Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 50


__ADS_3

“Shel, temenin gue yuk,”


Shelina baru juga menyentuh tempat tidur setelah memenuhi ajakan makan siang oleh Ganta dan mamanya, Arni. Shelina tidak eprgi seorang diri melainkan bersama Mamanya.


Setelah makan, Shelina diajak mamanya belanja bulanan. Dan karena banyak jalan membantu mamanya mencari keperluan ini dan itu, akhirnya sekarang kakinya benar-benar pegal.


Tiba-tiba temannya mengajak Ia pergi. Kalau tidak mau, Shelina tidak enak hati. Apalagi Lifa kedenagrannya sangat berharap.


“Gue bosen di rumah nih, pengen banget jalan,”


“Hmm ya udah,”


“Nggak apa-apa?”


“Cuma nyalon kok,”


“Okay, Lif,”


“Ntar gue jemput ke rumah ya, Shel,”


“Sip, aku tunggu ya,”


“Iya-iya, bye Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


Shelina yang semula sudah berganti pakaian rumah langsung mengganti pakaiannya lagi dengan kaos oversized dan celana jeans.


Ia menyisir rambutnya kemudian Ia kuncir menjadi satu. Ia menggunakan parfum, dan mengambil tas kecilnya lagi untuk menjadi tempat penyimpanan ponsel juga dompet.


Ia keluar dari kamar dan menunggu di ruang tamu supaya nanti begitu temannya itu datang, mereka bisa langsung berangkat.


“Sayang, mau kemana? Kok keluar lagi?”


Shefia bertanya pada anaknya yang sedang menuruni tangga. Penampilannya jelas ingin pergi.


“Aku mau temenin Lifa sebentar ya, Ma. Dia mau ke salon katanya,”


“Ke salon? Oh ya udah hati-hati, Sayang,”


“Iya, Ma,”


Shelina langsung mencium tangan mamanya dan berjalan ke ruang tamu diikuti oleh Shefia yang akan melepas perginya Shelina sekaligus menutup pintu.


“Ke salon aja?”


“Iya kayaknya, Ma,”


“Hati-hati, langsung pulang ya, Nak. Kalau bisa kanarin Mama kalau udah sampai, dan mau pulang. Jangan lupa lho, Shel,”


“Iya ingat, Ma,”


Anak dan ibu itu duduk di ruang tamu menunggu kedatangan Lifa. Tiba-tiba ponsel Shelina bergetar, Ia langsung mengeluarkan dari dalam tasnya. Shelina pikir yang menghubunginya adalah Lifa mengabarkan bahwa Lifa sudah dekat tapi ternyata Argantara.


“Halo, Ga,”


“Halo, Sayang. Lagi sibuk nggak? Dijemput Arga ya, main ke rumah,”


Shelina langsung terdiam. Ia pikir yang akan bicara dengannya adalah Argantara tapi ternyata mamanya Argantara yang memintanya untuk datang ke rumah.


“Hmm, ada acara ya, Tante?”


“Lagi ada arisan keluarga aja sebenarnya, Sayang,”


“Oh gitu ya, Tante. Tapi aku rencananya mau pergi sama Lifa, udah terlanjur iyain ajakan dia, Tan. Aku minta maaf ya, Tante, belum bisa datang dulu,”


“Iya nggak apa-apa, mau pergi sama teman ya?”


“Dia minta temenin ke salon, Tante,”


“Ya udah kalau begitu hati-hati ya,”


“Makasih, Tan, sekali lagi aku minta maaf banget,”


“Iya nggak apa-apa, Sayang. Lain kali ‘kan masih ada waktu. Ya udah kalau begitu, Tante tutup teleponnya ya. Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam, Tante,”


Obrolan antara Shelina dan mamanya Argantara berakhir. Shefia langsung menatap anaknya yang sedang menyimpan ponselnya di dalam tas.


“Siapa?”


“Tante Tina ngajak aku ke rumahnya, Ma. Ada arisan keluarga gitu katanya. Nanti Arga jemput tapi aku bilang nggak bisa. Aku mau jalan sama Lifa, dan malu juga aku,”

__ADS_1


“Lho kok malu? Nanti abis jalan sama Lifa aja ke sana. Malu kenapa sih?”


