Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 152


__ADS_3

"Nih aku bawain siomay yang tadi kamu pesan,”


Argantara pulang dengan wajah berserinya. Menghampiri Shelina yang sedang menikmati potongan buah apel di meja makan.


"Yah, Aku udah gak pengen,”


Wajah Argantara langsung berubah masam menatap istrinya yang sibuk mengunyah. Ia sudah berusaha mencari, tapi begitu pulang membawa siomay yang diinginkan malah Shelina bilang sudah tidak mau.


"Tadi kamu chat aku biar aku beliin ini. Kok sekarang gak pengen lagi?"


Argantara melonggarkan dasinya dan meletakan jasnya di atas meja makan.


"Beliin siomaynya telat,”


Argantara duduk disamping istrinya.

__ADS_1


"Aku ‘kan tadi masih kerja, Sayang. Harus rajin kerja di kantor perusahaan,”


"Kan bisa pulang dulu sebentar untuk nganterin pesenan aku,”


"Yaudah maaf deh. Aku tadi lagi sibuk banget soalnya,”


Argantara melangkah ke dapur untuk mengambil dua buah mangkuk disana. Lalu menghidangkan siomay di hadapan istrinya.


"Aku udah gak mau. Makan aja sendiri. Aku juga udah kenyang,”


Shelina meninggalkan meja makan dengan piring berisi apel di tangannya. Argantara langsung mengejar langkah istrinya sebelum jauh dari meja makan.


Argantara mencekal pergelangan Shelina dengan kencang untuk melampiaskan emosinya yang sejak tadi berusaha ia pendam.


Selain sikap Shelina, rasa lelah yang menghadangnya juga menjadi pengaruh besar dalam memancing amarahnya di sore hari ini.

__ADS_1


"Kamu selalu pengen dihargai sama aku. Soal apapun itu! Tapi kamu gak pernah mikirin aku juga. Kamu nggak pernah berusaha untuk ngehargai aku. Mentang-mentang dulu aku pernah jahat banget sama kamu jadi sekarang harus aku terus yang ngalah sama kamu?! Iya?!"


Suara Argantara terdengar memenuhi ruang makan megah yang ada di rumah besar ini. Asisten rumah tangga terlihat memasuki kamar mereka masing-masing tidak ingin ikut campur mendengar pertengkaran kedua majikan mereka. Semakin kemana-mana omongan Jino sampai membawa masa lalu yang padahal tidak ingin diingat-ingat lagi oleh Shelina yang bersikap seperti tadi karena memang semenjak hamil jadi menyebalkan.


Shelina menunduk tak berani menatap suaminya yang sedang dalam mode marah. Tubuhnya bergetar takut mendengar suara Argantara yang terdengar menyeramkan. Ia kembali merasa terhempas pada kejadian lampau yang pernah dialaminya. Dimana bentakan, teriakan bahkan caci maki sudah menjadi makanan sehari-harinya. Sekarang Argantara kembali melakukannya. Ia takut setiap kali nada suara Argantara terdengar naik barang sedikit.


Shelina menangis. Ia merasa sesuatu dalam perutnya berontak. Buah hatinya pun merasa takut mendengar suara Tinggi Argantara yang tak pernah terdengar lagi setelah beberapa waktu ke belakang.


Argantara melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan Shelina. Ia juga mengambil piring yang ada di tangan istrinya kemudian diletakkan di atas meja makan.


"Sekarang makan siomaynya. Aku gak terima penolakan ya, Shel!"


Argantara menyiapkan satu kursi untuk istrinya. Kemudian satu kursi lain yang langsung di tempatinya. Ia menatap istrinya yang masih berdiri kaku di dekatnya.


Argantara tahu Shelina pasti kembali tertekan karena amarahnya barusan. Oleh karena itu ia berusaha mengembalikan aura lembutnya yang beberapa saat lalu lenyap. Jangan sampai Shelina menangis berkelanjutan. Ia juga tidak bisa melihat Shelina bersedih apalagi itu karenanya. Ia akui yang tadi itu hilang kendali. Seharusnya Ia tidak melakukan itu pada Shelina, tidak sepantasnya Ia membentak Shelina karena merasa tidak dihargai. Sikap Shelina ini memang kadang tidak bisa ditebak. Semenjak hamil memang sering menyebalkan. Jadi sudah sepatutnya Ia memaklumi itu.

__ADS_1


"Duduk, Sayang,”


Argantara berdecak melihat sikap Sheva yang tak pernah hilang. Sikap keras kepala milik Shelina memang terkadang membuat Argantara harus mengelus dada.


__ADS_2