
“Duh kayaknya capek banget ini anak Mama,”
“Macet, Ma. Nggak capek,”
“Nggak capek lah, apa sih yang nggak demi Shelina, iya nggak?”
Argantara berdecak pelan sambil berjalan ke ruang tamu dan membanting badannya di atas sofa.
“Macet banget heran,”
“Ya namanya juga jalanan, Sayang. Nggak pernah sepi kalau nggak tengah malam,”
“Ya udah aku mau mandi dulu deh,”
“Iya biar kamu istirahat juga,”
Argantara bergegas ke kamarnya. Ketika hendak mandi, tiba-tiba ada panggilan masuk dari Shelina. Ia segera menjawabnya.
“Halo, Ga,”
“Iya kenapa?” Tanya Argantara.
“Apa kamu udah sampai rumah?”
“Udah, baru aja sampai,”
“Baru banget sampai? Ya ampun, kok lumayan lama, Ga?”
“Iya soalnya macet banget tadi,”
“Maaf ya, Ga,”
“Kok lo minta maaf sih? Lo nggak salah ngapain minta maaf coba?”
“Ya gara-gara aku, kamu jadi kejebak macet deh,”
“Nggak usah minta maaf. Lo tuh nggak salah. Udah deh jangan ngomong gitu,”
“Ya udah sekarang kamu istirahat ya, makasih sekali lagi udah mau repot-repot datang ke rumah aku,”
“Iya sama-sama, gue mau mandi dulu,”
“Iya habis itu istirahat ya,”
Sambungan telepon mereka berakhir. Argantara langsung ke kamar amsni untuk memghilangkan rasa tidak nyaman di tibuhnya akibat keringat. Dan dengan mandi, penatnya akibat sempat terjebak macet tadi mungkin bisa hilang.
******
-Shel, cobain bolennya deh. Enak banget tau-
Shelina sedang sibuk scrolling instagra, dan tiba-tiba ada pesan masuk dari Noval yang menyuruhnya untuk mencoba oleh-oleh lhas Bandung yang diberikan Noval kepadanya. Shelina menyukai itu jadi tentunya langsung Ia makan tanpa disuruh terlebih dahulu.
-Udah aku makan dong. Enak banget emang. Makasih ya-
-Kalau cuanki nya udah kamu makan?-
-Belum, nanti jadi teman nonton aku aja-
-Kalau brownies kukusnya?-
Shelina akan keluar dari whatsapp tapi karena ada pesan dari Noval yang bertanya lagi, akhirnya Ia mengurungkan niatnya itu.
-Iya udah dan enak banget, sama kayak bolen. Seenak itu, hehehe-
-Udah pernah ke Bandung belum?-
Shelina pikir obrolan mereka sebatas tentang buah tangan saja. Tapi ternyata Noval sampai bertanya soal pernah atau tidaknya Ia ke kota kembang.
“Udah-
-Berapa kali, Shel?-
-Hmm nggak ingat, pernah diajakin liburan ke sana sama Mama Papa aku. Dan pernah juga temenin Papa ngurus kerjaan di sana. Nyaman banget Bandung tuh-
-Iya bener lho, aku aja betah-
Shelina sampai bingung sebenarnya Noval itu baca balasannya atau tidak? Kenapa cepat sekali membalas? Tapi kalau tidak dibaca, pasti balasan Noval selanjutnya tidak ada kesinambungan.
-Kalan-kapan kita ke sana bareng, sama teman SMP kita yang lain. Semoga bisa ya-
-Iya seru tuh rame-rame kita berangkat ke Bandung. Nggak begitu jauh tapi kotanya bagus, bikin nyaman, yang paling penting makanannya enak-enak banget-
*******
“Iseng ah liat room chat Shelina,”
Argantara sudah selesai mandid an Ia langsung berbaring di atas tempat tidur. Ia meraih ponselnya.
Dan tiba-tiba ada keinginan untuk membuka room chat Shelina dan Ia mengernyit ketika melihat Shelina sedang online.
-P-
Argantara spontan mengetik huruf P kemudian Ia kirimkan langsung. Ia seperti orang yang kurang kegiatan, padahal harusnya Ia istirahat karena suruhan Mamanya dan Shelina juga seperti itu, tapi alih-alih istirahat Ia malah membuka whatsapp dan mengirimkan pesan tidak jelas kepada Shelina.
“Lah kok dia nggak balas-balas? Lagi sibuk chat sama siapa deh? Online tapi pas gue chat malah nggak dibalas,” ujar Argantara.
Untuk yang ke dua kalinya Argantara mengirimkan satu huruf saja ke Shelina. Dan hurufnya masih sama yaitu ‘P’ tapi lagi-lagi tidak dapat balasan.
