
“Eh itu motor siapa? Ada tamu di rumah lo, Shel,”
“Iya itu motor Ganta,”
Argantara tiba-tiba berpikir keras, tetap maju, atau justru mundur dan putar balik tidak jadi mengantar kekasihnya ke rumah.
“Shel, main ke rumah gue yuk, nyokap gue nanyain lo mulu,”
“Hah? Sekarang banget?”
“Iya, ayo sekarang aja,”
“Tapi udah hampir sampai rumah aku, tinggal berapa meter doang lho itu,”
“Nggak apa-apa, ntar tinggal gue bilang ke nyokap lo kalau lo main ke rumah gue,”
“Tapi aku belum izin,”
“Nanti gue yang izinin,”
“Ya udah kita ke rumah aja dulu minta izin Mama,”
“Nanti di telepon ‘kan bisa,”
“Nggak ah, sekarang aja. Aku mau ngomong langsung,”
Argantara menghembuskan napas kasar, sambil mencengkram kemudinya. Padahal niatnya mengajak Shelina untuk datang ke rumahnya supaya bisa menghindar dari Ganta yang entah kenapa tahu-tahu sudah sampai di rumah Shelina.
“Urusan kalian apa sih? Tadi udah balikin buku, sekarang dia mau ngapain lagi ini?”
“Nggak tau, aku juga bingung,”
“Dia pinjam barang lo apaan lsgi selain bukuvl
“Nggak ada sih, dia cuma pinjam buku,”
“Apaan lagi nih alasannya datang ke rumah lo. Nggak jelas banget tuh orang,”
“Kamu jangan sewot gitu, Arga,”
“Gue risih,”
“Arga kayak orang yang cemburu deh,” batin Shelina sambil memperhatikan Argantara dari sampaing. Sekarang Ia lihat Argantara fokus menatap ke depan mengemudikan mobilnya.
“Dah sampe nih,”
“Kamu ikut turun ‘kan?”
“Emang lo masih mau ke rumah gue? Itu temen lo ada di rumah, paling dia mau banyak ngobrol sama lo,”
“Ya dia mungkin ada keperluan sebentar aja. Aku ngobrol bentar sama dia terus izin ke Mama aku mau ke rumah kamu, gimana?”
“Ya udah ayo,”
Argantara dan Shelina keluar dari mobil. Dari jarak dekat sugaan Shelina tidak salah. Motor yang sedang terparkir di depan gerbang rumahnya itu adalah motor Ganta.
Karena ada mobil papanya yang ternyata sudah pulang, jadi motor Ganta tidak masuk ke dalam.
“Assalamualaikum,”
Argantara dan Shelina langsung mengucapkan salam begitu masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu ada Ganta dan Shefia yang sedang mengobrol.
“Waalaikumsalam,”
“Ini dia yang ditungguin. Wah ada Arga juga. Ayo duduk dulu, Nak,”
Argantara menganggukkan kepala sambil tersenyum dan Ia duduk di sofa single, alih-alih duduk di sebelah Ganta yang duduk di sofa panjang.
“Ganta, ada apa ke sini?”
“Aku mau ngajakin kamu ngerjain tugas bareng,”
“Oh gitu ya,”
Shelina langsung menatap ke arah Argantara. Shelina sudah mengiyakan ajakan Argantara untuk datang ke rumahnya tapi dengan catatan Ia ingin izin langsung dengan mamanya. Namun ternyata Ganta datang untuk mengerjakan tugas.
“Kalau aku malah pergi ke rumah Arga, terus Ganta yang mau kerjain tuga shareng aku malah berkahir pulang, aku jahat nggak ya?” Shelina sedang menimbang sekarang. Apa yang harus Ia lakukan sekarang? Di satu sisi Ia tidak snak menolek Argantara, tapi di lain sisi tidak tega juga bila tidak mengerjakan tugas bersama Ganta.
“Arga datang ke sini mau kerjain tugas juga?” Tanya Shefia pada calon menantunya itu.
“Nggak, Tante. Aku mau minta izin ajak Shelina pergi boleh, Tante?”
“Kemana?”
“Ke rumah aku aja kok, Tante. Mama nanyain Shelina terus, jadi pengen bawa Shelina ke rumah, kalau Tante bolehin,”
“Oh boleh kok. Mau berangkat sekarang? Terus Ganta gimana? Katanya mau ngerjain tugas bareng,”
“Ganta, kalau besok aja gimana? Besok ‘kan kita libur tuh. Nah besok aja ngerjain tugasnya, jadi banyak waktu. Dari jam sembilan kita ngerjain. Kalau ini ‘kan udah mau sore,”
“Oh gitu, ya udah nggak apa-apa. Besok aja, kamu mau pergi ya?”
