
Hari ini Shelina dan Argantara berangkat menuju pulau Dewata dengan tujuan berlibur. Hanya mereka berdua, sebab orangtua mereka yang diajak memilih untuk Argantara dan Shelina menghabiskan waktu berdua.
“Masa bulan madu ngajak-ngajak sih? Ya berdua aja lah, biar makin mesra,”
Tina dan Shefia sama-sama tidak mau mengganggu liburan Argantara dan Shelina. Mereka biarkan keduanya menikmati waktu bersama, supaya bisa lebih mengenal atau lebih tahu satu sama lain.
Tina dan Shefia mengantarkan sepasang suami istri itu ke bandara. Setelah tiba di penginapan, Argantara langsung memberi kabar pada kedua ibunya itu bahwa Ia dan Shelina telah tiba di resort dan rencananya ingin istirahat sebentar sebelum keluar jalan-jalan sekaligus mencari makanan.
Argantara meletakkan ponselnya di nakas, Ia melihat Shelina sedang mengeluarkan pakaian dari dalam koper.
“Siapa duluan yang mandi? Aku atau kamu, Shel?”
“Kamu duluan aja, aku mau liat-liat dulu,”
“Liat-liat apa?”
“Ya apa aja, kayak misalnya kolam renang, pemandangannya gimana,”
“Oh, okay aku dulu ya,”
“Ini baju ganti kamu,” ujar Shelina seraya meletakkan pakaian milik suaminya di atas tempat tidur.
“Padahal kita udah mandi ya sebelum ke sini,”
“Tapi aku mau mandi lagi, biar seger. Kamu terserah, Ga. Kalau mau ganti baju aja juga nggak apa-apa,”
“Aku mandi juga, supaya capeknya hilang abis perjalanan,”
“Nah itu dia maksud aku,”
Argantara masuk ke dalam kamar mandi, sementara Shelina langsung berkeliling di dalam penginapan yang menjadi tempatnya berlibur untuk semnetara waktu selama kurang lebih empat hari, kalau sesuai rencana.
“Wow, udah kangen sama suasana Bali ya,” gumam Shelina seraya tersenyum menatap ke depan. Ada bunga-bunga merah di tengah kolam yang dibentuk menjadi hati, ada ayunan tak jauh dari kolam renang, dan pemandangannya juga asri.
“Cantik banget, nggak salah Arga milih tempat ini,”
Shelina berjongkok mengambil bunga-bunga yang ditebar di atas kolam membentuk hati. Kemudian Ia hirup dalam-dalam.
“Hmmm harum banget. Tapi untungnya di tempat tidur nggak ada ya, biasanya ‘kan suka ada bunga-bunga di atas tempat tidur, itu beresinnya bikin kerjaan nambah. Kalau tidur di atas bunga jadinya kayak kuburan, jadi serba salah ‘kan,”
Shelina terkekeh seraya berdiri lagi, dan saat ini Ia meninggalkan area kolam renang. Kakinya melangkah kembali ke kamar untuk mengamati lebih detail bagaimana bentuk kamar untuknya dan Argantara.
“Estetik banget deh,”
Ketika Shelina sedang mengagumi sudut demi sudut ruangan kamarnya dan Argantara, tiba-tiba Argantara keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah dan mukanya kelihatan segar sekali. Setelah melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Bali, Argantara merasa sedikit lelah, sekarang lelahnya hilang, dan malah semangat ingin memulai perjalanan berlibur bersama istrinya.
“Udah selesai mandinya?”
“Udah dong, cepat ‘kan? Aku sat set kalau mandi,”
“Iya sih, aku udah hafal,”
“Kamu juga, padahal cewek ya,”
“Emang kalau cewek kenapa?”
“Ya biasanya ‘kan kalau cewek tuh apa aja lama banget. Nggak hanya mandi aja yang lelet, siap-siap juga biasanya begitu, tapi kamu nggak deh,”
“Ya ngapain lama-lama? Kalau bisa cepat kenapa harus lama? Mereka yang lama itu ya emang banyak yang harus dilakuin, Ga, makanya lama, nggak bisa disama ratakan,”
“Iya sih, tiap orang beda-beda ya,”
“Nah kebetulan kamu dapat aku yang nggak banyak ini itu, dan perlunya nggak banyak jadi bisa cepat,”
“Iya bersyukur deh aku. Soalnya aku tuh suka gerutu kalau orang siap-siap lama, Shel. Teman aku yang cowok aja nih, sering kena semprot aku kalau udah lama,”
“Ih jangan begitu, kita ‘kan nggak tau kendalanya dia kenapa lama siap-siap. Bisa jadi dia harus ke kamar mandi dulu BAB, bisa jadi dia ngurus anak dulu, jadinya lama,”
“Hahahahah anak darimana? Orang dia masih bujang, belum nikah apalagi punya anak, Shel. Teman aku pada lelet tuh karena emang doyannya leyeh-leyeh dulu. Bilang udah otw, eh pas aku samperin ke rumahnya, dia lagi ngerokok sambil minum kopi. Duh benar-benar bikin emosi naik kalau orang begitu, nggak cewek aja sih sebenarnya, cowok juga duka lama kalau siap-siap mau pergi tuh, cuma emang yang terkenalnya cewek, padahal mah cowok bisa lebih-lebih lagi, aku udah ngerasain soalnya punya teman yang lelet banget, Astaga,”
“Nah ‘kan, berarti nggak kaum aku doang yang lelet, kaum kamu juga,” ujar Shelina seraya terkekeh.
