Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 89


__ADS_3

“Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam, Oh Ganta yang datang ternyata. Ayo-ayo silahkan masuk, Ganta,”


Shefia terkejut sekaligus bingung karena tiba-tiba Ganta datang disaat Shelina, sahabatnya sedang tidak berada di rumah.


“Sebentar ya Tante ambil minum dulu,”


“Tante nggak usah. Nggak perlu repot-repot, aku ‘kan bukan tamu,”


“Eh kata sipaa bukan tamu. Udah tunggu bentar di sini,”


Ganta menganggukkan kepalanya ketika Shefia bersikeras ingin ke dapur mengambilkan air minum dan kue untuk Ganta yang datang diang ini.


Tidak lama kemudian Shefia kembali ke ruang tamu dengan membawa satu gelas jus jeruk, satu gelas air putih dan juga satu piring datar berisi kue yang sudah dipotong-potong.


“Ini ada jus jeruk sama air putih terserah Ganta mau yang mana. Nah kalau ini kue buatannya Bibi, semoga Ganta suka ya. Enak banget lho cheese cake buatan Bibi,”


“Pasti enak, Tante,”


“Ya udah dicobain dulu,”


Ganta langsung menganggukkan kepalanya setelah itu mengambil satu potong kue dan begitu selesai mengunyah satu gigitan, Ia langsung mengacungkan jempolnya.


“Tuh ‘kan beneran enak kuenya,”


“Alhamdulillah kalau gitu,”


“Oh iya, Zeline kebetulan lagi nggak ada di rumah, Gan. Lagi eprgis ama Arga ke time zone kalau nggak salah. Dia kangen time zone lagi. Jadi mau main di sana. Duh anak itu emang ya, udah gede tapi maish suka sama hal-hal yang berbau anak kecil. Orang mainan di handphone nya aja yang masak-masakan sama gantiin baju barbie,”


Ganta terkekeh mendengar ceritanya Shefia. Itulah keunikan Shelina. Padahal usainya sudah dewasa menginjak angka dua puluh tapi maish suka game yang sering dimainkan oleh anak kecil, terkadang tontonannya kalau lagi di rumah juga kartun, dan masih suka koleksi boneka-boneka.


Selain karena nyaman dekat dengan Shelina, karakter Shelina yang baik, dan hal-hal unik serta beda yang Shelina miliki lah yang menjadi alasan Ganta menyukai Shelina.


“Oh ternyata Shelina lagi pergi ya, Tante? Sama Arga aja?”


“Iya berdua mereka, memang ada apa, Gan? Ada perlu sama Shelina kah? Nanti Tante sampaikan,”


“Oh cuma pengen bahas tugas jaa kok, Tante, bisa nanti-nanti aja deh kalau emang Shelina lagi nggak ada di rumah sekarang,”


“Iya, Shelina nya lagi pergis ama Arga, maaf ya. Tapi nanti Tante sampaikan ke Shelina,”


“Siap, Tante,”


“Mereka kepihatan cocok ya, Tante,” ujar Ganta tiba-tiba yang tentunya langsung membuat Shefia sempat bingung. Mereka yang dimaksud Ganta itu adalah Shelina dan Argantara.


“Maksudnya Shelina sama Arga ya? Oh iya memang mereka kelihatannya cocok, dan udah sama-sama nyaman,”


“Oh iya tapi mereka dulunya ‘kan nggaks aling nerima ya?”


“Maksud kamu?”


“Kereka dijodohin ‘kan, Tante?”


“Oh iya kalau itu memang benar, tapi dari awla Shelina sama Arga terima-terima aja kok. Lagipula sebenarnya nggak ada unsur paksaan. Kalau mau lanjut ya Alhamdulillah karena kebetulan orangtua Arga kenal sama Tante dan Om. Bahkan berteman baik, nah kalau nggak mau lanjut juga nggak apa-apa. Tapi mereka setuju,”


“Apa tante yakin dari awal Arga setuju, Arga terima perjodohan itu?”


Kening Shefia langsung mengenryit bingung mendengarkan ucapan Ganta. Ia benar-benar tidak bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi. Kelihatannya Ganta lebih banyak tahu di balik perjodohan yang telah dirancang.


