Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 52


__ADS_3

“Arga, maaf ya kalau misalnya aku bilang ke Noval, kamu itu teman aku. Aku takut kamu nggak nyaman diakui sebagai tunangan aku. Daripada aku dengar omongan kamu yang nggak enak lebih baik aku nggak usah bilang kalau kamu itu tunangan aku,”


“Kenapa lo berpikir kalau gue bakal ngomong yang nggak enak seandainya lo ngakuin gue sebagai tunangan?”


“Ya soalnya kamu ‘kan setengah hati tunangan sama aku, kamu terpaksa. Aku masih ingat gimana nggak terimanya kamu. Jadi ya lebih baik aku nggak ngakuin kamu sebagai tunangan, iya ‘kan? Aku takut juga kamu marah, kamu nggak terima, kamu jijik,”


Argantara menghembuskan napas kasar lalu menggelengkan kepalanya. Ia melupakan fakta bahwa Ia pernah begitu membenci Shelina. Ia pernah begitu menolak pertunangan mereka dan menjadikan Shelina sebagai pelampiasan. Ia tidak terima ketika Shelina tidak satu pendapat dengannya. Ia menganggap bahwa Shelina itu bodoh. Shelina mau menerima begitu saja perjodohan yang telah dibuat oleh orangtua mereka hanya karena percaya dnegan pilihan orangtua dan terlalu malas mencari jodoh sendiri.


Karena semua itu, makanya Shelina mengambil keputusan untuk tidak mengakui Argantara sebagai tunangannya di mata Noval. Nanti mungkin kalau sudah akrab lagi, Shelina akan cerita pada Noval. Kalau untuk saat ini, berhubung Shelina dan Noval juga baru bertemu setelah beberapa atahu tidak ada komunikasi, tidak pernah ketemu juga jadi Shelina ragu juga bila jujur.


“Nanti aku bakal jujur kalau emang kamu nggak keberatan, tapi kalau kamu keberatan ya sampai kapanpun aku nggak akan jujur,”


“Ya kenapa gue harus keberatan? ‘Kan emang kenyataannya kita tunangan. Gue minta maaf udah pernah nggak nerima pertunangan kita, sekarang gue nerima kok,”


“Okay, lain kali aku akan cerita ke Noval,”


“Kalau ke temen lo yang satu lagi tuh, si siapa namanya? Yang nyokapnya sahabatan sama nyokap lo ya kalau nggak salah,”


“Oh Ganta?”


“Iya itu kali, gue nggak hafal namanya,”


“Ganta juga belum tau, kayaknya Mama belum cerita juga,”


“Kalian makan bareng ‘kan di restoran? Gue sama teman-teman gue liat. Dan mereka mikir kalau nyokap lo sama nyokapnya dia mau jodohin kalian. Pertunangan kita batal,”


“Hah?”


“Iya teman-teman gue pada mikir begitu. Gue diledekin anjir. Abis gue diledek sama mereka. Kesel banget gue. Ya harusnya kalau emang mereka mikir gitu ngapain coba diomongin ke gue? Dih pada nggak jelas banget emang,”


Shelina terkekeh melihat raut kesal di wajah Argantara. Shelina bisa melihat kalau Argantara tidak senang teman-temannya berpikir bahwa Ia dan Ganta dijodohkan, sementara pertunangan mereka batal.


“Kamu kesal ya?”


“Ya kesal lah, pakek nanya lagi lo. Gimana gue nggak kesal orang mereka seenak jidat ngeledekin gue. Berani banget mereka. Belum aja gue gebuk mulutnya satu-satu,”


“Eh Astaga jangan ngomong gitu. Kamu dosa lho,”


“Nggak, bercanda. Ya abisnya mereka pada mancing emosi banget. Gue makan jadi nggak tenang karena diledek abis,”


“Ya udah, berarti itu tandanya kamu cemburu,”


“Apa? Cemburu?”


Shelina menganggukkan kepalanya. Tapi Ia sadar kalau Ia mungkin terlaku percaya diri. Buru-buru Ia menggelengkan kepalanya.


