
“Eh kamu kok nangis sih? Sakit banget ya? Makanya hati-hati, Shel,”
“Aku buru-buru nyusul kamu! Sekarang kamu nyalahin aku? Bukan sakit aja, kalau sakit sih bisa ditahan. Aku malu, Arga!”
Shelina bicara pelan sambil berdiri sempurna dibantu oleh suaminya. Shelina tak bisa menahan rasa kesalnya. Argantara bilang hati-hati disaat Ia harus menyusul langkah Argantara yang cepat sekali. Itu yang membuat hati Shelina semakin kesal.
“Aku minta maaf ya. Aku lupa jalan sama kamu,”
“Kamu bukan lupa. Kamu emang masih kesal sama aku gara-gara kejadian tadi. Kamu kenapa sih tega banget? Kamu jalan sendiri seolah aku nggak ada,”
“Ssst udah jangan nangis lagi. Nggak enak diliatin orang,”
Walaupun Shelina tidak meraung, tapi begitulah cara Argantara menenangkan Shelina yang menangis dalam diam tapi air matanya mengalir terus. Shelina bukan tipe perempuan yang kalau menangis itu membuat kekacauan. Hanya air matanya saja yang menunjukkan aksinya dan itu yang membuat Argantara benar-benar merasa bersalah.
Argantara langsung merangkul bahu istrinya mengajak Shelina untuk melanjutkan langkah ke area parkir. Argantara harus segera membawa istrinya pergi meninggalkan pintu keluar kafe yang tadi sempat dilintasi oleh beberapa orang oleh sebab itu Shelina merasa malu sekali.
“Aku minta maaf ya, Shel,”
“Kamu kenapa buru-buru banget sih, kayak dikejar sama hantu aja,”
“Iya aku nggak sengaja buru-buru tadi. Aku minta maaf udah jadi penyebab kamu jatuh dan kamu ngerasa malu,”
“Gara-gara masih sinpan rasa kesal akhirnya pengen jalan duluan, dan aku ditinggal, terus giliran aku jatuh kamu nya malah bilang harus hati-hati. Itu nyebelin banget, Arga,”
“Iya-iya aku minta maaf. Jangan marah lagi ya,”
Shelina mendengus dan membuang pandangan. Argantara saja butuh waktu lumayan lama supaya mau banyak bicara lagi kepadanya setelah sebelumnya banyak diam. Ia pun merasa berhak melakukan itu karena Argantara benar-benar menyebalkan.
“Ayo silahkan masuk, Tuan putri,”
Argantara dan Shelina sudah tiba di area parkir. Argantara segera membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkan istrinya untuk masuk ke dalam mobil.
“Makasih, Ga,” kata Shelina sebelum duduk di dalam mobil. Argantara tersenyum sambil mengacak lembut puncak kepala istrinya. Walaupun kelihatan kesal, Shelina tetap berlaku sopan dengan tidak melupakan kata terimakasih.
Argantara menyusul masuk ke dalam mobil. Ia duduk dibalik kemudinya kemudian menatap Shelina yang sedang membersihkan wajahnya dengan tisu. Shelina menghabiskan sisa-sisa air mata yang masih ada di pipinya.
“Jangan nangis lagi ya. Aku jadi sesak ngeliat kamu nangis, Sayang,”
“Aku juga waktu kamu cuek ke aku. Padahal aku udah minta maaf, dan aku rasa salahnya aku juga nggak berlebihan, cuma sekedar salah nyebut nama. Bukan karena aku selingkuh atau yang lainnya,” jawab Shelina dengan ketus.
Argantara menghela napas pelan. Ia belum melajukan mobil, karena merasa perlu bicara dulu dengan Shelina.
“Menurut aku, kesalahan kamu yang tadi tuh lumayan keterlaluan. Karena kamu malah ingat nama irang disaat kamu lagi ngobrolnya sama aku. Coba deh bayangin gimana perasaan aku tadi. Kamu ‘kan tau sendiri aku nggak suka sama Defan, eh kamu malah nyebut nama dia disaat lagi ngobrol sama aku. Itu nyebelin banget, Kia. Mungkin menurut kamu, aku terkesan berlebihan kesalnya, tapi rmang itu yang aku rasain. Aku nggak senang banget waktu kamu nyebut nama orang yang jelas-jelas aku nggak sukain, aku cemburu sama dia dan kamu juga udah berapa kali dengar kata-kata itu dari mulut aku,”
“Tapi aku ‘kan udah minta maaf. Kamu nya malah cuek ke aku, sampai aku merasa bersalah banget, bahkan kamu jalan sendiri tadi kayak nggak anggap aku ada,”
Shelina tak sengaja mengeluarkan air matanya lagi, dan barusan nada suaranya lumayan tinggi. Karena malu, dan sedihnya Shelina tadi akibat sempat diabaikan oleh Argantara, jadi emosi Shelina mulai hadir ke permukaan.
