
“Shel, apa yang kamu rasain sekarang? Hmm?”
Hari ini adalah senin yang dimana universitas Shelina dan Argantara merayakan hari besar nasional. Maka dari itu diadakanlah upacara bendera.
Di akhir acara, ketika dosen menyampaikan kalimat terakhirnya sebelum acara ditutup, Shelina malah jatuh tak sadarkan diri. Shelina sebenarnya memang sudah merasakan sakit di kepalanya, tapi Ia abaikan sampai Ia bertahan hingga penghujung acara, namun sayang badannya tak kuat lagi untuk dipaksakan berdiri dengan baik sampai acara berakhir. Kepalanya semakin sakit, badannya semakin lemah, keringat dingin semakin banyak mengucur, kemudian Ia tidak ingat apa-apa lagi.
Dan ketika membuka mata, Ia sudah ada di sebuah ruangan. Tepat di sebelahnya ada Argantara yang menggenggam erat tangannya.
“Shel, tolong jawab aku,”
Karena Shelina masih penyesuaian, jadi Ia belum memberikan jawaban atas pertanyaan Argantara barusan yaitu tentang apa yang Ia rasakan saat ini.
“Masih sakit? Apa yang sakit?”
Shelina menyentuh kepalanya, Ia memberikan pijatan lembut di sana, dan Argantara langsung paham. Argantara menggerakkan jarinya, menggantikan jari Shelina untuk memberikan pijatan lembut di kepala Shelina.
“Kamu udah sarapan atau belum sih? Terus kamu istirahat cukup nggak semalam itu?” Tanya Argantara.
Shelina menganggukkan kepalanya untuk pertanyaan sudahkah cukup istirahatnya semalam. Tapi kalau soal tentang sarapan, tadi sebelum berangkat, Ia memang tidak sarapan.
“Kamu belum sarapan ya?” Tanya Argantara karena baru saja Ia mendengar perut Shelina berbunyi.
Shelina menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Argantara langsung menghela napas pelan dan menggelengkan kepalanya.
“Kenapa kamu nggak sarapan? Astaga, Shel, kamu nyakitin diri sendiri kalau kayak gini. Ya udah aku beli sarapan dulu ya, kamu mau bubur ayam ‘kan?”
“Iya,” jawab Shelina dengan suaranya yang masih lemah.
“Okay, aku minta tolong Sarah untuk beliin kamu bubur, dia lagi bikinin kamu teh hangat,”
Argantara langsung memanggil Sarah yang sempat merawat Shelina tadi. Seperti memijat pelan kaki Shelina, membalurkan minyak aromaterapi di beberapa bagian tubuh Shelina. Dan sekarang Sarah sedang membuatkan teh hangat untuk Shelina, sementara Argantara bertahan di posisinya yaitu tepat di sebelah Shelina.
“Sar, gue minta tolong beliin bubur ayam buat Shelina ya, gue nggak mau kemana-mana, di sini aja, makanya gue minta tolong sama lo, bisa ‘kan, Sar?”
“Okay, ini tehnya,”
Ketika Sarah datang lagi usai membuat teh hangat, Argantara langsung menyampaikan permintaan tolongnya kepada Sarah seraya memberikan uang untuk Sarah yang Ia mintai tolong untuk membeli bubur.
“Shel, minum dulu tehnya biar kamu seger,”
Argantara membantu Shelina untuk duduk. Argantara meletakkan bantal dengan posisi berdiri tepat di punggung Shelina. Kemudian Ia mengambil satu gelas teh hangat yang diletakkan Sarah di nakas sebelah bangsal yang menjadi tempat pembaringan Shelina barusan.
“Kamu jangan kayak gini lagi ya, Shel. Aku khawatir banget,”
“Iya, siapa yang mau pingsan? Aku juga nggak mau,”
“Kamu nggak mau pingsan tapi kamu malah nggak makan, itu ‘kan sama aja mancing supaya kamu pingsan,”
“Aku tuh nggak lapar tadi, dan males juga sarapan nggak tau kenapa. Mama sebenarn udah maksa tadi, cuma aku yang tetap nggak mau,”
“Jangan kayak gini lagi pokoknya, aku nggak mau kamu sakit, Shel. Aku khawatir banget sama kamu, Shel,”
“Iya, maaf ya udah bikin kamu khawatir. Tapi aku mau tanya deh, yang bawa aku ke sini siapa ya?”
“Aku lah,”
“Hah? Kok bisa?”
“Aku yang gendong kamu ke sini, aku larang pas ada teman kamu yang mau gendong kamu,”
“Kenapa kamu yang gendong?”
