Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 28


__ADS_3

“Lebih baik lo belajar nerima Shelina deh, lupain Alya. Nggak ada gunanya lo ingat Alya, lo bodoh kalau masih cinta sama Alya,”


“Karena Alya udah bahagia sama yang lain, Shelina sekarang tunangan kamu, jadi kamu tau ‘kan mana yang mesti jadi fokus kamu sekarang? Nggak usah lagi nengok ke masa lalu,”


Sekarang Argantara mulai terbuka atas saran-saran dari orang sekitarnya. Ia tidak mau lagi bertaut dengan masa lalu. Sudah saatnya Ia memulai hidup yang bahagia tanpa Alya. Sudah saatnya Ia belajar untuk menerima Shelina di hidupnya.


“Eh kamu mau kemana, Ga?”


Tina bertanya pada anaknya yang sedang bergegas menuruni anak tangga dengan jaket dan celana jeans yang sepasang, did alamnya Ia mengenakan kaos putih polos. Penampilan yang cukup rapi, ditambah lagi Argantara membawa kunci mobil, tentu saja Tina yakin anaknya mau pergi tapi Ia penasaran Argantara ingin kemana.


“Aku mau pergi sebentar, Ma,”


“Iya, kemana?”


“Ngajakin Shelina pergi,”

__ADS_1


“Hah? Apa?”


Terlalu kaget mendengar ucapan Argantara sampai Tina terperangah tidak yakin. Argantara yang selama ini menolak keras bersikap baik kepada Shelina, sekarang tiba-tiba ingin mengajak Shelina pergi.


Biasanya juga mesti Tina yang punya inisiatif menyuruh anaknya supaya mengajak Shelina pergi, atau mengantar jemput Shelina. Tapi kali ini berbeda. Ia bahkan tak menyuruh Argantara kemana-mana sore ini.


“Kamu mau ngapain?”


“Tadi ‘kan aku udah jawab, Ma. Apa mesti diulang lagi?” Tanya Argantara dengan nada malasnya.


“Ya Mama nggak yakin aja,”


“Kok tumben? Ada apa memangnya?”


“Aku mau aja ngajakin dia jalan, aku mau ngomong empat mata sama dia,”

__ADS_1


“Ngomong tentang apa?”


Tina merasa tertarik dengar Argantara mau bicara empat mata dengan tunangannya. Ada apa sebenarnya? Ia benar-benar penasaran.


“Aku mau minta maaf sama dia, ya semoga aja dia maafin aku. Benar kata Mama, sama teman-teman aku. Ngapain mikirin Alya lagi ‘kan? Dia aja bisa bahagia sama hidupnya yang baru, aku juga harusnya bisa dong. Aku pengen hidup aku bahagia tanpa dia,”


Mendengar ucapan Argantara, Tina bahagia sekali. Itulah yang Ia tunggu-tunggu. Akhirnya Argantara mau menghargai keberadaan Shelina di hidupnya.


“Jujur Mama senang banget. Okay, minta maaf lah sama Shelina untuk semua kecuekan kamu, kegalakan kamu, jangan kamu pikir Mama nggak tau ya kamu itu galak luar biasa ke Shelina. Kasihan dia, tapi dia nggak pernah jujur soal kamu. Mama ‘kan pernah liat kamu nurunin Shelina di pinggir jalan, marahin Shelina juga saat itu. Mama sakit hati liatnya. Mama datangi dia tapi dia nggak cerita apa-apa soal kamu. Dia sebaik itu, Ga. Harusnya kamu bersyukur dipertemukan sama perempuan yang nggak bikin nama kamu jelek. Belum jadi suami aja, dia udah tau apa yang harus dia lakukan, yaitu nutupin meburukan kamu, pafahal ini Mama kamu sendiri lho. Dia bisa aja jujur, dia bisa aja langsung detik itu juga ngomong ke mama kalau dia mau batailin pertunangan kalian tapi dia nggak lakuin itu,”


Argantara menunduk, Ia memang pernah setega itu pada Shelina. Makanya sekarang Ia ingin meminta maaf pada Shelina. Terlalu banyak kesalahan yang Ia lakukan, saatnya Shelina mendnegar permintaan maaf darinya.


“Ya udah sana pergi, hati-hati ya,”


“Okay, Ma. Assalamualaikum,”

__ADS_1


“Waalaikumsalam, jangan lupa salam untuk Shelina,”


Argantara menganggukkan kepalanya lantas bergegas pergi. Ia berharap Shelina ada di rumah, dan Shelia bersedia Ia ajak pergi sebentar karena Ia ingin bicara dengan Shelina.


__ADS_2