Shelina masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badan sementara Argantara membaringkan badannya di atas tempat tidur.
“Hadeh, lega bener udah sampai sini. Pengen tidur tapi nggak mau rugi soalnya ini masih terang, masa iya tidur? Jalan-jalan dong harusnya. Pengen makan juga gue,” batin Argantara sambil menatap langit-langit kamarnya.
Ia merasa matanya mulai terlena untuk terpejam. Tidak, Ia menolak untuk memejamkan mata. Akhirnya Ia meraih ponsel untuk sibuk dengan game.
“Arga, aku boleh minta tolong nggak?”
Terdengar suara Shelina dari dalam kamar mandi, kemudian Shelina membuka pintu kamar mandi sedikit dan menimbulkan kepalanya.
“Minta tolong apa, Ratu?” Tanya Argantara seraya menoleh, tak lagi menatap ke ponselnya.
“Tolong ambil pembalut,”
“Hah? Kamu haid?”
Shelina menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Argantara yang kelihatannya kaget mendengar istrinya minta diambilkan pembalut.
“Serius kamu haid?”
“Iyalah, masa aku bohongan sih? Tolong ambilin pembalut di koper,”
“Lah, aku kaget,”
“Ya nggak apa-apa kaget,” ujar Shelina yang merasa tak ada
“Kecewa juga,”
“Hmm? Maksudnya?”
“Nggak kok, nggak apa-apa,”
“Ih kamu ngomong apa? Aku nggak kedengeran,”
“Nggak ngomong apa-apa kok, Ratu. Udah, jangan dibahas lagi. Nih aku ambilin pembalut kamu ya,” ujar Argantara seraya beranjak dari tempat tidur mendekati kopernya untuk mengambil pembalut sang istri.
“Dimana, Shel? Kamu keluar dulu coba,”
“Nggak mau, aku ‘kan lagi mandi masa keluar nggak pakai baju,”
“Oh iya lupa, ya tapi nggak apa-apa juga sih sebenarnya, ‘kan kita udah—“
“Jangan, Argantara. Aku masih punya malu, kamu nih ngaco aja deh,”
“Ya abisnya aku bingung dimana itu kamu?”
“Di tutup kopernya itu lho, tapi bagian dalam,”
“Oalah, aku pikir di tempat baju-bajunya,”
Argantara segera membuka resleting tempat yang disebut oleh istrinya barusan, bagian penutup koper tapi di dalamnya. Ternyata benar, ada stok pembalut di sana yang sengaja dibawa oleh Shelina untuk persiapan liburan sebab Shelina belum datang bulan.
“Nih Shelina,”
Argantara beranjak mendekati pintu kamar mandi. Shelina buru-buru memasukkan kepalanya, dan Ia menutup pintu lebih rapat dibanding sebelumnya, hanya ada rongga sedikit saja untuk tangannya mengambil pembalut dari tangan suaminya.
Argantara dalam mode jahil, tanpa pikir panjang, Ia sengaja menyembunyikan pembalut di balik punggung sehingga tangan Shelina tak menerima apa-apa.
“Mana pembalut aku?”
“Ini, Sayang,”
“Mana sih? Buruan kasih ke aku, Ga,”
“Lah orang udah aku kasih,”
“Ih tapi mana? Nggak ada tau,”
Argantara menahan tawanya karena melihat tangan Shelina yang bergerak-gerak berusaha meraih barang yang dikehendaki.
“Arga, mana pembalut aku ih?! Jangan bikin aku kesel dong,”
“Eh nggak boleh ngomel ke suami, dosa tau,”
“Nggak dosa karena kamu yang nyebelin duluan. Mana pembalut aku? Buruan kasih, tangan aku nggak dapat apa-apa ini, cuma angin doang,”
“Hahahhaha serius angin doang?” Tanya Argantara yang terbahak mendengar ucapan istrinya.
“Kamu ngerjain aku ya?”
Argantara masih tertawa. Ia tahu Shelina pasti kesal sekali karena sudah tahu Ia kerjai. Tangan Shelina masih mengulur keluar tapi tak dapat apa-apa.
“Arga buruan ih. Aku mau lanjut mandi, aku udah kedinginan ini,”
“Ya udah sini aku angetin,”
“Ih apaan sih kamu, udah buruan kasih pembalut aku. Pengen lanjut mandi aku, Ga,”
“Lah orang aku udah kasih dari tadi. Kamu nya yang nggak ngambil-ngambil,”
“Kamu ngasih ke siapa? Hah? Ke hantu? Kasihnya ke tangan aku dong,”
“Iya ini udah ke tangan kamu, Sayang,”
“Ih tapi mana?”
“Ya udah keluar dulu coba kepalanya, liat nih pembalutnya udah aku ulurin,”
“Arga, tinggal taruh aja di atas telapak tangan aku ih ribet banget kamu,”
Argantara tertawa lebar lagi. Membuat Shelina kesal ternyata hal yang menyenangkan sekali baginya apalagi kalau level kesalnya Shelina sudah hampir mencapai tingkat tertinggi.
“Iya-iya ini aku kasih, maaf ya udah iseng,”
Kali ini Argantara berhenti untuk jahil. Ia letakkan pembalut di atas telapak tangan Shelina yang segera menarik tangannya agar masuk ke dalam, dan Shelina segera mengunci pintu kamar mandi sambil Ia menggerutu.
