
"Aku bilang duduk sekarang. Terus makan siomaynya. Kamu ngerti?"
Suara Argantara terdengar sangat lembut di telinga. Siapapun yang mendengarnya pasti akan merasa tersanjung diperlakukan selembut itu oleh lelaki tampan yang tegas ini.
Shelina mengangguk polos seperti anak kecil. Hal itu membuat Argantara berusaha menahan tawanya dengan menggigit bibir bawahnya gemas.
Shelina langsung duduk di sebelah Argantara yang sudah melahap siomay miliknya. Kalau sudah diperlakukan lembut, Shelina bisa apa selain patuh.
Sesaat Argantara menggelengkan kepalanya bingung melihat Shelina yang terlihat semangat menikmati siomay yang dibelinya. Padahal tadi ia mengatakan sudah kenyang dan mau meninggalkan siomay yang dibelinya begitu saja, bagaimana Ia tidak kesal? Disaat Ia lelah Shelina seolah telah memancingnya untuk melampiaskan amarah dan sebenarnya tidak ada pembenaran sama sekali untuk itu.
"Udah makan apelnya. Kamu makan apel terus,”
Argantara melirik piring berisi apel yang berada di dekat istrinya. Kemudian menatap Shelina di yang masih sibuk dengan makannya.
“Aku suka apel,”
Shelina tidak mengeluarkan kata apapun lagi setelah bicara seperti itu pada Argantara. Kemudian Ia meneguk air putih
"Pasti ngambek ‘kan sama aku?"
Tidak dijawab juga. Shelina terlalu sibuk dengan makanannya atau apa yang jelas kali ini Shelina diuji lagi kesabarannya karena Shelina tak kunjung memberikan jawaban.
__ADS_1
Argantara menghela nafasnya pelan. Baru beberapa menit yang lalu ia menyelesaikan amarahnya. Tapi sekarang Shelina kembali membuat darahnya mendidih.
"Ngambek, Sayang?”
Shelina menggeleng sekilas. Hanya menggeleng dan Argantara punya kesimpulan sendiri.
"Ngambek pasti,”
"Enggak,”
"Bohong,”
"Bener kok,”
Shelina kembali disibukkan dengan siomaynya tanpa menjawab ucapan Argantara. Sesekali ia terlihat membersihkan bibirnya yang dikotori bumbu kacang kesukaannya.
"Hei, Kok ngambek? Aku minta maaf tadi gak sengaja bentak kamu,”
Argantara meraih wajah Shelina lalu mengusap wajah cantik itu dengan lembut seraya menatap mata perempuan itu dengan dalam.
"Maafin ya,”
__ADS_1
Argantara menatap Shelina dengan pandangan memohon. Ia semakin merasa bersalah karena mata Shelina yang terlihat masih sedikit basah akibat tadi sempat menangis.
"Maafin aku, mau maafin aku enggak?”
Shelina diam dan itu membuat Argantara belum merasa tenang karena Ia menganggap Shelina masih belum juga memaafkan dirinya.
"Mau enggak maafin aku? Tolong, maafin aku. Tadi aku udah buat kamu sama anak aku takut ya?"
"Anak aku juga!” Lugas Shelina. Argantara hanya menyebut anak itu adalah anaknya saja, padahal ‘kan anak mereka berdua tapi yang mengandung Shelina.
Bibir Shelina terlihat seperti ikan karena tangan Argantara yang gemas menekan pipinya yang bertambah bulat hingga bibirnya sedikit maju dan terbuka.
Argantara tertawa melihat gemasnya sang istri. Ia jadi makin suka menjadikan pipi istrinya sebagai mainan.
"Iya anak kamu juga. Jadinya anak kita,” ujarnya. Ia salah bicara makanya Shelina protes.
"Aku mohon sama kamu, jangan buat emosi aku datang, Sayang. Aku belum bisa ngendaliin diri aku sendiri. Aku takut nyakitin kamu lagi. Kamu mau kan ngerti sama sikap aku yang kayak gini?"
“Ya enggak bisa kayak gitu terus lah. Aku takut tiap lihat kamu marah,”
“Iya maaf, aku ‘kan juga selalu berusaha untuk enggak emosian. Aku masih belajar terus supaya lebih baik lagi jadi suami kamu,”
__ADS_1
“Maafin aku ya, Sayang. Kalau seandainya aku bikin kamu sedih, aku tuh nggak bermaksud marah, cuma kalau lagi capek kadang dihadapkan dengan sikap nyebelin dikit aja bawaannya aku kesal,”