Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 58


__ADS_3

“Shel, mau ikut aku sebentar nggak?”


“Kemana?”


Setelah kelas Shelina dan Ganta berakhir, Ganta langsung buru-buru mencegah Shelina untuk keluar dari kelasnya.


“Ke taman, sebentar aja,”


“Emang mau apa di taman? Ada yang mau kamu obrolin?”


“Iya,”


“Di kantin aja, atau di—kelas ini juga boleh,”


“Jamgan, di taman aja. Di sini udah nggak ada orang, Shel. Agak ngeri ngobrol berdua di sini, takut hantu, sama nggak enak juga kalau ada yang liat ‘kan makanya aku minta di taman aja, ruang terbuka. Nah kalau di kantin kayaknya rame deh jam segini,”


“Oh ya udah kalau gitu,”


Shelina menganggukkan kepalanya dan langsung mengikuti langkah kaki Ganta yang mengajaknya ke taman kampus karena ada yang ingin dibicarakan oleh Ganta


“Bentar aja ya, Ganta,”


“Iya nggak lama kok. Aku cuma pengen ngoborl bebtar sama kamu,”


Setelah mereka duduk di taman kampus. Shelina langsung mempersilahkan Ganta untuk bicara.


“Shel, aku mau jujur tentang seauatu,” ujar Argantara yang mengundang kernyitan bingung di kening Shelina.


“Jujur soal apa nih? Kok kayaknya serius banget,” ujar Shelina sambil terkekeh. Shelina perlu mencairkan suasana yang tiba-tiba berubah menjadi tegang.


“Aku mau jujur soal perasaan aku ke kamu,”


“Okay,”


“Shel, aku cinta sama kamu, boleh nggak kalau kita lebih dari sekedar teman atau sahabat?”


Pernyataan sekaligus pertanyaan dari Ganta langsung membuat Shelina terkejut. Ia tidak menyangka kalau apa yang dikatakan oleh Argantara benar.


“Lo liat aja nanti, pasti nggak lama lagi Noval sama Ganta bakal nyatain perasaan mereka. Pegang nih omongan gue,”


Hari ini ucapan Argantara benar terjadi. Ganta mengakui kalau dirinya mencintai Shelina, dan Shelina berharao Noval tidak melakukan hal yang sama. Bisa gila dirinya.


“Ganta, sebelumnya makasih ya udah punya perasaan itu ke aku. Tapi maaf, aku udah anggap kamu sebagai sahabat baik aku, nggak bisa lebih dari itu. Aku mohon kamu jangan kecewa ya


“Kenapa kita nggak coba dulu, Shel? Kamu belum bisa cinta sama aku ya nggak apa-apa ‘kan bisa belajar dulu. Aku yakin kalau cinta bisa karena terbiasa itu bisa jadi kenyataan,” ujar Ganta pada Shelina. Ganta masih belum bia menerima keputusan Shelina yang hanya ingin bersahabat saja tidak lebih.


“Aku minta maaf, aku nggak bisa, Ganta,”


“Kenapa?”


“Aku juga mau jujur sama kamu. Aku sebenarnya udah tunangan. Tapi perlu kamu tau, jauh sebelum aku tunangan, aku anggap kamu sebata sahabat aja, nggak lebih. Aku minta maaf ya, Ganta. Aku lebih nyaman dengan status kita yang kayak gini,”


“Apa? Kamu udah tunangan?” Tanya Ganta dengan ekspresi terkejutnya. Shelina langsung menganggukkan kepala dan tersenyum.


“Iya aku udah punya tunangan, aku minta maaf baru kasih tau sekarang karena memang aku baru ingat dan baru sempat juga cerita ke kamu,” ujar Shelina.


“Aku boleh tau nggak siapa tunangan kamu? Dan kapan kalian tunangan?”


“Udah hampir empat bulan yang lalu aku tunangan sama Argantara,”


Ganta membelalakkan kedua matanya mendengar nama Argantara yang menjadi tunangan Shelina.


Harapannya dibuat pupus. Ia mencintai Shelina dan kalah cepat dnegan Argantara yang sudah mau serius dengan Shelina.


“Kamu serius, Shel?”