“Ngerjain banget, udah ditungguin dari tadi, eh malah iseng,”
“Hahahaha maaf, Sayang. Aku senang iseng ke kamu soalnya kamu tuh lucu kalau lagi kesal,”
“Lucu dari mana? Nggak ada yang lucu,”
“Ya udah biar nggak ngambek aku ajakin jalan-jalan abis mandi ya?”
“Lah ‘kan emang mau jalan-jalan tapi abis istirahat aja dulu sebentar,”
“Nggak langsung aja gitu? Bentar lagi sunset lho,”
“Ya udah deh, kita langsung keluar jalan-jalan aja,”
“Okay, abis kamu mandi kita jalan-jalan cari makanan, sama liat sunset,”
“Aku bentar lagi selesai mandi kok,”
“Iya santai aja, aku tungguin kok, nggak mungkin aku tinggal. Kalau aku jalan-jalan sendiri namanya bukan bulan madu,”
“Emang ini bulan madu? Bukan, liburan aja ‘kan?”
“Aku anggap bulan madu,”
“Oh aku pikir liburan,”
“Ya sama aja sih sebenarnya, tapi berhubung kita baru nikah, dan liburan kayak gini cuma berdua aja, jadi aku anggap bulan madu,”
“Ya udah bulan madu berarti,”
Shelina mandi sambil mengobrol dengan suaminya sebentar setelah itu Ia fokus mandi lagi dan tak lama kemudian sudah selesai.
“Kita renang kapan, Ratu Shelina sayang?”
“Panjang banget panggilannya,” gumam Shelina yang diabaikan oleh Argantara.
“Kapan renang?” Sekali lagi Argantara bertanya.
“Ya terserah, tapi aku kalau lagi haid jadi malas berenang,”
“Yah, masa cuma aku sendiri sih? Padahal ‘kan udah bayangin mesra-mesraan sama kamu di kolam renang,”
“Bayangan kamu isinya apa aja, Ga? Nggak yang aneh-aneh ‘kan?”
“Yang aneh-aneh juga nggak masalah dong. ‘Kan udah nikah,”
“Ya iya sih, tapi aku lagi—“
“Iya, aku sedih gara-gara itu. Tapi nggak masalah deh,” ujar Argantara yang langsung membuat Shelina mengernyitkan keningnya bingung.
“Sedih karena apa maksud kamu, Ga?”
“Karena kamu datang bulan,” ujar Argantara seraya tersenyum lebar menunjukkan susunan gigi-giginya yang rapi.
“Ya emang kenapa?”
Argantara menghembuskan napas kasar. Istrinya itu masih belum paham dengan ucapannya. Ada kaitan antara datang bulan Shelina dengan kekecewaannya. Tapi Shelina tidak paham.
“Kalau kamu datang bulan ya, Sayang, kita nggak bisa macam-macam dong,”
“Macam-macam itu maksudnya begitu?”
“Begitu apa? Bikin anak, udah jelas banget itu aku ngomongnya, Shelina,” sahut Argantara dengan nada yang kesal. Kalau Shelina datang bulan otomatis Ia harus menunggu sampai Shelina bersih dulu, barulah boleh macam-macam.
“Oh iya-iya aku paham,”
“Kita ‘kan belum ngelakuin itu, pengennya sih di Bali pas lagi bulan madu, eh nggak bisa. Gagal deh harapan aku, tapi nggak apa-apa, Sayang. Dimana aja juga bisa, asal kamu udah siap,”
“Ya—ya udah sih,”
“Aku juga udah, dan pengennya di sini. Udah bergairah banget aku tuh, Shel,”
“Ih Arga! Kamu ngomong apa sih? Nggak enak bahas-bahas gairah begitu,”
“Lah emang kenapa? Orang bahasnya juga sama istri sendiri. Yang salah itu kalau bahas hal kayak gitu sama orang lain, Shel,”
“Iya tapi aku malu denger ya, Ga,”
“Ah kamu malu-malu sekarang, ntar juga mau-mau,”
Shelina berdecak pelan sambil memutar bola matanya. Argantara tertawa sambil mencubit pipi istrinya itu.
“Kita pergi sekarang aja ayo, ‘kan udah mandi,”
__ADS_1
“Ayo, aku udah nggak sabar jalan-jalan sama kamu, Shel,”
Argantara tiba-tiba menarik lembut kepala Shelina kemudian Ia kecup rambut Shelina yang memberikan harum manis, dan segar. Argantara suka sekali dengan aroma rambut Shelina.
“Aku boleh nggak sih minta sesuatu sama kamu?”
“Apa itu?”
“Shampo kamu,”
“Lah, kamu ‘kan udah mandi, emang—“
“Nggak, maksud aku nanti-nanti. Soalnya aku suka banget sama shampo kamu, Shel,”
“Oh, boleh banget kok, ambil aja. Tapi itu bukannya wangi perempuan ya? Apa kamu nggak malu pakai itu terus kecium orang kamu pakai shampo perempuan,”
“Ya ngapain malu? Orang pakai shampo istri sendiri,”
“Iya juga sih, cuma ‘kan biasanya cowok suka wangi yang macho gitu lho,”
“Aku suka juga kayak gitu, tapi harum kamu aku suka banget, gimana dong? Shampo, parfum kamu enak semuanya kalau dicium,”
“Ya udah terserah, kalau kamu lagi mau pakai ya pakai aja, Ga,”
“Ya udah ayo kita keluar sekarang,”
Argantara merangkul bahu istrinya. Di sore hari ini, mereka sudah tiba di Bali dan ingin menikmati suasana yang ada sekaligus mengisi perut.
