
“Shelina! Makan sama gue,”
Argantara langsung menarik tangan Shelina yang baru saja keluar dari kelas. Sejak tadi Argantara menunggu Shelina selesai kelas, dan menurut Argantara lama sekali hampir setengah jam Ia berdiri di dekat pintu kelas Shelina.
Setelah Shelina keluar kelas, Argantara langsung meraih tangan Shelina yang kaget karena tiba-tiba tangannya ditarik.
“Shel tunggu!”
Argantara menoleh ke belakang dan Ia mendapati sosok Ganta yang berusaha menyusulnya dan Shelina.
“Dia mau ngapain sih? Gue udah laoar nih pengen makan,”
“Eh bentar-bentar! Dia mau belikin buku aku,”
Argantara berdecak dan akhirnya melepaskan genggaman tangan mereka. Ia membiarkan Ganta menghampiri Shelina untuk memgembalikan buku yang memang milik Shelina.
“Makasih ya udah dipinjamin,”
“Okay sama-sama,”
“Eh kamu mau langsung pulang? Bareng aja ayok. Aku juga mau langsung pulang nih,”
“Aku—“
“Shelina mau makan sama gue, Ganta,”
Sebelum Shelina memberikan jawaban, Argantara sudah menyelak. Argantara tidak memberikan kesempatan untuk Shelina menjawab.
Entah kenapa Argantara khawatir Shelina akan mengiyakan tawarannya Ganta. Padahal sebenarnya tidak. Shelina akan meminta maaf tadinya, karena Ia harus pergi dengan Argantara jadi tidak bisa pulang bersama Ganta.
“Oh gitu ya, okay deh hati-hati kalian, gue duluan ya,”
Shelina tersenyum dan menganggukkan kepalanya, sementara Argantara merotasikan bola matanya.
“Udah ‘kan? Ayo kita makan,”
Argantara akan meraih tangan Shelina lagi namun Shelina langsung menyembunyikan kedua tangannya di belakang punggung.
“Kamu kenapa sih? Tiba-tiba narik tangan aku, ngajakin makan. Bukannya bisa ya ngomong baik-baik gitu? Tangan aku sakit tau ditarik-tarik!”
“Emang sakit? Gue minta maaf,”
Raut wajah Argantara langsung berubah. Shelina bisa tahu kalau sekarang tunangannya itu merasa bersalah.
“Ya sakit lah! Kamu masih aja nanya sih. Tiba-tiba kamu narik tangan aku,”
Walaupun Shelina tahu kalau Argantara sudah merasa bersalah, Shelina tidak akan diam saja. Argantara harus tahu kalau yang Ia kakukan tadi bukanlah hal yang baik.
“Gue minta maaf,”
“Aneh banget tiba-tiba narik tangan aku terus ngajak makan. Ya harusnya bisa lah ngajaknya bsik-baik gitu, jangan bikin kaget, jangan bikin sakit,”
Argantara berdecak pelan lalu menggusar rambut hitam legamnya smabil berkata “Gue tuh lapar. Jadi maaf ya kalau gue udah nyakitin lo,”
“Dan tadi juga kenapa coba kamu nyelak omongan aku? Orang aku mau jawa ajakannya Ganta kok, kenapa jadi kamu yang jawab?”
“Ya karena gue udah terlanjur mau makan sama lo,”
“Iya aku tau, dan aku mau bilang ke Ganta kalau aku mau makan sama kamu dan aku nggak bisa pulang bareng dia. Tapi emang kamu nggak bisa gitu nunggu aku selesai ngomong dulu? Harus banget diselak?”
Argantara memghembuskan napas kasar lagi sambil menyimpan kedua tangannya di dalam saku celana dan membungkuk singkat. “Okay gue minta maaf,” ujarnya sekali lagi kali ini dengan penekanan. Ia sudah berbuat kesalahan sebanyak dua kali dan Shelina kelihatannya kesal. Jangan sampai Shelina membatalkan rencananya yang ingin makan bersama Shelina.
