
“Aku minta maaf ya udah ngerepotin kamu. Harusnya kamu langsung pulang ke rumah dan mungkin mobil kamu nggak bakal mogok kayak gini,”
“Apaan sih? Dikit-dikit minta maaf. Emang udah takdirnya dia mau mogok. Ngapain dipikirin banget? Nanti jyga udah ada yang ngurusin,”
Argantara yang punya mobil saja santai, tapi Shelina malah yang kelihatannya kepikiran karena mobil Argantara tiba-tiba berhenti.
“Aku pulang sendiri aja nggak apa-apa kok, Ga. Lagian ini ‘kan udah dekat sama rumah aku. Kamu langsung pulang aja ke rumah kamu, gimana? Aku naik ojek online,”
“Emang kenapa nggak mau naik taksi bareng aku?”
“Bukan nggak mau, tapi nanti supirnya jadi nganterin dua orang,”
“Ya terus kenapa? Yang penting aku bayar sesuai tarif,”
“Nggak usah, aku bayar sendiri aja, Ga,”
“Kamu ngeremehin aku berarti, lo anggap aku nggak mampu buat bayar—“
“Eh nggak-nggak, bukan gitu maksud aku sumpah. Aku nggak anggap remeh kamu. Tapi malah aku nggak enak sama kamu kalau kamu bayarin,”
“Ya udah naik taksi bareng aku,”
“Biar sama-sama cepat sampai rumah, bukannya lebih enak naik ojek knline aja ya kita? Aku ke rumah aku, dan kamu ke rumah kamu,”
“Terus kalau kamu nggak sampai rumah gimana? Nyokap kamu ngomong ke nyokap aku, dan aku disalahin, kamu mau tanggung jawab? Hmm?”
Shelina akan sampai rumah, Shelina pastikan itu karena memang Shelina tidak ada tujuan selain rumah untuk saat ini.
“Aku mau langsung pulang ke rumah kok,”
“Nggak keluyuran?”
“Nggak,”
“Kalau aku nggak percaya?”
“Ck, terserah kamu deh,”
“Biar aku percaya ya bareng aja naik taksi. Ntar aku bilang ke driver tujuannya ada dia,”
“Emang bisa begitu?”
“Ya ntar aku omongin, masa iya dia nggak mau sih? Lagian ‘kan nggak gratis,”
Entah kenapa Shelina merasa Argantara itu seperti ingin sekali memastikannya sampai di rumah. Padahal Ia sudah yakinkan bahwa Ia tidak akan kemana-mana selain rumah, tapi Argantara sulit sekali percaya.
******
__ADS_1
“Arga, makasih ya udah anterin aku sampai rumah dengan selamat. Mobil kamu semoga nggak apa-apa ya,”
“Iya, aku balik dulu,”
“Hati-hati, Waalaikumsalam,”
“Eh aku aja belum ucap salam, kenapa kamu udah—“
“Oh iya baru ingat,”
Shelina menepuk pelan keningnya. Terlalu gugup berhadapan dengan Argantara yang entah kenapa kalau Ia lihat semakin hari, semakin tampan.
“Ini lagi mau ucap salam, Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,”
“aku lagi mau mesen ojek dulu,”
“Sambil duduk di dalam yuk, mau ‘kan? Mau lah, daripada di luar,”
Shelina sedikit memaksa supaya tunangannya itu duduk di ruang tamu. Daripada berdiri sambil menunggu kedatangan ojek online nya.
“Ayo, aku buatin minum,”
“Nggak usah,”
Shelina berusaha supaya Argantara mau duduk di ruang tamu. Akhirnya Argantara mengangguk setuju. Shelina tersenyum senang. Ia langsung membuka pintu lebar-lebar mempersilahkan Argantara masuk namun Argantara mepihat ada kursi di teras jadi Ia duduk di sana. Shelina mengernyit bingung.
“Kok disitu sih? Ayo duduk di ruang tamu aja. Ada Mama aku kok di dalam, tenang aja kita nggak cuma berdua, mending duduk di ruang tamu aja adem,”
“Nggak, aku di sini aja,” Argantara masih menolak, bersikeras untuk tidak masuk ke dalam rumah Shelina.
“Oh gitu, ya udah, aku ambil minum buat kamu ya,”
“Nggak usah, ngapain sih repot banget? aku di sini cuma buat numpang nunggu ojek doang,”
Ujar Argantara dengan ketus. Ia tidak mau Shelina sampai mengambil air minum untuknya, diberikan tempat duduk saja Ia sudah bersyukur.
“Nggak apa-apa, santai aja,”
Shelina bergegas masuk ke dalam rumah meninggalkan Argantara di teras. Argantara mengamati layar ponselnya, memastikan driver yang akan menjemputnya semakin dekat bukan malah semakin jauh.
“Yah elah, pake dibatalin pula,” gerutu Argantara.
Akhirnya Argantara order lagi. Tidak lama kemudian Shelina keluar dengan membawa gelas berisi teh hangat dan juga kue.
“Barusan dibatalin,”
__ADS_1
“Ya udah nggak apa-apa, udah pesan lagi ‘kan?”
“Udah,”
“Ini silahkan dinikmati yang ada ya. Nggak apa-apa dibatalin, aku nggak ngusir kamu juga kok, makan sama minum aja dulu,”
“Makasih ya, Shel,”
Argantara menyeruput teh hangat yang dibuat oleh Shelina. Setelah itu Ia menatap Shelina yang juga menatapnya.
“Kenapa kamu ngeliatin aku?”
“Nggak apa-apa, senang aja kamu mau minum teh buatan aku. Eh itu kuenya dimakan,”
“Kamu yang buat kue?”
“Nggak sih sebenarnya, Mamaku yang bikin. Oh iya Mamaku lagi di kamar istirahat,”
“Ya nggak apa-apa nggak usah diganggu,”
Melihat Argantara mau mencoba kue yang Ia sajikan, Shelina semakin senang rasanya. Apalagi interaksi mereka sekarang, tidak didmoninasi oleh galaknya Argantara.
“Enak kuenya,”
“Makasih, kamu suka?”
“Ya, cocok di lidah aku, manisnya pas,”
“Mamaku emang nggak pernah gagal bikin kue,”
“Kamu nggak belajar? Apa udah jago? Kayaknya udah jago banget nih,”
“Belajar bikin kue?”
“Ya iyalah, masa belajar bikin rumah, itu mah nanti kalau udah nikah,”
Shelina terkekeh, Ia pikir belajar yang lain. Otaknya belum tersambung ke persoalan kue jadinya bertanya.
“Udah belajar, tapi belum berani bikin sendiri,”
“Terus kapan beraninya?”
“Ya…nanti aku beraniin deh,”
“Kamu kalau takut mulu nggak bakal tau sebenarnya kamu udah beneran bisa atau belum?”
“Iya iya nanti aku coba bikin kue sendiri,”
__ADS_1
“Aku penasaran gimana rasanya,”