“Yang Tante lihat sih seperti itu ya. Mereka sama-sama mau, jadi ya sudah dilaksanakan lah pertunangan itu. Ya hanya untuk mengikat aja, jadi sama-sama jaga sikap ke yang lain, dan jaga hati juga,”


“Tapi Tante, tau nggak sih kalau Arga itu pernah benci banget lho sama Shelina. Sikap dia pernah kasar ke Shelina. Baru belakangan ini aja dia berima Shelina. Sebelumnya nggak, Tante. Dia ‘kan nolak habis-habisan pertunangan itu,”


Shefia menaikkan kedua alisnya bingung. Entah darimana Ganta tahu soal itu, tapi yang jelas Ia tidka tahu apapun. Kenapa Ganta yang lebih tahu hal-hal dibalik perjodohan yang telah dirancang sedemikian rupa.


“Kamu tau darimana soal itu, Ganta?”


“Dari orang-orang sekitar Arga dan Shelina, Tante. Arga itu dulu benci bangets ama Shelina, Arga sebenarnya nolak, dan dia kesal karena Shelina terima jadi dia merasa nggak ada pendukung. Sementara Shelina itu nerima perjodohan karena mau patuh sama orangtua, dan dia yakin kalau pilihan krangtuanya adalah yang terbaik, nah kalau Arga berkebalikan dari itu. Tapi kayaknya orangtua Arga berusaha untuk dorong Arga terus deh makanya Arga mau. Ya kalau aku jaid orangtua Arga juga pasti maulah anaknya punya pasangan sebaik Shelina, tapi baru-baru ini Arga kayaknya udah sadar kalau dia itu udah salah sempat nyia-nyiain Shelina. Akhirnya sekarang dia udah baik tuh ke Shelina. Udah nerima Shelina juga kayaknya,”


Mendadak Shefia kesal mendnegar penjelasan Ganta. Jadi ternyata anaknya pernah ditolak habis-habisan bahkan dibenci oleh laki-laki yang kelak akan menjadi suaminya. Kalau seperti itu kenyataannya, bagaimana kehidupan Shelina di masa depan? Tidak ada yang bisa menjamin Shelina baik-baik saja dan merasa bahagia ketika sudah resmi menjadi istri dari Argantara.


********


“Beneran jadi main timezone ya?”


“Iya, mau nggak?” Tanya Shelina pada tunangannya yang lumayan kaget mendengar permintaan sang tunangan yang juga sudah jadi kekasih, tinggal jadi istri yang belum. Sudah duduk di bangku kuliah masih mau bermain timezone. Sejujurnya tak pernah ada dalam bayangan Argantara akan masuk ke tempat bermain yang identik dengan anak-anak di bawah umur.


“Kamu beneran nih?”


“Iyalah masa aku bohongan sih,”


“Emang nggak apa-apa?”


“Setau aku sih nggak apa-apa, aku pengen ke sana sama kamu kayaknya belum pernah ya? Abis itu kita foto di studio yuk kalau keburu, kalau udah keburu sore ya jangan,”


“Ya udah boleh izin dulu sama Mama kamu coba,”


Shelina menganggukkan kepalanya dan langsung mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya. Ia akan minta izin pada mamanya sebelum pergi dengan Argantara ke timezone.


“Halo Assalamualaikum, Ma,”


“Waalaikumslama iya kenapa, Nak?” Tanya Shefia pada anaknya yang tak biasanya menghubungi di jam pulang kuliah seperti ini.


“Mama, aku boleh ke timezone sama Arga nggak?”


“Ngapain ke timezone? ‘Kan kamu udah besar,” ujar Shefia yang langsung membuat Argantara tersenyum. Mamanya saja tak habis pikir apalagi Ia. Tapi tidak apa, yang penting Shelina bahagia.


“Sampai jam berapa kira-kira?”


“Mudah-mudahan jam lima udah di rumah, Ma,”


“Oh gitu, okay-okay Mama tunggu ga di rumah. Kamu sama Arga hati-hati


“Okay siap, Ma,”


Shelina merasa tenang kalau sudah izin pada mamanya. Ia segera menyimpan kembali ponselnya di dalam saku kemudian menghembuskan napas lega.


“Aku udah izin Mama aku lho ya,”


“Okay berarti kita jadi ya ke timezone?”