Kalau suasana hati Shelina berantakan karenanya, bisa dipastikan Ia gagal membawa Shelina ke restoran bakso yang baru buka di dekat kampus mereka.
“Ayo kita makan. Gue direkomendasiin sama teman sekelas gue, si Ivana. Dia bilang ada tempat makan bakso baru nggak jauh dari sini. Jadi gue mau ngajakin lo,”
Shelina menganggukkan kepalanya pelan. Argantara mampu bernapas lega sekarang. Nampaknya Shelina sudah memaafkannya.
Mereka kini melangkah bersamaan, tanpa bergenggaman tangan. Argantara tidak mau mencari amsalah, dan Shelina juga selalu tidak punya nyali untuk memulai. Tadi Argantara spontan saja langsung menarik tangan Shelina, tanpa memikirkan dampaknya bahwa yang Ia genggam itu adalah tangan perempuan yang notabene nya tidak sekokoh tangan laki-laki.
“Kamu tadi kayaknya buru-buru banget ngajakin aku pergi, sampai narik tangan aku tuh nggak kira-kira banget. Emang kenapa sih?”
“Hah? Gue udah lapar. Bukannya tadi udah gue jawab ya, Shel?”
“Masa lapar sampai segitunya? Kamu garang ya laparnya, kayak macan. Sampai tangan anak orang kamu tarik aja sesuka hati,”
“Gue minta maaf, Shel. Duh, susah ya punya salah sama cewek, diungkit mulu,”
“Apa kamu bilang? Diungkit mulu? Ya iyalah, ini rasa sakitnya aja masih ada lho,”
Argantara langsung refleks meriah tangan shelina dengan lembut dan mereka masih berjalan.
“Okay kali ini gue lebih manusiawi gandengnya,”
“Udah deh nggak usah gandeng-gandeng. Ornag kita bukan truk kok,”
“Ya barangkali aja sakitnya jadi hilang ‘kan digandeng sama cowok kayak gue,”
“Emang kamu cowok kayak apa?”
“Ya menurut lo gue cowok yang kayak gimana? Ganteng, baik, perhatian, atau apa?”
“Nggak semuanya!” Jawab Shelina dengan tegas padahal yang pertama itu sudah masuk kriteria. Argantara tidak tampan? Itu omong kosong.
Kalau yang kedua dan ketiga memang setengah-setengah. Terkadang Argantara baik, perhatian, terkadang sebaliknya. Barusan saja tangannya yang niat ingin digenggam malah mendapatkan rasa sakit karena Argantara terlalu kuat menggenggamnya, belum lagi Ia seperti kambing tadi ditarik begitu saja. Jadi Shelina merasa wajar kalau sampai memarahi Argantara tadi.
“Serius? Gue nggak semuanya? Nggak ganteng, baik, perhatian?”
“Nggak? Jangan kepedean dulu makanya. Udah senyum-senyum pede nanya ke aku, dikiranya aku bakal muji-muji kamu gitu?”
Tawa Argantara pecah seketika. Ia senang melihat Shelina yang ketus dan bicara tanpa pikir panjang. Biasanya kalau bicara pikir-pikir dulu, menimang apakah ucapannya itu akan menyakiti hati orang lain atau tidak. Sekarang Shelina tak peduli. Shelina tidak mau ambil pusing mau Argantara sakit hati, Argantara tidak terima dengan kata-katanya, Ia abaikan saja.
“Pedes juga kata-kata lo,”
“Ya biarin, karena aku kesal sama kamu,”
“Masih kesal? Ya ampun, ‘kan gue udah minta maaf,”
“Selagi rasa nyeri di tangan aku belum hilang, berarti rasa kesal aku ke kamu juga bakal tetap ada. Intinya kalau tangsn aku udah nggak sakit ya berarti aku nggak kesal lagi sama kamu,”
Argantara menggaruk pelipisnya. Ternyata seperti ini marahnya Shelina. Nampaknya ini benar-benar marah, alias bukan marah palsu.
