
“Alhamdulillah kedatangan tamu cantik di rumah ini,”
Shelina tersenyum mendapat sambutan yang hangat dari calon ibu mertuanya, Tina. Bahkan Ia dipeluk oleh Tina seperti kawan lama yang sudah lama tidak berjumpa.
“Ayo masuk-masuk,”
“Kok kamu nggak bilang sih kalau mau ajak Shelina ke rumah? Mama belum kelar masak tau!” Tina berbisik mengomeli Argantara.
“Tadi dadakan,”
“Kok dadakan?”
“Ya karena emang mau dadakan,”
“Ih nggak jelas,”
“Tadi tiba-tiba aja Arga ngajakin aku ke rumah. Katanya Tante sering nanyain aku, emang benar ya?”
“Wuh jangan ditanya kalau soal itu, Sayang. Emang benar Tante suka nanyain kamu, bahkan hampir tiap hari. Mama juga suruh Arga bawa kamu ke rumah, tapi nggak dibawa-bawa,”
“Ya orang sibuk kuliah, Ma. Kalau udah pulang aku bawa Shelina pulang ke rumahnya, lagian dia belum tentu mau juga. Kali ini mau sih,”
“Okay kamu duduk dulu ya, Tante ke dapur sebentar,”
“Iya, Tante. Maaf udah ganggu kesibukan Tante,”
“Eh kok ngomong gitu? Nggak dong, kamu nggak ganggu sama sekali. Malah Tante senang kamu datang ke rumah. Sering-sering ya,“
“Nggak enak kalau sering-sering,” jawab Shelina seraya terkekeh canggung. Walaupun statusnya adalah tunangan Argantara, tapi entah kenapa Shelina masih juga canggung, bahkan bertemu dnegan keluarga besar Argantara saat arisan pun Ia tidak percaya diri.
“Jangan ngomong gitu, Nak. Masa datang ke rumah calon mertua sendiri malu-malu sih? Jangan merasa kalau kamu itu ngerepotin, nggak sama sekali! Bentar ya Tante ke dapur dulu,”
“Iya, Tan,”
Tina meninggalkan Shelina bersama Argantara di ruang tamu karena Tina ingin menyiapkan hidangan untuk Shelina.
“Kamu dadakan ngajakin aku jadi ganggu Mama kamu tuh,”
“Ya elah orang nyokap gue mah emang biasa masak jam segini, santai aja kali. Nggak ganggu kok, sering tuh ada tamu datang, pas Mama lagi masak, nggak ganggu malah Mama senang kalau ada tamu apalagi tamunya lo,”
“Ah bisa aja,”
“Lah emang benar, tadi lo udah dengar sendiri ‘kan kalau Mama sering banget tanyain lo ke gue, sering juga nyuruh gue untuk ngajak lo ke rumah? Itu tandanya apa? Mama emang mau lo main-main ke sini,”
“Makasih ya, tapi mungkin lain kali jangan dadakan kayak tadi. Tiba-tiba ngajak ke rumah kamu, padahal bentar lagi sampai di rumah aku,”
“Hahaha lo tau nggak sebabnya apa?”
Argantara tertawa sambil bertanya. Ia penasaran sebenarnya Shelina tahu atau tidak tujuannya tiba-tiba mengajak Shelina datang ke rumahnya disaat mereka sudah hampir sampai di rumah Shelina, bahkan hanya jarak beberapa keter lagi mereka sampai.
“Nggak, aku nggak tau,”
“Karena ada si Ganta,”
“Hmm udah agak bisa nebak sih tadi sebenarnya. Cuma aku berusaha positif thinking aja,”
“Serius lo nebak gitu?”
“Sempat sekelebat di otak aku bilang kalau kamu tuh sengaja tiba-tiba ngajak aku ke rumah kamu setelah liat Ganta ada di rumah aku eh ternyata beneran. Emang kenpa sih?”
Argantara berdecak, dan sebelum menjawab, Ia berdiri sambil melepas kemeja jeansnya tersisa kaps putih polos. Setelah itu Ia letakkan kemejanya itu di atas meja.
