Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 51


__ADS_3

“Makasih ya udah temenin gue ke salon,”


“Iya sama-sama,”


“Liat aja tuh si Tita ya. Nggak ada dia, gue masih punya lo. Bisa-bisanya dia malah males temenin gue dan mau tidur aja di rumah. Huh dasar temen yang tega, jahat!”


“Lif, kadang kita juga ‘kan nggak ada kemauan buat keluar rumah. Nah itu terjadi di Tita yang lagi pengen banget istirahat di rumah. Nggak apa-apa ‘kan udah aku temenin. Nanti kalau misalnya aku kebetulan nggak bisa jalan sama kamu, bakal ada Tita. Ya kita ganti-gantian aja,”


Shelina tidak ingin Lifa merasa kesal dengan Tita yang sedang tidak mau keluar rumah ketika Lifa mengajaknya pergi melalui sambungan telepon. Oleh sebab itu Lifa mengajak Shelina yang ternyata tidak keberatan.


“Ya udah gue balik ya,”


“Iya hati-hati,”


“Okay, sekali lagi makasih,”


“Sama-sama, aku masuk dulu ya, Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


Shelina langsung turun dari mobil Lifa kemudian melambaikan tangannya pada Lifa sesaat sebelum mobil Lifa melaju pergi. Ketika Shelina akan melewati gerbang rumah, tiba-tiba ada suara klakson motor yang panjang seklai bunyinya. Shelina sampai menutup kedua telinganya karena merasa sakit mendengar suara klakson yang cukup gila itu. Ternyata pelakunya adalah Argantara.


Lelaki itu datang menggunakan motor besarnya yang berwarna putih. Argantara menghentikan motor tepat di depan Shelina yang sudah siap untuk menegur Argantara.


“Arga! Jangan mainin klakson kayak gitu dong. Berisik tau! Nggak enak sama tetangga,”


“Ya elah orang rumahnya oada berjarak, dan besar-besa mana sampai ke kuping mereka nih suara klakson motor gue,”


“Ya kedengeran lah sama mereka. Nanti kamu diusir dan masuk dalam blacklist orang yang nggak boleh masuk komplek perumahan ini lagi lho,”


“Hahahaha emang bisa?”


“Dih ngeremehin komplek aku ceritanya?”


“Nggak-nggak, bercanda gue. Iseng aja tadi neken klakson kayak gitu supaya lo nengok,”


“Aku bakal nengok lah tanpa kamu buat klakson kamu seberisik mungkin,”


“Iya maaf ah elah cerewet banget sih!”


Shelina berdecak pelan. Yang seharusnya kesal itu dirinya, ini kenapa malah terbalik? Argantara yang kesal setelah Ia tegur.


“Kamu mau ngapain ke sini?” Tanya Shelina seraya menatap Argantara dengan elsoresi wajah yang masih keliatan kesal.


“Lo nggak senang gue datang ke sini? Iya?”


“Astaga, siapa yang bilang kayak gitu?”


Shelina langsung menatap Argantara dnegan jengah. Ia tidak mengerti kenapa Argantara malah salah menafsirkan pertanyaan yang barusan Ia lontarkan.


“Ya terus kenapa nanya kayak gitu?”


“Emang nggak boleh? Aku penasaran aja, kenapa kamu datang ke sini? Dalam rangka apa gitu lho maksud aku,”


“Lo baru pulang?”


Alih-alih menjawab pertanyaan Shelina, Argantara justru balik bertanya sampai Shelina memijat pangkal hidungnya berusaha menambah stok kesabaran.


Tadi ditegur malah kesal, ditanya malah menjawba dnegan pertanyaan juga. Entah apa maunya Argantara ini.


“Iya aku baru pulang, itu Lifa baru aja balik abis ngantetin aku,”


“Darimana sih? Sampai nggak mau datang ke rumah gue,”


“Arga, sekali lagi aku benar-benar minta maaf ya sama kamu. Aku udah terlanjur iyain ajakan Lifa. Dia minta temenin ke salon. Pas kamu telepon itu, posisi aku udah nunggu Lifa jemput aku. Jadi aku nggak enak kalau misal tiba-tiba batalin pergi sama Lifa. Itu alasan aku yang pertama. Nah alasan kedua aku adalah, jujur aku beneran belum percaya diri mau ketemu keluarga kamu sendirian, kalau yang waktu itu ‘kan sama Mama Papa aku ya. Nah ini cuma aku sendirian. Aku malu, aku nggak percaya diri lah pokoknya,”


“Nih buat lo, dari Mama,”


Argantara belum menanggapi penjelasan Shelina. Ia menyerahkan titipan mamanya dulu kepada Shelina.