“Ya udah jangan kesal lagi dong sama aku. Udah minta maaf barusan ‘kan. Kita sekarang damai aja ya, mana kelingkingnya? Coba pinjam bentar,”
Argantara mengulurkan jari kelingkingnya dan Ia minta pada Shelina untuk mau mengulurkan jari kelingkingnya juga supaya kedua jari mereka bertaut satu sama lain. Namun Shelina memilih untuk melipat lengan di perut dan menatap ke arah samping, tepatnya menyibukkan diri dengan menatap suasana di luar jendela.
“Lho kok kamu gitu sih. Aku ‘kan udah pinjam kelingkingnya. Kita jangan lama-lama berantemnya,”
Shelina tak mengeluarkan suara. Argantara menghembuskan napas kasar. “Kamu jangan cuekin aku dong, Shel,”
“Lah kamu sendiri tadi apa? Lupa ya udah cuek ke aku? Hmm?”
“Aku nggak cuek, itu cuma perasaan kamu aja, Shel,”
“Setelah debat masalah tadi, kamu jadi banyak diam, dan mamu sibuk sama handphone kamu itu padahal aku ada di depan kamu lho, tapi kayak nggak dianggap aja aku,”
“Itu aku lagi nenangin diri aku sendiri, Sayang. Makanya jadi diam,”
“Tapi ya nggak lama-lama juga dong. Aku mau ke kamar mandi aja kamu cuek jawabnya cuma angguk kepala aja. Biasanya kalau kita lagi ada di tempat umum dan aku mau ke kamar mandi, kamu selalu nawarin aku mau diantar atau nggak. Tadi kamu cuma angguk kepala aja, mana nggak mau natap aku lagi. Itu cara kamu nenangin diri ya?”
“Jujur emang masih ada rasa kesal, tapi sekarang ‘kan udah nggak. Aku malah merasa bersalah sekarang. Aku minta maaf ya,”
“Dimaafin,”
“Tapi kok mukanya masih keliatan kesal sama sedih?”
“Nggak, biasa aja kok,”
“Kamu maafin aku beneran nih?”
“Ya iyalah, masa iya aku bohong,”
“Tapi mukanya ketus gitu,”
“Muka aku emang begini, kalau nggak suka ya udah nggak usah kamu liat,”
Argantara tertawa ketika mendnegar ucapan Kia yang masih tak bersedia untuk tersenyum padahal kalau Shelina tersenyum, Argantara merasa semakin kagum dan Shelina semakin terlihat menarik di matanya.
“Kelingking kamu mana? Sini kita satuin, tandanya kita udah nggak ada masalah lagi,”
“Nggak perlu kayak gitu. Kita ‘kan bukan anak kecil yang habis marahan,”
“Ya nggak apa-apa kayak anak kecil, ‘kan cuma cara baikannya aja yang kayak anak kecil lagi marahan. Kita nya udah bukan anak kecil lagi, malah udah bisa bikin anak kecil tau,”
“Apaan sih nggak jelas banget omongannya,” kata Shelina seraya menatap suaminya tanpa ekspresi di wajah.
“Ya udah mana dulu kelingking kamu?”
“Nggak usah pakai kelingking segala deh, Ga,”
“Nggak-nggak, aku mau pakai kelingking kamu. Mana kelingking kamu, Sayang,”
Argantara meraih tangan Shelina yang semula melingkari perutnya. Akhirnya berkat Argantara, Shelina mau menautkan jari kelingking mereka.
Raut Argantara langsung kelihatan senang sekali. Akhirnya Ia bisa mencairkan hati istrinya yang semula bersikeras tak mau menautkan kelingking.