Sekalipun sudah meminta maaf benerapa kali, tetaps aja Argantara masih belum berhasil untuk menghilangkan rasa kesal yang merundung hati Shelina saat ini.
“Kok tumben bukain pintu mobil buat aku?”
Ketika mereka sudah sampai di sebelah mobil, Argantara langsung membukakan pintu mobil penumpang yang ada di sebelah kiri kursi kemudi dan mempersilahkan Shelina untuk masuk.
Setelah itu Argantara menyusul masuk juga. Ia menggunakan seatbelt, dan tak lupa memerintahkan Shelina untuk melakukan hal yang sama.
“Kita ke tempat makan bakso yang baru itu ya,”
“Iya, tapi kamu belum jawab pertanyaan aku lho,”
“Pertanyaan apa?”
“Kamu kok tumben bukain pintu mobil buat aku?”
“Ya emang nggak boleh apa?”
“Boleh, cuma ‘kan aneh aja gitu,”
“Anehnya dimana?”
“Ya…nggak biasa aja kamu bukain pintu mobil buat aku. Udah kayak Tuan puteri aja aku ya?”
“Iya, bentar lagi jadi Tuan puteri,”
Perlu waktu untuk Shelina mencerna ucapan tunangannya itu. Sebentar lagi jadi Tuan puteri. Kalimat singkat, tapi membuat bingungnya lumayan menghabiskan waktu yang panjang.
“Maksudnya?” Gumam Shelina.
“Maksud gue, kalau kita udah kebih dari tunangan nih, alias udah nikah, ya otomatis lo jadi Tuan puteri ‘kan?”
“Hah? Barusan kamu bilang jadi Tuan puteri dalam waktu dekat. Berarti maksud kamu, kita nikah dalam waktu dekat gitu?”
“Nggak, gue salah ngomong. Yang mau gue omongin tuh yang barusan. Kalau udah nikah ya bakal jadi Tuan puteri,”
“Nggak dalam waktu dekat ‘kan tapi?”
Argantara berdecak mengetahui kecemasan Shelina. Mereka sudah pernah membahas ini. Perjodohan tetap berlangsung tapi pernikahan nanti setelah lulus kuliah.
“Nggak, Shel. Udahlah lo tenang aja,”
“Kamu mau nikah sama aku?”
“Harusnya gue yang nanya, lo mau atau nggak nikah sama gue?”
“Mau, ‘kan kita udah pernah ngomongin ini sebelumnya, iya nggak sih?”
“Nah ya udah sekarang kenapa diomongin lagi?”
“Kali aja kamu berubah pikiran tiba-tiba nggak mau nikah sama aku. Dan mau batalin lertunangan kita ini,”
“Nggak, gue nggak akan ngelakuin itu karena usaha gue sia-sia dong untuk move on dan nerima lo?”
Perasaan Shelina menghangat mendengar ucapan Argantara. Sederhana tapi bermakna. Argantara mau belajar untuk menerimanya dan juga berjalan meninggalkan masa lalu. Mendengar itu, hati Shelina berbunga-bunga.
“Makasih ya,”
“Lo sendiri gimana? Bisa nerima gue atau nggak?”
“Kalau aku sih jangan ditanya ya. Sejak awal aku setuju sama perjodohan itu aku udah berusaha untuk nerima kamu kok,”
“Makasih ya, Shel. Lo yang sabar, lo yang baik, pengertian, bikin gue kayak ditampar kalau ingat momen dimana gue benar-bsnar nolak lo,”
“Sama-sama, makasih juga kamu udah mau nunjukkin usaha kamu untuk terima aku jadi tunangan kamu dan kamu bilang kalau kamu bakal move on,”
“Udah sih kayaknya. Gue nggak pernah ingat-ingat masa lalu lagi,”
__ADS_1
“Oh ya? Aku senang dengarnya. Karena itu berarti, aku nggak harus saingan sama masa lalu kamu untuk dapaton hati kamu, Ga,”
Argantara tersenyum dan mengubit pipi Shelina dengan pelan. Ia tidak mau menyakiti Shelina lagi. Semoga yang tadi tidak terulang lagi. Ia benar-benar seperti dikuasai makhluk halus tadi. Entah kenapa ingin buru-buru membawa Shelina pergi dari kampus.