“Ya iyalah pake nanya, orang nyokapnya aja udah ngizinin. Lo kalau tetap bertahan di sini sih namanya nggak tau diri,” batin Argantara dengan sinis.
“Iya aku mau ke rumah Arga,”
“Iya nggak apa-apa kok, besok aja kita kerjain. Kalau gitu sekarang aku pamit pulang ya, Tante, Shel,”
“Maaf ya, Ganta,”
“Santai aja, Shel. Aku nggak apa-apa kok,”
“Okay hati-hati kalau gitu, sekali lagi aku minta maaf nggak bisa suku ngerjain tugas bareng kamu,”
“Iya-iya santai,”
Ganta langsung beranjak dari sofa. Sempat ada aksi adu tatap antara Ganta dengan Argantara. Tapi hanya sekilas.
Argantara setengah hati beranjak dari sofa untuk melepas pulangnya Ganta. Dua orang tuan rumah berdiri di depan gerbang melepas kepulangan Ganta, jadi Ia ikuti juga.
“Hati-hati ya, Ganta,”
“Iya, Tante,”
“Salam buat Mama,”
“Iya nanti aku sampein,”
Setelah Ganta pulang, barulah Shelina dan Argantara pamit pada Shefia. “Aku izin bawa Shelina dulu ya, Tante,”
“Mama jangan kangen,”
“Hahaha bisa aja. Orang cuma bentar doang kok. Kecuali kamu udah nikah diboyong sama suami kamu baru deh Mama kangen,”
“Aku cuma ke rumah Arga aja kok, Ma. Abis itu aku pulang,”
“Nanti Arga yang antar Shelina pulang, Tante,”
“Okay, hati-hati ya,”
Argantara dan Shelina masuk ke dalam mobil dan melambai pada Shefia. Setelah mobil Argantara tidak terlihat lagi barulah Shefia masuk ke dalam rumah.
“Pakai seatbelt lo, Shel,”
“Oh iya lupa,”
Shelina tetap harus menggunakan sabuk pengaman sekalipun lokasi rumah Argantara tidak begitu jauh dari rumahnya.
“Gue kira lo bakal ngerjain tugas bareng sama si kunyuk itu,”
“Kok kunyuk sih? Dia punya nama tau, namanya tuh Ganta,”
“Ya siapapun nama dia, gue nggak peduli,”
“Ih kamu harus menghargai nama orang dong, kalau nama dia Ganta ya jangan diganti-ganti jadi kunyuk. Kalau orangtuanya dengar gimana coba? ‘Kan nggak enak tau,”
“Ya tapi sekarang gue nggak lagi sama orangtuanya. Bodo amat deh,”
“Kamu kenapa ngiranya aku bakal ngerjain tugas sama dia? Aku ‘kan udah iyain mau ke rumah kamu,”
“Ya gue pikir lo lebih tertarik kerjain tugas bareng dia, ketimbang pergi ke rumah gue,”
“Sebenarnya tadi aku bimbang sih,”
“Bimbang kenapa?”
“Soalnya gini, aku udah terlanjur bilang iya mau ke rumah kamu, terus tiba-tiba dia ngajakin aku ngerjain tugas bareng. Kau mau nolak salah satu nggak enak. Tapi untungnya dia paham sih,”
“Gue yakin dia gerutu di dalam hati,”
“Jangan berprasangka buruk sama orang, nggak baik tau,”
“Gue yakin, soalnya dia ‘kan udah berharap nih bisa ngerjain tugas bareng lo,”
“Nggak lah, dia nggak berharap yang gimana-gimana. Udah ah, jangan ngomong gitu,”
“Lo bisa nebak nggak sih?”
“Nebak gimana maksudnya?”
“Dia naksir tuh sama lo,”
“Hah?”
Argantara menganggukkan kepalanya. Shelina harus tahu, kalau menebak perasaan orang lain itu mudah. Apalagi Ganta itu laki-laki, Argantara juga sama. Mudah bagi Argantara untuk menilai bagaimana tatapan kagum, atau suka yang ditunjukkan laki-laki terhadap perempuan. Dan itu ada di mata Ganta saat menatap Shelina.
“Tadi aja waktu lo bilang mau ke rumah gue, alias nggak jadi ngerjain tugas bareng, gue bisa liat kalau dia tuh kecewa,”
“Oh ya?”
“Iya, gue bisa liat dari tatapan mata dia,”
“Kamu cenayang? Kok tau gimana isi hati sama pikiran orang?”