“Udah baikan ya sekarang,”
“Lah emang baik mulu kok,”
“Tadi ‘kan sempat ada masalah dikit. Sekali lagi aku minta maaf ya,”
“Kamu yang memperpanjang masalah itu,”
“Iya-iya, aku salah banget. Aku minta maaf ya,”
******
“Eh kamu keliatan cantik lho udah potong rambut, keliatannya seger gitu dipandang mata, dan aku senang kamu nggak ubah-ubah warna rambut. Makasih ya udah dengerin saran aku,”
Setelah sempat memotong rambutnya di salon hingga lebih pendek dari biasanya, Shelina langsung mandi begitu sampai di rumah. Selain karena Ia ingin bersih sepulang dari luar, Ia juga ingin melihat bagaimana rambut barunya kalau sudah Ia cuci.
“Kamu kenapa nggak creambath di salon tadi?”
“Nggak mau, aku pengen basah rambut di rumah aja,”
“Serius, kamu cantik deh,”
Seperti itulah Argantara kalau tidak sedang kesal. Makanya Shelina bisa menilai, kapan suaminya kesal, kapan suasana hati suaminya baik-baik saja. Ketika kesal, Argantara akan banyak diam, sebaliknya kalau Ia tidak sedang kesal.
Tadi kesalnya Argantara itu benar-benar terlihat karena Argantars jadi mengabaikan Shelina. Tak banyak bicara, sibuk dengan handphone, ketika Shelina pamit ke kamar mandi hanya mengangguk saja, giliran pamit kedua barulah keluar suaranya. Beruntungnya sekarang Argantara sudah kembali normal, tak ada kesal lagi nampaknya.
“Cantik banget, aku belum pernah liat potongan rambut kamu yang pendekan kayak begitu,”
“Iya, muji terus ya mentang-mentang udah nggak kesal lagi sama aku,”
“Aku nggak bakal bisa berhenti muji kamu karena kamu tuh hampir sempurna,”
“Hadeh, mulai deh berlebihan mujinya. Aku nggak mau ya tiba-tiba nanti ada berita begini seorang wanita terbang karena dipuji oleh suaminya’ aku nggak mau ada berita begitu,”
“Hahahaha lawak banget kamu, Sayang,”
“Lho kok lawak? Itu tuh emang beneran bakal kejadian kalau kamu muji aku terus,”
“Aku muji sesuai kenyataan, bukan ngibul kok,”
“Ya udah aku tau kalau aku cantik tapi nggak usah diperjelas terus,” ujar Shelina sambil sedikit menghempas rambutnya ke belakang dan memasang wajah jumawa. Kelakuannya itu membuat Argantara terbahak.
“Bisa sombong juga kamu ya,”
“Aku tau aku cantik,”
“Ya emang, aku ‘kan sering ngomong gitu,”
Argantara duduk di tepi ranjang mengamati Shelina yang baru saja mandi. Saat ini perempuan dengan potongan rambut barunya yang masih basah itu duduk di depan meja riasnya untuk mengeringkan rambut, menyisir, dan menggunakan produk perawatan badannya.
“Kamu kenapa ngeliatin aku? Nggak mau berdih-bersih? ‘Kan habis dari luar,”
“Bersihin dong,”
“Dih? Emang kamu mobil yang mesti dibersihin?”
“Maksudnya bantuin aku bersih-bersih,”
Kening Shelina mengernyit masih belum paham dnegan ucapan sang suami, tapi sedetik kemudian akhirnya Ia paham. Kalau Ia taks alah menduga, maksud Argantara adalah Argantara minta dibantu mandi.
“Ayo buruan,”
“Bantuin kamu bersih-bersih maksudnya bantuin mandi gitu?”
Argantara menganggukkan kepalanya dengan bibir yang mengatup menahan tawa. Ketika melihat ekspresi Shelina yang bingung, perutnya pasti tergelitik untuk tertawa.
“Ih nggak mau. Kamu kayak nggak bisa mandi sendiri aja sih. Mandi sendiri lah, jangan minta dibantuin sama aku,”
“Mau dibantuin sama kamu, Sayang,”
__ADS_1
“Nggak ih, kamu ada-ada aja deh,”
“Kamu dapat pahala lho, Sayang. Kalau bantuin suami,”
“Ya masalahnya bantu yang bermanfaat dong, bukan bantuin mandi. Kalau kamu masih mampu kenapa harus minta tolong aku ya ‘kan? Alhamdulillah kamu ‘kan sehat, Ga, kecuali kalau kamu keadaannya lagi nggak bisa ngapa-ngapain termasuk mandi. Baru deh aku mandiin kamu,”
“Hahahah mukanya panik amat,”
Argantara langsung mendekati Shelina. Ia berdiri di belakang Shelina dengan membungkukkan tengkuk, kemudian Ia arahkan kepala Shelina agar menengadah ke atas, kemudian Ia cium bibir Shelina lumayan lama. Hanya Ia yang aktif sementara Shelina pasif karena Ia masih belum terbiasa.