“Ya jadi dong, Ga. Ayo kita pergi ke timezone sekarang yeayy,”


“Kamu kayaknya senang banget,”


“Iyalah senang, siapa yang nggak senang mau dibuat senang sama pacarnya,”


“Akhirnya punya waktu berdua lagi,” ucap Shelina yang benar-benar bahagia karena tunangannya mau menuruti keinginannya ke timezone.


“Aku mau main capit boneka di sana semoga dapat ah,”


“Kamu lagi kepengen punya boneka ya?”


“Nggak, aku kalau dapat boneka dari hasil capit rasanya senang banget karena boneka itu didapat dengan perjuangan yang nggak mudah,”


“Ya mendingan beli aja ketimbang berharap dari dari kotak itu nggak bakal dapat,”


“Ih kata siapa nggak bakal dapat, banyak kok yang berhasil dapat,”


“Iya tapi keberuntungan harus besar kalau mau ambil satu boneka.


“Nggak apa-apa deh, Ga, karena dapat satu boneka aja rasanya tuh besar perjuangannya. Kalau beli ‘kan tinggal beli nggak ada usahanya,”


“Ntar aku bantu biar cepat dapat,”


“Kamu emangnya ada tips?”


“Ya nggak ada tips sih, tapi aku punya doa khusus supaya kamu dapat apa?”


“Coba gimana doanya?”


“Ya Allah tolong bantu Shelina untuk mendapatkan boneka incarannya aamiin, terimakasih ya Allah,”


Shelina tersenyum mendengar permintaan kekasihnya yang terkesan serius sekali padahal yang didoakan sebenarnya tidak penting-penting sekali.


“Kamu sampai berdoa gitu, hehehehe,”


“Ya biar kamu tau doa aku apa. Semoga nanti berhasil ya dapat boneka capit,”


Mobil Argantara tiba di sebuah pusat perbelanjaan. Argantara dan Shelina langsung membuka sabuk pengaman mereka dan mereka keluar dari mobil.


“Langsung ke timezone ‘kan, Shel?” Tanya Argantara pada kekasihnya itu. Tentu saja Shelina menganggukkan kepalanya.


“Iya aku mau ke timezone langsung,”


“Lantai dua timezone nya,”


“Kamu kok tau?”


“Aku pernah sama ponakan aku ke time zone mall ini, Ga,”

__ADS_1


“Oalah pantesan tau ya,”


Begitu tiba di timezone buru-buru Shelina membeli tiket masuk, tidak mengizinkan Argantara yang membayar.


“Dih masa gitu, masa bukan aku yang bayar. Buru-buru amat ke kasir,”


Shelina terkekeh, ya memang tujuannya buru-buru adalah untuk membayarkan tiket bukan mengandalkan Argantara.


“Masa kamu mulu yang bayar, ini ‘kan aku yang ngajak ke timezone jadi aku yang bayar lah,”


“Nggak ada aturan kayak gitu, Shel. Ah kamu bikin aturan sendiri deh,”


“Iya aku buat aturan sendiri emang kenapa?” Shelina menatap Argantara dengan mata melotot dan wajah menantang, alih-alih takut Argantara justru gemas melihatnya.


Argantara langsung menjawil hidung runcing kekasihnya itu sambil terkekeh. “Kamu kayak gitu mikirnya aku bakal takut ya? Hmm? Ya ada kamu tuh keliatan lucu tau, jadi bikin aku gemas,”


“Halah bisa aja kamu,”


“Lah emang benar,”


Argantara langsung menemani kekasihnya itu bermain capit boneka. Shelina tampak sangat antusias sekali dengan permainan ini dan kelihatan sangat berharap mendapatkan boneka incarannya.


“Kamu mau yang mana sih bonekanya? Ada dua?”


“Ya,”


“Apa aja tuh?”


“Tebak yang mana?”


“Yah kamu nyuruh aku nebak? Yang bener aja,”


“Iya coba kamu tebak mana yang jadi incaran aku?”


“Yang—-yang hello kitty?”


“Iya betul,”


“Ya udah ambil buruan,”


“Iya sabar dong,”


“Yeayy kamu bener,”


Shelina mengerahkan pencapit untuk mengambil boneka incarannya tapi boneka itu malah jatuh ketika baru saja dicapit.


“Nggak apa-apa, semangat,” ujar Vindra menyemangati kekasihnya.


