Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 148


__ADS_3

“Sakit, Sayang,”


Keluh Argantara sambil mengusap wajahnya. Ia mencebikan bibirnya gemas yang membuat Shelina bergedik geli.


“Lagian kamu cuekin aku terus belakangan ini,”


Argantara mengecup bibir istrinya yang sedikit maju. Argantara terkekeh melihat istrinya yang melipat kedua tangannya di depan dada.


“Udahlah aku masuk aja daripada disini jadi lalet,”


Saat Shelina ingin beranjak dari pangkuan Argantara tubuhnya kembali limbung di atas paha Argantara akibat tarikan tangan Argantara yang lembut.


“Jangan ngambek dong. Aku janji deh gak bakal cuekin kamu lagi,”


Semenjak kandungannya berusia dua bulan, Shelina berubah menjadi sosok yang manja dan galak sangat berbeda dari sosoknya yang dikenal lembut.


Sebagai suami yang baik, Argantara harus selalu siap siaga dalam keadaan apapun termasuk dalam memenuhi hal-hal yang diinginkan Sheva.


Argantara sangat senang karena ia telah di beri kepercayaan oleh sang pencipta untuk menyandang status ayah. Argantara tak pernah menyangka kalau tujuh bulan lagi ia akan menyentuh darah dagingnya yang saat ini sedang tinggal di rahim istrinya.


"Kamu lagi ngapain, Nak? Sehat terus ya. Papa udah gak sabar ketemu dedek."


Argantara mengusap lembut perut Shelina seraya memberi kecupan hangat untuk buah hatinya. Tubuh mungilnya memang belum bisa ia sentuh tapi Argantara yakin dengan belaian dan kecupan akan membuat jabang bayinya merasa tenang karena perlakuan orangtuanya.


"Papa?"


Argantara mengangguk antusias menatap Shelina yang masih nyaman di posisinya.


"Iya aku mau dipanggil papa. Kalau kamu mau dipanggil apa? Tante? Om? Kakek? Atau---"


Argantara tersenyum menggoda pada Shelina yang sedang membulatkan matanya.


"AAAAAAA KAMU JAHAT BANGET SIHH."


Shelina memukul Argantara habis-habisan. Ternyata dibalik sikapnya yang lumayan dingin, Argantara juga merupakan sosok yang jenaka dengan orang terdekatnya.


Argantara tertawa karena Shelina masih memukul dadanya dengan manja.


"Masa aku dipanggilnya kayak gitu sih? Tega banget kamu!"


"Becanda, mama,”

__ADS_1


****


"Kamu gak boleh pake sepatu yang berhak tinggi lagi ya?"


Argantara menatap Shelina dari cermin ketika ia membenarkan jambulnya sedikit.


Shelina yang sedang mencari sepatu di lemari khusus sepatu dan sandalnya pun menoleh lalu menatap Jino bingung.


"Lho emang kenapa? Masa gak boleh sih?”


"Gak boleh sayang! Di perut kamu ada anak kita! Pake sendal atau sepatu yang tinggi itu berbahaya buat kandungan kamu!"


"Sekarang aku bakal buang atau bakar itu semua sepatu tinggi kamu."


Argantata memang tak pernah bercanda dalam setiap ucapan yang keluar dari bibirnya. Lelaki itu berjalan dengan yakin ke arah tempat penyimpanan alas kaki Shelina dan akan mengambil seluruh sepatu juga sendal berhak tinggi yang selama ini menjadi koleksi wanita cantik itu.


Tangan Argantara mengambil satu persatu sepatu lalu diletakan di lantai untuk ia musnahkan. Karena kalau tidak di hilangkan dari hadapan istrinya maka sama saja ia mencari musibah lagi yang akan mencelakai istri dan juga buah hatinya.


"Kamu ngapain sih? Kok sepatu aku di keluarin semua?"


Shelina menahan tangan Argantara yang masih beraksi di lemari sepatunya. Sungguh Shelina tak terima jika seluruh sepatu yang ia miliki selama ini di musnahkan oleh Argantara.


"Aku mau bakar aja,”


"Selesai. Sekarang aku mau bawa ke taman belakang,”


Argantara membawa seluruh sepatu itu ke dalam pelukannya karena terlalu banyak akhirnya tak sedikit yang terjatuh di lantai karena tangannya tak bisa mencapai seluruh koleksi istrinya.