__ADS_1


“Ini apa?”


“Ya nggak tau, ntar liat aja sendiri,”


“Ya udah kamu masuk dulu yuk,”


“Nggak usah, gue di sini aja,”


Argantara mempertahankan posisinya yang masih di atas motor yang berhadapan dengan Shelina.


“Eh lo dengar ya, Shel. Keluarga gue tuh pada nanyain lo tau nggak. Sepupu-sepupu gue tuh pengen ketemu lo. Mereka pada ledek gue karena lo nggak mau datang, apalagi si Dafi tuh. Nyebelin banget dia. Kalau lo datang ‘kan pasti mereka nggak bakal ledekin gue, mereka pada ngobrol sama lo, nggak fokusnya ke gue. Lo tuh kenapa sih merasa malu? Insecure dan semacamnya? Santai aja kali, keluarga gue tuh bakal jadi keluarga lo juga,”


“Ya nanti aku coba biasain dulu ya,”


“Harus bisa terbiasa. Mas amau kayak gitu terus bahkan setelah nikah? Hmm?”


“Ya kalau udah nikah pasti udah biasa lah. Ini ‘kan karena baru dua kali ketemu dan baru tunangan juga jadi aku kasih merasa canggung, malu, nggak percaya diri gitu,”


“Pokoknya lo hilangin tuh rasa nggak percaya diri lo. Gue nggak suka ya lo tuh malu-malu nggak percaya diri kayak gitu. Lo nggak pantas insecure tau nggak? Apa yang buat lo insecure? Lo cantik, lo baik, lo kayak bidadari, jadi ngapain insecure coba?”


“Eh?”


Shelina terkejut mendengar pujian yang dilontarkan oleh tunangannya itu. Baru kali ini Argantara terang-ternagan menilai Ia cantik dan baik.


“Bidadari? Jauh amat,”


“Ya ‘kan lo kayak bidadari,”


“Kata siapa?”


“Kata Dafi,”


Shelina langsung mendengus kesal. Ternyata pujian yang baru saja dilontarkan oleh Argantara itu bukan berasal dari hati Argantara sendiri melainkan dari mulut Dafi sepupunya dan tinggal Argantara copy paste.


“Aku pikir kamu muji aku dari hati kamu, dan nggak ada yang nyuruh lho. Ternyata kamu—“


“Dafi yang muji aku berarti, kamu ikut-ikutan,”


“Dih, mana ada ikut-ikutan. Emang lo cantik, lo baik kok. Si Dafi aja yang muji-muji bukan punya dia, ngapain coba? Dikiran boleh begitu?”


“Kamu cemburu atau gimana? Masa cemburu sama keluarga sendiri?”


“Nggak lah, gue nggak cemburu,”


“Lah terus yang barusan apa?”


“Gue bingung aja dia muji-muji lo. Segala bilang kalau lo kayak bidadari, dih alay banget,”


“Hahahaha bilang aja kamu kesal nggak terima ada yang bilang aku kayak bidadari. Harusnya kamu yang ngomong gitu tau biar aku senang,”


“Nggak usah diomongin, takut lo terbang,”


“Kok gitu?”


“Ya ‘kan lo bidadari, kalau gue muji lo kayak bidadari takutnya lo kangen sama kayangan dan lo terbang,”


“Astaga bisa-bisanya ngomong begitu hahahahaha,”


“Alay ya?”


“Nggak kok, lucu malah. Arga yang ketus malah gombal kayak gitu,”


“Gue nggak gombal sih sebenarnya,”


“Cie cie cie,”


“Lah?”


Tiba-tiba ada motor penjual roti yang lewat dan menggoda mereka berdua hingga keduanya salah tingkah.