Setelah puas mencium bibir Shelina, Argantara langsung meraih Shelina ke dalam gendongannya dan membawa Shelina ke ranjang.
Shelina terkejut ketika suaminya meletakkan Ia dengan negitu lembut ke atas ranjang, kemudian mereka sama-sama terlena, dan tak sadar dengan apa yang dilakukan.
Argantara membuka bajunya dan Shelina seperti dihipnotis sehingga tak keluar kata-kata. Shelina juga diam saja ketika lagi-lagi Argantara mencium bibirnya penuh tuntutan. Setelah itu Argantara turun mencium hingga ke bahu Shelina hingga membuat Shelina mengerang.
“Sayang, aku mau kamu. Boleh ya?”
Argantara kembali lagi ke bibir Shelina. Padahal Ia baru saja bertanya pada Shelina tapi Shelina seolah tak diberikan kesempatan untuk menjawab.
“Mau ya ya ya?”
Ketika Shelina mendorong pelan wajah suaminya dan menatap Argantara dengan mata memicing dan kening yang mengernyit, lagi-lagi Argantara bertanya sambil menaikkan kedua alisnya bergantian.
“Sayang, gimana? Mau nggak?”
Shelina hendak membuka mulut untuk menjawab tapi tiba-tiba Argantara merangkum wajahnya kemudian menciumi seluruh wajah Shelina yang membuat Shelina merengek kesal.
“Lepasin! Ih kamu apaan sih?”
“Jawab iya dong tolong plis. Jangan jawab nggak,”
Shelina tertawa, Ia merasa geli karena suaminya menciumi seluruh wajahnya, ditambah lagi Argantara bersikap seperti anak kecil yang sedang berusaha membujuk supaya keinginannya terpenuhi.
“Mau apa?”
“Ya itu lah,”
“Stop! Muka aku kenapa diciumin semuanya?”
“Biar kamu jawab iya,”
“Hahahah aduh tolong berhenti, aku kegelian tau!”
Argantara pun akhirnya terkekeh sambil terus berulah. Ketika Shelina merangkum wajahnya sambil menatap tajam, barulah Argantara berhenti.
“Stop! Jangan banyak tingkah deh,”
“Tapi jawab iya dulu,”
“Ya, udah puas?”
Argantara tersenyum mendengar kata ‘ya’ sudah terlontar dari mulut istrinya. Tanpa aba-aba Ia langsung menggerakkan tangannya membuka baju piyama Shelina.
“Belum puas dong, orang mulai aja belum,”
******
“Parah banget sih. Nomor gue kenapa diblokir terus coba? Padahal gue udah senang banget bisa komunikasi lagi sama Shelina setelah sekian lama nggak,”
“Lo kenapa sih anjir? Ngedumel aja kerjaan lo,”
Defan berdecak pelan sambil meletakkan ponselnya di atas meja. Ia memilih diam, tak menanggapi ucapan temannya, Radi, yang saat ini menemaninya di kafe untuk menikmati secangkir kopi dan juga roti bakar.
Defan kesal ketika nomor teleponnya diblokir lagi oleh Shelina. Nomor utama sudah diblokir, nomor yang kedua juga sudah, apakah Ia harus ganti nomor lagi untuk yang ketiga kalinya? Dan apakah nasib nomor itu akan berakhir sama seperti dua nomor sebelumnya?
“Kia yang lo ceritain itu ya? Teman SMP lo kalau nggak salah ya? Gini, kalau dia blokir nomor lo, ya berarti lo tuh dianggap ganggu, atau nggak penting. Udah lah, Bro. Nggak usah dipikirin banget,”
“Ah elah, lo nggak ngerti perasaan gue, Rad. Gue tuh udah senang banget karena bisa komunikasi lagi sama dia, tapi ujungnya malah diblokir,”
“Lo ganggu dia mungkin,”
“Apaan sih? Gue nggak ganggu kok,”
“Terakhir lo chat dia apaan?”
“Gue mau kasih sesuatu buat dia,”
Radi langsung tertawa sambil melemparkan gumpalan tisu ke arah Defan yang baru saja menggerutu.
“Ya pantesan aja dia blokir lo. Lagian ganjen amat mau ngasih sesuatu segala lo,”
“Lah emang kenapa? Nggak boleh gue ngasih sesuatu ke teman gue?”
