Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 142


__ADS_3

-Hai, Ga. Ini aku Risa. Aku izin simpan nomor handphone kamu ya. Kalau nggak keberatan kita saling simpan nomor handphone ya, Ga-


Argantara menyimpan nomor Risa, setelah itu kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku celana.


“Udah belum?” Tanya Argantara pada istrinya yang saat ini sedang memilih makanan ringan di dalam sebuah minimarket tak jauh dari hotel yang menjadi tempat staycation mereka.


“Belum, aku lagi cari yang pedas asin gitu. Tapi banyak banget, aku bingung pilihnya. Bantuin aku pilih dong, Ga,”


“Kamu mau yang pedas-pedas? Jangan lah, nanti kamu sakit perut. Kita sebagai manusia tuh jangan cari penyakit, Shel. Orang yang sakit aja mau ngusir penyakitnya, lah kamu malah ngundang penyakit mau datang,” ujar Argantara menasehati istrinya supaya menggagalkan niat untuk beli makanan yang pedas. Argantara hanya takut Shelina sakit perut.


“Tapi aku pengen, beli satu aja kok,”


“Ya udah deh terserah,”


“Nggak apa-apa ‘kan?” Tanya Shelina pada Argantara yang mengangkat kedua bahunya. Argantara tidak memberikan izin. Tapi Shelina tetap mau membeli makanan yang pedas.


“Aku anggap boleh ya,” ujar Shelina seraya terkekeh sambil melanjutkan kegiatannya memilih makanan ringan yang pedas.


Setelah dapat keripik kentang dengan bumbu balado, Shelina langsung tersenyum puas. “Akhirnya dapat juga yang pedas dan keliatan enak,”


“Tau darimana kalau itu enak?”


“Keliatannya sih gitu dari gambar di bungkus,”


“Ya ampun, Sayang. Gambar di bungkus-bungkus makanan emang selalu keliatan enak dan jumlahnya banyak. Tapi ‘kan sering dibohongi. Kamu masih polos aja,”


“Iya sih, tapi ini feeling aku enak. Udah biarin aja lah aku maunya ini kok,”


“Ya udah deh terserah. Tapi aku nggak mau ya kamu sakit perut. Gambar di bungkusnya aja keliatan pedas banget,”


“Nah kamu juga kiat dari bungkus. Awas hati-hati dibohongi lho,” ujar Shelina yang membahas ucapan suaminya tadi dan itu membuat Argantara tertawa. Dengan gemas Argantara mencubit pipi Shelina.


“Nggak usah ya? Aku nggak izinin, cari yang lain aja ya,”


Argantara akan mengembalikan makanan ringan yang tadi sudah dimasukkan Shelina ke dalam keranjang belanja yang dibawa oleh Argantara.


“Ih kok begitu sih? Aku pengen banget, Argantara,”


“Jangan, Shel. Ini pedas, mending yang sehat-sehat aja sih,”


“Tapi ‘kan cuma sekali-sekali aja,” ujar Shelina yang masih bersikeras ingin menikmati makanan ringan dengan rasa pedas itu.


“Mending biskuit, atau roti tuh. Bikin kenyang daripada beginian bikin sakit perut,”


“Nggak, aku kuat tau,”


Argantara menghembuskan napas pelan, kemudian merangkum kedua pipi Shelina sambil menggeram gemas.


“Kenapa sih susah banget dikasih tau sama aku? Nggak ingat siapa nih yang ngasih tau kamu? Hmm?”


“Ingat,”


“Aku siapanya kamu?”


“Suami,”


“Nah ya udah kenapa nggak mau dengar larangan aku? Jangan makan yang pedas-pedas, Sayang. Nanti kamu sakit perut,”


“Nggak, aku orangnya kuat kok,”


“Hadeh kamu ini susah bener dikasih tau,” ujar Argantara dengan jengah. Shelina menanggapi dengan senyum lebar.


“Boleh ‘kan?”


“Tuh aneh banget. Udah dilarang masih aja tetap bandel. Tapi ujungnya nanya ‘boleh nggak?’ Udah jelas aku jawab nggak,”


“Jawab iya aja,”


“Nggak,”


“Iya, buruan jawab iya,”


“Nggak,”


“Ih Argantara kok nyebelin sih? Aku pelototin terus nih? Kamu nggak takut liat mata aku melotot?”