“Iya, aku serius. Aku udha tunangan sama Argantara,”


“Aku telat ya berarti?” Tanya Ganta dnegan senyum getirnya. Shelina tersenyum dan mengusap bahu Ganta dnegan lembut.


“Aku minta maaf banget sama kamu. Kita beraahabat aja ya? Aku lebih nyaman dnegan status kita yang kayak gini. Smelga kamu bisa dapat peremluan yang jauh kebih baik daripada aku. Dan aku bakal dukung sama siapapun kamu bersanding nantinya, aku berdoa semoga kamu bahagia,”


Ganta seharusnya sudah siap dengan penolakan ini karena kedua orangtuanya juga sudah mewanti-wanti sejak awal. Ia sudah mempersiapkan diri tapi ternyata Ia belum benar-benar siap karena kalau sudah siap sudah pasti tidak sakit hati.


Tapi yang terjadi justru Ia sakit hati sekali mendapat penolakan ini. Apalagi Ia merasa ditampar dengan kenyataan bahwa Shelina sudah menjadi tunangan lali-laki lain.


“Ganta, jangan benci aku ya, kita tetap bersahabat ‘kan?”


Ganta tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Ia sudah terlanjur menyimpan perasaan untuk Shelina dan Shelina sudha terlanjur menjadi tunangan laki-laki lain.


“Aku sebenarnya udah lama banget suka sama kamu, cuma aku masih yakinin diri aku sendiri untuk ngomong ke kamu. Tapi ternyata aku kalah cepat dari Arga,”


“Sebenarnya aku sama Arga juga dijodohin. Tapi kami salinh terima satu sama lain jadi ya udah kami jalanin aja ini yang udah diatur sama orangtua kami,”


“Oh kalian dijodohin?”


“Iya, bukan karena keinginan kami sendiri sebenarnya. Tapi kami udah terima dengan yakin,”


“Kalan rencananya kalian nikah?”


“Setelah lulus kuliah aja, Ganta,”


Ganta menganggukkan kepalanya. Kemudian Ia memicing ketika menyadari ada seseorang yang mengamati mereka dari kejauhan.


Shelina kaget ketika tiba-tiba Ia dipeluk oleh Ganta. Kemudian tanpa menunggu waktu lama, Shelina melepaskan pelukan Ganta.


“Maaf, Ganta. Ini di kampus, aku nggak mau dibilang yang macam-macam,” ujar Shelina dnegan senyum tak enaknya.


“Okay maaf,” ujar Ganta smabil tersenyum menatap Shelina dan ketika menatap orang yang jauh berada di belakang Shelina, Ia tersenyum miring.


“Okay aku minta maaf, mungkin pernyataan cinta aku barusna bikin hati kamu nggak enaka tau kamu nggak nyaman. Sekarang kita tetaps ahabat baik ya anggap aja yang barusan aku omongin itu nggak pernah lamu dengar, okay?”


“Iya,”


“Sekarang kita pulang bareng yuk?”

__ADS_1


“Hmm, bentar ya aku tanya Arga dulu dia dimana. Biasanya aku diajakin pulang bareng sama dia,” ujar Shelina seraya meraih ponselnya di dalam saku celana. Ia hubungi Argantara yang langsung dijawab oleh laki-laki itu.


“Kenapa?!”


Shelina spontan menjauhkan pos elnya dari telinga ketika Argantara menjawab dengan ketus.


“Kok gitu?”


“Kenapa lo hubungin gue?”


“Kita pulang bareng nggak?”


“Terserah lo,”


“Kamu dimana sekarang?”


“Di parkiran,”


“Okay aku ke sana sekarang,”


Mendnegar ucapan Shelina, Ganta mengenal napas pelan pertanda kecewa. Ia gagal pulang dengan Shelina.


Shelina menyimpan ponselnya di dalam skau kemudian Ia langsung menatap Ganta sambil menjelaskan “Ganta aku minta maaf ya. Aku pulang bareng Arga. Lain kali aja ya kita pulang bareng,”


Shelina harus menjaga hati tunangannya. Disaat Argantara akan pulang, Ia tidak mau pulang lebih dulu dan bersama laki-laki lain.