Sekitar lima belas menit Argantara hanya fokus melihat kata online di abwah nama Shelina. Walaupun shelina sedang berada di dalam aplikasi whatsapp, tapi Shelina tetap tidak membalas pesannya.
Entah kenapa Argantara benar-benar penasaran kenapa Shelina tidak membalas pesannya apdahal Ia online. Akhirnya Argantara menghubungi tunangannya itu.
Malah ditolak panggilannya. Tanpa sadar Argantara menggertakkan giginya kesal. Ia sebagai laki-laki, yang biasanya tidak pernah dapat penolakan, kali ini malah ditolak oleh tunangannya sendiri.
“Biasanya ya, kalau gue nelpon cewek nggak ada tuh cewek-cewek yang nolak telepon gue. Lah Shelina kok beda sih?”
Argantara kembali menghubungi dan kali ini dijawab oleh Shelina. “Halo kenapa, Ga?”
“Kenapa-kenapa! Harusnya gue kali yang nanya kenapa lo nggak balas chat gue pasahal lo online? Lo lagi chat sama siapa? Dan gue telepon tadi pertama kali kenapa dimatiin sih? Emang gue ganggu banget apa? Hah?”
“Ya abisnya tumben banget kamu telpon aku. Jadi aku matiin lah,”
“Terus kenapa chat gue nggak dibalas?”
“Emang chat apa sih?”
“Ping doang,”
“Ah tumben nge-ping,”
“Gue iseng aja terus nggak dibalas sama lo jadi gue bingung,”
“Jadi lo chat sama siapa? Kok gue nge-ping nggak dibalas? Gue telpon juga tunggu dua kali dulu baru dijawab,”
“Iya maaf, aku kagi chat sama Noval,”
Kening Argantara langsung mengernyit bingung mendengar nama Noval. Ia baru tahu kalau mereka rupanya sering berkomunikasi setelah punya nomor masing-masing.
“Oh lagi chatingan sama Noval. Emang udah sering ya?”
“Lumayan sering. Dia duluan yang mulai. Ya kalau aku nggak ladenin aku nggak enak,”
“Ya nggak usah diladenin lah. Ngapain lo ladenin?”
“Aku nggak enak, Arga. Dia nanyain oleh-olehnya, terus jadi lanjut ngobrol deh,”
“Oh kayaknya seru banget gitu ya. Okay deh lanjut aja, udahan dulu telponnya,”
“Eh kamu nggak marah ‘kan sama aku?”
“Nggak lah ngapain gue marah sama lo?”
“Ya kali aja, gara-gara aku lama balas chat kamu, terus kamu jadi marah deh sama aku. Tapi nggak ‘kan?”
“Nggak,” jawab Argantara dengan ketus.
“Okay deh bye,”
“Lanjutin aja ngobrolnya sampai besok pagi. Gue sih mau istirahat,”
“Siapa?”
“Siapa maksudnya?”
“Ya siapa yang mau ngobrol sampai besok pagi maksud kamu,”
“Ya lo lah sama si siapa itu, Nopan Nopan itu
“Namanya Noval, Arga,”
“Iya angin Nopan,”
Shelina berdecak pelan. Sudah Ia jelaskan nama temannya itu Noval, entah kenapa Argantara tetap memanggil dengan nama yang beda.
“Jangan ganti nama orang sembarangan. Udah beda artinya lho, kalau orangtuanya dengar ntar mereka kesal nama anak kereka diganti-ganti,”
“Ya elah ngapain gue harus takut? ‘Kan gue nggak tau namanya dia, dan nggak penting juga buat tau,” jawab Argantara dengan ketus. Ia menanggapi ucapan Shelina dengan santai. Awalnya memang tidak tahu nama Noval yang sesungguhnya. Tapi setelah diberitahu tetap saja Ia sebut yang salah.
“Lagian gue nggak lagi sama orangtuanya sekarang, jadi bodo amat deh,”
“Ih kamu kok kayak sewot gitu sih? Kamu lagi urung-uringan kenapa? Pagi ada masalah ya?”
“Nggak ada, nggak usah ngarang lo,”
“Oh atau kamu cemburu ya gara-gara aku chat sama orang lain?”
“Nggak lah, ‘kan gue udah ngomong tadi,”
“Ya udah kalau nggak cemburu, bagus deh. Karena Noval itu teman aku aja, bukan siapa-siapa,”
“Iya ‘kan sama kayak gue, cuma teman lo doang,”
Setelah bicara seperti itu Argantara mengakhiri sambungan telepon mereka. Ia mendengus setelah meletakkan ponselnya di nakas lalu Ia berbaring.
