Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 103


__ADS_3

“Bi, Shelina udah pulang?”


Yang pertama kali Shefia tanyakan begitu sampai di rumah adalah anak semata wayangnya. Ia bertanya pada Bibi yang membukakan pintu rumah untuknya.


“Mba Shel lagi pergi sama Mas Arga, Bu. Tadi kata Mba Shel, bakal ngabarin Ibu,”


Shefia langsung meraih ponselnya di dalam tas kemudian Ia membuka pesan yang baru masuk dari Shelina dan belum sempat Ia baca.


“Oh iya ini udah ngabarin,” ujar Shefia setelah itu mematap Bibi sambil tersenyum.


“Okay makasih ya, Bi,”


“Sama-sama, Bu,”


Shefia bergegas ke kamarnya setelah tahu klau anaknya sedang tak ada di rumah.


*****


“Si Laura mahasiswi baru itu udah nggak ada lagi di kampus kita, aku dnegar-dengar gitu, emang bener?”


“Iya kali. Aku nggak tau deh, nggak ngurusin,”


“Dih, nggak ngurusin tapi pernah kayak ngebelain dia gitu,”


Argantara terkekeh dan langsung mencubit pelan ujung hidung Shelina yang kecil. Shelina masih mempermasalahkan sikapnya beberapa hari lalu yang dianggap Shelina telah membela Laura di kantin ketika Laura mengaku tak sengaja menumpahkan bakso dan mengenai Shelina.


“Hahaha sebenarnya nggak belain dia, Shel. Kamu itu salah paham, Sayang,”


“Ya tapi aku anggap kamu belain dia dan aku sensi tau!”


“Iya deh maaf. Tapi serius aku nggak belain dia sebenarnya. Aku cuma nggak mau kamu kenapa-napa kalau berantem sama dia,”


“Halah bilang aja kamu naksir kali sama dia,”


“Heh enak aja kalau ngomong. Nggak ya! Aku nggak naksir sama siapa-siapa. Jangan ngasal deh kalau ngomong,”


“Ah masa sih?”


“Dih, nyebelin banget,”


“Eh nggak percaya banget,”


Shelina menggelengkan kepalanya tidak percaya. Argantara terkekeh menganggap kalau itu bentuk rasa kecemburuan Shelina.


“Ya udah lah kamu kayaknya cemburu cieee,”


“Apa sih? Aku nggak cemburu ah biasa aja,”


“Halah, lrang lo sempat ngambek kok sama gue,”


“Dih, ngomongnya campur aduk lo gue aku kamu,”


Argantara tertawa dan langsung mendapat peringatan berupa tatapan tajam dari Shelina. Sontak Argantara menutup mulutnya.


“Lagi di restoran ih. Ketawa nya ganggu orang tau!”


“Iya maaf, abisnya kamu lucu kalau lagi ngomel tuh,”


“Masa orang ngomel dibilang lucu. Dasar aneh,”


“Ya biarin sih. Menurut aku, kamu tuh kalau lagi ngomel atau ngedumel selalu lucu, menggrmaskan gitu lho,”


Shelina berdecak pelan sambil merotasikan bola matanya. Beberapa menit setelahnya Shelina mengajak Argantara pulang dan Argantara menganggukkan kepala.


Seperti biasa Argantara akan mengantarkan Shelina pulang ke rumahnya setelah Ia ajak pergi.


Tiba di rumah, Shelina langsung mempersilahkan Argantara masuk ke rmah namun Argantara menggelengkan kepalanya.


“Aku langsung pulang aja ya. Biar kamu jyga langsung bisa istirahat,”


“Lho, kok nggak masuk dulu sih? Nggak apa-apa lah masuk aja dulu,”


“Nggak usah, aku mau langsung pulang aja. Makasih ya yntukw sktunya. Aku senang banget bisa jalan sama kamu,”

__ADS_1


“Hmm okay. Hati-hati ya,”


Argantara menganggukkan kepalanya. Ia bergegas memasuki mkbilnya lagi udai mengantarkan Shelina sampai di depan pintu rumahnya. Ia membunyikan klakson sebelum benar-benar melaju bersama mobilnya.


