Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 100


__ADS_3

"Ayo berangkat. Aku udah siap nih"


Shelina menggandeng tangan Argantara. Tapi Shelina merasa kalau Argantara tak mengikuti langkah Shelina. Dia hanya berdiam di posisi nya dengan mematung.


"Kok malah bengong? Ayuk berangkat,”


Shelina kembali menggandeng tangan Argantara.


"Kamu cantik banget. Aku nggak salah pilih,”


Ucapan Argantara kembali membuat wajah Shelina merah merona.


"Kamu bisa aja. Kamu juga ganteng. Ya udah, ayo berangkat"


Kali ini Argantara mengikuti langkah Shelina setelah tangan nya kembali Shelina tarik dengan pelan.


"Kita naik mobil?"


Tanya Shelina pada Argantara , ketika kita sampai di depan rumah. Di sana sudah terparkir mobil sport berwarna biru. Sepertinya ini bukan mobil yang Argantara bawa waktu diner bersama Shelina. Karena mobil yang ia bawa waktu dinner dengan Shelina, berwarna merah. Argantara hanya mengangguk sembari tersenyum.


"Kenapa nggak naik motor? Kan lebih seru,”


Shelina kembali bertanya pada Argantara . Dan kini ia menangkup wajah Shelina dengan kedua tangannya secara lembut.


"Pacar aku ini ternyata agak tomboy ya. Masa mau naik motor mulu. Lagian ini udah sore, aku nggak mau kamu sakit karena kena angin sore menjelang malam ini,”


Ucap Argantara dengan lembut memberi pengertian padaku. Lalu Ia membukakan pintu mobilnya, mempersilahkan aku masuk. Di dalam mobil suasana hening menyeruak di antara kami. Argantara fokus dengan menyetir mobil, sedangkan Shelina fokus melihat pemandangan sore hari lewat jendela mobil Argantara ini. Sesekali Shelina melihat Areno melirik Shelina sembari tersenyum. Hingga akhirnya Shelina berusaha memecahkan suasana hening ini dengan pertanyaan.


"Baru lagi?"


Tanya Shelina pada Argantara. Argantara melirik Shelina dengan memperlihatkan wajah bingung nya.


"Baru? Maksudnya?"


Tanya Argantara tak mengerti, sembari ia masih fokus dengan mengendarai mobil nya.


"Mobilnya,"


Shelina menjawab kebingungan Shelina. Lalu Argantara tersenyum tipis mendengar pertanyaan Shelina.


"Bukan punya aku. Tapi punya orang tua aku,”


Jelas Argantara padaku Shelina hanya mengangguk paham. Setelah itu Argantara mengelus pucuk kepala Shelina.


"Tapi aku nggak mau ngerepotin kamu. Aku jadi nggak enak hati sama kamu dan orang tua kamu. Kamu seharusnya nggak perlu bawa mobil orang tua kamu. Apalagi ini bukan mobil biasa. Ini kan mobil mahal. Aku naik apa aja mau kok, asalkan sama kamu, jiahh sa ae,”


Ucap Shelina pada Argantara sambil terkekeh. Shelina rasa dengan Argantara meminjam mobil orangtuanya, itu sangat membuatnya merasa tak enak hati. Shelina merasa telah merepotkan Argantara.


"Kamu nggak ngerepotin aku, Shel. Menurut aku ini wajar kok. Kamu nggak perlu merasa nggak enak gitu sama aku dan orang tua aku. Lagi pula orang tua aku juga nggak merasa direpotkan. Kamu tau nggak dulu itu aku punya mantan. Mantan aku itu mau nya banyak banget. Beda sama kamu yang nggak pernah minta apapun sama aku. Makanya aku putusin dia, karena aku udah lelah dengan semua permintaannya. Dan orang tua aku juga nggak setuju kalau aku pacaran sama dia. Kata orang tua aku , dia gak pantas untuk aku. Karena cuma mau harta aku aja. Dia nggak benar-benar cinta sama aku. Lagian cuma cinta monyet juga sih, tapi banyak maunya dia."


Jelas Argantara padaku sembari sesekali melirik ke arah Shelina dan kembali fokus menyetir.


"Kamu udah cerita sama orangtua kamu, tentang hubungan kita ‘kan? Terus gimana reaksi mereka?” Baru kali ini Shelina bertanya mengenai hal ini, karena topik nya pas dengan apa yang mereka bicarakan.