“Gimana hari pertama si Ganta kuliah sama lo?”
“Hmm? Ya nggak gimana-gimana sih. Biasa aja kok,”
“Dia gangguin lo nggak?”
“Ya nggak lah, emang kita anak TK main ganggu-gangguan? Orang udah dewasa kok, jadi bggak ada istilah ganggu mengganggu,”
“Ada, kata siapa nggak ada?”
“Lho, maksudnya siapa ganggu siapa?”
“Dia ganggu kita, paham?”
“Hah?”
Shelina terperangah beberapa detik berusaha mencerna ucapan Argantara. “Kamu kenapa sih? Apa kamu cemburu?”
“Gue nggak tau ya ini tuh cemburu atau apa. Tapi yang jelas gue nggak senang aja kalau lo dekat sama yang lain,”
“Alasannya apa?”
“Ya—-gue sendiri juga bingung apa alasannya,”
“Cemburu itu tanda cinta lho, Ga,”
“Iya gue tau kok,”
“Aku nggak mau geer sih. Tapi kayaknya, ini kayaknya ya. Kamu cemburu sama aku deh,”
“Nggak tau lah gue. Intinya gue risih liat lo dekat sama yang lain, ini gue udah jujur gue harap lo hargain kejujuran gue ini ya. Jangan diledekin,”
Shelina tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Mana mungkin Ia mengejek apa yang dirasakan oleh seseorang. Ia menghargai rasa kesal Argantara, Ia menghargai ketidaksukaan Argantara terhadap kedekatan dirinya dan pria lain.
“Nggak bakal lah aku ledekin. Emang aku apaan sih? Kerajinan ngeledekin kamu,”
“Ya kali aja lp mau ngeledekin gue yang udah mulai ngerasa nggak suka, nggak nyaman liat lo sama cowok lain siapapun itu orangnya,”
“Jadi gini ya rasanya diposesifin sama Argantara? Hmm seru juga,”
Shelina tersenyum dengan kedua pipi yang sedikit memerah karena hadirnya semburat setelah Argantara mulai menunjukkan kepemilikannya terhadap Shelina.
Mereka tiba di restoran yang menjadi incaran Argantara setelah dapat informasi dari temannya ada restoran menjual bakso yang rasanya enak sekali. Argantara jadi penasaran makanya mengajak Shelina ke sana.
“Wah ada lesehannya, Ga. Ih dnak banget tempatnya, nyaman. Jarang ‘kan tempat makan bakso lesehan begini,”
“Jadi lo mau yang lesehan aja nggak yang pakai bangku?”
“Nggak-nggak, aku mau duduk di bawah, lebih nyaman,”
Argantara menganggukkan kepalanya. Kebetulan khusus tempat makan yang duduknya di bawah adanya di bagian delan, sekentara yang menggunakan bangku itu di bagian dalam restoran.
“Lo beneran nyaman nggak nih?”
“Nyaman banget dong, makah enak kalau makan duduk di tikar kayak gini, berasa lagi pulang kampung deh aku,”
“Oh di kampung lo kalau makan lesehan gini?”
“Kakek Nenek aku ada meja makan sih, tapi kalau keluarga datang, kita lebih suka makan di bawah. Nggak tau kenapa lebih terasa nyaman aja gitu,”
Mereka memesan bakso dua porsi disertai dengan minuman. Pelayan pergi setelah meminta Shelina dan Argantara menunggu sebentar.
“Kita sering-sering makan kayak gini yuk, Ga. Bosan nggak sih makan di restoran yang modern gitu?”
“Iya jujur gue bosan. Kalau yang kayak gini tuh udah jarang, kenapa ya?”