“Nggak-nggak, aku bercanda kok. Jangan marah ya, aku takut kamu marah. Soalnya kamu itu galak banget,”


Argantara menatap Shelina dalam diam. Alih-alih pulangs ekarang juga berhubung tugasnya untuk mengantar titipan Mamanya sudah selesak, Argantara malah betah di atas motornya mengobrol dengan Shelina yang berdiri.


“Gue minta maaf,”


“Kok minta maaf?”


“Ya karena gue galak, jadi bikin lo takut. Harusnya lo nggak perlu takut lah. Gue ini ‘kan manusia biasa, ya sama aja kayak lo,”


“Iya emang kamu salah dan kamu harus minta maaf. Jadi laki-laki itu nggak boleh galak, nggak boleh pemarah. Nanti nggak ada lho yang mau jadi pasangan kamu. Karena apa? Mereka takut!”


Argantara terdiam diultimatum langsung oleh Shelina. Awal pertunangan Ia memang luar biasa galak, tapi menurutnya sejarangs udah berkurang.


“Tapi menurut gue sekarang gue nggak begitu galak lagi deh,”


“Maish, cuma emang udah berkurang aja,”


“Karena gue udah mulai bisa nerima lo,”


Shelina langsung mengangkat salah satu alisnya dan tersenyum. “Beneran?” Tanya perempuan itu yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Argantara.


“Ya baguslah kalau gitu. Sekarang kamu pulang aja kalau kamu nggak mau masuk,”


Argantara menatap tidak percaya. Barusan Ia diusir oleh Shelina. “Lo mau gue pergi? Lo ngusir gue?”


“Ya nggak, tapi kita kayaknya udah kelamaan deh di sini. Makanya ayo kamu ngobrol nya did alam aja sama aku,”


“Ya udah lah gue balik aja. Gue nggak diterima di sini,”


“Hahaha kamu kenapa sih? Baperan nih ceritanya?”


“Nggak tau. Gue mau balik sekarang aja,”


“Ya udah kalau gitu. Makasih ya, jangan lupa sampein makasih juga ke Mama kamu. Aku titip salam juga deh,”


“Hmm sama-sama, btar gue sampein ke nyokap,”


“Okay, hati-hati,”


Argantara menggunakan helm nya setelah itu menstarter motor besarnya itu. Melihat Argantara di atas motor besar, menggunakan helm, Shelina tidak bisa berbohong. “Argantara ganteng banget ya,” batin Shelina.


“Hati-hati ya, Ga,”


“Iya, langsung masuk sana,”


“Ya udah kamu aja jalan duluan nanti baru aku masuk,”


“Ya elah kenapa harus nunggu gue sih? Lo aja sana duluan, abis lo masuk ke dalam rumah, baru gue jalan,”


“Lah dimana-mana tuan rumah ngeliatin tamunya pulang dulu baru titup pintu, bukan sebaliknya,”


Argantara berdecak karena Shelina yang keras kepala. Padahal Ia ingin Shelina dulu masuk ke dalam rumah, barulah Ia pulang.


“Buruan, Shel,”


“Mggak mau, aku nanti aja masuknya kalau kamu udah pergi,”


“Oh lo mau ketemuan sama seseorang ya? Jadi nggak mau masuk duluan sebelum gue pergi supaya bisa mastiin gue benar-benar pergi dan nggak nalik lagi,”


“Astaga, biaa-bisanya kamu mikir begitu,”


“Ya abisnya susah benar dikasih tau,”


Argantara terpaksa menggunakan cara ‘menuduh’ walaupun merasa bersalah. Karena Ia pikir Shelina akan masuk kalau Ia sudah berkata seperti itu.


“Bener lo mau ketemuan sama orang?”

__ADS_1


“Nggak!”


“Ya udah kalau emang nggak mau ketemuan sama seseorang harusnya lo masuk sekarang dong, kenapa harus nungguin gue jalan dulu?”


“Ya karena aku pengen liat kamu berangkat dulu, baru deh aku tenangd an aku bisa masuk ke dalam,”


“Justru kebalik, gue tenang kalau lo udah masuk rumah, baru gue pergi, paham nggak maksud gue?”