“Ternyata karena chat sama Noval, jadi chat dari gue dianggurin. Segala nanya gue cemburu apa nggak. Gue aja bingung mau jawab apaan. Gue ngerasa nggak cemburu tapi kenapa gue panas coba setelah tau Shelina chat sama angin Nopan itu. Ah udahlah, mending gue istirahat,”
******
“Shelina! Makan sama gue,”
Argantara langsung menarik tangan Shelina yang baru saja keluar dari kelas. Sejak tadi Argantara menunggu Shelina selesai kelas, dan menurut Argantara lama sekali hampir setengah jam Ia berdiri di dekat pintu kelas Shelina.
Setelah Shelina keluar kelas, Argantara langsung meraih tangan Shelina yang kaget karena tiba-tiba tangannya ditarik.
“Shel tunggu!”
Argantara menoleh ke belakang dan Ia mendapati sosok Ganta yang berusaha menyusulnya dan Shelina.
“Dia mau ngapain sih? Gue udah laoar nih pengen makan,”
__ADS_1
“Eh bentar-bentar! Dia mau belikin buku aku,”
Argantara berdecak dan akhirnya melepaskan genggaman tangan mereka. Ia membiarkan Ganta menghampiri Shelina untuk memgembalikan buku yang memang milik Shelina.
“Makasih ya udah dipinjamin,”
“Okay sama-sama,”
“Eh kamu mau langsung pulang? Bareng aja ayok. Aku juga mau langsung pulang nih,”
“Aku—“
“Shelina mau makan sama gue, Ganta,”
Sebelum Shelina memberikan jawaban, Argantara sudah menyelak. Argantara tidak memberikan kesempatan untuk Shelina menjawab.
Entah kenapa Argantara khawatir Shelina akan mengiyakan tawarannya Ganta. Padahal sebenarnya tidak. Shelina akan meminta maaf tadinya, karena Ia harus pergi dengan Argantara jadi tidak bisa pulang bersama Ganta.
“Oh gitu ya, okay deh hati-hati kalian, gue duluan ya,”
Shelina tersenyum dan menganggukkan kepalanya, sementara Argantara merotasikan bola matanya.
“Udah ‘kan? Ayo kita makan,”
Argantara akan meraih tangan Shelina lagi namun Shelina langsung menyembunyikan kedua tangannya di belakang punggung.
“Kamu kenapa sih? Tiba-tiba narik tangan aku, ngajakin makan. Bukannya bisa ya ngomong baik-baik gitu? Tangan aku sakit tau ditarik-tarik!”
“Emang sakit? Gue minta maaf,”
Raut wajah Argantara langsung berubah. Shelina bisa tahu kalau sekarang tunangannya itu merasa bersalah.
“Ya sakit lah! Kamu masih aja nanya sih. Tiba-tiba kamu narik tangan aku,”
Walaupun Shelina tahu kalau Argantara sudah merasa bersalah, Shelina tidak akan diam saja. Argantara harus tahu kalau yang Ia kakukan tadi bukanlah hal yang baik.
“Gue minta maaf,”
“Aneh banget tiba-tiba narik tangan aku terus ngajak makan. Ya harusnya bisa lah ngajaknya bsik-baik gitu, jangan bikin kaget, jangan bikin sakit,”
Argantara berdecak pelan lalu menggusar rambut hitam legamnya smabil berkata “Gue tuh lapar. Jadi maaf ya kalau gue udah nyakitin lo,”
“Dan tadi juga kenapa coba kamu nyelak omongan aku? Orang aku mau jawa ajakannya Ganta kok, kenapa jadi kamu yang jawab?”
“Ya karena gue udah terlanjur mau makan sama lo,”
“Iya aku tau, dan aku mau bilang ke Ganta kalau aku mau makan sama kamu dan aku nggak bisa pulang bareng dia. Tapi ekangnya kamu nggak bisa gitu nunggu aku selesai ngomong dulu? Harus banget diselak?”
Argantara memghembuskan napas kasar lagi sambil menyimpan kedua tangannya di dalam saku celana dan membungkuk singkat. “Okay gue minta maaf,” ujarnya sekali lagi kali ini dengan penekanan. Ia sudah berbuat kesalahan sebanyak dua kali dan Shelina kelihatannya kesal. Jangan sampai Shelina membatalkan rencananya yang ingin makan bersama Shelina.
Kalau suasana hati Shelina berantakan karenanya, bisa dipastikan Ia gagal membawa Shelina ke restoran bakso yang baru buka di dekat kampus mereka.