“Ya karena kalah sama zaman, Ga,”
“Padahal ya, cita rasa makanan, dan tempat makan tradisional itu punya ciri khasnya sendiri lho,”
“Ntar bikin bisnis rumah makan yang tempatnya dan makanannya tradisional yuk, Shel,”
“Hmm? Bikim bisnis bareng?”
“Iya, namti tapi kalau kita udah sama-sama siap. Menurut gue, setelah nikah tuh pas untuk bangun bisnis bareng. Berprosensya bareng, ngerasain susah senangnya juga bareng,”
“Ih mau, kayaknya seru tuh tantangan bikin bisnis kuliner bareng sama pasangan,”
Shelina langsung sependapat dengan Argantara. Mereka tahu tidak mudah, karena yang bangun bisnis hanya dengan satu kepala saja susah, apalagi kalau dua kepala. Tapi di situlah letak tantangannya, dan kalau berhasil melewatinya, rasanya pasti bikin hati meteka puas.
“Kita coba nanti ya. Susah sih pasti. Bakal ada perbedaan pendapat ini itu, tapi banyak kok suami istri yang berhasil bangun bisnis bareng,” ujar Argantara.
“Semoga kita bisa juga ya,”
“Aamiin, makanya harus kita coba. Kalau kita nggak coba ya nggak bakal tau bisa atau nggaknya. Dan kita nggak akan pernah kenal tantangannya nanti,”
*******
Melihat ada yang menjual gulali di seberang restoran yang baru saja didatangi, tiba-tiba Argantara ingat dengan momen dimana Shelina pernah menginginkan makanan ringan dan manis itu.
“Ya udah kapan-kapan lo beli sendiri aja. Gue nggak mau beliin lo, ogah!”
Argantara masih ingat sekali bagaimana jawaban yang Ia berikan atas keingiannnya Shelina.
Padahal sangat sederhana, Ia tinggal mendekati penjual gulali itu dengan menggunakan mobilnya namun Ia memilih untuk abai. Menurutnya saat itu, Ia tidak wajib menuruti keingiann Shelina. Ia berpikir kalau Ia menuruti apapun yang Shelina inginkan, bisa jadi Shelina jadi melunjak.
Sekarang momennya beda. Shelina sudah masuk ke dalam mobil setelah mereka makan bersama di sebuah restorab bebek madura. Dan Argantara ingin menebus kesalahannya dulu.
Ia pernah tidak peduli pada keinginan Shelina sekarang Ia ingin peduli. Ya walaupun terlambat sekali membelikan gulalinya, karena sudah berbulan-bulan lalu alias saat awal pertunangan mereka Shelina ingin gulali itu, tapi Argantara berharap tunangannya itu tetap mau menerima niat baiknya walaupun sangat terlambat.
Argantara menyebrang untuk menghampiri penjual gulali senentara Shelina di dalam mobil bingung karena Argantara tak kunjung masuk ke dalam mobil, dan begitu Ia menoleh ke belakang ternyata Argantara kelihatan menghampiri penjual gulali.
“Hah? Arga ngapain ke sana? Kok dia nggak langsung masuk ke mobil sih?” Batin Shelina bertanya-tanya.
Tapi Shelina biarkan saja Argantara menyelesaikan urusannya sendiri. Ia yakin tidak akan lama lagi Argantara akan masuk ke dalam mobil.
Setelah menunggu kurang lebih sepuluh menit, akhirnya Argantara datang juga. Alih-alih membuka pintu bagian pengemudi, Argantara justru msmbuka pintu mobil tempatnya.
“Tebak gue bawa apa buat lo? Bisa nebak? Atau emang udah tau ya?”
“Aku nggak tau, kamu abis ngapain sih?”
“Tebak yang ada di belakang gue sekarang apa?” Tanya Argantara yang sengaja melipat kedua tangannya di belakang punggung menyembunyikan sesuatu.
“Tadi kamu nyamperin tukang gulali bukan?”