******
Selesai menuntut ilmu, Shelina dan suaminya, Argantara sepakat untuk belanja bulanan di supermarket. Dari kampus, mereka langsung ke supermarket yang tak jauh dari rumah dan sudah menjadi langganan mereka kalau hendak berbelanja.
“Iya boleh, Sayang,”
“Kamu mau nggak? Atau kamu mau menu yang lain? Aku ikut kamu aja,”
“Kebalik, aku yang mau ikut kamu. Terserah kamu mau apa, aku ngawal kamu aja,”
“Ngawal? Emang aku presiden dikawal?”
“Ya makdud aku, kamu mau makan apa aja, mau makan dimana aja terserah kamu, Ratu Shelina sayang. Aku ikut kamu, ngejagain kamu, sama bayarin makanan nya. Udah aku begitu aja,” ujar Argantara menjelaskan sambil fokus mengemudikan mobilnya dengan fokus.
“Habis itu kita langsung oilang?”
“Iyalah, mau kemana lagi, Ga?”
“Aku pikir mau staycation gitu di hotel,”
Shelina terkekeh dan geleng-geleng kepala. Tak ada angin dan hujan, mendadak suaminya kepikiran dengan staycation.
“Ada-ada aja kamu. Emang waktu yang kita ounya sekosong itu? Jadwal kuliah padat kok malah mau staycation,”
“Ayo, mumpung hati ini sabtu, besok minggu. Hari senin kita oulang, Sayang. Oulangnya siangan aja. Aku jadwal kuliah jam sepuluh kalau nggak salah, kamu jam berapa?”
Argantara menjawil pipi kanan istrinya yang saat ini duduk menatap lurus ke depan. Setelah mendapat sentuhan di pipi, Shelina langsung menoleh menatap Argantara.
“Hmm? Aku belum liat sih, kamu serius mau staycation? Lah ‘kan kita baru dari Bali, belum lama ini kita abis liburan, masa sekarang mau liburan lagi?”
Shelina hitung-hitung, Ia dan Argantara belum lama ini pulang dari Bali untuk berlibur. Sekarang Argantara mau staycation di hotel, yang artinya ingin berlibur lagi.
“Aku biasanya dalam setahun tuh paling banyak liburan lima kali ke tempat-tempat yang agak jauh. Kadang nggak sama sekali. Kayaknya tahun ini bakal banyak liburan deh,” gumam Shelina.
“Ya nggak apa-apa lah, Shel. Selagi ada kesempatan, entah itu umur, kesehatan, uang. Kita nikmatin lah yang ada, kalau mau liburan ya tinggal berangkat. Apalagi kita masih berdua ya ‘kan. Harus sering-sering abisin waktu berdua, mumpung belum punya anak. Bener nggak?”
“Ya udah terserah kamu deh,”
“Jadi mau nggak aku bawa ke hotel?” Tanya Argantara seraya tersenyum miring dan melirik Shelina.
“Di hotel tuh ngapain sih? Paling cuma tidur aja. Kalau tidur mendibgan di rumah nggak sih? Nggak harus keluar duit untuk booking kamar, ya nggak?”
“Cari suasana beda, Shel. Bisa jalan-jalan di sekitar hotel kita nanti. Misalnya pagi kita jalan cari sarapan di dekat hotel, terus siang juga gitu. Kalau kamu setuju, balik dari supermarket, kita makan, terus ambil baju, setelahnya baru deh ke hotel. Kita ke daerah Jawa Barat aja cari hotelnya,”
“Ih jauh,” Shelina melontarkan protes.
“Lah kamu maunya hotel mana? Jakarta? Ah nggak ada beda sama lingkungan rumah. Lagian Jawa Barat nggak jauh, Sayang. Cuma ke puncak doang, emang jauh?”
Shelina mengangguk polos. Bagi dirinya yang jarang keluar dari rumah, Jawa Barat itu jauh. Ia pikir suaminya mau staycation di hotel yang ada di Ibukota saja. Tapi ternyata Argantara inginnya ke daerah Jawa Barat.
“Jadi gimana? Kamu nggak mau, Sayang?”
“Ya udah terserah kamu, Ga. Aku ngikut aja,”
“Beneran ya? Aku nya staycation ke Jakarta, kamu nya ikut ya? Nggak bohong ‘kan, Sayang?”
