Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 53


__ADS_3

“Jadi lo chat sama siapa? Kok gue nge-ping nggak dibalas? Gue telpon juga tunggu dua kali dulu baru dijawab,”


“Iya maaf, aku kagi chat sama Noval,”


Kening Argantara langsung mengernyit bingung mendengar nama Noval. Ia baru tahu kalau mereka rupanya sering berkomunikasi setelah punya nomor masing-masing.


“Oh lagi chatingan sama Noval. Emang udah sering ya?”


“Lumayan sering. Dia duluan yang mulai. Ya kalau aku nggak ladenin aku nggak enak,”


“Ya nggak usah diladenin lah. Ngapain lo ladenin?”


“Aku nggak enak, Arga. Dia nanyain oleh-olehnya, terus jadi lanjut ngobrol deh,”


“Oh kayaknya seru banget gitu ya. Okay deh lanjut aja, udahan dulu telponnya,”


“Eh kamu nggak marah ‘kan sama aku?”


“Nggak lah ngapain gue marah sama lo?”


“Ya kali aja, gara-gara aku lama balas chat kamu, terus kamu jadi marah deh sama aku. Tapi nggak ‘kan?”


“Nggak,” jawab Argantara dengan ketus.


“Okay deh bye,”


“Lanjutin aja ngobrolnya sampai besok pagi. Gue sih mau istirahat,”


“Siapa?”


“Siapa maksudnya?”


“Ya siapa yang mau ngobrol sampai besok pagi maksud kamu,”


“Ya lo lah sama si siapa itu, Nopan Nopan itu


“Namanya Noval, Arga,”


“Iya angin Nopan,”


Shelina berdecak pelan. Sudah Ia jelaskan nama temannya itu Noval, entah kenapa Argantara tetap memanggil dengan nama yang beda.


“Jangan ganti nama orang sembarangan. Udah beda artinya lho, kalau orangtuanya dengar ntar mereka kesal nama anak kereka diganti-ganti,”


“Ya elah ngapain gue harus takut? ‘Kan gue nggak tau namanya dia, dan nggak penting juga buat tau,” jawab Argantara dengan ketus. Ia menanggapi ucapan Shelina dengan santai. Awalnya memang tidak tahu nama Noval yang sesungguhnya. Tapi setelah diberitahu tetap saja Ia sebut yang salah.


“Lagian gue nggak lagi sama orangtuanya sekarang, jadi bodo amat deh,”


“Ih kamu kok kayak sewot gitu sih? Kamu lagi urung-uringan kenapa? Pagi ada masalah ya?”


“Nggak ada, nggak usah ngarang lo,”


“Oh atau kamu cemburu ya gara-gara aku chat sama orang lain?”


“Nggak lah, ‘kan gue udah ngomong tadi,”


“Ya udah kalau nggak cemburu, bagus deh. Karena Noval itu teman aku aja, bukan siapa-siapa,”


“Iya ‘kan sama kayak gue, cuma teman lo doang,”


Setelah bicara seperti itu Argantara mengakhiri sambungan telepon mereka. Ia mendengus setelah meletakkan ponselnya di nakas lalu Ia berbaring.


“Ternyata karena chat sama Noval, jadi chat dari gue dianggurin. Segala nanya gue cemburu apa nggak. Gue aja bingung mau jawab apaan. Gue ngerasa nggak cemburu tapi kenapa gue panas coba setelah tau Shelina chat sama angin Nopan itu. Ah udahlah, mending gue istirahat,”


********


Pagi ini Ganta akan mulai masuk di kampus barunya. Ganta sudah tidak sabar untuk menuntut ilmu di negaranya sendiri lagi setelah beberapa tahu ke belakang sempat belajar di Jepang.


sebelum berangkat ke kampus, Ganta makan pagi bersama kedua orangtuanya. Ini adalah kegiatan rutin mereka bahkan sekalipun mereka di Jepang, dan sesibuk apapun mereka selalu mengutamakan makan bersama.


“Ma, Pa, aku lagi mau berandai-andai, nah aku minta pendapat Mama sama Papa ya,” ujar Ganta seraya menatap Arni dan Hery yang sedang sibuk bersantap.


“Iya boleh,” jawab Arni seraya menatap anaknya itu.