“Ya elah, Shel. Gue nih cowok, dan dia juga cowok. Gue tau gimana tatapan cowok kalau lagi suka ke cewek. Gue ‘kan pernah ngalamin itu,”
“Oh iya juga ya, kamu ‘kan cowok pasti bisa nilai. Tapi ya udah lah biarin aja,”
“Kok biarin aja sih?”
Argantara menatap sekilas ke perempuan yang duduk di sampingnya saat ini. Ia benar-bsnar tidak paham, kenapa Shelina bisa menanggapi dengan sesantai ini? Padahal Argantara pikir, Shelina akan berucap “Ya udah deh mulai sekarang aku akan jaga jarak sama dia”
__ADS_1
Tapi ternyata itu hanya ada dalam bayangannya Argantara saja. Shelina kelihatan santai sekarang bukan malah memikirkan cara supaya Ganta berhenti menyukainya atau memikirkan bagaimana caranya untuk menjaga jarak dari Ganta walaupun statusnya masih berteman supaya Ganta tidak berharap lebih.
“Ya terus aku yarus gimana dong?”
“Menurut lo gimana? Kok malah nanya gue?”
“Menurut aku ya? Biarin aja dia mau suka aku kek, cinta aku kek, yang penting aku sama dia cuma teman aja, aku nggak bisa punya perasaan yang lebih untuk dia,”
“Shel, tapi kalau dia berharap sama lo gimana?”
“Ini ‘kan baru asumsi kamu aja ya. Belum tentu kenyataannya begitu. Karena Ganta juga nggak ngomong apa-apa kok soal perasaan dia ke aku. Dia nggak bilang kalau dia suka atau apa gitu sama aku,”
“Ya belum aja. Mungkin dia pikir waktunya belum tepat. Malah bisa jadi tau-tau dia ngelamar lo, tiba-tiba dia mau nikahin lo. Terus lo bakal gimana?”
“Ya nggak mungkin lah itu terjadi. Aku ‘kan udah tunangan,”
“Ya mungkin aja. Orangtua lo misalnya berubah pikiran, nggak jadi jodohin gue sama lo, terus nyuruh lo nikah sama Ganta aja, terus lo bakal nolak gitu? Lo ‘kan anaknya patuh banget,”
“Aku punya hak untuk nentuin siapa pasangan hidup aku. Jadi kalau aku nggak mau sama dia, masa krangtua aku mau maksa. Waktu dijodohin sama kamu aja, aku nggak dipaksa kok. Aku dmang mau sendiri setelah Mama Papa bicara ke aku. Aku dikasih hak untuk bilang nggak,”
Argantara sedikit bernapas lega. Entah, apa alasan Ia menghela napas lega. Tapi yang jelas Ia sedikit lega ketika dengan tegas Shelina mengatakan didinya punya hak untuk menentukan apsangan hidupnya sendiri.
“Jadi lo waktu dijodohin sama gue nggak dipaksa?”
“Nggak, memang aku mau sendiri kok. Emang mereka kelihatannya sih berharap ya, cuma mereka nggak maksa. Dan aku mau karena pertama aku pengen nurut sama orangtua. Yang kedua aku males cari jodoh sendiri. Kamu boleh bilang aku bodoh atau apa karena dua alasan itu tapi aku nggak peduli. Yang ketiga aku yakin kalau pilihan Mama Papa itu baik untuk aku, dan yang terakhir aku makin yakin mau dijodohins ana kamu karena aku bisa liat kamu itu laki-laki yang baik. Ya walaupun setelah kita tunangan kamu berubah buas banget ya. Tapi sekarang terbukti kok. Kamu itu aslinya baik. Kamu cuma perlu waktu untuk nerima aku,”
“Kalau dia tetap ngejar lo gimana, Shel?”
“Nantindia capek sendiri ngejar orangnyang nggak mau dikejar,”
“Lo udah bilang kalau lo punya tunangan dan itu gue?”
“Belum, aku belum sempat,”
“Ya elah, kapan sempatnya kalau gitu? Makin lama lo bilang, makin merasa bebas dia. Dia pasti merasa punya kesempatan yang banyak untuk dapetin lo,”
“Kamu kayaknya takut banget kehilangan aku,”
“Iya gue takut, emang kenapa? Gue nggak boleh merasa takut kehilangan? Hmm?”
Shelina menahan senyum bahagianya. Ia senang sekali mendengar ucapan argantara. Tidak menyangka Argantara akan dengan terang-terangan berkata seperti itu.
“Lo pergi jauh-jauh deh dari hidup gue. Gue benci banget sama lo. Jangan berharap kalau gue bakal jadi suami lo. Gue nggak mau nikah sama lo! Nggak ada cocoknya lo jadi pasangan gue,”
“Mati aja lo seklian biar kita nggak jadi dijodohin,”
Di tengah rasa bahagianya karena Argantara tidak malu-malu mengakui bahwa dia takut kehilangannya. Tiba-tiba datang memori saat Argantara menjadi orang yang jahat, yang tidak mau menghargai kehadirannya.