“Ayo kita makan. Gue direkomendasiin sama teman sekelas gue, si Ivana. Dia bilang ada tempat makan bakso baru nggak jauh dari sini. Jadi gue mau ngajakin lo,”
Shelina menganggukkan kepalanya pelan. Argantara mampu bernapas lega sekarang. Nampaknya Shelina sudah memaafkannya.
Mereka kini melangkah bersamaan, tanpa bergenggaman tangan. Argantara tidak mau mencari amsalah, dan Shelina juga selalu tidak punya nyali untuk memulai. Tadi Argantara spontan saja langsung menarik tangan Shelina, tanpa memikirkan dampaknya bahwa yang Ia genggam itu adalah tangan perempuan yang notabene nya tidak sekokoh tangan laki-laki.
“Kamu tadi kayaknya buru-buru banget ngajakin aku pergi, sampai narik tangan aku tuh nggak kira-kira banget. Emang kenapa sih?”
“Hah? Gue udah lapar. Bukannya tadi udah gue jawab ya, Shel?”
“Masa lapar sampai segitunya? Kamu garang ya laparnya, kayak macan. Sampai tangan anak orang kamu tarik aja sesuka hati,”
“Gue minta maaf, Shel. Duh, susah ya punya salah sama cewek, diungkit mulu,”
“Apa kamu bilang? Diungkit mulu? Ya iyalah, ini rasa sakitnya aja masih ada lho,”
Argantara langsung refleks meriah tangan shelina dengan lembut dan mereka masih berjalan.
“Okay kali ini gue lebih manusiawi gandengnya,”
“Udah deh nggak usah gandeng-gandeng. Ornag kita bukan truk kok,”
“Ya barangkali aja sakitnya jadi hilang ‘kan digandeng sama cowok kayak gue,”
“Emang kamu cowok kayak apa?”
“Ya menurut lo gue cowok yang kayak gimana? Ganteng, baik, perhatian, atau apa?”
“Nggak semuanya!” Jawab Shelina dengan tegas padahal yang pertama itu sudah masuk kriteria. Argantara tidak tampan? Itu omong kosong.
Kalau yang kedua dan ketiga memang setengah-setengah. Terkadang Argantara baik, perhatian, terkadang sebaliknya. Barusan saja tangannya yang niat ingin digenggam malah mendapatkan rasa sakit karena Argantara terlalu kuat menggenggamnya, belum lagi Ia seperti kambing tadi ditarik begitu saja. Jadi Shelina merasa wajar kalau sampai memarahi Argantara tadi.
“Serius? Gue nggak semuanya? Nggak ganteng, baik, perhatian?”
“Nggak? Jangan kepedean dulu makanya. Udah senyum-senyum pede nanya ke aku, dikiranya aku bakal muji-muji kamu gitu?”
Tawa Argantara pecah seketika. Ia senang melihat Shelina yang ketus dan bicara tanpa pikir panjang. Biasanya kalau bicara pikir-pikir dulu, menimang apakah ucapannya itu akan menyakiti hati orang lain atau tidak. Sekarang Shelina tak peduli. Shelina tidak mau ambil pusing mau Argantara sakit hati, Argantara tidak terima dengan kata-katanya, Ia abaikan saja.
“Pedes juga kata-kata lo,”
“Ya biarin, karena aku kesal sama kamu,”
“Masih kesal? Ya ampun, ‘kan gue udah minta maaf,”
“Selagi rasa nyeri di tangan aku belum hilang, berarti rasa kesal aku ke kamu juga bakal tetap ada. Intinya kalau tangsn aku udah nggak sakit ya berarti aku nggak kesal lagi sama kamu,”
Argantara menggaruk pelipisnya. Ternyata seperti ini marahnya Shelina. Nampaknya ini benar-benar marah, alias bukan marah palsu.
Sekalipun sudah meminta maaf benerapa kali, tetaps aja Argantara masih belum berhasil untuk menghilangkan rasa kesal yang merundung hati Shelina saat ini.
“Kok tumben bukain pintu mobil buat aku?”
Setelah itu Argantara menyusul masuk juga. Ia menggunakan seatbelt, dan tak lupa memerintahkan Shelina untuk melakukan hal yang sama.
“Kita ke tempat makan bakso yang baru itu ya,”
“Iya, tapi kamu belum jawab pertanyaan aku lho,”
“Pertanyaan apa?”
“Kamu kok tumben bukain pintu mobil buat aku?”
“Ya emang nggak boleh apa?”
“Boleh, cuma ‘kan aneh aja gitu,”
“Anehnya dimana?”
“Ya…nggak biasa aja kamu bukain pintu mobil buat aku. Udah kayak Tuan puteri aja aku ya?”