“Shelina, kamu bahagia nggak pergi sama aku sekarang? Cuma kita berdua nih, apa yang kamu rasain?”
“Bahagia, yang aku rasain ya cuma itu. Aku kalau diajakin liburan ya pasti senang dong, nggak pernah sedih,”
“Apalagi kalau liburannya sama suami, iya nggak?”
Shelina terkekeh dan menganggukkan kepalanya. Baru kali ini Ia pergi berlibur hanya berdua dengan seorang laki-laki, dan itu adalah suaminya sendiri. Tentu Shelina merasa sangat bahagia. Ia merasa liburan kali ini benar-benar berbeda. Yang biasanya hanya dengan almarhum papanya, dan sang mama yang saat ini tinggal di Jakarta, tapi kali ini Ia pergi dengan laki-laki yang baru seminggu lalu menikahinya.
“Kamu sendiri gimana? Senang nggak?”
“Ya senang dong, aku senang banget bisa liburan sama istri. Biasanya ‘kan cuma sama almarhum papaku aja kalau lagi mau berduaan doang, sering juga bertiga sama mama. Pernah liburan sama teman. Ya udah teman liburan aku ya cuma itu aja, nggak pernah sama pasangan. Nah sekalinya dikasih teman baru untuk liburan, statusnya istri. Gimana aku nggak berbunga-bunga coba,”
“Beneran senang? Nggak merasa tertekan bawa aku liburan ‘kan?”
“Ya nggak lah, kok kamu ngomong begitu sih? Malah berduaan gini bikin aku bahagia banget. Soalnya kenapa? Kita bisa makin dekat, makin akrab, makin kenal satu sama lain. Kita ‘kan bisa dibilang pernah dekat pas kecil aja, terus ketemu lagi setelah dewasa pasti butuh waktu untuk benar-benar beradaptasi dan ternyata nggak susah sih, karena kita sama-sama membuka diri, cuma emang perlu waktu lagi untuk makin dekat,”
“Ini kita naik motor? Kamu sewa motor?”
Shelina bingung melihat ada motor di depan penginapan mereka. Di atasnya sudah ada dua helm.
Argantara menjawab pertanyaan dirinya dengan anggukkan kepala. “Iya kita motoran selama di sini, kamu keberatan nggak?”
“Ih malah aku senang banget. Jarang naik motor,”
“Iya, lebih cepat juga kalau kemana-mana, Ratu Shelina. Aku ‘kan mau bawa ratu liburan ya, jadi harus cepat sat set sampai tujuan,”
“Aku senang naik motor malah,”
“Ya udah ayo pakai helm nya,”
“Harus ya?”
Pertanyaan Shelina langsung membuat Argantara berdecak. Sudah Ia ulurkan helm itu, masihkah perlu Ia jawab pertanyaan dari Shelina?
“Harus nggak? Bukannya cuma jalan-jalan dekat aja?”
“Apa susahnya sih pakai helm?”
“Tapi aku habis keramas, Ga, masih basah ini rambut aku lho,”
“Ya nggak apa-apa, nanti keramas lagi pas pulang,”
“Ya ampun keramas mulu,”
“Udah buruan dipakai aja, Cantik. Jangan bandel kalau dikasih tau sama suaminya,”
Argantara yang akhirnya memakaikan helm di kepala Shelina. Setelah itu Ia meminta Shelina untuk duduk di belakangnya.
“Kita nggak jalan-jalan kaki aja, harus motor?”
“Lah, bukannya kamu senang naik motor?”
“Iya senang, cuma aku nanya aja,”
“Ya udah besok pagi deh jalan-jalan pakai kaki, bukan motor,”
“Beneran?” Tanya Shelina dengan nada suara yang begitu antusias.
“Iya beneran, Sayang. Sekarang naik motor aja dulu kita, nggak apa-apa ‘kan? Jujur kalau sekarang jalan kaki, masih agak pegal nih kaki aku, masih malas juga capek-capekan lagi soalnya abis jalan dari Jakarta ke Bali,”
“Ih dari Jakarta ke Bali tuh nggak jalan, tapi naik pesawat, Ga,”
“Tapi lumayan berasa pegalnya, Shel,”
“Iya sih aku juga, ya udah naik motor aja dulu,”
“Biar ala-ala orang pacaran naik motor berdua gitu ‘kan,”
Shelina terkekeh mendengar ucapan suaminya. Mereka bukan pacaran, sudah lebih dari itu. Tapi sepertinya Argantara ingin merasakan suasana ketika pacaran, dimana naik motor berdua itu sering mereka dapati pada pasangan-pasangan kekasih di luar sana.
“Ki, peluk aku ya, pegangan maksud aku,”
“Lho emang kamu mau ngebut? Jangan ngebut -ngebut dong, Ga. Aku nggak berani kalau ngebut, mendingan sekalian nggak usah jalan deh,”
“Ya nggak ngebut juga sih, tapi pegangan aja udah biar aman. Dingin nih, aku pengen dipeluk kamu biar hangat gitu,”
“Hadeh, modus aja kamu ya,” celetuk Shelina sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang suami.
“Biarin, modus sama istri sendiri. Kita peluk-pelukan nggak dosa, Shelina,”
“Iya ini udah aku peluk,”
Argantara tiba-tiba memutar sedikit badannya ke belakang kemudian mencium jari telunjuk dan tengah kanannya lalu Ia tempelkan di kening Shelina.