“Ya emang kenapa? Aku pengen gendong kamu, nggak biarin orang yang ngelakuin itu,”
“Kenapa? ‘Kan bisa aja orang lain yang bawa aku ke sini,”
“Nggak aku izinin, Shel,”
Argantata ingin dirinya yang ada untuk Shelina. Ketika orang lain hendak memberikan bantuan, Ia melarang. Ia ingin dirinya saja yang membantu Shelina.
Argantara lebih percaya pada dirinya sendiri ketimbang membiarkan orang lain yang menggendong Shelina kemudian membawa Shelina ke ruang kesehatan kampus.
Tadi disaat Ia fokus dengan upacara yang berlangsung, Ia mendengar bisik-bisik dari teman di sekitarnya bahwa Shelina jatuh tak sadarkan diri. Kemudian barisan Ia berdiri tak jauh dari tempat dimana Shelina berdiri, tanpa pikir panjang Ia langsung menghampiri Shelina yang hendak dibawa oleh seorang lelaki yang merupakan teman Shelina. Namun Ia langsung mengambil peran.
“Biar gue aja nggak apa-apa ‘kan?”
Tanpa niat untuk membuat tersinggung, Ia bertanya seperti itu. Tak ada larangan dari teman lelaki Shelina itu. Dia mempersilahkan Argantara untuk membawa Shelina.
“Perlu aku kasih tau mama kamu nggak? Soalnya tadi pas kamu pingsan, handphone kamu ‘kan jatuh terus dipegang sama teman kamu yang cewek aku nggak tau deh siapa namanya, terus dia ngasih handphone kamu ke aku, dan nggak lama dari situ mama kamu telepon. Tapi pas aku mau jawab, eh udah mati teleponnya,”
“Nggak usah, jangan kasih tau mama nanti mama jadi khawatir,”
“Oh okay kalau gitu. Nih handphone kamu ya, aku taruh di sini,” ujar Argantara seraya menunjuk ponsel genggam Shelina di atas nakas. Shelina segera meraih ponselnya dan membuka pesan. Ternyata tidak hanya menelpon, mamanya juga mengirimkan pesan.
-Shel, udah selesai upacara? Kamu pasti lapar deh nggak sarapan. Pokoknya makan bekal mama ya-
Shelina tersenyum, ternyata mamanya mengirimkan pesan untuk mengingatkan Ia supaya makan bekal yang dibawakan mamanya tadi sebelum Ia berangkat ke kampus.
-Iya, Ma. Aku makan kok. Baru selesai upacaranya, Ma-
“Kenapa senyum-senyum? Baca chat siapa?”
Kening Argantara mengernyit ketika melihat Shelina tersenyum menatap layar ponselnya. Ia penasaran Shelina sedang membaca apa. Karena kelihatannya Shelina tengah membaca. Makanya Ia bertanya untuk menuntaskan rasa penasarannya.
“Mama aku, ingetin aku untuk makan,”
“Duh, tante Indah nggak tau aja anaknya baru abis pingsan,”
“Mama nggak usah tau. Pasti khawatir banget, dan bisa-bisa mama nyuruh aku pulang ke rumah, dan aku nggak mau. Ada kuis nanti jadi aku harus masuk kelas,” ujar Shelina yang tahu betul akan bagaimana reaksi mamanya nanti setelah tahu Ia sempat tak sadarkan diri ketika upacara masih berlangsung.
Sarah datang membawa bubur ayam yang langsung Ia serahkan kepada Shelina dan Sarah menyerahkan sisa uang setelah membeli bubur tadi kepada Argantara namun Argantara menolaknya.
“Simpan aja. Makasih ya udah nolongin gue,”
“Makasih juga, Ga,”
“Shel, tehnya belum lo minum?”
“Oh iya lupa. Gara-gara udah pegang handphone nih. Baru aku minum dikit,”
“Gue ke kelas ya,”
“Iya, makasih banyak ya, Sar,”
Sarah mengangguk dan tersenyum membalas ucapan Shelina. Setelah itu Sarah meninggalkan Shelina bersama Argantara yang sedang membuka wadah bubur ayam yang baru saja dibeli oleh Sarah.
“Nih, makan dulu. Aku suapin ya?”
“Eh nggak usah, aku makan sendiri aja,”
“Udah aku suapin aja. Kenapa sih kamu nggak mau aku suapin? ‘Kan enak kalau disuapin, kamu tinggal buka mulut, Shel,”
“Ya tapi aku bisa makan sendiri, Ga. Aku ‘kan bukan anak kecil, tangan aku juga normal—“
“Iya aku tau, Shel. Siapa yang bilang kamu masih bocil? Siapa yang bilang tangan kamu nggak bekerja dengan normal? Aku ‘kan nggak ngomong gitu. Ayo, aku suapin. Kamu tinggal buka mulut, nggak perlu effort apa-apa,” ujar Argantara membujuk Shelina yang sempat bersikeras ingin makan dengan tangannya sendiri. Bukan apa-apa, Shelina hanya tidak ingin menyulitkan Argantara. Tadi Argantara sudah membawanya ke sini, sekarang mendampinginya, Ia tidak enak kalau sampai makan saja harus Argantara bantu juga. Padahal Ia bisa melakukannya sendiri.
