Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 84


__ADS_3

“Ya ampun lucu banget pakai baju samaan,”


Shelina langsung menatap anak berusia kurang lebih dua tahun yang sedang sibuk jalan kesana kesini. Mereka kembar dengan jenis kelamin perempuan. Keduanya dijaga oleh si ayah sementara si ibu sibuk memilih baju. Tapi Shelina bisa lihat kalau baju mereka berempat sama, Ia jadi ingat masa kecilnya dulu.


“Senang banget ngeliat bocil,” ujar Argantara pada Shelina yang menatap antusias dua anak perempuan itu.


“Senang ngeliat bajunya kompak,”


“Ya udah bikin aja gih,”


“Bikin apa?”


“Ya bikin baju samaan,”


“Terus dipake sama siapa?”


“Sama nyokap bokap,”


“Ya itu mah udah nggak lucu lagi. Karena aku nya udah dewasa. Dulu waktu aku masih kecil sering banget tuh pakai baju yang sama,”


“Oh ya?”


“Iya, kalau kamu gimana?” Tanya Shelina pada Argantara yang menggelengkan kepalanya melihat Shelina yang tak berkedip melihat dua anak perempuan itu.


“Kok nggak jawab sih? Aku ‘kan nanya sama kamu tau,”


“Nanya apaan?”


“Kamu waktu kecil suka pakai baju samaan juga sama Mama dan Papa kamu?”


“Lupa gue,”


“Ih masa lupa,”


“Udah buruan pilihin deh tuh bajunya si Noval. Males lama-lama ah. Kalau lo belanja buat idir lo semdiri sih gue okay-okay aja, ini belanja buat ornag lama bener,”


“Ya justru itu lama karena kita garus milih yang paking baik diantara yang baik. Masa kita ngasih baju sembarangan ke orang? ‘Kan nggak mungkin,”


“Iya cowok yang suka cemburu,”


“Lah, kata siapa?”


“Kata aku barusan, emang aku nggak tau kamu sebenarnya nggak mau ‘kan temenin aku mall karena cemburu? Bener nggak, benerlah aku,”


“Sok tau,”


“Halah bohong, orang jelas-jelas kamu tuh cemburu. Kemarin bohong soal Mama kamu. Sebenarnya Mama kamu nggak kemana-mana tapi kamu bilang arisan dan kamu mau nganterin karena kamu sebenarnya nggak mau ke mall bareng aku ‘kan? Bener ‘kan?”


“Ya kalau emang cemburu kenapa?”


“Hahaha udah kuduga,”


Shelina mencubit lengan Argantara yang cemburu tapi berusaha ditutupi. Hanya mendmani memcari kado Noval saja Argantara cemburu.


“Kenapa gengsi sih?”


“Ya aku ngomongnjyga percuma, kamu nggak bakal dengerin. Kamu ‘kan selalu bilang kalau dia tu teman kamu, Ganta juga teman kamu. Jadi ya udahlah aku iyain aja biar cepat,”


“Ya mereka emang teman aku, aku nggak bohong tau,”

__ADS_1


“Iya percaya, tapi ‘kan tetap aja lah gue punya rasa cemburu,”


Shelina tersenyum karena rasa senang. Kalau cembur, itu artinya Argantara mencintainya. Benar-benar mencintai bukan sekedar merasa bersalah karena pernah menolak pertunangan mereka.


Shelina mengambil kaos dan hoodie setelah itu Ia bergegas ke kasir. Begitu Ia menoleh ke belakang Ia tidka menemukan keberadaan Argantara. Seketika Shelina panik.


“Arga kemana? Kok nggak ada? Tadi dia ngikutin aku deh perasaan kok sekarang udha nggak ada sih?”


Sambil menunggu belanjaannya ditotal, Shelina langsung menghubungi Argantara tapi sayangnya tidak ada jawaban.


“Ih Arga kemana sih? Kenapa kalau mau pergi tuh nggak bilang dulu coba? Apa dia udah pulang duluan saking cemburunya? Ya ampun, ‘kan bisa ngomong dulu nggak pergi tiba-tiba kayak gini. Ih aneh banget deh,” Shelina membatin kesal. Ia tidak mengerti kenapa tunangannya itu mendadak pergi tanpa sepengetahuannya.


Tiba-tiba kasir menyebutkan total yang harus Shelina bayar, dan dengan cepat Shelina mengeluarkan kartunya. Setelah melakukan transaksi dan belanjaan sudah ada di tangannya, Shelina bergegass keluar dari store baju pria dan baru saja Ia melewati pintu keluar tiba-tiba dikejutkan dengan Argantara yang ada di depan matanya.