“Iya, bentar lagi jadi Tuan puteri,”
Perlu waktu untuk Shelina mencerna ucapan tunangannya itu. Sebentar lagi jadi Tuan puteri. Kalimat singkat, tapi membuat bingungnya lumayan menghabiskan waktu yang panjang.
“Maksudnya?” Gumam Shelina.
“Maksud gue, kalau kita udah kebih dari tunangan nih, alias udah nikah, ya otomatis lo jadi Tuan puteri ‘kan?”
“Hah? Barusan kamu bilang jadi Tuan puteri dalam waktu dekat. Berarti maksud kamu, kita nikah dalam waktu dekat gitu?”
“Nggak, gue salah ngomong. Yang mau gue omongin tuh yang barusan. Kalau udah nikah ya bakal jadi Tuan puteri,”
“Nggak dalam waktu dekat ‘kan tapi?”
Argantara berdecak mengetahui kecemasan Shelina. Mereka sudah pernah membahas ini. Perjodohan tetap berlangsung tapi pernikahan nanti setelah lulus kuliah.
“Nggak, Shel. Udahlah lo tenang aja,”
“Kamu mau nikah sama aku?”
“Harusnya gue yang nanya, lo mau atau nggak nikah sama gue?”
“Mau, ‘kan kita udah pernah ngomongin ini sebelumnya, iya nggak sih?”
“Nah ya udah sekarang kenapa diomongin lagi?”
“Kali aja kamu berubah pikiran tiba-tiba nggak mau nikah sama aku. Dan mau batalin lertunangan kita ini,”
“Nggak, gue nggak akan ngelakuin itu karena usaha gue sia-sia dong untuk move on dan nerima lo?”
Perasaan Shelina menghangat mendengar ucapan Argantara. Sederhana tapi bermakna. Argantara mau belajar untuk menerimanya dan juga berjalan meninggalkan masa lalu. Mendengar itu, hati Shelina berbunga-bunga.
“Makasih ya,”
“Lo sendiri gimana? Bisa nerima gue atau nggak?”
“Kalau aku sih jangan ditanya ya. Sejak awal aku setuju sama perjodohan itu aku udah berusaha untuk nerima kamu kok,”
“Makasih ya, Shel. Lo yang sabar, lo yang baik, pengertian, bikin gue kayak ditampar kalau ingat momen dimana gue benar-bsnar nolak lo,”
“Sama-sama, makasih juga kamu udah mau nunjukkin usaha kamu untuk terima aku jadi tunangan kamu dan kamu bilang kalau kamu bakal move on,”
“Udah sih kayaknya. Gue nggak pernah ingat-ingat masa lalu lagi,”
“Oh ya? Aku senang dengarnya. Karena itu berarti, aku nggak harus saingan sama masa lalu kamu untuk dapaton hati kamu, Ga,”
Argantara tersenyum dan mengubit pipi Shelina dengan pelan. Ia tidak mau menyakiti Shelina lagi. Semoga yang tadi tidak terulang lagi. Ia benar-benar seperti dikuasai makhluk halus tadi. Entah kenapa ingin buru-buru membawa Shelina pergi dari kampus.
“Gimana hari pertama si Ganta kuliah sama lo?”
“Hmm? Ya nggak gimana-gimana sih. Biasa aja kok,”
“Dia gangguin lo nggak?”
“Ya nggak lah, emang kita anak TK main ganggu-gangguan? Orang udah dewasa kok, jadi bggak ada istilah ganggu mengganggu,”
“Ada, kata siapa nggak ada?”
“Lho, maksudnya siapa ganggu siapa?”
“Dia ganggu kita, paham?”
“Hah?”
Shelina terperangah beberapa detik berusaha mencerna ucapan Argantara. “Kamu kenapa sih? Apa kamu cemburu?”
“Gue nggak tau ya ini tuh cemburu atau apa. Tapi yang jelas gue nggak senang aja kalau lo dekat sama yang lain,”
“Alasannya apa?”
“Ya—-gue sendiri juga bingung apa alasannya,”
“Cemburu itu tanda cinta lho, Ga,”
“Iya gue tau kok,”
“Aku nggak mau geer sih. Tapi kayaknya, ini kayaknya ya. Kamu cemburu sama aku deh,”
__ADS_1
“Nggak tau lah gue. Intinya gue risih liat lo dekat sama yang lain, ini gue udah jujur gue harap lo hargain kejujuran gue ini ya. Jangan diledekin,”
Shelina tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Mana mungkin Ia mengejek apa yang dirasakan oleh seseorang. Ia menghargai rasa kesal Argantara, Ia menghargai ketidaksukaan Argantara terhadap kedekatan dirinya dan pria lain.
