itu yang terbaik,”
Mereka tidak pernah membahas kelanjutan hububgan mereka karena selama ini komunikasi mereka sangatlah buruk. Makanya sekarang Shelina bicara itu selagi mereka hanya berdua, dan situasinya juga tepat. Argantara tidak dalam mode ketusnya.