“Susah kalau cium langsung karena udah sama-sama pakai helm, jadi cium pakai jari aja deh,” kata Argantara seraya menghadap ke depan dan memegang kendali stirnya.
Shelina langsung tersenyum dan berusaha menormalkan detak jantungnya yang tidak beraturan usai dikecup keningnya oleh sang suami. Memang tak menggunakan bibirnya langsung, melainkan dengan dua jari, tapi tetap saja rasa hangat menjalar di hatinya dan membuat irama jantungnya jadi berantakan.
“Dia nggak tau apa kalau aku deg-degan setengah mati? Aku belum pernah diperlakukan manis sama laki-laki selain papa, mungkin karena itu reaksi aku jadi berlebihan padahal dicium sama suami sendiri,” batin Shelina.
“Pelan aja jalannya ya, Ga. Nggak usah ngebut, hati-hati deh pokoknya,”
“Okay, Sayang, jangan cerewet, aku udah hafal pesan-pesan kamu,”
“Aku cerewet ya?”
“Iya kadang,”
“Aku cerewet karena untuk kebaikan kita berdua, Ga,”
“Iya, aku tau kok, Sayang. Aku nggak akan ngebut, soalnya bawa kamu. Kalau aku sendiri sih nggak masalah. Kadang aku ngebut kalau emang perlu, misalnya mau masuk kampus, atau ada urusan yang harus buru-buru diselesaikan,”
“Aku takut kalau ngebut,”
“Sekali-kali aku bawa ngebut ah,”
“Ya biar sesekali kamu rasain sensasi nya gitu,”
“Nggak usah, makasih, aku nggak mau ngerasain sensasi dibawa ngebut, bawa kendaraan tuh yang normal-normal aja, ngapain harus ngebut coba? Selain bahaya untuk diri sendiri, bahaya juga untuk orang di sekitar,”
“Gini nih kalau nikah sama perempuan yang taat peraturan, dilarang ngebut, dia nurut, ada lampu merah dia nurut,”
“Emang kamu nggak nurut kalau ada lampu merah?”
“Kadang sih nggak kalau lagi buru-buru,” ujar Argantara seraya tertawa.
“Wah parah, kamu ini pengguna jalan yang egois berarti ya,”
“Hahahaha suaminya dibilang begitu, parah banget,”
“Ya lagian lampu merah kok diserobot,”
“Tapi itu jarang banget, Shel, nanti nggak lagi-lagi dej, takut diomelin kamu,”
“Bukan takut diomelin aku harusnya, takut kenapa-napa, itu jawaban yang lebih tepat. Lampu merah diserobot itu bahaya banget, Ga,”
“Iya, Sayang, aku nggak bandel lagi, beneran deh,”
Di perjalanan menjauh dari tempat penginapan mereka, Argantara jadi mendapatkan nasihat penting dari istrinya tentang pentingnya patuh terhadap aturan lalu lintas. Menikah dengan Shelina tampaknya akan merubah Argantara untuk jadi lebih baik lagi, ini dimulai dari kebiasaan buruk dalam berkendara dulu.
“Eh, kita mau makan apa?”
“Ayam betutu,”
“Okay, Ratu cantik,”
“Abis itu kita ke pantai yuk, kita liat sunset di sana,”
“Boleh, apa aja yang kamu mau pasti aku turutin selagi bisa, Sayang, apalagi ini cuma mau liat sunset doang, ah itu mah gampil,”
“Abis makan, kita ke pantai liat sunset bentar, terus balik ke penginapan,”
“Malamnya keluar lagi nggak?”
“Nggak usah, besok pagi aja. Jalan-jalan pagi di sekitar penginapan sekalian cari sarapan,”
“Eh kita liat sunrise aja besok pagi, jadi bangunnya pagi banget biar ke pantai nya juga pagi bisa liat matahari terbit,”
Ide Argantara disambut baik oleh Shelina yang begitu menggemari pantai, apalagi ketika masuk waktu terbit matahari maupun terbenamnya.
“Ayam betutu ya, Ga?”
“Iya kita makan ayam betutu,”
“Kamu ada langganan nggak, Shel?”
“Langganan apa? Ayam betutu?”
“Iya, ada nggak?”
“Nggak ada, aku kalau lagi ke Bali ya makannya kemana aja, nggak satu tempat gitu, dan semuanya enak-enak,”
“Kalau aku ada tuh satu tempat makan ayam betutu, Sayang. Mau ke sana nggak?”
“Mau mau, ayo kita ke sana,”
“Semoga kamu juga cocok lidahnya sama makanan di sana ya, nggak ayam betutu doang, Sayang, ada sate lilit, segala macam lah pokoknya,”
“Yeayy nggak sabar, aku makan banyak nggak apa-apa ya, Ga?”
“Nggak apa-apa, borong juga boleh, Sayang,”
“Nggak borong juga, perutku bukan meja makan yang bisa nampung banyak makanan, Ga,”
“Hahahaha bercanda, Sayang. Lagian kamu ada-ada aja, ngapain minta izin segala? Makan yang banyak ya nggak apa-apa dong malah bagus biar nggak kurus pas udah nikah sama aku. Eh ngomong-ngomong bentar lagi kita udah sampai lho,”
“Beneran? Yeayy berarti nggak jauh lagi ya?”
“Nggak kok, udah dekat ini, Sayang. Tinggal belok kanan, terus jalan lurus dikit sampai deh abis itu,” jelas Argantara supaya Shelina bisa membayangkan seberapa lama mereka menempuh perjalanan menuju tempat makan ayam betutu.