Gabta tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya dan menjawab “Iya nggak apa-apa kok,”


“Aku duluan, Ganta,”


“Hati-hati,” ujar Ganta pada Shelina sesaata ebslum Shelina pergi menghampiri tunangannya di area parkir kampus.


Ganta menghembuskan napas kasar, dna mengepalkan kedua tangannya yang ada di atas paha.


“Kenapa bukan gue yang jadi tunangan Shelina? Kenapa bukan gue yang dijodohin sama Shelina? Gue cinta sama dia, gue pengen jadiin dia milik gue tapi gue dikalahin sama Arga? Sialan!”


********


“Hai,”


Shelina menyapa Argantara dengan hangat dan ceria seperti biasa. Argantara langsung melajukan mobil tanpa membalas sapa Shelina.


“Eh kok kamu diam aja sih? Aku nyapa kamu lho,”


“Kenaoa lo nyapa gue?”


“Ya karena aku pengen nyapa aja. Masa kamu nggak jawab sih? Sombong deh,”


“Jadi lo serius ya mau balas dendam sama gue?” Tanya Argantara dengan nada sinis, Argantara melirik Shelina dengan sinis juga.


“Hah? Maksud kamu?”


“Nggak usah pura-pura polos deh. Lo ternyata serius mau balas dendam sama gue. Padahal gue udha berpa akali bilang ke lo, jangan pernah balas dendam ke gue dengan cara bikin hati gue sakit, lebih baik lo sakitin fisik gue ketimbang harus hati gue yang sakit,”


“Arga, kamu ngomong apa sih? Aku nggak paham deh,”


Shelina langsung tersentak kaget begitu nada bicara Argantara naik. Belakangan ini Argantara tidak pernah mengeluarkan suara tinggi, sekarang tiba-tiba Argantara seperti dulu algis aat mereka awal-awal tunangan.


“Kamu kenapa sih?! Kok tiba-tiba matah kayak gitu?”


Shelina tidak mau kalah. Ia tidak terima ketika tiba-tiba dibentak oleh Argantara. Padahal Ia tidka melakukan kesalahan apalun, Ia tidak melakukan hal yang disebut oleh Argantara.


“Lo jangan bohong sama gue!”


“Ih kamu benar-benar aneh. Udah deh daripada kita berantem di tengah jalan kayak gini ya mendingan kamu turunin aku di pinggir jalan aja deh, aku bis akok pulang sendiri. Kalau tau bakal dimarahin sama kamu kayak gini mendingan aku pulangs ama Ganta aja tadi!”


Mendengar nama Ganta disebut-sebut oleh Shelina, hati Argantara menjadi semakin panas. Tadi Ia sudah dibuat panas melihat Ganta bersama Shelina di taman, bahkan mereka berpelukan, sekarang mendengar Shelina menyebut Ganta hatinya kian panas.


“Lo jangan aebut dia deh di depan gue, muak gue tau nggak?”


“Tadi dia ngajakin aku pulang bareng harusnya aku—“


“Jangan ceirta apalun soal dia, lagian gue udha liat kok kalian berduaan di taman tadi, bahkan pelukan. Manis banget sih, hubungan kalian tu sahabat atau apa sebenarnya?”


“Oh jadi kamu marah karena ngeliat aku sama Ganta tadi?“


Shelina mulai bisa memyimpulkan penyebab kemaraahan Argantara yang kesannya tiba-tiba ini sepertinya karena melihat Ia dan Ganta di taman. Dan Argantara salah paham.


“Gue liat kalian pelukan,”


“Itu dia yang meluk,”


“Ya apapun itu alasan lo, intinya kalian pelukan, ada interaksi fisik,”


“Tapi aku juga nggak mau kok dipeluk sama dia, jangankan sama dia, sama kamu aja aku nggak mau,” jawab Shelina dengan ketus.


“Oh gitu? Liat lo! Nanti gue peluk sampai nggak bisa napas,” ujar Argantara dengan penuh penekanan.


“Aku aja nggak tau kalau dia bakal peluk aku, dia tiba-tiba aja meluk aku, tapi aku langsung lepasin,” ujar Shelina.


“Jadi kamu jangan slaah paham ya!“ lugas Shelina.


