
“Ga, nggak mau foto di sini berdua? Buat jadi kenang-kenangan ini liburan pertama kita setelah jadi suami istri,”
Shelina dan Argantara sudah tiba di pantai dan saat ini sedang duduk di tepi menikmati suasana sore menjelang matahari terbenam. Tiba-tiba terbesit di benak Shelina ingin dirinya dan sang suami berfoto.
“Boleh-boleh. Astaga aku nggak kepikiran. Ayo kita foto dulu. Untung aja kamu ingat, Sayang. Kita emang belum ada foto selama di Bali,”
Shelina segera mengeluarkan ponsel, dan lebih dekat lagi dengan suaminya. Ia membuka kamera kemudian langsung tersenyum menghadap kamera, begitupun Argantara yang merangkul sang istri sambil tersenyum.
“Lho kok cuma satu, Shel?”
“Emang mau banyak?”
“Ya banyak aja biar nanti tinggal pilih yang bagus,”
“Okay, banyak ya, siap-siap gaya, jangan mati gaya,”
“Hahaha okay, aku mah kalau gaya di foto ya senyum aja, atau dua jari peace,”
“Itu gaya umum nggak sih, Ga? Kayaknya orang-orang kebanyakan kayak gitu kalau foto. Tapi kalau gaya bapak-bapak itu jempol ya, Ga,”
“Hahahaha kok tau sih?”
Shelina ikut tertawa, bagaimana Ia tidak tahu? papanya kalau berpose di foto sering seperti itu. Entah memang sudah jadi kebiasaan atau bukan, yang jelas sering sekali berpose seperti itu kalau sedang berfoto.
“Papaku aku kayak gitu, Ga,”
“Lah sama. Papaku juga gitu, Shel. Kok bisa sama sih? Ya bisa lah, ‘kan besan,”
Argantara yang bertanya, Argantara juga yang menjawab. Ia senang ketika ayah kandungnya dan ayah mertuanya ternyata memiliki kesamaan.
“Bukan papa kita aja deh kayaknya, Ga. Tapi banyak, bapak-bapak tuh kebanyakan kayak begitu kalau pose di foto, kalau yang aku perhatikan sih kayak gitu,”
“Iya ya? Sering dengar kalimat gini ‘jempol diangkat gaya andalan bapak-bapak’ aku sering tuh dengar kayak gitu,”
“Iya sama aku juga sering dnegar gaya andalan bapak-bapak. Aku langsung keingat papaku terus,”
“Kangen ya sama papa? Padahal baru pisah bentar,”
Shelina tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Tentu saja rindu itu ada. Jangan ditanya seberapa besar rindu yang Ia miliki akan hadirnya sosok ayah. Sedih ketika kenangan-kenangan dimana mereka masih bisa menghirup udara yang sama terlintas di pikirannya, tapi Shelina tak pernah mau berlarut-larut.
Shelina tak pernah lupa berdoa untuk papanya. Karena hanya dengan cara itu Ia berinteraksi dengan papanya. Ia berharap papanya selalu sehat, dan sampai kapanpun Shelina akan berbakti kepada papanya.
“Sama, Shel. Aku juga kangen banget sama papaku. Cuma ya gimana, aku harap papa sehat-sehat terus,”
“Iya kita harus berdoa kayak gitu terus untuk orangtua kita,”
“Gini rasanya ngobrolin orangtua sama pasangan ya? Sefrekuensi, sama-sama sayang orangtua,”
Argantara tiba-tiba merengkuh erat istrinya yang kaget dan spontan brontak. Shelina panik, langsung lirik kanan kiri takut ada yang memperhatikan tingkah Argantara.
“Ga, jangan pelukan di tempat umum dong! Ih kamu ngapain sih tiba-tiba meluk aku kayak begini?”
