Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 143


__ADS_3

“Baik banget sih kamu. Mau nurut apa kata suaminya. Aku senang deh, makasih ya, Ratu Shelina sayang,”


Shelina tersenyum tapi sedikit masam berdasarkan penglihatan Argantara makanya Argantara menghembuskan napas kasar. Padahal Ia melarang Shelina untuk kuliah karena Shelina sedang kurang sehat.


“Nggak ikhlas nih nurut sama aku nya?”


“Kata siapa?”


“Lah itu senyumnya agak-agak nggak ikhlas deh keliatannya,”


“Nggak ah, aku senyum ya emang begini bentuknya,”


“Pasti dalam hati lagi ngedumel ya? Iya ‘kan? Jujur aja deh sama aku,” kata Argantara sambil menarik ujung hidung istrinya.


“Emang bisa diliat darimana senyum ikhlas dan nggak ikhlas?”


“Aku tau lah. Aku bisa nilai, Sayang,”


“Kalau kayak gini ikhlas nggak?” Tanya Shelina sambil menunjukkan senyum yang lebar. Argantara yang melihat itu langsung tertawa.


“Kamu ada-ada aja. Ya nggak gitu juga dong senyumnya. Lebar amat, jangan lebar-lebar kalau senyum, nanti banyak yang naksir,”


“Mana ada, senyum lebar udah kayak hantu aja. Nggak ada lah yang naksir. Jadi gimana? Udah keliatan ikhlas belum senyum aku, Ga?”


“Udah, Sayang. Udah keliatan ikhlas kok, kata aku udah keliatan ikhlas sih,”


“Berarti harus senyum lebar dulu baru dibilang ikhlas?”

__ADS_1


“Ya nggak gitu, senyum ikhlas itu keliatan dari matanya. Tanpa harus senyum lebar kalau matanya keliatan senyum, ya itu udah ikhlas,”


“Mata aku udah senyum belum?”


“Udah kok, Cantik,”


“Ya udah, aku mau ke kamar mandi. Selesai ‘kan obrolan tentang aku yang nggak kuliah hari ini dan senyuman?”


“Udah-udah, silahkan kamu ke kamar mandi,”


“Ya udah lepas dulu dong pelukan kamu. Gimana aku mau ke kamar mandi kalau kamu nya masih meluk aku kayak begini?” Tanya Shelina sambil menunjuk tangan suaminya yang masih melingkari pinggangnya. Argantara mengizinkan Ia untuk bergegas ke kamar mandi tapi tangan Argantara masih memeluknya.


“Eh iya, maaf aku lupa belum lepas ya ternyata pelukan aku,”


“Iya, gimana caranya aku bisa ke kamar mandi ‘kan?”


“Nggak usah, makasih, Ga. Kaki aku Alhamdulillah masih berfungsi, tangan aku juga begitu, aku masih bisa ke kamar mandi sendiri. Makasih ya tawarannya,”


Argantara tertawa mendengar ucapan istrinya yang menolak dengan halus disertai alasan yang masuk akal. Memang Argantara yang aneh. Tak ada hujan dan badai, tiba-tiba menawarkan diri untuk menjadi pengantarnya Shelina ke kamar mandi.


“Serius nih nggak mau aku temenin, Shel?” Tanya Argantata seraya tersenyum usil menatap istrinya yang saat ini hendak menutup pintu kamar mandi.


“Ih kamu ada-ada aja. Ngapain coba nawarin mau antar aku mulu? Orang ke kamar mandi doang kok,”


Setelah bicara seperti itu Shelina langsung mengunci pintu kamar mandi, dan Argantara tertawa lagi. Bercanda dengan Shelina benar-benar menyenangkan sekali untuknya. Maka dari itu Ia senang melakukannya. Apalagi ketika reaksi Shelina kesal. Shelina akan terlihat semakin menggemaskan kalau Ia kesal.


“Sayang, jangan lama-lama ya. Nanti aku kangen,”

__ADS_1


“Nggak tau ah,”


“Dih kok gitu jawabnya?”


“Ya lagian aneh banget. Baru juga pisah sedetik udah kangen,”


“Kita ‘kan pengantin baru jadi masih anget-angetnya,”


“Bercanda mulu kamu,”


“Lah, emang kenyataan kok. Kita ‘kan pengantin baru, jadi masih anget-angetnya, jauh bentar aja tuh nggak bisa,”


Shelina tak lagi mengeluarkan suara, hanya mencibir di dalam hati “Giliran kesal sama Defan aja serem banget keliatannya, sekarang bercanda mulu,”


“Shelina, aku liat handphone kamu ya,”


“Liat aja, aku nggak pernah larang,”


Shelina menyahuti sambil Ia membuka pintu kamar mandi setelah buang air kecil. Argantara meriah ponselnya kemudian sengaja membaringkan badan di atas ranjang.


“Aku mau mantau dulu,”


“Mantau apa?”


“Mantau handphone kamu dong, Sayang,”


“Emang ada apa sama handphone aku?”

__ADS_1


“Ya barangkali ada cowok genit yang nyasar lagi. Kalau ada yang chat kamu lagi, aku yang balas,”


__ADS_2