“Makasih ya, Ga,”
“Iya sama-sama. Udah jangan ngomong makasih lagi ya, aku bisa bosan dengarnya,”
“Maaf udah bikin kamu repot ya,”
“Kok kamu ngomong gitu sih?”
Argantara menatap Shelina dengan sorot mata tidak suka. Ia tidak suka ketika Shelina bicara seperti itu. Ia tidak merasa telah direpotkan oleh Shelina.
“Sejak kapan sih kamu ngerepotin aku? Nggak pernah, Shelina. Jangan ngomong gitu lagi ya, aku males dengarnya,”
“Makasih,”
“Iya, ya ampun. Sekali lagi kamu bilang makasih, aku mendingan hilang aja deh dari Bumi,”
Shelina langsung terkekeh. Argantara senang melihat Shelina sudah bisa terkekeh walaupun bibirnya masih pucat, dan masih kelihatan lemah.
“Kamu walaupun muka sakitnya nggak bisa ditutupin, tapi cantiknya masih aja keliatan ya,”
“Udah stop, jangan muji-muji aku. Kamu bikin aku malu aja deh. Aku tuh nggak suka dipuji, Ga,”
“Orang dimana-mana senang dipuji, kamu kok beda sih,”
“Ya lagian kamu ngapain muji aku? Udah tau muka aku nggak karuan pasti, karena abis pingsan,”
“Nggak ah, kata siapa? Tetap cantik kok, ya walaupun pucatnya masih ketara sih,” ujar Argantara seraya menggerakkan tangannya menyelipkan beberapa helai surai hitam Shelina ke balik telinganya. Perlakuan lembut lelaki itu, perhatiannya, tentu membuat hati Shelina menghangat. Shelina perempuan yang mudah dibuat jatuh hati dengan sikap atau perilaku manis seseorang.
“Kamu nggak pernah make up ya kalau ke kampus?”
“Pake pelembab, sama lipbalm kok, kenapa? Jelek ya? Hahaha emang iya. Aku males make up. Nanti bersihinnya lebih malas lagi,”
“Serius? Kok cantik mulu sih? Padahal nggak make up?”
“Ah, udah deh jangan ngomong kayak gitu lagi,”
Shelina malah tidak senang ketika dipuji, Ia menganggap pujian Argantara itu ada unsur kebohongan. Karena Ia melihat dirinya sendiri tak cantik, beda sekali dengan teman-temannya yang selalu niat kalau pergi kemana-mana terutama ke kampus. Sementara dirinya, dalam hal penampilan terbilang tidak pernah niat.
Tapi bagi Argantara malah sebaliknya. Yang kata Kia tidak niat, tapi entah kenapa Shelina tetap terlihat mempesona, sekalipun disandingkan dengan teman-temannya yang niat tampil cantik ke kampus.
“Biarpun apa adanya, tapi tetap aja cantik, seriusan deh,”
“Kalau kamu udah muji kayak gini, aku nggak yakin kamu cuma pacaran sekali, Ga,” ujar Shelina seraya terkekeh menutup mulutnya.
“Kenapa nggak percaya?”
“Ya karena mulut kamu tuh manis, udah seberapa banyak cewek yang kamu puji dan baper sama kamu?”
__ADS_1
“Ya ampun, nggak ada lah, Ratu. Aku jujur cuma pernah pacaran sama satu orang aja,”
“Pacaran sama satu orang tapi dekatnya sama berapa banyak?”
Shelina bertanya sambil terkekeh. Kemudian Ia meminta maaf karena melontarkan pertanyaan itu. Takutnya Argantara sakit hati.
“Nggak dekat sama banyak orang kok, aku bukan tipe cowok yang kayak gitu. Nggak apa nanya hal itu, Shel. Wajar kok, nggak usah minta maaf,”
“Takut kamu tersinggung,”
“Nggak lah, aku nggak gampang tersinggung kok, nggak gampang deket cewek juga. Kalau muji itu, aku emang orangnya nggak gengsi muji,”
“Mama kamu udah pernah dipuji belum? Jangan lupa kho, puji mama kamu dulu,”
“Udah, Ratu. Sering malah, kamu aja nggak tau,”
“Nah, gitu dong, jadi jangan muji aku mulu. Eh tapi kenapa sih kamu kok manggil aku ratu mulu? Jangan, panggil nama aja, bisa ‘kan? Aku nggak jadi ratu, nama aku juga Shelina bukan ratu,”
Argantara jadi senang memanggil Shelina dengan sebutan ‘ratu’. “Nggak apa-apa dong, ‘kan kali aja bisa jadi ratu keduanya aku, semoga ya,”
“Ya tapi—aneh aja gitu. Kok ratu sih?”
