
“Bye Gante hati-hati ya,”
“Salam untuk Mamanya ya, Ta,”
“Iya, Tante. Siap nanti aku sampaikan salamnya ke Mama. Makasih udah diterima dengan baik walaupun aku ini udah orang jauh, yang sekarang mau jadi orang dekat lagi,”
Shelina dan Shefia terkekeh mendengar ucapan Ganta yang merasa sangat bahagia sekali kedatangannya disambut dengan begitu baik, diterima dengan tangan terbuka oleh Shefia dan Shelina.
Gante masuk ke dalam mobil. Ia membuka jendela mobil dan melambaikan tangannya pada ibu dan anak itu, lalu setelah itu mobilnya melaju pergi meninggalkan kediaman Shelina.
Shefia melangkah masuk lebih dulu ke dalam rumah, sementara Shelina masih bertahan di depan gerbang rumahnya karena Ia melihat mobil yang tidak asing.
“Shel, ayo masuk, Nak. Ngapain kamu diam disitu?”
Shelina menoleh ketika dipanggil oleh mamanya. Ia tersenyum dan menganggukkan kepala.
“Iya Mama duluan aja,”
__ADS_1
“Ya udah jangan lama-lama, emang kamu mau ngapain sih?”
“Itu kayak mobilnya Arga, aku mau mastiin dulu,” ujar Shelina pada mamanya yang akhirnya mengangguk dan melanjutkan langkah kakinya meninggalkan Shelina yang belum mau diajak masuk ke dalam rumah karena ingin memastikan bahwa mobil yang Ia lihat sekarang ini adalah mobil Argantara.
Shelina menghampiri mobil yang berada tepat di depan sebuah gerbang rumah yang letaknya di sebelah rumah Shelina. Shelina belum hafal plat nomor mobil tunangannya itu tapi matanya langsung salah fokus begitu tak sengaja menatap karena tiba-tiba jadi teringat mobil Argantara yang model dan warnanya sama.
“Kalau beneran ini Arga kenapa dia nggak masuk ke rumah sih? Emang sih mobil itu bukan limited edition, tapi aku langsung keingat sama mobilnya Arga deh setelah liat mobil itu. Samperin ah kali aja beneran Arga,”
Shelina langsung berjalan mendekati mobil yang parkir sembarangan di depan gerbang rumah tetangganya. Kalau memang itu bukan Argantara, Shelina akan pura-pura mengingatkan si pemilik mobil bila seandainya dia di dalam mobil agar memindahkan mobilnya karena menghalangi jalan walaupun kesannya terlalu ikut campur sebab bukan gerbang rumahnya yang dihalangi oleh mobil tersebut.
Angel langsung mengetuk jendela mkbil dengan sopan dan langsung dibuka oleh orang yang berada di dalam mobil.
“Arga? Kamu kenapa di sini? Kenapa nggak masuk aja?”
“Ya lagi mau aja, emang kenapa?”
“Hah? Kamu jadi mata-mata tetangga aku ya? Hidup di zaman sekarang tuh yang lurus-lurus aja, Ga. Jangan yang neko-neko, ntar ribet urusannya,”
__ADS_1
“Apaan sih? Jangan ngomong sembarangan deh,” sahut Argantara dengan ketus tapi wajahnya tanpa ekspresi.
“Terus kamu ngapain di sini?”
“Ya suka-suka gue lah mau ngapain,”
“Tapi nggak jadi mata-mata ‘kan?”
“Nggak,”
“Ah yang benar? Kenapa nggak masuk aja sih ke dalam rumah aku? ‘Kan pintunya selalu kebuka untuk kamu. Kenapa harus di depan rumah tetangga aku?”
“Tadi ‘kan ada tamu. Siapa tuh? Kayaknya akrab banget sama lo,”
Posisi Argantara masih di dalam mobil dan Shelina di luar mobil sambil menundukkan kepalanya karena harus menatap lawan bicara ketika bicara yang parahnya lawan bicaranya itu tidak mempersilahkan Ia untuk masuk ke dalam mobil atau berinisiatif untuk keluar dari mobil.
“Itu teman aku, namanya Ganta,”
__ADS_1
“Pantesan kayak akrab gitu. Teman apaan?”
“Teman sekolah dulu. Eh ini ngomong-ngomong aku harus berapa lama ngobrol sambil nunduk gini? Kamu nggak ada niat nyuruh aku masuk mobil gitu? Atau kamu aja yang keluar deh, kamu masuk dulu ke rumah aku. Kita ngobrol di ruang tamu gimana?”