“Shel, kok diam?”
“Hmm? Nggak apa-apa,”
“Lo baik-baik aja ‘kan?”
“Iya, aku baik-baik aja. Cuma lagi ingat kata-kata yang pernah kamu ucapin waktu itu ke aku,”
“Apa?”
“Kamu nyuruh aku untuk mati aja supaya perjodohan kita batal, kamu benci banget sama aku dan kamu nggak bolehin aku untuk berharap apa-apa sama kamu.
Argantara langsung membeku ketika diingatkan tentang bagaimana jahatnya dia waktu itu kepada Shelina.
Argantara merasa bersalah sekarang. Ketika melakukan kesalahan, Ia justru merasa puas karena sudah menyakiti Shelina separah itu dengan kata-kata dan sikapnya.
Argantara meraih tangan Shelina kemudian Ia genggam dengan erat. Tanpa kata, Ia berharap Shelina paham kalau itu bentuk permohonan supaya Shelina tidak lagi mengingat apapun yang menyakitkan untuknya. Meminta maaf sudah sering Ia lalukan, tapi rasa bersalah itu masih belum habis juga karena Argantara tahu sakit hati Shelina juga masih tersisa walaupun selama ini Shelina mengatakan Ia tidak dendam, dan sudah memaafkan.
“Oh iya, nanti aku mungkin nggak lama ya di rumah kamu nya,”
Shelina tidak mau tenggelam dalam rasa sedihnya. Makandari itu Ia alihkan dengan oertanyaan.
Seharusnya yang berlalu memang tidak perlu diingat lagi, tapi sulit sekali untuk melakukan itu. Karena memang membekas sekali semua sikap dan ucapan Argantara yang ditujukan kepadanya saat Argantara masih belum bisa menerimanya. Kesabaran Shelina berbuah manus. Argantara sudah tidak membencinya lagi, Ia tidak sia-sia memberikan wajtu untuk Argantara beradaptasi dengan kehadirannya di hidup lelaki itu.
“Lama juga nggak apa-apa, nanti gue antar kok,”
“Nggak ah, aku nggak enak kalau lama-lama,”
“Kok nggak enak sih? Nyokap gue nggak gigit kok,”
“Iya aku tau, tapi aku nggak enak aja gitu kalau lama-lama di rumah orang lain,”
“Itu bukan rumah orang lain, Shel. Lo emangnya di anggap orang lain sama keluarga gue? Nggak, mereka anggap keluarga. Masa lo anggap gue sama keluarga gue tuh orang lain sih?”
“Ya wajarlah, orang belum nikah. Kalau udah nikah tuh baru jadi bagian dari keluarga,”
“Nggak, nyokap bokap gue dan keluarga gue udah anggap lo jadi bagian dari kami kok,”
*****
“Alhamdulillah kedatangan tamu cantik di rumah ini,”
Shelina tersenyum mendapat sambutan yang hangat dari calon ibu mertuanya, Tina. Bahkan Ia dipeluk oleh Tina seperti kawan lama yang sudah lama tidak berjumpa.
“Ayo masuk-masuk,”
“Kok kamu nggak bilang sih kalau mau ajak Shelina ke rumah? Mama belum kelar masak tau!” Tina berbisik mengomeli Argantara.
“Tadi dadakan,”
“Ya karena emang mau dadakan,”
“Ih nggak jelas,”
“Tadi tiba-tiba aja Arga ngajakin aku ke rumah. Katanya Tante sering nanyain aku, emang benar ya?”
“Wuh jangan ditanya kalau soal itu, Sayang. Emang benar Tante suka nanyain kamu, bahkan hampir tiap hari. Mama juga suruh Arga bawa kamu ke rumah, tapi nggak dibawa-bawa,”
“Ya orang sibuk kuliah, Ma. Kalau udah pulang aku bawa Shelina pulang ke rumahnya, lagian dia belum tentu mau juga. Kali ini mau sih,”
“Okay kamu duduk dulu ya, Tante ke dapur sebentar,”
“Iya, Tante. Maaf udah ganggu kesibukan Tante,”
“Eh kok ngomong gitu? Nggak dong, kamu nggak ganggu sama sekali. Malah Tante senang kamu datang ke rumah. Sering-sering ya,“
“Nggak enak kalau sering-sering,” jawab Shelina seraya terkekeh canggung. Walaupun statusnya adalah tunangan Argantara, tapi entah kenapa Shelina masih juga canggung, bahkan bertemu dnegan keluarga besar Argantara saat arisan pun Ia tidak percaya diri.