“Mau aku panggil raja? Hmm? Kalau raja ya aku lah, aku ‘kan cowok, kali bisa jadi raja kedua kamu setelah Om Gani ya,”
Shelina langsung menepuk pelan keningnya. Argantara ini semakin terang-terangan. “Argantara kayak mau beneran serius ya? Kok dia ngomongnya udah ke arah sana mulu sih? Bingung aku, dia beneran mau deketin aku terus nikahin aku? Serius ini?”
Shelina menatap Shelina dalam diam. Tatapannya dalam. Shelina yang hendak menyuapkan bubur lagi ke dalam mulut Shelina langsung bingung melihat tatapan Shelina.
“Hei, kok ngeliatin aku? Buka mulutnya, ini ada pesawat bawa bensin mau masuk,” ujar lelaki itu seraya tersenyum. Shelina mengerjapkan matanya kemudian membuka mulut segera.
“Sekali lagi udah ya, Ga? Aku udah kenyang nih,”
“Okay, tapi kamu benar-benar udah ngerasa cukup? Nggak lapar lagi?”
“Nggak kok,”
“Masih lemes ya, Shel?”
Shelina menganggukkan kepalanya. Selain masih merasa badannya lemah, kepalanya juga masih sakit kepala tapi tidak separah tadi yang akhirnya membuat Ia limbung ke bawah.
“Kamu biasanya sarapan atau emang nggak?”
“Biasanya sarapan, aku suka sarapan. Tapi nggak tau kenapa tadi tuh males aja. Makanya aku nggak sarapan deh terus dibekelin mama,”
“Udah biasa sarapan tiba-tiba malah nggak sarapan tadi, ya gimana nggak pingsan. Kamu cari gara-gara aja deh. Saran aku mendingan kamu pulang deh, biar istirahat di rumah. Besok kalau udah benar-benar baikan, kamu masuk,”
“Ih nggak bisa, aku ada kuis hari ini. Aku nggak bisa ninggalin,”
“Kamu setia banget sama kuis, sama dosen, sama matkul ya. Setia sama aku juga nanti ya,”
Shelina ikut terkekeh karena ucapan Argantara yang salah tingkah sendiri usai bicara seperti itu dan akhirnya terkekeh sambil menggaruk keningnya yang tidak gatal.
“Aku sih tipe cewek yang setia, Insya Allah,”
“Beruntung dong yang jadi jodoh kamu nanti, Shel,”
“Hahaha nggak tau ya dia beruntung atau malah nganggapnya bala,”
“Sstt heh! Kok ngomong gitu sih? Dapat jodoh ya namanya anugerah, bukan bala. Apalagi kalau jodohnya kayak kamu,”
“Udah-udah, stop ngomong yang macam-macam ya, aku nggak fokus makannya, sekarang mau minum dulu. Dengerin omongan kamu bikin aku haus,”
“Cie yang salting,”
Shelina terkekeh sambil geleng-geleng kepala. Berinteraksi dnegan Argantara ini sangat menghiburnya, apalagi disaat kondisinya seperti saat ini. Ia butuh hiburan memang. Tapi selain menghibur, Argantara memang membuatnya jadi salah tingkah.
“Ini beneran makannya udahan?”
“Iya bener, aku udah kenyang. Makasih ya, Ga,”
“Iya, sekali lagi bilang makasih, aku ilang beneran dari bumi, Shel,”
“Ya jangan dong, kasian mama kamu kalau kamu ilang dari bumi. Emang kamu mau kemana sih?”
“Ke kayangan nyariin bidadari eh nggak taunya bidadari udah turun,”
“Hah? Gimana maksudnya?”
“Iya bidadarinya udha nggak ada lagi di kayangan, udah turun ke bumi. Nah bidadarinya ada di depan aku sekarang nih,”
“Astaghfirullah, kamu nih kenapa sih celetukannya ada-ada aja. Jangan suka ngegombal ah,”
Argantara semakin tidak sungkan untuk mengajak Shelina bercanda, memuji Shelina, bahkan mengucapkan kata-kata manis yang Shelina sebut sebagai gombalan.
“Nggak gombal itu sebenarnya. Emang beneran kamu bidadari,”
“Udah stop ya! Jangan aneh-aneh. Aku manusia, bukan bidadari, bukan ratu, bukan apapun lah pokoknya,”
Shelina mengangkat jari telunjuknya tepat di depan wajah Argantara tanpa menyentuhnya. Argantara yang melihat itu langsung tersenyum tipis dan meraih telunjuk Shelina itu. Tanpa diduga oleh Shelina, Argantara meraih telunjuknya untuk dikecup singkat.