"Aaaaa Jangan dibakar, Arga. Please, aku janji gak bakal pake itu lagi sebelum aku ngelahirin. Boleh ya?"


Argantara tak memperdulikan Shelina yang menangkup kedua tangannya didepan dada memohon pada Argantara.


Argantara tidak akan termakan oleh bujuk rayu Shelina. Ini semua demi Shelina dan juga si bayi. Shelina adalah tipe wanita yang terkadang keras kepala. Percuma jika Argantara sudah melaranganya, selagi Shelina masih bisa mengelak maka ia akan melakukan apa yang dia mau tanpa peduli atas larangan suaminya yang sebenarnya punya tujuan.


Shelina mengikuti langkah lebar Argantara menuju taman belakang mereka dimana sepatu-sepatu mahal itu akan hangus ditangan Argantara.


Shelina tak henti merengek meminta agar Argantara menghrungkan niatnya. Tetapi Argantara tetaplah Argantara! Jika Shelina saja bisa keras kepala lalu kenapa Argantara tidak bisa seperti itu juga?


Dan di sore hari itu Shelina harus menerima kepergian sepatu-sepatunya yang sudah berubah menjadi tidak berbentuk lagi.


"Ah--E--Enggak ini--"

__ADS_1


"Lepas wedges itu atau kita gak jadi pergi?!"


Ucapan Argantara berhasil membuat ucapan Shelina yang tergagap langsung terhenti. Sheva mematung.


Shelina masih diam diposisnya tak menjalankan perintah Jino tadi. Sementara Fadli menghela nafasnya pelan ketika menyaksikan pertengkaran kecil rumah tangga putrinya.


Argantara bersedekap dada menunggu keputusan Shelina tetapi istrinya itu masih diam. Sepertinya Shelina tak rela jika wedges satu-satunya yang tersisa harus berakhir secara tragis juga.


"Ayo lepas, Sayang! Aku gak mau ngomong lebih dari dua kali, lho!"


Peringat Argantara yang memang sangat tidak suka mengulang perkataan yang dia ucapkan Apalagi jika itu mengandung perintah.


"Shelina! Kamu denger suami kamu ngomong kan?! Ayo lepas wedges kamu! Jangan egois karena itu bisa membahayakan anak kalian!"


Kali ini Fadli ikut angkat bicara. Ia sangat setuju dengan langkah Argantara yang menurutnya sudah sangat tegas menghadapi wanita yang keras kepala itu.


Shelina menghela nafas pelan lalu berjalan menuju sofa yang terletak di sudut ruangan papanya.


Ia menunduk untuk membuka kedua wedges berwarna putih itu. Shelina merasa ia telah melakukan kesalahan besar. Hampir saja ia membahayakan buah cintanya bersama Jino. Ucapan Argantara dan Fadli berhasil menyadarkan Shelina bahwa sekarang sudah ada makhluk kecil yang harus ia jaga sepanjang hidupnya.


"Terus aku pake sepatu apa?"


Shelina menyandarkan tubuhnya di sofa single. Ia mendekap kedua tangannya di dada. Ia mengalihkan pandangan ke arah lain karena rasa jengkel masih sedikit ada di hatinya.


Argantara berjalan mendekat kearah Shelina lalu mengusap lembut pucuk kepala istrinya yang tertutup hijab itu. Argantara sedikit menunduk untuk mengecup kening Shelina dengan tulus.


"Kamu bisa pake sneakers aku yang ada di mobil,”


Shelina mendongak dengan wajah yang menggemaskan lalu mengalihkan pandangannya dari mata Jini.


“Gak muat lah,”


“Muat! Kamu jangan banyak alasan deh! Ini perintah bukan pertanyaan jadi nurut sama aku!"


“Tapi kalau aku pake sepatu kamu itu sama aja aku pake sepatu boots,”


“Ck! Yaudahlah gak usah pergi sekalian!"


“Aaaaaaa Aku mau pergi, Arga,”


Shelina menghentakan kaki telanjangnya di lantai. Ia tak akan kalah dalam perdebatan.

__ADS_1


“AAAAA ARGA TURUNIN."


__ADS_2