“Kamu mah semangat semangat aja,”


“Lah terus aku harus gimana dong,”


“Udah diem jangan semangat-semangat,”


Argantara tertawa karena kekasihnya itu menyuruh Ia diam supaya semakin fokus dalam meraih boneka.


“Feeling aku kali ini kamu dapat,”


“Aamiin semoga ya,”


“Aku doain pokoknya,”


Shelina menurunkan pencapit agar mencapit boneka incarannya lagi dan kali berhasil mencapit tapi ketika dalam perjalanan menuju dirinya sebagai pemilik, boneka itu lagi-lagi jatuh.


“Ah mulai habis nih kesabaran aku yang cuma setipis tisu ini,”


Argantara terbahak dan mengusap bahu Shelina berusaha membuatnya sabar. Tidak kesal atau panas hatinya.


“Udah aku bilang kalau emang nggak dapat kita tinggal beli aja okay?”


“Nggak mau aku mau dapat,”


“Ya udah semoga kali ini dapat aamiin,”


“Aamiin,”


Shelina masih mencoba, kali ini Ia lebih serius, jantungnya tidak bisa tenang. Ia sangat berharap bisa berhasil mendapatkan boneka tersebut. Walaupun mungkin harganya tidak seberapa tapi Ia senang bila berhasil mendapatkannya ada nilai perjuangan atau kerja keras di dalamnya. Ia harus benar-benar kerja keras dengan fokus tinggi supaya bisa mendapatkan boneka yang Ia mau.


“Udah pokoknya kalau nggak dapat ntar kita beli aja,”


Argantara sudah berapa kali berkata seperti itu karena Argantara tidak ingin kekasihnya merasa sedih akibat apa yang diharapkannya tidak berhasil Ia dapatkan.


“Ih kamu mah ngomong gitu mulu. Udah aku bilang aku tuh nggak pengen beli, kalau berhasil dapetin ini rasanya tuh puas banget nggak kayak beli, kalau beli ya tinggal keluarin uang jadi deh bonekanya milik kita, tapi kalau ini ‘kan susah banget dapetinnya jadi kalau berhasil bawa pulang aku bakalan girang banget sih,”


“Iya ini aku nggak bosan coba kok, tenang aja,”


Shelina masih mencoba sampai kemudian Ia berhasil mendapatkan satu boneka di percobaan kelima.


“Yeayy berhasil,”


Shelina langsung melompat kesenangan ketika berhasil mendapatkan boneka yang Ia inginkan. Berkat kesabaran dan kegigihannya dalam mencoba walaupun sudah sering gagal akhirnya Ia bisa mendapatkan satu buah boneka hello kitty. Kekasihnya ikut senang melihat Ia senang.


“Ciee selamat ya,”


“Iya makasih berkat dukungan kamu, aku ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya,” ujar Shelina sambil menangkup kedua tangannya di depan muka. Argantara tertawa karena kelakuan kekasihnya itu.


“Lebay kamu ah,”


“Aku senang lho ini, kok malah kamu bilang lebay sih?”


“Iya sampe harus bilang makasih sebanyak-banyaknya emang apaan yang udah aku kasih ke kamu?”


“Hahahahah ya biar aja,”


“Aku ‘kan senang dan aku tau kamu support system aku untuk dapat boneka ini. Yeayyy akhirnya aku dapat juga,” ujar Shelina seraya mengambil boneka miliknya yang sudah berhasil Ia dapatkan setelah lima kali percobaan dulud an lima-limanya gagal semua.


“Akhirnya ada hasil juga ya di percobaan ke enam, tadinya aku udah mau pulang aja tuh kalau nggak dapat,”


“Kamu tuh nggak sabaran, coba aja lebih sabar lagi, pasti dapat kok,”


“Ih nggak pasti lah, ini tuh ada faktor keberuntungan tau,”


“Ya udah sekarang kamu mau main apa lagi?”


“Bola basket yuk,”


“Ayok,”


Argantara setia mengikuti kekasihnya kemanapun. Argantara menjadi pemerhati saja, dan diam-diam mengabadikan kegiatan kekasihnya itu.


“Ih kamu kenapa fotoin aku?”


