Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 42


__ADS_3

“Lo jangan kaku gitu dong, santai aja, rileks, gue nggak gigit lo kok,”


Shelina terkekeh mendengar ucapan lelaki di depannya yang saat ini memegang pinggangnya, menjadi partner dansa nya malam ini.


Bagaimana Ia tidak kaku kalau yang berdansa sekarang dengannya adalah Argantara, tunangannya. Selama mengikuti alunan musik, Argantara seringa ekali tersneyum. Jadi Shelina merasa gugup, salah tingkah, sampai gerakannya kaku. Ini pertama kali, Ia dan Argantara ada di posisi yang begitu dekat. Tidak disangka mereka akan berdansa malam ini. Padahal bayangan Shelina adalah Ia sudah sampai di rumah setelah melarikan diri bersama dua sahabatnya menghindari pesta dansa.


“Lo nggak pernah begini sebelumnya?”


“Belum lah, ini pertama kali,”


“Okay, sama kalau gitu, tapi gue enjoy ‘kan keliatannya? Ya lo harus gitu juga,”


“Aku gugup, wajar ‘kan?”

__ADS_1


“Kenapa? Kenapa lo gugup? Padahal ‘kan ini fuma dansa biasa,”


“Ya karena aku pertama kali dansa, ditanbah lagi dasanya sama kamu. Ya otomatis gugup lah,”


Argabtara terkekeh dan saat itulah Shelina menahan senyum. Ia senangs ekali meluhat Argantara tertawa seperti saat ini. Karena selama mereka menjadi sepasang manusia yang bertunangan, Argantara hampir tidak pernah tertawa. Jangankan tertawa atau tersenyum, berekspresi ramah saja tidak pernah.


“Okay, dansanya berakhir. Terimakasih untuk semua yang udah berpartisipasi,” ujar host dan lampu kembali terang benderang, sebelumnya syahdu sedikit remang supaya setiap pasangan yang berdansa benar-benar merasa nyaman dan intim dengan pasangannya.


Maka tak heran begitu dansa selesai, lampu kembali terang benderang, banyak dari mereka yang salah tingkah karena sebelumnya sudah terlanjur larut dalam suasana lalu tiba-tiba dipaksa untuk kembali ke suasana sebelumnya.


“Aku mau pulang sekarang,” ujar Shelina pada kedua sahabatnya yang mengangguk setuju.


“Ayo, Shel,”

__ADS_1


“Eh lo baliks ama gue,” perkataan Argantara membuat Shelina terkejut. Kalau dua sahabtnya tidak heran lagi. Aneh juga kalau Argantara membiarkan Shelina pulang tanpa dirinya.


“Hah? Aku ‘kan udah janjian sama dua teman aku, pergi dan pulang bareng,”


“Ya emang kenapa? Mereka keberatan?” Tanya Argantara pada Tita dan Liva yang spontan menfgelengkan kepalanya.


“Hmm nggak deh, Arga. Aku takut bikin kamu repot. Aku sama mereka aja. Kamu sam ateman-teman kamu ya,”


“Nah gini aja, kita pulang sama pasangan dansa masing-masing, biar nggak ribut,” usul Denis yang disambut dengan petikan jari Satria yang setuju dengan usulan Denis.


“Gimana, Ga? Bisa ‘kan?”


“Ya bisa lah, asal Lifa sama Tita mau aja. Terserah kalian deh mau pulang sama siapa, naik apa. Gue sama Shelina, berdua,” ujar Argantara seraya menekan kata terakhir yang mengundang tawa.

__ADS_1


“Ya elah tegas amat itu ngomong berduanya. Emang siapa yang mau gangguin? Yanudah sono pulang berdua gih, nggak ada yang ganggu kok. Kita semua juga pulangnya berdua-berdua,” ujar Satria seraya mendorong pelan bahu Argantara.


Argantara langsung meraih tangan Shelina dan akhirnya mau tidak mau Shelina mengikuti langkah kaki Argantara dan anehnya tanpa penolakan sama sekali dari Shelina. Jelas saja, Shelina benar-benar bahagia ada di situasi ini. Tidak menyangka kalau Argantara akan mengantarkan dirinya pulang.


__ADS_2