Setelah mobil Argantara tak terlihat lagi, Shelina langsung bergegas masuk ke dalam rumah. Dan Ia dikejutkan dnegan krhadiran mamanya yang tiba-tiba sudah ada di delannya.


“Astaga, Mama. Aku kaget banget ih,”


“Hahaha kamu kirian apa? Hantu ya?”


“Hmm nggak sih, cuma aku kaget aja,”


“Mama rambutnya lagi digerai pula, abis cuci rambut karena udah lepek, kayak hantu ‘kan?”


Tanya Shefia sambil menyisir rambutnya sendiri dengan tangan. Rambut Shefia yang panjang dan tebal tidak membuat Shelina beprikir kalau mamanya itu makluk halus alias gantu. Hanya saja Ia terkejut ketika melihat mamanya tiba-tiba ada di belakangnya.


“Nggak ih, Mama jangan bilang begitu,”


“Nggak apa-apa, Sayang. Mama kayak hantu ‘kan cuma bercandaan aja,”


“Maaf ya Ma aku baru pulang,”


“Nggak apa-apa habis pergi sama Arga ‘kan?”


“Iya, Ma,”


“Ya udah, istirahat deh. Ada yang mau Mama bicarakan sama kamu, Sayang,”


Mendengar udapan Mamanya, tentu daja Shelina memgernyitkan keningnya bingung.


“Hmm emang Mama mau ngomong apa? Sekarang aja, aku nggak mau istirahat kok, Ma,”


“Beneran?”


“Iya beneran, aku mau ngomong sekarang aja sama Mama nggak apa-apa ya?”


“Okay sekarang kita ke ruang keluarga deh,”


Shelina langsung menganggukkan kepalanya. Shelna jalau sudah djbuat penasaran maka akan berpanjur terus, sampai Ia dapat jawaban. Mamanya sudah berkata bahwa akan ada hal yang dibicarakan. Shelina tidak mau menunggu nanti, Shelina ingin tahu secepatnya tentang hal yang akan dibahas oleh mereka sekarang.


Mendengar pertanyaan Shefia, Shelina langsung membelalakkan kedua matanya. Entah kenapa Mamanya bisa membicarakan hal ini.


“Ma, maksud Mama apa?”


“Arga pernah nolak kamu habis-habisan ya, Nak? Dia pernah bersikap jahat ke kmau?”


Shelina langsung gugup ditanya seperti itu. Kalau Ia jawab jujur, apa itu baik untuk Argantara? Tentu saja tidal. Kemunhkinan besar mamanya akan kesal pada Argantara atau bahkan bisa membenci Argantara.


“Ma, aku—“


“Kamu jawab jujur aja,”


Shelina langsung menghembuskan napas kasar kemudian tersenyum dan setelahnya menjawab “Ma, ya namanya juga dijodohin. Kan rata-rata memang nolak dulu, jarang yang bisa langsung nerima perjodohan, jadi kalau misalnya Arga nolak ya wajar aja, Ma,”


“Tapi kalau dia udah nolak keras dari awal, bahkan dia sempat jahat sama kamu ya, Mama nggak bisa terima lag. Mau jadi apa kamu nanti? Hubungan kalian nggak akan baik-baik aja ke depannya. Di aeal aja dia udah nolak kok, udah nggak baik sikapnya ke kamu, bagaimana di masa depan? Mama nggak bisa jamin kalau dia nggak bakal nyakitin kamu, Shel,”


“Ma, tenang aja ya. A


Rga itu baik kok. Dia nggak akan nyakitin aku, dia nggak akan bikin Mama Papa dan aku kecewa. Dia sendiri udah janji sama aku da. Aku juga udah liat kok gimana sikapnya selama ini ke aku. Kalau masalah penolakan itu, aku akui memang dia pernah nolak aku,”


********


“Aku bawain sesuatu buat kamu lho, ini titipan mama aku sih sebenarnya,”


Baru juga keluar dari mobil, tiba-tiba Ganta sudah menghampiri Shelina dan menyerahkan satu kotak makan kepada Shelina.


“Hai, Ga,”


Argantara tersenyum singkat dan mengangkat satu alisnya membalas Ganta yang menyapanya.


Kalau tidak ada Shelina mungkin Ia abaikan saja Ganta menyapanya. Tapi saat ini Ia menghargai Shelina karena Ganta adalah sahabat Shelina.


