Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 119


__ADS_3

"Ayo berangkat. Aku udah siap nih"


Shelina menggandeng tangan Argantara. Tapi Shelina merasa kalau Argantara tak mengikuti langkah Shelina. Dia hanya berdiam di posisi nya dengan mematung.


"Kok malah bengong? Ayuk berangkat,”


Shelina kembali menggandeng tangan Argantara.


"Kamu cantik banget. Aku nggak salah pilih,”


Ucapan Argantara kembali membuat wajah Shelina merah merona.


"Kamu bisa aja. Kamu juga ganteng. Ya udah, ayo berangkat"


Kali ini Argantara mengikuti langkah Shelina setelah tangan nya kembali Shelina tarik dengan pelan.


"Kita naik mobil?"


Tanya Shelina pada Argantara , ketika kita sampai di depan rumah. Di sana sudah terparkir mobil sport berwarna biru. Sepertinya ini bukan mobil yang Argantara bawa waktu diner bersama Shelina. Karena mobil yang ia bawa waktu dinner dengan Shelina, berwarna merah. Argantara hanya mengangguk sembari tersenyum.

__ADS_1


"Kenapa nggak naik motor? Kan lebih seru,”


Shelina kembali bertanya pada Argantara . Dan kini ia menangkup wajah Shelina dengan kedua tangannya secara lembut.


"Pacar aku ini ternyata agak tomboy ya. Masa mau naik motor mulu. Lagian ini udah sore, aku nggak mau kamu sakit karena kena angin sore menjelang malam ini,”


Ucap Argantara dengan lembut memberi pengertian padaku. Lalu Ia membukakan pintu mobilnya, mempersilahkan aku masuk. Di dalam mobil suasana hening menyeruak di antara kami. Argantara fokus dengan menyetir mobil, sedangkan Shelina fokus melihat pemandangan sore hari lewat jendela mobil Argantara ini. Sesekali Shelina melihat Areno melirik Shelina sembari tersenyum. Hingga akhirnya Shelina berusaha memecahkan suasana hening ini dengan pertanyaan.


"Baru lagi?"


Tanya Shelina pada Argantara. Argantara melirik Shelina dengan memperlihatkan wajah bingung nya.


"Baru? Maksudnya?"


"Mobilnya,"


Shelina menjawab kebingungan Shelina. Lalu Argantara tersenyum tipis mendengar pertanyaan Shelina.


"Bukan punya aku. Tapi punya orang tua aku,”

__ADS_1


Jelas Argantara padaku Shelina hanya mengangguk paham. Setelah itu Argantara mengelus pucuk kepala Shelina.


"Tapi aku nggak mau ngerepotin kamu. Aku jadi nggak enak hati sama kamu dan orang tua kamu. Kamu seharusnya nggak perlu bawa mobil orang tua kamu. Apalagi ini bukan mobil biasa. Ini kan mobil mahal. Aku naik apa aja mau kok, asalkan sama kamu, jiahh sa ae,”


Ucap Shelina pada Argantara sambil terkekeh. Shelina rasa dengan Argantara meminjam mobil orangtuanya, itu sangat membuatnya merasa tak enak hati. Shelina merasa telah merepotkan Argantara.


"Kamu nggak ngerepotin aku, Shel. Menurut aku ini wajar kok. Kamu nggak perlu merasa nggak enak gitu sama aku dan orang tua aku. Lagi pula orang tua aku juga nggak merasa direpotkan. Kamu tau nggak dulu itu aku punya mantan. Mantan aku itu mau nya banyak banget. Beda sama kamu yang nggak pernah minta apapun sama aku. Makanya aku putusin dia, karena aku udah lelah dengan semua permintaannya. Dan orang tua aku juga nggak setuju kalau aku pacaran sama dia. Kata orang tua aku , dia gak pantas untuk aku. Karena cuma mau harta aku aja. Dia nggak benar-benar cinta sama aku. Lagian cuma cinta monyet juga sih, tapi banyak maunya dia."


Jelas Argantara padaku sembari sesekali melirik ke arah Shelina dan kembali fokus menyetir.


“Jujur aku senang banget bisa jalan sama kamu, ini Mama Papa kamu udah tau ‘kan ya?”


“Udah,”


“Terus dikasih izin?”


“Awalnya nggak,” jawab Shelina dengan wajah sedih sambil menggelengkan kepalanya.


“Lho terus gimana ceritanya bisa dibolehin?”

__ADS_1


“Ya—aku—aku abis ngobrol sih sama mereka,”


“Ngobrol apa cerita dong. Aku penasaran banget. Apa mereka mau batalin rencana perjodohan kita karena dulu aku pernah nolak kamu habis-habisan?”


__ADS_2