“Nggak lah, masa iya aku bohong,”
Kemanapun Argantara mengajaknya pergi, Shelina akan ikut. Apalagi kalau berlibur, sebenarnya Shelina suka berlibur. Hanya saja Ia sedikit bingung, atau tidak menduga kalau suaminya mengajak Ia untuk berlibur lagi.
“Ya udah sepakat kayak gitu ya,”
Shelina menganggukkan kepalanya. Melihat Argantara tampaknya antusias sekali ingin berlibur lagi, Shelina semakin tidak bisa menolak.
“Beneran ya, Sayang?”
“Iya, Arga. Aku mana bisa nolak sih kalau kamu udah punya mau begitu,”
“Asyik senang banget aku. Yeayy bulan madu lagi kita,”
“Hah?”
Shelina terperangah mendnegar ucapan Argantara. Dengan mata sedikit membelalak, Ia memutar kepala menatap sang suami.
“Maksudnya gimana? Kita bulan madu lagi gitu?”
“Iya dong, mumpung masih berdua, dan ada kesempatan, ya bulan madu lagi lah kita. Liburan deh maksud aku, kalau sebutannya bulan madu kayaknya terlalu serem buat kamu ya?”
Tawa Argantara pecah seketika. Melihat reaksi istrinya tadi, Argantara jadi merasa tergelitik perutnya. Shelina kelihatan tegang ketika Ia mengatakan ‘bulan madu lagi’.
“Nggak usah tegang, Sayang. Santai aja santai, kita ini liburan lagi, tapi ya sekalian bulan madu juga,”
“Ih bulan madu mulu deh perasaan,”
“Lah orang baru sekali, bulan madu mulu gimana ceritanya sih?”
“Tapi ‘kan kita baru aja bulan madu ke Bali, masa sekarang bulan madu lagi?”
__ADS_1
“Ya biarin lah, liburan sekalian bulan madu. Begitulah sebutannya,”
“Bulan madunya sampai dua kali dalam kurun waktu kurang dari sebulan. Keren banget tuh,”
“Tapi bulan madunya dekat-dekat aja. Nanti lain kali ke tempat yang lebih jauh ya, Sayang, misalnya ke Jepang gitu, atau Korea? Kamu ‘kan suka nonton drama Korea ya?”
“Ih kamu jangan mikirin liburan terus. Udah dulu, mending fokus kuliah deh, masa liburan terus,”
“Seru tau explore sama kamu,”
“Iya seru sih emang, tapi ‘kan jangan sering-sering explore, nanti duit kamu habis,”
“Hahahah,”
Argantara tertawa mendengar ucapan istrinya yang punya alasan seharusnya mereka tidak terlalu sering berlibur atau menjelajah.
“Kok kamu ketawa sih? Dmang ada yang lucu, Ga?”
“Ya kamu kenapa khawatir soal itu, Sayang? Kalau aku ngajak, ya berarti bisa dan ada, kalau nggak ngajak ya berarti ada banyak pertimbangan. Bukan soal uang aja, tapi waktunya juga,”
“Jadi ini kita beneran staycation, jalan-jalan, bulan madu lagi?” Tanya Shelina.
“Iya bener, abis dari supermarket, kita makan, terus jalan-jalan ya, Sayang,”
“Okay, makasih ya,”
“Sama-sama, istriku cantik,”
Pembicaraan mereka berakhir karena mobil Argantara mulai memasuki area parkir supermarket. Argantara sedang mencari tempat yang pas untuk mobilnya berdiam sebentar. Setelah mobilnya aman, barulah Argantara mengajak Shelina keluar dari mobil.
“Aku senang kalau belanja bulanan,”
“Kenapa? Padahal capek lho sebenarnya. Harus jalan kesana kemari buat nyari apa yang mau dibeli,”
“Nah itu serunya, Ga. Aku senang kesana kemari walaupun capek sih. Tapi seru aja gitu,”
“Berasa lagi menjelajah ya?”
“Iya cari harta karun,”
“Harta karun? Ada-ada aja kamu,”
Argantara dan Shelina mulai memasuki supermarket. Shelina segera mengambil troli, setelah itu mulai berjalan mencari apa yang ingin Ia beli diikuti oleh suaminya.
“Sayang, aku aja yang dorong troli ya,”
“Nggak usah, aku aja,”
“Aku ‘kan lebih kuat, aku aja. Lagian aku malu lah sama jenis kelamin, masa istri yang dorong troli,”
******
“Ga, kamu mau beli apa?”
“Rokok,”
“Hah? Rokok di dekat kasir ‘kan biasanya? Tapi bentar deh, emang kamu ngerokok?”