“Ya nggak apa-apa dong, emang kenapa? Nggsk boleh aku fotoin pacar aku sendiri eh tunangan aku sendiri? Aku pengen punya kenang-kenangan,”


“Itu di galeri handphone kamu isinya foto aku semua ya? Hahaha kepedean aku,”


“Coba nih liat sendiri,” ujar Argantara sambil menyerahkan ponsel kepada sang kekasih. Shelina ingin meraih ponsel Argantara dengan ragu-ragu tapi Argantara meyakinkannya dengan cara menganggukkan kepala mempersilahkan Ia meraih ponselnya.


Shelina akhirnya meraih ponsel sang kekasih kemudian Ia diminta Argantara untuk membuka galeri. Begitu Ia buka ternyata memang banyak foto Shelina. Shelina tentunya terkejut.


“Jadi kamu bukan kepedean, emang isi galeri aku didominasi sama foto kamu, Shel,”


“Ya ampun, udah makin banyak aja koleksi kamu, aku pikir udah dihapus-hapus,”


“Bahkan foto waktu kita awal pacaran masih ada,”


“Oh ya?”


Argantara menganggukkan kepalanya. Ia mempersilahkan kekasihnya itu untuk mencari tahu sendiri dan ternyata memang ada foto mereka di masa awal membaik hubungannya. Foto berdua ada dan foto Shelina sendiri juga ada.


“Ngapain sih? Menuh-menuhin memori aja,”


“Ya karena aku suka aja ngeliatin foto kamu kalau lagi nggak ada kegiatan, nggak ada kesibukan,”


“Ya ‘kan bisa nonton atau apa kek kalau lagi nggak ada kegiatan,”


“Iya emang itu aku lakuin juga tapi nggak ketinggalan aku merhatiin foto kamu, Zel,”


“Ih kamu so sweet banget sih,”


“Hahahaha biasa aja, aku rasa banyak juga yang kayak gitu kok,”


“Kamu mending jadi fotografer aja deh, Ga, hasil foto kamu bagus-bagus semua,”


“Nggak ah, itu aku kebanyakan asal ngambil, aku nggak jago, tapi yang penting ada foto kamu,”


“Aku mau beli minuman boba ah abis ini,”


“Ayok,”


“Abis itu keburu nggak ya kalau misalnya kita foto di studio?”

__ADS_1


“Keburu kalau kita berangkat sekarang, tapi terserah kamu sih. Kalau kamu belum puas di timezone nggak masalah,”


“Udah deh, ayo kita ke studio sekarang,”


“Kamu udah puas mainnya belum?”


“Udah, ayo kita ke studio,”


“Beneran? Sekarang nih?”


“Ya iya sekarang, Vin, masa tau depan,”


“Ya udah ayok,”


“Tapi beli minuman dulu boleh ya?”


“Boleh, kamu mau apa aja boleh kok, cantik,”


Shelina tersenyum malu-malu. Dipuji cantik oleh Vindra ya jelas Shelina senang. Tiba-tiba tangan Shelina digenggam oleh Argantara dan dibawa keluar dari timezone.


“Okay makasih ya,”


“Sama-sama,”


Mereka menghampiri stand penjual minuman boba dan Shelina langsung membeli dua gelas minuman yang menunya sama. Argantara ditanya tidak mau tapi tetap saja Shelina belikan tidak mungkin Ia beli untuk dirinya sendiri.


“Lah masih dibeliin aja sih,”


“Nggak apa-apa masa cuma aku sih yang minum, aku haus, kamu juga pasti haus,”


“Makasih ya,”


“Sama-sama,”


Mereka berjalan menuju food court untuk membeli makanan.


“Capek ya kamu?”


Tanya Argantara pada Shelina yang baru saja memenuhi hasrat masa kecilnya yaitu bermain sepuasnya di timezone.


Setelah itu mereka pergi ke restoran untuk mengisi perut. Setelah puas bermain, ternyata perut mereka sama-sama lapar. Tapi sebenarnya yang puas bermain adalah Shelina, sementara Argantara hanya sesekali saja mencoba permainan. Ia lebih sibuk mengamati Shelina.


Meliha senyum bahagia Shelina selama di timezone benar-benar membuat Argantara ikut merasa bahagia.