“Hahaha biarin aja, ntar mata kamu capek sendiri,”


“Ih jahat banget. Ya udah pokoknya aku anggap kamu jawab iya,”


Argantara geleng-geleng kepala menghadapi keras kepala istrinya. Sudah dilarang, masih juga tetap pada keinginannya.


“Jawab iya ‘kan?”


“Sayang, aku udah jawab nggak, kamu kenapa bandel sih? Aku tinggalin di sini kamu ya,”


“Ancamannya kayak ke bocah aja,”


“Ya abisnya nyebelin banget,”


“Udah pokoknya iya,”


Shelina meraih keranjang belanjaan yang ada di tangan Argantara kemudian Shelina bergegas ke kasir. Argantara menghembuskan napasnya dengan kasar setelah itu geleng-geleng kepala mengamati istrinya yang sudah berjalan membawa belanjaan mereka ke kasir.


Argantara langsung bergegas untuk menyusul. “Sini aku aja yang bawa, Shel,”


“Nggak usah, aku aja,”


“Aku aja, itu lumayan berat lho, anak minuman satu liter nya,”


“Ya nggak apa-apa, aku ‘kan kuat orangnya,”


“Ngaku kuat mulu ya padahal mah nggak juga,”


“Eh enak aja, aku kuat kok,”


“Ya udah coba taruh di kepala itu keranjang, kuat beneran nggak,”


Tanpa mengeluarkan suara Shelina langsung mengangkat keranjang hendak Ia taruh di kepala dan Argantara yang panik padahal sebelumnya Argantara yang menantang.


“Eh jangan-jangan! Aku cuma bercanda,”


Argantara langsung menahan lengan istrinya dan tanpa menunggu waktu lama Argantara mengambil alih keranjang belanjaan yang semula ada di tangan sang istri.


“Kamu aneh-aneh aja sih, Shel. Ngapain coba mau dilakuin beneran?”


“Aku tuh suka ngelakuin tantangan,”


“Apaan sih? Suka sih suka, tapi pikirin hal positifnya juga dong, ada atau nggak?”


“Ada,”


“Apa?”


“Itu ‘kan tantang dari kamu, nah aku mau lakuin karena aku kuat, sekalian latih otot juga,” kata Shelina seraya tertawa.


“Ada-ada aja. Kalau mau latih otot ya olahraga bukan angkat keranjang belanja,”


“Itu bukannya termasuk olahraga ya?”


“Ya kalaupun beneran olahraga, jangan ngelakuin di minimarket juga dong, Sayang. Malu ‘kan diliat orang, mereka yang lagi belanja ngiranya kamu mau jualan kue,”


Shelina tertawa mendengar ucapan suaminya sambil memegangi perut yang terasa sedikit sakit karena Ia tertawa.


“Iya juga ya. Ngapain aku olahraga di tempat umum begini. Lagian sih kamu, Ga. Kamu ‘kan yang nantang aku untuk taruh keranjang di atas kepala. Aku suka tantangan jadi mau langsung aku lakuin tuh tadi,”


“Sayang, aku ‘kan cuma bercanda, masa mau dilakuin sih? Aduh aku nggak paham deh sama kamu. Walaupun aku nantang begini begitu, kamu harus pikirin dulu ada hal positifnya nggak? Kalau nggak ada ya ngapain dilakuin? Aku lagian cuma bercanda, malah kamu anggap serius,”


“Aku mau nunjukkin kalau aku kuat, nggak deh bercanda,”


“Jadi kamu nggak serius mau angkat keranjang nya ke atas kepala kamu?”


“Nggak serius, cuma bercanda juga,”


“Halah bohong, pasti serius deh,”


“Nggak, aku cuma bercanda aja kok,”


“Bohong, pasti mau beneran dilakuin. Iya ‘kan? Jujur aja deh, Sayang. Jangan bohong sama aku,”


“Dih, orang aku nggak serius, aku juga kayaknya nggak kuat deh angkat keranjangnya,”


“Kalau aku sih udah pasti kuat. Angkat kamu aja kuat,”


“Yee nggak nyambung banget. Masa larinya ke aku?”


“Nyambung lah, aku angkat kamu aja kuat apalagi keranjang kecil begitu. Yah elah, gampang banget itu sih,”


“Iya deh yang kuat perkasa,”


“Iya dong perkasa,” kata Argantara sambil tersenyum menatap Shelina yang terkekeh dan langsung mendorong wajah suaminya.