Shelina terkekeh sambil berkata “Kenapa seribet ini sih? Kamu pulang tinggal pulang, tapi kenapa ribet banget,”


“Yang ribet tuh lo, Shel,”


“Ya udah iya-iya aku masuk rumah sekarang,”


Argantara tersenyum puas. Ini yang Ia inginkan. Kalau Shelina sudah masuk ke dalam rumah, Ia merasa tenang sebelum pulang.


“Gitu dong,“


“Sesi pamitan aja ribet banget,”


“Yang bikin ribet ‘kan lo, cuma gue maklumin lah namanya juga cewek,”


“Dih bawa-bawa gender, ntar diserang sama cewek sedunia baru tau rasa,”


“Udah buruan sana masuk,”


Rasanya baru kali ini Shelina menghadapi tamu dengan kesabaran tingkat dewa. Niat hati ingin melihat tamunya pulang dulu barulah Ia masuk ke dalam rumah. Tapi yang terjadi justru tamunya itu tidak ingin pulang kalau Ia belum masuk ke dalam rumah.


Menunggu Shelina masuk ke dalam rumah, setelah Argantara memastikan itu barulah Argantara melajukan motornya meninggalkan komplek perumahan Shelina yang begitu tiba di dalam langsung mencari Mamanya sambil bersuara.


“Mama, ini ada titipan dari Tante Tina,”


Shelina menghampiri Mamanya yang sedang menonton televisi di ruang keluarga. Ia langsung duduk di samping Shefia yang langsung menghentikan sejenak tontonannya itu.


“Ya Allah repot-repot Tante Tina ngirimin ini. Mama mau bilang makasih dulu kalau gitu sama calon besan,”


“Iya, aku kaget tiba-tiba Arga datang ke rumah terus ngasih ini deh,”


“Oh Arga yang nganter ya?”


“Iya barusan, Ma,”


“Ya ampun udah ngerepotin Arga juga,”


Shefia langsung menghubungi Tina untuk memberitahu kalau titipannya sudah sampai dan Ia ingin mengucapkan terimakasih secara langsung kepada sahabatnya itu sekaligus calon besannya.


“Halo Assalamualaikum


“Waalaikumsalam iya, Shef,”


“Alhamdulillah kirimannya udah sampai diantar sama Arga. Makasih banyak ya, Tin. Maaf udah bikin repot,”


“Oh udah sampai ya? Alhamdulillah kalau begitu. Semoga suka ya. Itu sengaja aku pisahin kue-kue buat Shelina, tadinya mau dikasih ke Shelina kalau Shelina datang ke arisan tadi eh tapi Shelina nya nggak datang makanya aku suruh aja Arga anterin,”


“Alhamdulillah makasih banyak ya maaf juga Shelina nggak datang. Udah aku suruh ke san. Aku bilang, nggak enak sama Tante Tina, tapi dia ada janji pergi sama temannya, dan dia juga bilang malu ketemu keluarganya Arga. Dia belum percaya diri katanya,”


“Ya Allah, kenaoa mikir gitu? Ih anak itu ya, ada-ada aja. Masa insecure sama keluarga sendiri sih? ‘Kan bentar lagi udah jadi bagian keluarga kami juga,”


Shelina terkekeh pelan sambil menutup mulutnya. Shefia membicarakan orang yang ada di sebelahnya saat ini.


Shelina merasa malu jadi bahan pembicaraan, tapi Ia senang karena mamanya dan juga mama Argantara itu selalu saja akrab seperti ini. Benar-benar sudah seperti keluarga.


“Sekali lagi aku minta maaf ya, Tin,”


“Iya nggak apa-apa, namnaya juga anak muda, kasih punya rasa insecure yang tinggi, padahal apa alasannya coba? Cantik, baik begitu kok insecure? Keluarga pada nanyain Shelina, bilang ya sama Shelina, Shef. Dia banyak ditanyain,“


Shefia langsung melotot ke arah anaknya smabil menunjuk ke arah ponsel yang maish lelejat dengan telinga. Shefia menyuruh anaknya itu mendengar langsung kata-kata Tina. Supaya lain kali Shelina tidak malu-malu lagi untuk bertemu dengan keluarganya Argantara.