“Kamu mau lanjut istirahat, atau mau ke kelas nih?”
Pertanyaan Argantara itu membuat Shelina akhirnya sadar kalau Ia hampir saja melayang hanya gara-gara telunjuknya di genggam lembut oleh Argantara kemudian dikecup Argantara. Walaupun itu terjadi begitu singkat, tapi cukup membuatnya kaget, sekaligus merasa jantungnya tidak aman.
“Aku mau ke kelas deh, nggak enak lama-lama di sini,”
“Lho, emang kenapa? Ya nggak apa-apa dong, kamu ‘kan emang abis pingsan. Kamu nggak enak sama siapa? Kamu tuh selain insecure, rang nggak enakan juga ya? Nggak baik sih kayak gitu, harus segera dihilangkan. Karena bisa ngerugiin diri kamu sendiri kalau kamu terlalu mikirin orang, nggak enakan sama orang, nggak percaya diri alias insecure,”
“Makasih udah ingetin aku,”
“Nggak enakan sama siapa coba? Sama dosen? Ya ampun, kamu tinggal bilang kalau kamu dari sini karena pingsan tadi pas upacara, atau nggak enakan sama temen?”
“Ya nggak enak aja kalau telat. Aku ada kelas soalnya. Aku nggak bisa terlalu lama di sini,” ujar Kia seraya tersenyum hingga matanya sedikit menyipit. Argantara yang melihat itu menggeram. Bukan karena Ia kesal Shelina tersenyum, melainkan senyum Shelina itu menggemaskan sekali jadi membuat Ia menggeram. Ia menahan dirinya sendiri supaya tidak mencubit pipi Shelina. Sentuhan yang berlebihan masih asing bagi mereka, terutama bagi Shelina yang Argantara tahu pengalaman bersama laki-laki masih minim sekali. Takutnya Ia ditampar bila melakukan itu. Tadi ketika Ia kelepasan menyentuh telunjuk Shelina bahkan mengecupnya, Ia sudah takut akan reaksi Shelina yang kelihatan membeku beberapa detik sebelum akhirnya Argantara merasa mereka canggung. Shelina masih belum terbiasa dan Ia memaklumi itu mengingat mereka juga belum resmi.
Argantara duga, dalam hati mungkin Shelina memaki-makinya yang telah lancang hanya saja Shelina tak melontarkan itu karena masih punya hati.
Shelina tidak tahu saja, kalau Shelina tidak terpikirkan hendak memaki, justru malah dibuat panik dengan jantungnya sendiri yang terasa seperti digedor-gedor, yang ada di kepalanya jantung mau copot, tidak terpikirkan mau memaki.
“Ya udah ayo aku antar ke kelas kamu,”
Argantata mengulurkan tangannya untuk membantu Shelina meninggalkan bangsal, namun Shelina menggelengkan kepala dan memilih untuk turun sendiri.
“Aku bisa sendiri kok, Ga. Jangan kebiasaan bantu aku, nanti aku jadi ketergantungan,”
“Ya udah deh kalau nggak mau dibantuin,”
Argantara menurunkan tangannya yang semula terulur hendak menggenggam tangan Shelina sehingga Shelina mudah menuruni bangsal.
Setelah berdiri dengan posisi sempurna, Shelina menghembuskan napas kasar sambil memperbaiki bajunya supaya rapi lagi. Bajunya sedikit kusut karena Ia sempat berbaring tadi, tapi tidak apa-apa, hanya sedikit saja.
“Aku nggak kayak orang yang abis bangun tidur banget ‘kan?”
“Nggak lah, masih aja perfect,”
“Yang bener? Nggak berantakan banget ‘kan?”
“Nggak, Ratu, eh maksud aku, Shelina,”
Shelina tersenyum dan kemudian melangkah keluar dari ruang kesehatan bersama dengan Argantara di sebelahnya.
“Ga, kamu nggak usah antar aku ke kelas ya. Kamu ke kelas kamu sendiri aja, okay?”
“Emang kenapa?”
“Ya nggak apa-apa, aku bisa sendiri kok,”
“Aku tau, tapi aku pengen mastiin kamu sampai di kelas dengan selamat, nggak ada pingsan-pingsan lagi,”
“Ya jangan sampe dong, lagian aku udah mendingan banget kok,”
“Udah nggak usah nyuruh aku untuk ke kelas aku sendiri. Pokoknya aku pengen antar kamu dulu,” ujar Argantara dengan tegas. Mau setegas apapun Shelina menolak untuk diantar, Ia akan tetap melakukannya supaya Ia merasa tenang. Ia akan bergegas ke kelasnya sendiri kalau Shelina sudah masuk kelasnya dengan keadaan baik-baik saja. Sebenarnya Argantara tahu Shelina belum seratus persen membaik keadaannya. Jadi Ia khawatir bila membiarkan Shelina sendirian ke kelasnya.