“Aku sih capek, kalau kamu sendiri gimana? Capek ya pasti? Tapi kamu jarang ikut main ah,”


“Ya abisnya aku nggak begitu tertarik sebenarnya, cuma karena pengen temenin lo doang,”


“Ih kok ngomongnya masih campur aduk sih? Jangan dong, udah benar juga aku kamu, kenapa jadi aku lo segala?”


“Hahaha iya gue salah, sorry ya. Belum terbiasa gue, Shel,”


“Kalau mau ya lo gue aja sekalian, biar kayak teman. Jangan aku lo, atau gue kamu. Nggak jelas tau. Jadi campur aduk gitu,”


“Okay siap saya salah, Nona Shelina. Saya belum terbiasa, Nona. Jadi tolong maafkan saya,”


Shelina tertawa melihat Argantara menunduk dan bicara seperti itu seolah Ia adalah Nona. Ia menepuk punggung tangan Argantara yang ada di atas meja sambil berkata “Jangan gitu ah!”


“Ya emang lo Nona ‘kan, eh nggak deh, Ratu,”


“Ih berlebihan deh,”


“Lah berlebihan darimana? Panggilan itu cocok banget buat lo tau nggak sih. Nggak berlebihan sama sekali,”


“Jangan panggil aku gitu pokoknya,”


“Okay ya udah, mau dipanggil apa mulai sekarang?”


“Ya nama aja,”


“Ratu nggak boleh, Nona nggak boleh, jadi bolehnya cuma nama?”


“Yes jangan yang lain,”


“Sayang nggak boleh? Atau babe?”


“Ih jangan ah, nggak biasa dengarnya jadi geli,”


“Tuh, emang kamu aneh ya. Biasanya cewek tuh suka lho dipanggil mesra sama pasangannya,”


“Ya memang ada sebagian yang kayak gitu, tapi sebagiannya lagi mungkin kayak aku, nggak biasa jadi agak gimana gitu kalau dnegar dipanggil mesra. Lebih milih dipanggil pakai nama aja,”


Makanan mereka yaitu nasi bakar dan ayam betutu datang dan begitu dihidangkan di depan mata, tentunya perut mereka kian ribut minta jatah.


“Terimakaish ya, Mba,” ujar Shelina dan Argantara kompak pada pelayan yang barus aja menyajikan makanan di meja mereka.


“Sama-sama, silahkan dinikmati, saya permisi,”


Pelayan pergi, sepasang manusia itu langsung membaca doa dan bersantap. Mereka sudah lapar, jadi benar-benar menikmati apa yang terhidnag did elan mata mereka sekarang ditambah lagi cita rasa menu makan mereka kali ini menambah semangat mereka untuk bersantap.


“Ini enak banget sih,”


“Iya, tapi aku bingung deh. Ini beneran enak atau karena kita kelaperan ya?”


Shelina terkekeh mendnegar bisikan Argantara. Ia langsung menggelengkan kepalanya menjawab “Ini beneran enak tau, nah enaknya nambah jadi berkali lipat karena kebetulan kita udah kelaperan,”


“Oh iya juga ya. Kareka kita lapar jadi enaknya nambah, sebenarnya mah ini enak banet,”


“Beuh bukan dnak lagi, udah mantul sebutannya, endul banget,”


“Udah mantul, abis itu endul. Ntar apalagi, Shel?”


“Aku ngikut-ngikut aja itu, sering aku dengar soalnya,”


“Eh abis ini kita mau kemana lagi? Lanjut ke timezone lagi? Atau pulang?”


“Nggak ke timezone lagi lah, kamu emangnya nggak capek apa? Aku aja capek. Ya walaupun happy banget sih,”


“Aku nggak apa-apa capek atau bosan nungguin kamu main yang penting kamu senang, kalau liat kamu senang, aku jadi ikutan senang. Apa yang kamu rasakn tuh nular ke aku lho, Shel,”


“Halah bisa aka mulutnya kayak buaya darat,”


“Lah, disamain sama buaya darat dong,”


Shelina terkekeh, Ia jarang mendengar Argantara menggombal, sekalinya menggombal maka akan Ia olok-olok.


“Aku bukan buaya darat tau,”


“Terus apa?”