“Ya ampun, rame banget di sekitar sini, senang deh liatnya. Banyak bule pula,” ujar Shelina melihat ke kanan kiri jalan raya yang Ia lintasi terdapat banyak orang.
“Banyak bule cantik, Ga,”
“Ya terus kenapa? Yang Indonesia lebih cantik,”
“Iya sih, orang-orang Indonesia emang nggak kalah cantik, malah manis nggak bikin bosan,” ujar Shelina yang setuju dengan ucapan suaminya.
“Kayak kamu, Sayang. Kamu orang Indonesia, udah cantik, manis pula,”
“Hadeh bisa aja pujiannya,”
“Senang kalau aku puji?”
“Malu sih lebih tepatnya,”
“Kok malu? ‘Kan itu kenyataan,”
“Nggak, kamu mau bikin aku senang aja itu,” ujar Shelina seraya terkekeh. Ia pikir suaminya hanya ingin membuatnya senang saja makanya memberikan pujian.
“Pujian aku itu emang isi hati aku sendiri, Ratu sayang. Emang kamu beneran cantik, sama manis, nggak bosan kalau ngeliat kamu tuh. Perempuan-perempuan Indonesia emang begitu kali ya? Tapi yang paling istimewa sih cuma Kia doang,”
“Hahahah aduh Argantara, aku jangan sampai terbang nih gara-gara kamu puji,”
Karena sambil mengobrol tidak disadari, mereka sudah sampai di area parkir sebuah restoran makanan khas Bali.
“Di sini kita bakal ngisi perut, Ga?”
“Iya dong, Sayang. Kalau bukan di sini ngapain kita berhenti ‘kan? Masa iya kita ke sini karena mau tidur,”
Shelina menepuk lengan suaminya karena kesal lelaki itu bercanda terus. Disaat Ia bertanya serius, ditanggapinya malah dengan canda.
“Aku serius nanya, Ga,”
“Iya aku juga serius. Kayaknya kamu deh yang bercanda,”
“Ya aku pikir, bukan di sini tempatnya,”
“Di sini, Ratu Shelina. Ayo kita masuk, jangan ngomong mulu kita. Udah nggak sabar ngisi perut nih,”
“Iya sama,”
Argantara meraih tangan Shelina untuk Ia genggam kemudian Ia ajak masuk ke dalam restoran yang dari luar kelihatan luas.
“Nggak rame-rame banget ‘kan, Sayang?”
“Iya, kita duduk dekat jendela aja biar enak,”
“Angin sepoi-sepoi ya?”
Argantara memilih meja yang di dekat jendela sesuai permintaan Shelina. Setelah mereka duduk, ada pelayan yang menghampiri untuk menanyakan menu apa yang mereka inginkan.
Setelah mereka berdua menyebutkan menu apa yang dikehendaki, pelayan pergi dan mereka diminta untuk menunggu.
__ADS_1
“Suasana restorannya gimana, Sayang?”
“Nyaman kok,”
“Beneran?”
“Iya beneran nyaman. Kamu sering ke sini ya, Ga?”
“Bisa dibilang iya sih,”
“Kalau aku kayaknya baru pertama kali ini deh,”
“Kalau kata aku makanan di sini enak, makanya aku bawa kamu ke sini. Nah tapi, ada lagi tempat-tempat lain yang aku sering datangin juga cuma yang paling dekat sama tempat kita nginap ya ini aja, yang lainnya agak jauh-kauh, Shel,”
“Iya untung kamu pilih yang dekat, biar nggak keburu lapar kita,”
Tak lama kemudian menu-menu yang mereka inginkan datang. Ada ayam betutu, sate lilit, nasi campur, seafood, dan es jeruk disajikan di hadapan mereka.
“Makasih ya, Mba,” ujar Shelina pada pelayan yang baru saja selesai menata makanan di mejanya.
“Sama-sama, silahkan dinikmati,”
Shelina dan Argantara segera membersihkan tangan mereka sebelum mulai makan. Tak lupa juga membaca doa, barulah mulai bersantap mengisi perut.
“Sambal bawang sama seafood juara,” ujar Argantara setelah mencicipi cumi dan juga sambal bawangnya.
Setelah itu Argantara menyusul istrinya yang sudah lebih dulu menikmati ayam betutu. “Gimana rasanya, Shel? Mantap ‘kan?”
“Banget, semua pas di lidah ya,”
“Iya, kamu cobain juga yang lainnya deh, nggak kalah enak,”
Shelina menganggukkan kepala. Tangannya mengambil menu yang lain. Dan rasanya juga sama-sama enak.
“Nggak nyesal sih kita ke sini. Lain kali harus mampir lagi ya,”
“Iya boleh, Sayang,”
Argantara inisiatif membersihkan sudut bibir istrinya yang terkena bumbu dari makanan yang masuk ke mulutnya.
“Heheh aku belepotan ya?”
“Nggak apa-apa, aku juga suka belepotan kalau makan,”
“Tapi kamu nggak tuh sekarang, bersih makannya,”
“Kalau aku belepotan mau dibersihkan juga nggak?”
“Sama siapa? Aku?”
“Nggak, sama abang yang jaga tempat parkir,”
Shelina terkekeh mendengar celotehan asal dirinya. Ia hanya ingin memastikan saja, sebenarnya Argantara ingin dibersihkan oleh siapa kalau Ia makan berantakan.
“Beneran ya sama si abang yang jaga parkiran di depan?”