“Arga keras kepala ya ternyata. Udah dibilang nggak usah anterin aku tapi dia masih aja,” batin Shelina seraya melirik Argantara yang berjalan di sebelahnya.
“Shel, nanti pulang bareng ya. Aku kelasnya cuma bentar aja hari ini, aku tungguin kamu pulang ya,”
“Nggak usah nungguin aku, Arga. Kamu pulang duluan aja,”
“Nggak ah, aku mau nungguin kamu. Aku pengen pulang bareng, boleh lah,”
“Tapi aku takutnya lama,”
“Ya nggak apa-apa, nanti aku tungguin di kafe kampus ya, aku bakal kasih tau kamu kalau aku udah selesai kelasnya. Aku langsung ke kafe pokoknya, aku nungguin kamu di sana ya,”
“Aku pulang sendiri diam-diam nanti,”
“Lah kok gitu? Sia-sia dong aku nungguin kamu kalau kamu maunya pulang sendiri,”
“Ya abisnya kamu dibilangin nggak mau denger, nggak usah nungguin aku, Ga. Aku mau pulang sendiri aja,”
“Tapi aku pengen pulang sama kamu, Ratu,”
“Ih Arga! Udah dibilang jangan panggil aku Ratu! Kamu nggak paham-paham ya,”
“Iya-iya maaf, Rat—Shel. Maksud aku, Shel. Aku pengen pulang sama kamu. Jadi nanti aku tungguin kamu di kafe kampus okay? Tolong jangan nolak,”
“Emang kamu nggak ada kegiatan setelah ngampus? Lagi kosong? Kok malah nungguin aku? ‘Kan kerajinan banget itu,”
“Aku nanti sore mau main bulu tangkis, tapi itu sore, aku di kafe nungguin kamu sambil ngerjain tugas lah, biar nggak bosen, dan ada manfaatnya nongki di kafe,”
“Oh ya udah kalau emang kamu tetap pengen pulbar sama aku, cie pulbar. Udah main singkatan aja nih aku,”
“Iya pokoknya aku pengen pulbar sama kamu, kapan-kapan kita mabar ya, kamu aku ajakin mabar nggak pernah mau karena katanya nggak bisa. Ih alasan apa itu? Belajar lah biar bisa,”
__ADS_1
“Ngapain belajar main game? Nggak ada manfaatnya tau,”
“Eh kamu jangan ngomong gitu, game ada manfaatnya lho. Bisa ngilangin stres, menantang diri sendiri, bikin kita jadi nggak insecure, pokoknya ada manfaat deh asal mainnya sesuai porsi ya,”
“Aku nggak jago main-main game gitu, Ga,”
“Aku juga nggak jago, Shel. Emang siapa bilang aku jago? Aku tuh cuma sekedar bisa. Pas aku coba main pertama kali tuh, ternyata asyik jadi keterusan deh. Kalau tugas udah kelar, bingung mau ngapain, ya udah aku main game online aja,”
“Kalau aku sih mendingan nonton sama baca novel. Itu aja usah cukup bagi aku, Ga. Nggak bisa aku main game. Pusing yang ada,”
“Iya nggak apa-apa kok, lakuin yang kamu suka aja. Tapi kadang aku pengen mabar sama kamu. Cuma kamu nya ‘kan selalu bilang nggak bisa, jadi ya udah nggak masalah. Lakuin aja apa yang kamu suka, apa yang bisa. Aku nggak akan larang kok, kita punya hobi masing-masing, namanya juga manusia,”
“Tapi aku juga kadang pengen lho nyoba main game, mabar sama kamu. Cuma aku tuh bingung harus ngapain,”
Mendengar curahan hati Shelina soal game, Argantara tertawa. Shelina memang benar-benar polos soal game. Yang dipahaminya hanya tentang drama, dan juga novel.
“Aku juga pengen mabar sama kamu makanya sering aku ajakin tapi kamu belum bisa. Udah aku ajarin masih juga ngaku belum bisa, belum paham,”
“Akhirnya aku nyerah sendiri,” ujar Shelina seraya tertawa. Beberapa kali Argantara mengajarkan dirinya untuk bermain game namun Ia tetap tidak paham. Kalaupun paham, tapi akhirnya malah kalah, Ia kesal sendiri, dan akhirnya memilih untuk mogok main. Begitulah dirinya kalau dihadapkan dengan game. Daripada makan hati sendiri akhirnya Ia kembali ke dunianya sendiri, kembali ke hobinya sendiri yaitu menonton drama Korea dan juga membaca novel.