"Udah kok. Mereka seneng banget Aku bisa punya pacar kayak kamu. Mereka juga tau , kalau kamu itu nggak banyak mau nya. Aku kadang suka nggak enak sama kamu. Soalnya aku nggak pernah ngasih apapun sama kamu. Hanya fasilitas kayak gini aja yang pernah aku kasih. Itu juga nggak setiap hari aku jalan sama kamu pake mobil kayak gini. Kalau mantan aku dulu, dia udah dapat semuanya dari aku. Antar jemput, dijajanin, barang dan lainnya. Tapi kalau kamu? Kamu nggak pernah dapat apapun dari aku. Sebenarnya bukan masalah ikhlas atau ungkit-ungkit ya cuma kalau ingat itu aku merasa dimanfaatin aja, ya walaupun aku udah ikhlas sih. Aku kalau udah suka, bahkan bucin ke orang tuh emang suka kelewatan,” jelas Argantara pada Shelina.


"Aku dapat cinta dari kamu, itu udah lebih dari cukup buat aku. Aku cinta sama kamu, bukan karena harta kamu. Tapi aku cinta sama kamu, karena kamu udah rela ngasih sayang kamu, cinta kamu, perhatian kamu dan nyawa kamu untuk aku. Makasih ya kamu udah kasih semua itu buat aku,”


Balas Shelina dengan tulus sembari menatap wajah Argantara yang sangat tampan itu.


"Kamu nggak perlu bilang makasih sama aku. Itu memang kewajiban aku, sebagai orang yang sama kamu,”


Ucap Argantara tak kalah tulus. Dia juga menatap wajah Shelina sejenak karena ia masih harus fokus menyetir dan mengelus pucuk kepala Shelina dengan lembut.


"Udah sampe,"


Ucapan Argantara membuat Shelina tersadar dari tatapanku saat memandangi wajah Argantara.


"Oh udah sampe ya? Ya udah turun yuk,”


Ucap Shelina pada Argantara. Dan Argantara hanya membalas dengan senyum manisnya. Setelah itu, ia keluar dari mobil membukakan pintu mobilnya untuk Shelina.


"Makasih,”


Ucap Shelina pada Argantara sembari tersenyum memperlihatkan gigi rapi milik Shelina setelah ia membukakan pintu mobil itu untuk Shelina.

__ADS_1


"Sama-sama, Princess,"


Balas Argantara sembari mengacak pelan pucuk kepala Shelina.


"Wow,0


Itu kata yang mampu mewakilkan perasaan Kagum pada taman yang sangat indah ini. Shelina sangat terlalu melihat pemandangan di taman ini. Shelina sangat kagum.


"Kamu suka?"


Tanya Argantara pada Shelina yang masih terpukau dengan keindahan taman ini. Banyak bunga yang tumbuh di taman ini. Warna-warni bunga membuat taman ini makin indah. Udara di sini juga sangat segar. Banyak rerumputan hijau yang tumbuh sangat rapi di sini.


"Banget,”


Jawab Shelina singkat. Tapi Shelina masih terfokus dengan taman ini. Shelina dan Argantara masih menyusuri taman yang sangat luas ini. Tidak ada sedikitpun lahan yang kosong. Semua sudah diisi dengab bunga yang indah nan cantik.


"Indah,”


Gumam Shelina pelan. Sembari masih terpukau dengan keindahan yang di sajikan taman ini.


"Keindahan taman ini nggak ada apa-apa nya di banding keindahan kamu."


Shelina langsung menoleh ke asal suara. Ternyata Argantara yang mengucapkan kalimat itu. Shelina pikir, tadi dia tak mendengar ucapanku. Shelina hanya melempar senyum padanya.


"Kita duduk yuk. Aku capek nih,”


Ucap Argantara sembari menahan lengan Arani yang dari tadi terus menyusuri taman ini bersama Argantara.


"Ya udah, Tapi kita duduk dimana?"


Shelina bertanya pada Argantara. Sembari melihat keadaan sekitar. Samaku akhirnya Shelina melihat bangku taman yang kosong.


"Gimana kalau kita duduk di sana aja?"


Ucap Shelina pada Argantara sembari menunjuk ke suatu arah yang terdapat bangku tamannya. Argantara yang tampaknya masih mencari tempat duduk, langsung mengikuti arah yang Shelina tunjuk. Lalu ia mengangguk setuju.


"Aku nggak nyangka bisa ke taman yang indah ini bareng kamu. Aku bahagiaaa banget dengan semua yang kamu kasih buat aku,”


Ucap Shelina pada Argantara.


Ucap Argantara pada Shelina. Lalu Shelina mendongakkan kepala Shelina agar bisa menatapnya.


"Terimakasih ya, Selama ini kamu menganggap bahwa aku adalah utusan Tuhan yang pantas kamu bahagia kan. Tapi kalau ternyata utusan Tuhan itu bukan aku gimana? Apa kamu akan merasa nyesel karena udah membuat aku bahagia?"