“Udah buruan tebak aja,”
“Nggak tau ah,”
Argantara terbahak mendengar Shelina menjawab dengan ketus. Shelina menyerah sebelum berusaha menebak.
“Ah payah nggak mau nebak dulu,”
“Ih aku males ah. Emang apa sih itu?”
Argantara langsung memberikan dua plastik gulali kepada Shelina dan tanggapan Shelina langsung kelihatan bahagia sekali.
“Wah ini serius, Ga?” Tanya Shelina pada Argantara yang langsung menganggukkan kepalanya.
“Iya buat lo semoga lo suka. Maaf ya kalau telat banget. Waktu itu ‘kan lo pernah bilang kalau lo pengen gulali, tapi gue cuek aja, gue malah suruh lo beli sendiri dengan ketusnya gue ngomong ke lo. Nah sekarang gue mau beliin itu buat lo, ya walaupun gue tau udah telat banget, lo mungkin udah langsung beli waktu itu, tapi ini tolong diterima ya,” ujar Argantara sambil tersenyum hangat menatap tunangannya itu.
Mata Shelina berkaca, tentu saja Ia menerima dengan senang hati. Ia sangat bersyukur Argantara mau repot membeli gulali itu untuknya. Tidak peduli terlambat atau tidak yang Ia lihat adalah niat baik Argantara.
“Makasih banyak ya, Ga,”
“Iya sama-sama, semoga lo suka,”
“Suka dong pasti,” ujar Shelina sambil tersenyum.
Setelah itu Argantara langsung masuk mobil dan melajukan mobilnya ke rumah Shelina. Di sebelahnya Shelina sedang menatapi gulali yang dibeli oleh Argantara. Terlalu senang dibelikan gulali oleh Argantara, sampai Ia sayang-sayang gulali itu.
“Kenaoa nggak dimakan?”
“Sayang mau makan nya,”
“Lah, terus mau lo apain kalau nggak dimakan?”
“Aku pajang kali ya?”
“Hahahaha lebay banget masa dipajang,”
“Ya saking aku senangnya dapat inid ari kamu,”
“Makan aja sekarang,”
“Hmm sayang,”
“Ya udha lah terserah, tapi masa iya sih didiemin doang atau dipajang? Itu ‘kan makanan ya harusnya masuk ke mulut lah bukan masuk ke dalam lemarin pajangan,”
“Hmm okay deh,”
Akhirnya Shelina mulai membuka kemasan gulali tersebut dan Ia segera mengambil sedikit dengan jari tangan kanannya kemudian Ia lahap.
“Hmm enak banget,”
“Kayak bocah,”
“Biarin, emang yang boleh makan ini cuma bocah doang?“
“Ya nggak sih, itu buktinya lo makan,”
“Ini kesukaan aku lho waktu kecil, kamu waktu kecil suka ini nggak?”
“Suka,”
__ADS_1
“Oh ya? Sama dong berarti,”
“Ya pantesan kita dijodohin ternyata ada yang sama dari kita berdua,” ujar Argantara.
“Sama-sama suka gulali hahaha,” ucap Shelina.
“Kalau sekarang masih suka nggak?”
“Nggak, ‘kan bukan bocah lagi,”
“Ah masa sih?”
“Iya,”
“Coba ak dulu dong,”
Shelina mengambil gulali setelah itu Ia dekatkan ke mulut tunangannya itu. Argantara langsung berdecak pelan.
“Udah dibilang gue nggak suka lagi, ‘kan gue udah nggak bocah,”
“Ih nggak apa-apa, ayo buruan buka mulutnya langsung hap,”
“Lalu ditangkap,”
Shelina tertawa ketika ucapannya disambung dengan sepenggal lirik lagu masa kecil mereka. Shelina masih mendekatkan gulali itu dengan mulutnya.
“Ayo buruan buka mulut kamu, ntar aku paksa nih,”
“Emang bisa?”
