
“Tadi bilangnya lagi sama teman-teman, tapi ternyata lagi sama yang lain. Jadi yang mana nih yang benar? Pengakuan kamu atau apa yang aku liat barusan?”
Shelina tak sengaja melihat Argantara di sebuah restoran. Shelina datang sendiri setelah pulang sekolah. Ceritanya, Ia ingin me time. Tiba-tiba matanya tak sengaja melihat keberadaan sang kekasih bersama seorang perempuan yang Shelina ketahui adalah teman sekelas Argantara bernama Lara. Ia biarkan saja, sampai kemudian Lara pergi. Dan Ia pangsung menghampiri Argantara dengan wajah santainya dan itu kedatangannya berhasil membuat Argantara terkejut.
“Astaga, Shel. Kaget aku, kok tiba-tiba kamu di sini?”
Shelina hanya tersenyum tipis saja. Padahal sebelumnya Argantara bilang kalau Ia sedang bersama teman-temannya tapi ternyata yang Shelina lihat, Argantara bersama Lara. Mereka hanya berdua saja. Maka dari itu, Ia langsung membahasnya.
“Emang aku barusan sama teman-teman aku kok, Shel. Cuma mereka udah balik duluan. Jadi kan ceritanya aku lagi nongki sama teman aku ya, nah tiba-tiba si Lara gabung. Kebetulan dia lagi mampur juga di sini terus gabung deh sama aku dan teman-teman aku. Nah mereka pulang, tinggal si Lara,”
“Hmm?”
Melihat Shelina mengangkat salah satu alisnya dan dari wajah tampak meragukan, akhirnya Argantara terkekeh.
“Kamu nggak percaya nih ceritanya? Aku serius lho. Aku emang sama teman-teman aku. Nih ya aku chat mereka buat nanya,”
“Eh nggak usah-nggak usah. Kamu nggak perlu lakuin itu, Arga. Ya, aku percaya kok. Jadi kamu nggak usah sampai hubungin teman-teman kamu lho, ntar yang ada kamu diledekin,”
__ADS_1
“Dih nggak lah, santai aja. Kayak mereka nggak pernah bucin aja,”
Melihat Argantara mengambil ponsel dari saku celana, Shelina langsung menahan tangan Argantara dan itu membuat Argantara segera menatapnya sambil bertanya “Kenapa sih?“
“Jangan ngapa-ngapain udah! Kamu nggak perlu hubungin teman-teman kamu. Kan aku udah bilang barusan. Aku percaya kok,”
“Nggak, Shel. Nih ya biar kamu percaya tadi tuh aku sama teman-teman aku, nah tiba-tiba di Lara datang terus dia ntamoerin dan ikut gabung deh. Aku pikir ya nggak masalah, dia ‘kan teman aku, teman sekolah maksudnya, teman sekolah kamu juga, teman sekolah teman-teman aku juga jadi ya udah tadi dia dibiarin gabung rerus ikut ngobrol-ngobrol. Nah teman-teman aku balik duluan, tinggalah dia sama aku. Tapi itupun nggak lama kok. Dia nyusul pulang juga,”
“Ya udah aku percaya jadi ngapain sih harus hububgin teman kamu segala? Nggak perlu tau,”
Argantara lansgung membuka riwayat chat grupnya bersama teman-temannya yang tadi sempat membuat kesepakatan untuk bertemu di tempat saat ini. Mungkin dengan menunjukkan itu, Shelina bisa percaya.
“Nih liat deh room chat di grup,” ujar Argantara seraya menyerahkan ponselnya kepada sang kekasih.
Setelah itu Argantara juga bertanya di grup dengan kalimat yang singkat saja walaupun Ia yakin itu akan menimbulkan kebingungan teman-temannya. Tidak masalah, yang penting Shelina percaya.
-Eh tadi kita abis darimana?-
__ADS_1
-Aneh lu, kenapa nanya gitu? Lupa ingetan apa gimana?-
-Udah jawab aja-
-Ya resto lah-
Yang menjawab adalah Denis. Setelah mendapat jawaban dari Denis, Argantara langsung menyerahkan ponselnya kepada sang kekasih lagi.
“Tuh liat deh,”
Shelina lagi-lagi diberikan bukti yang membuatnya semakin percaya. Shelina menganggukkan kepalanya lalu menatap Argantara yang tersenyum.
“Bener ‘kan? Aku tuh nggak jalan sama Nara. Ya kali jalan berdua sama dia,”
“Dih yang ngomong gitu siapa? Yang aku sindir barusan tuh kamu bohong. Bilang sama teman ternyata yang aku liat sama Lara,”
“Tapi kenyataannya nggak bohong ‘kan? Cuma salah paham doang. Kamu tuh kebetulan ngeliatnya si Lara doang, karena teman-teman aku udah pada cabut,”
__ADS_1