Shelina kembali berbicara sembari mendongakkan kepalanya agar bisa menatapnya lagi. Karena memang sekarang Shelina masih dalam dekapannya.


"Apa kamu pikir sebelumnya matahari tau kalau dia adalah utusan Tuhan untuk menemani pagi? Apa kamu juga berpikir bintang tau sebelumnya kalau dia di takdir kan Tuhan untuk menjadi teman nya malam. Nggak kan? Yang mereka tau, mereka harus membuat teman hidupnya tak merasa sendiri. Mereka harus membuat teman hidupnya bahagia.Mereka juga tak pernah menyesal dengan apa yang telah mereka berikan pada teman hidupnya. Buktinya matahari tak pernah berhenti menyinari pagi, bintang juga tak pernah berhenti untuk menemani malam.Walaupun nantinya mereka tak tahu akan takdir."


Ucap Argantara tulus sembari menatap mata Shelina dalam. Kami kembali menikmati suguhan keindahan yang diberikan oleh taman ini.


*****


Kini hari sudah berganti menjadi malam. Shelina mengusap lenganku sendiri. Rasa dimgin sudah mulai menusuk kulit Shelina.


"Kamu dingin ya?"


Tanya Argantara pada Shelina . Lalu ia melepas jaket kulit berwarna hitam miliknya, dan memakaikannya di tubuh Shelina. Lalu Ia mendekap tubuh Shelina agar tak merasakan dingin lagi. Shelina sangat merasa hangat dalam pelukan laki-laki yang sangat aku cintai ini.


"Kita pulang ya,”


Ajak Argantara pada Shelina dan Shelina membalasnya dengan anggukan. Setelah itu Argantara menggandeng tangan Shelina menuju area dimana mobil Argantara terparkir. Argantara membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan Shelina masuk.


"Maaf ya. Karena aku ngajak kamu ke taman ini, jadi kamu dingin deh. Tahan sebentar yaa dinginnya,”


Ucap Argantara lembut dengan rasa bersalah yang menyertainya.


"Kok minta maaf? Aku kan seneng di ajak jalan. Ini bukan salah kamu kok. Aku emang nggak kuat dingin,”


Jelas Shelina pada Argantara dengan lembut. Argantara hanya melirik ke arah Shelina. Sepertinya ia khawatir dengan keadaan Shelina. Padahal Shelina hanya dingin. Bukan karena penyakit parah. Segitu khawatirnya dia pada Shelina.


"Udah sampe. Turun yuk, Aku antar kamu masuk ke dalem."


Ucap Argantara pada Shelina. Shelina hanya mendengarnya samar. Tak ada jawaban sama sekali yang keluar dari mulut Shelina.


"Sayang... Heii . Kita udah sampe sayang di rumah kamu,”

__ADS_1


Lagi-lagi Argantara mengelus pipi Shelina lembut, ia berusaha membangunkan Shelina. Tapi mata Shelina sangat enggan sekali terbuka. mulut Shelina tak juga menjawab. Shelina sangat mengantuk dan tak ingin membuka mata Shelina sama sekali. Meskipun tidur Shelina sangat lelap, tetapi Shelina bisa mendengar suara Argantara. Shelina juga sekarang bisa merasakan kalau tubuh Arani sedang digendong oleh seseorang. Shelina mengerjapkan mata Shelina berusaha melihat siapa yang telah menggendong Shelina. Ternyata adalah Argantara. Setelah membuka mata sebentar, bodohnya, aku justru melanjutkan tidur Shelina. Entah kenapa Shelina sangat malas sekali untuk bangun dari tidur manja! Ya mungkin Shelina memang manja dengan Argantara.


"Ya ampun Den Arga ada apa sama non Shelina? Non Shelina sakit?"


Shelina bisa mendengar samar suara bik imah. Shelina masih sangat enggan sekali membuka mata Shelina.


"Enggak kok, Bik. Shelina cuma tidur. Kamarnya Shelina mana ya bik? Arga boleh antar Shelina ke kamarnya?"


Argantara meminta izin pada bik imah. Argantara memang sama seperti Shelina sangat menghargai bik imah.


"Boleh Den. Ayo bibik antar,”


Ucap bik imah di ikuti Argantara yang mengekori bik imah.


"Ini Den kamarnya non Shelina. Silakan masuk,"


Kini mereka sudah sampai di ambang pintu kamar Shelina.


"Iya bik. Makasih ya bik,”


Balas Argantara. Lalu segera membawa Shelina ke dalam kamar milik Shelina yang sangat luas ini . Shelina bisa merasakan tubuh Shelina telah di letakkan oleh Argantara di ranjang queen size milik Shelina.