“Ya…malu aja gitu. Aku malu ketemu keluarganya Arga. Belum berani aj,”


“Lah orang udah pernah ketemu kok waktu tunangan, kok sekarang malu-malu? Itu bakal jadi keluarga kamu juga lho. Kamu diundang itu, harusnya ya datang,”


“Aku nggak enak, Ma. Aku malu, takut salah-salah sikap gitu ‘kan. Baru sekali ketemu mereka. Terus, aku takutnya kali ini kebih rame daripafa acara tunangan aku yang waktu itu. Nggak seberapa kalau yang duluan karena ada yang nggak bisa datang, lah ini acara arisan keluarga bisa-bisa semua pada bisa datang. Kalau waktu tunangan ‘kan ada yang lagi di luar kota, luar negeri, kerja, sekarang takutnya udah pada datang,”


“Ya justru itu biar makin dekat. Ah kamu kenapa malu-malu gitu sih,”


Shelina terkekeh sambil menggaruk pelipisnya salah tingkah. Jujur Ia belum siap bertemu dnegan keluarga Argantara lagi, kalau yang eprtemuan sebelumnya untuk membahas pertunangan itu memang tidak lengkap yang hadir, begitupun saat tunangan karena halangan satu dan lain hal. Keluarganya pun demikian. Tapi Ia tidak begitu gugup karena ada orangtua. Sementara ini, Ia akan datang sendiri, bertemu dengan keluarga Argantara lagi yang mungkin jumlahnya lebih banyak. Jadi Ia belum siap.


Ada suara denting dari ponselnya. Shelina lembali mengeluarkan ponsel dan ternyata ada pesan masuk dari Argantara.


-Lo kenapa nggak kau ke rumah gue?-


Shelina segera mengetik balasan untuk tunangannya itu.


-Aku lagi mau jalan sama Lifa, Ga-


-Ya udah abis jalan, gue jemout. Emang nggak bisa?-


-Aku malu-


-Malu? Malu kenapa sih?-


Shelina menghembuskan napas kasar. Ia belum mengetik balasan untuk Argantara. Ia bingung harus membalas apa.


-Aku malu aja ketemu keluarga kamu. Nggak pede-


Shelina terkekeh setelah mengirimkan balasan itu kepada Argantara yang Ia yakini pasti akan panas membaca pesannya.


“Kenapa kamu ketawa gitu, Shel?”


“Hmm nggak apa-apa, Ma,”


“Chattingan sama Arga ya? Dia kecewa pasti karena kamu nggak datang,”


“Ya biarin aja deh, Ma. Aku insecure anaknya,”


“Nah itu yang nggak bagus. Orang udah diminta datang kok. Kecuali kalau kamu tiba-tiba datang, terus nggak diterima dengan baik, nah itu bisa bikin kamu insecure. Lah ini ‘kan kamu diundang, dan Mama juga liat kok keluarga Arga baik-baik, ‘kan udah pernah ketemu dua kali tuh waktu pertemuan sama tunangannya. Gampang akrab, gampang berbaur sama kkeluarga kita,”


“Ma, ini masalahnya aku cuma datang sendiri, kalua yang duluan ‘kan aku sama Mama Papa ya. Nah ini aku datang sendiri jadi aku malu, Ma,”


“Ah ya udah deh terserah kamu. Takutnya mereka berpikir kamu nggak menghargai,”


“Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


Lifa sudah datang dan dengan wajah ceria Lifa mencium tangan Shefia yang langsung beranjak berdiri.


“Mau minum apa, Nak?”


“Nggak usah, Tante. Aku mau langsung ngajak Shelina pergi. Aku izin pinjam Shelina bentar ya, Tante,”


“Pinjam-pinjam, emang aku barang?” Shelina protes mendnegar kata pinjam.


“Heheheh maksudnya izin ngajakin pergi,”


“Iya hati-hati,”


“Makasih, Tante. Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


Lifa hanya masuk ruang tamu sebentar, tidak duduk, dan karena langsung keluar lagi dengan membawa Shelina.


“Hati-hati ya kalian berdua,”


“Iya, Tan. Cuma ke salon aja kok,”


“Sip, selamat nyalon kalau gitu,”


Lifa terkekeh dan melambaikan tangannya ke arah Shefia, begitupun dengan Shelina. Setelah mobil Lifa melaju meninggalkan kediamannya barulah Shefia masuk ke dalam lagi dan mengunci pintu.