“Ya emang kenapa sih, Sayang? Udah suami istri juga,”
Argantara melepaskan pelukan mereka dan menatap Shelina dengan tatapan kesal. Argantara tidak merasa bersalah ketika memeluk istrinya di pantai.
“Jangan lah, malu tau,”
“Ya ampun, Sayang. Dulu, waktu aku liburan ke pantai ya, aku nemu pasangan bule yang ciuman,”
“Ya terus kamu mau nyontoh mereka gitu?” Tanya Shelina dengan ekspresi kaget. Jangan sampai suaminya punya niat seperti itu. Dipeluk saja Ia merasa malu karena Ia merasa ini bukan tempat yang tepat.
“Ya nggak juga, aku cuma ngasih tau aja ada yang lebih parah nggak ada rasa sungkannya, berasa nggak ada kamar aja gitu,”
“Ya udah lah biarin aja suka-suka mereka yang penting kamu nya nggak,”
“Ih tapi kaget banget lho liatnya. Mana waktu itu masih SMP. Astaga, mata aku udah kotor sejak kelas tiga SMP,”
“Harusnya kamu langsung cuci mata tuh,”
“Hahahaha,”
Argantara terbahak, sambil mencubit pipi istrinya yang baru saja asal berceletuk. Ia mengakui pernah melihat adegan itu ketika usianya masih belum dewasa. Ia tentu tidak sengaja. Ketika melihat pemandangan, yang didapati malah sepasang muda mudi sedang menautkan bibir mereka di atas kursi tepi pantai.
“Terus reaksi kamu kayak gimana?”
“Buru-buru buang muka, alihin mata ke objek lain yang lebih wajar,”
“Mungkin menurut mereka itu wajar dilakuin di pantai,”
“Iya itu bagi mereka, lah bagi aku yang masih remaja saat itu, nggak wajar banget lah. Dalam hati aku maki-maki mereka lho, jujur deh,”
“Maki kayak gimana maksudnya?”
“Gila tuh dua orang kayak nggak ada hal lain yang bisa dilakuin, kenapa harus ciuman di tepi pantai,” ujar Argantara yang mengulangi makiannya saat itu kepada dua orang yang berciuman dan tak sengaja Ia lihat terang-terangan.
“Kamu liburannya sama mama papa?”
“Iyalah, Shelina. Aku ‘kan masih remaja waktu itu, masa iya sama pacar,”
“Ya kali aja gitu,”
“Ya kali aku ngajakin pacar ke Bali pas kelas tiga SMP. Nggak mungkin lah, Sayang. Lagian waktu itu belum kenal pacar-pacaran,”
“Dah, lanjut foto lagi yuk,”
“Ayo-ayo,”
Shelina menyandarkan ponselnya ke gelasnya yang sudah kosong, kemudian Ia berpose dengan memeluk suaminya dari samping lalu keduanya sama-sama tersenyum.
“Ayo sekali lagi,” ajak Argantara yang kali ini semangat sekali, sampai Shelina bingung. Tadi semangat, tapi yang kali ini nampak lebih semangat.
Rupanya karena Argantara ingin berpose mencium pipi Shelina hingga Shelina menampilkan ekspresi wajah yang kaget. Kamera berhasil menangkap itu dan Argantara bahagia sekali.
“Ih kamu kenapa cium-cium aku sih? Barusan cerita kalau nggak senang liat orang ciuman di tempat umum eh barusan kamu lakuin itu,”
“Beda dong, aku nggak ciuman bibir sama ksmu, cuma cium sekilas di pipi doang,” kata Argantara seraya tertawa.
Argantara segera melihat hasilnya. Dan Ia tertawa melihat ekspresi Shelina yang menggemaskan berhasil tertangkap oleh kamera dengan begitu sempurna.