Shelina menoleh menatap Argantara yang baru saja mengatakan bahwa dirinya ingin membeli rokok, padahal yang Shelina tahu suaminya tidak merokok karena selama menikah dengannya, Ia belum pernah menemukan Argantara menyelipkan tembakau di antara kedua bibirnya.
“Apa aku yang belum liat kamu ngerkok ya? Sebenarnya kamu ngerokok?”
“Kadang, kalau lagi pengen aja,” kata Argantara seraya terkekeh.
Ia menyadari kalau istrinya cukup terkejut setelah mengetahui bahwa dirinya merokok. Argantara akui, bahwa Ia memang tidak setiap hari merokok, hanya kadang-kadang saja dan itu pun kalau dirinya lagi ingin.
“Oh, kamu ngerokok ya berarti?”
“Jarang-jarang banget, Sayang. Kalau aku lagi pengen, lagi stres banyak pikiran, atau lagi nggak ada kegiatan apapun jadinya ya ngerkok daripada diam doang kayak patung ‘kan,”
“Oh okay-okay, saran aku, jangan terlalu banyak, atau terlalu sering ngerokok ya, Ga. Nggak baik untuk kesehatan kamu. Sekarang mungkin efeknya nggak langsung keliatan, tapi ke depannya ‘kan kita nggak tau. Udah banyak kejadian orang yang ngerokok sakit ini sakit itu. Aku takut dengar cerita orang. Sebaiknya jangan ngerokok emang. Dimana-mana kita kalau ada sakit tuh diobatin, sakit jangan diundang. Nah kalau ngerokok, sama aja ngundang penyakit untuk datang,”
“Iya, makasih atas sarannya ya, Istri cantik,” ujar Argantara seraya mengusap kepala belakang istrinya yang baru saja memberikan pesan supaya Ia semakin menyadari bahwa merokok itu hanya mengundang penyakit saja. Sebenarnya sudah dari awal tahu soal hal itu, tapi tetap saja Ia manusia biasa yang terkadang tak peduli dengan apa itu penyebab penyakit. Sudah banyak mendnegar pengalaman orang yangs akit segala macam akibat rokok, tapi Ia tetap saja merokok walaupun memang sangat jarang.
“Kamu udah bagus jarang-jarang ngerokok, nggak tiap hari. Tapi kalau bisa tinggalin rokok, jangan sentuh dia sedikitpun. Bahaya nya mungkin nggak langsung keliatan dalam waktu dekat, tapi bisa jadi di masa depan. Kamu ‘kan masih muda, sayang kalau dirusak sama rokok,”
“Dengar kata-kata kamu tuh bikin adem telinga, Sayang,”
Shelina tertawa mendengar ucapan suaminya. Ia berharap caranya bicara tidak salah. Sehingga tidak membuat Argantara kesal atau Argantara menganggap bahwa Ia terlalu mengatur Argantara.
“Kamu kesal aku ngomong begitu?”
“Nggak lah, kenapa aku harus kesal? Itu ‘kan baik untuk aku,”
“Ya kali aja kamu kesal karena aku ngatur-ngatur kamu. Bisa jadi di dalam hati kamu ngomong begini ‘Apaan sih Kia? Lo tuh banyak ngatur. Gue beli rokok pake duit gue sendiri’ kamu ngomong gitu nggak?”
“Ya ampun, nggak sama sekali lah. Masa iya aku ngebatin kayak gitu. Aku tau kamu ngomong kayak gitu untuk kebaikan aku juga, jadi aku nggak kesal, malah bersyukur karena dingetin hal yang baik untuk kamu. Aku nggak ngomong yang aneh-aneh sedikitpun. Jangan berprasangka buruk dong, Sayang. Aku tuh senang-senang aja dinasehatin, dikasih saran, intinya aku senang kamu punya pendapat,” ujar Argantara sambil menemani Shelina mengambil barang-barang dan meletakkannya di dalam troli yang Ia dorong.
“Tinggal sabun cuci nih yang belum,” gumam Shelina seraya matanya mengedar mencari sabun untuk mencuci baju yang Ia suka.
“Nah ini dia,”
Shelina mengambil dari rak kemudian Ia letakkan di dalam troli yang didorong oleh Argantara. Setelah mengambil sabun cuci baju, Shelina menatap isi troli.
“Kayaknya udah lengkap deh, Ga. Coba kamu bantu aku untuk cek,”
“Kamu nggak bawa catatan, Sayang?”