“Nggak usah senyam-senyum kayak orang stres deh, Ga. Aku takut liatnya lho, serius,”


“Aku emang kuat, perkasa, gagah, berani. Pokoknya semua deh,”


Argantara langsung mengambil ponselnya yang bergetar tiba-tiba. Terpaksa Ia dan Shelina mengakhiri obrolan, tapi kaki mereka tetap melangkah mendekati kasir.


Kening Argantara mengernyit ketika Risa menghubunginya. Dalam hati Argantara bertanya-tanya.


“Kenapa Risa telepon gue?”


******

__ADS_1


“Halo, Ris. Kenapa? Kok kamu telepon aku sampai tiga kali?” Tanya Argantara pada Risa di balkon kamar hotel.


Ketika Shelina tidur, panggilan Risa masuk lagi. Argantara sejak tadi mengabaikan, tapi sudah tiga kali Risa menghubunginya. Ia jadi ingin tahu juga sebenarnya apa tujuan Risa menghubungi dirinya sampai tiga kali.


Argantara akhirnya memilih balkon kamar hotel yang saat ini menjadi tempat liburan kedua antara dirinya dan sang istri. Di sana Ia menerima telepon Risa, dan Ia jamin Shelina tidak akan merasa terganggu.


“Hai, Ga. Aku ganggu ya?”


“Jujur iya. Emang ada apa? Kok sampai telepon aku berulang kali,”


“Nggak apa-apa sih untuk lebih mastiin aja kalau ini nomor kamu,”


“Udah aku save kok nomor kamu. Ini beneran nomor aku, Ris,”


“Oh gitu, okay deh. Aku lega dengarnya, kirain ‘kan salah nomor. Kamu cuek sama telepon aku, makin nggak yakin kalau ini nomor kamu,”


“Aku baru liat handphone, sorry,” ujar Argantara yang sebenarnya berdusta. Sejak tadi Argantara menyadari kalau Risa menghubungi dirinya. Hanya saja Ia tidak bisa menjawab karena enggan. Selain itu, sejak tadi Ia bersama Shelina.


“Nggak apa-apa kok. Oh iya kamu lagi apa, Ar?”


“Duduk aja, udah cuma mau mastiin ini nomor aku ‘kan? Kalau gitu udahan dulu ya, Risa,”


“Hmm okay, bye, malam,”


Risa kecewa ketika harus mengakhiri sambungan teleponnya bersama Argantara tapi apa mau dikata. Argantara nampaknya kurang nyaman bicara lebih lama bersamanya.


Argantara menghembuskan napas kasar. Kemudian meletakkan ponselnya di atas meja yang berhadapan dengan kursi yang Ia duduki saat ini. Argantara mengusap seluruh wajahnya kemudian menekan pelipisnya.


“Kenapa Risa harus datang lagi ke hidup gue?”


“Arga, kok kamu di sini? Kenapa nggak tidur?”


Argantara langsung terkejut begitu mendengar suara istrinya yang tiba-tiba menghampiri. Saat ini Shelina sedang berdiri di dekat pintu pembatas kamar dengan balkon.


“Sayang, kok kamu bangun? Sejak kapan berdiri di situ?” Tanya Argantara pada istrinya yang kelihatan masih mengantuk tapi anehnya malah terjaga.


“Aku tiba-tiba aja kebangun. Terus bingung ngeliat kamu kok nggak ada di tempat tidur. Eh ternyata di sini. Kamu lagi ngapain? Nggak baik lho bengong sendirian,”


“Aku lagi menikmati udara malam yang segar aja nih,”


“Oh, hati-hati kamu masuk angin,” ujar Shelina yang mengundang tawa suaminya.


“Nggak apa-apa, ada yang ngurusin ini ‘kan,”


“Siapa emangnya?“


“Ya kamu lah, Sayangku. Masa iya Mba-mba pelayan di hotel,”


“Hahahah ada-ada aja kamu. Aku gabung sama kamu ya, Ga,”


“Gabung apa? Duduk di sini?”


“Iya, boleh nggak?” Tanya Shelina yang tentunya langsung dijawab oleh Argantara dengan menganggukkan kepalanya.


“Boleh dong, sini aku pangku,” ujar Argantara sambil menepuk kedua pahanya sambil tersenyum menatap sang istri.


“Nggak usah dipangku segala. Aku tuh berat. Aku bisa duduk di kursi ini kok,” kata Shelina sambil berjalan mendekati kursi yang berhadapan dengan kursi duaminya, setelah Ia duduk, Ia tersenyum.