Ia pindah ke sofa yang berhadapan dengan Shelina sambil melipat salah satu kakinya kemudian Ia tumpu di atas kaki lainnya.
“Dih mau bergaya?”
“Bukan, gue pegel,”
“Terus kenapa malah pindah? Kenaoa nggak duduk di sebelah aku lagi?”
“Lebih leluasa di sini,”
“Bilang aja kamu nggak mau ‘kan dekat-dekat sama aku?”
“Astaga, lo ngomong apa sih? Kalau gue nggak mau dekat lo, gue nggak semobils ama lo, gue nggak berhadapan gini sama lo. Gue gerah, ntar kalau dekat lo yang ada ilfeel lagi,”
“Gerah darimana? Orang ini ada AC nya kok,”
“Tapi tetap masih gerah ini, karena mungkin baru sampai,”
“Halah bilang aja kamu emang nggak mau duduk sebelah sama aku, iya ‘kan? Aku trauma deh, kamu ‘kan penrah ngomong gitu ke aku waktu itu,”
“Gue nggak mau duduk sebelahan sama lo! Nggak pantes,”
Melihat Argantara pindah tempat duduk, Shelina jadi ingat perkataan Argantara waktu itu makanya Ia berpikir alasan Argantara pindah tempat duduk karena ‘tidak pantas’ itu.
Argantara berdecak pelan. Padahal Ia pindah temlat duduk supaya lebih leluasa saja, tak ada krang di sampingnya tapi Shelina terlanjur salah paham. Akhirnya sekarang Argantara pindah lagi ke posisi sebelumnya demi menghindari kesalahpahaman yang ada.
“Gue tuh ngerasa lebih leluasan di situ, daripada di sini ada lo. Gue bisa duduk sesuka hati gue, kalau di sini takut bikin lo nggak nyaman ‘kam, tapi lo salah paham. Ya udah lah gue pindah lagi. Gue nggak mau lo mikir yang macam-macam. Yang udah berlalu jangan diingat-ingat lagi plis. Gue tau gue salah dan gue benar-benar minta maaf,” ujar Argantara seraya merangkul bahu Shelina dan Ia mengusapnya lembut.
“Jangan salah paham, gue emang beneran agak gerah mungkin karena tadi semoat ketemu matahari abis turun dari mobil, jadi gue butuh ruang sendiri biar bebas. Udah ya jangan miri yang macam-macam,”
“Kamu soalnya pernah ngomong gitu ‘kan waktu itu? Kamu ingat nggak?”
Suara Shelina bergetar menahan tangis. Sekarang tidak hanya dirundung dengan rasa bersalah, Argantara dibuat sesak. Ucapannya menghadirkan rasa trauma sampai sekarang.
“Iya gue ingat kok, Shel. Gue ingat semua kekahatan gue sama lo. Gue benar-benar minta maaf udah ngeluarin kata-kata yang nggak enak ke lo, dan akhirnya sampai sekarang lo keingat terus sama perkataan gue itu, gue minta maaf,”
Argantara yang masih merangkul Shelina, kini menyatukan pelipis mereka. Ia mengusap kepala Shelina dengan lembut berharap dengan apa yang Ia lakukan imi bisa menghapus kesedihan Shelina walaupun tidka bisa menghalus semua kejahatan yang pernah Ia lakukan kepada Shelina.
“Maafin gue, Shel,”
“Iya,”
“Gue minta maaf untuk semuanya. Gue nggak minta apa-apa, gue cuma perlu maaf dari lo. Dan gue bersyukur lo masih mau bertahan sama gue. Lo mau menghargai prlses gue untuk nerima lo di hidup gue. Makasih banyak untuk semuanya, Shel,” ucap Argantara setelah itu mencium singkat puncak kepala Shelina dan itu membuat Shelina tertegun untuk beberapa detik.
Ketika Argantara melepaskan rangkulannya barulah Shelina tersadar bahwa Ia sudah di uat membeku sebentar tadi akibat kecupan lenbut Argantara di puncak kepalanya. Argantara tidak pernah melakukan itu sebelumnya. Jadi Ia cukup terkejut.
