
“Arga, kamu kenapa? Kok diam aja?”
Shelina bingung ketika tunangannya hanya diam saja tanpa kata selama dalam perjalanan menuju bioskop.
Seperti biasa di akhir pelan itu Argantara selalu berusaha untuk menghabiskan waktu bersama tunangannya. Hari ini Ia mengajak Shelina ke bioskop.
“Ga, kok kamu diam aja sih? Kamu kenapa? Ada masalah ya?”
Shelina kembali bertanya dan pertanyaan yang sama Ia berikan sebab sebelumnya Ia tak mendapatkan jawaban sama sekali dari mulut tunangannya itu.
“Nggak apa-apa, Shel,”
“Hmm? Serius? Tapi kok kayak lagi mikirin sesuatu? Apa kamu lagi ada masalah? Ga, kamu boleh kok cerita sama aku. Jangan sungkan, Ga. Supaya kamu nggak merasa keberatan sendirian,”
Argantara tersenyum, Ia semakin menyesal pernah menyia-nyiakan Shelina yang begitu baik kepadanya.
__ADS_1
“Aku minta maaf ya, Shel,”
“Lho kok tiba-tiba kamu minta maaf? Emamg kamu ada salah apa sama aku? Orang nggak ada kok,”
“Aku pernah salah sama kamu, bahkan salah banget. Aku udah buat kamu sedih, kecewa, makan hati lah pokoknya. Aku benar-benar minta maaf ya, tapi tolong lamu percaya sama aku kalau aku nggak akan ulangin itu semua. Aku udah janji sama di aku sendiri. Cuma kebahagiaan yang pengen aku kasih ke kamu, Shel. Maaf pernah jadi cowok yang brengsek banget nolak perempuan sebaik kamu, sepengertian dan selembut kamu,”
Shelina tersenyum tipis. Hatinya menghangat ketika tangannya tiba-tiba digenggam erat oleh Argantara yang engah kenapa mendadak malah membahas ini.
“Aku ‘kan udah pernah bilang sama lamu kalau aku udah maafin kamu dan aku juga minta maaf untuk semua kesalahan aku. Kita ‘kan sama-sama manusia dan sama-sama pernah punya salah kita juga udah saling minta maaf. Jadi nggak usah bahas masa lalu ya, tapi aku bingung deh. Kenapa kamu tiba-tiba bahas itu sih?”
“Oh ya? Kapan? Kok aku nggak tau, Ga?”
“Tadi waktu kamu lagi siap-siap,”
“Okay, kalian bahas apa?”
__ADS_1
“Mereka udah tau kalau dulu aku pernah jahat ke kamu, dan aku pernah nolak perjodohan kita,”
“Oh ya? Mereka tau darimana sebenarnya? Aku nggak pernah ngomong apa-apa ke mereka, Ga,”
“Iya, aku tau kok. Dan aku juga nggak nyalahin siapa-siapa. ‘Kan memang kenyataannya aku yang udah nolak perjodohan itu dan sikap aku ke kamu pernah jahat banget, aku segitunya ke kamu tapi itu dulu, kalau sekarang nggak ‘kan?”
“Nggak kok, kamu udah baik banget ke aku,“
“Beneran, Shel?”
“Iya dong, aku bersyukur kamu udah jauh lebih baik, dan kamu juga ‘kan udah komitmen sama aku. Kira-kira Mama Papa aku tau darimana ya doal itu?”
“Aku juga nggak tau, Shel. Aku juga kaget tadi diajak ngomong sama Mama Papa kamu, dan ternyata bahas itu,”
“Siapa yang ngasih tau ya?”
__ADS_1
“Diapa yang ngasih tau nggak penting, Shel. ‘Kan memang kenyataannya begitu. Aku pernah nolak perjodohan dan aku pernah jahat ke kamu. Maksud orangtua kamu ngobrol sama aku tadi karena mereka mau mastiin kamu bahagia di masa depan, Shel. Benar kata mereka, kalau dari awal aja udah ngejalanin nggak pakai hati, ke depannya bisa dipastiin hubungan kita nggak bakal baik-baik aja. Mereka cuma mau mastiin aku nggak bikin kamu sakit hati atau sedih lagi di masa depan, Shel. Kamu harus senang karena selama ini kamu dibuat senang sama orangtua kamu. Masa aku yang orang baru ini malah bikin kamu sedih? Dan semua orangtua mau yang terbaik untuk anaknya,”