Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 47


__ADS_3

“Masih ada mantan? Iya nggak apa-apa. Ngomong aja, ngapain ditahan? Santai aja, aku nggak amsalah kok,” ujar Shelina yang sudah tahu akan kemana arah pembicaraan Argantara.


“Ya udah ayo kita berangkat,”


Shelina sudah mengganti pakaian, sudah pamit juga dengan mamanya. Sekarang waktunya Ia berangkat ke rumah sakit menjenguk temannya Argantara.


Argantara membukakan pintu mobilnya untuk Shelina dan beberapa detik Shelina membeku dengan letupan-letupan rasa bahagia di dadanya.


Tidak peduli siapa yang dicintai Argantara, diperlakukan dengan baik saja sudah cukup untuk Shelina saat ini. Setidaknya ada perubahan positif. Kalau sebelumnya Argantara suka marah-marah, sekarang tidak sikapnya lebih baik.


“Lo nggak apa-apa ‘kan gue ajakin pergi gini?”


“Nggak apa-apa dong, aku justru senang jengukin orang yang lagi sakit. Itu ‘kan bentuk empati kita,”


Tidak ada lagi obrolan di antara mereka sampai lima menit kemudian Shelina baru ingat kalau Ia belum menyiapkan apa-apa untuk Aruna yang sedang mendapatkan perawatan di rumah sakit.


“Arga, kita berhenti dulu di supermarket ya,”


“Mau ngapain?”


“Ya mau beli sesuatu, masa iya aku mau nyuci?”

__ADS_1


“Beli apa?”


“Aku baru ingat, aku belum bawa apa-apa lho buat Aruna. Aku nggak enak lah,”


“Ya udah nggak usah, gue udah bawain parsel buah sama biskuit tuh. Tadi sebelum ke rumah lo gue udah siapin,”


“Tapi aku juga pengen ada yang dibawa, berhenti sebentar ya di supermarket, aku minta tolong,”


Argantara menganggukkan kepalanya. Beberapa meter di depan mereka kebetulan ada supermarket tanpa pikir panjang Argantara mulai mendekat.


Argantara menghentikan mobilnya di area parkir. Setelah itu Shelina langsung keluar dari mobil diikuti oleh Argantara.


“Emang kenapa? Gue nggak boleh gitu ikutan turun?”


“Ya nggak apa-apa sih, boleh kok,”


“Ya udah jangan ribet,” lugas Argantara.


Shelina menganggukkan kepalanya. Mereka berdua memasuki supermarket dan yang dihampiri oleh Shelina ada tempat roti-roti.


“Selaim roti apalagi, Ga?”

__ADS_1


“Dibilang nggak usah. Akhirnya bingung sendiri kan lo,”


Shelina tertawa membenarkan. Ia memang bingung tapi kalau tidak ada yang dibawa malah tidak enak.


“Udah gue bawain buah sama bikuit dalam kaleng. Lagian ‘kan gue yang ngajakin lo pergi. Jadi emang harus gue yang nyiapin lah,”


“Nggak kayak gitu, Ga. Aku juga senang jenguk orang lain, aku masa nggak bawa apa-apa mentang kamu yang ngajakin,”


Shelina mengambil roti, air mineral, dan makanan ringan. Shelina pernah dirawat di rumah sakit dan selama di ruang rawat inapnya itu Shelina bingung harus melakukan apa selain bermain ponsel, menonton televisi, dan makan. Jadi karena tak ada kegiatan, Shelina banyak makan cemilan. Mungkin Aruna juga begitu, pikir Shelina.


Shelina sudah selesai membayar dan Argantara entah menghilang kemana. Shelina cari-car rupanya lelaki itu sedang berada di depan kulkas minuman soda.


“Ya ampun, ternyata disitu dia,”


Shelina menghampiri Argantara dan ketika hampir sampai di dekat Argantara, tiba-tiba ada yang menyapa Shelina dengan hangat.


“Eh Shelina ya?”


Shelina dan Argantara kompak menoleh ke seorang lelaki yang sedang memegang makanan ringan.


Argantara langsung menatap Shelina yang kelihatan bingung beberapa saat. “Hai, maaf aku lupa. Kamu siapa ya?”

__ADS_1


__ADS_2