"Good night, Shel,”


Shelina bisa mendengar ucapan Argantara lagi dan masih samar. Setelah itu Shelina juga bisa merasakan kalau dahi Shelina telah di usap lembut oleh Argantara.


****


"Pagi, Non. Silakan dinikmati sarapannya ya non."


Sambut bik imah pada Shelina yang sedang menuruni anak tangga.


"Iya bik. Makasih ya bik,”


Ucap Shelina pada bik imah. Bik imah hanya membalas dengan anggukan sembari tersenyum.


"Oh iya aku baru ingat bik. Selesai jalan kemarin sore, Masa semalam aku mimpi digendong Argantara masuk ke rumah sampai kamar aku, "


Ucapku pada bik imah, Setelah Shelina mengingat mimpi Shelina semalam.


"Itu bukan mimpi non. Tapi kenyataan. Semalam Den Arga memang menggendong non masuk ke dalam kamar non. Karena non tidurnya pulas banget,”


Ucapan bik imah berhasil Membuat Shelina terbatuk saat menyantap sarapan.


"Pelan-pelan, Non. Ini minum dulu."


Ucap bik imah sembari menyodorkan segelas susu hangat.


"Makasih bik,”


Ucap Shelina yang batuknya sudah mulai mereda.


"Tapi bibik serius ? Areno beneran gendong Shelina? Ternyata itu bukan mimpi ya?"


Ucap Shelina sembari menggaruk tengkuk Shelina yang tak gatal karena malu. Shelina kira, kalau semua itu mimpi.


"Bibik sangat serius, Non. Awalnya bibik kira terjadi sesuatu sama Non. Karena bibik liat non sudah ada di gendongan Den Arga. Tapi ternyata, kata Den Arga, non cuma tidur. Perasaan bibik langsung lega deh dengar Den Arga ngomong gitu. Terus Den Arga minta izin sama bibik mau nganter non ke kamarnya non. Tentu bibik izinkan. Setelah itu Den Arga meletakkan non di ranjang non dengan sangat lembut. Dia nggak mau membuat non bangun dari tidur non. Setelah dia memastikan non sudah benar-benar tidur di kamar non, Baru Den Arga pamit pulang sama bibik,”


Bibik mencoba memberi penjelasan pada Shelina. Kini Shelina sudah mulai mengerti. Shelina tertawa sendiri di dalam hati Shelina. Bagaimana bisa Shelina mengira kalau itu semua mimpi? Seketika pipiku menjadi merona saat mendengar cerita bik imah tadi. Shelina sangat mendapat perhatian lebih dari Argantara. Dia selalu memperlakukan Shelina layaknya seorang putri raja.


"Kalau bibik perhatikan, Den Arga kayaknya cinta banget sama non. Bibik bisa liat itu semua dari tatapan matanya ke non dan semua perhatian yang dia kasih buat non. Nggak mungkin dia memperlakukan non layaknya putri dari seorang raja, kalau dia nggak bener-bener cinta sama non. Bibik ikut merasa senang atas hubungan kalian. Sepertinya Den Arga adalah laki-laki yang dapat menjaga non dengan baik. Dia menjaga non penuh dengan rasa tanggung jawab,”


Ucap bik imah pada Argantara. Mata Shelina berkaca mendengar ucapan bik imah. Benar kata bik imah, kalau Argantara memang menjaga Shelina penuh dengan rasa tanggung jawab. Bahkan saat ia tak bersama Shelina, bukan berarti dia tak menjaga. Dia selalu mengecek keadaan Shelina walau dia tak berada di samping Shelina. Apalagi saat Shelina berada dengan nya, pasti dia sangat over protective.


"Non sepertinya itu Den Arga. suara motornya Den Arga sudah tidak asing lagi di telinga bibik, karena setiap hari Den Arga kesini untuk menjemput non. Jadi bibik selalu dengar suara motor Den Arga,"


Ucap bik imah sembari tertawa kecil setelah mendengar suara motor besar. Yang sepertinya adalah suara motor Argantara.


"Ya udah, Aku berangkat sekolah dulu ya bik. Assalmuaapaikum,”


Pamit Shelina pada bik imah sembari mencium punggung tangan nya. Sesampainya Shelina di depan pintu, ternyata benar Argantara sudah menungguku di ambang pagar rumah Shelina. Dia melemparkan senyum manisnya. Setelah itu Shelina menghampirinya, kemudian membuka pagar sedikit agar Shelina bisa keluar .


"Hai pagi, Shel,"


Argantara langsung menyapa Shelina dan mengelus pipi Shelina lembut.

__ADS_1


__ADS_2