“Seandainya nih aku berjodoh sama sahabat aku gimana?”


“Hah? Sahabat kamu yang mana nih? Di Jepang atau Indonesia?”


“Ma, jawab aja dulu pendapat Mama sama Papa gimana kalau misalnya aku berjodoh sama sahabat aku,”


Arni lebih penasaran dengan siapa yang tengah dibicarakan oleh Ganta, ketimbang memberikan pendapat terlebih dahulu padahal itu yang diminta oleh anaknya.


“Oh iya sorry-sorry Mama lupa kamu minta pendapat ya? Hmm okay kata Mama sih nggak apa-apa ya. Justru bukannya bagus? Yang namanya sahabat, pasti ‘kan kamu udah kenal sama dia, nggak mesti adaptasi terlalu lama lagi karena dia bukan orang baru dalam hidup kamu,”


“Kalau menurut Papa gimana?”


“Papa sependapat sama Mama,” ujar Hery.


“Ya nggak apa-apa dong kalau mislanya kamu berjodoh sama sahabat kamu, bukannya itu bagus ya? Kalian nggak perlu kenalan dari ulang, udah sedikit banyak tau karakter masing-masing, apalagi kalau misalnya yang kamu omongin ini adalah sahabat yang Mama Papa kenal. Jadi nggak perlu ada momen kenalan dari ulang lagi, adaptasinya jadi gampang nanti,”


“Emang siapa sih sahabat yang kamu maksud ini?”


“Kalau seandainya Shelina gimana, Ma, Pa?”


“Hah? Shelina? Wah Mama sih setuju banget ya. Soalnya Mama sama Tante Shefia ‘kan udah kenal banget,”

__ADS_1


“Kamu serius? Kamu suka sama Shelina?”


“Hmm kayaknya sih iya, Pa,” jawab Ganta dengan ragu-ragu.


“Lho kok kayaknya? Nggak pasti nih ceritanya? Ya jangan gitulah, harus pastikan dulu perasaan kamu untuk Shelina itu seperti apa. Cinta atau perasaan apa? Jangan sampai kamu plin plan,”


Sebenarnya Ia ragu apakah dengan rasa suka yang Ia miliki ini, orangtuanya akan setuju? Dan persahabatan antara Ia dan Shelina apakah akan rusak? Makanya Ia minta pendapat Mama dan Papanya dulu sebelum melangkah lebih jauh.


“Kalau aku suka sama Shelina, kira-kira dia terima atau nggak ya? Maksud aku, dia bakal menajuh nggak? Karena ‘kan ada yang kalau udah sahabatan ya sahabatan aja nggak lebih dari itu. Dan apa Mama Papa setuju?”


“Ya kami setuju, Nak. Nggak ragu untuk bilang setuju,”


“Emang nggak apa-apa ya kalau misalnya aku suka sama Shelina, sahabat aku sendiri?”


“Ya menurut Mama sih nggak apa-apa ya, Pa? Emang salahnya dimana? Perasaan itu ‘kan nggak bisa diatur-atur. Kalau hati kamu mau jatuh ke Shelina ya masa kamu tolak? Itu ‘kan udah kemauan hati kamu sendiri,”


“Aku ragu deh, apa nggak sebaiknya menghindari suka sama sahabat sendiri ya? Aku benar-benar ragunya di situ karena tantangannya berat. Shelina belum tentu mau sama aku karena dia cuma anggap aku sahabat aja dan orangtuanya Shena juga begitu,”


“Sayang, ya mau gimanapun tanggapan mereka, yang penting kamu bilang aja dulu. Lagian nggak ada salahnya kok suka sama sahabat sendiri,”


“Kalau ditolak gimana ya?”


“Ya nggak apa-apa, kamu coba lagi-coba lagi. Kalau memang jalannya sulit untuk kalian bersatu ya berarti memang kamu sama Shelina bukan jodoh, Sayang. Kamu harus belajar terima itu,”


******


“Eh tunggu bentar,”


“Kenapa?”


Argantara memanggil Shelina yang sudah keluar dari mobil dan akan berjalan ke kelasnya.


“Bentar,”


Argantara membuka pintu mobil bagian tengah setelah itu Ia keluarkan paper bag dan Ia serahkan kepada Shelina.


“Apa ini, Ga?”