“Ya nggak lah, Shel. Ngapain abang itu? Ya kamu lah. Harus kamu yang bersihin kalau aku belepotan, biar romantis ceritanya. Kalau si abang yang bersihin, nggak romantis dong,”
“Udah jangan ngomong dulu deh mendingan, lagi makan, nikmatin makanan nya yuk,”
“Kalau sama kamu, mulut aku gatal pengen ngomong mulu, beneran deh,”
Shelina menggelengkan kepalanya. Ia ingin menikmati makanan di depan matanya dengan fokus, dan Ia harap suaminya juga seperti itu.
Kurang lebih mereka menghabiskan semua makanan satu jam, karena santai dan benar-benar menikmati. Mereka tak langsung pergi, karena baru makan jadi perut rasanya masih belum lega.
“Jadi ke pantai nggak nih? Apa mau berakhir di tempat tidur aja? Biasanya kalau abis makan bawaannya ngantuk,” ujar Argantara sambil menatap istrinya yang sedang mengusap perutnya.
“Jadi, tunggu makanan turun dulu bentar,”
“Okay, Sayang. Kamu kekenyangan ya?”
“Iya banget,”
“Pantesan tuh perutnya gede, kayak hamil,”
“Ih kamu ngeledek aja bisanya!”
Shelina protes dan langsung menutup perutnya dengan kedua tangan. Argantara sontak tertawa. Padahal Ia tak serius, perut Shelina saja tidak bisa Ia lihat.
“Kamu serius banget, orang aku cuma bercanda kok, Sayang,”
“Kamu nyebelin ah,”
“Aku cuma bercanda, nggak beneran kok. Mana ada buncit, yang ada juga cantik,”
“Abis ngeledek, sekarang muji. Ih bener-bener cowok satu ini,”
“Hahaha makin keliatan aslinya ya? Aku nyebelin ya?”
“Emang nyebelin banget ih,”
“Tapi nyebelin gini suami kamu lho, Shel,”
“Ya siapa bilang bukan suami aku? Biar nyebelin, kamu emang tetap suami aku lah,”
“Alhamdulillah masih diakui aku ya,”
“Selalu diakui walaupun nyebelin juga,”
“Aku rasanya pengen liburan terus sama kamu terus deh, Shel,”
“Liburan emang seru, Ga. Tapi balik dari sini kita harus lanjut kuliah, bentar lagi wisuda. Terus kamu balik kerja juga,”
“Yah kamu kok diingetin sih? Aku ‘kan jadi lemes nih,”
“Harus semangat dong, ‘kan udah liburan masa lemes sih, Ga?”
“Belum bisa terima kembali ke realita di Jakarta deh, Shel,”
“Harus bisa, masa iya kita mau liburan terus, senang-senang terus. Nggak mungkin dong. Kita punya kewajiban jadi jangan sampai lupa untuk ngelakuin itu,”
“Kamu tuh selalu bikin telinga sama hati aku tenang kalau dengar kamu ngomong. Tau aja kalau suaminya butuh didorong supaya semangat, supaya ingat kalau kita punya kewajiban, punya tanggung jawab. Apalagi tanggung jawab aku sekarang ‘kan udah nambah, harusnya nggak boleh lemes ya,”
“Nah itu dia, ada aku yang jadi tanggung jawab kamu sekarang,”
“Iya, semangat empat lima kok, Sayang,”
“Ke pantai yuk,”
“Ayo, mau sekarang?”
“Iya, udah turun makanan aku di perut,”
Argantara menganggukkan kepalanya. Ia langsung mengulurkan tangan ke arah sang istri, mengajaknya untuk pergi meninggalkan restoran.
Argantara tak lupa membayar dulu, setelah itu barulah mereka ke area parkir motor. Ia kembali memakaikan helm di kepala istrinya. Setelah itu menyuruh Shelina untuk naik ke atas motornya.
“Jangan lupa pegangan, Sayang,”
“Okay, tapi emang kamu nggak sesak apa? Habis makan langsung aku peluk,”
“Nggak dong, aman kok,”
Setelah Shelina duduk dengan nyaman di belakangnya, Argantara hendak melajukan motornya, namun karena mendengar seseorang memanggil nama istrinya, otomatis Ia dan Shelina menoleh.
Ada seorang lelaki menghampiri mereka dengan senyum hangatnya, tapi Argantara tidak kenal siapa orang tersebut.
“Hai, Shel. Aku udah lama banget nggak ketemu kamu,”
Argantara menatap istrinya yang menatap orang itu dengan tatapan bingung, tapi tak lama kemudian Ia tersenyum.
“Defan ya? Maaf aku udah agak lupa-lupa sama kamu,”
“Iya nggak apa-apa, gimana kabarnya sekarang?”
“Alhamdulillah baik, kamu juga ‘kan?”
“Iya, Shelina. Kamu lagi liburan ya di sini?”
“Bulan madu,”
Yang ditanya adalah Shelina, tapi yang mr jawab adalah Argantara. Dengan nada ketus menegaskan bahwa tujuan Shelina ke sini bukan hanya sekedar berlibur tapi juga bulan madu.
“Kamu—udah nikah ya, Shel?” Tanya lelaki yang tiba-tiba menyapa Shelina, dan sempat membuat Shelina bingung sebab sudah mulai lupa dengan sosoknya.
“Iya, udah nikah. Ini suami aku namanya Arnold,”
“Ga, kenalin ini Defan,”
Argantara segera mengulurkan tangan seraya tersenyum dan Ia menyebutkan namanya begitupun Defan yang menerima uluran tangan Argantara.