Kalau Ia memasang wajah ketus sedikit saja, bisa-bisa dikomentari oleh Shelina. Padahal seharusnya Shelina tahu apa penyebab Ia memasang wajah ketus.

__ADS_1


“Ya ampun repot-repot, makasih banyak ya, bilang sama Mama kamu makasih banyak, ini aku terima,”


“Iya sama-sama, ayo ke kelas bareng,” ajak Ganta pada Shelina yang langsung menatap Argantara dan mengangkat kedua alisnya.


“Kenapa?” Tanya Argantara pura-pura tidak mengerti kalau Ia Shelina sedang izin untuk kelas bersama Ganta.


“Aku ke kelas sama Ganta ya,”


“Hah?”


Tadi pura-pura tidak oaham, sekarang pura-pura tidak dengar. Lengkap sekali akting Argantara.


“Aku ke kelas bareng Ganta nggak apa-apa ‘kan?”


“Ke kelas? Dimana?”


Shelina berdecak pelan. Ia kesal ketika tunangannya itu jadi tidak connect ketika diajak bicara, apdahal biasnaya tidak begini.


“Aku mau ke kelas sama Ganta,”


“Oh ke kelas siapa?”


Argantara sengaja mengulur waktu dan membuat Shelina kesal. Argantara menebak Ganta juga kesal karena Ia sengaja lama-lama tak kunjung memberikan izin.


“Ya ke kelas aku lah,”


“Oh, mau sekarang?”


“Iya, Arga. Masa iya tahun depan? Kamu ada-ada aja sih,”


“Ya udah aku antar ayo,”


“Okay nggak apa-apa, yuk,”


Argantara senang karena Shelina tidak menolak niat baiknya, setelah Ia buat kesal dulu tadi. Argantara yakin yang kesal sekarang adalah Ganta karena pasti Ganta menganggapnya sebagai pengganggu.


“Sorry ya, selagi gue masih nafas, gue nggak akan bairin lo dekat-dekat sama tunangan gue kecuali kalau di kelas. Enak aja lo, pacar bukan, suami bukan, tapi mau deketin Shelina. Padahal udah tau kalau Shelina itu tunangan gue. Sadar diri woy!” Batin Argantara sambil menggertakkan giginya. Argantara dengan tegas meraih tangan Shelina dan Ia genggam dengan erat. Perlakuannya itu membuat Shelina bingung.


“Kenapa sih, dia?” Batin Shelina.


Sekarang shelina ada di antara Argantara dan Ganta, tapi tentunya lebih dekat dnegan Argantara karena Argantara menggenggam tangannya.


“Padahal yang aku liat Ganta biasa aja tuh, kenapa Arga kayak cacing kepanasan?”


Shelina melirik Argantara dnegan ekor matanya. Shelina benar-bsnar bingung tunangannya bisa se-posesif itu.


“Arga beneran udah cinta sama aku ya? Kok dia segininya? Kayak takut banget aku dekat sama Ganta yang padahal sikapnya normal-normal aja tuh,“


“Eh iya, Ganta. Ini mama kamu yang masak? Ini apa ya? Aku penasaran deh,”


“Itu burger, Shel,”


“Oh burger, aku suka banget sama burger,”


“Ya udah nanti dimakan ya,”


“Pasti dong, kamu bawa bekal juga?”


“Iya, sama kayak kamu. Eh iya Mama aku juga nitip salam. Katanya, kapan main ke rumah?”


“Hmm lain kali ya, ntar deh cari waktu yang tepat,”


“Iya dong, kamu main-main ke rumah aku, masa nggak mau sih main ke rumah sahabat sendiri,”


“Bukan nggak mau, tapi belum sempat nih, ntar deh ya,”


“Okay, aku tunggu,”


Sudah tiba di depan kelas Argantara langsung mengusap puncak kepala Shelina dan mengedikkan dagunya ke arah kelas Shelina.


“Semangat belajarnya,”


“Okay, kamu juga ya,”

__ADS_1


“Aku masuk kelas dulu,” ujar Shelina pada Argantara.


“Ga, masuk dulu ya,” kata Ganta.


__ADS_2