Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 144


__ADS_3

“Aku ke kamar mandi dulu ya,”


Shelina menganggukkan kepalanya. Ia membiarkan sang suami bergegas ke kamar mandi setibanya mereka di dalam kamar.


Akhirnya Argantara mau juga diajak kembali ke kamar. Dengan sedikit ancaman Shelina tak akan masuk ke kamar juga kalau Argantara tidak masuk ke kamar. Shelina bingung suaminya nyaman sekali di balkon. Padahal udara di luar cukup dingin. Dan suasana yang sunyi di baljon memang membuat nyaman, akan tetap bagi Shelina sendiri selama di balkon yang suasana sunyi itu membuat sekujur badannya sering merinding.


Ketika Shelina duduk di tepi ranjang, Shelina melihat ke arah nakas. Di sana ada ponsel genggam suaminya yang berkedip menampilkan ada panggilan masuk. Shelina yang penasarannya tinggi langsung meraih ponsel suaminya itu kemudian melihat siapa yang menghubungi suaminya malam-malam begini.


Keningnya mengernyit untuk beberapa detik ketika membaca nama ‘Risa’ di layar. Tentu saja Shelina langsung bertanya-tanya dalam hati.


“Risa siapa ini? Teman kerjanya Arga? Atau teman kuliah? Tapi kok kurang sopan ya hubungi udah malam begini. Aku aja nggak pernah tuh hubungi siapapun kalau udah malam selagi nggak ada hal yang mendesak. Dan ini kalau dari namanya sih perempuan. Apa nggak canggung telepon Argantara malam-malam? Mungkin mendesak kali ya makanya dia sampai telepon malam ini, coba kasih tau Argantara deh,”


Shelina langsung memanggil suaminya satu kali dan langsung ditanggapi oleh Argantara yang sedang buang air kecil.


“Kenapa, Sayang?”


“Ini ada yang telepon kamu, barangkali penting,”


“Siapa?”


“Hmm aku nggak kenal, tapi Risa tulisannya,” ujar Shelina pada suaminya itu.


Argantara yang mendengar nama Risa langsung diam sebentar, kemudian menghela napas pelan. “Kenapa lagi si Risa? Bukannya tadi udah sempat ngobrol bentar?”

__ADS_1


“Arga, jawab aja,”


“Ya udah nanti, aku ‘kan lagi di kamar mandi,”


Argantara segera menyudahi kegiatannya membuang air kecil kemudian keluar dari kamar mandi.


Ponselnya ada di tangan Shelina yang segera mengulurkan benda tipis persegi panjang tersebut.


“Itu siapa? Teman kerja kamu atau teman kuliah?”


“Hmm? Kerja,” jawab Argantara yang jelas berdusta. Tak mungkin Ia jawab bahwa Risa itu mantan kekasihnya yang kembali hadir di dalam kehidupannya.


“Oh gitu, ya udah jawab lah, barangkali penting makanya sampai telepon malam-malam,”


“Ih kenapa nggak coba dijawab dulu? Barangkali ada hal yang mendesak dan harus kamu tau tentang kerjaan. Coba dijawab aja dulu. Kalau emang salah sambung ‘kan pasti nanti dia jelasin, dan kita nya nggak penasaran lagi,”


Alih-alih menerima panggilan dari Risa, Argantara malah sengaja menonaktifkan ponsel genggamnya dan itu tentunya membuat Shelina bingung.


“Lho, kok kamu matiin handphone nya?”


“Ya biar nggak ganggu. Ayo kita istirahat,”


“Ih kamu jangan begitu. Takutnya si Risa Risa itu mau ngomongin hal penting ke kamu, Ga. Kok malah dimatiin handphone nya,”

__ADS_1


“Ya biarin, Sayang. Daripada ganggu istirahat kita. Aku yakin nggak ada apa-apa, kafe semuanya aman. Aku rasa Risa salah sambung tuh. Harusnya telepon yang lain, eh malah telepon ke aku tanpa dia sadar,”


“Masa sih? Emang bisa gitu?”


“Ya bisa lah,”


“Kok nggak diliat dulu sebelum telepon? Harusnya ya diliat dulu benar nggak tersambung sama yang dituju atau malah tersambung sama orang lain,”


“Ya namanya juga udah malam. Mata dia udah kriyep-kriyep jadi nggak sadar. Kayak aku aja sekarang udah berat banget nih mata nya. Ayo kita istirahat, nggak usah mikirin yang lain, mending mimpi indah sama aku, ya ‘kan?”


“Ih tapi aku masih penasaran kenapa Risa itu hubungin kamu. Kayaknya ada hal penting deh. Barusan kamu bilang Risa itu teman kerja kamu ya? Nah bisa jadi, ada hal penting yang kaitannya sama kerjaan kamu,”


“Ya udah, besok aku ‘kan ke kafe, ke bakery shop aku buat ngecek-ngecek. Kalau emang ada hal penting atau masalah, ya bisa diobrolin besok ‘kan,”


Sesungguhnya orang-orang yang berada di balik karirnya Argantara sebagai seorang pengusaha yang memiliki kafe dan toko kue, tak ada yang berani menghubungi Argantara di malam hari seperti ini. Kalaupun ada hal penting yang harus segera dibicarakan pada Argantara, akan dibicarakan lewat pesan terlebih dahulu. Tidak akan ada yang lancang tiba-tiba langsung telepon. Karena mereka semua segan pada Argantara. Dan tahu kalau semua orang tidak akan senang diganggu ketika waktunya beristirahat. Kalaupun harus, mereka pasti akan memastikan dulu Argantara keberatan atau tidak membahas hal penting itu melalui pesan. Bila Argantara yang meminta untuk bicara lewat telepon barulah mereka menelpon.


“Besok berarti dibicarakan ya sama Risa?”


“Iya betul, udah sekarang waktunya kita istirahat, nggak usah bahas kerjaan dulu atau orang lain,”


Shelina menganggukkan kepalanya dan langsung memejamkan kedua matanya. Argantara berbaring terlentang lurus menghadap langit-langit kamar. Beberapa detik kemudian, Ia menolehkan kepala ke arah nakas menatap ponselnya yang Ia nonaktifkan. Lalu Argantara menoleh ke kanan dimana istrinya sudah terpejam.


“Nggak mungkin ‘kan aku cerita kalau Risa itu mantan aku. Maaf ya, Shel,” batinnya seraya menatap Shelina dengan sorot mata yang dalam. Kemudian Ia menatap ponselnya lagi sambil membatin “Maaf, Risa. Kamu ganggu aku, jadi aku terpaksa nonaktif handphone,

__ADS_1


__ADS_2