“Gini ‘kan lebih baik,”


“Nggak, lebih baik adalah, aku pangku kamu,”


“Nggak deh, aku masih punya malu,”


“Hahahah, kok malu sih, Sayang?”


“Ya malu lah, emang aku anak kecil? Ngapain coba dipangku segala? Aku ‘kan bisa duduk sendiri. Lagian bobot badan aku tuh berat segede gentong,”


“Halah-halah, lebay bener kamu ya. Mana ada segede genting. Orang kecil imut-imut kok, aku suka tuh,”


“Amit-amit kali maksud kamu, bukan imut-imut,”


“Imut, bukan amit. Bisa dengar jelas nggak, Sayang? Jangan salah dengar, karena artinya beda,”


“Bilang aja amit-amit,”


“Jangan ngomong gitu, kamu cantiknya imut-imut, nggak ada tuh kayak gentong. Ngarang aja kamu ya,”


Shelina terkekeh kemudian mengamati badannya sendiri lantas menganggukkan kepalanya. “Iya bener ya, nggak segede gentong,” gumamnya yang mengundang tawa Argantara.


“Ya makanya sebelum ngomong tuh diliat dulu kenyataan nya, Sayangku,”


“Okay, sekarang aku mau tanya kenapa kamu ngelamun sendirian di sini?”


“Nggak ngelamun, lagi menikmati udara dingin malam ini aja,”


“Ngelamun lah pasti, orang suasananya mendukung begini kok. Sunyi, damai, tenang,”


Shelina berdecak sambil merotasikan bola matanya. Argantara terkekeh melihat istrinya yang tampak tidak percaya dengan kata-katanya.


“Ngapain mikirin aku? Orang aku nya aja lagi tidur tadi,”


“Ya mikirin kamu aja pokoknya,”


“Mikirin gimana sih maksudnya? Aku nggak percaya ah,”


“Mikirin, kok kamu cantik banget sih, kok istri aku baik banget sih? Ini aku mimpi atau nggak punya istri macam kamu?”


“Hadeh, omongannya bisa aja ya,”


“Serius aku,”


“Kamu lagi ada masalah? Cerita aja sama aku, jangan cuma dipikirin sendiri. Barangkali bisa aku bantu. Minimal aku ikut mikirin untuk cari solusi,” ujar Shelina yang malah menganggap suaminya sedang memiliki masalah makanya menyendiri di balkon malam ini.


“Nggak ada masalah apapun kok, Sayang,”


“Bohong ya? Kamu lagi kepikiran sesuatu nih, keliatan banget. Mikirin masalah ya? Masalah apa sih kalau aku boleh tau?”


“Nggak ada, Shel. Aku nggak ada masalah apa-apa. Orang udah dibilang aku mikirin kamu aja, seriusan deh,”


“Ih, kamu bisa serius nggak sih? Aku beneran nanya lho ini,”


“Aku serius, Sayang. Aku nggak mikirin apapun, selain kamu,”


“Ya kalau mikirin aku kenapa harus di balkon? ‘Kan tadi udah benar di tempat tidur kenapa malah pindah ke sini? Lagian kenapa mikirin aku? Alasannya apa?”


“Ya nggak apa-apa, mikirin kamu emangnya harus ada alasan?”


“Iyalah, harus ada alasan dong biar aku percaya,”


Argantara bergumam sebentar. Tidak mungkin Ia jujur kalau Ia sedang kepikiran dengan kembalinya Risa di kehidupannya.


“Ga, seru juga ya nginap di sini. Selain hotelnya bagus dan nyaman, bawaannya tenang aja gitu di sini,”


“Iya emang, tepat ‘kan buat bulan madu,”


“Lain kali kita mesti ke sini lagi sih kayaknya,”


“Iya dong, kalau perlu sama keluarga,”


“Nah iya, ajakin aja keluarga besar kita ya. Bakal seru banget sih pasti, aku yakin. Nanti aja kalau kita udah selesai wisuda ya,”


“Okay, setelah kita punya anak juga ya,”


“Hah?”


Shelina terperangah beberapa detik mendengar ucapan suaminya. Argantara mengangkat satu alisnya kemudian bertanya, “Iya setelah kita punya anak makin seru. Emang kenapa? Kok hah?”


“Hah? Nggak-nggak,”


“Ya udah sekarang wujudin yuk,”


“Hah?”