******


-Kenapa sih lo insecure gitu?-


Di dalam mobil Argantara masih mengirimkan pesan untuk Shelina yang segera membalasnya.


Shelina merasa kalau Argantara seperti belum terima dnegan keputusannya yang memilih untuk tidak hadir dengan alasan malu.

__ADS_1


-Apa-apan alasan lo? Apa yang bikin lo malu coba? Lo tuh jangan kebiasaan nggak percaya diri atau insecure-


-Iya tapi lain kali aja ya-


-Ya udah nggak apa-apa. Have fun kalau gitu-


Shelina tersenyum membalas pesan Argantara yang akhirnya setuju. Pembahasan mereka selesai, Shelina langsung memadamkan layar ponselnya.


“Eh lo senang nggak gue ajakin pergi?”


“Ya senang lah,”


“Lo tadi lagi ngapain pas gue hubungin?“


“Lagi tidur-tiduran aja sih sebenarnya,”


“Yah, lo lagi tiduran? Sorry ya gue ganggu,”


“Nggak apa-apa, santai aja,”


“Lo nggak ada plan pergi sama Arga ‘kan nih?”


“Nggak ada,”


Shelina tidak jujur kalau Ia diminta datang ke rumah Argantara. Karena untuk apa juga Lifa tahu. Nanti Lifa malah tidak enak hati, dan bisa-bisa mereka tidak jadi pergi.


*******


Keluarga Argantara sudah datang dan beberapa ada yang tidak datang ternyata. Kebetulan salah satu sepupu yang sangat dekat dengan Argantara tidak bisa ikut memeriahkan acara arisan kekuarga sebab anaknya sakit.


“Cewek lo mana, Ga?”


Salah satu sepupu Dafi langsung menanyakan keneradaan Shelina pada Argantara yang langsung menjawab dengan malas.


“Nggak datang dia,”


“Jiahh bad mood lo?”


“Nggak sih, biasa aja sebenarnya,”


“Ada urusan kali ya?”


“Iya, jadi nggak bisa datang,”


“Kalau Ia katakan Shelina tidak datang sebab rasa malu atau tidak percaya dirinya, apa tidak tertawa mereka yang mendengar itu? Argantara saja tidak habis pikir, keluarganya juga pasti seperti itu.


“Gimana persiapan nikah?”


“Kayaknya mau mikirin kuliah dulu deh, kuliah aja udah pusing banget gue,”


“Ah payah lo,”


“Santai aja dilu lah,”


“Ntar keburu gue nih,”


“Ya udah duluan gih,”


“Hahahaha semangat lo nyuruh gue duluan. Calonnya belum ada, Ga,”


“Mau gue bantu cariin nggak?”


“Mau, temannya Shelina ada nggak? Yang spek bidadari macam Shelina. Cakep iya, baik iya, sopan iya, mau dong yang kek Shelina gitu,”


“Ya elah muji Shelina,”


Dafi langsung menutup mulutnya. Sepertinya pujian yang Ia berikan untuk Shelina tidak diterima dengan baik oleh Argantara.


“Oh cemburu ya?”


“Sebenarnya biasa aja sih, nggak cemburu. Cuman lo bilang dia bidadari? Emang iya?”


“Ya elah, nilai sendiri deh sama lo. Lo nggak setuju sama apa yang gue bilang? Dia tih bidadari,”


“Ah masa iya,”


“Lah nggak percayaan,”


Dafi tidak habis pikir Argantara tidak punya penilaian yang sama dengannya. Padahal walaupun baru bertemu satu kali ketika acara pertunangan, Dafi sudah bisa menilai Shelina itu nemang cocok untuk Argantara karena kelebihan-kelebihan yang barusan Ia sebut.


“Kalau ntar udah nikah terus punya anak—“


“Ya elah, Daf. Lo udah jauh amat mikirnya,”

__ADS_1


“Lah ‘kan tunangan pengennya lanjut ke pernikahan. Nah setelah nikah mau punya anak dong? Masa nggak?”


Argantara menggusar rambutnya ke belakang. Hubungannya dengan Shelina masih belum jelas juga akan berakhir seperti apa.


__ADS_2