“Lo pikir sendiri deh gimana gue nggak salah paham orang gue cari lo di kelas nggak ada dan gue dnegar dari teman lo kalau lo berdua Ganta ke taman. Dari situ aja gue udah mikir yang nggak-nggak, eh ternyata benar kalian ngobrol berduaan terus pelukan deh,” ujar Argantara dengan sinis.


“Dia tadi jujur soal perasaannya ke aku, Ga,”


“Benar ‘kan dia cinta sama lo?”


Shelina menganggukkan kepalanya. Argantara tersneyum sinis dna geleng-geleng kepala. “Udah gue bilang, gue tuh laki-laki, gue tau giamna tatapan kaum gue kalau lagi punya perasaan lebih ke cewek,”


“Tapi aku udah tegasin ke dia kalau aku cuma bisa anggap dia sebagai sahabat aja, nggak lebih. Dan aku juga udah bilang ke dia kalau aku udah tunangan sama kamu sekitar hampir bulan yang lalu,”


“Terus gimana reaksi dia? Pasti cemburu ya?”


“Aku nggak tau lah gimana isi hati dia setelah tau kalau aku udah tunangan sama kamu tapi yang jelas aku udah tegasin ke dia supaya dia nggak berharap lebih lagi ke aku,“

__ADS_1


“Setelah ini apa yang bakal lo lakuin? Lo bakal jaga jarak atau gimana?” Tanya Argantara pada tunangannya itu.


“Aku tetap anggap dia sahabat aku, Ga. Aku sama dia juga udah sepakat untuk tetap sahabatan. Dia bilang ke aku, anggap aja pengakuan dia ke aku tadi nggak pernah aku dengar,” ucap Shelina.


“Tapi lo harus sewajarnya aja deh sama dia. ‘Kan lo udah tau gimana perasaan dia ke lo,”


“Aku emang wajar terus,”


“Menjauh aja bisa nggak sih?”


“Jangan, aku sama dia ‘kan sahabatan. Amsa aku jauhin dia sih? Lagian ‘kan dia juga udha tau status aku, dia pasti laham lah harus gimana bersikap,”


Argantara berdecak pelan. Shelina tidak mau tahu betapa tidak terimanya Ia melihat Shelinadan Ganta tetap akrab setelah Ia tahu kalau Ganta menyimpan rasa untuk tunangannya. Jujur Argantara takut Ganta melakukan seribu satu cara untuk memiliki Shelina.


“Kalau untuk menjauh dari dia, jujur aku nggak bisa, Arga karena biar gimanapun dia itu sahabat aku, orangtuanya juga sahabat orangtua aku, mereka kenal sama aku, aku nggak mungkin tiba-tiba ngejauhin anak mereka yang baru aja jujur soal perasaannya. Sebenarnya nggak ada yang salah kok dari perasaan Ganta ke aku. ‘Kan manusia nggak bisa ngendaliin perasaannya sendiri. Semua orang berhak untuk kagum, suka, atau cinta, sama siapapun. Cuma kesannya salah ya karena aku sama dia sebelumnya udah jadi sahabat ditambah lagi aku sekarang udha tunangan sama kamu. Ya walaupun sebenarnya banyak ya kisah percintaan yang mulanya dari persahabatan. Tapi aku nggak bisa. Aku udah minta maaf sama dia,”


Argantara tiba-tiba meraih tangan tunangannya itu dengan lembut kemudian Ia genggam dengan erat.


“Jangan tinggalin gue ya, Shel,”


“Emang siapa yang mau tinggalin kamu?”


“Gue takut lo ninggalin gue demi dia, atau siapapun itu,”


“Kalau aku mau ninggalin kamu, ya aku erima aja tadi pernyataan cibta dia dan aku belajar cinta sama dia, gampang ‘kan?”


Argantara memilih untuk menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia perku waktu untuk bicara empat mata dengan tunangannya itu.


