
Argantara ingin dirinya yang ada untuk Shelina. Ketika orang lain hendak memberikan bantuan, Ia melarang. Ia ingin dirinya saja yang membantu Shelina.
Argantara lebih percaya pada dirinya sendiri ketimbang membiarkan orang lain yang menggendong Shelina kemudian membawa Shelina ke ruang kesehatan kampus.
Tadi disaat Ia fokus dengan upacara yang berlangsung, Ia mendengar bisik-bisik dari teman di sekitarnya bahwa Shelina jatuh tak sadarkan diri. Kemudian barisan Ia berdiri tak jauh dari tempat dimana Shelina berdiri, tanpa pikir panjang Ia langsung menghampiri Shelin yang hendak dibawa oleh seorang lelaki yang merupakan teman Shelina. Namun Ia langsung mengambil peran.
“Biar gue aja nggak apa-apa ‘kan?”
Tanpa niat untuk membuat tersinggung, Ia bertanya seperti itu. Tak ada larangan dari teman lelaki Shelina itu. Dia mempersilahkan Argantara untuk membawa Shelina.
“Perlu aku kasih tau mama kamu nggak? Soalnya tadi pas kamu pingsan, handphone kamu ‘kan jatuh terus dipegang sama teman kamu yang cewek aku nggak tau deh siapa namanya, terus dia ngasih handphone kamu ke aku, dan nggak lama dari situ mama kamu telepon. Tapi pas aku mau jawab, eh udah mati teleponnya,”
“Nggak usah, jangan kasih tau mama nanti mama jadi khawatir,”
__ADS_1
“Oh okay kalau gitu. Nih handphone kamu ya, aku taruh di sini,” ujar Argantara seraya menunjuk ponsel genggam Shelina di atas nakas. Shelina segera meraih ponselnya dan membuka pesan. Ternyata tidak hanya menelpon, mamanya juga mengirimkan pesan.
-Shel, udah selesai upacara? Kamu pasti lapar deh nggak sarapan. Pokoknya makan bekal mama ya-
Shelina tersenyum, ternyata mamanya mengirimkan pesan untuk mengingatkan Ia supaya makan bekal yang dibawakan mamanya tadi sebelum Ia berangkat ke kampus. Akan Ia makan nanti siang, sekarang sudah terlanjur dibelikan bubur oleh Argantara. Ia juga lupa kalau dibawakan bekal, harusnya itu saja dulu yang dimakan olehnya sekarang
-Iya, Ma. Aku makan kok. Baru selesai upacaranya, Ma-
“Kenapa senyum-senyum? Baca chat siapa?”
“Mama aku, ingetin aku untuk makan,”
“Duh, tante Shefia nggak tau aja anaknya baru abis pingsan,”
__ADS_1
“Mama nggak usah tau. Pasti khawatir banget, dan bisa-bisa mama nyuruh aku pulang ke rumah, dan aku nggak mau. Ada kuis nanti jadi aku harus masuk kelas,” ujar Shelina yang tahu betul akan bagaimana reaksi mamanya nanti setelah tahu Ia sempat tak sadarkan diri ketika upacara masih berlangsung.
“Aku harap kamu nggak gini lagi ya. Udah tau mau ada kegiatan yang padat dan cukup bikin capek, kamu malah cari perkara dengan nggak ngisi perut kamu dulu. Dan kemarin nya kamu belum tebtu makan malam. Kamu gimana sih? Kamu mau sakit ya? Hmm?”
“Ya nggak lah, masa ada manusia yang mau sakit?”
“Ya buktinya kamu nih. Pingsan kok dicari. Kalau nggak mau pingsan, nggak mau sakit ya harusnya isi perut dulu biar nggak lemes, istirahat yang cukup,“
“Iya, Arga,”
“Kamu pulang aja ya? Bair aku anterin pulang ke rumah,”
“Nggak deh, aku masih mau di kampus,”
__ADS_1
“Jangan keras kepala gitu deh, aku cuma pengen kamu banyak istirahat. Abis pingsan gini pasti badan berasa nggak enak banget mau ngapa-ngapain juga jadi nggak fokus,”