“Lain kali deh ketemu, Insya Allah,”


“Aamin, gampang lah. Nanti atur aja waktunya,”


“Ya udah kalau gitu aku tutup teleponnya ya, Tin. Sekali lagi makasih kirimannya, maaf juga soal Shelina yang nggak datang,”


“Sama-sama, Shefia cantik. Iya nggak usah minta maaf, Shelina nggak salah,”


“Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


“Tuh kamu dengar sendiri ya. Awas aja kalau begitu lagi. Nggak enak tau. Udah diundang malah nggak datang. Kekuarganya Arga bsnyak yang nanyain kamu tuh,”


“Aku malu, Ma. Aku nggak tau mau gimana, ngerasa belum pantes aja gitu,”


“Erghh kamu ini kenapa sih jadi insecure begitu? Kamu dengar nggak omongannya Tante Tina barusan?”


Shelina langsung menganggukkan kepalanya. Jelas Ia mendengar, tapi tetap saja yang namanya insecure itu susah untuk dihilangkan. Tapi di lain waktu Shelina berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak seperti itu lagi. Tidak ada yang perlu Ia khawatirkan karena mereka semua baik.


“Datang kalau diundang, jangan malu, jangan nggak percaya diri, jangan takut! Orang mereka baik kok, mereka berima kamu dnegan tangan terbuka. Kamu nya tuh yang tertutup. Nggak boleh kayak begitu begitu. Kamu mau menghargai Argantara dan keluarganya nggak?”


“Iya mau, Mama,”


“Ya udah jangan ragu ketemu mereka. Karena mereka itu orang baik, selagi kamu baik ke mereka ya otomatis mereka jyga bakal bersikao baik ke kamu, Nak,”


“Iya, Ma,”


“Gimana mau berkeluarga kalau kamu nya begitu? Nanti setelah nikah apa maish mau kayak gitu? Wah gawat, kamu sama Arga bakal bertengkar terus. Dia nganggap kamu nggak bisa hargai keluarganya,”


“Siap, nanti aku nggak malu-malu kagi deh aku janji,”


“Ya kalau mau dihargai, kamu uarus menghargai orang dulu, Nak. ‘Kan Mama sering ngajarin kamu kayak gitu jangan sampai lupa,”


“Iya, Mama sayangku,”


******


“Duh kayaknya capek banget ini anak Mama,”


“Macet, Ma. Nggak capek,”


“Nggak capek lah, apa sih yang nggak demi Shelina, iya nggak?”


Argantara berdecak pelan sambil berjalan ke ruang tamu dan membanting badannya di atas sofa.

__ADS_1


“Macet banget heran,”


“Ya namanya juga jalanan, Sayang. Nggak pernah sepi kalau nggak tengah malam,”


“Ya udah aku mau mandi dulu deh,”


“Iya biar kamu istirahat juga,”


Argantara bergegas ke kamarnya. Ketika hendak mandi, tiba-tiba ada panggilan masuk dari Shelina. Ia segera menjawabnya.


“Halo, Ga,”


“Iya kenapa?” Tanya Argantara.


“Apa kamu udah sampai rumah?”


“Udah, baru aja sampai,”


“Baru banget sampai? Ya ampun, kok lumayan lama, Ga?”


“Iya soalnya macet banget tadi,”


“Maaf ya, Ga,”


“Kok lo minta maaf sih? Lo nggak salah ngapain minta maaf coba?”


“Ya gara-gara aku, kamu jadi kejebak macet deh,”


“Nggak usah minta maaf. Lo tuh nggak salah. Udah deh jangan ngomong gitu,”


“Ya udah sekarang kamu istirahat ya, makasih sekali lagi udah mau repot-repot datang ke rumah aku,”


“Iya sama-sama, gue mau mandi dulu,”


“Iya habis itu istirahat ya,”


Sambungan telepon mereka berakhir. Argantara langsung ke kamar amsni untuk memghilangkan rasa tidak nyaman di tibuhnya akibat keringat. Dan dengan mandi, penatnya akibat sempat terjebak macet tadi mungkin bisa hilang.


******


-Shel, cobain bolennya deh. Enak banget tau-


Shelina sedang sibuk scrolling instagra, dan tiba-tiba ada pesan masuk dari Noval yang menyuruhnya untuk mencoba oleh-oleh lhas Bandung yang diberikan Noval kepadanya. Shelina menyukai itu jadi tentunya langsung Ia makan tanpa disuruh terlebih dahulu.