“Ya udah lanjut ke topik obrolan tadi. Jawab pertanyaan aku kenapa mendadak ngajak aku ke sini setelah tau ada Ganta di rumah aku?”
Shelina kembali pada penbahasan mereka sebelum Ia tiba-tiba teringat dengan momen perkataan kejam Argantara.
“Ya karena gue nggak mau aja gitu lo ketemu dia,”
Shelina menghembuskan napas kasar lalu menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Bisa-bisanya Argantara seperti itu.
“Kenapa sih? Enang apa gitu salahnya Ganta?”
“Dia nggak ada salah, Shel,”
__ADS_1
“Terus?”
“Ya mungkin gue cemburu kali,”
“Tapi ngapain cemburu? Dia ‘kan teman aku, dia juga satu kampus sama kita, jadi ya kalu bisa kalian berdua juga berteman,”
“Lah kenapa gue harus temenan sama dia? Teman gue banyak, lagian dia kayaknya orang yang nggak gampang akrab deh,“
“Kata siapa? Nggak kok, dia gampang akrab sama orang baru,”
“Lo kenapa tau banget tentang dia sih?“
“Ya ‘kan udah kenal dari beberapa tahun lalu. Aku ketemu dia tuh udah lama. Bahkan jauh sebelum kamu. Kalau kamu ‘kanmemang anaknya sahabat orangtua aku tapi aku nggak ingat pasti juga kalan kita letemu, yang jelas kata Mama Papa sih kita pernah letemu ya. Tapi aku anggap lah kita benar-benar ketemu itu pas dewasa, yang waktu kita bahas pertunangan kita itu,”
“Kok lo bisa mikir kalau gue cowok yang baik sih? ‘Kan lo bilang, yang bikin lo yakin untuk dijodohin adalah karena lo percaya pilihan orangtua lo itu yang terbaik untuk lo. Dan lo juga bisa liat kalau gue orang baik, cara liatnya gimana?”
“Dari tatalan mata kamu, dan feeling aku sih bilangnya gitu,”
“Gue nggak yakin kalau lo tuh nggak nyesal bilang gue baiks etelah kita tunangan. Pasti lo langsung maki-maki gue ya di dalam hati? Lo kaget banget ya ternyata gue nggak sebaik yang lo pikirin?”
“Nggak sih, aku yakin aja kalau kamu lagi perlu waktu untuk nerima kamu,”
Argantara terkekeh dan langsung mengusap puncak kepala Shelina lagi. “Makasih ya, walaupun gue jahat sama lo tapi lo tetap baik ke gue,”
“Ntar aku bisa jahat juga lho,”
“Hah? Gimana? Lo emang bisa jahat ke gue?”
“Bisa,”
“Caranya?”
“Kamu cemburu ya kalau misal aku dekat sama Ganta atau Noval?”
Ekspresi Argantara langsung berubah datar mendngar dua nama itu disebut oleh Shelina dan Shelina bisa simpulkan kalau memang Argantara itu cemburu.
“Lo kenapa sih nyebut-nyebut mereka? Kurang kerjaan apa gimana?”
“Hahaha nggak kurang kerjaan dong,”
“Terus kenapa lo nyebut mereka? Tadi ‘kam kita lagi bahas gimana caranya lo jadi jahat ke gue, eh tiba-tiba lo malah nyebut mereka,”
“Ya karena ada hubungannya sama mereka makanya aku nyebut nama mereka berdua,”
“Apa sih maksudnya?”
Shelina tersenyum miring dan itu membuat Argantara bingung dan sedikit tidak kenyangka ternyata Shelina bisa tersenyum sinis juga.
“Kenapa lo?”
“Kamu pikir aku nggak bisa jahat juga ke kamu? Hmm?”
Shelina kini memutar posisi duduknya menjadi berhadapan dengan tunangannya itu dan Ia memberikan jarak yang lebih lapang di antara mereka berdua.
“Maksud lo?”
“Aku bakal jahatin kamu juga, ya sebagai balas dendam aku lah,”
“Kok gitu sih? Emang dibolehin balas dendam? Dalam agama aja nggak boleh, Shel,”
Shelina tertawa dalam hati karena ucapan Argantara. Kemudiam Ia menepuk dua kali bahu kanan Argantara.