“Dari nyokap gue,”


Shelina melihat isi dari paper bag yang diberikan oleh Argantara itu dan ternyata berisi pasta did alam kotak makan


“Wah makasih banyak. Duh aku nggak enak deh sama Mama kamu. Kenapa dikasih makanan terus ya? Apa Tante Tina tau aku suka makan?”


“Lebih suka makan gue lah daripada lo,”


“Sama, kita sama-sama suka makan deh kayaknya,”


“Iya kali, mungkin jodoh,”


Shelina tersenyum lalu memiringkan kepalanya menatap lelaki di depannya ini sambil bertanya “Emang kamu mau berjodoh sama aku?”


“Emang kamu mau?”


“Ya kalau nggak mau udah gue batalin dari kalan tau. Tapi buktinya gue masih bertahan ‘kan?“


“Jadi kamu mau lanjut ke pernikahan, Ga?”


Argantara menganggukkan kepalanya. Walaupun belum tahu kapan hari pernikahan itu akan tiba tapi Shelina bahagia mendengar jawaban Argantara.


“Ya udah masuk kelas ayo,”


“Iya, sekali lagi makasih banyak ya, bilang makaish juga ke Tante Tina,”


“Iya ntar gue sampein,”


“Mama kamu baik banget sih, nggak pelit, waktu ada arisan di rumah kamu apdahal aku ‘kan nggak datang tapi aku malah dianterin makanan. Terus ini dibawain pasta. Mana aku ekang pengen pasta lagi semalam. Cuma karena udah tengah malam pengennya jadi aku malas,”


“Kok bisa pas gitu ya?”


“Iya makanya. Aku senang banget pagi ini dapat pasta. Semalam nggak kesampean, pagi ini nggak disangka aku malah dapat,”


“Lo coba bilang ke gue kalau lo pengen pasta semalam,”


“Kenapa harus bilang ke kamu? Emang kamu mau beliin?”


“Nggak, gue paling lagi nyenyak,”


“Hahahaha terus kenapa nyuruh aku untuk bilang?“


“Ya…kali aja gitu gue lagi baik, gue udah bangun jadi gue beliin pasta buat lo,”


“Baik banget,”


“Belum dibeliin, udah bilang baik banget,”


“Ya nggak apa-apa yang penting aku udah tau niat baik kamu ‘kan,”


Mereka berdua melangkah berdampingan. Pagi ini tidak biasanya Argantara mengekori Shelina ke kelasnya sampai Shelina bingung.


“Kamu kenapa masih ngikutin aku, Ga?”


“Emang nggak boleh?”


“Ya…boleh sih cuma aneh aja gitu,”

__ADS_1


“Anehnya dimana? Ya suka-suka gue lah mau ngikutin lo atau nggak,”


“Ya udah deh maaf,”


“Gue mau nganterin lo ke kelas,”


“Hah? Kamu abis kejedot dimana keoalanya?”


Argantara berdecak pelan mendengar ucapan Shelina yang Ia tahu adalah lelucon tapi tetap saja terdengar menyebalkan.


“Hahaha bercanda kok. Oh iya makasih ya udah mau anterin aku ke kelas,”


“Ngapain bilang makasih? Nggak usah lah, orang ini bukan apa-apa kok, gue kebetulan iseng aja. Belum mau masuk kelas jadi gue ngikut ke kelas lo dulu,”


Di tengah perjalanan mereka, tiba-tiba ada yang memanggil Shelina. Mereka berdua langsung spontan menoleh ke sumber suara. Shelina terlihat membelalakkan kedua matanya dan tersenyum lebar, sementara Argantara mengangkat salah satu alisnya.


“Eh Ganta?”


“Hai,”


“Kamu kenapa ada di kampus aku?”


“Aku mau di sini juga,”


“Hah? Serius kamu? Mau kuliah di aini juga? Widih seru dong ada sahabat aku di sini,”


Argantara mengalihkan pandangan kenarah lain sambil memperbaiki letak ranselnya di punggung.


“Ayo gue anterin ke kelas,”


“Arga, kamu sama Ganta udah kenal belum? Udah aku kenalin ya kayaknya?”


“Aku lupa, kamu udah pernah ceritain Arga ke aku belum?”