“Nggak bakal lah aku ledekin. Emang aku apaan sih? Kerajinan ngeledekin kamu,”
“Ya kali aja lp mau ngeledekin gue yang udah mulai ngerasa nggak suka, nggak nyaman liat lo sama cowok lain siapapun itu orangnya,”
“Jadi gini ya rasanya diposesifin sama Argantara? Hmm seru juga,”
Shelina tersenyum dengan kedua pipi yang sedikit memerah karena hadirnya semburat setelah Argantara mulai menunjukkan kepemilikannya terhadap Shelina.
Mereka tiba di restoran yang menjadi incaran Argantara setelah dapat informasi dari temannya ada restoran menjual bakso yang rasanya enak sekali. Argantara jadi penasaran makanya mengajak Shelina ke sana.
“Wah ada lesehannya, Ga. Ih dnak banget tempatnya, nyaman. Jarang ‘kan tempat makan bakso lesehan begini,”
“Jadi lo mau yang lesehan aja nggak yang pakai bangku?”
“Nggak-nggak, aku mau duduk di bawah, lebih nyaman,”
Argantara menganggukkan kepalanya. Kebetulan khusus tempat makan yang duduknya di bawah adanya di bagian delan, sekentara yang menggunakan bangku itu di bagian dalam restoran.
“Lo beneran nyaman nggak nih?”
“Nyaman banget dong, makah enak kalau makan duduk di tikar kayak gini, berasa lagi pulang kampung deh aku,”
“Oh di kampung lo kalau makan lesehan gini?”
“Kakek Nenek aku ada meja makan sih, tapi kalau keluarga datang, kita lebih suka makan di bawah. Nggak tau kenapa lebih terasa nyaman aja gitu,”
Mereka memesan bakso dua porsi disertai dengan minuman. Pelayan pergi setelah meminta Shelina dan Argantara menunggu sebentar.
“Kita sering-sering makan kayak gini yuk, Ga. Bosan nggak sih makan di restoran yang modern gitu?”
“Iya jujur gue bosan. Kalau yang kayak gini tuh udah jarang, kenapa ya?”
“Ya karena kalah sama zaman, Ga,”
“Padahal ya, cita rasa makanan, dan tempat makan tradisional itu punya ciri khasnya sendiri lho,”
“Ntar bikin bisnis rumah makan yang tempatnya dan makanannya tradisional yuk, Shel,”
“Hmm? Bikim bisnis bareng?”
“Iya, namti tapi kalau kita udah sama-sama siap. Menurut gue, setelah nikah tuh pas untuk bangun bisnis bareng. Berprosensya bareng, ngerasain susah senangnya juga bareng,”
“Ih mau, kayaknya seru tuh tantangan bikin bisnis kuliner bareng sama pasangan,”
Shelina langsung sependapat dengan Argantara. Mereka tahu tidak mudah, karena yang bangun bisnis hanya dengan satu kepala saja susah, apalagi kalau dua kepala. Tapi di situlah letak tantangannya, dan kalau berhasil melewatinya, rasanya pasti bikin hati meteka puas.
“Kita coba nanti ya. Susah sih pasti. Bakal ada perbedaan pendapat ini itu, tapi banyak kok suami istri yang berhasil bangun bisnis bareng,” ujar Argantara.
“Semoga kita bisa juga ya,”
“Aamiin, makanya harus kita coba. Kalau kita nggak coba ya nggak bakal tau bisa atau nggaknya. Dan kita nggak akan pernah kenal tantangannya nanti,”
*****
“Pakai seatbelt lo, Shel,”
“Oh iya lupa,”
Shelina tetap harus menggunakan sabuk pengaman sekalipun lokasi rumah Argantara tidak begitu jauh dari rumahnya.
“Gue kira lo bakal ngerjain tugas bareng sama si kunyuk itu,”
“Kok kunyuk sih? Dia punya nama tau, namanya tuh Ganta,”
“Ya siapapun nama dia, gue nggak peduli,”
“Ih kamu harus menghargai nama orang dong, kalau nama dia Ganta ya jangan diganti-ganti jadi kunyuk. Kalau orangtuanya dengar gimana coba? ‘Kan nggak enak tau,”
“Ya tapi sekarang gue nggak lagi sama orangtuanya. Bodo amat deh,”
“Kamu kenapa ngiranya aku bakal ngerjain tugas sama dia? Aku ‘kan udah iyain mau ke rumah kamu,”
“Ya gue pikir lo lebih tertarik kerjain tugas bareng dia, ketimbang pergi ke rumah gue,”
“Sebenarnya tadi aku bimbang sih,”
“Bimbang kenapa?”