“Bisa,”
“Gimana cara—hmmp,”
“Hahahaha bisa ‘kan aku? Kehebatan aku emang tiada lawan,” dengan bangganya Shelina berkata seperti itu setelah Ia berhasil memasukkan gulali ke dalam mulut tunangannya yang mebetulan sedang bicara.
“Untung aja gue tetap fokus nyetir, kalau nggak bahaya buat kita, Shel,”
“Maaf, aku ganggu kamu ya? Ya udah deh aku diam kalau gitu. Aku makan gulalinya sendiri, kamu soalnya nggak suka. Tadi tuh aku cuma pengen kamu ngerasain gulali lagi setelah sekian lama nggak ngerasain,”
“Lagi deh,”
“Hah? Beneran?”
Argantara menganggukkan kepalanya. Sebelumnya Ia menolak, sekarang Ia malah ketagihan.
“Huh tadi aja ngatain aku kayak bocah, tadi bilang ya nggak suka lagi karena udah nggak bocah eh nggak taunya masih doyan tuh,”
“Mungkin karena diauapin lo kali, Shel,”
“Dih bisa aja,”
“Karena disuapin sama lo, jadi gue mau,” ujar lelaki yang masih fokus dengan stir mobilnya itu. Tapi masih bisa berkata manis dan membuat Shelina malu-malu.
“Bisa aja kamu ah,” ujar Shelina sambil mendekatkan gulali dengan mulut tunangannya itu dan langsung dilahap oleh Argantara.
“Makasih ya,” ucap Argantara.
“Iya sama-sama,”
“Sering-seringa ja nyuapin gue,”
“Emang kenapa?”
“Ya karena tangan lo itu ada penyedapnya deh kayaknya,”
“Jiahhh sa ae kang gombal,”
“Hahahaha nggak gombal ini, serius. Ternyata disuapin lo enak juga. Nyesel gue baru sekarang disuapin sama lo. Besok-besok sualin lagi ya?”
“Nggak ada besok-besok. Kali ini aja,”
“Lah kok gitu?”
“Ya—aku males nyuapin kamu,”
“Kok males sih?”
“Karena—kamu udah dewasa masa maish disuapin?”
“Ya nggak apa-ala dong,”
“Malu aku nyuapin kamu,”
“Emang gue malu-maluin banget ya?”
“Ih bukan gitu, aku tuh paling males diliatin orang. Ngerti ‘kan maksud aku? Aku paking nggak mau jadi pusat perhatian orang dan entah kenapa ya kalau misal ada cewek nyuapin cowok, itu suka diliatin. Jadi aku malu. Padahal mereka tuh belum tentu pacaran gitu, maksud aku barangkali mereka udah nikah tapi kenapa diliatin ya? Bukannya wajar-wajar aja? Kan cuma nyuapin aja apalagi buat yang udah nikah,”
“Oh iya gue paham. Ya mungkin mereka nganggapnya berlebihan kali ya. Orang yang suap-suapan itu lebay, alay, sok mesra,”
“Kamu sama mantan kamu pasti sering ya suap-suapan?” Tanya Shelina dengan senyum usil dan jari telunjuknya mengarah ke Argantara. Ia sengaja menggoda Argantara.
“Nggak sih,”
“Beneran?”
“Iya,”
“Kalau kamu yang disuapin sering dong pasti?”
“Nggak sering juga, kalau lagi bucin aja,”
“Lah bukannya bucin tiap hari,”
“Ya maksud gue kalau lagi pengen disuapin aja gitu, atau dia yang pengen gue suapin. Kalau lagi bucin-bucinnya lah,”
“Terus diliatin nggak?”
“Hmm pernah sih tapi bodo amat,”
“Kalian pernah liburan berdua nggak?”
“Nggak lah, gue belum berani kalau masih pacaran. Beda cerita kalau ada teman ya, nggak cuma berdua doang,” ujar Argantara yang entah kenapa membuat Shelina senang sekali.
“Emang kenapa nanya kayak gitu? Lo pasti ngiranya gue udah pacaran bebas banget ya? Liburan berdua, satu kamar berdua, apa-ala berdua, lo ngira kayak gitu?”