“Nggak apa-apa, sesekali kamu harus dikasih pelajaran,”
“Aku bakal bikin kamu cemburu kayaknya seru kali ya? Kamu cemburu ‘kan? Nah cemburu itu nyiksa. Kalau beneran kamu cemburu—“
“Eh nggak ya!”
Shelina mengangkat salah satu alisnya bingung sambil berkata, “Kenapa nggak?” Tanya Shelina yang penasaran apa alasan Argantara menjawab seperti tadi dengan spontan.
“Gue nggak mau lo kasih pelajaran gue yang kayak gitu. Lo kalau mau kasih pelajaran atau balas dendam ke gue yang lain aja dej, jangan yang berhubungan sama hati. Gue nggak bisa, Shel. Seriusan deh,”
Shelina tertawa mendengar Argantara sekarang menatapnya dengan sorot permohonan.
“Beneran nih nggak bisa?”
“Nggak! Udah deh jangan kayak gitu. Yang lain aja bisa ‘kan? Plis…jangan bikin gue kesal dengan cara kayak gitu, Shel. Itu nyiksa banget. Di satu sisi ge nggak mau marah sam lo tapi di sisi laim gue juga nggak suka liat lo sama yang lain,”
“Ya itu kenapa? Cemburu beneran?”
“Iya kali ah gue nggak tau, belum bisa kasih jawaban pasti, yang jelas gue nggak suka!”
“Iya kali tuh, kamu beneran cemburu,”
“Ya udah kalau emang cemburu, terus kenapa? Lo nggak suka gue cemburu?”
Shelina tersenyum dan dalam hati berkata “Justru aku senang banget kalau kamu cemburu, walaupun kamu sendiri kadang masih suka bingung itu cemburu atau bukan tapi ngeliat kamu nggak suka atau kesal kalau aku dekat sama yang lain aja aku udah senang banget lho, Ga. Itu tandanya kamu mulai nerima aku,”
“Hai-hai, Tante bawa apa nih,”
Obrolan mereka terpaksa berhenti karena Tina datang bersama asisten rumah tangga. Tina membawa makanan di dalam mangkuk yang belum Shelina ketahui apa jenis makanan itu. Sementara asisten rumah tangga yang dipanghil Bibi itu membawa air minum.
“Nah jadi deh. Selamat dinikmati ya,”
“Ya Allah, maaf ngerepotin ya, Tante. Makasih banyak, tapi Tante nggak perlu repot-repot kayak gini, aku dibolehin datang ke sini aja udah senang banget,”
“Masa iya sih calon mantu nggak dibolehin ke sini dan mggak makan apa-apa. Ya udah silahkan dinikmati ya, Tante sama Bibi minggir dulu. Masih ada kerjaan soalnya,”
Shelina langsung berdiri dan menarik pelan bagian pinggang dress floral yang Ia kenakan untuk memperbaiki penampilannya sehabis duduk.
“Eh kamu mau kemana?”
“Bantuin Tante sama Bibi,”
“Oh nggak-nggak, kamu nggak boleh bantu apa-apa. Mending sekarang kamu makan aja, jangan repot-relot bantu,”
“Tan, aku bisa kok bantu-bantu kerjaan rumah,”
“Iya Tante tau, Sayang. Tapi Tante nggak mau kamu bantu lagian ini kerjaan di dapur aja. Mending ya, sekarang kamu makan pempek nya. Tante mau ke dapur lagi sama Bibi soalnya masih ada yang belum matang,”
Ayo dengar kata Tante, Shel. Jangan bandel ya. Duduk sekarang dan makan sama Arga,”
“Arga kamu temenin Shelina makan di sini!”
“Iya, Ma. Boleh ikutan makan nih? Nggak cuma temenin doang ‘kan?”
“Tany tih sama tembok,”
Argantara terbahak mendengar jawaban Mamanya. Ia hanya ingin memastikan saja. Barangkali Mamanya hanya ingin Ia menemani Shelina tanpa ikut makan juga.
__ADS_1
“Udah liat ‘kan ada dua porsi di situ? Masa iya kamu nggak Mama kasih?”