“Kamu ekspresinya kayak diatur gitu ya. Mulutnya sedikit kebuka terus mata melotot tajam ke aku,”
“Itu aku kaget beneran tau,”
“Iya ini emang natural banget kok, Sayang. Aku suka liat fotonya. Jangan dihapus ya, tolong banget nih,”
“Hapus ah kalau yang dicium itu, kecuali kalau yang lain,”
__ADS_1
“Ih jangan dong, Sayang. Masa dihapus sih?”
“Ya masa—“
“Nggak apa-apa dong, itu cuma cium pipi, bukan foto cium bibir, atau foto nggak pakai baj—hmppp—“
Argantara belum selesai bicara, Shelina langsung menutup mulut Argantara supaya tak melanjutkan perkataannya. Kalau tidak ditutup mulutnya, maka Argantara bisa bicara lebih melantur lagi.
“Ih kok mulut aku ditutup sih? Aku ‘kan belum selesai ngomong, Sayang,”
“Ya lagian kamu ngapain sih ngomong kayak gitu? Nggak boleh tau!”
“Lah ‘kan dmang benar, kita fotonya tuh maish normal, masihw ajar, bukan foto ciuman atau foto yang nggak pakai baju, jadi kenapa harus takut-takut coba?”
“Ih yang gayanya biasa aja kalau foto tuh,”
“Biarin, suka-suka aku lah. Aku mau foto sambil cium pipi kamu. Kirim ke aku fotonya biar aku simpan, sekalian sama foto-foto yang sebelumnya,”
“Foto yang ini nggak usah,” kata Shelina seraya menunjuk foto dimana Ia menunjukkan ekspresi kaget sedangkan Argantara mencium pipi kanan.
“Nggak-nggak, justru itu yang pengen banget aku simpan,”
“Ih kamu aneh banget,”
“Biarin lah, biar ada kenangan yang lucu, yang romantis,”
“Lucu darimana?”
“Lucu liat muka kamu, Shel, terus romantisnya tuh, aku cium pipi kamu. Biarin kamu nya kaget yang penting aku ada kesempatan,”
“Pantesan ya semangat ngajakin foto barusan. Ternyata emang pengen foto gaya begitu,”
“Hahahah tau aja,”
“Ayo foto lagi dong,”
“Nggak mau, udah cukup, Ga,”
“Tapi foto kita berdiri belum ada, Shel, yang menghadap sunset ‘kan keren tuh,”
“Kayaknya itu harus minta tolong sama orang deh,”
“Ya udah aku minta tolong sama orang sebelah kita aja ya,”
Argantara memutar badannya ke sebelah kanan, hendak meminta tolong maksudnya. Tapi Ia malah disajikan pemandangan yang menjengkelkan.
“Sialan, lagi-lagi ketemu bule yang nggak bisa tahan nafsu. Dua kali gue ngeliat bule ciuman. Pas remaja udah, sekarang pas punya istri, dijejelin lagi sama pemandangan begitu,”
Shelina menahan tawa. Sebelumnya Ia ikut menatap ke sebelah kanan, tapi melihat ada orang yang sedang beradu bibir, Ia buru-buru memutar kepala ke arah lain.
“Kamu liat ya?”
“Ya liat lah, tapi aku nggak sengaja. Aku nengok ke kanan karena kamu ‘kan mau minta tolong sama mereka, eh mataku langsung dikasih kejutan,”
“Hahahaha jadi gimana, Sayang?”
“Gimana apanya?”
“Ya liat aja tuh. Ada orang yang lebih dari kita, keliatan biasa aja. Nah kamu dicium di pipi aja nggak mau,”
“Lebih tepatnya, aku malu, Ga,”
“Iya sih. Ya udah deh jangan dibahas lagi, Ga. Takut mereka berdua sadar kalau kita omongin,”
“Ya nggak lah, masa iya mereka dengar omongan kita yang pelan ini, dan sekarang kita tuh di pantai mana kedengeran, Shel,”
“Berarti sekarang kita minta tolong sama siapa? Udah mau sunset nih,”
“Udah mulai keluar malah sunsetnya,”
“Ya makanya kita minta tolong fotoin sama siapa ya?”