“Jangan ngomong gitu, Nak. Masa datang ke rumah calon mertua sendiri malu-malu sih? Jangan merasa kalau kamu itu ngerepotin, nggak sama sekali! Bentar ya Tante ke dapur dulu,”
“Iya, Tan,”
Tina meninggalkan Shelina bersama Argantara di ruang tamu karena Tina ingin menyiapkan hidangan untuk Shelina.
“Kamu dadakan ngajakin aku jadi ganggu Mama kamu tuh,”
“Ya elah orang nyokap gue mah emang biasa masak jam segini, santai aja kali. Nggak ganggu kok, sering tuh ada tamu datang, pas Mama lagi masak, nggak ganggu malah Mama senang kalau ada tamu apalagi tamunya lo,”
“Ah bisa aja,”
“Lah emang benar, tadi lo udah dengar sendiri ‘kan kalau Mama sering banget tanyain lo ke gue, sering juga nyuruh gue untuk ngajak lo ke rumah? Itu tandanya apa? Mama emang mau lo main-main ke sini,”
“Makasih ya, tapi mungkin lain kali jangan dadakan kayak tadi. Tiba-tiba ngajak ke rumah kamu, padahal bentar lagi sampai di rumah aku,”
“Hahaha lo tau nggak sebabnya apa?”
Argantara tertawa sambil bertanya. Ia penasaran sebenarnya Shelina tahu atau tidak tujuannya tiba-tiba mengajak Shelina datang ke rumahnya disaat mereka sudah hampir sampai di rumah Shelina, bahkan hanya jarak beberapa keter lagi mereka sampai.
“Nggak, aku nggak tau,”
“Karena ada si Ganta,”
“Hmm udah agak bisa nebak sih tadi sebenarnya. Cuma aku berusaha positif thinking aja,”
“Serius lo nebak gitu?”
“Sempat sekelebat di otak aku bilang kalau kamu tuh sengaja tiba-tiba ngajak aku ke rumah kamu setelah liat Ganta ada di rumah aku eh ternyata beneran. Emang kenpa sih?”
Argantara berdecak, dan sebelum menjawab, Ia berdiri sambil melepas kemeja jeansnya tersisa kaps putih polos. Setelah itu Ia letakkan kemejanya itu di atas meja.
Ia pindah ke sofa yang berhadapan dengan Shelina sambil melipat salah satu kakinya kemudian Ia tumpu di atas kaki lainnya.
“Dih mau bergaya?”
“Bukan, gue pegel,”
“Terus kenapa malah pindah? Kenaoa nggak duduk di sebelah aku lagi?”
“Lebih leluasa di sini,”
“Bilang aja kamu nggak mau ‘kan dekat-dekat sama aku?”
“Astaga, lo ngomong apa sih? Kalau gue nggak mau dekat lo, gue nggak semobils ama lo, gue nggak berhadapan gini sama lo. Gue gerah, ntar kalau dekat lo yang ada ilfeel lagi,”
“Gerah darimana? Orang ini ada AC nya kok,”
“Tapi tetap masih gerah ini, karena mungkin baru sampai,”
“Halah bilang aja kamu emang nggak mau duduk sebelah sama aku, iya ‘kan? Aku trauma deh, kamu ‘kan penrah ngomong gitu ke aku waktu itu,”
“Gue nggak mau duduk sebelahan sama lo! Nggak pantes,”
Melihat Argantara pindah tempat duduk, Shelina jadi ingat perkataan Argantara waktu itu makanya Ia berpikir alasan Argantara pindah tempat duduk karena ‘tidak pantas’ itu.
Argantara berdecak pelan. Padahal Ia pindah temlat duduk supaya lebih leluasa saja, tak ada krang di sampingnya tapi Shelina terlanjur salah paham. Akhirnya sekarang Argantara pindah lagi ke posisi sebelumnya demi menghindari kesalahpahaman yang ada.
“Gue tuh ngerasa lebih leluasan di situ, daripada di sini ada lo. Gue bisa duduk sesuka hati gue, kalau di sini takut bikin lo nggak nyaman ‘kam, tapi lo salah paham. Ya udah lah gue pindah lagi. Gue nggak mau lo mikir yang macam-macam. Yang udah berlalu jangan diingat-ingat lagi plis. Gue tau gue salah dan gue benar-benar minta maaf,” ujar Argantara seraya merangkul bahu Shelina dan Ia mengusapnya lembut.
“Jangan salah paham, gue emang beneran agak gerah mungkin karena tadi semoat ketemu matahari abis turun dari mobil, jadi gue butuh ruang sendiri biar bebas. Udah ya jangan miri yang macam-macam,”
“Kamu soalnya pernah ngomong gitu ‘kan waktu itu? Kamu ingat nggak?”