“Ih kamu kenapa nyebelin banget sih! Nggak usah bikin kaget dong! Ah elah, jantung aku mau copot ini,”


Argantaa tertawa melihat Shelina memarahinya sambil memukul lengannya karena kesal dikejutkan olehnya.


“Okay maaf, cewek cantik,”


“Kamu kemana aja sih?”


“Yok sambil jalan, jangan di depan pintu, takut ada yang mau belanja jadi krganggu gara-gara kita ngobrolnya di depan store,”


Argantara merangkul bahu tunangannya itu dan mereka berjalan bersama menjauh dari store.


“Kamu darimana aja sih?”


“Aku cuma beli ini, buat kamu,”


Argantara memberikan satu buah cup ice cream kepada Shelina yang langsung bahagia menerimanya.


“Wah, ini beneran buat aku?”


“Kok mendadak ngasih ini ke aku? Emang dalam rangka apa nih?”


“Ya nggak apa-apa, lagi pengen aja beliin kamu ice cream, gimana, enak nggak?”


Shelina menyuapkan ice cream ke dalam mulut barulah Ia menganggukkan kepalanya sambil mengacungkan jempol.


“Mantap banget,”


“Kamu kesal ya aku tinggalin?”


“Ya iyalah, kamu tiba-tiba aja pergi. Gimana aku nggak kesal coba,”


“Hahahaha ya udah santai aja, sekarang kamu mending habisin itu es krimnya, jangan kesal lagi,”


“Ya harusnya kamu ngomong dong kalau mau pergi tiba-tiba,”


“Iya aku mau ngasih kejutan buat kamu, pengen bikin kamu kaget,”


“Kalau aku jantungan gimana coba?”


“Ya—aku bawa ke rumah sakit lah,”


“Ih jadi maksud kamu, aku nggak apa-apa kalau jantungan?”


“Ya nggak gitu maksudnya, Cantik,”

__ADS_1


“Terus gimana?”


“Kalau kamu jantungan aku bawa ke rumah sak—“


“Arga! Eh Ga!”


Argantara dan Shelina langsung menatap ke sumber suara. Seorang perempuan baru saja menyapa Argantara.


“Siapa itu, Ga?” Tanya Shelina pada Argantara yang tengah fokus menatap dua ornag perempuan yang berjalan mendekatinya.


“Nggak tau, tapi kayak nggak asing deh,”


“Ya kalau asing, pasti kamu nggak disapa lah,” ujar Shelina.


“Hmm iya juga sih,”


“Siapa itu?”


“Ya aku belum ingat, Shel,”


“Eh Ga, kok bisa sih ketemu lo di sini?”


“Siapa? Sorry gue lupa nih,” ujar Argantara sambil tersenyum canggung. Tiba-tiba disapa oleh perempuan disaat bersama Shelina yang merupakan tunangannya jadi tentu sedikit canggung.


“Temen SMP lo, masa lo lupa sih?”


“Siapa?”


“Nggak ingat sama kita berdua? Seriusan?” Tanya salah satunya sambil menunjuk diri sendiri dan perempuan di sebelahnya.


“Jujur gue lupa soh tapi emang kayaknya nggak asing deh,”


“Lena, sama Lia, udah ingat?”


Argantara diam sebentar untuk mengingat-ingat keduanya dan setelah Ia berhasil mengingat barulah Ia menjentikkan jarinya.


“Ah iya sekarang gue inget. Weh apa kabar lo pada?”


“Baik dong, Alhamdulillah. Lo sendiri gimana?”


“Baik kok, oh iya ini kenalin cewek gue,”


Argantara langsung merangkul pinggang Shelina supaya kebih dekat dengannya dan Shelina segera mengulurkan tangannya hendak memperkenalkan diri.


“Halo, aku Shelina,”


“Hai, Shel,”


“Bukan main udah punya cewek,” goda salah satunya.


“Udah tunangan malah,”


“Serius? Wah kapan jadinya? Undang dong, ‘kan kita temen lo juga,”


“Ntar sih, abis lulus rencananya,”


“Oalah kirain udah dalam waktu dekat,”


“Nggak kok,”

__ADS_1


“Gue kirain lo sama Alya, nggak jadi ya berarti?”


Seketika suasana jadi tidak enak karena pertanyaan itu. Mantan kekasih menjadi topik obrolan secara tiba-tiba tentu daja membuat Argantara tidak nyaman, begitupun Shelina.


__ADS_2