“Ya udah aku kenalin aja ya, Arga ini Ganta temannya aku yang baru balik dari Jepang, anak sahabatnya Mama. Nah Ganta, ini Arga teman aku,”


Kalau ke Noval sudah diizinkan untuk mengungkapkan status, sementara kalau apda Ganta, Shelina belum mendapatkan izin dari Argantara. Daripada timbul penolakan yang membuat sakit hati karena tiba-tiba Argantara bicara “Nggak! Dia bukan tunangan gue,” lebih baik Ia akui Argantara sebagai teman saja. Nanti dibicarakan lagi. Boleh atau tidak Ia bilang kalau Argantara itu tunangannya.


Sementara Argantara yang disebut sebagai teman lagi langsung tersenyum miring dan menatap Shelina sekilas sebelum akhirnya membuang pandangan.


“Okay aku mau ke kelas aku dulu,”


“Bareng yuk,”


“Oh iya boleh,”


“Emang lo berdua sekelas?”


Shelina dan Ganta langsung menyebut kelas mereka masing-masing dan itu membuat Argantara menggertakkan giginya.


“Ya udah aku bareng Ganta aja. Kamu ke kelas kamu sendiri gih. Aku duluan ya,” ujar Shelina seraya menepuk lenan Argantara sekilas dan pergi begitu saja bersama Ganta yang mengatakan hal serupa pada Argantara “Duluan ya, Arga,”


Argantara langsung mendengus sambil menatap punggung sepasang manusia yang hendak ke kelas itu. Argantara yang semula berkacak pinggang, sekarang menyimpan tangannya di saku celana.


“Ini Shelina balas dendam ke gue ya? Karena gue pernah gituin dia dulu. Dia lagi ngasih unjuk karma ke gue nih ceritanya?”


Argantara ingat betul, Ia pernah pergi ke kelas bersama perempuan lain, meninggalkan Shelina sendirian hanya menatap kosong ke arah kepergiannya bersama Nathalia waktu itu. Argantara sengaja ingin membuka mata Shelina lebar-lebar tentang kenyataan bahwa Ia tidak mencintai Shelina dan Ia menolak perjodohan mereka.


“Woy, Ga!”


Argantata yang sedang memutar kilas balik, langsung terlonjak kaget ketika bahunya tiba-tiba ditepuk oleh teman-temannya, Denis, Ardan, dan Satria.


“Lo ngapain malah diem di sini? Nggak masuk kelas?”


“Ini mau masuk kelas kok,”


“Lo nggak bareng Shelina?”


“Bareng,”


“Lah terus dia kemana?”


“Ya udah jalan kelasnya lah. Tuh sama orang baru,” ujar Argantara seraya menekan dua kata terakhir dalam kalimatnya.


“Hah? Orang baru?”


“Iya, orang baru. Tuh liat sendiri, masih keliatan ‘kan?”


Argantara menunjuk ke arah Shelina dan Ganta yang sudah jauh jaraknyantapi masih bisa dilihat cukup jelas oleh teman-teman Argantara yang kebingungan.


“Itu Shelina kapan sama siapa, Ga?”


“Tadi udah gue jawab, dia jalan sama orang baru. Nggak ngerti juga apa?”


“Orang baru tuh maksudnya mahasiswa baru gitu?”


Argantara menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Denis. Setelahniti Argantara berjalan meninggalkan teman-temannya yang sedang saling menatap satu sama lain.


“Kok bisa sih?” Tanya Ardan dan Denis bersamaan.


“Ya mana gue tau, Ogeb. Gua ‘kan baru datang juga sama ksyak kalisn berdua,” jawab Satria. Mereka bertiga sama-sama yidak tahu kemapa Shelina bisa lelihatan seakrab itu dengan mahasiswa baru sampai nereka berdua jalan bersamaan ke kelas, sementara Argantata tadi sendirian saja.


“Kayaknya Arga cemburu deh.” Ujar Denis.


“Ya udah pastilah itu. Kalau dia nghak cemburu, mulanya tadi nyantai aja harusnya. Tapi kenyataannya apa? Muka dia keliatan gondoknya,” jawah Ardan.

__ADS_1


“Ya udah yuk kiya masuk kelas ikutin si Arga. Takut dia tiba-tiba pingsan karena cemburu ‘kan nggak lucu yak,”


“Hahahaha,”


__ADS_2