Argantara langsung menatap ke meja dan Ia terkekeh. Ia baru sadar ada dua mangkuk. Ia langsung terkekeh “Maaf baru sadar, Ma. Makasih ya, Ma,”
“Iya kamu makan bareng Shelina di sini, jangan biarin Shelina kemana-mana ya,”
“Siap, Ma,”
Tina menekan oelan kedua bahu Shelina supaya Shelina duduk kembali di tempatnya smabil Ia menatap Shelina dengan tegas.
“Makan aja nggak usah ngapa-ngapain,” ujarnya dengan lembut tapi tegas.
“Makasih banyak, Tante,”
“Iya sama-sama, Sayang,” jawab Tina, setelah itu bergegas pergi kembali ke dapur meninggalkan anaknya dan juga tunangannya di ruang tamu.
“Mama kamu baik banget sih. Aku smapai nggak snak semdiri tau. Datang-datang dikasih makanan masa,”
“Ya tamu dmang begitu lah, Shel. Mana ada tamu disuruh bersih-bersih rumah baru dikasih makan. Darimana aturannya begitu? Tamu ‘kan emang harus dilayani dengan baik,”
“Ya—-iya sih, tapi baik banget Mama kamu. Aku jadi nggak enak,”
“Udah nggak usah mikir kayak gitu. Lo nggak dengar tadi apa kata nyokap gue? Lo harus makan sekarang, nggak usah kemana-mana nggak, usah bantuin, dan jangan pernah mikir kalau lo tuh ngerepotin. Paham nggak?”
Shelina menganggukkan kepalanya. Kemudian Ia menerima mangkuk yang diulurkan oleh Argantara kepadanya.
“Ayo makan,”
“Makasih ya,”
Mereka berdua makan bersama dan di suapan pertama Shelina langsung dibuat jatuh cinta dengan makanam khas Palembang buata Tina yang rasanya benar-benar lezat sesuai seleranya
“Enak banget pempek nya ya ampun,”
“Iya emang nyokap nggak pernah gagal deh kalau soal masal, apaan aja yang dipegang pasti rasanya enak,”
“Aku bingung gimana ya tips supaya bisa masak yang enak? Aku belajar dari Mama tuh nggak bisa seenak Mama, dan aku yakin kalau aku belajar dari Mama kamu, nggak bakal seenak buatan Mama kamu juga,”
“Bisa kok pasti, cuma belum waktunya aja jadi sehebat mereka. Gue yakin lo bisa,”
“Aamiin, tapi susah bisa seenak masakan Mama, dan aku yakin bakal susah juga kalau untuk ngimutin enaknya masakan Tante Tina. Kita anak-anak yang beruntung ya bisa ngerasain masakan mama yang enaknya luar biasa. Di luar sana banyak yang pengen masakan Mama tapi karena satu dan lain hal akhirnya nggak bisa,”
“Kok lo jadi galau gini tiba-tiba?”
“Iya mendadak aku kepikiran aja gitu sama orang-orang di luar sama yang nggak seberuntung kita bisa nikmati masakan enak Mama,”
“Iya kita lebih beruntung daripada mereka,”
“Aku selalu berdoa supaya aku bisa selama mungkin nikmatin masakan Mama, semoga Mama dikasih kesehatan terus dan panjang umur jadi aku bisa nikmati masakan Mama tuh masih lama, kalau bisa sampai aku tua nanti. Tapi kalau dipikir-pikir mungkin bakal susah banget kali ya soalnya kalau aku udah tua oromatis Mama aku udah tua banget lah,”
“Doa yang sama buat nyokap gue juga,”
“Pasti dong, kita harus doain yang baik-baik untuk orangtua,”
“Eh iya ngomong-ngomong tadi lo bilang bakal bikin gue cemburu ‘kan? Nah, itu nggak jadi ‘kan, Shel? Plis jangan ya, Shel,”
“Ya ampun masih dibahas?”
“Ya abisnya tadi belum jelas keputusannya gimana,”
Shelina tidak menanggapi, dan Ia tetap saja makan dengan serius sampai akhirnya Argantara memanggilnya.