Suara Shelina bergetar menahan tangis. Sekarang tidak hanya dirundung dengan rasa bersalah, Argantara dibuat sesak. Ucapannya menghadirkan rasa trauma sampai sekarang.
“Iya gue ingat kok, Shel. Gue ingat semua kekahatan gue sama lo. Gue benar-benar minta maaf udah ngeluarin kata-kata yang nggak enak ke lo, dan akhirnya sampai sekarang lo keingat terus sama perkataan gue itu, gue minta maaf,”
Argantara yang masih merangkul Shelina, kini menyatukan pelipis mereka. Ia mengusap kepala Shelina dengan lembut berharap dengan apa yang Ia lakukan imi bisa menghapus kesedihan Shelina walaupun tidka bisa menghalus semua kejahatan yang pernah Ia lakukan kepada Shelina.
“Maafin gue, Shel,”
“Iya,”
“Gue minta maaf untuk semuanya. Gue nggak minta apa-apa, gue cuma perlu maaf dari lo. Dan gue bersyukur lo masih mau bertahan sama gue. Lo mau menghargai prlses gue untuk nerima lo di hidup gue. Makasih banyak untuk semuanya, Shel,” ucap Argantara setelah itu mencium singkat puncak kepala Shelina dan itu membuat Shelina tertegun untuk beberapa detik.
__ADS_1
Ketika Argantara melepaskan rangkulannya barulah Shelina tersadar bahwa Ia sudah di uat membeku sebentar tadi akibat kecupan lenbut Argantara di puncak kepalanya. Argantara tidak pernah melakukan itu sebelumnya. Jadi Ia cukup terkejut.
“Ya udah lanjut ke topik obrolan tadi. Jawab pertanyaan aku kenapa mendadak ngajak aku ke sini setelah tau ada Ganta di rumah aku?”
Shelina kembali pada penbahasan mereka sebelum Ia tiba-tiba teringat dengan momen perkataan kejam Argantara.
“Ya karena gue nggak mau aja gitu lo ketemu dia,”
Shelina menghembuskan napas kasar lalu menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Bisa-bisanya Argantara seperti itu.
“Kenapa sih? Enang apa gitu salahnya Ganta?”
“Dia nggak ada salah, Shel,”
“Terus?”
“Ya mungkin gue cemburu kali,”
“Tapi ngapain cemburu? Dia ‘kan teman aku, dia juga satu kampus sama kita, jadi ya kalu bisa kalian berdua juga berteman,”
“Lah kenapa gue harus temenan sama dia? Teman gue banyak, lagian dia kayaknya orang yang nggak gampang akrab deh,“
“Kata siapa? Nggak kok, dia gampang akrab sama orang baru,”
“Lo kenapa tau banget tentang dia sih?“
“Ya ‘kan udah kenal dari beberapa tahun lalu. Aku ketemu dia tuh udah lama. Bahkan jauh sebelum kamu. Kalau kamu ‘kanmemang anaknya sahabat orangtua aku tapi aku nggak ingat pasti juga kalan kita letemu, yang jelas kata Mama Papa sih kita pernah letemu ya. Tapi aku anggap lah kita benar-benar ketemu itu pas dewasa, yang waktu kita bahas pertunangan kita itu,”
“Kok lo bisa mikir kalau gue cowok yang baik sih? ‘Kan lo bilang, yang bikin lo yakin untuk dijodohin adalah karena lo percaya pilihan orangtua lo itu yang terbaik untuk lo. Dan lo juga bisa liat kalau gue orang baik, cara liatnya gimana?”
“Dari tatalan mata kamu, dan feeling aku sih bilangnya gitu,”
“Gue nggak yakin kalau lo tuh nggak nyesal bilang gue baiks etelah kita tunangan. Pasti lo langsung maki-maki gue ya di dalam hati? Lo kaget banget ya ternyata gue nggak sebaik yang lo pikirin?”
“Nggak sih, aku yakin aja kalau kamu lagi perlu waktu untuk nerima kamu,”
Argantara terkekeh dan langsung mengusap puncak kepala Shelina lagi. “Makasih ya, walaupun gue jahat sama lo tapi lo tetap baik ke gue,”
“Ntar aku bisa jahat juga lho,”
“Hah? Gimana? Lo emang bisa jahat ke gue?”
“Bisa,”
“Caranya?”
“Kamu cemburu ya kalau misal aku dekat sama Ganta atau Noval?”
Ekspresi Argantara langsung berubah datar mendngar dua nama itu disebut oleh Shelina dan Shelina bisa simpulkan kalau memang Argantara itu cemburu.
