Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 71


__ADS_3

“Eh kamu keliatan cantik lho udah potong rambut, keliatannya seger gitu dipandang mata, dan aku senang kamu nggak ubah-ubah warna rambut. Makasih ya udah dengerin saran aku,”


Setelah sempat memotong rambutnya di salon hingga lebih pendek dari biasanya, Shelina dan Argantara lansgung bergegas meninggalkan salon.


“Kamu kenapa nggak creambath di salon tadi?” Tanya Argantara.


“Nggak mau, aku pengen basah rambut di rumah aja,”


“Serius, kamu cantik deh,”


Jadi seperti itulah kalau Argantara sudah memuji. Shelina smapai dibuat salah tingkah. Jarang dipuji jadi reaksinya bisa berlebihan, tapi Ia terus berusaha terlihat biasa-biasa saja.


“Cantik banget, aku belum pernah liat potongan rambut kamu yang pendekan kayak begitu,” sekali lagi Argantara memuji tunangannya itu. Dan lagi-lagi Shelina dibuat salah tingkah, hatinya juga berbunga-bunga.


“Iya, muji terus ya mentang-mentang udah nggak gengsi muji aku lagi,0


“Aku nggak bisa gengsi lagi deh kayaknya karena mulut aku nggak kuat buat nahan pujian,” ujar Argantara sambil terkekeh.


“Hadeh, mulai deh berlebihan mujinya. Aku nggak mau ya tiba-tiba nanti ada berita begini seorang wanita terbang karena dipuji oleh tunangannya’ aku nggak mau ada berita begitu,”

__ADS_1


“Hahahaha lawak banget kamu, Shel,”


“Lho kok lawak? Itu tuh emang beneran bakal kejadian kalau kamu muji aku terus,”


“Aku muji sesuai kenyataan, bukan ngibul kok,”


“Ya udah aku tau kalau aku cantik tapi nggak usah diperjelas terus,” ujar Shelina sambil sedikit menghempas rambutnya ke belakang dan memasang wajah jumawa. Kelakuannya itu membuat Argantara terbahak.


“Bisa sombong juga kamu ya,”


“Aku tau aku cantik,” ujar Shelina dengan arogannya dan itu membuat Argantara terkekeh alih-alih kesal. Karena Shelina itu tidak benar-benar sedang menyombongkan kecantikannya. Shelina hanya sedang mengajaknya untuk bercanda.


******


“Parah banget sih. Nomor gue kenapa diblokir coba? Padahal gue senang banget waktu ketemu dia lagi dan bisa save nomornya,”


“Lo kenapa sih anjir? Ngedumel aja kerjaan lo,”


Noval berdecak pelan sambil meletakkan ponselnya di atas meja. Ia memilih diam, tak menanggapi ucapan temannya, Radi, yang saat ini menemaninya di kafe untuk menikmati secangkir kopi dan juga roti bakar.

__ADS_1


Noval kesal ketika nomor teleponnya diblokir oleh Shelina. Nomor utama sudah diblokir, nomor yang kedua juga sudah, apakah Ia harus ganti nomor lagi untuk yang ketiga kalinya? Dan apakah nasib nomor itu akan berakhir sama seperti dua nomor sebelumnya?


“Ahelina yang lo ceritain itu ya? Teman SMP lo kalau nggak salah ya? Gini, kalau dia blokir nomor lo, ya berarti lo tuh dianggap ganggu, atau nggak penting. Udah lah, Bro. Nggak usah dipikirin banget,”


“Ah elah, lo nggak ngerti perasaan gue, Rad. Gue tuh udah senang banget karena bisa komunikasi lagi sama dia, tapi ujungnya malah diblokir,”


“Lo ganggu dia mungkin,”


“Apaan sih? Gue nggak ganggu kok,”


“Terakhir lo chat dia apaan?”


“Gue mau kasih sesuatu buat dia,”


Radi langsung tertawa sambil melemparkan gumpalan tisu ke arah Noval yang baru saja menggerutu.


“Ya pantesan aja dia blokir lo. Lagian ganjen amat mau ngasih sesuatu segala lo,”


“Lah emang kenapa? Nggak boleh gue ngasih sesuatu ke teman gue? Lagian sebelumnya emang udah pernah juga kok, ini entah kenapa kok gue nggak yakin ya kalau Shelina yang blokir nomor gue,”

__ADS_1


“Maksud lo siapa?”


__ADS_2