“Ya udah sama orang yang di kiri, kebetulan dia cewek-cewek tuh. Ada tiga orang lagi,”
Argantara segera beranjak dari kursi yang sedari tadi menjadi tempatnya duduk dengan nyaman di tepi pantai bersama sang istri.
Kebetulan yang Argantara datangi itu orang Indonesia karena Argantara mendengar obrolan di antara tiga wanita itu.
“Halo maaf ganggu. Saya boleh minta tolong fotoin saya sama istri saya nggak? Sebentar aja kok,” ujar Argantara dengan sopannya sambil menatap satu persatu dari tiga wanita yang menjadi lawan bicaranya.
“Oh boleh, sini saya aja yang fotoin,”
“Dia kebetulan jago di foto-fotoan, Mas,” kata seorang temannya.
“Makasih ya udah mau bantu,” kata Argantara yang senang sekali ada orang yang mau direpotkan sebentar olehnya demi mendapatkan kenangan dari hasil bidik kamera ponselnya yang sudah Ia serahkan kepada si wanita yang bersedia menjadi pemotret dadakan untuknya dan juga sang istri.
“Wuih pas banget nih sunset udah berdua. Okay pose ya kalian berdua,”
“Satu,”
“Dua,”
“Tiga,”
Pose pertama Shelina dan Argantara saling bergenggaman tangan membelakangi kamera, kemudian menghadap kamera. Disusul pose-pose lain seperti saling merangkul satu sama lain. Kemudian Argantara sengaja meraih istrinya agar lebih dekat dengannya. Ia pegang pinggang Shelina dan Ia mengarahkan tangan Shelina agar bersandar di bahunya. Shelina tertawa karena suaminya ternyata bisa juga menjadi pengarah gaya.
“Jujur aku malu lho foto-foto kayak gini berasa pantai milik pribadi aja,”
“Ya ngapain malu sih? Santa aja, Sayang. Orang juga pada sibuk sama dunia mereka sendiri, tenang aja udah,”
“Ih bagus banget. Selain karena tempat, emang kalian nya juga keliatan pas banget di kamera. Sekarang pose lain ya,”
Kali ini Argantara sengaja mengangkat Shelina hingga Shelina berseru kaget sambil tertawa, disaat itulah si pembidik kamera mengambil adegan yang menurutnya menggemaskan dan terjadi secara natural.
“Okay, mau pose apalagi? Silahkan pose. Kayaknya kalian nggak perlu diarahkan lagi deh. Apalagi si Mas nya nih. Lebih paham kayaknya ya?”
Argantara tertawa, sebenarnya bukan lebih paham. Jujur Ia jarang foto, seperti lelaki kebanyakan. Tapi entah kenapa bersama Shelina, Ia jadi lebih bisa berekspresi.
Pose terakhir Argantara memilih untuk mencium puncak kepala istrinya yang tersenyum lebar menghadap ke kamera.
“Ah so sweet nya. Semua hasil menurut saya sih bagus ya, karena kalian nya juga pas aja gitu di kamera,”
“Makasih banyak. Ngomong-ngomong namanya siapa, Mba?” Tanya Shelina pada wanita yang telah mengabadikan momennya bersama Argantara.
“Ayu,”
“Makasih ya, Mba Ayu. Makan malam bareng mau nggak? Kebetulan saya lapar nih,” kata Shelina yang langsung ditolak halus oleh wanita itu seraya tersneyum.
__ADS_1
“Nggak usah, Mba. Saya udah makan kok. Nggak perlu bayaran apa-apa, seriusan deh. Saya emang senang moto kok,”
“Mba Ayu beneran udah makan?”
“Udah, Mba—siapa namanya?”