“Lo jangan ngomong gitu dong, gue jadi takut,“


“Apa sih yang bikin kamu takut? Hmm? Nggak usah takut lah, santai aja. Udah aku bilang kalau aku mau ninggalin kamu, ya aku terima aja cintanya dia terus aku belajar untuk cinta sama dia, tapi apa? Aku bilang kalau aku udah tunangan sama kamu, dan aku cuma bisa anggap dia sebagai sahabat aku aja,”


Argantara menghembuskan napas kasar. Kemudian menatap Shelina dengan dalam. Shelina yang merasa diperhatikan sebegitunya langsung menaikkan salah satu alisnya.


“Kanapa sih?”


“Jangan kemana-mana ya, Shel,”


“Iya,”


“Gue nggak maunkehilangan lo, Shel,”


“Kenapa? Ada alasan yang bikin kamu nggak mau kehilangan aku?”


“Ada,”


“Apa itu?”


“Gue belum berani ngomongnya akrena gue maish pelru waktu untuk mastiin itu. tapi yang jelas gue nggak mau kehilangan lo, tolong jangan tinggalin gue, Shel,”


“Iya, udah ah jangan amsang muka sedih gitu dong, aku jadi nggak tega liatnya. Kamu kayak anak kecil yang minta permen sama ibunya tau nggak? Akting kamu bagus,”


“Sembarangan lo kalau ngomong! Gue nggak akting ya, ekspresi muka gue mengikuti gimana perasaan gue sekarang. Gue lagi sedih, gue berharap lo nggak ninggalin gue dan eskkresi muka gue nggak taunya malah ngikutin dan gue nggak sadar lho kalau muka gue kayak orang hilang arah,”


“Ih kamu nggak kayak hilang arah kok hahahah,”


“Semoga dia nggak maksain ekadaan ya, Shel,”


“Ganta?”


“Iya, gue takut dia maksa mau milikin lo,” ujar Argantara sambil Ia bersiap untuk kembali melajukan mobilnya namun Shelina menahan lengannya. Kemudian Shelina mengulurkan sebotol air minum yang sudah Shelina buka tutupnya.


“Biar tenang, coba minum dulu deh,” ujar Shelina pada tunangannya itu.


Shelina bisa melihat kalau Argantara cemas. Lelaki itu mencemaskan sesuatu yang belum tentu terjadi. Takt kehilangannya, takut Ia pergi, takut Ganta memaksa ingin memilikinya, sepertinya terlalu banyak ketakutan yang merundung Argantara sekarang.


“Udah kamu tenang aja, jangan mikir yang macam-macam,”


“Kita jalan sekarang ya,”


“Iya,”


“Mau kemana dulu?”


“Langsung pulang,”


“Temenin gue makan dulu deh, gue belum makan siang nih, udha jam dua,”


“Lho, kamu belum makan siang? Kenapa sih?“


“Belum sempat,”


“Ya udah terserah kamu mau makan dimana,”


“Barangkali dengan makan gue nggak kepikiran Ganta terus ‘kan,”


“Cie mikirin Ganta, nggak mikirin Noval juga ‘kan? Hahaha bercanda kok,”


“Malah disebut dua-duanya, males banget gue sama lo ah,”


“Tadi pas Ganta nyatain perasaannya ke aku, aku langsung keingat sama omongan kamu yang bilang kalau bentar lagi Ganta atau Noval bakal nyatain perasaan mereka dan ternyata bener dong, hari ini si Ganta. Semoga aja nggak usah ada yang lain. Aku bisa gila soalnya,”


“Ya jangan dong, masa gila cuma karena disukain sama beberapa cowok


“Ya iyalah, kamu bayangin aja deh jadi aku. Aku selama ini nggak pernah tebar pesona, dan banyak yang kebih daripada aku kenapa sahabat aku malah suka sama aku coba?”


“Ya itu artinya lo emang secantik dan sebaik itu. Lo layak disukai,”


“Tapi anehnya aku nggak bisa bikin kamu suka, itu masih jadi pertanyaan besar sih,” pancing Shelina yang langsung membuat Argantara terkekeh.


“Sok tau, kalau suka ya udah lah. Gila aja kali nggak suka sama lo,”


“Kalau lebih dari itu?”


“Hmm iya atau nggak ya? Menurut lo gimana?”

__ADS_1


Shelina membuang muka tak menjawab pertanyaan Argantara yang langsung tertawa karena reaksi Shelina itu.


__ADS_2