“Ih kamu kenapa hah heh hoh mulu sih?”


“Maksud kamu wujudin tuh apa? Aku ‘kan bingung,”


“Wujudin, soal anak,”


“Astaga, Arnold!”


Tawa Argantara pecah seketika. Apalagi ketika Shelina mencubit lengannya dan langsung membuat rasa panas di kulitnya.


“Sayang, kulit aku rasa panas nih. Kamu harus tanggung jawab ya pokoknya. Caranya gimana? Kasih aku satu ciuman,”


“Nggak jauh-jauh dari nyosor,”


“Hahahaha,”


*****


“Aku ke kamar mandi dulu ya,”


Shelina menganggukkan kepalanya. Ia membiarkan sang suami bergegas ke kamar mandi setibanya mereka di dalam kamar.


Akhirnya Argantara mau juga diajak kembali ke kamar. Dengan sedikit ancaman Shelina tak akan masuk ke kamar juga kalau Argantara tidak masuk ke kamar. Shelina bingung suaminya nyaman sekali di balkon. Padahal udara di luar cukup dingin. Dan suasana yang sunyi di baljon memang membuat nyaman, akan tetap bagi Shelina sendiri selama di balkon yang suasana sunyi itu membuat sekujur badannya sering merinding.


Ketika Shelina duduk di tepi ranjang, Shelina melihat ke arah nakas. Di sana ada ponsel genggam suaminya yang berkedip menampilkan ada panggilan masuk. Shelina yang penasarannya tinggi langsung meraih ponsel suaminya itu kemudian melihat siapa yang menghubungi suaminya malam-malam begini.


Keningnya mengernyit untuk beberapa detik ketika membaca nama ‘Risa’ di layar. Tentu saja Shelina langsung bertanya-tanya dalam hati.


“Risa siapa ini? Teman kerjanya Arga? Atau teman kuliah? Tapi kok kurang sopan ya hubungi udah malam begini. Aku aja nggak pernah tuh hubungi siapapun kalau udah malam selagi nggak ada hal yang mendesak. Dan ini kalau dari namanya sih perempuan. Apa nggak canggung telepon Argantara malam-malam? Mungkin mendesak kali ya makanya dia sampai telepon malam ini, coba kasih tau Argantara deh,”

__ADS_1


Shelina langsung memanggil suaminya satu kali dan langsung ditanggapi oleh Argantara yang sedang buang air kecil.


“Kenapa, Sayang?”


“Ini ada yang telepon kamu, barangkali penting,”


“Siapa?”


“Hmm aku nggak kenal, tapi Risa tulisannya,” ujar Shelina pada suaminya itu.


Argantara yang mendengar nama Risa langsung diam sebentar, kemudian menghela napas pelan. “Kenapa lagi si Risa? Bukannya tadi udah sempat ngobrol bentar?”


“Arga, jawab aja,”


“Ya udah nanti, aku ‘kan lagi di kamar mandi,”


Argantara segera menyudahi kegiatannya membuang air kecil kemudian keluar dari kamar mandi.


Ponselnya ada di tangan Shelina yang segera mengulurkan benda tipis persegi panjang tersebut.


“Itu siapa? Teman kerja kamu atau teman kuliah?”


“Hmm? Kerja,” jawab Argantara yang jelas berdusta. Tak mungkin Ia jawab bahwa Risa itu mantan kekasihnya yang kembali hadir di dalam kehidupannya.


“Oh gitu, ya udah jawab lah, barangkali penting makanya sampai telepon malam-malam,”


“Nggak usah deh, biarin aja. Paling salah sambung kali, niatnya nggak nelpon aku, tapi nelpon orang lain,”


“Ih kenapa nggak coba dijawab dulu? Barangkali ada hal yang mendesak dan harus kamu tau tentang kerjaan. Coba dijawab aja dulu. Kalau emang salah sambung ‘kan pasti nanti dia jelasin, dan kita nya nggak penasaran lagi,”


Alih-alih menerima panggilan dari Risa, Argantara malah sengaja menonaktifkan ponsel genggamnya dan itu tentunya membuat Shelina bingung.


“Lho, kok kamu matiin handphone nya?”