“Udah hampir sampai di depan kelas kamu. Semangat ya ngadepin materi dari dosen, ingat nanti pulang bareng aku. Pokoknya aku tungguin di kafe kampus, okay?”
Shelina menganggukkan kepalanya dan mengangkat ibu jari. Ia melambai singkat pada Argantara kemudian melangkah masuk ke dalam kelas.
********
“Lo tumben ke sini, jarang-jarang lho,”
Argantara langsung menolehkan kepalanya ketika Ia merasa ada yang menepuk bahunya dari belakang. Ia terkekeh dan langsung mempersilahkan temannya yang bernama Ryan untuk duduk.
“Tumben nongki di sini,”
“Iya gue lagi nungguin orang di sini, sekalian aja ngerjain tugas,”
“Nungguin siapa?”
“Shelina,”
“Oh cewek yang lagi lo pepet itu ya?”
“Pelet ya, inget dipepet, bukan dipelet,”
“Anjrit, serem itu mah. Nggak usah dipelet, cewek-cewek mah naksir sama lo. Termasuk dia, iya ‘kan? Gue liat lo berdua deket banget,”
“Waduh nggak tau tuh dia naksir gue atau nggak, belum pernah nanya juga sih. Takutnya aneh tiba-tiba nanya kayak gitu. Kalau deket sih emang deket,”
“Nggak pacaran aja, bro?”
“Gue lagi mau beraniin diri ngajakin nikah,”
“Hah?! Seriusan lo? Anjay, setuju banget gue deh. Keluatan cocok kalian,”
“Ah masa sih? Lo ngeliatnya begitu?”
“Iya lah, gue ‘kan temen sekelas lo, suka banget liat kalian berangkat bareng, pulang juga gitu. Waktu ulang tahun Diana bahkan lo ngajakin dia,”
“Iya itu gue mulu yang ngajakin. Biar makin deket ‘kan,”
“Anjerrr roman-romannya bakal sat set nih,”
“Sat set apaan? Belum nih, Bro,”
“Tunggu apalagi? Langsung gas lah, jangan pake lama,”
“Masalahnya gue lagi takut-takut ditolak nih, gue harus yakinin orangtuanya lagi, gue takut aja mereka nggak yakin sama gue,”
“Hah? Serius lo takut ditolak? Anjir, sekelas Arga takut ditolak? Nggak habis pikir sih gue, lagian kan udah diikat ya walaupun belum resmi sih,”
“Ya elah, namanya juga manusia, kadang suka ngerasa nggak yakin,”
“Lo tuh spek pangeran, Ga. Kenapa harus nggak yakin sih? Udah, yakin aja. Kia nggak bakal nolak lo, percaya sama gue deh,”
“Soalnya gue udah pernah bikin keputusan nolak perjodohan, Shelina juga gitu. Terus gue berubah pikiran, gue mau deketin dia, berharap bisa sampai nikah. Tapi apa dianya mau? Gue nggak yakin deh,” batin Argantara yang memilih untuk tak cerita banyak pada Ryan. Ia hanya tertawa saja menanggapi ucapan Ryan.
“Apa sebenarnya ada yang lo segani? Dia lagi deket juga sama cowok? Atau gimana?”
“Nggak ada sebenarnya, Yan. Cuma emang gue nya aja lagi benar-benar pengen yakinin diri sendiri sebelum melangkah lebih jauh, sekaligus meredam rasa nggak yakin itu yang ada di hati gue atau dia mungkin, dan hati orangtua kami,”
“Lo berdua cocok tau, seriusan deh,”
“Itu menurut lo, menurut Tuhan takutnya beda lagi,”
“Bayanginnya lo aja yang jadi jodoh dia, jangan bayangin cowok lain, Ga. Nggak-nggak, gue yakin lo sama Kia tuh jodoh,”
“Kenapa lo punya feeling kayak gitu?”
“Nggak tau pokoknya feeling gue begitu. Biasanya nih feeling gue nggak pernah salah, Ga,”
“Waduh, ngeri nih kalau udah bawa-bawa feeling. Mana jodoh lagi yang dibahas,”
“Iya feeling gue kalian jodoh,”
“Mesti gue Aamiin ‘kan ya ini? Karena ini doa baik,”
“Oh iya jelas, jangan lupa kalau nikah undang-undang gue ya! Awas aja lo kalau nggak ngundang,”
“Gue undang kok, tapi masalahnya belum ketauan gue kapan lepas status lajang, Yan. Ah elah lo jangan bikin gue gundah dong,”
“Kenapa gundah? Udah doa aja yang banyak, yang semangat supaya cepet dapat jodoh, atau kalaupun jodohnya udah dekat, ya minta supaya semuanya dipermudah, bener nggak?”