“Lo kenapa sih nyebut-nyebut mereka? Kurang kerjaan apa gimana?”
“Hahaha nggak kurang kerjaan dong,”
“Terus kenapa lo nyebut mereka? Tadi ‘kam kita lagi bahas gimana caranya lo jadi jahat ke gue, eh tiba-tiba lo malah nyebut mereka,”
“Ya karena ada hubungannya sama mereka makanya aku nyebut nama mereka berdua,”
“Apa sih maksudnya?”
Shelina tersenyum miring dan itu membuat Argantara bingung dan sedikit tidak kenyangka ternyata Shelina bisa tersenyum sinis juga.
“Kenapa lo?”
“Kamu pikir aku nggak bisa jahat juga ke kamu? Hmm?”
Shelina kini memutar posisi duduknya menjadi berhadapan dengan tunangannya itu dan Ia memberikan jarak yang lebih lapang di antara mereka berdua.
“Maksud lo?”
“Aku bakal jahatin kamu juga, ya sebagai balas dendam aku lah,”
“Kok gitu sih? Emang dibolehin balas dendam? Dalam agama aja nggak boleh, Shel,”
Shelina tertawa dalam hati karena ucapan Argantara. Kemudiam Ia menepuk dua kali bahu kanan Argantara.
“Nggak apa-apa, sesekali kamu harus dikasih pelajaran,”
“Ya udah, gue terima. Karena emang gue lernah salah sama lo tapi apa pembalasan lo itu? Hmm?”
“Aku bakal bikin kamu cemburu kayaknya seru kali ya? Kamu cemburu ‘kan? Nah cemburu itu nyiksa. Kalau beneran kamu cemburu—“
“Eh nggak ya!”
Shelina mengangkat salah satu alisnya bingung sambil berkata, “Kenapa nggak?” Tanya Shelina yang penasaran apa alasan Argantara menjawab seperti tadi dengan spontan.
“Gue nggak mau lo kasih pelajaran gue yang kayak gitu. Lo kalau mau kasih pelajaran atau balas dendam ke gue yang lain aja dej, jangan yang berhubungan sama hati. Gue nggak bisa, Shel. Seriusan deh,”
Shelina tertawa mendengar Argantara sekarang menatapnya dengan sorot permohonan.
“Beneran nih nggak bisa?”
“Nggak! Udah deh jangan kayak gitu. Yang lain aja bisa ‘kan? Plis…jangan bikin gue kesal dengan cara kayak gitu, Shel. Itu nyiksa banget. Di satu sisi ge nggak mau marah sam lo tapi di sisi laim gue juga nggak suka liat lo sama yang lain,”
“Ya itu kenapa? Cemburu beneran?”
“Iya kali ah gue nggak tau, belum bisa kasih jawaban pasti, yang jelas gue nggak suka!”
“Iya kali tuh, kamu beneran cemburu,”
“Ya udah kalau emang cemburu, terus kenapa? Lo nggak suka gue cemburu?”
Shelina tersenyum dan dalam hati berkata “Justru aku senang banget kalau kamu cemburu, walaupun kamu sendiri kadang masih suka bingung itu cemburu atau bukan tapi ngeliat kamu nggak suka atau kesal kalau aku dekat sama yang lain aja aku udah senang banget lho, Ga. Itu tandanya kamu mulai nerima aku,”
“Hai-hai, Tante bawa apa nih,”
Obrolan mereka terpaksa berhenti karena Tina datang bersama asisten rumah tangga. Tina membawa makanan di dalam mangkuk yang belum Shelina ketahui apa jenis makanan itu. Sementara asisten rumah tangga yang dipanghil Bibi itu membawa air minum.
“Nah jadi deh. Selamat dinikmati ya,”
“Ya Allah, maaf ngerepotin ya, Tante. Makasih banyak, tapi Tante nggak perlu repot-repot kayak gini, aku dibolehin datang ke sini aja udah senang banget,”
“Masa iya sih calon mantu nggak dibolehin ke sini dan mggak makan apa-apa. Ya udah silahkan dinikmati ya, Tante sama Bibi minggir dulu. Masih ada kerjaan soalnya,”
Shelina langsung berdiri dan menarik pelan bagian pinggang dress floral yang Ia kenakan untuk memperbaiki penampilannya sehabis duduk.
“Eh kamu mau kemana?”