“Nggak, aku udah bawa dari rumah tapi ilang sampai kampus. Ah nggak tau nyelip dimana. Tapi aku udah tau apa aja yang dibutuhin,”
Shelina memastikan bahwa semua yang Ia butuhkan dan harus dibeli sudah masuk ke dalam troli. Setelah itu Ia mengangguk.
“Semua kebutuhan udah, kecuali untuk di dapur daging-dagingan sama buah belum,”
“Nah itu masih ada yang ketinggalan berarti, Ki,”
“Nggak ketinggalan, aku ingat kok. Maksud aku, kalau bahan makanan belum, tapi yang lain udah semua Insya Allah. Makanya sekarang kita geser ke tempat bahan makanan telur, ayam, daging, ikan, cumi, udang,”
Keperluan rumah tangga untuk bersih-bersih rumah, mandi, semuanya sudah Shelina pastikan ada semua. Tinggal bahan makanan saja.
Argantara mengikuti saja kemana istrinya melangkah. Argantara mendorong troli, sementara Shelina berjalan di depannya.
Setelah tiba di tempat bahan makanan, Shelina langsung bersorak pelan “Yeayy ke dunianya aku nih,”
“Iya si doyan masak,”
“Nanti buat makan malam kamu mau dibuatin apa?”
“Sop ayam kampung, boleh nggak?”
“Boleh banget dong. Ayam kampung nggak pernah lupa aku beli,”
Shelina mengambil ayam kampung, daging sapi, telur ayam, udang, cumi, ikan, dan bumbu dapur. Setelah itu Ia memilih buah. Yang ada di sana kebetulan hanya jeruk, pisang ambon, naga, dan semangka saja.
“Udah yuk, Ga,”
“Udah cukup?”
Shelina menganggukkan kepalanya. Setelah itu Argantara mendorong troli ke kasir untuk melakukan pembayaran.
“Sayang, ambilin aku bir dong,” bisik Argantara ketika semua belanjaan sedang dihitung total harganya.
“Hah? Ngapain sih minum itu?”
Shelina menatap suaminya dengan kening mengernyit. Shelina tidak paham kenapa tiba-tiba suaminya ingin menikmati minuman yang Ia tahu kurang baik untuk kesehatan.
“Bir yang ada alkohol itu ‘kan?”
“Iya tapi dikit doang,”
“Ih nggak usah aneh-aneh deh! Waktu itu aku dinasehatin supaya nggak minum yang begituan, padahal waktu itu aku nggak sengaja karena aku taunya itu minuman biasa. Eh sekarang kamu malah mau minum yang begituan?”
Argantara tertawa karena melihat raut wajah istrinya. “Aku bercanda doang kok, Sayang,”
“Ih kamu nggak jelas banget,”
“Nggak-nggak, aku cuma bercanda doang kok, jangan kesal gitu dong mukanya,”
“Nggak serius?”
“Hahaha nggak lah, aku sukanya kopi, teh, sama jus. Udah deh yang kayak gitu-gitu aja,”
“Nah ya udah lebih baik itu daripada bir segala. Ngapain coba?”
“Iya, aku cuma bercanda, Sayangku,”
Argantara mengusap puncak kepala Shelina yang mengira kalau Ia benar-benar mau minum bir. Sementara minuman yang lain ada banyak jenisnya. Minum alkohol lebih banyak risikonya.
“Kamu jadinya mau minum apa? Biar aku ambilin, mumpung masih dihutung total belanjaan kita,”
“Kopi aja, aku lupa ngambil tadi. Tolong ambilin ya, Sayang,”
“Okay, tunggu sebentar ya,”
Shelina segera mengambil dua botol kopi kemasan untuknya dan sang suami setelah itu Ia langsung meletakkannya di atas meja kasir supaya dihitung sekalian dengan belanjaan mereka yang lain.
“Nanti kita antar belanjaan dulu ke rumah ‘kan? Baru ke hotel nya?”
“Iya begitu aja, sekalian ambil baju. Bawa baju dikit aja, ‘kan cuma dua malam aja,”
Shelina menganggukkan kepalanya. Sampai di rumah, Ia punya tugas untuk mengemas perlengkapan menginap di hotel.
__ADS_1
Ketika Argantara mengedarkan pandangan sambil menunggu belanjaannya dihitung totalnya, tak sengaja Argantara melihat seorang perempuan yang tak asing berada di barisan di belakang Shelina. Untuk beberapa detik Ia sempat membeku.