Argantara langsung menepuk singkat kedua tangannya. Ia membenarkan ucapan Ryan dan mengucapkan terimakasih karena pikirannya terbuka setelah bicara dengan Ryan.
“Iya betul,”
“Lo enak naksir sama cewek yang peluang buat barengnya tuh besar, lah gue naksir sama cewek yang ternyata udah punya cowok, anjir,”
Argantara mengerjapkan matanya mendengar ucapan Ryan yang kali ini terbuka soal perasaannya.
“Hah? Ya udah cari yang lain deh, jangan sama cewek orang. Lagian kok bisa naksir sama cewek orang?”
Argantara tidak mau Ryan sampai menyukai perempuan lain. Karena banyak perempuan di dunia ini, Ia melihat Ryan juga laki-laki yang baik. Daripada cari perkara menyukai perempuan yang sudah memiliki kekasih lebih baik cari yang lain menurutnya.
“Iya, ini gue lagi berusaha move on, Ga. Jadi kami sempat deket gitu, eh baru-baru ini ketauan kalau dia udah punya cowok. Parah yak, udah punya cowok tapi deket sama gue, nggak bener juga tuh cewek. Harusnya dia ngehindarin gue lah. Ini nggak, diajak jalan mau-mau aja,”
“Dah, cari yang lain,” ujar Argantara seraya menepuk pelan meja di depannya.
“Iya, gue lagi berusaha move on dulu ini, cari yang lainnya ntaran dulu,”
“Banyak perempuan di dunia ini, lo tinggal pilih deh,”
“Masalahnya cewek nggak ada yang mau sama gue, nyet,”
Ryan tertawa geli. Sementara Argantara berdecak dan mengibaskan singkat tangannya. Ia tidak percaya kalau tidak ada perempuan yang mau bersama Ryan.
“Nggak yakin gue. Lo tuh baik, ganteng juga kok gue liat-liat, masa iya nggak ada yang mau?”
“Abisnya susah bener cari pacar, gue heran banget dah,”
“Belum tepat waktunya, tenang aja,”
Argantara menaik turunkan alisnya setelah berucap hal itu. Ia menenangkan Ryan yang kesal karena menurutnya sulit sekali mencari kekasih. Makanya Ia menganggap tak ada yang mau dengannya.
“Arga,”
Argantara dan Ryan sama-sama menoleh ke arah sumber suara yang ternyata berasal dari Shelina. Argantara tersenyum melihat Shelina berjalan cepat mendekat.
“Sampe ngos-ngosan gitu, santai aja harusnya, Shel,”
“Itu agak gerimis, makanya buru-buru,”
“Ya udah duduk dulu nih, oh iya ada temen aku, Ryan namanya,”
Argantara mempersilahkan Shelina duduk, sekaligus. memperkenalkan Ryan pada Shelina yang mungkin bertanya-tanya Ia sedang bersama siapa.
“Halo, Ryan,”
“Hai, Shelina. Mau pulang bareng Arga ya?”
“Iya diajakin pulang bareng sama Arga. Ryan ini teman satu kelasnya Arga?”
“Yoi, satu kelas. Jadi gue tau nih gimana Arga. Udah, dia baik banget. Langsung tancap gas aja,”
Shelina masih belum paham tiba-tiba Ryan berkata seperti itu seperti tengah meyakinkannya. Ia merasa tidak pernah meragukan kebaikan Argantara.
“Heh kenapa ngomong gitu tiba-tiba?”
“Ya biar dia yakin, bro. Lo tinggal ajakin sat set aja udah,”
Argantara tertawa dibuatnya. Ada bagusnya Ryan melakukan itu supaya Shelina yakin untuk tetap dekat dengan Argantara dan setuju ketika diajak ke jenjang yang lebih serius tanpa banyak pertimbangan lagi karena Argantara itu laki-laki yang baik.
“Eh gue balik duluan ya,”
“Oh iya, ati-ati yak, cari yang lain, inget!”
“Yoi, tenang-tenang gue cari yang lain. Gue balik, Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,”
Shelina langsung memanggil Argantara yang menatap Ryan yang sudah menjauh dari mejanya. Argantara menoleh “Kenapa, Shel?”
“Kamu nyuruh Ryan cari yang lain?”
“Iya, dia naksir sama cewek yang ternyata udah punya pacar,”
__ADS_1
“Oh, terus Ryan kenapa ngomong kayak tadi? Biar aku yakin katanya, kamu tinggal ajakin sat set itu apa maksudnya?”
“Aku ngajakin kamu nikah, maksud dia tuh biar cepetan aja, jangan lama-lama, jangan ragu-ragu,”