“Bantuin Tante sama Bibi,”
“Oh nggak-nggak, kamu nggak boleh bantu apa-apa. Mending sekarang kamu makan aja, jangan repot-relot bantu,”
“Tan, aku bisa kok bantu-bantu kerjaan rumah,”
“Iya Tante tau, Sayang. Tapi Tante nggak mau kamu bantu lagian ini kerjaan di dapur aja. Mending ya, sekarang kamu makan pempek nya. Tante mau ke dapur lagi sama Bibi soalnya masih ada yang belum matang,”
Ayo dengar kata Tante, Shel. Jangan bandel ya. Duduk sekarang dan makan sama Arga,”
“Arga kamu temenin Shelina makan di sini!”
“Iya, Ma. Boleh ikutan makan nih? Nggak cuma temenin doang ‘kan?”
“Tany tih sama tembok,”
Argantara terbahak mendengar jawaban Mamanya. Ia hanya ingin memastikan saja. Barangkali Mamanya hanya ingin Ia menemani Shelina tanpa ikut makan juga.
“Udah liat ‘kan ada dua porsi di situ? Masa iya kamu nggak Mama kasih?”
Argantara langsung menatap ke meja dan Ia terkekeh. Ia baru sadar ada dua mangkuk. Ia langsung terkekeh “Maaf baru sadar, Ma. Makasih ya, Ma,”
“Iya kamu makan bareng Shelina di sini, jangan biarin Shelina kemana-mana ya,”
“Siap, Ma,”
Tina menekan oelan kedua bahu Shelina supaya Shelina duduk kembali di tempatnya smabil Ia menatap Shelina dengan tegas.
“Makan aja nggak usah ngapa-ngapain,” ujarnya dengan lembut tapi tegas.
“Makasih banyak, Tante,”
“Iya sama-sama, Sayang,” jawab Tina, setelah itu bergegas pergi kembali ke dapur meninggalkan anaknya dan juga tunangannya di ruang tamu.
“Mama kamu baik banget sih. Aku smapai nggak snak semdiri tau. Datang-datang dikasih makanan masa,”
“Ya tamu dmang begitu lah, Shel. Mana ada tamu disuruh bersih-bersih rumah baru dikasih makan. Darimana aturannya begitu? Tamu ‘kan emang harus dilayani dengan baik,”
“Ya—-iya sih, tapi baik banget Mama kamu. Aku jadi nggak enak,”
“Udah nggak usah mikir kayak gitu. Lo nggak dengar tadi apa kata nyokap gue? Lo harus makan sekarang, nggak usah kemana-mana nggak, usah bantuin, dan jangan pernah mikir kalau lo tuh ngerepotin. Paham nggak?”
Shelina menganggukkan kepalanya. Kemudian Ia menerima mangkuk yang diulurkan oleh Argantara kepadanya.
“Ayo makan,”
“Makasih ya,”
Mereka berdua makan bersama dan di suapan pertama Shelina langsung dibuat jatuh cinta dengan makanam khas Palembang buata Tina yang rasanya benar-benar lezat sesuai seleranya
“Enak banget pempek nya ya ampun,”
“Iya emang nyokap nggak pernah gagal deh kalau soal masal, apaan aja yang dipegang pasti rasanya enak,”
“Aku bingung gimana ya tips supaya bisa masak yang enak? Aku belajar dari Mama tuh nggak bisa seenak Mama, dan aku yakin kalau aku belajar dari Mama kamu, nggak bakal seenak buatan Mama kamu juga,”
“Bisa kok pasti, cuma belum waktunya aja jadi sehebat mereka. Gue yakin lo bisa,”
“Aamiin, tapi susah bisa seenak masakan Mama, dan aku yakin bakal susah juga kalau untuk ngimutin enaknya masakan Tante Tina. Kita anak-anak yang beruntung ya bisa ngerasain masakan mama yang enaknya luar biasa. Di luar sana banyak yang pengen masakan Mama tapi karena satu dan lain hal akhirnya nggak bisa,”
“Kok lo jadi galau gini tiba-tiba?”
“Iya mendadak aku kepikiran aja gitu sama orang-orang di luar sama yang nggak seberuntung kita bisa nikmati masakan enak Mama,”
“Iya kita lebih beruntung daripada mereka,”
“Aku selalu berdoa supaya aku bisa selama mungkin nikmatin masakan Mama, semoga Mama dikasih kesehatan terus dan panjang umur jadi aku bisa nikmati masakan Mama tuh masih lama, kalau bisa sampai aku tua nanti. Tapi kalau dipikir-pikir mungkin bakal susah banget kali ya soalnya kalau aku udah tua oromatis Mama aku udah tua banget lah,”
“Doa yang sama buat nyokap gue juga,”
“Pasti dong, kita harus doain yang baik-baik untuk orangtua,”
“Yes karena kita bakal jadi orangtua juga,” jawab Argantara sambil mengedipkan salah satu matanya dan sambil tersenyum menatap Shelina.
__ADS_1