“Hmm sejujurnya sih iya,”
“Nggak, Shel, lo salah kalau ngira kayak giru. Gue emang cinta banget sama mantan gue, bucin banget, liburan pernah bareng tapi ya sama teman-teman dan nggak berdua satu kamar lah,”
“Hidup kamu kayaknya menyenangkan banget ya? Maksud aku, ada jalan-jalan sama teman, kamu punya mantan alias orang yang kamu cinta, kalau aku kayaknya membosankan deh hidupnya,”
“Digaris bawahi, orang yang pernah gue cinta ya. Kata pernahnya diingat tuh,”
“Iya maksud aku, kamu pernah punya orang yang kamu cinta sementara aku nggak, aku nggak ounya mantan, jadi nggak seru kayak orang-orang,”
“Justru gue pengen kayak lo tau,”
“Kenapa?”
“Ya karena hidup lo keliatan anteng-anteng aja gitu. Hidup lo damai, lo anaknya lurus, nggak mau neko-neko,“
“Eh ngomong-ngomong gulali aku satu bungkus udah abis yeayy sisa satu buat di rumah ah,”
“Minum air putih nanti lo batuk,”
“Okay makaish udah ingetin aku. Aku udah sebesar ini masih suka diingetin gitu lho sama Mama Pala aku,”
“Iya biar nggak batuk. Bagus lah diingetin hal yang baik,”
“Kamu diingetin apa sama orangtua?”
“Sama kayak lo kalau abis makan atau minum manis diingetin untuk minum air putih, terus diingetin jangan suka mabok, jangan suka ngobat, sama hamilin cewek di luar nikah,”
“Astaga serem banget yang terakhir, serius kamu langsung ditembak begitu sama ornagtua kamu?”
Argantara menganggukkan kepalanya. Kelihatannya saja Ia anak yang santai hidupnya, anak yang mungkin dianggap ornag bebas, padahal kalau di rumah Ia benar-bsnar dibentuk jadi anak laki-laki yang baik.
“Gue diajarin untuk jadi cowok yang nggak brengsek makanya pas nyokap bokap tau gue suka jahat ke lo, mereka marah banget waktu itu,”
“Kok mereka tau sih?”
“Ya karena gue ngomong ke mereka tentang lo pakai kata-kata gue yang kejam jadi udah pasti deh mereka tau. Gue beulang kali bilang benci sama lo, nggak mau nikah sama lo, gue sama lo tuh nggak cocok jadi suami istri, lo terlalu begini begitu, pokoknya gue sering ngomong yang jelek-jelek deh sama mereka. Makanya mereka marah banget ke gue, tapi guenya susah berubah,”
“Nggak, sekarang udah jauh lebih baik kok. Semangat ya jadi manusia yang lebih baik, Ga,”
“Iya makasih,”
“Terus apalagi larangan mereka?”
“Hmm intinya itu ada 3 yang barusan gue sebutin,”
“Kalau nasehatnya apa?”
“Jangan kasar, tanggung jawab dalam segala hal, terus—-apalagi ya? Gue lupa deh, oh ibadah, iya ibadah,”
“Keren didikan Mama Papa kamu, Ga,”
“Iya nyokap bokap gue emang keren tapi anaknya nggak ah,”
“Ih kata siapa? Anak didikan orangtua yang hebat pasti akan turun ke anaknya. Kamu jangan terlalu merendah gitu ah,”
“Nanti gue kalau punya anak cowok bakal sama sih kayak mereka. Semoga anak gue nggak kayak gue,”
“Jauh amat udah mikirin anak,”
“Ya ini ‘kan kita lagi bicara untuk masa depan, Shel, emang apa salahnya sih?”
“Hmm itu nanti aja, tapi terserah deh,”
__ADS_1
“Gue senang bahas masa depan semoga masa depan gue sebahagia yang gue bayangin,”
“Aamiinkan doa baik,”