
“Ngokapnya Shelina kayak udah mulai ragu gitu, njir. Ya kalau gue jadi orangtua ya, gue juga ragu lah sama si Arga. Dia bisa nggak tuh bahagiain Shelina. Kalau nggak bisa, parah banget sih,”
“Dia sekarang harus berusaha yakinin orangtua Shelina lagi kayaknya ya? Soalnya mereka udah tau kalau dulu Arga pernah nolak Shelina bahkan kasar. Ih najis brengsek banget jadi cowok,”
Argantara mengetatkan rahangnya, sambil mengepalkan kedua tangan ketika tidak sengaja mendengar obrolan tiga orang lelaki yang sedang memilih makanan ringan di rak.
Niatnya Argantara mengajak Shelina ke supermarket untuk menyenangkan hati Shelina yang hobi jajan, atau menjelajah supermarket. Tapi ternyata Ia diberikan kejutan. Tak sengaja bertemu dengan Ganta dan dua orang lelaki lainnya yang merupakan teman Ganta.
“Sialan mereka ngomongin gue di belakang, dan kayaknya mereka tau sesuatu soal orangtuanya Shelina yang mendadak kayak berubah gitu ke gue,”
Argantara diam sebentar, Ia jadi tidak fokus untuk memilih makanan karena ucapan Ganta besama teman-temannya barusan yang sampai ke telinga nya.
“Jangan-jangan mereka yang laporan ke orangtua Shelina kalau gue pernah nolak perjodohan itu bahkan gue juga pernah kasar ke Shelina. Gue emang salah tapi mereka lebih salah karena mereka laporan tentang hal yang nggak seharusnya mereka laporin karena itu bukan kapasitas mereka,”
Argantara membatin menumpahkan semua isi hatinya. Semakin Ganta dan teman-temannya membicarakan tentangnya, maka akan semakin panas juga hatinya.
__ADS_1
“Rasain aja kalau perjodohan mereka batal hahaha, gue dukung,”
“Ganta, doa lo gila bener,”
“Ya karena Shelina nggak pantes sama Arga! Dia tuh lebih pantes sama cowok yang bisa hormatin dan hargain dia. Lah sedangkan si Arga kebalikannya. Dia nggak bakal bisa bahagiain Shelina, gue yakin,”
“Cowok brengsek kayak Arga tuh pantesnya buang aja ke laut, nggak cocok dia sama Shelina yang baik gitu. Kasian Shelina, dia baik eh ketemu nya sama cowok brengsek nggak tau diri macam Arga. Mau jadi apa si Shelina karena masa depan dia habisin sama Arga. Nggak bisa bayangin gue, njir. Pasti tiap saat bakal makan hati deh,”
Gigi geraham Argantara menggertak satu sama lain. Ucapan Ganta dan teman-temannya sudah kelewat jahat.
Argantara merasa tidak tahan sampai akhirnya tanpa sadar Ia melangkahkan kakinya hendak menghampiri Ganta namun tiba-tiba Shelina menghampirinya.
“Hm?”
“Kamu kenapa? Muka kamu kenapa?” Tanya Shelina pada Argantara yang Ia lihat tengah memasang wajah kesal.
__ADS_1
Argantara yang ketahuan sedang menahan emosi langsung menunjukkan senyum terbaiknya kemudian Ia menggelengkan kepalanya pelan.
“Kamu kenapa? Jangan bohong deh sama aku, jujur aja buruan,”
“Aku nggak apa-apa,”
“Cuma gagal aja nyamperin si mulut-mulut kurang ajar itu,” lanjut Argantara dalam hati.
“Kamu yakin kamu baik-baik aja?”
Argantara langsung menganggukkan kepala. Tapi Shelina tetap tidak percaya. Entah kenapa Ia merasa kalau Argantara tengah memendam sesuatu yang membuat emosinya naik, tapi Ia belum tahu apa.
“Kamu—kamu kenapa sih? Jujur aja sama aku. Lagi kesal ya? Kalau boleh tau, kesal sama siapa? Sama aku ya?”
“Eh nggak-nggak, kok mgomongnya gitu sih?”
__ADS_1
“Ya barangkali aja aku abis buats alah ke kamu,”
Argantara menggelengkan kepala dengan tegas. Shelina tidak pernah salah di matanya, justru Ia lah yang punya banyak kesalahan pada Shelina.