Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 115


__ADS_3

“Ngomongin apa?”


“Sebelumnya aku mau bilang senang banget bisa bawa kamu ke tumah aku lagi. Mama udah nanyain kamu terus jarena Mama tau aku udah jarang banget pergi berdua sama kamu,”


“Ya maklum udah mulai nyusun tuas akhir, kamu sendiri kan juga gitu?”


“Iya, tapi kenapa ya aku merasa kalau kita jadi jauh,”


“Lho, jauh gimana maksudnya? Kita masih pulang pergi bareng kalau emang jadwalnya bareng di kampus, kita juga masih chat atau telepon kan,”


“Mama Papa kamu kayak ngejauhin aku sama kamu ya, Shel?”


“Hah?”


Shelina terperangah mendengar ucapan Argantara. Kemudian Ia diam sebentar. Entah kenapa osi pikiran Argantara sama sepertinya ketika berulang kali Ia seperti dilarang secara halus untuk pergi bersama Argantara atau sering-sering berinteraksi dengan Argantara padahal biasanya baik mama ataupun papanya tidak pernah seperti itu.


“Kamu—“


“Maaf kalau misalnya kamu tersinggung sama ucapan aku tapi yang aku rasain gitu, Shel. Kayak ada aja gitu halangan untuk ketemu sama kamu, selain di kampus. Padahal biasanya nggak deh,”

__ADS_1


“Hmm sebenarnya nggak kok rmang kita lagi sibuk aja sebenarnya,”


“Sesibuk-sibuknya aku, sebenarnya aku tuh pengen banget jalan sama kamu ngabisin waktu sama kamu biarpun cuma sebentar,”


“Ya udah aku minta maaf ya,”


“Nggak perlu minta maaf. Ini aku cuma penasaran aja apa mama papa kamu kesal ya sama aku karena aku pernah jahat ke kamu? Mereka belum bisa maafin aku sepenuhnya ya? Aku ‘kan pernah jahat gitu ke kamu, pernah jadiin kamu sasaran karena aku nggak terima dijodohin sama kamu,”


“Sebenarnya nggak kok,”


“Aku takut kehilangan kamu, Shel. Aku takut irangtua kamu tiba-tiba jadi nggak mau kita bersatu karena tau aku—“


“Barangkali berubah keputusan, Shel,”


Shelina tidak mau jujur kalau sebenarnya Ia pun memikirkan hal yang sama. Lebih baik Ia berusaha untuk membuat Argantara berpikir positif.


“Nggak, mereka setuju kok sama perjodohan kita. Dari awal udah setuju dan nggak akan berubah keputusan,”


“Ya semoga aja, tapi aku pengen tanya. Apa mereka pernah bahas aku?”

__ADS_1


“Hmm nggak sih,”


“Keliatannya gimana, Shel? Mereka keluatan benci sama aku atau nggak? Barangkali mereka nggak mau nunjukkin ke kamu tpai kamunya bisa ngeliat sendiri karena kamu anak mereka. Apa ada tanda-tabda kita bakal dipisahin, Shel?”


“Nggak sih, biasa aja tuh,”


Argantara menghembuskan napas kasar. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa sepertinya itu hanyalah isi pikirannya sendiri. Ia terlalu takut kehilangan Shelina. Dan rasa rindunya akan kebersamaan dengan Shelina membuat Ia jadi berpikir yang tidak-tidak.


Flashback


“Mau kemana kamu, Shel?”


Ketika Shelina barus aja keluar dari kamar dnegan penampilannya yang rapi siap untuk pergi tiba-tiba mamanya bertanya. Itu hal biasa, setiap Shelina mau pergi selalu mamanya bertanya Shelina mau pergi kemana, perkiraan pulang pukul berapa, pergi bersama siapa, dan lain-lain. Tapi yang aneh adalah ketika Shelina menjawab akan pergi dengan Argantara biasanya sang mama mengizinkan tapi kali ini tidak.


“Temenin Mama belanja bulanan aja ayo,”


“Ma, tapi udah dua kali aku nggak dibolehin pergi sama Arga, emang kenapa, Ma?”


Kali ini Shelina butuh penjelasan yang detail karena mamanya sudah ketiga kalinya menjadi alasan Ia gagal pergi bersama Argantara, padahal biasanya Ia mau pergi dnegan siapapun apalagi Argantara, mamanya tidak pernah menghalangi.

__ADS_1


“Jadi kamu nggak mau temenin Mama? Hmm?”


__ADS_2