“Panggil aku Shelina aja,”
“Okay, Shelina. Saya udah makan kok, beneran,”
“Okay, sekali lagi makasih banyak ya. Semoga liburan kamu menyenangkan,”
“Kembali kasih, ngomong-ngomong kalian liburan juga?”
“Bulan madu, Mba Ayu,” jawab Argantara.
“Oalah pengantin baru ya? Pantesan auranya tuh keliatan banget. Selamat bulan madu juga untuk kalian berdua,”
“Iya, Ayu. Semoga lain kali bisa ketemu sama kamu lagi,”
Shelina tersenyum sambil mengusap dengan Ayu yang membalas senyumnya kemudian kembali ke tempat duduknya bersama dua orang temannya.
Argantara dan Shelina pun kembali duduk. Akhirnya mereka mendapatkan foto diri mereka sendiri ketika sunset datang.
“Hasilnya beneran bagus-bagus banget lho, Sayang,” kata Argantara seraya melihat satu persatu foto hasil bidikan Ayu.
Shelina Ikut melihat dan ternyata memang benar hasilnya tak ada yang buruk. Kalau Argantara tak salah dengar, tadi teman Ayu mengatakan bahwa Ayu memang bisa di dunia fotografi.
“Diajakin makan, Mba Ayu nya nggak mau padahal aku pengen juga makan bareng dia smabil ngobrol-ngobrol gitu,”
“Ya udah lain kali, Sayang. Dia nya nggak mau dibayar,”
“Tapi aku emang tadinya pengen kenal dekat aja sama Mba Ayu,”
“Ya mungkin dia emang nggak lagi nggak mau diganggu kali, Sayang. Sekarang ‘kan dia lagi sama teman-temannya tuh. Nggak mau lama-lama, cuma bisa foto kita aja, nggak bisa kita ajakin makan bareng,”
“Iya benar, lagi asyik ngumpul sama teman. Ngeliatnya seru banget liburan bareng teman ya. Aku kayaknya kalau liburan yang sampai nginap bareng teman-teman belum pernah deh, kamu udah pernah belum?”
“Sering, namanya juga cowok. Nginap di puncak beberapa kali,”
“Nah iya, aku belum pernah tuh liburan yang nginap sama teman-teman aku. Ke Puncak aja belum, apalagi ke Bali kayak mereka gitu,”
“Nanti lain kali, Sayang,”
“Sama siapa?”
“Ya sama siapa aja teman-teman dekat kamu. Nanti aku temenin juga tapi ya, aku ‘kan harus jagain kamu lah,”
“Nggak seru ah kalau ada kamu, Ga,”
“Lho kok gitu sih?”
Shelina tertawa melihat wajah suaminya yang murung begitu Ia bicara seperti tu. Argantara ingin menemani kemanapun istrinya pergi, apalagi kalau ke tempat yang jauh, tidak terkecuali ingin berlibur ke Bali meskipun sudah bersama teman-temannya.
“Bercanda, Ga. Iya nanti kamu temenin ya. Tapi nggak tau kapan. Aku ‘kan orangnya hobi di rumah aja,”
“Liburan sama aku jadi hobi baru kamu dong,”
“Hobi aku itu di rumah aja baca novel, sama nonton,”
“Ya udah jalan-jalan sama aku jadi hobi baru kamu juga dong,”
“Maksa nih ceritanya?”
“Iya biar kalau aku ajakin, kamunya nggak nolak,”
“Ya kalau diajakin liburan sih nggak bakal nolak. Siapa sih yang nggak senang liburan? Semua manusia di bumi kayaknya senang deh,”
“Termasuk kamu ya berarti?”
“Iya, aku senang banget kalau liburan, ya walaupun sukanya di rumah, tapi kalau liburan itu ‘kan cuma sekali-kali, dan bisa menyegarkan pikiran makanya aku senang lah,”
“Iya, Sayang. Makanya nanti kapan-kapan kita liburan lagi ya,”
“Iya, asal sehat, ada rezeki, kita Insya Allah bisa liburan kok, Ga,”
“Liburan terus selagi masih berdua, ntar kalau udah ada buntut beda cerita. Susah buat liburan berdua lagi kayak orang pacaran,”
“Buntut itu maksudnya anak? Bukannya lebih seru kalau liburan sama anak ya?”