“Hmm? Kenapa?” Tanya Shelina dengan santai.
“Lo nggak bakal balas dendam dengan cara kayak gitu ‘kan, Shel? Plis, jangan ya?”
“Kamu maunya gimana?”
“Ya jangan lah! Itu mau gue. Sumpah gue nggak bisa biarin lo dekat sama yang lain, Shel,”
“Udah terang-terangan gini kalau dia cemburu, tapi dia masih bingung apa yang dia rasain sekarang. Aneh banget sih kamu, Ga,” batin Shelina.
“Tolong jangan ya?”
“Iya,”
“Serius, Shel. Lo jangan main-main sama gue deh. Gue nggak mau ya lo balas dendam ya kayak gitu. Mending lo hantem gue aja, Shel. Lo pulul gue, tinju, gendang, pokoknya apapun boleh lo lakuin untuk bikin fisik gue luka tapi tolong jangan hati gue ya, Shel,”
“Oh—wlw kamu yakin ngomong kayak gini, Ga? Sadar nggak sih ngomong kayak tadi?”
Shelina terkejut mendengar ucapan Argantara yang terdengar serius sekali, dan cukup tegas memperingatinya di awal. Agar lebih baik membalaskan dendam dengan fisik sebagai perantara ketimbang Ia menyakiti hati.
“Shel, lo dengar ‘kan permintaan gue?”
“Iya,”
“Beneran? Lo nggak bakal bikin gue kesal dengan cara dekat-dekat sama duo kunyuk itu ‘kan?”
“Aku kalau dekat sama mereka sebenarnya bukan dibuat-buat karena tujuan tertentu sih. Tapi emang aku bisa dibilang dekat sama mereka terutama Ganta ya, karena emang orangtua kita juga saling kenal,”
“Ya udah sewajarnya aja deh. Jangan berlebihan,”
“Emang aku pernah berlebihan ya? Perasaan aku biasa aja deh sama Ganta,”
“Dianya biasa aja nggak? Itu yang gue maksud!” Ujar Argantara dengan ketus
“Ya kalau dia sih, aku nggak tau ya,”
“Masa nggak tau? Lo ngerasanya dia gimana? Deketin lo wajar atau nggak? Harusnya lo bis anilai sih dari gerak-gerik dia,”
“Ih kami temenan ya wajar lah dekat,”
“Gue aja udah nemuin nggak wajarnya kok,”
Shelina mengangkat kedua bahunya tak acuh. Sejauh Ia berteman dengan Ganta, Ia tidak menemukan ketidakwajaran. Kalau bicara skal kedekatan, Ia dan Ganta memang dekat, tapi hamya sebatas teman saja. Tidak lebih dari itu.
“Gue liat dia suka sama lo,”
“Ya udah biarin aja deh, yang penting aku anggap Ganta ataupun Noval sebagai teman aku aja nggak lebih,”
“Ya tapi emangnya lo nggak risih apa temenan dekat sama orang yang jelas-jelas suka sama lo? Emang nyaman ya? Kalau ghe sih nggak,”
Shelina diam tidak menjawab dan itu mengundang rasa kesal Argantara. Apa Shelina sudah memulai pembalasan dendamnya?
Sungguh, Argantara mebih sennag kalau Shelina menyakiti fisiknya saja ketimbang menyiksa perasaannya. Argantara benar-benar paling tidak bisa kalau sudah menyangkut hati.
Melihat kedekatan Shelina dengan laki-laki lain adalah sebuah penyiksaan untuknya. Katakanlah Ia terlalu berlebihan tapi memang begitulah kenyataannya.
“Shel, gue bis aliat kalau mereka suka sama lo,”
__ADS_1
“Udah aku bilang biarin aja kalau mereka suka. Itu urusan mereka yang penting aku nggak kasih balasan. Aku ‘kan udah punya kamu,”
“Shel, maaf ya kalau gue kesannya ngekang lo banget. Tapi gue nggak mau diam aja setelah tau mereka nyimpan rasa sama lo dan biarin lo tetap kayak biasa aja ke mereka. Percaya deh sama gue bentar lagi juga mereka bakal nyatain perasaan,”