-Udah aku makan dong. Enak banget emang. Makasih ya-


-Kalau cuanki nya udah kamu makan?-


-Belum, nanti jadi teman nonton aku aja-


-Kalau brownies kukusnya?-


Shelina akan keluar dari whatsapp tapi karena ada pesan dari Noval yang bertanya lagi, akhirnya Ia mengurungkan niatnya itu.


-Iya udah dan enak banget, sama kayak bolen. Seenak itu, hehehe-


-Udah pernah ke Bandung belum?-


Shelina pikir obrolan mereka sebatas tentang buah tangan saja. Tapi ternyata Noval sampai bertanya soal pernah atau tidaknya Ia ke kota kembang.


“Udah-


-Berapa kali, Shel?-


-Hmm nggak ingat, pernah diajakin liburan ke sana sama Mama Papa aku. Dan pernah juga temenin Papa ngurus kerjaan di sana. Nyaman banget Bandung tuh-


-Iya bener lho, aku aja betah-


Shelina sampai bingung sebenarnya Noval itu baca balasannya atau tidak? Kenapa cepat sekali membalas? Tapi kalau tidak dibaca, pasti balasan Noval selanjutnya tidak ada kesinambungan.


-Kalan-kapan kita ke sana bareng, sama teman SMP kita yang lain. Semoga bisa ya-


-Iya seru tuh rame-rame kita berangkat ke Bandung. Nggak begitu jauh tapi kotanya bagus, bikin nyaman, yang paling penting makanannya enak-enak banget-


*******


“Iseng ah liat room chat Shelina,”


Argantara sudah selesai mandid an Ia langsung berbaring di atas tempat tidur. Ia meraih ponselnya.


Dan tiba-tiba ada keinginan untuk membuka room chat Shelina dan Ia mengernyit ketika melihat Shelina sedang online.


-P-


Argantara spontan mengetik huruf P kemudian Ia kirimkan langsung. Ia seperti orang yang kurang kegiatan, padahal harusnya Ia istirahat karena suruhan Mamanya dan Shelina juga seperti itu, tapi alih-alih istirahat Ia malah membuka whatsapp dan mengirimkan pesan tidak jelas kepada Shelina.


“Lah kok dia nggak balas-balas? Lagi sibuk chat sama siapa deh? Online tapi pas gue chat malah nggak dibalas,” ujar Argantara.


Untuk yang ke dua kalinya Argantara mengirimkan satu huruf saja ke Shelina. Dan hurufnya masih sama yaitu ‘P’ tapi lagi-lagi tidak dapat balasan.


Sekitar lima belas menit Argantara hanya fokus melihat kata online di abwah nama Shelina. Walaupun shelina sedang berada di dalam aplikasi whatsapp, tapi Shelina tetap tidak membalas pesannya.


Entah kenapa Argantara benar-benar penasaran kenapa Shelina tidak membalas pesannya apdahal Ia online. Akhirnya Argantara menghubungi tunangannya itu.


Malah ditolak panggilannya. Tanpa sadar Argantara menggertakkan giginya kesal. Ia sebagai laki-laki, yang biasanya tidak pernah dapat penolakan, kali ini malah ditolak oleh tunangannya sendiri.


“Biasanya ya, kalau gue nelpon cewek nggak ada tuh cewek-cewek yang nolak telepon gue. Lah Shelina kok beda sih?”


Argantara kembali menghubungi dan kali ini dijawab oleh Shelina. “Halo kenapa, Ga?”


“Kenapa-kenapa! Harusnya gue kali yang nanya kenapa lo nggak balas chat gue pasahal lo online? Lo lagi chat sama siapa? Dan gue telepon tadi pertama kali kenapa dimatiin sih? Emang gue ganggu banget apa? Hah?”


“Ya abisnya tumben banget kamu telpon aku. Jadi aku matiin lah,”


“Terus kenapa chat gue nggak dibalas?”


“Emang chat apa sih?”


“Ping doang,”


“Ah tumben nge-ping,”


“Gue iseng aja terus nggak dibalas sama lo jadi gue bingung,”

__ADS_1


__ADS_2