“Ya biar nggak ganggu. Ayo kita istirahat,”


“Ih kamu jangan begitu. Takutnya si Risa Risa itu mau ngomongin hal penting ke kamu, Ga. Kok malah dimatiin handphone nya,”


“Ya biarin, Sayang. Daripada ganggu istirahat kita. Aku yakin nggak ada apa-apa, kafe semuanya aman. Aku rasa Risa salah sambung tuh. Harusnya telepon yang lain, eh malah telepon ke aku tanpa dia sadar,”


“Masa sih? Emang bisa gitu?”


“Ya bisa lah,”


“Kok nggak diliat dulu sebelum telepon? Harusnya ya diliat dulu benar nggak tersambung sama yang dituju atau malah tersambung sama orang lain,”


“Ya namanya juga udah malam. Mata dia udah kriyep-kriyep jadi nggak sadar. Kayak aku aja sekarang udah berat banget nih mata nya. Ayo kita istirahat, nggak usah mikirin yang lain, mending mimpi indah sama aku, ya ‘kan?”


“Ih tapi aku masih penasaran kenapa Risa itu hubungin kamu. Kayaknya ada hal penting deh. Barusan kamu bilang Risa itu teman kerja kamu ya? Nah bisa jadi, ada hal penting yang kaitannya sama kerjaan kamu,”


“Ya udah, besok aku ‘kan ke kafe, ke bakery shop aku buat ngecek-ngecek. Kalau emang ada hal penting atau masalah, ya bisa diobrolin besok ‘kan,”


Sesungguhnya orang-orang yang berada di balik karirnya Argantara sebagai seorang pengusaha yang memiliki kafe dan toko kue, tak ada yang berani menghubungi Argantara di malam hari seperti ini. Kalaupun ada hal penting yang harus segera dibicarakan pada Argantara, akan dibicarakan lewat pesan terlebih dahulu. Tidak akan ada yang lancang tiba-tiba langsung telepon. Karena mereka semua segan pada Argantara. Dan tahu kalau semua orang tidak akan senang diganggu ketika waktunya beristirahat. Kalaupun harus, mereka pasti akan memastikan dulu Argantara keberatan atau tidak membahas hal penting itu melalui pesan. Bila Argantara yang meminta untuk bicara lewat telepon barulah mereka menelpon.


“Besok berarti dibicarakan ya sama Risa?”


“Iya betul, udah sekarang waktunya kita istirahat, nggak usah bahas kerjaan dulu atau orang lain,”


Shelina menganggukkan kepalanya dan langsung memejamkan kedua matanya. Argantara berbaring terlentang lurus menghadap langit-langit kamar. Beberapa detik kemudian, Ia menolehkan kepala ke arah nakas menatap ponselnya yang Ia nonaktifkan. Lalu Argantara menoleh ke kanan dimana istrinya sudah terpejam.


“Nggak mungkin ‘kan aku cerita kalau Risa itu mantan aku. Maaf ya, Shel,” batinnya seraya menatap Shelina dengan sorot mata yang dalam. Kemudian Ia menatap ponselnya lagi sambil membatin “Maaf, Risa. Kamu ganggu aku, jadi aku terpaksa nonaktif handphone,”


******


“Padahal dulu, Argantara selalu berusaha jawab telepon gue gimanapun situasinya. Sekarang beda banget. Handphone langsung nggak aktif setelah gue telepon. Atau emang sengaja ya? Kok Argantara berubah banget sekarang,”


Risa membaringkan badannya di atas ranjang sambil memeluk boneka beruangnya yang besar, pemberian dari Argantara di perayaan satu tahun hubungan mereka.


Risa merasa Argantara sudah jauh berubah. Panggilannya sering diabaikan, bahkan yang terakhir ponsel Argantara nonaktif. Seperti disengaja agar Ia diam.


“Aku pikir kita tetap bisa baik-baik aja, Ga. Ternyata nggak ya? Padahal aku berharapnya, dengan ketemunya kita, nggak ada yang berubah dari kamu. Atau mungkin kamu lagi butuh waktu aja ya?”


Risa senang sekali ketika bisa bertemu lagi dengan Argantara setelah beberapa lama terpisah. Perpisahan pun Ia yang membuatnya.


Ia tiba-tiba pergi karena ingin menuruti permintaan orangtua yang ingin Ia menikah dengan lelaki pilihan mereka. Argantara kaget, sekaligus terpukul, Risa ingat sekali momen dimana Ia akhirnya menjelaskan pada Argantara kenapa Ia pergi secara mendadak.