“Soalnya gini, aku udah terlanjur bilang iya mau ke rumah kamu, terus tiba-tiba dia ngajakin aku ngerjain tugas bareng. Kau mau nolak salah satu nggak enak. Tapi untungnya dia paham sih,”
“Gue yakin dia gerutu di dalam hati,”
“Jangan berprasangka buruk sama orang, nggak baik tau,”
“Gue yakin, soalnya dia ‘kan udah berharap nih bisa ngerjain tugas bareng lo,”
“Nggak lah, dia nggak berharap yang gimana-gimana. Udah ah, jangan ngomong gitu,”
“Lo bisa nebak nggak sih?”
“Nebak gimana maksudnya?”
“Dia naksir tuh sama lo,”
“Hah?”
Argantara menganggukkan kepalanya. Shelina harus tahu, kalau menebak perasaan orang lain itu mudah. Apalagi Ganta itu laki-laki, Argantara juga sama. Mudah bagi Argantara untuk menilai bagaimana tatapan kagum, atau suka yang ditunjukkan laki-laki terhadap perempuan. Dan itu ada di mata Ganta saat menatap Shelina.
“Tadi aja waktu lo bilang mau ke rumah gue, alias nggak jadi ngerjain tugas bareng, gue bisa liat kalau dia tuh kecewa,”
“Oh ya?”
“Iya, gue bisa liat dari tatapan mata dia,”
“Kamu cenayang? Kok tau gimana isi hati sama pikiran orang?”
“Ya elah, Shel. Gue nih cowok, dan dia juga cowok. Gue tau gimana tatapan cowok kalau lagi suka ke cewek. Gue ‘kan pernah ngalamin itu,”
“Oh iya juga ya, kamu ‘kan cowok pasti bisa nilai. Tapi ya udah lah biarin aja,”
“Kok biarin aja sih?”
Argantara menatap sekilas ke perempuan yang duduk di sampingnya saat ini. Ia benar-bsnar tidak paham, kenapa Shelina bisa menanggapi dengan sesantai ini? Padahal Argantara pikir, Shelina akan berucap “Ya udah deh mulai sekarang aku akan jaga jarak sama dia”
Tapi ternyata itu hanya ada dalam bayangannya Argantara saja. Shelina kelihatan santai sekarang bukan malah memikirkan cara supaya Ganta berhenti menyukainya atau memikirkan bagaimana caranya untuk menjaga jarak dari Ganta walaupun statusnya masih berteman supaya Ganta tidak berharap lebih.
“Ya terus aku yarus gimana dong?”
“Menurut lo gimana? Kok malah nanya gue?”
“Menurut aku ya? Biarin aja dia mau suka aku kek, cinta aku kek, yang penting aku sama dia cuma teman aja, aku nggak bisa punya perasaan yang lebih untuk dia,”
“Shel, tapi kalau dia berharap sama lo gimana?”
“Ini ‘kan baru asumsi kamu aja ya. Belum tentu kenyataannya begitu. Karena Ganta juga nggak ngomong apa-apa kok soal perasaan dia ke aku. Dia nggak bilang kalau dia suka atau apa gitu sama aku,”
“Ya belum aja. Mungkin dia pikir waktunya belum tepat. Malah bisa jadi tau-tau dia ngelamar lo, tiba-tiba dia mau nikahin lo. Terus lo bakal gimana?”
“Ya nggak mungkin lah itu terjadi. Aku ‘kan udah tunangan,”
“Ya mungkin aja. Orangtua lo misalnya berubah pikiran, nggak jadi jodohin gue sama lo, terus nyuruh lo nikah sama Ganta aja, terus lo bakal nolak gitu? Lo ‘kan anaknya patuh banget,”
“Aku punya hak untuk nentuin siapa pasangan hidup aku. Jadi kalau aku nggak mau sama dia, masa krangtua aku mau maksa. Waktu dijodohin sama kamu aja, aku nggak dipaksa kok. Aku dmang mau sendiri setelah Mama Papa bicara ke aku. Aku dikasih hak untuk bilang nggak,”
Argantara sedikit bernapas lega. Entah, apa alasan Ia menghela napas lega. Tapi yang jelas Ia sedikit lega ketika dengan tegas Shelina mengatakan didinya punya hak untuk menentukan apsangan hidupnya sendiri.
“Jadi lo waktu dijodohin sama gue nggak dipaksa?”