“Ya kalau belum nikah ngapain bulan madu ‘kan, bro?” Kata Argantara seraya terkekeh. Jujur pertanyaan ‘kamu udah nikah’ yang membuatnya jadi terkekeh.
Sebab yang namanya bulan madu, normalnya memang biasa dilakukan oleh pasangan yang sudah menikah.
“Udah berapa hari kalian berdua di sini?”
“Baru hari ini sampai,” lagi-lagi Argantara yang menjawab, padahal Defan melontarkan pertanyaan pada Shelina.
“Oh begitu, okay, selamat senang-senang ya. Oh iya, boleh minta nomor kamu nggak Shelina? Nomor yang waktu itu udah nggak aktif ya?”
“Iya aku ganti nomor,”
“Minta nomor kamu boleh?” Tanya Defan pada Shelina yang menganggukkan kepalanya. Defan segera mengeluarkan ponsel, dan Shelina menyebutkan satu persatu angka.
“Buat apa kalau boleh tau?”
“Ya biar gampang aja kalau mau tanya-tanya kabar, karena setelah kita lulus SMP udah nggak pernah ketemu lagi,”
“Pernah waktu SMA, kamu lupa?”
“Oh iya ya? Aku lupa, Shel. Pokoknya udah lama banget deh terakhir ketemu sama kamu,”
“Jadi ke pantai?”
Argantara bertanya pada Shelina yang mau tidak mau membuat obrolan antara Shelina dan Defan berakhir.
Shelina langsung pamit pada Defan.
“Pergi dulu ya, Def,”
“Okay, selamat bersenang-senang buat kalian yang lagi bulan madu,” ujar Defan seraya tersenyum menatap Argantara dan Shelina.
Argantara melajukan motor dengan kencang, dan itu membuat Shelina terkejut karena badannya tersentak ke depan memeluk Argantara sangat erat, dan matanya terpejam.
“Ih Argantara! Jangan ngebut! ‘Kan udah aku bilangin nggak boleh ngebut, kamu bikin aku kaget sama takut,”
“Iya maaf nggak sengaja main gas,”
“Nggak sengaja dari Hongkong! Kamu nyebelin banget sih,”
Shelina langsung memperbaiki posisi duduknya sambil menggerutu. Terlampau kesal, Ia sampai melepaskan pinggang suaminya, alias tak lagi memeluk suaminya.
“Shel, pegangan,”
“Nggak usah,”
“Ya udah aku kebutin lagi nih,”
Shelina berdecak karena ancaman suaminya itu. Tapi Ia tetap tidak mau melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang suami.
“Shel, pegangan biar aman,”
“Kamu nyebelin sih, tiba-tiba ngebut. Aku ‘kan kaget,”
“Tiba-tiba aku nggak senang sama Defan, makanya nggak sadar main gas,” Argantara mengakui kalau Ia tiba-tiba melaju cepat karena Defan.
“Pantesan aja ngejauh dari Defan langsung ngebut. Ternyata karena nggak senang? Emang kenapa? Dia ‘kan baik,”
“Caper banget, Sayang,”
“Siapa yang caper?”
“Dia lah,”
“Dia teman lama aku, zaman SMP. Anaknya baik kok, Ga,”
“Astaga, malah dikenalin terang-terangan, males banget dengernya,”
“Lho, aku ‘kan ngasih tau supaya kamu kenal sama dia,”
“Udah kenalan tadi, nggak usah ngasih tau hal-hal tentang dia lagi, Sayang,”
“Ya udah maaf, aku nggak tau kalau kamu nggak senang sama teman aku itu,”
“Emang temenan ya kalian?”
“Iya temenan, dari SMP ketemu nya,”
“Udah lama kenal dong ya?”
“Ya bisa dibilang begitu,”
“Teman atau mantan?”
“Teman, aku belum punya mantan,”
“Eh iya, saking keliatan dekat aku pikir pernah jadi mantan,”
“Dekatnya biasa aja kok, ya namanya teman pasti dekat lah, Ga. Cuma dekat nggak lebih dari teman,”
“Terus kenapa sih kamu ngasih nomor handphone kamu ke dia? Hmm?”
“Aku nggak senang deh, beneran,”
“Aku minta maaf. Aku pikir kamu nggak keberatan, aku selama ini kalau ada yang minta nomor selagi dia teman aku, atau orang yang aku kenal, pasti aku kasih nomor aku. Maaf ya kalau—“
“Kamu tuh terlalu polos, Shel. Minuman alkohol aja nggak kenal, ingat nggak waktu ulang tahun Diana kamu minum alkohol karena nggak tau, nah ini ngasih nomor telepon ke cowok yang bisa aja salah gunain nomor kamu,”
“Tapi selama ini teman-teman aku baik kok, nggak pernah salah gunain nomor handphone aku,”
__ADS_1
Argantara berdecak dengan hati yang panas. Istrinya itu terlalu polos, dan terlalu baik. Ia kesal sekali ketika Shelina tidak keberatan memberikan nomor ponsel kepada Defan. Walaupun mereka teman, tapi sudah lama tidak bertemu, bukan Ia berprasangka buruk, tapi khawatirnya nomor ponsel Shelina disalah gunakan. Melihat gelagat Defan tadi, Argantara sebenarnya juga tidak nyaman. Bayangkan saja, dengan terang-terangan Defan minta nomor handphone Shelina di depannya yang merupakan suami Shelina dengan santainya, tidak ada rasa segan atau segala macamnya.