“Beruang kali, gemesin,”


“Dih, ada-ada aja,”


“Hahahahaha iyain dong, Shel,”


“Iya-iya, aku iyain deh,”


“Nah gitu dong, ialau beruang ‘kan cocok sama aku, lah kalau buaya mah nggak cocok,”


“Padahal cocok lho,”


“Eh enak sja, buaya darat itu ‘kan terkenal nggak cukup satu ya? Nah kalau aku sih cukup satu aja. Orang satu aja nggak abis-abis, jadi nggak tertarik mau punya dua, tiga dan seterusnya,”


“Aamiin, semoga selalu punya prinsip kayak gitu selamanya ya? Karena kalau prinsip kamu kayak gitu bakal bikin kamu nysman dan tenang sih? Kenapa? Ya karena kalau punya kebih dari satu, bawaannya tuh deg-degan, takut ketauan, merasa nggak tenang, nah kalau cuma satu, ‘kan tenang nggak merasa was-was,”


“Betul! Aku juga mikirnya gitu. Mantan aku ternyata udah maun di belakang aku sebelum kami putus dan kalau dipikir-pikir ya, ngapain selingkuh sih? Emang selingkuh tuh enak ya? Nyaman ya? Tenang ya? Aku sih bayanginnya aja udha deg-degan lho, bawaannya takut ketauan sama keluarga, terutama sama pasangan lah ya. Risikonya juga berat banget. Bisa ditinggal sama pasangan. Ya karena belum tentu pasangan mau ngasih kesempatan kedua. Apalagi menurut aku, perselingkuhan itu kesalahan paling susah untuk dimaafin dalam suatu hubungan,”


“Ya, soalnya sakit banget dikhianati itu. Susah juga untuk ngasih kesempatan kedua, susah untuk tetap bertahan. Makanya mereka-mereka yang bisa bertahan dan kasih kesempatan kedua tuh sebenarnya hebat ya. Nggak semua orang bisa sekuat dan sesabar mereka. Pasti setiap saatnya mereka dibayang-bayangi terus sama perselingkuhan pasangannya ya walaupun janjinya bisa berubah, janjinya nggak mau selingkuh lagi tapi pasti ada trauma takut diselingkuhi lagi,”


Baru kali ini mereka membahas soal salah satu tantangan dalam suatu hubungan, yaitu perselingkuhan. Itu tantangan yang benar-benar berat, dan pilihannya cuma dua, bertahan atau sudahi bagi mereka yang diselingkuhi. Kalaupun bertahan, pasti ada ketakutan besar menjadi korban pengkhianatan lagi. Memaafkan mungkin mudah, tapi melupakan adalah hal yang sulit untuk dilakukan dan untuk tetap terlihat baik-baik saja terhadap orang yang sudah berkhianat itu adalah hal yang tidak mudah untuk dilakukan.


“Abis ini langsung pulang?”


“Iya langsung pulang, emang kenapa?”


“Nggak apa-apa kirain kamu mau kemana dulu gitu abis dari timezone,”


“Nggak deh kayaknya aku amu langsung pulang aja,”


“Aku semang ada waktu lagi sama kamu. Kemarin abis dari toko buku sama Ganta, aku cemburu banget tau. Hati aku panas. Kamu mana mau tau ‘kan kalau aku cemburu?”


“Ih kok ngomongnya gitu sih? Aku ‘kan udah minta maaf buat semuanya. Karena udah bikin kamu khawatir, bikin kamu repot nyariin aku kemana-mana ternyata aku nya pergi sama Ganta ke toko buku,”


“Aku sakit hati banget sebenarnya cuma aku tahan-tahan aja. Aku nggak mau lampiasin emosi aku ke kamu. Karena takut nyakitin kamu,”


“Ya udah aku minta maaf udah bikin kamu cemburu,”


“Aku maafin tapi tolong jangan diulangin ya? Aku cemburu tau, aku paling nggak bsia dibikin cemburu,”


“Ya itu namanya tantangan. Bisa sabar nggak? Aku aja bisa sabar kok ngadepin kamu dulu, kamu masa nggak bisa sih nahan cemburu? Lagian ya interaksi aku sama yang lain tuh sebatas sahabat aja nggak berlebihan. Kamu nih yang anggapnya berlebihan, akhirnya cemburu ‘kan,”

__ADS_1


“Ya ampun, Sayang. Mending kamu marahin aku aja deh, kamu galakin aku kayak apa yang pernah aku lakuin ke kamu dulu daripada kamu bikin aku cemburu,”


__ADS_2