Argantara kecewa karena tak ada obrolan apapun sebelumnya. Tiba-tiba Ia ditinggal begitu saja tanpa sebab yang jelas. Menunggu dan menunggu, akhirnya Risa menghubunginya hanya untuk menjelaskan kalau Risa tidak bisa lagi melanjutkan hubungan dengan Argantara.


“Aku bakal berusaha untuk memperbaiki, barangkali masih ada kesempatan,”


*****


“Aku ke kamar mandi dulu ya,”


Shelina menganggukkan kepalanya. Ia membiarkan sang suami bergegas ke kamar mandi setibanya mereka di dalam kamar.


Akhirnya Argantara mau juga diajak kembali ke kamar. Dengan sedikit ancaman Shelina tak akan masuk ke kamar juga kalau Argantara tidak masuk ke kamar. Shelina bingung suaminya nyaman sekali di balkon. Padahal udara di luar cukup dingin. Dan suasana yang sunyi di baljon memang membuat nyaman, akan tetap bagi Shelina sendiri selama di balkon yang suasana sunyi itu membuat sekujur badannya sering merinding.


Ketika Shelina duduk di tepi ranjang, Shelina melihat ke arah nakas. Di sana ada ponsel genggam suaminya yang berkedip menampilkan ada panggilan masuk. Shelina yang penasarannya tinggi langsung meraih ponsel suaminya itu kemudian melihat siapa yang menghubungi suaminya malam-malam begini.


Keningnya mengernyit untuk beberapa detik ketika membaca nama ‘Risa’ di layar. Tentu saja Shelina langsung bertanya-tanya dalam hati.


“Risa siapa ini? Teman kerjanya Arga? Atau teman kuliah? Tapi kok kurang sopan ya hubungi udah malam begini. Aku aja nggak pernah tuh hubungi siapapun kalau udah malam selagi nggak ada hal yang mendesak. Dan ini kalau dari namanya sih perempuan. Apa nggak canggung telepon Arga malam-malam? Mungkin mendesak kali ya makanya dia sampai telepon malam ini, coba kasih tau Arga deh,”


Shelina langsung memanggil suaminya satu kali dan langsung ditanggapi oleh Argantara yang sedang buang air kecil.


“Kenapa, Sayang?”


“Ini ada yang telepon kamu, barangkali penting,”


“Siapa?”


“Hmm aku nggak kenal, tapi Risa tulisannya,” ujar Shelina pada suaminya itu.


Argantara yang mendengar nama Risa langsung diam sebentar, kemudian menghela napas pelan. “Kenapa lagi si Risa? Bukannya tadi udah sempat ngobrol bentar?”


“Arga, jawab aja,”


“Ya udah nanti, aku ‘kan lagi di kamar mandi,”


Argantara segera menyudahi kegiatannya membuang air kecil kemudian keluar dari kamar mandi.


Ponselnya ada di tangan Shelina yang segera mengulurkan benda tipis persegi panjang tersebut.


“Itu siapa? Teman kerja kamu atau teman kuliah?”


“Hmm? Kerja,” jawab Argantara yang jelas berdusta. Tak mungkin Ia jawab bahwa Risa itu mantan kekasihnya yang kembali hadir di dalam kehidupannya.


“Oh gitu, ya udah jawab lah, barangkali penting makanya sampai telepon malam-malam,”


“Nggak usah deh, biarin aja. Paling salah sambung kali, niatnya nggak nelpon aku, tapi nelpon orang lain,”


“Ih kenapa nggak coba dijawab dulu? Barangkali ada hal yang mendesak dan harus kamu tau tentang kerjaan. Coba dijawab aja dulu. Kalau emang salah sambung ‘kan pasti nanti dia jelasin, dan kita nya nggak penasaran lagi,”


Alih-alih menerima panggilan dari Risa, Argantara malah sengaja menonaktifkan ponsel genggamnya dan itu tentunya membuat Shelina bingung.


“Lho, kok kamu matiin handphone nya?”


“Ya biar nggak ganggu. Ayo kita istirahat,”


“Ih kamu jangan begitu. Takutnya si Risa Risa itu mau ngomongin hal penting ke kamu, Ga. Kok malah dimatiin handphone nya,”


“Ya biarin, Sayang. Daripada ganggu istirahat kita. Aku yakin nggak ada apa-apa, kafe semuanya aman. Aku rasa Risa salah sambung tuh. Harusnya telepon yang lain, eh malah telepon ke aku tanpa dia sadar,”


“Masa sih? Emang bisa gitu?”