__ADS_1


“Bisa-bisanya kita diledekin sama tukang roti,”


“Ya gara-gara becandanya di depan rumah aku. Ayo makanya masuk aja. Di dalam ada Mama aku kok, aku nggak sendirian. Ada Bibi juga,”


“Iya gue tau cuma gue mau langsung pulang aja,”


“Ya udah hati-hati. Makaish banyak ya kamu udah antar ini buat aku, dan jangan lupa bilang makasih juga ke Mama kamu untuk titipannya ini,”


“Iya ntar gue sampein ke Mama. Gue balik dulu,”


Argantara akan menggunakan helm nya lagi namun tidak jadi karena ada seorang laki-laki yang datang menggunakan motornya.


“Eh Noval,”


Shelina langsung mengenali bahwa itu Noval ketika lelaki itu membuka helmnya sementara Argantara bingung. Ia tidak kenal dengan lelaki itu. Tapi memang merasa pernah melihat wajahnya satu kali. Setelah mendengar namanya disebut oleh Shelina barulah Argantara ingat.


“Ini yang kata Shelina temennya itu ‘kan?” Batin Argantara.


Noval turun dari motor menyapa Shelina dan juga Argantara yang hanya menanggapi dengan anggukan singkat.


“Noval, ini Arga,”


“Nah, Arga ini yang pernah aku ceritain waktu itu. Dia teman SMP aku terus pernah ketemu juga di supermarket ingat ‘kan?”


Argantara menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Shelina.


“Oh iya pernah ketemu di supermarket ya? Ngapain dikenalin lagi, Shel?” Tanya Noval seraya terkekeh.


“Ya soalnya ‘kan belum pernah kenalan satu-satu. Jadi ya sekarang aku kenalin satu persatu,”


“Aku udah ingat kok, Arga teman kamu ‘kan? Waktu itu kamu bilang Arga teman kamu,”


“Iya bener, oh ingat ternyata ya,”


“Iyalah, Shel. Orang baru juga beberpa hari lalu kita ketemu. Masa udah lupa, ya nggak?” Tanya Noval pada Argantara yang hanya tersenyum sekilas saja.


“Ada apa nih datang ke sini, Nov?”


“Aku baru pulang dari Bandung terus beli oleh-oleh buat kamu, sekalian pengen tau aja rumah kamu dimana. ‘Kan udah kamu kaish alamatnya. Ya sekalian berkunjung,”


“Oh gitu, ayo masuk dulu,”


“Kayaknya nggak usah deh, lain kali aja. Yang penting udah tau rumah kamu sama ketemu kamu sekaligus nyerahin oleh-oleh ini. Ya nggak seberapa sih, tapi semoga kamu suka ya


Shelina melihat sekilas isi dari goodie bag yang diberikan Noval kepadanya, ternyata berisi makanan-makanan khas Bandung.


“Wah ini sih aku suka banget. Makasih banyak ya, semoga makin banyak rezekinya,”


“Aamiin,”


“Ayo masuk dulu deh,”


Shelina tidak enak membiarkan Noval langsung pulang. Ia juga mengajak Argantara masuk ke dalam rumah namun Argantara menggeleng.


“Nggak usah, aku langsung pulang ya, Shel,”


“Okay hati-hati, sekali lagi makasih banyak ya,”


“Sama-sama,”


“Balik dulu, Ga,” pamit Noval pada Argantara yang langsung menganggukkan kepalanya.


Noval menggunakan pelindung kepalanya lagi setelah itu naik ke atas motor. Ia menatap Shelina dan Argantara sambil menstarter motornya. Setelah itu Ia melajukan motornya dengan kecepatan yang lumayan tinggi.


“Nggak usah dikenalin lagi harusnya, orang gue udah tau dia siapa. Gue inget kok,” ujar Argantara setelah Noval pergi.


“Ya ‘kan nggak ada salahnya ngenalin lagi. Aku salah ya? Ya udah aku minta maaf ya,”


“Nggak salah. Gue ‘kan udah pernah ketemu dia, dia juga ingat tuh kalau gue ‘teman’ lo,” ujar Argantara seraya menekan kata teman yang membuat Shelina mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


__ADS_2