“Nggak, memang aku mau sendiri kok. Emang mereka kelihatannya sih berharap ya, cuma mereka nggak maksa. Dan aku mau karena pertama aku pengen nurut sama orangtua. Yang kedua aku males cari jodoh sendiri. Kamu boleh bilang aku bodoh atau apa karena dua alasan itu tapi aku nggak peduli. Yang ketiga aku yakin kalau pilihan Mama Papa itu baik untuk aku, dan yang terakhir aku makin yakin mau dijodohins ana kamu karena aku bisa liat kamu itu laki-laki yang baik. Ya walaupun setelah kita tunangan kamu berubah buas banget ya. Tapi sekarang terbukti kok. Kamu itu aslinya baik. Kamu cuma perlu waktu untuk nerima aku,”
“Kalau dia tetap ngejar lo gimana, Shel?”
“Nantindia capek sendiri ngejar orangnyang nggak mau dikejar,”
“Lo udah bilang kalau lo punya tunangan dan itu gue?”
“Belum, aku belum sempat,”
“Ya elah, kapan sempatnya kalau gitu? Makin lama lo bilang, makin merasa bebas dia. Dia pasti merasa punya kesempatan yang banyak untuk dapetin lo,”
“Kamu kayaknya takut banget kehilangan aku,”
“Iya gue takut, emang kenapa? Gue nggak boleh merasa takut kehilangan? Hmm?”
Shelina menahan senyum bahagianya. Ia senang sekali mendengar ucapan argantara. Tidak menyangka Argantara akan dengan terang-terangan berkata seperti itu.
“Lo pergi jauh-jauh deh dari hidup gue. Gue benci banget sama lo. Jangan berharap kalau gue bakal jadi suami lo. Gue nggak mau nikah sama lo! Nggak ada cocoknya lo jadi pasangan gue,”
“Mati aja lo seklian biar kita nggak jadi dijodohin,”
Di tengah rasa bahagianya karena Argantara tidak malu-malu mengakui bahwa dia takut kehilangannya. Tiba-tiba datang memori saat Argantara menjadi orang yang jahat, yang tidak mau menghargai kehadirannya.
“Shel, kok diam?”
“Hmm? Nggak apa-apa,”
“Lo baik-baik aja ‘kan?”
“Iya, aku baik-baik aja. Cuma lagi ingat kata-kata yang pernah kamu ucapin waktu itu ke aku,”
“Apa?”
“Kamu nyuruh aku untuk mati aja supaya perjodohan kita batal, kamu benci banget sama aku dan kamu nggak bolehin aku untuk berharap apa-apa sama kamu.
Argantara langsung membeku ketika diingatkan tentang bagaimana jahatnya dia waktu itu kepada Shelina.
Argantara merasa bersalah sekarang. Ketika melakukan kesalahan, Ia justru merasa puas karena sudah menyakiti Shelina separah itu dengan kata-kata dan sikapnya.
Argantara meraih tangan Shelina kemudian Ia genggam dengan erat. Tanpa kata, Ia berharap Shelina paham kalau itu bentuk permohonan supaya Shelina tidak lagi mengingat apapun yang menyakitkan untuknya. Meminta maaf sudah sering Ia lalukan, tapi rasa bersalah itu masih belum habis juga karena Argantara tahu sakit hati Shelina juga masih tersisa walaupun selama ini Shelina mengatakan Ia tidak dendam, dan sudah memaafkan.
“Oh iya, nanti aku mungkin nggak lama ya di rumah kamu nya,”
Shelina tidak mau tenggelam dalam rasa sedihnya. Makandari itu Ia alihkan dengan oertanyaan.
Seharusnya yang berlalu memang tidak perlu diingat lagi, tapi sulit sekali untuk melakukan itu. Karena memang membekas sekali semua sikap dan ucapan Argantara yang ditujukan kepadanya saat Argantara masih belum bisa menerimanya. Kesabaran Shelina berbuah manus. Argantara sudah tidak membencinya lagi, Ia tidak sia-sia memberikan wajtu untuk Argantara beradaptasi dengan kehadirannya di hidup lelaki itu.
“Lama juga nggak apa-apa, nanti gue antar kok,”
“Nggak ah, aku nggak enak kalau lama-lama,”
“Kok nggak enak sih? Nyokap gue nggak gigit kok,”
“Iya aku tau, tapi aku nggak enak aja gitu kalau lama-lama di rumah orang lain,”
“Itu bukan rumah orang lain, Shel. Lo emangnya di anggap orang lain sama keluarga gue? Nggak, mereka anggap keluarga. Masa lo anggap gue sama keluarga gue tuh orang lain sih?”
__ADS_1
“Ya wajarlah, orang belum nikah. Kalau udah nikah tuh baru jadi bagian dari keluarga,”
“Nggak, nyokap bokap gue dan keluarga gue udah anggap lo jadi bagian dari kami kok,”