Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 116


__ADS_3

“Shel, kamu baik-baik aja ‘kan? Tolong jawab aku dong, jangan diam aja,” pinta Argantar dengan sangat memohon.


Karena Shelina masih penyesuaian, jadi Ia belum memberikan jawaban atas pertanyaan Argantara barusan yaitu tentang apa yang Ia rasakan saat ini. Ia baru saja pingsan jadi masih belum bisa secara langsung menanggapi pertanyaan Argantara yang sudah khawatir luar biasa.


“Masih sakit? Apa yang sakit?” Tanya Argantara.


Shena menyentuh kepalanya, Ia memberikan pijatan lembut di sana, dan Argantara langsung paham. Argantara menggerakkan jarinya, menggantikan jari Shelina untuk memberikan pijatan lembut di kepala Shelina.


“Kamu udah sarapan atau belum sih? Terus kamu istirahat cukup nggak semalam itu?” Tanya Argantara lagi kali ini dengan rasa penasaran yang tinggi karena Ia pernah tak sadarkan diri juga saat upacara hari penting kampus dan itu karena memang belum makan pagi dan malamnya kurang istirahat.


Shelina menganggukkan kepalanya untuk pertanyaan sudahkah cukup istirahatnya semalam. Tapi kalau soal tentang sarapan, tadi sebelum berangkat, Ia memang tidak sarapan.


“Kamu belum sarapan ya?” Tanya Argantara karena baru saja Ia mendengar perut Shelina berbunyi.


Shelina menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Argantara langsung menghela napas pelan dan menggelengkan kepalanya. Pantas saja kalau begitu. Pantas Shelina tiba-tiba tak sadarkan diri.


“Kenapa kamu nggak sarapan? Astaga, Shel kamu nyakitin diri sendiri kalau kayak gini. Ya udah aku beli sarapan dulu ya, kamu mau bubur ayam ‘kan?”

__ADS_1


“Iya,” jawab Shelina dengan suaranya yang masih lemah.


“Okay, aku minta tolong Sarah untuk beliin kamu bubur, dia lagi bikinin kamu teh hangat,”


Argantara langsung memanggil Sarah yang sempat merawat Shelina tadi. Seperti memijat pelan kaki Shelina, membalurkan minyak aromaterapi di beberapa bagian tubuh Shelina. Dan sekarang Sarah sedang membuatkan teh hangat untuk Shelina, sementara Argantara bertahan di posisinya yaitu tepat di sebelah Shelin.


“Sar, gue minta tolong beliin bubur ayam buat Shelina ya, gue nggak mau kemana-mana, di sini aja, makanya gue minta tolong sama lo, bisa ‘kan, Sar?” Pinta Argantara.


“Okay, ini tehnya,” jawab Sarah


Ketika Sarah datang lagi usai membuat teh hangat, Argantara langsung menyampaikan permintaan tolongnya kepada Sarah seraya memberikan uang untuk Sarah yang Ia mintai tolong untuk membeli bubur.


Argantara membantu Shelina untuk duduk. Argantara meletakkan bantal dengan posisi berdiri tepat di punggung Shelina. Kemudian Ia mengambil satu gelas teh hangat yang diletakkan Sarah di nakas sebelah bangsal yang menjadi tempat pembaringan Shelina barusan.


“Kamu jangan kayak gini lagi ya, Shel. Aku khawatir banget,” ucap Argantara sambil memgusap pipi Shelina dengan lembut.


“Iya, siapa yang mau pingsan? Aku juga nggak mau,”

__ADS_1


“Kamu nggak mau pingsan tapi kamu malah nggak makan, itu ‘kan sama aja mancing supaya kamu pingsan,”


“Aku tuh nggak lapar tadi, dan males juga sarapan nggak tau kenapa. Mama sebenarn udah maksa tadi, cuma aku yang tetap nggak mau,”


“Jangan kayak gini lagi pokoknya, aku nggak mau kamu sakit, Shel. Aku khawatir banget sama kamu, Shel,”


“Iya, maaf ya udah bikin kamu khawatir. Tapi aku mau tanya deh, yang bawa aku ke sini siapa ya?”


“Aku lah,”


“Hah? Kok bisa?”


“Aku yang gendong kamu ke sini, aku larang pas ada teman kamu yang mau gendong kamu,”


“Kenapa kamu yang gendong?”


“Ya emang kenapa? Aku pengen gendong kamu, nggak biarin orang yang ngelakuin itu,”

__ADS_1


“Kenapa? ‘Kan bisa aja orang lain yang bawa aku ke sini,”


“Nggak aku izinin, Shel. Aku tunangan kamu masa aku biarin orang lain yang baw akamu ke sini? Nggak mau lah aku,”


__ADS_2