“Ya emang lebih seru, lebih menyenangkan, Ki, tapi ‘kan ada saat-saat dimana kita pengen liburan berdua sama pasangan nah kalau udah punya anak tuh aku dengar-dengar dari yang udah pada nikah dan punya anak ya, bakal susah karena ‘kan kita udah harus fokus sama anak,”
“Iya sih. Sama nggak tega juga kalau ninggalin. Ya walaupun sebenarnya kalau dia udah agak gedean, mungkin bisa kita tinggal bentar sama neneknya, cuma ‘kan tetap aja rasanya nggak enak kalau ninggalin anak untuk liburan cuma berdua,”
“Mama papa aku dulu begitu, Sayang. Aku padahal udah gedean, udah SD, aku santai aja kalau mereka mau liburan berdua, tapi mereka nolak mulu. Kalaupun liburan ya ngajak aku. Paling yang pergi berdua tuh kalau ada kerjaan papa, terus mama temenin, jadilah liburan berdua itupun judulnya bukan liburan sih lebih tepatnya papa kerja,”
“Iya, orangtua emang kayak gitu. Tapi ‘kan sebenarnya perlu ya sesekali liburan berdua supaya kayak masa-masa pacaran atau awal ninah gitu,”
“Ya sebenarnya perlu kalau kata aku. Asal anaknya aman, ya nggak apa-apa orangtua liburan berdua. Cuma kalau udah ada anak tuh susah, entah orangtuanya yang nggak tega ninggalin, atau anaknya yang nggak mau ditinggal,”
“Kamu ngomongin anak, emang kamu mau punya anak dalam waktu dekat?” Tanya Shelina seraya menatap suaminya dengan serius. Argantara terkekeh, sambil menggerakkan tangannya mengusap pipi Shelina dengan lembut.
“Aku sih kapan aja nggak masalah, Sayang. Tapi sebenarnya pengen sih dalam waktu dekat, cuma ‘kan nggak tau takdir ya. Aku udah pernah bahas ini ke kamu sebelumnya,”
“Iya, cuma aku pengen dengar lagi maunya kamu tuh gimana,”
“Ya pengen punya anak cepat tapi nggak mau juga buru-buruin kamu, tergantung apa kata Allah aja udah, kalau dikasih dalam waktu dekat Alhamdulillah, kalau nggak ya nggak apa-apa juga,”
“Iya, aku juga sama kayak gitu,”
“Kita ‘kan sepakatnya begitu,” kata Argantara seraya meraih tangan istrinya untuk berjabatan dengan tangannya sendiri.
“Jadi kita dalam mode santai aja, tapi kalau dikasih ya senang banget dong pasti, malah senang banget aku,”
“Tapi kalau dalam waktu dekat, kamu siap nggak jadi ayah?”
“Siap, dari mulai nikah sampai sekarang aku tuh terus belajar untuk jadi suami dan ayah yang baik,”
“Wow keren,”
“Aku bakal selalu belajar setiap harinya, dan kamu yang dampingin aku belajar ya, Sayang,”
“Sama dong, aku juga masih belajar terus kok. Kita sama-sama belajar ya, saling ngasih tau juga mana yang benar dan yang salah,”
“Ratu Shelina, perempuan nggak ada yang salah, selalu benar,”
“Ih, aku nggak mau dengar kalimat itu. Karena aku manusia pasti punya salah,”
__ADS_1
“Tapi ‘kan cewek selalu benar katanya, Shel,”
“Kata aku nggak. Mau perempuan, mau laki-laki, kalau salah ya salah aja. ‘Kan kita sama-sama manusia,”