“Ya bisa lah,”


“Kok nggak diliat dulu sebelum telepon? Harusnya ya diliat dulu benar nggak tersambung sama yang dituju atau malah tersambung sama orang lain,”


“Ya namanya juga udah malam. Mata dia udah kriyep-kriyep jadi nggak sadar. Kayak aku aja sekarang udah berat banget nih mata nya. Ayo kita istirahat, nggak usah mikirin yang lain, mending mimpi indah sama aku, ya ‘kan?”


“Ih tapi aku masih penasaran kenapa Risa itu hubungin kamu. Kayaknya ada hal penting deh. Barusan kamu bilang Risa itu teman kerja kamu ya? Nah bisa jadi, ada hal penting yang kaitannya sama kerjaan kamu,”


“Ya udah, besok aku ‘kan ke kafe, ke bakery shop aku buat ngecek-ngecek. Kalau emang ada hal penting atau masalah, ya bisa diobrolin besok ‘kan,”


Sesungguhnya orang-orang yang berada di balik karirnya Argantara sebagai seorang pengusaha yang memiliki kafe dan toko kue, tak ada yang berani menghubungi Argantara di malam hari seperti ini. Kalaupun ada hal penting yang harus segera dibicarakan pada Argantara, akan dibicarakan lewat pesan terlebih dahulu. Tidak akan ada yang lancang tiba-tiba langsung telepon. Karena mereka semua segan pada Argantara. Dan tahu kalau semua orang tidak akan senang diganggu ketika waktunya beristirahat. Kalaupun harus, mereka pasti akan memastikan dulu Argantara keberatan atau tidak membahas hal penting itu melalui pesan. Bila Argantara yang meminta untuk bicara lewat telepon barulah mereka menelpon.


“Besok berarti dibicarakan ya sama Risa?”


“Iya betul, udah sekarang waktunya kita iatirahat, nggak usah bahas kerjaan dulu atau orang lain,”


Shelina menganggukkan kepalanya dan langsung memejamkan kedua matanya. Argantara berbaring terlentang lurus menghadap langit-langit kamar. Beberapa detik kemudian, Ia menolehkan kepala ke arah nakas menatap ponselnya yang Ia nonaktifkan. Lalu Argantara menoleh ke kanan dimana istrinya sudah terpejam.


“Nggak mungkin ‘kan aku cerita kalau Risa itu mantan aku. Maaf ya, Shel,” batinnya seraya menatap Shelina dengan sorot mata yang dalam. Kemudian Ia menatap ponselnya lagi sambil membatin “Maaf, Risa. Kamu ganggu aku, jadi aku terpaksa nonaktif handphone,”


******


“Padahal dulu, Argantara selalu berusaha jawab telepon gue gimanapun situasinya. Sekarang beda banget. Handphone langsung nggak aktif setelah gue telepon. Atau emang sengaja ya? Kok Argantara berubah banget sekarang,”


Risa membaringkan badannya di atas ranjang sambil memeluk boneka beruangnya yang besar, pemberian dari Argantara di perayaan satu tahun hubungan mereka.


Risa merasa Argantara sudah jauh berubah. Panggilannya sering diabaikan, bahkan yang terakhir ponsel Argantara nonaktif. Seperti disengaja agar Ia diam.


“Aku pikir kita tetap bisa baik-baik aja, Ga. Ternyata nggak ya? Padahal aku berharapnya, dengan ketemunya kita, nggak ada yang berubah dari kamu. Atau mungkin kamu lagi butuh waktu aja ya?”


Risa senang sekali ketika bisa bertemu lagi dengan Argantara setelah beberapa lama terpisah. Perpisahan pun Ia yang membuatnya.


Ia tiba-tiba pergi karena ingin menuruti permintaan orangtua yang ingin Ia menikah dengan lelaki pilihan mereka. Argantara kaget, sekaligus terpukul, Risa ingat sekali momen dimana Ia akhirnya menjelaskan pada Argantara kenapa Ia pergi secara mendadak.


Argantara kecewa karena tak ada obrolan apapun sebelumnya. Tiba-tiba Ia ditinggal begitu saja tanpa sebab yang jelas. Menunggu dan menunggu, akhirnya Risa menghubunginya hanya untuk menjelaskan kalau Risa tidak bisa lagi melanjutkan hubungan dengan Argantara.


“Aku bakal berusaha untuk memperbaiki, barangkali masih ada kesempatan,”

__ADS_1


__ADS_2